Yang Tidak Berjama’ah Dan Tidak Punya Pemimpin, Mati Jahiliyah

Yang Tidak Berjama’ah Dan Tidak Punya Pemimpin, Mati Jahiliyah

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله اللهم صل وسلم على محمد وآله أجمعين،
أما بعد

Allah سبحانه و تعالي berfirman :

لَقَدْ رَضِيَ اللهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْيُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sesungguhnya Allah telah ridho terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).”
(Qs.Al-Fath : 18)

Dalam firqoh-firqoh berfaham takfir seperti LDII (Islam Jama’ah), NII KW-9, FAH (Firqoh Abu Hamzah), atau firqoh-firqoh yang semisal dengannya, gencar didengang-dengungkan kepada pengikut kelompok mereka bahwa orang-orang yang keluar dari jama’ah mereka akan menjadi orang-orang yang tidak berjama’ah dan tidak mempunyai pemimpin lagi, jika ia mati maka akan mati dalam keadaan jahiliyah.
Mereka sepakat, bahwa makna mati dalam keadaan jahiliyah adalah mati sebagaimana orang-orang jahiliyah, yaitu mati kafir dan tidak beragama Islam.
Sekilas pemahaman ini memang benar dan masuk akal.
Pemahaman mereka ini dikatakan berdasarkan hadits yang shohih. Inilah haditsnya :

Dari Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

“Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak dia sukai dari pemimpinnya, maka hendaklah dia bersabar. Karena barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah sejengkal saja, maka ia akan mati dalam keadaan mati jahiliyah.” (HR.Bukhori-Muslim dari Ibnu Abbas)

Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

من مات وليس عليه إمام جماعة فإن موتته موتة جاهلية

”Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak mempunyai imam jama’ah, maka matinya mati jahiliyah.” (HR.Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dari Al-Harits Al-Asy’ary)

Dengan hujjah-hujjah yang tampak sangat jelas itu, tak heran jika pengikut-pengikutnya begitu percaya dengan pemahaman ini dan menjadi sangat ketakutan untuk keluar dari jama’ahnya.
Mereka takut mati jahiliyah…mereka takut mati kafir!

Bagaimanakah sebenarnya pemahaman tentang hal ini dari para ulama Islam, apakah memang seperti yang mereka fahami?

Makna mati jahiliyah

Ibnu Hajar Al-Atsqollani رحمه الله ketika menjelaskan hadits yang semakna dengan hadits yang disebutkan di atas (yaitu tentang mati jahiliyah), beliau mengatakan : ”Yang dimaksud mati jahiliyah yaitu seperti matinya kaum jahiliyah di atas kesesatan dan tidak mempunyai pemimpin yang ditaati.  Sebab, dahulu mereka tidak mengenal kepemimpinan tersebut.  Bukan yang dimaksud bahwa dia mati dalam keadaan kafir, namun dia mati dalam keadaan bermaksiat.” (Fathul-Baari, 13/7)

Imam As-Suyuthi رحمه الله mengatakan : “Makna ‘dia mati seperti mati jahiliyah’ yaitu keadaan matinya sebagaimana matinya kaum jahiliyah dahulu, dalam kesesatan dan perpecahan.” (Syarah Sunan An-Nasa’i, 7/123)

Dan hadits yang lainnya yang berkaitan dengan “mati jahiliyah” adalah :

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa melepas ketaatannya maka dia bertemu Allah pada hari kiamat dalam keadaan tidak memiliki hujjah, dan siapa yang mati dalam keadaan tidak berbai’at (kepada pemimpin), maka dia mati jahiliyah.” (HR.Muslim, no.1851, dari Abdullah bin ‘Umar)

Imam An-Nawawi رحمه الله menjelaskan hadits tersebut bahwa kata مِيْتَةً , dengan meng-kasrohkan mim, isim ini dalam ilmu nahwu menunjukkan hai’ah, yaitu keadaan.
Beliau pun berkata : “Maksudnya seperti keadaan matinya orang jahiliyah dari sisi mereka itu kacau, tidak mempunyai imam/pemimpin.”  (Syarah Shahih Muslim, 12/441)

As Sindi رحمه الله mengatakan : “Yang dimaksud seperti matinya orang-orang jahiliyah diatas kesesatan bukan yang dimaksud kekafiran.”  (Hasyiah/catatan kaki pada Nasa’i, juz:7-8/139)

