Pengajian Belajar Pemahaman Al-Qur’an

Hati-Hati Terhadap Ajakan Belajar Pemahaman Al-Qur’an

بسم الله الرحمن الرحيم
إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلاَّ الله وحده لا شريك له وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله. فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار .

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم Wa ba’du :

Setiap orang yang ingin baik, pasti dia akan mencari kebaikan itu dengan berusaha mengikuti sumber-sumber kebenaran yang ada.
Allah سبحانه و تعالي telah mengutus seorang Rasul terakhir, Muhammad صلي الله عليه وسلم menyampaikan risalah Yang Haq, membawa ajaran-ajaran kebaikan yang dicari oleh semua manusia yang menginginkan kebaikan.  Bersama Rasulullah, Allah bangkitkan para sahabatnya sebagai para pengikut pertama dan untuk menyertainya dalam mengemban risalah kenabian.  Maka tersebarlah ajaran Islam kepada ummat manusia.

Sepeninggal Rasulullah صلي الله عليه وسلم , Islam dilanjutkan penyebarannya kepada manusia melalui para sahabatnya, dan merekalah saksi hidup ajaran yang telah diturunkan dari Allah kepada manusia melalui RasulNya.  Mereka kemudian mengajarkan ajaran Islam ini kepada generasi selanjutnya, yaitu generasi thobi’in, generasi thobi’ut-thobi’in, dan seterusnya hingga sampailah ajaran Islam ini kepada manusia di masa sekarang.

Sepanjang sejarah, penyimpangan-penyimpangan terhadap ajaran Islam yang lurus banyak terjadi.  Muncullah para ulama yang Allah senantiasa bangkitkan setiap seratus tahun untuk membersihkan ajaran Islam dari penyimpangan-penyimpangan ahlul-bid’ah yang merusak ajaran dan menyesatkan.

Sekelumit tentang penyimpangan ajaran Islam beserta sanggahan para ulama disampaikan dalam tulisan-tulisan sederhana di sini, dari orang yang belum banyak berilmu, Al-Faqir Ilallah, sekedar memberikan peringatan kepada yang sempat membaca tulisan-tulisan ini agar tidak terperangkap sebagaimana yang pernah dialami oleh penulis.

Sekelompok orang ada yang menawarkan untuk belajar pemahaman Al-Qur’an dengan beralasan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk hidup bagi orang Islam.
Mereka datang ke rumah-rumah (enggan menggelar pengajaran Al-Qur’annya di mesjid, dan enggan pula untuk sholat di mesjid).
Mereka selalu datang mengajarkan pemahaman ayat-ayat Al-Qur’an dengan mushaf terjemahan di tangan mereka.
Di awal-awal, apa yang mereka kemukakan tampak sangat menarik dan memukau, namun di penghujungnya adalah menyeret kepada kerusakan akidah tanpa disadari oleh orang-orang yang mengikutinya.  Kenalilah mereka melalui tulisan-tulisan yang ada di blog ini, mudah-mudahan tipu-daya mereka tidak akan banyak membuat mudhorot terhadap kalangan awam kaum muslimin.

Adalah sangat penting bagi para pembaca untuk mengikutinya meskipun sekedar untuk tahu, mengingat akidah Islam yang lurus adalah modal utama dalam beragama.  Tanpa akidah yang lurus, amalan apapun yang diperbuat mengatasnamakan Islam akan terancam tidak berguna bahkan justeru bisa terancam masuk ke neraka.
Amar-ma’ruf nahi munkar adalah aktivitas setiap muslim yang beriman dengan baik.
Ingatkanlah sanak-keluarga, teman-teman, tetangga, dan kenalan-kenalan anda dari jeratan kelompok-kelompok sempalan berbaju Islam kaffah, yang sekilas diulas di blog ini.  Mereka mengajak belajar pemahaman Al-Qur’an, mengajak belajar Islam, mengatakan mengikut kepada Al-Qur’an dan hadits, akan tetapi ternyata justeru semakin menjauhkan dari ajaran Al-Qur’an, ajaran Islam dan ajaran Rasulullah di dalam hadits-haditsnya. Apa yang mereka ajarkan dari ayat-ayat Al-Qur’an sesungguhnya adalah faham-faham ta’wil mereka sendiri yang banyak menyimpang, sebagiannya diulas di dalam blog ini (lihat : DAFTAR TULISAN).

