Tafsir Abu Hamzah Dalam Tinjauan Kaidah Tafsir Yang Benar

Tafsir Abu Hamzah Ditinjau Dari Kaidah Tafsir Yang Benar

بسم الله الرحمن الرحيم
إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلاَّ الله وحده لا شريك له وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله. فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار .

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah
صلي الله عليه وسلم Wa ba’du :

Allah سبحانه و تعالي berfirman :

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”  (Qs.An-Nahl : 64)

Allah telah menurunkan kepada Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم untuk seluruh manusia sebaik-baik perkataan dan sebaik-baik kitab yang menerangi, yaitu Kalamullah Al-Qur’an Al-Kariim.
Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم telah menyampaikan kepada manusia melalui para sahabatnya ayat-ayat Al-Qur’an serta menerangkannya dengan Hikmah, demikianlah yang Allah firmankan seperti dalam Qs.Al-Jumu’ah ayat 2 :

وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

“..dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah..”

Meskipun Al-Qur’an diturunkan untuk manusia, namun demikianlah kenyataannya, bahwa manusia itu sendiri tidak bisa langsung mengerti makna ayat-ayat-Nya di dalam Al-Qur’an jika tidak ada yang menjelaskannya.
Itulah sebabnya Allah turunkan Al-Qur’an dengan pengutusan seorang Nabi, yaitu Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم yang selain menyampaikan ayat-ayat-Nya, beliau juga menjelaskan maksud dari ayat-ayat itu.
Sehubungan dengan hal ini, Allah سبحانه و تعالي berfirman :

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“..Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu (Nabi) menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan” (Qs.An-Nahl : 44)

Ibnu Katsir رحمه الله menjelaskan makna ayat ini : “…maka sudah sepantasnya engkau (Muhammad) memberikan keterangan kepada mereka (manusia) segala sesuatu yg global (belum terperinci), serta memberi penjelasan tentang hal-hal yg sulit mereka fahami”  (Tafsir Ibnu Katsir, juz 14 Qs.An-Nahl : 44)

Tak terkecuali para sahabat Nabi sekalipun, mereka tidaklah senantiasa langsung mengerti ayat-ayat Allah yang dibacakan oleh Nabi kepada mereka jika Nabi tidak menjelaskannya.  Berikut adalah salah satu contohnya;

Ketika Allah سبحانه و تعالي menurunkan ayat :

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ .

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan keimanannya dengan suatu kezholiman, mereka itulah yang mendapatkan keamanan dan mereka mendapatkan petunjuk.” (Qs.Al-An’am : 82)

Para sahabat menjadi merasa berat dan takut, sebab di dalam ayat tersebut dikatakan bahwa jika keimanan tercampur dengan kezholiman dalam bentuk apapun (baik berupa maksiat ataupun kesalahan-kesalahan kecil saja) maka akan menjadi orang yang tidak mendapatkan keamanan dan petunjuk.
Mereka pun mendatangi Rasulullah صلي الله عليه وسلم dan berkata : “Wahai Rasulullah, siapakah di antara kami yang tidak menzholimi dirinya?”
Maka, Nabi pun bersabda : “Itu bukanlah seperti yang kalian kira. Sesungguhnya yang dimaksud adalah perbuatan syirik.  Apakah kalian tidak membaca perkataan seorang hamba yang shalih :
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
‘Sesungguhnya perbuatan syirik adalah kezholiman yang besar’.” (Qs.Luqman : 13)
(Lihat dalam Tafsir Ibnu Katsir, juz 7 Qs.Al-An’am : 82)

Para sahabat tidak langsung mengerti apa yang dimaksud dengan “kezholiman” di dalam Qs.Al-An’am ayat 82 itu.  Rasulullah kemudian menjelaskannya sehingga merekapun menjadi mengerti.