Demikianlah para ulama Islam memahami hadits-hadits tentang “mati jahiliyah” tersebut, berdasarkan penelaahan dari berbagai sisi yang mereka telah kuasai ilmunya.  Mereka tidak memahami bahwa mati jahiliyah adalah mati kafir, mati tidak beragama Islam.
Sebuah hadits memang tidak bisa difahami oleh sembarang orang dengan begitu saja sesuai dengan prasangka masing-masing, karena bisa terjadi salah dalam memahaminya.
Para ulama ahlul-hadits adalah orang-orang yang memang mempunyai kredibilitas dalam permasalahan ini, dan seharusnya pemahaman tentang suatu hadits dirujuk dulu kepada pandangan mereka.
Allahu A’lam.

Makna Amir/Pemimpin yang disebut di dalam hadits

LDII menganggap bahwa pemimpin merekalah pemimpin Islam yang haq, jika melepaskan diri dari kepemimpinannya, maka akan mati jahiliyah.
NII KW-9 menganggap bahwa amir merekalah yang haq, yang tidak terikat ketaatan dengannya adalah orang-orang yang kafir, matinya adalah mati jahiliyah.
Kelompok abu hamzah juga menganggap demikian, yang tidak terikat lagi dengan kepemimpinan agus supriyadi dikatakan matinya akan mati jahiliyah, mati kafir…

Masing-masing meng-klaim bahwa pemimpin merekalah yang dimaksud di dalam hadits itu.
Bagaimanakah pemahaman yang benar tentang hal ini?
Siapakah sebenarnya yang dimaksud amir/imam dalam hadits-hadits yang disebutkan di atas?

Sesungguhnya ada banyak hadits yang menyatakan tentang mati jahiliyah, berikut adalah hadits yang lainnya lagi :

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا فَمَاتَ عَلَيْهِ إِلاَّ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa melihat sesuatu dari pemimpinnya maka hendaknya dia bersabar. Karena tidaklah seseorang keluar sejengkal dari ketaatan kepada sulthon lalu dia mati, kecuali dia mati seperti mati jahiliyah.”  (HR.Bukhori, no.6645, Muslim, no.1849, dari Ibnu Abbas)

Jika dalam hadits-hadits sebelumnya hanya disebutkan tentang “amir” dan “imam”, maka dalam hadits ini disebutkan tentang “amir” dan “sulthon”.
Dalam hadits ini, telah jelas disebutkan oleh Rasulullah, bahwa yang dimaksud amir/pemimpin itu tidak lain adalah “sulthon” (penguasa negeri). Perhatikan lafazh haditsnya :

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا فَمَاتَ عَلَيْهِ إِلاَّ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

Dalam lafazh hadits itu ada disebutkan أَمِيرِهِ (artinya : amirnya, atau pemimpinnya) dan kemudian disebutkan السُّلْطَانِ (sulthon, penguasa).
Jadi, yang dimaksud amir/pemimpin di dalam hadits itu adalah sulthon (penguasa).
Dengan demikian, maka makna amir atau imam yang disebutkan di dalam hadits-hadits semakna tentang mati jahiliyah yang disebutkan sebelumnya itu tidak lain dan tidak bukan, adalah juga sulthon (penguasa).

Begitupun dengan yang difahami oleh para ulama.
Dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda : (artinya) “Barangsiapa yang keluar dari ketaatan dan meninggalkan jama’ah lalu mati, maka matinya seperti mati jahiliyyah.”

Imam Ash-Shon’ani رحمه الله menjelaskan hadits tersebut : “Yang dimaksud keluar dari ketaatan adalah (keluar dari) ketaatan terhadap pemimpin yang disepakati.  Dan nampaknya yang dimaksud adalah pemimpin di wilayahnya masing-masing, karena sejak masa daulah Abbasiyyah kaum muslimin di dunia ini tidak lagi berada dalam kepemimpinan seorang pemimpin (kholifah), bahkan masing-masing dari penduduk suatu daerah berdiri sendiri bersama seorang pemimpin yang mengatur urusan mereka…” (Subulussalam, 3/347 cet.Daarul-Hadits)

Ibnu Taimiyah رحمه الله mengatakan : “Sesungguhnya Nabi صلي الله عليه وسلم memerintahkan untuk mentaati para pemimpin yang ada dan diketahui (keberadaanya) yaitu yang mempunyai kekuasaan (dan) mampu dengan kekuasaan itu untuk mengatur manusia (masyarakatnya), bukan mentaati orang yang tidak ada atau tidak diketahui keberadaanya, bukan pula orang yang tidak punya kekuasaan dan kemampuan atas sesuatu sama sekali.”  (Minhajus-Sunnah Nabawiyyah, 1/115)

Telah jelaslah, bahwa yang dimaksud amir/pemimpin oleh Nabi di dalam hadits-haditsnya tentang mati jahiliyah, adalah penguasa negeri (sulthon).