Sungguh, telah banyak orang yang terjerumus dan keluar dari fithrahnya sebagai seorang manusia dan sebagai seorang muslim yang benar.
Telah banyak isteri yang meninggalkan suaminya, telah banyak anak yang mendurhakai orang-tuanya, telah banyak keluarga yang terpecah-belah, telah banyak seorang teman yang telah menjadi musuh bagi teman lainnya, telah banyak orang yang baik menjadi pembenci para tetangganya.   Semua itu karena faham yang keliru tanpa dalil-dalil yang benar, yang di-doktrinkan oleh kelompok-kelompok sempalan ini.
Sungguh, penulis telah mengalami dan merasakan, adalah tahun-tahun yang berat ketika kehilangan pandangan yang lurus, terbutakan dengan faham-faham syubhat yang jauh dari bimbingan para ulama yang benar…

Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk yang lurus kepada kaum muslimin di manapun ia berada.

وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ.

Al-Faqir, Hamba Allah.

9 Balasan ke Pengajian Belajar Pemahaman Al-Qur’an

  1. Abu Haidar berkata:

    Pemikiran Khawarij

    إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ رَجُلاً قَرَأَ الْقُرْآنَ حَتَّى إِذَا رُئِيَتْ بَهْجَتُهُ عَلَيْهِ وَكَانَ رِدْءًا لِلْإِسْلاَمِ انْسَلَخَ مِنْهُ وَنَبَذَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ وَسَعَى عَلَى جَارِهِ بِالسَّيْفِ وَرَمَاهُ بِالشِّرْكِ ، قَالَ : قُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللهِ ، أَيُّهُمَا أَوْلَى بِالشِّرْكِ الْمَرْمِيُّ أَوِ الرَّامِي ، قَالَ : بَلِ الرَّامِي

    “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kamu adalah seseorang yang membaca Alquran, sehingga apabila telah diperlihatkan kepadanya keindahannya dan tadinya ia adalah pembela Islam, tiba-tiba ia lepas dari Islam dan melemparkan (Alquran) ke belakangnya, dan mendatangi tetangganya dengan membawa pedang dan menuduhnya dengan kesyirikan.” Aku berkata (periwayat hadis ed.), “Wahai Nabi Allah, siapakah yang lebih layak kepada kesyirikan, yang dituduh atau yang menuduh?” Beliau menjawab, “Yang menuduh (lebih layak).” (HR. Al Bazzar)[1]

    Hadis ini memberitakan kepada kita tentang adanya orang-orang yang banyak hafal Alquran namun menuduh saudaranya dengan kekafiran, bahkan mengafirkan saudaranya karena dosa-dosa yang ia anggap mengeluarkan pelakunya dari Islam, kemudian menghalalkan darahnya.

    Dalam hadis lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa mereka membaca Alquran namun tidak sampai ke kerongkongannya, beliau bersabda,

    يَخْرُجُ مِنْهُ قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنْ الرَّمِيَّةِ

    “Akan keluar darinya (Iraq) suatu kaum yang membaca Alquran namun tidak sampai ke tenggorokannya, mereka lepas dari Islam seperti melesatnya panah dari buruannya.” (HR. Bukhari)

    Dan yang dimaksud dengan “tidak sampai ke tenggorokannya” adalah memahaminya dengan pemahaman yang tidak benar. Ia mengira bahwa itu adalah dalil yang menguatkan alasannya, namun sebenarnya tidak demikian, saking dangkalnya pemahaman mereka, sebagaimana yang ditunjukkan dalam riwayat lain,

    يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِي يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَتْ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ شَيْئًا وَلَا صَلَاتُكُمْ إِلَى صَلَاتِهِمْ شَيْئًا وَلَا صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ شَيْئًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ لَا تُجَاوِزُ صَلَاتُهُمْ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ

    “Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Alquran, bacaan kamu dibandingkan dengan bacaan mereka tidak ada apa-apanya, demikian pula shalat dan puasa kamu dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka tidak ada apa-apanya. Mereka membaca Alquran dan mengiranya sebagai pembela mereka, padahal ia adalah hujjah yang menghancurkan alasan mereka. Shalat mereka tidak sampai ke tenggorokan, mereka lepas dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari buruannya.” (HR. Abu Dawud)

