Sang Pembisik, Sang Penyombong Dan Sang Orang Lemah (1)

Sang pembisik, sang penyombong dan sang orang lemah (1)

بسم الله الرحمن الرحيم
إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلاَّ الله وحده لا شريك له وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله. فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار .

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم wa ba’du :

Apa yang akan diceritakan di sini hanyalah sekedar cerita, akan tetapi fakta dari apa yang diceritakan di sini bukanlah hanya sekedar cerita, fakta-fakta itu memang benar-benar ada.
Apa yang dipaparkan di sini mungkin saja terjadi dan mungkin saja tidak, akan tetapi harapannya bukanlah seperti apa yang digambarkan di sini yang terjadi di dalam firqoh-firqoh berfaham takfir yang ekstrim.
Wallahu A’lam bish-showab.

Hidup penuh dengan ujian.  Para hamba Allah yang meniti hidupnya di jalan Rabb-nya tak pernah luput dari ujian-ujian.
Hidup juga penuh dengan tipuan.  Para hamba Allah yang meniti hidupnya di jalan Rabb-nya juga tak pernah luput dari tipuan-tipuan yang ada di dalam kehidupan.

Sang pembisik” adalah ghaib yang selalu berniat mengusik apa yang ada di dalam dada, dialah perancang tipuan-tipuan dalam kehidupan.
Sang penyombong” adalah para pengikut hawa nafsu yang selalu taat kepada sang pembisik.
Dan “sang orang lemah” adalah para awam yang mudah terombang-ambing karena kurangnya ilmu yang haq yang dibimbingkan oleh para ulama salaf dari para sahabat Nabi, para thobi’in, para thobi-ut-thobi’in serta orang-orang sholih yang mengikuti mereka dari jaman ke jaman.

Berkatalah sang pembisik kepada sang penyombong : “Bagaimanakah keadaan si orang lemah?  Bisakah dia dijerumuskan ke dalam maksiat agar menjadi pengikutku?”

Sang penyombong berkata : “Dia adalah orang yang polos tetapi dia orang yang baik.   Dia rajin ‘ngaji’, dia selalu baik terhadap orang-tuanya, selalu menyambung silaturrahim terhadap kaum kerabatnya, mempunyai ketawadhdhuan dan santun terhadap saudaranya sesama muslim.   Dia juga rajin bershodaqoh, rajin ke masjid, rajin membaca dan menghafal Al-Qur’an, rajin membantu orang, rajin…rajin…rajin…(macam-macam hal yang baik disebutkannya)“.

Berkata sang pembisik : “Hmm…cukup sulit kalau begitu. Pikirkanlah bagaimana caranya agar dia melanggar kebaikan itu semua.  Kacaukanlah pemahamannya, dan keruhkan pikirannya…!   Kau akan mendapatkan keuntungan darinya jika dia mau mengikutimu.   Aku tahu kau orang yang brilian dan pandai, kau mampu melakukannya dan layak mempunyai keagungan di sisi manusia.  Bawalah mushaf Al-Qur’an karena dia pasti tidak akan mau jika kau bawa kitab tripitaka, bijbel atau talmud!“

Sang penyombong lalu membayangkan tentang kemegahan yang dibayangkannya lebih permanen, dan diapun kemudian berkata : “Baiklah…“

Sebuah “proyek besar“ mulai digarap.  Sang penyombong mendekati sang orang lemah dan mulai memainkan logika yang selalu dihubung-hubungkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an.  Sang orang lemah memang lemah, tak berdaya ketika dipaksa muncul ketakjuban-ketakjubannya terhadap sang penyombong.  Dalam hitungan waktu yang tidak terlalu lama, tampaklah bahwa sang penyombong memang ternyata lebih unggul dari sang orang lemah…

Sang penyombong kemudian menghadap kepada sang pembisik dengan membawa letupan-letupan ujub yang gegap gempita.
Dia berkata : “Si lemah sudah mau mengikutiku.“

Sang pembisik berkata : “Kau memang benar-benar brilian.  Sekarang, cobalah agar dia memperbuat dosa yang paling besar. Bukankah kau pernah belajar Islam?  Tentu kau tahu apa itu dosa yang paling besar di sisi Allah.“

Sang penyombong berkata : “Tentu saja aku tahu.  Dosa yang paling besar dalam Islam setelah syirik adalah durhaka terhadap orang tua.  Sebab Muhammad (صلي الله عليه وسلم) telah mengatakan :