Tidak dipungkiri, bahwa idealnya kaum muslimin di seluruh dunia memang hanya mempunyai satu sulthon/pemimpin, yaitu khilafah.  Akan tetapi telah menjadi realitas yang tidak bisa dipungkiri juga, bahwa sejak masa daulah bani Abbasiyyah (hingga sekarang) kaum muslimin dunia sudah tidak berada di dalam satu kekuasaan kekholifahan sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Imam Ash-Shon’ani di atas.  Karena itu makna amir atau pemimpin yang ditaati di dalam hadits-hadits itu dimaknai juga kepada para penguasa (sulthon) kaum muslimin di tiap-tiap negeri muslim yang ada.

Imam Ash-Shon’ani رحمه الله mengatakan : “…Kalaulah hadits ini diterapkan hanya pada seorang kholifah yang memimpin kaum muslimin secara keseluruhan di dunia ini, maka sangatlah sedikit fungsinya.”  (Subulussalam, 3/347 cet.Daarul-Hadits)

Imam Asy-Syaukani رحمه الله mengatakan : “Adapun setelah tersebarnya Islam dan luasnya dunia Islam serta tempat-tempat saling berjauhan; maka telah dimaklumi bahwa setiap daerah/negara membutuhkan seorang imam atau sulthon dan mereka (penduduknya) tidak perlu melaksanakan perintah dan larangan (peraturan-peraturan) yang berlaku di daerah/negara lain. Maka berbilangnya imam dan penguasa (yang berlainan daerah kekuasaannya) adalah tidak mengapa.
Setelah dibai’atnya seorang imam (pemimpin negeri), maka wajib bagi setiap orang yang berada di bawah daerah kekuasaannya untuk mentaatinya, yaitu dengan melaksanakan perintah dan larangan-larangannya (yang bukan maksiat).  Seperti itu pula negara-negara yang lainnya.
Apabila ada orang yang menentang/menyelisihi (imam/sulthon) di dalam suatu negara yang kekuasaan telah dipegangnya dan penduduk telah membai’atnya, maka hukuman bagi orang tersebut adalah dibunuh bila tidak mau bertaubat.
Akan tetapi tidak wajib bagi penduduk negara lainnya untuk mentaatinya dan masuk di bawah kekuasannya; karena saling berjauhan kekuasannya.
Maka pahamilah perkara ini, karena sesungguhnya hal ini sesuai dengan kaidah-kaidah syari’at dan bersesuaian dengan dalil.  Dan tinggalkanlah pendapat yang menyelisihinya.
Sesungguhnya perbedaan antara daerah kekuasaan pada awal permulaan Islam dengan yang ada sekarang ini adalah lebih jelas/terang daripada matahari di siang hari.  Maka orang yang mengingkari masalah ini berarti seorang pendusta, ia tidak perlu diajak bicara dengan hujjah karena ia tidak memahaminya.”  (As-Sailul-Jaror, 4/512).

Syaikh Shalih Al-Fauzan حفظه الله ditanya tentang bai’at, jawabnya : “Bai’at tidak diberikan kecuali kepada waliyyul-amr (penguasa) kaum muslimin.  Adapun bai’at-baiat yang ada ini adalah bid’ah, itu akibat dari adanya ikhtilaf.  Yang wajib dilakukan oleh kaum muslimin yang mereka berada di satu negara atau satu kerajaan, hendaknya bai’at mereka cuma satu dan untuk satu pimpinan.” (Fiqh As-Siyasah Asy-Syar’iyyah, 281)

Demikianlah, jika yang dimaksud di dalam hadits-hadits tentang mati jahiliyah bahwa amir atau imam itu adalah sulthon (penguasa suatu negeri), maka makna jama’ah di hadits itu adalah : Jama’ah kaum muslimin dalam suatu negeri yang dipimpin oleh seorang sulthon.
Ini adalah salah satu pemahaman para ulama tentang “jama’ah” yang disebut di dalam hadits-hadits (ada beberapa pemahaman para ulama tentang jama’ah).