    Bahkan merekapun membawakan hadis-hadis Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, namun dipahami dengan pemahaman yang tidak benar, sabda Nabi,

    يَأْتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ

    “Akan ada di akhir zaman suatu kaum yang usianya muda, dan pemahamannya dangkal, mereka mengucapkan perkataan manusia yang paling baik (Rasulullah), mereka lepas dari Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya, iman mereka tidak sampai ke tenggorokan..” (HR Bukhari)

    Pemikiran takfiri (mudah mengkafirkan) adalah pemikiran yang ditakutkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk menimpa umatnya, karena ia berakibat yang tidak bagus dan merugikan Islam dan kaum muslimin bahkan merusak citra Islam dan mengotori keindahannya. Oleh karena itu, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengecam keras Khawarij dalam hadis-hadisnya, Abu Ghalib berkata,

    رَأَى أَبُو أُمَامَةَ رُءُوسًا مَنْصُوبَةً عَلَى دَرَجِ مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَقَالَ أَبُو أُمَامَةَ كِلَابُ النَّارِ شَرُّ قَتْلَى تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ خَيْرُ قَتْلَى مَنْ قَتَلُوهُ ثُمَّ قَرَأَ { يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ } إِلَى آخِرِ الْآيَةِ

    قُلْتُ لِأَبِي أُمَامَةَ أَنْتَ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ لَمْ أَسْمَعْهُ إِلَّا مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا أَوْ أَرْبَعًا حَتَّى عَدَّ سَبْعًا مَا حَدَّثْتُكُمُوهُ.

    “Abu Umamah melihat kepala-kepala (kaum Khawarij) yang dipancangkan di jalan Masjid Damaskus, Abu Umamah berkata, “Anjing-anjing neraka, seburuk-buruknya orang yang terbunuh di kolong langit, dan sebaik-baiknya yang dibunuh adalah orang yang dibunuh oleh mereka (Khawarij), kemudian beliau membaca Ayat, “Pada hari wajah-wajah menjadi putih dan wajah-wajah lain menjadi hitam..” Sampai akhir ayat.

    Aku berkata kepada Abu Umamah, “Engkau mendengarnya dari Rasulullah shalalahu ‘alaihi wa sallam?” Beliau menjawab, “Aku mendengarnya sekali, dua kali, tiga kali, empat kali sampai tujuh kali. Bila aku tidak mendengarnya, aku tidak akan menyampaikannya kepada kamu.” (HR. At Tirmidzi).

    Sifat-Sifat Khawarij

    Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan sifat-sifat mereka, sebagiannya telah kita sebutkan di atas, diantara sifat mereka adalah:

    1. Dangkal Pemahamannya

    Telah kita sebutkan di atas, bahwa kaum Khawarij suka membawa dalil dari Alquran dan hadis, namun dipahami dengan pemahaman sendiri, tidak sesuai dengan apa yang dipahami oleh para ulama salafusshalih, walaupun mereka membawakan perkataan ulama, mereka bawakan yang sesuai dengan keinginan mereka saja, atau mengeditnya sedemikian rupa agar terlihat cocok dengan selera mereka sehingga mengelabui orang-orang awam. Tujuan mereka adalah agar pengafiran mereka kepada kaum muslimin menjadi suatu perkara yang dianggap pasti dan meyakinkan, padahal ia hanyalah berdasarkan dugaan dan sangkaan belaka.

    Di antara contoh kedangkalan pemahaman mereka adalah sebuah kisah dialog Ibnu Abbas dengan kaum Khawarij, dikeluarkan oleh Al Hakim dalam Mustadraknya (2:164 no.2656) dengan sanad yang shahih sesuai dengan syarat Muslim, Ibnu Abbas berkata,

    Ketika kaum Haruriyah (Khawarij) keluar dan berkumpul di suatu tempat, jumlah mereka sekitar enam ribu. Aku mendatangi Ali seraya berkata, “Wahai Amirul Mukminin, akhirkanlah shalat zuhur, barangkali aku dapat berbicara dengan mereka.” Ali berkata, “Aku mengkhawatirkan keselamatanmu.” Aku berkata, “Tidak perlu khawatir.” Aku pun pergi menemui mereka dan aku memakai pakaian Yaman yang paling bagus kemudian aku mengucapkan salam kepada mereka.