Jika para sahabat Nabi saja memerlukan penjelasan untuk mengerti ayat-ayat Al-Qur’an dengan benar, bagaimanakah lagi dengan orang-orang yang bukan sahabat Nabi?
Karena itulah para ulama mufassirin bersungguh-sungguh dalam menggali, menelaah, dan meneliti keterangan-keterangan yang berhubungan dengan penafsiran ayat.  Tujuannya adalah supaya kaum muslimin tidak terkeliru dalam memahami ayat-ayat Allah agar selaras dengan yang difahami oleh Rasulullah dan para sahabatnya, karena jika keliru dalam memahami ayat-ayat Allah akan menyebabkan terjadinya kekeliruan dalam keyakinan dan berefek pula pada kesalahan-kesalahan di dalam amalan.
Amalan-amalan yang salah yang tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya dimaksud di dalam Al-Qur’an akan mempunyai konsekwensi tertolaknya amalan tersebut dan tidak terhitung sebagai amalan baik yang berpahala.
Rasulullah صلي الله عليه وسلم telah bersabda :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْه ِأَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan atas perintah Kami, maka ia tertolak.” (HR.Muslim, no.1718)

Sudah barang tentu, ini merupakan kerugian yang sangat nyata. Bahkan lebih jauh lagi dari itu, amalan yang salah tersebut bisa menjadi suatu perbuatan dosa yang dapat menyebabkan pelakunya terseret ke dalam neraka.  Na’udzu Billah…

Kaidah-kaidah tafsir dan tinjauan terhadap tafsir abu hamzah

Kaidah, berasal dari kata Arab yaitu : القاعدة yang secara bahasa berarti aturan, undang-undang, atau pondasi.
Secara istilah ia berarti rumusan asas/dasar yang menjadi hukum atau aturan yang sudah pasti yang dijadikan sebagai patokan.

Para ulama telah berusaha keras mempertahankan kemurnian ajaran Islam yang salah satunya adalah dengan menjabarkan definisi kaidah-kaidah yang benar dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an.  Apa yang dijabarkan oleh ulama mengenai kaidah-kaidah ini adalah berdasarkan pemahaman dari ayat-ayat Al-Qur’an itu sendiri dan dari ajaran-ajaran Rasulullah melalui hadits-haditsnya.
Hal ini memang mutlak diperlukan karena telah dimaklumi dari perjalanan sejarah, betapa banyaknya orang-orang yang jahil ataupun yang menyimpang telah menyesatkan sebagian kaum muslimin melalui ajaran-ajaran yang salah yang dikatakannya berdasarkan pemahaman ayat-ayat Al-Qur’an.
Khawarij, Qodariyah, Jabariyah, Murjiah dan lain-lainnya adalah faham-faham sesat yang pokoknya adalah penyimpangan dalam masalah penafsiran ayat.
Efek dari penyimpangan-peyimpangan dalam penafsiran ayat ini adalah terpecah-belahnya ummat ke dalam banyak firqoh, memudarnya kebersatuan kaum muslimin karena saling bermusuhan hingga yang terberat adalah saling kafir-mengkafirkan dan saling menghalalkan harta dan darah.  Namun dalam keadaan yang demikian, masing-masingnya menyatakan : “Inilah ajaran Al-Qur’an..!”

Salah seorang ulama tafsir yang masyhur di kalangan Ahlus-Sunnah, Al-Hafizh Ibnu Katsir رحمه الله telah mendefinisikan kaidah-kaidah penting dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an yang lebih benar di dalam Muqaddimah kitab tafsirnya.  Di antara point-point yang telah disebutkannya secara berurutan adalah :

1.Al-Qur’an ditafsirkan dengan Al-Qur’an
2.Al-Qur’an ditafsirkan dengan As-Sunnah
3.Al-Qur’an ditafsirkan dengan perkataan atau pemahaman para sahabat Nabi
4.Al-Qur’an ditafsirkan dengan perkataan-perkataan para thobi’in
5.Al-Qur’an ditafsirkan dengan bahasa Al-Qur’an dan bahasa As-Sunnah, atau keumuman bahasa Arab.

Penjelasannya adalah sebagai berikut;

1.Al-Qur’an ditafsirkan dengan Al-Qur’an

Ini adalah cara yang patut didahulukan. Ayat-ayat Al-Qur’an ditafsirkan dengan ayat-ayat yang lainnya dari dalam Al-Qur’an.

Ibnu Katsir رحمه الله mengatakan : “Karena apa yang disebutkan oleh Al-Qur’an secara global di satu tempat, terkadang telah dijelaskan pula dalam Al-Qur’an secara luas di tempat yang lain.” (Tafsir Ibnu Katsir, Muqaddimah)

Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata : “Apabila ada orang bertanya : Bagaimana cara terbaik dalam menafsirkan Al-Qur`an?
Maka jawabnya adalah : Sesungguhnya cara yang paling benar dalam hal ini adalah menafsirkan Al-Qur`an dengan Al-Qur`an.
Sebab, jika terdapat suatu ayat mujmal (global) di surat tertentu, sesungguhnya ada tafsirnya di tempat yang lain.  Dan tidaklah terdapat ayat yang ringkas di suatu surat, melainkan dijelaskan panjang lebar pada surat yang lain.”  (Muqaddimah fii Ushul Al-Qur`an, Al-Maktabah Asy-Syamilah).

