Qoriah Dari Setia Mekar (2)

Pertemuan kembali dengan Mbak En
Suatu hari di awal tahun 2008, aku dan isteriku bersukacita menerima kedatangan seorang “tamu jauh”, dialah Mbak En, seorang sahabat dan mantan guru isteriku yang telah lama tidak terdengar khabarnya.
Ada rasa haru isteriku karena kangen dan lama tidak berjumpa dengannya, tampaknya begitu juga dengan Mbak En terhadap isteriku.
Aku tidak banyak nimbrung dalam obrolan-obrolan hangat mereka, hanya sesekali saja.
Sekilas tampak begitu cerianya Mbak En.  Dia dan isteriku sering “cekikikan“ yang aku tidak tahu karena apa.  Mungkin itu hanya urusan perempuan…
Setelah Mbak En pulang, barulah isteriku menceritakan panjang lebar tentang topik obrolan hangatnya tadi.

Mbak En telah mengkhabarkan bahwa dirinya akan menikah dalam waktu dekat.  Dia menceritakan kepada isteriku bagaimana dia telah bertemu dengan seseorang (laki-laki) yang mau untuk diajak belajar Al-Qur’an dan berkehendak pula untuk menikahinya.
Itulah poin utama berita yang dibawanya kepada kami pada waktu itu.
Kami merasa turut bersukacita, dengan pengharapan bahwa suaminya nanti akan menjadi orang baik yang berpegang dengan Al-Qur’an juga bersama dengan Mbak En.  Di benakku ada tergambar bahwa kesulitan-kesulitan hidup Mbak En selama ini akan segera teringankan dengan dijalaninya hidup bersama dengan seorang suami yang dicintainya.

“Jalanilah hidup dengan normal, Mbak En…Hiduplah sebagai perempuan yang bersuami dan akan mempunyai anak-anak yang baik dan menyenangkan hati, sebagaimana yang mungkin engkau damba-dambakan selama ini…
Raihlah hari-hari berbahagiamu di dunia ini dan masa depan yang selamat di akhirat nanti…”

Polemik pernikahan Mbak En
Aku dan keluargaku menjalani kehidupan sehari-hari sebagaimana mestinya; menghadiri halaqoh-halaqoh, berdakwah, beraktifitas mencari rejeki, dan lain-lainnya.
Di pertemuan-pertemuan dengan teman-teman satu kalangan sering ada perbincangan-perbincangan.  Beberapa hari terakhir itu hangat beredar perbincangan tentang seorang perempuan yang hendak menikah dengan orang dari luar kalangan yang tidak disetujui oleh walinya.  Aku tidak terlalu menanggapi tentang hal itu, karena perbincangan-perbincangan itu biasanya hanyalah beredar secara normatif, tidak didetilkan inisial orang per-orangnya.  Yang penting adalah pelajarannya yang diambil agar yang lain jangan seperti itu, sebab itu melanggar ketentuan.
Akan tetapi aku menjadi begitu kaget-tersentak setelah mengetahui bahwa perempuan yang sedang banyak diperbincangkan itu ternyata adalah Mbak En.
Mengapa ada berita seperti itu, padahal Mbak En telah mengatakan bahwa dia akan menikah dengan orang yang belajar Al-Qur’an juga?
Ketidak-jelasanku kemudian terjawab dengan kedatangan kembali Mbak En ke rumahku setelah hampir dua bulan sejak kedatangannya yang pertama.