    Mereka berkata, “Selamat datang wahai Ibnu Abbas, pakaian apa yang engkau pakai?!! Aku menjawab, “Apa yang kalian cerca dariku, padahal aku pernah melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah memakai pakaian yang paling bagus, dan telah turun ayat,

    قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللهِ الَّتِى أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ

    “Katakan (Muhammad), siapakah yang berani mengharamkan perhiasan dari Allah dan rezeki yang baik yang Allah keluarkan untuk hamba-hambaNya ?” (QS. Al-A’raaf: 32).

    Mereka berkata, “Lalu ada apa engkau datang kemari?”

    Aku menjawab, “Aku mendatangi kamu dari sisi para shahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan Muhajirin dan Anshar untuk menyampaikan apa yang mereka katakan dan apa yang mereka kabarkan, kepada mereka Alquran diturunkan, dan merekalah yang paling memahaminya, dan tidak ada di antara kalian yang menjadi shahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.“

    Sebagian mereka berkata, “Jangan berdialog dengan kaum Quraisy, karena Allah Ta’ala berfirman,

    بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ

    “Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (QS. Az-Zukhruf: 58)[2]

    Ibnu Abbas berkata, “Aku belum pernah melihat suatu kaum yang sangat bersungguh-sungguh beribadah dari mereka, wajah-wajahnya mereka pucat karena begadang malam (untuk shalat), dan tangan serta lutut mereka menjadi hitam (kapalan).”

    Sebagian mereka berkata, “Demi Allah, kami akan berbicara dengannya dan mendengarkan apa yang ia katakan.”

    Ibnu Abbas berkata, “Kabarkan kepadaku, apa alasan kalian memerangi anak paman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam (Ali bin Abi Thalib), serta kaum Muhajirin dan Anshar?”

    Mereka berkata, “Tiga perkara.”

    Ibnu Abbas berkata, “Apa itu?”

    Mereka berkata, “Ia telah berhukum kepada manusia dalam urusan Allah[3], padahal Allah berfirman,

    إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ للهِ

    “Sesungguhnya hukum itu hanyalah milik Allah.” (QS. Al An’am: 57).

    Ibnu Abbas berkata, “Ini yang pertama.”

    Mereka berkata, “Ia telah memerangi[4] namun tidak menawan tidak juga mengambil ghanimah (harta rampasan perang), jika yang ia perangi itu orang-orang kafir, maka mereka halal ditawan dan dirampas hartanya. Dan jika yang ia perangi adalah kaum mukminin, maka tidak halal memerangi mereka.”

    Ibnu Abbas berkata, “Ini yang kedua, lalu apa yang ketiga?”

    Mereka berkata, “Ia telah menghapus nama amirul mukiminin dari dirinya, jika dia bukan amirul mukminin berarti ia adalah amirul kafirin.”

    Ibnu Abbas berkata, “Apa ada alasan lain?”

    Mereka berkata, “Cukup itu saja”

    Ibnu Abbas berkata, “Bagaimana pendapat kalian, jika aku membacakan kitabullah dan sunah nabi-Nya yang dapat meluruskan pemahaman kalian, apakah kalian ridha?”

    Mereka berkata, “Ya”

    Ibnu Abbas berkata, “Adapun perkataan kalian bahwa Ali berhukum kepada manusia dalam urusan Allah, bukankah Allah menyuruh mengembalikan kepada hukum manusia dalam seperdelapan seperempat dirham, tentang masalah kelinci dan hewan buruan lainnya?” Allah berfirman,

    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنتُمْ حُرُمٌ وَمَن قَتَلَهُ مِنكُمْ مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآءٌ مِّثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِّنكُمْ

    “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh hewan buruan dalam keadaan berihram. Barang siapa yang membunuhnya diantara kamu secara sengaja, maka dendanya adalah mengantinya dengan hewan yang seimbang dengannya, menurut putusan hukum dua orang yang adil diantara kamu..” (QS. Al-Maidah: 95).

    Maka saya bertanya kepada kalian dengan nama Allah, apakah hukum manusia untuk kelinci dan binatang buruan lainnya lebih utama, ataukah hukum manusia untuk menjaga darah dan perdamaian di antara mereka?”