Contoh menafsirkan ayat dengan ayat adalah sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah صلي الله عليه وسلم dalam menjelaskan maksud Qs.Al-An’am ayat 82 yang telah disebutkan di atas.   Rasulullah menjelaskan makna “kezholiman” dalam Qs.Al-An’am ayat 82 dengan Qs.Lukman ayat 13, yaitu : “syirik” (mempersekutukan Allah dengan sesuatu).

Namun perlu diketahui, bahwa sebelum menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, seseorang harus memenuhi persyaratan yang utuh terlebih dahulu berkaitan dengan point-point kaidah penafsiran ayat sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Katsir, karena segala sesuatunya itu saling berhubungan.   Misalnya, ketika seseorang hendak menafsirkan ayat dengan ayat, dia pun harus mengerti terlebih dahulu tinjauan sisi bahasa ataupun tinjauan sisi yang lainnya dari ayat-ayat yang akan ditafsirkannya tersebut.
Seorang yang tidak memenuhi persyaratan sebagai seorang mufassir ketika menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an meskipun menggunakan kaidah yang benar, akan tetap bisa menghasilkan kerancuan dan kesalahan dalam penafsirannya.
Abu hamzah (Agus Supriyadi) telah menafsirkan ayat yang satu dengan ayat yang lainnya, di dalam Al-Qur’an namun dengan tanpa adanya pemahaman yang benar dalam masalah bahasa, sehingga akibatnya terjadi kerancuan.   Berikut adalah contohnya.
Firman Allah سبحانه و تعالي :

الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُوا رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

(Qs.Al-Baqarah : 46)

Makna “menemui Tuhannya” yang terkandung di dalam ayat itu ditafsirkan oleh abu hamzah dengan Qs.Al-A’raaf ayat 172, yaitu pertemuan manusia dengan Allah ketika masih di alam “dzurriyat”.

Kata مُلاقُوا dikatakannya adalah fi’il madhi (kata kerja bentuk lampau), sehingga ayat tersebut menjadi diterjemahkan :

“(Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka telah menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (Qs.Al-Baqarah : 46)

Karena itu dia mengambil Qs.Al-A’raaf ayat 172 sebagai penjelasannya, yaitu bahwa dahulu (di alam “dzurriyat”) manusia telah bertemu dengan Tuhannya dan mempersaksikan bahwa Allah-lah Tuhannya.

Penafsiran ini sangat rancu dan kacau dalam dua tinjauan, yaitu dari sisi tinjau bahasa dan dari sisi tinjau pemahaman.
Dari sisi tinjau bahasa, kata مُلاقُوا (mulaaqu) bukanlah fi’il, akan tetapi ia adalah isim, yaitu isim fa’il.   Wau-alif yang ada di belakangnya tidaklah untuk menunjukkan bahwa itu adalah fi’il madhi, tetapi untuk menunjukkan bahwa itu adalah isim jamak (banyak).   Karena tidak adanya fi’il madhi di dalam ayat itu, maka terjemah yang benar dari ayat itu adalah :

“(Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”

Dari sisi tinjau bahasa, ayat itu sudah salah diartikan dan menjadi rancu jika makna “menemui Tuhannya” di dalam Qs.Al-Baqarah ayat 46 ditafsirkan dengan persaksian manusia di alam “dzurriyat” yang digambarkan Allah dalam Qs.Al-A’raaf ayat 172.
Ini tidak nyambung.
Untuk memperjelas masalah ini, bisa dilihat dari ayat yang lain yang mempunyai pola bahasa yang sama, yaitu dalam Qs.Al-Haaqqah ayat 20.   Allah سبحانه و تعالي berfirman :

إِنِّي ظَنَنْتُ أَنِّي مُلاقٍ حِسَابِيَهْ

Kata مُلاقٍ di ayat itu serupa dengan kata مُلاقُوا di Qs.Al-Baqarah ayat 46 (dari mashdar yang sama), hanya saja tidak ada wau-alif di belakangnya akan tetapi ber-tanwin, karena kata مُلاقٍ adalah isim bentuk mufrod (tunggal), sedangkan kata مُلاقُوا adalah isim bentuk jamak.   Keduanya adalah sama-sama isim fa’il.
Dengan lafazh ayat sedemikian terjemahannya adalah :

“Sesungguhnya aku yakin bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku”

dan bukan diterjemahkan dengan :

“Sesungguhnya aku yakin bahwa sesungguhnya aku telah menemui hisab terhadap diriku”.