Mbak En mengungkapkan keinginannya untuk tetap menikah.
Calon suaminya memang ikut belajar Al-Qur’an sekali atau dua kali saja, namun setelah itu dia tidak mau lagi belajar Al-Qur’an. Mbak En mengatakan bahwa calon suaminya sangat tidak respek terhadap orang yang mengajarkannya (gurunya), umurnya masih sangat muda dan dianggapnya sangat banyak tidak mengerti permasalahan.  Gurunya itu sangat awam tentang berbagai ilmu-ilmu Islam, hanya mengajarkan Al-Qur’an sebatas pengertian dari terjemahan di mushaf.
Calon suami Mbak En sudah banyak mengikuti berbagai pengajian yang pemahamannya tidak sesederhana itu.  Inilah yang membuatnya enggan belajar Al-Qur’an lagi, dianggapnya itu hanya basa-basi yang membuang-buang waktu.
Calon suami Mbak En sepertinya memang belum tahu disiplin di kalangan kami, bahwa orang yang “baru“ tidak boleh merasa lebih pintar dan harus taat untuk mau diajarkan Al-Qur’an meskipun oleh seseorang yang belum bisa baca tulisan Arab sekalipun!
Bagaimanapun kadar orangnya jika ia ditunjuk sebagai guru maka harus mau diajari olehnya.  Dan bagaimanapun kadar seseorang jika memang statusnya adalah murid, maka dia harus mau mengikuti halaqoh meskipun harus encok atau pegal-linu lantaran mendengarkan apa yang disampaikan gurunya yang membosankan itu.  Ini adalah hukum!

Mbak En mengutarakan permasalahan itu dan berharap nanti suaminya (jika sudah menikah) akan mau juga untuk belajar Al-Qur’an dengan guru selain yang pernah ditunjuk untuknya. Barangkali nanti akan ada guru yang lebih baik.
Ia seperti meminta (secara tidak langsung) dukunganku, karena aku adalah mantan gurunya.
Kakaknya di Wanayasa, gurunya yang sekarang, dan juga pemimpin wilayahnya sudah tidak menyetujui rencana pernikahannya itu, dikarenakan calon suaminya sudah nyata-nyata menolak ‘berpegang‘ dengan Al-Qur’an.
Aku pun tidak bisa untuk melanggar peraturan.  Aku tidak menyetujui itu, hanya saja aku berusaha bersikap diplomatif, yaitu bagaimana agar dia bisa mengerti atas ketidak-setujuanku dan ketidak-setujuan yang lainnya tanpa harus membuatnya kecewa berat.
Mbak En pulang di waktu shubuh, tanpa berpamitan denganku, hanya berpamitan dengan isteriku saja.  Apakah mungkin Mbak En kecewa?  Allahu A’lam.

Setelah itu Mbak En tidak datang-datang lagi.  Tidak lama kemudian muncul desas-desus di kalangan orang-orang yang belajar Al-Qur’an, bahwa Mbak En akhirnya menikah juga.  Aku tidak tahu, siapakah yang mewalikan Mbak En dalam pernikahannya, karena yang aku tahu kakaknya di Wanayasa tidak merestui dan begitu pula pemimpin wilayahnya.  Aku pun tidak berkehendak untuk tahu tentang hal itu, aku pikir lebih baik untuk tidak berprasangka buruk sehingga aku akan merasa lebih nyaman dan tidak terbebani dengan hal-hal yang tidak perlu.

Tiga hari yang menyeramkan
Beberapa bulan kemudian, tanpa dikira Mbak En kembali datang ke rumahku. Kali ini dia datang dengan membawa cerita yang bukan tentang masalah pernikahannya.  Topiknya sudah berbeda cukup jauh.
Dia bercerita tentang hal-hal yang telah dialaminya yang dikatakannya berhubungan dengan dunia mistik-ghaib, yang belakangan menterornya.
Katanya : “Saya juga dari dulu tidak pernah percaya tentang hal-hal yang seperti ini, tapi ternyata sekarang ini saya mengalaminya.“
Konon, kejadian-kejadian ganjil dan aneh sering dia alami.  Sosok seperti manusia yang asing selalu muncul seolah membatasi gerak-geriknya.  Ke mana dia pergi, seakan selalu dibuntuti oleh sosok asing itu.
Sosok asing itu bisa muncul tanpa diketahui dari mana dia muncul, dan kemunculannya tak kenal waktu, kapan dia akan muncul, maka muncullah…
Inilah yang diceritakan oleh Mbak En dalam kedatangannya, dan dia menceritakan ini dengan sangat serius.