    Dalam ayat lain, Allah menyuruh mengembalikan hukum kepada manusia mengenai pertikaian suami istri, Allah berfirman,

    وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِّنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِّنْ أَهْلِهَآإِن يُرِيدَآإِصْلاَحًا يُوَفِّقِ اللهُ بَيْنَهُمَآإِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا

    “Dan bila kamu mengkhawatirkan perceraian antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam (orang yang akan menghukumi) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga wanita. Jika kedua orang hakam ini bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami istri itu.” (QS. An Nisaa: 35)

    Allah menjadikan manusia sebagai hukum yang dipercaya. Apakah aku telah selesai menjawab alasan pertama ini?

    Mereka berkata, “Ya”

    Ibnu Abbas berkata, “Adapun perkataan kalian bahwa Ali memerangi namun tidak menawan dan tidak mengambil ghanimah, apakah kamu mau menawan ibumu Aisyah kemudian halal disetubuhi sebagaimana tawanan lainnya?? Jika kamu melakukan itu, maka kamu telah kafir. Dan jika kamu berkata bahwa Aisyah bukan ibu kita (kaum muslimin), maka kamu pun telah kafir, jadi kamu berada diantara dua kesesatan, mana saja yang kamu pilih, maka kamu tetap sesat.”

    Maka sebagian mereka melihat kepada sebagian lainnya. Lalu aku berkata, “Apakah aku telah selesai menjawab alasan ini?

    Mereka menjawab, “Ya”

    Ibnu Abbas berkata, “Adapun perkataan kalian bahwa Ali menghapus nama amirul muminin darinya, maka aku akan bawakan apa yang kalian ridhai. Bukankah kalian telah mendengar bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pada hari perdamaian Hudaibiyah, menulis surat kepada Suhail bin Amru dan Abu Sufyan bin Harb, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ali bin Abi Thalib, “Tulislah hai Ali, ini adalah isi perdamaian yang dinyatakan oleh Muhammad Rasulullah.”

    Namun kaum Musyrikin berkata, “Tidak! Demi Allah kami tidak meyakinimu sebagai rasulullah, jika kami meyakinimu sebagai rasulullah, tentu kami tidak akan memerangimu.” Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah, Engkau yang mengetahui bahwa aku adalah rasul-Mu. Tulislah hai Ali, Ini adalah isi perdamaian yang dinyatakan oleh Muhammad bin Abdillah.”

    Demi Allah, bukankah Rasulullah lebih baik dari Ali ketika menghapus nama rasul darinya?” Ibnu Abbas berkata, “Maka bertaubatlah sekitar dua ribu orang di antara mereka, dan sisanya terbunuh di atas kesesatan.”

    2. Keras dan Kasar

    Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menyifati kaum Khawarij bahwa mereka adalah kaum yang kasar lagi keras perangainya, beliau bersabda,

    سَيَخْرُجُ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ أَشِدَّاءُ أَحِدَّاءُ ذَلِقَةٌ أَلْسِنَتُهُمْ بِالْقُرْآنِ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ أَلَا فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمْ فَأَنِيمُوهُمْ ثُمَّ إِذَا رَأَيْتُمُوهُمْ فَأَنِيمُوهُمْ فَالْمَأْجُورُ قَاتِلُهُمْ

    “Akan keluar dari umatku beberapa kaum yang keras lagi kasar, lisan-lisan mereka fasih membaca Alquran, namun tidak sampai ke tenggorokan mereka.” (HR. Ahmad dan lainnya)[5]

    3. Tidak Menghormati Ulama

    Pendahulu mereka tidak menghormati Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan menganggap Rasulullah tidak berbuat adil, Abu Sa’id Al Khudri berkata,

    بَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْسِمُ ذَاتَ يَوْمٍ قِسْمًا فَقَالَ ذُو الْخُوَيْصِرَةِ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ اعْدِلْ قَالَ وَيْلَكَ مَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ فَقَالَ عُمَرُ ائْذَنْ لِي فَلْأَضْرِبْ عُنُقَهُ قَالَ لَا إِنَّ لَهُ أَصْحَابًا يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمُرُوقِ السَّهْمِ مِنْ الرَّمِيَّةِ