Lihatlah perbedaannya yang sangat menyolok dan menjadi sangat rancu maknanya jika ayat itu salah diartikan.

Sepintas tafsir abu hamzah tentang Qs.Al-Baqarah ayat 46 memang menerapkan kaidah tafsir Al-Qur’an ditafsirkan dengan Al-Qur’an, namun ternyata tetap melenceng karena abu hamzah memang bukan orang yang memenuhi persyaratan sebagai mufassir.   Beliau adalah orang yang buta bahasa Arab.

Penafsiran Qs.Al-Baqarah ayat 46 yang dihubung-hubungkan dengan Qs.Al-A’raaf ayat 172 oleh abu hamzah juga rancu dari sisi tinjau pemahamannya.
Kerancuannya adalah bahwa di dalam Qs.Al-Baqarah ayat 46 Allah berbicara tentang manusia-manusia yang khusus, yaitu orang-orang beriman yang disebut di ayat sebelumnya (ayat 45) sebagai orang-orang yang “khusyu”.   Sedangkan dalam Qs.Al-A’raaf ayat 172 Allah berbicara tentang manusia secara umum, baik yang nantinya akan menjadi kafir, ataupun yang nantinya akan menjadi beriman (setelah Allah hidupkan di dunia).   Makna “pertemuan” di kedua ayat itu berlainan maksud.
Jadi, penafsiran ayat dengan ayat di sini tidak nyambung pula secara pemahaman, karena kedua ayat tersebut sebenarnya sudah berbeda topik…
Allahu A’lam.

2.Al-Qur’an ditafsirkan dengan As-Sunnah

Ibnu Katsir رحمه الله mengatakan : “Jika hal itu menyusahkanmu (yakni tidak mendapati ayat untuk menafsirkan ayat lainnya), maka engkau wajib merujuk kepada As-Sunnah, karena ia merupakan penjelas bagi Alquran.” (Tafsir Ibnu Katsir, Muqaddimah)

Asas menjadikan As-Sunnah sebagai rujukan setelah Al-Qur’an telah diajarkan oleh Rasulullah صلي الله عليه وسلم . Ketika mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman, beliau bertanya kepadanya :

كَيْفَ تَقْضِي إِذَا عَرَضَ لَكَ قَضَاءٌ قَالَ أَقْضِي بِكِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِي وَلَا آلُو فَضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدْرَهُ وَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ لِمَا يُرْضِي رَسُولَ اللَّهِ .

“Bagaimanakah engkau memutuskan jika engkau menghadapi suatu permasalahan?”
Muadz berkata : “Aku akan memutuskan dengan Kitab Allah.”
Nabi berkata : “Jika engkau tidak mendapatinya dalam Kitab Allah?”
Muadz berkata : “Aku putuskan dengan Sunnah Rasulullah صلي الله عليه وسلم .”
Nabi bertanya lagi : “Jika engkau tidak mendapatinya dalam Sunnah Rasulullah صلي الله عليه وسلم dan juga tidak terdapat dalam Kitab Allah?”
Muadz berkata : “Aku akan berijtihad dengan pendapatku dan aku tidak berlebihan.”
Maka, Nabi pun menepuk dada Muadz seraya berkata : “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufiq kepada utusan Rasulullah dengan apa yang membuat Rasulullah ridho.”
(HR.Abu Dawud)

Di dalam Qs.An-Nahl ayat 44 Allah berfirman bahwa Nabi menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.