Kembali aku dengar desas-desus di pergaulan, bahwa Mbak En diceritakan oleh kakaknya telah mulai berubah, menjadi sering menyendiri dan melamun.  Tak hanya itu, konon dia juga jadi sering berbicara sendiri yang tidak diketahui maksud bicaranya.

Selang beberapa waktu, Mbak En kembali datang ke rumahku. Aku ingat waktu itu, saat-saat dia berada di depan pintu.
Wajahnya berpeluh dan tampak ketakutan yang sangat, dia mendesak agar segera diperbolehkan untuk masuk ke dalam rumah.
Aku segera mempersilahkannya masuk.  Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu mengatakan dengan setengah berbisik, bahwa dia sedang dikejar-kejar oleh sosok-sosok asing yang akan membunuhnya.  Jumlahnya banyak.
Astaghfirullah…
Aku dan isteriku keheranan, ada apa gerangan?  Siapakah yang mengejar-ngejarnya?

Mbak En terus bercerita, aku dan istriku hanya mendengarkan.
Setelah mengikuti cerita-ceritanya yang cukup panjang, setengah tidak percaya aku mulai menyimpulkan sesuatu dan bertanya di dalam hati : “Benarkah begitu?  Benarkah Mbak En sudah paranoid?  Mengapa bisa jadi begini?“
Aku berusaha menenangkan Mbak En, memancing logikanya yang positif agar bisa mengerti bahwa itu mungkin hanya halusinasi belaka.  Namun setiap kali dikatakan bahwa itu mungkin hanya perasaannya saja, dia semakin tegas menyatakan bahwa itu memang benar-benar nyata.  Akhirnya aku mengatakan bahwa di rumahku insya Allah dia akan aman, dan mempersilahkannya untuk beristirahat di kamar anak perempuanku.

Malam itu aku masih sibuk membereskan file-file elektronik di komputerku.  Aku masih ingat, jam telah menunjukkan pukul 11 malam.  Keluargaku sudah tertidur pulas.
Tak ada pendahuluan apapun dalam bentuk suara ataupun yang lainnya, ketika tiba-tiba saja Mbak En sudah muncul berdiri di sampingku.
Aku kaget dan spontan bertanya kepadanya mengapa sudah malam belum juga tidur.  Akan tetapi dia tidak segera menjawab.
Aku menoleh dan memperhatikannya, tampaklah raut muka yang kosong tanpa ekspresi apapun.
Matanya terbuka, namun tatapannya tidak tahu fokus ke arah mana.  Matanya seperti mata boneka mainan anak-anak yang tidak menampakkan ekspresi tentang sesuatu, hanya terbuka, namun kosong…
Dia berkata dengan suara yang sangat datar dan agak berat : “Tolong…Jika tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap keluarga anda, kembalikanlah En ke suaminya… (lalu dia menyebutkan nama seseorang dan sebuah tempat di daerah Jawa Barat).“
Langsung saja bulu kudukku berdiri. Aku merinding…
Aku tahu, itu bukan gaya bicara Mbak En.  Itu bukanlah perkataan Mbak En, itu pasti orang lain.  Aku segera sadar bahwa Mbak En sedang kerasukan.
Aku berusaha mengendalikan diri dan menyembunyikan rasa merindingku di depannya.  Aku bertanya tentang maksud perkataannya dan bertanya siapakah yang sedang berbicara, tetapi dia tidak menjawab pertanyaanku, hanya mengulang-ulang perkataan itu.
Sebisa-bisaku aku berusaha menyadarkannya, mengingatkannya bahwa dia adalah Mbak En, seorang hamba Allah yang selalu berpegang kepada ayat-ayat-Nya.  Aku membimbingnya untuk membacakan ayat kursy, surat Al-Falaq dan surat An-Naas, sambil aku sendiri membacakan di hadapannya.
Beberapa saat kemudian dia tersadar.  Raut mukanya mulai tampak berbeda dan matanya tidak lagi kosong.
Namun ekspresi yang langsung terlihat di wajahnya dengan seketika adalah ekspresi kesedihan yang sangat kuat.  Dia menangis dengan air mata yang menggerai tetapi nyaris tanpa suara, hanya tubuhnya yang bergetar…Alangkah dahsyatnya kesedihan di dalam tangisan yang seperti itu.
Dia berkata sangat lirih : “Kenapa En jadi begini…Kenapa En jadi begini…“