ألا أنبئكم بأكبر الكبائر قلنا بلى يا رسول الله قال الإشراك بالله وعقوق الوالدين ………

“Maukah kalian aku beritahukan dosa yang paling besar ?”
Para sahabat menjawab : “Tentu.”
Nabi bersabda : “(Yaitu) berbuat syirik terhadap Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” (HR.Bukhori)

Dalam riwayat yang lain : “Membuat menangis orang tua juga terhitung sebagai perbuatan durhaka, tangisan mereka berarti terkoyaknya hati oleh prilaku sang anak. Ibnu ‘Umar menegaskan : “Tangisan kedua orang tua termasuk kedurhakaan yang besar.” (HR.Bukhori)

Berkata sang pembisik : “Kalau begitu, jika dia belum mau mempersekutukan Allah, buatlah dia agar durhaka kepada orang-tuanya.“

Sang penyombong pun meneruskan proyek besarnya dan berusaha meyakinkan sang orang lemah bahwa orang-tuanya sebenarnya adalah orang yang kafir terhadap Al-Qur’an karena tidak mau berpegang dengan Al-Qur’an bersama-sama dia.  Berbagai-macam ayat dinukilnya sambil diajak untuk berlogika.  Sesekali sang orang lemah dikelabui dengan dibukakan kitab tafsir sedikit-sedikit secara tidak utuh dan dibukakan pula kitab hadits tanpa penjelasan syarah-nya.  Pikirannya dikacaukan dengan analogi-analogi yang tak mampu untuk dibantahnya, karena ia memang orang lemah yang tak banyak mengerti.  Dalam waktu yang tidak terlalu lama, sekali lagi tampaklah bahwa sang penyombong memang lebih unggul daripada sang orang lemah…

Sang penyombong kembali menghadap sang pembisik dengan letupan-letupan ujub yang bertambah banyak, ia berkata : “Si lemah sudah mengkafirkan ibunya dan sudah menjadi anak yang selalu membantah keras.  Dia sudah menjadi pendurhaka tulen!“

Sang pembisik berkata : “Sudah kukatakan kau memang brilian!  Buatlah agar dia melakukan dosa besar yang lain lagi agar semakin jauh dia dari surga, kau tentu tahu karena kau pernah belajar agama, bukan?.“

Sang penyombong berkata : “Tentu saja aku tahu.  Dosa yang sangat besar yang membuat orang tidak akan masuk ke dalam surga adalah memutus silaturrahim (hubungan kekerabatan/kekeluargaan).  Allah سبحانه و تعالي berfirman :

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِى اْلأَرْضِ وَ تُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُمْ وَ أَعْمَى أَبْصَارَهُمْ

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan (silaturrahim)?  Mereka Itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan telinga mereka dan dibutakan penglihatan mereka.” (Qs.Muhammad : 22-23).

Nabi Muhammad (صلي الله عليه وسلم) mengatakan :

لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ قَاطِعٌ

“Tidak akan masuk ke dalam surga, orang yang memutuskan (silaturrahim)”.
(Dikeluarkan oleh Al-Bukhori : 5984 dan dalam al-Adab al-Mufrad : 64, Muslim : 2556, Abu Daud : 1696, At-Tirmidzi: 1909 dan Ahmad: III/ 14, IV/ 80, 83, 84, 399. Berkata Syaikh Al-Albani : “Shahih”, lihat Mukhtashor Shahiih Muslim : 1765).

Dalam hadits yang lain :

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللهُ لِصَاحِبِهِ اْلعُقُوْبَةَ فىِ الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُهُ لَهُ فىِ اْلآخِرَةِ مِنَ اْلبَغْيِ وَ قَطِيْعَةِ الرَّحِمِ

“Tidak ada dosa yang lebih layak disegerakan hukumannya oleh Allah bagi pelakunya di samping apa yang akan didapatnya pada hari kiamat nanti dari pada perbuatan aniaya dan memutuskan silaturrahim..”
(Dikeluarkan oleh Al-Bukhori dalam al-Adab al-Mufrad: 67, Abu Daud : 4902, At-Tirmidzi : 2511, Ibnu Majah: 4211, Ahmad: V/ 36, 38, dan Al-Hakim : 3410, 7371, 7372. Berkata Syaikh Al-Albani : “shahih”, lihat Shahih al-Adab al-Mufrad : 48)