Imam Asy-Syafi’i رحمه الله mengatakan berkenaan dengan ayat ini : “Ayat ini menjadi dalil, sabda Nabi صلي الله عليه وسلم merupakan penjelasan Al-Qur’an.” (Al-Mahsul, 3/513)

Dan perlu diketahui pula, bahwa dalam penafsiran Al-Qur’an dengan As-Sunnah ini pun seorang mufassir perlu memenuhi persyaratan sebagai orang yang mengerti dari sisi tinjau bahasa ataupun sisi tinjau yang lainnya berkaitan dengan ayat yang akan ditafsirkan dan hadits yang akan digunakannya untuk menafsirkan ayat tersebut.
Seorang yang tidak memenuhi persyaratan ini akan tetap bisa menghasilkan penafsiran yang rancu dan salah meskipun dia telah mengikuti salah-satu kaidah penafsiran yang benar.
Sebagaimana kesalahan abu hamzah yang lainnya ketika menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan hadits Rasulullah صلي الله عليه وسلم .
Firman Allah سبحانه و تعالي :

…. ۚذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚوَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ ….

“…. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya….” (Qs.Al-Fath : 29).

Bagian ayat ini, yaitu زَرْعٍ (tanaman) telah ditafsirkan oleh abu hamzah dengan pohon kurma di dalam hadits :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda : “Sesungguhnya ada di antara pepohonan, satu pohon yang tidak gugur daunnya. Pohon ini seperti seorang muslim, maka sebutkanlah kepadaku apa pohon tersebut?”
Lalu orang-orang menerka ia pohon padang pasir.
Berkata Abdullah : “Lalu aku menerka di dalam diriku, bahwa pohon itu adalah pohon kurma, namun aku malu mengungkapkannya”.
Kemudian mereka berkata : “Wahai Rasululloh beritahukanlah kami pohon apa itu?”
Lalu beliau menjawab : “Ia adalah pohon kurma”.
(HR.Muslim.  Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhori)

Lebih jauh abu hamzah menggambarkan dengan ro’yunya bahwa pohon kurma ini adalah jama’ahnya yang telah terbentuk. Pohon kurma mempunyai pelepah-pelepah, yaitu orang-orang yang menjadi anggota jama’ahnya, di mana ketika di antara pelepah-pelepah ini ada yang rontok atau tercabut, pohon kurma tersebut tetap kokoh, tidak mati…
Pohon kurma yang semakin tinggi menjulang yang merupakan permisalan tentang jama’ahnya, dikatakan akan menjengkelkan hati orang-orang kafir.

Dalam penafsiran ayat ini abu hamzah telah membuat kesalahan-kesalahan, antara lain :

Pertama, penafsiran ayat dengan hadits yang telah dilakukannya adalah penafsiran yang “jauh panggang dari api”. Hadits riwayat Muslim yang dijadikannya sebagai penjelas “tanaman” di dalam Qs.Al-Fath ayat 29 adalah bermakna tunggal (mufrod), yaitu tentang seorang muslim yang diibaratkan seperti pohon kurma.   Sedangkan di dalam Qs.Al-Fath ayat 29 Allah menggambarkan banyak orang (bukan tunggal, yaitu para sahabat Nabi) yang membentuk sebuah jama’ah.   Hadits tentang pohon kurma tidak bisa dijadikan penjelas untuk ayat itu karena konteks haditsnya berbicara tentang seorang individu muslim, bukan berbicara tentang jama’ah muslimin sebagaimana yang digambarkan di dalam Qs.Al-Fath ayat 29 itu.
Ini tidak nyambung.
Wajar saja jika mufassirin seperti Ibnu Katsir tidak mencantumkan hadits tentang pohon kurma itu di dalam kitab tafsirnya untuk menafsirkan ayat itu.   Hadits tentang seorang muslim yang diibaratkan seperti pohon kurma itu lebih tepat untuk menjelaskan Qs.Ibrahim ayat 25-26 di mana di dalam ayat itu disebutkan tentang “pohon” secara tunggal pula.   Dari sisi tinjau bahasa ataupun makna (pemahaman) antara Qs.Ibrahim ayat 25-26 dengan hadits itu memang sejalan.

Kedua, penjabaran abu hamzah tentang pohon kurma (yang disebut di dalam hadits) sebagai sebuah jama’ah, yaitu dengan diterangkan bahwa pohon kurma mempunyai pelepah-pelepah (maksudnya adalah unsur-unsur atau anggota-anggota jama’ah) yang jika pelepah-pelepah ini rontok atau tercabut pohon kurma ini akan tetap kokoh (tidak mati) adalah bentuk pen-syarah-an hadits yang tidak benar dan sangat kacau.   Yang dimaksudkan Rasulullah ketika mengibaratkan seperti pohon kurma di dalam hadits tersebut bukanlah jama’ah kaum muslimin, akan tetapi seorang muslim secara individual.   Hal ini bisa dilihat dari konteks bahasa dan makna yang tersirat di dalam hadits tersebut.   Sangat sulit dimengerti mengapa abu hamzah memahaminya seperti itu, padahal di dalam hadits itu sendiri sudah sangat gamblang terlihat maknanya.   Allahu A’lam.