    “Ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam membagi-bagikan harta (dari Yaman), Dzul Khuwaishirah seorang laki-laki dari bani Tamim berkata, “Wahai Rasulullah berbuat adillah! Beliau bersabda, “Celaka kamu, siapa yang dapat berbuat adil jika aku tidak berbuat adil.” Umar berkata, “Izinkan saya menebas lehernya.” Beliau bersabda, “Jangan, sesungguhnya dia akan mempunyai teman-teman yang shalat dan puasa kalian, sepele dibandingan dengan shalat dan puasa mereka, mereka lepas dari Islam seperti lepasnya anak panak dari buruannya.” (HR. Bukhari)

    Setelah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam wafat, di zaman Ali bin Abi Thalib kaum Khawarij muncul, dan mereka tidak menghormati para ulama dari kalangan shahabat seperti Ibnu Abbas dan shahabat-shahabat lainnya. Sebagaimana dalam kisah dialog Ibnu Abbas dengan Khawarij yang telah disebutkan di atas. Sifat ini kita lihat tidak jauh berbeda dengan kaum Khawarij di zaman ini yang melecehkan para ulama besar seperti Syaikh Bin Baz, Syaikh Al Bani, Syaikh ‘Utsaimin dan ulama lainnya, dan meledeknya sebagai ulama penjilat atau ulama yang tidak paham realita serta ejekan-ejekan lainnya. Allahul musta’an

    4. Mudah mengkafirkan pelaku dosa besar terutama negara islam yang tidak berhukum dengan hukum Allah.

    Di zaman Ali bin Abi Thalib dahulu, mereka mengkafirkan Ali bin Abi Thalib dan kaum muslimin yang tidak setuju dengan pendapat mereka, dengan alasan bahwa Ali berhukum kepada manusia, sedangkan hukum itu milik Allah sebagaimana dalam kisah Ibnu Abbas yang lalu, mereka berdalil dengan ayat,

    وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

    “Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah: 44)

    5. Sangat Hebat Dalam Ibadah

    Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menyifati bahwa mereka adalah kaum yang amat hebat ibadahnya, beliau bersabda,

    يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِي يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَتْ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ شَيْئًا وَلَا صَلَاتُكُمْ إِلَى صَلَاتِهِمْ شَيْئًا وَلَا صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ شَيْئًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ لَا تُجَاوِزُ صَلَاتُهُمْ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ

    “Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Alquran, bacaan kamu dibandingkan dengan bacaan mereka tidak ada apa-apanya, demikian pula shalat dan puasa kamu dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka tidak ada apa-apanya. Mereka mengira bahwa Alquran itu hujjah yang membela mereka, padahal ia adalah hujah yang menghancurkan alasan mereka. Shalat mereka tidak sampai ke tenggorokan, mereka lepas dari islam sebagaimana melesatnya anak panah dari buruannya.” (HR. Abu Dawud)

    Oleh karena itu, ini adalah pelajaran untuk kita agar jangan tertipu dengan hebatnya ibadah seseorang bila ternyata akidahnya menyimpang dari petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan mudah memvonis manusia dengan kekafiran.

    Penulis: Ustadz Badrusalam, Lc.
    Artikel cintasunnah.com

    [1] Dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam Silsilah Shahihah no 3201.

    [2] Lihat bagaimana mereka membawakan ayat tersebut untuk Ibnu Abbas seorang ulama shahabat, betapa dangkalnya pemahaman mereka!!

    [3] Yaitu ketika terjadi perdamaian antara pasukan Ali dan pasukan Mu’awiyah, dimana Ali mendelegasikan Abu Musa, sedangkan delegasi dari pihak Mu’awiyah adalah Amru bin Al ‘Ash. Perbuatan ini difahami oleh kaum Khawarij sama dengan menyerahkan hukum kepada manusia, padahal hukum itu milik Allah, betapa piciknya mereka. Allahul musta’an. Demikianlah bila hawa nafsu dan kebodohan berbicara, merusak dunia dan agama.

    [4] Maksudnya berperang melawan pasukan Mua’wiyah dalam perang shiffin dan melawan pasukan Aisyah dalam perang Jamal, dan peperangan mereka karena ijtihad dan juga perbuatan provokator yang mengadu domba untuk menghancurkan islam.