Baik ataupun buruk, sulthon tetaplah seorang sulthon, karena kriteria sulthon adalah statusnya yang masih seorang muslim, dan adanya kekuasaan atas sebuah negeri yang telah Allah berikan kepadanya.
Yang bukan sulthon, tetaplah bukan seorang sulthon, meskipun ia adalah orang lurus seperti Imam Asy-Syafi’i, Imam Ahmad, atau Ibnu Taimiyah.

Pemimpin LDII bukanlah seorang sulthon (penguasa negeri), begitu pula pemimpin NII KW-9.   Abu hamzah juga bukan penguasa atas sebuah negeri, ia hanyalah seorang penguasa di negeri khayalan (angan-angan).
Mereka semua adalah pemimpin-pemimpin kelompok yang tidak berkuasa atas suatu negeri kaum muslimin, mereka bukanlah sulthon yang dibai’at/disepakati oleh kaum muslimin di negeri yang manapun.
Tidaklah benar jika dikatakan bahwa mereka adalah amir atau imam yang haq sebagaimana yang dimaksud di dalam hadits-hadits Nabi.
Tidaklah benar jika dikatakan bahwa jama’ah mereka adalah jama’ah Islam yang haq sebagaimana yang dimaksud di dalam hadits-hadits Nabi.  Ini adalah pemahaman yang sangat konyol.

Kembali kepada sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

“Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak dia sukai dari pemimpinnya, maka hendaklah dia bersabar.  Karena barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah sejengkal saja, maka ia akan mati dalam keadaan mati jahiliyah.”

من مات وليس عليه إمام جماعة فإن موتته موتة جاهلية

”Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak mempunyai imam jama’ah, maka matinya mati jahiliyah.”

Semoga kami bukanlah termasuk orang-orang yang akan mati jahiliyah.
Alangkah malangnya para pengikut firqoh-firqoh itu, mereka sebenarnya memang takut akan mati dalam keadaan jahiliyah…
Namun justeru….siapakah sebenarnya yang akan mati jahiliyah?
Allahu A’lam.

وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ.

Al-Faqir, hamba Allah

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Pos ini dipublikasikan di belajar islam, belajar tafsir, Islam, kelompok Islam, Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Yang Tidak Berjama’ah Dan Tidak Punya Pemimpin, Mati Jahiliyah

  1. thalibul 'ilm berkata:

    Sudah banyak yg ngaku sebagai amir,begitupun kelompok yg ngaku hanya kelompok mereka sajalah yg berhak disebut jama’ah islamiyyah..tapi mereka lupa..amirnya ternyata bukan sulthon/amir yg dimaksud oleh Rosululloh Shollallohu alaihi wasallam dalam hadits2 tentang amir dan jama’ah..wallohu a’lam

  2. badaic berkata:

    Anjing lu——————————

    • MASYA ALLAH…DASAR PENGIKUT ASU (AGUS SUPRIADI) A.K.A ABU HAMZAH ALIAS ABU JAHAL (BAPAKNYA KEBODOHAN). BEGINILAH HASIL BELAJAR DAN PERKATAAN PENGIKUT ASU. JIKA TIDAK SEGERA BERTOBAT PERKATAAN ANDA AKAN KEMBALI KE ANTUM

  3. thalibul 'ilm berkata:

    eh..msh ada juga pendukungnya? pdhal amir-nya ga dikenal(majhul),sama pendukungnya aja mungkin ga mau dikenal mungkin krn takut ditangkap amir/sulthon lainnya?..pdhal amir/sulthon adalah pelindung rakyatnya sbgmana dlm hadits Nabi: al-imaamu junnatan…(imam itu perisai)..
    Utk badaic,ente blm diajari akhlak apa sama pak guru?

  4. roslan harun berkata:

    mau pencerahan. bagaimana dgn sulton yg menjunjung tinggi undang2 kafir. dan menolak, membuang jauh ke dlm kubahan najis undang2 Allah. apakah soltan sebegini masih lagi termasuk dlm kehendak hadis nabi itu.

    • Al-Faqir berkata:

      Ya akhi, sulthon yg seperti itu tentu saja sulthon yg tidak baik. Sulthon yg baik adalah yg menerapkan aturan2 Allah di dalam dirinya, keluarganya dan di dalam negerinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s