Ketiga, penafsiran abu hamzah tentang jama’ah di bagian Qs.Al-Fath ayat 29 itu adalah jama’ahnya yang sesuai dengan kriteria jama’ah Islam sebagaimana digambarkan di ayat itu.
Ini merupakan persangkaan yang terlampau muluk dan sangat berlebihan.   Jama’ah yang dimaksud di bagian ayat yang telah dicantumkan di atas itu adalah khusus jama’ah para sahabat Nabi, yaitu orang-orang yang mengikuti dan mendukung Nabi secara langsung ketika beliau berdakwah hingga bersinggungan dengan kaum kafirin.   Hal ini karena di dalam ayat itu Allah sebutkan :

…. ۚذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚوَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ

“Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil…”

Yang disebutkan di dalam Taurot dan Injil itu adalah pengikut-pengikut Nabi yang setia yang mendukung Nabi secara langsung ketika berdakwah menyampaikan risalah Allah, bukan jama’ahnya abu hamzah.   Sifat-sifat jama’ah abu hamzah tidak disebutkan di dalam kitab Taurot dan Injil.   Entah disebutkannya di mana.   Allahu A’lam…

(bersambung, insya Allah)

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Pos ini dipublikasikan di belajar islam, belajar tafsir, Islam, kelompok Islam, Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Tafsir Abu Hamzah Dalam Tinjauan Kaidah Tafsir Yang Benar

  1. hamba Allah berkata:

    bismilah, kalau anda mengupas tentang kesalan abu hamzah…! lalu dimana koreksi tentang kesalahan anda sendiri……? pusat kebencian anda, terletak pada kebencian anda kepada abu hamzah, sehingga besar kemungkinan, anda tidak mengoreksi karena Allah tapi karena abu hamzah juga barangkali…..? sy melihat sisi baik seseorang bukan karena abu hamzah, tp karena Allah, sy juga tidak berlepas bukan karena beliau, tp justru sy sekarang banyak melihat cara anda dalam melakukan provokasi untuk mengeluarkan sy dari abu hamzah, intinya itu, abu hamzah buat saya bukan seseorang nabi yg Allah tidak menegur langsung dalam melakukan kesalan didalam pendapatnya, dan anda tidak bersama kita lagi, sehingga anda tidak terlalu banyak tahu tentang islah yg ada didalamnya, atau apakah memang anda telah didatangkan atau diturunkan satu surat sehingga anda begitu sibuk menelisik kesibukan orang lain, sehingga anda lupa apa yang harus dipersiapkan hari esok, demi Allah sy hargai masukan anda, tp demi Allah sy tidak berhajat untuk bersama anda, karna kalau seorang jika telah berjalan pada satu ketetapan, maka biarkan orang tadi berjalan dgn ketatapannya sampai Allah medatangkan ajalnya begitu pun sebaliknya buat anda, apakah kita selama ini mengulas soal anda alhamdulillah tidak, apakah kita sedih dengan hilangnya anda ….? alhamdulilah tidak.
    Dan sy tau anda bukan orang yg tidak tahu. bahwa pengertian ” sungguh peringatan itu bermanfaat bagi orang” yg mau mendengar peringatan, maknanya jangan pernah memberi peringatan pada orang yg tidak mau mendengar peringatan kan….., mau ambil yg gak mau ya udah, serahkan semua kepada Allah, tugas seseorang selesai, lalu jalan masing masing sampai Allah mengadili tiap” orang, disana baru akan diketahui siapa yang benar dan yang salah, sebab didunia ini setan pun akan menganggap benar suatu perbuatan, karena dia menawarkan keyakinan, jadi jelasnya yok kita fastabikul khoirot aja, tanpa harus menyibukan diri melihat orang lain, anda setuju…..? karna sy tidak berharap banyak kepada anda juga kepada abu hamzah, tp sy berharap kepada Allah Yang Maha Benar.

    • Al-Faqir berkata:

      Tentang apa yg dibuat di blog ini, silahkan baca : “Ghibah dan Tahdzir”.