    [5] HR. Ahmad dalam musnadnya dari jalan Utsman Asy Syahham haddatsani Muslim bin Abu Bakrah dari Ayahnya yaitu Abu Bakrah dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku mengatakan, “Sanad ini shahih sesuai dengan syarat Muslim.”

    dikutip dari cintasunnah.com/mengenal-sekte-sesat-khawarij

  2. Abu Haidar berkata:

    Na’am akhi Manager… Maka FAH bisa jadi khawarij dari khawarij (menyempal dari khawarij itu sendiri). Sebagaimana saya ada disampaikan di suatu halaqoh : “barangsiapa yang mengangkat imam sholat dan panglima maka telah memisahkan diri dari jama’atul muslimin.” Jadi hingga kapan mau berpecah belah tidak mau bersatu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru kepada persatuan umat. Sbagaimana jelas ayatnya “pertolongan Allah atas Jama’ah” bukanlah kelompok-kelompok yang mengatas namakan dirinya Jama’ah tetapi jama’tul muslimin dari semenanjung arab hingga belahan bumi lainnya. Wallahu ‘alam.

  3. millah7ibrahim berkata:

    Jazakallah sharingnya akhi!
    Begitulah lihainya setan. Dia masuk ke celah yang tidak kita sangka. Melalui kitab suci alquran. Dengan senjata alquran setan juga menyesatkan umat. Jadi kita memang ekstra hati hati terhadap seseorang atau sekelompok orang (jamaah) yang bicara tentang alquran. Karena dalam alquran ada ayat ayat mutasyabihat yang bisa ditafsirkan menurut hawa nafsu. Inilah yg menjadi pekerjaan setan yakni mencari ayat ayat mutasyabihat untuk kepentingan mereka menyesatkan umat.
    Orang yang belum mengerti bisa terperangkap dg penafsiran setan yang menyimpang itu.
    Sebagai pedoman apakah sbh jamaah yg kelihatannya mengaji alquran dan hadis ialah bisa dililhat dari fondasi (dasar) dan atapnya ( naungan, pelindung).
    Yg dimaksud dg fondasi apakah jamaah itu dibangun atas dasar rasa takut kepada Allah saja ataukah juga dibangun atas dasar rasa takut kpd selain Allah. Bila sbh jamaah masih punya rasa takut kpd setan sehongga dia mengikuti perintah dan larangannya maka biarpun yg ia kaji ayat alquran pasti pahamnya berasal dari penafsiran setan.
    Tentang atap maksud saya ialah sistim perwalian (perlindungan, kekuasaan, persahabatan). Apakah jamaah itu masih hidup dibawah perlindungan/kekuasaan setan? Apakah jamaah itu masih mengikuti langkah2 (kebijakan, aturan) setan? Bila jaeabannya ya maka jamaah itu sudah menyimpang dan penafsiran ayat2 alquran berasal dari pentawilan ayat mutasyabihat.

  4. Teman lama berkata:

    Assalumualaikum yaa ayuhal mukminun…….. Telah datang manhaj yang jelas’ telah tiba khalifah adakah kalian ingin bersatu…..? Dibawah 1 Dien….?…….Kalian telah lalai mempercakapkan banyak hal tanpa ada kesungguhan untuk bersatu……? Tidakah kalian mendengar dan melihat betapa gelombang mujahidin itu kini terhentak dalam bariasan yang kokoh….. Dimana dan kemana kalian selama ini, sungguh aku belum mengetahui dengan lisan kalian’ apakah kalian pendukung Daulah……? Mana lisan dan ungkapan kalian…….? Apa kah kalian menyangka para tentara Allah yg kini bergabung kalian nyatakan khawarij…..? Sementara ucapan mereka pada baitnya telah teregantung pada leher_leher mereka pada senjata yang ditangan mereka….? Demi Allah kalian masih berbaring disini dan kalian berkomentar tentang orang_orang yang kalian cela dan kalian hinakan’ sementara tumit_tumit kalian belum beranjak dari negeri ini’ demi Allah kalian pendusta dan akan tetap sebagai pendusta, Aku tau tempat_tempat kalian dan kalian tau tempat tempat kami, Tau kah kalian dimana tempat yang paling Allah ridhoi saat ini…….? Jika kalian tau, Aku tunggu kalian disana…..? Untuk menegakan Dien yang kalian ocehkan.
    Buat Al Faqir……… Saya ingin tau kejujuran antum’ apakah antum pendukung Daulah….? Antum sebaiknya tutup komentar komentar miring sahabat antum, apa yang antum fikirkan jika sahabat antum itu dibawah naungan perlindungan khalifah dan tunduk pada pemimpin umat ini, jika antum mau menjadi orang yang jujur’ maka antum harus ridho dengan orang yang diridhoi oleh khalifahnya orang_ mukmin , adapun tentang hal hal yang duilu tidak tepat pada pandangan kalian’ sebaiknya antum sabar, sebab kini Insya Allah mereka semua berada pada pimpinan yang haq, Apakah antum faham Al Faqir……?