Hari-hari berikutnya setelah itu, Mbak En sering kerasukan dan sering pula kembali tersadar.  Dalam kerasukan-kerasukannya dia sering menyebut “ratu adil satria piningit“ dan sering pula mengucapkan istilah-istilah dalam bahasa sunda yang tidak aku mengerti.
Jika hari telah gelap, frekwensi kerasukannya menjadi semakin sering.  Dan pada setiap tengah malam (yaitu sekitar jam 11 sampai jam 1 malam) dia akan keluar rumah entah pergi ke mana, tak bisa untuk dicegah karena dia akan menerjang secara paksa. Dia akan kembali sekitar jam 3 pagi dalam kondisi yang tetap labil, yaitu kadang sadar dan kadang kerasukan.
Selama tiga hari Mbak En berada di rumahku, telah cukup membuat rumahku menjadi diliputi suasana menyeramkan berbau horor yang sangat kental.  Isteriku jadi sering ketakutan, hingga anakku yang kecil pun bercerita bahwa dalam tidurnya ia bermimpi melihat Mbak En dikelilingi “orang-orang yang berwajah jelek dan sangat menyeramkan“.  Mereka bisa terbang, ada di samping-samping dan di atas kepala Mbak En…
Subhanallah…
Sepertinya aku sudah tidak sanggup dan tidak mempunyai kemampuan untuk mengatasi permasalahan yang seperti ini.
Akhirnya aku memutuskan untuk mengirimkan kembali Mbak En ke keluarga kakaknya di Wanayasa dengan bantuan teman-teman dalam jama’ah di Bekasi.
Semoga akan ada solusi yang lebih baik…
Begitulah harapanku.

Kegagalan dan penyesalan yang sulit diterima
Dari berita-berita yang aku dengar tentang Mbak En, nampaknya banyak hal yang telah membuat perasaannya begitu hancur.
Sebagaimana di awal pernikahannya, dia telah melanggar aturan jama’ah dan menentang pandangan semua orang.  Dia telah siap dan berani untuk menerima resiko dikucilkan oleh orang-orang di jama’ah.  Dia tetap menikah dengan orang di luar jama’ah (‘orang kafir‘) dan telah berbuat kesalahan yang cukup serius, yaitu berwali terhadap orang kafir dan menjadikannya sebagai “bithonah“.
Rupanya hatinya telah terpaut kepada seorang laki-laki dan angan-angannya pun sudah terlanjur jauh, itulah yang sepertinya membuatnya begitu.
Namun biar bagaimanapun juga, Mbak En sebenarnya bukanlah type orang yang mudah melakukan dosa dan kesalahan.  Di balik keputusan yang telah diambilnya itu, pastilah sebelumnya dia telah mengalami pertentangan bathin yang cukup hebat.  Akan tetapi itu semua mampu dikesampingkannya karena adanya harapan yang sangat besar bahwa nanti keadaan akan membaik, sehingga dia dan keluarga barunya nanti akan hidup dengan normal di dalam jama’ah dengan ajaran yang diyakininya bersama-sama dengan yang lain.
Harapan yang terlampau besar dengan dipenuhi angan-angan kebahagiaan yang selalu membayangi mata, membuatnya lengah akan kemungkinan adanya sebuah kegagalan.  Ketika kegagalan itu ternyata memang terjadi dan telah berada di hadapannya sebagai sesuatu yang tidak bisa lagi ditolak, dia tidak mengerti dan tidak bisa pula untuk menerima kenyataan itu.  Dia benar-benar tidak bisa.