      Kau belum mengerti juga permasalahan yg sedang terjadi di FAH rupanya.

      Tentang tulisan2 di sini, kami tetap mempunyai harapan bahwa di sana masih ada orang2 yg berpikiran jernih meskipun setitik, yg belum tertutupi secara total dengan ujub dan kesombongan. Mudah2an masih ada orang2 yg takut menyalahi hujjah, takut menyalahi Al-Qur’an dengan pemahaman Rasul, para sahabat, para thobi’in dan para thobiut-thobi’in dan yg telah difahami dengan baik oleh para ulama Islam selama berabad-abad.
      Selama FAH masih mendakwahkan faham2nya, semoga Allah mampukan kami untuk tetap membantahnya dan mengingatkan orang2…

    • Orang Asing berkata:

      Fastabiqul khoirot ..diantaranya: .berlombalah membayar utang !
      bukan sebaliknya, menganggap utang sebagai ghonimah..!!!
      http://yourlisten.com/tauhidsyahadah/terhina-karena-hutang

  2. ummu marqisa berkata:

    HAMBA ALLOH…bukankah kalimat itu status atau gelar yang disandang dengan melalui proses keilmuan( ilmu mengenal,ilmu sabar, ilmu bersyukur,ilmu ikhlas dan ilmu-ilmu yg mendukung gelar tsb) dan juga ketakwaan seseorang..semakin mendekati gelar HAMBA ALLOH ,semakin ..(maaf.. kapasitas saya..masih jauh)