  5. Teman lama berkata:

    Untuk Abu Haidar………
    Sepertinya dunia telah saling berpesan dan berbagi pesan kepada anda, baik disini, ditanah suci, dinegeri kuffar, untuk menyatakan orang yang berada dibawah panji bendera tauhid itu “Khawarij”, boleh saya dengar sekali lagi perkataan tuduhan anda itu wahai sahabat……? Atau apakah sampai detik ini antum menganggap sahabat anda yang dulu, dan kini bergabung dan berjihad dibawah komando pemimpin ummat islam itu ” Kawarij”……..? Demi Allah yang jiwaku didalam genggamannya, tidak akan ada kebaikan setelah ini bagi orang-orang pencela dan suka mencela………., wahai sahabat…..cukuplah sudah kekeliruan ini, bergabunglah sehingga terang dan nyata jawaban-jawaban kalian, saling maaflah kalian dengan berharap rahmat dari Allah Subhanahu wa ta’ala, semoga kita semua jelas, sebagaimana jelasnya sinar Matahari, tinggalkan kebodohan ini, Insya Allah,……Allah akan datangkan Kemenangan demi kemenangan dengan izinNya, Demi Allah tidak akan selesai suatu urusan hanya kalian selalu membicarakan kekurangan dan aib orang lain, sementara orang yang kalian sangkakan dan tuduhkan, sedang jihad fisabilillah, sementara kita dan kalian semua, belum beranjak dari keadaan yang kemarin, betapa bodohnya keadaan ini……..dan Satu Hal……….Jika Alah berkehendak dan Allah mengangkat dan mengampuni mereka dan kemudian mereka Syahid dan disaksikan para mujahid yang lain dan dinegeri yang Allah Ridhoi, antum mau katakan mereka Kawartij…………..?
    Maka Demi Engkau ya Allah saksikanlah dan tetapkanlah apa yang menjadi ketetapan buat mereka. Tapi seandainya mereka menyadari kekeliruan ini dan mereka ikut bersama dibawah panji Tauhid dan bergabung demi Engkau Ya Allah……maka ampunilah mereka…..

  6. Teman lama berkata:

    Buat Sang Manager……..
    Nampaknya Blog antum kurang banyak peminatnya nihh……..Tapi lumayan paling tidak antum masih cukup dikenal disini, sampai-sampai, sayapun kenal ciri komentar antum terhadap sahabat yang dulu ada di FAH,
    Masyaa Allah, siapa yang membentuk FAH yaaaa, dan kapan pendeklarasiannya yaaa…….? Yah itu idenya brilian juga yang nyambung-nyambungin…….., Tapi………saksikanlah wahai Allah yang maha Mendengar, bahwa FAH itu tidak pernah ada dan tidak akan pernah ada, Akulah Sebagai saksi disini dan sampai kapanpun, Dan aku bersaksi bahwa Daulaul Islamlah yang ada……. dan yang dicela orang ini , ada didalamnya, yang kini berjuang dijalan Engkau Wahai Allah, maka Aku bersaksi kepada Engkau Wahai Allah bahwa hari ini orang ini telah menuduh hambamu sebagai “Khawarij”, maka saksikanlah ya Allah dengan kejujuran pembuat blog ini dan Sang Manager sebagai sekutunya, Jadikanlah kabar-kabar hambamu yang berjihad dijalan Mu dibawah komando Kalifah yang Engkau Ridhoi sebagai duri dan tamparan pada dada pembuat blog ini Dan aku mohon kepada Engkau jika mereka bergabung dan saling memaafkan, maka ampunilah mereka dan lapangkanlah kemudahan bagi jalan dan niatnya sabagaimana yang Engkau Ridhoi Amiiien………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s