Usia pernikahan mbak En hanyalah beberapa bulan saja. Suaminya ternyata adalah seorang laki-laki yang telah beristeri. Suaminya lebih memilih kembali kepada isteri pertamanya dan meninggalkan mbak En begitu saja.  Ada desas-desus yang beredar bahwa mbak En telah di-guna-guna oleh isteri pertama suaminya sehingga kondisi mentalnya menjadi sedemikian rupa. Suaminya dan isteri pertamanya konon memang dikenal mempunyai keyakinan mistis lama dari daerah sunda.  Apa yang aku dengar memang tidak bisa aku pastikan, karenanya aku hanya bisa mengatakan : Allahu A’lam…

Pertemuan terakhir dengan Mbak En
September 2012, Allah سبحانه و تعالي menebarkan kasih-sayangNya kepada para hambaNya.  Mataku telah dibuka, kulubku telah dibersihkan dari keyakinan-keyakinan syubhat.
Aku, isteriku dan anak-anakku telah dilepaskanNya dari belenggu yang telah mengungkung kami selama belasan tahun.  Aku telah lepas dari firqoh itu, dan begitupun keluargaku.
Hari-hari yang cerah kembali kami alami.  Kami kemudian berusaha memperbaiki apa yang telah rusak ; akidah, pandangan dan keyakinan-keyakinan kami.
Air mata kami sering menetes, di antara rasa syukur atas kebahagiaan yang telah dilimpahkanNya, tetapi juga ada kesedihan mendalam mengingat teman-teman kami yang masih terjebak di dalam firqoh itu.  Mereka sebenarnya adalah orang-orang yang ingin mempunyai kebaikan, ingin menjadi hamba-hamba Allah yang sholih, tetapi pikiran mereka telah terperangkap di dalam alam pemikiran hizbiyah yang sangat hebat.  Mereka tidak mampu untuk sadar sehingga tidak mampu untuk keluar.  Sebagian dari mereka ada yang telah bisa melihat kejanggalan-kejanggalan, namun tidak mempunyai keberanian sama sekali untuk keluar.  Akhirnya mereka kembali diterkam oleh syubhat-syubhat yang dilepaskan dengan gencar oleh pemimpin-pemimpin mereka.
Alangkah malangnya mereka.  Aku dan isteriku sering bertanya-tanya sendiri, harus berapa puluh tahun lagikah mereka berada di dalam firqoh itu?
Kami juga kembali teringat dengan Mbak En.  Apa yang telah dialaminya memang sangatlah tragis.
Mungkinkah Mbak En akan tersadar dan kembali?  Bagaimanakah keadaannya sekarang?
Tanpa disangka-sangka kamipun ternyata kembali bertemu dengannya.

Siang itu aku dan isteriku sedang mengurus sesuatu di kantor kelurahan.  Ketika berada di halaman kantor, kami melihat seorang perempuan berkerudung yang sepertinya sedang memperhatikan kami dari jauh.  Kami berusaha untuk melihat lebih jelas, dan kami menjadi tergagap-gagap satu sama lain ketika mengetahui bahwa perempuan itu adalah Mbak En.
Kamipun menghampirinya.
Kerudungnya ternyata masih terpaut.  Akan tetapi kerudung yang dikenakannya adalah kerudung yang sangat lusuh.  Kulitnya telah menghitam dan tampak banyak keriput-keriput di wajahnya. Mbak En tak beralas kaki, dan kakinya terlihat penuh dengan debu seolah telah berhari-hari atau mungkin berminggu-minggu dalam keadaan seperti itu.  Sepertinya Mbak En sudah lama tidak memperhatikan dirinya.
Aku trenyuh sekali melihatnya.  Isteriku sudah tak bisa menahan tangisnya, air matanya langsung meleleh.  Dia lalu berusaha lebih mendekati Mbak En.
Bibirnya bergetar dan suaranya terputus-putus, ia mencoba berkomunikasi dengan Mbak En sambil memegangi kedua tangannya, mencoba mengungkit ingatan Mbak En, apakah masih mengenali kami.
Isteriku mengulang-ulanginya, sesekali ia berhenti dan terisak karena tak kuasa…tetapi lalu diulang-ulanginya lagi, ia begitu berharap Mbak En akan mengenali kami berdua.
Sangat sulit Mbak En merespon perkataan-perkataan isteriku, ia beberapa kali hanya tertegun, namun akhirnya ia mengangguk dan mengucapkan namaku dan nama isteriku.
Ternyata ia masih ingat.