  3. Abu Haidar berkata:

    Bismillah….
    Wahai Hamba Allah yang baik, menginginkan kebenaran, mengharapkan rahmat Allah dan mencari ridha-Nya harus mengetahui bahwa ilmu itu diambil dari para ahlinya (ulama) dan orang-orang yang dikenal keilmuannya serta orang-orang yang mendapatkan rekomendasi atas ilmu mereka, mereka dikenal dengan keistiqomahan dan kelurusan mereka secara umum, keshalihan kondisi mereka, keadilan dan ketsiqahan mereka, jauhnya mereka dari sembronoan, sikap berlebih-lebihan dan sikap meremehkan, jauh dari terperosok dalam pendapat-pendapat yang asing, menyempal dan nyeleneh (menyelisihi mayoritas ulama yang terpercaya).
    Bagaimana seorang muslim — bahkan seorang manusia yang berakal sehat sekalipun — memperkenankan dirinya sendiri mengambil perkara-perkara yang rumit lagi detail yang tidak ia pahami dengan baik, yang kedudukan dirinya sebenarnya seorang yang hanya mampu taklid belaka, dari seseorang yang ia tidak ketahui kedudukannya dalam dunia ilmu, juga tidak mendapatkan rekomendasi dari orang-orang berilmu, orang-orang shalih dan orang-orang baik? Ia belum tahu kapasitas jihad dan amal shalih orang tersebut. Padahal, orang tersebut menyelisihi seluruh ulama, orang shalih, orang baik, imam dan tokoh kaum muslimin. Bahkan orang itu justru menyimpang sendiri , menyelisihi para ulama yang tsiqah dan berlaku sembrono!!!
    Minimal kondisi orang tersebut akan membuat orang yang berakal sehat bersikap teliti, hati-hati, tidak buru-buru menerima apa yang dikatakan oleh orang tersebut (Abu Hamzah dan orang yang sepertinya) dan tidak akan menerima pendapat yang sudah nampak jelas keasingan dan penyelisihannya terhadap pendapat para ulama yang terpercaya.
    Oleh karena itu para ulama sering memperingatkan untuk mewaspadai ilmu dan perkara-perkara yang asing. Dalil-dalil syar’i telah menunjukkan besarnya keutamaan bersama “al-jama’ah” dan “kelompok terbesar” (as-sawud al-a’zham) selama memungkinkan. Maksudnya, dalam selain perkara yang telah nampak begitu jelas kebenaran bagi seseorang, maka dalam kondisi tersebut ia harus mengikuti kebenaran yang nampak jelas dengan dalil dan bukti nyata tersebut, sekalipun engkau sendirian (memegang kebenaran tersebut), seperti yang dikatakan oleh sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.
    Maka pendapat yang benar menurut sekelompok ulama bahwa pendapat jumhur yaitu mayoritas ulama merupakan salah satu faktor yang menguatkan pendapat,saat seorang ulama peneliti mendapati kekuatan dalil (pihak-pihak yang berbeda pendapat) sama kuat.
    Keasingan (gharabah) adalah tanda dan “mengisyaratkan”, seperti istilah bahasa pada hari ini, akan rusaknya sebuah pendapat dan tidak benarnya pendapat tersebut. Keasingan mengharuskan sikap berhati-hati, tidak tergesa-gesa, melakukan klarifikasi, sabar dalam melakukan pengkajian dan penelitian lebih lanjut dan tidak terburu-buru. Apalagi bila pendapat yang asing tersebut datang dari seseorang yang tidak dikenal, bodoh dan mengklaim apa yang tidak ia kuasai!!!
    Maka bagaimana dibenarkan bagi seorang yang berakal sehat, menginginkan keselamatan dan kesuksesan untuk mengambil (panduan) din-nya dari abu Hamzah atau orang yang sepertinya, dari internet, dari youtube, dari radio…. Padahal ia melihat sendiri berbagai pendapat tersebut yang asing dan menyelisihi pendapat para ulama yang terpercaya. Ia juga melihat pada sosok orang tersebut terdapat banyak sekali pendapat yang ia bersendirian menganutnya. Maka bagaimana lagi jika hal itu masih ditambah dengan tanda-tanda lainnya tentang keburukan akhlaknya dan kerusakan jiwanya?
    Bagaimana orang yang berakal sehat akan mengizinkan dirinya tertipu oleh kefasihan orang yang berbicara atau unjuk kekuatannya dalam berdalil dengan Al Qur’an, Hadits dan perkataan para ulama. Padahal orang yang fasih berbicara dan pintar berdalil itu tidak memahami dengan baik argumentasi-argumentasi dan tidak pula mengkajinya secara mendalam. Ia juga tidak mengetahui apa yang ada dibalik lafal-lafal argumentasinya yang baik dan lahiriahnya yang menawan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Malik rahimahullah, “Apakah setiap kali seorang yang lebih lihai berdebat dari orang lain datang kepada kami, kami akan meninggalkan wahyu yang diturunkan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena kelihaian debat orang tersebut?”
    Begitulah, ia menjadikan din-nya lahan bagi orang-orang yang berlagak fasih dan berlagak ulama, padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari bahaya mereka dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencela mereka.
    Bagaimana orang yang berakal sehat mengizinkan dirinya atas hal ini, sementara ia melihat sendiri apa yang yang dilihatnya; keasingan, kesendirian, penyelisihan terhadap para ulama terpercaya, sikap keras, sembrono, dan penyelisihan-penyelisihan terhadap perkara-perkara yang pasti (dalam Islam)?
    Hal ini, demi Allah, sungguh mengherankan. Barangsiapa yang binasa, janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri!
    Sudah sama-sama diketahui bahwa telah tetap dalam syariat Islam dan dalam pemahaman generasi sahabat dan salafush shalih serta tulisan para ulama — semoga Allah merahmati mereka semua — yang memperingatkan untuk berhati-hati dari ketergelinciran ulama, menjelaskan bahayanya dan menerangkan kewajiban kita terhadap ketergelinciran tersebut. Dalam hal ini, silahkan mengkaji kitab Jami’ Bayan Al-Ilmi wa Fadhlihi karya Imam Ibnu Abdil Barr, Al-Muwafaqat fi Ushul Asy-Syari’ah karya Imam Asy-Syathibi dan buku-buku lainnya.
    Namun perbedaan antara para ulama yang mulia tersebut dengan orang-orang yang sesat Abu Hamzah dan para pengikutnya, bahwasanya para ulama tersebut menyimpulkan perkara-perkara tersebut melalui metode para ulama salaf dan mereka memberi udzur kepada orang yang menyelisihi mereka dengan ijtihad dan ta’wil.
    Mereka juga memiliki (setelah taufik dari Allah Ta’ala) landasan keilmuan, pemahaman jiwa dan manhaj yang selamat (karena menerima ilmu dengan cara-cara yang benar), sehingga melindungi mereka dari sikap mengkafirkan seluruh ulama Islam yang menyelisihi mereka dalam perkara-perkara yang mereka simpulkan atau melindungi mereka dari mengkafirkan seluruh kaum muslimin selain golongan mereka.
    Kita berdo’a kepada Allah Ta’ala semoga melimpahkan hidayah, kesehatan dan keselamatan kepada kita dan seluruh kaum muslimin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s