Namun apalah hendak dikata.  Ingatan Mbak En ternyata hanyalah sekedar ingatan belaka, tanpa ada memori perasaan yang tersisa sedikitpun.  Tak tertangkap dari mimik wajahnya bahwa kami dahulu pernah saling akrab.  Mulutnya mengucapkan nama-nama kami, tetapi mimik wajahnya menggambarkan asingnya kami bagi dirinya…

Merasa iba, isteriku memberinya uang.  Uang itu digenggamnya dan sebagai gantinya ia memberikan kepada isteriku semacam kartu (seperti kartu mainan) sambil dikatakan bahwa itu adalah kartu kredit BCA yang bisa dicairkan di mana saja untuk berbelanja.  Dia punya banyak.  Dia segera menerangkan detil-detilnya.
Di saat komat-kamit mulutnya menerangkan, mendadak kepalanya melihat ke atas dan lalu ia bergegas berlari agak menjauh dari kami sambil mengibar-ngibarkan secarik kertas. Kami hanya memperhatikan tindakannya yang aneh itu.
Sekejap dia berbicara dalam bahasa Inggris dengan begitu lancarnya, kemudian sekejap pula dia berbicara dalam bahasa (yang mirip) India dengan sangat lancar pula.
Subhanallah…Entah dari mana dia mempelajari kedua bahasa itu.
Setelah itu dia pun kembali menghampiri kami dan mengatakan bahwa “pesawat“ baru saja turun.

Alangkah sedihnya hati kami menyaksikan keadaan Mbak En pada hari itu.
Kami pun meninggalkan Mbak En dalam keadaan ia sedang sibuk membereskan kartu-kartu dan lembaran-lembaran kertas yang dimilikinya.
Itulah saat-saat terakhir kali aku dan isteriku bertemu dengan Mbak En.
Sangat berat bagi kami menyadari dan menerima kenyataan, bahwa Mbak En yang telah kami temui sudah bukanlah Mbak En yang dahulu lagi.  Yang kami temui seolah hanya jasad dengan isi yang asing, tidak diisi oleh Mbak En lagi.  Mbak En yang bersahaja, ramah dan cerdas yang dahulu akrab dengan kami, entah sudah berada di mana. Kami sangat merasa kehilangan.
Sampai di sini, aku sudahi cerita ini.

Demikianlah… sepotong kisah tentang seorang perempuan biasa yang fitrahnya memang lemah, namun ia telah menghadapi problema-problema hidupnya yang berat dengan hanya bersendirian.
Tak ada orang yang mendukungnya ketika dia sedang terpuruk
Tak ada orang yang tidak menyalahkannya ketika dia sedang dirundung masalah
Dan tak ada orang yang tidak membuatnya kecewa ketika dia menumpukan harapan…

Tak ada lagi ajaran dan nasehat yang bisa menguatkannya, apapun seakan sudah menjadi usang
Dunia ini baginya sudah dipenuhi dengan segala kegagalan, penyesalan dan kesedihan yang tak tertanggungkan
Terlalu sakit untuk dijalani dengan keadaan yang sadar…Terlalu sakit…
Ini memang sudah Qodarullah…

Dia adalah teman kami, guru kami, dan saudara kami
Dia dahulu adalah sang qoriah dari kelurahan kami yang kami hormati
Semoga masih ada harapan di hari-hari terakhir hidupnya nanti, Allah akan bukakan kesadaran dan pengampunan untuknya.

Ketahuilah…
Bagi kami dia tetap seorang akhwat…

للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَْيتَنا ، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمة ، إِنّكَ أنتَ الوَّهابُ
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
َاللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ وَالأَبْصَارِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

Al-Faqir, hamba Allah

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Pos ini dipublikasikan di kelompok Islam dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s