Sang pembisik berkata : “Bagus…buatlah dia jadi orang yang paling berdosa tanpa dia sadari, kacaukanlah pemahamannya tentang silaturrahim.  Kau ahlinya dalam masalah ini…“

Sang penyombong pun kembali melanjutkan proyek besarnya.  Dia berusaha meyakinkan sang orang lemah bahwa orang-tua dan kaum kerabatnya sebenarnya adalah orang yang kafir terhadap Al-Qur’an karena tidak mau untuk berpegang dengan Al-Qur’an bersama-sama dengan dia.  Pemahaman tentang silaturrahim mulai diutak-atik, dikatakan bahwa silaturrahim adalah “sambungan kasih sayang“ (bukan sambungan/hubungan kekeluargaan).  Karena itu antara orang beriman dengan orang kafir tidak ada sambungan kasih sayang dan tidak boleh bersilaturrahim.
Sang orang lemah memang lemah, dia pun tunduk dalam permainan sang penyombong dan semakin terpuruk dalam kebutaan hingga menjadi pengikutnya yang loyal.

Sang penyombong kembali menghadap sang pembisik.  Ujubnya sudah meledak membahana.  Dia berkata kepada sang pembisik : “Si lemah sudah memutus silaturrahim dari orang-tua dan kaum kerabatnya.  Dia sudah siap terlaknat, tertulikan dan terbutakan sebagaimana yang Allah sebut di dalam Qs.Muhammad ayat 22-23.   Dia sudah siap tidak akan masuk surga kecuali jika dia tersadar dan bertobat sebelum mati…“

Sang pembisik berkata : “Bagus…mudah-mudahan dia keburu mati sebelum sadar dan bertobat!  Kerja-kerjamu memang hebat.  Kerja-kerjamu ini memang kerja-kerja yang besar, tahukah kau tentang itu?  Tapi kau jangan berhenti sampai di sini, buatlah agar semakin banyak dosa besar yang dia perbuat, supaya aku tambah yakin bahwa dia tidak akan ke surga.  Jadikanlah dia seorang pezina.  Kau bisa?

Sang penyombong berkata : “Tentu saja aku bisa. Dia sudah semakin percaya kepadaku, dia sudah seperti kerbau dicocok hidung…“

Sang penyombong kembali melanjutkan proyek besarnya.  Sang orang lemah dihimbau untuk menikah lagi.  Dikatakannya bahwa ini adalah kerja-kerja Rasul dan para sahabatnya.  Dikatakannya bahwa orang Islam yang mumpuni adalah yang mampu memimpin keluarga yang banyak.  Tidak usahlah untuk menjadikan orang tua atau kerabat perempuan sebagai wali-nikah bagi pihak perempuan, karena mereka itu adalah orang-orang kafir.  Cukuplah sang penyombong sebagai wali hakimnya yang mungkin juga nanti akan menunjuk wakilnya.
Sang orang lemah tergiur dengan tawaran-tawaran kebaikan sambil tergairahkan birahinya.  Sang orang lemah memang lemah dalam masalah ilmu dan ajaran yang haq, tapi ternyata dia tidaklah lemah dalam masalah syahwat… Buta-lah dia terhadap hadits Nabi :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ بَاطِلٌ بَاطِلٌ

Dari ‘Aisyah, ia berkata : Bersabda Rasulullah : “Seorang wanita yang menikah tanpa izin walinya maka pernikahannya adalah bathil, bathil, bathil…”  (HR.Abu Dawud, 2083, Tirmidzi, 1102, Ibnu Majah, 1879, Ad-Darimi, 2/137, Ahmad, 6/47,165, Asy-Syafi’i, 1543)

Sang orang lemah menganggap sah wali-nikah oleh sang penyombong yang bukan seorang sulthon (penguasa) dan bukan pula ulil-amri kaum muslimin, telah buta-lah dia terhadap hadits Nabi :

فَإِنِ اشْتَجَرُوْا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهُ…

…maka jika mereka (wali-wali perempuan itu) berselisih, maka “sulthon” (penguasa) adalah wali bagi perempuan yang tidak mempunyai wali.”  (HR.Abu Dawud, 2083, At-Tirmidzi, 1102, Ibnu Majah, 1879, Ahmad, VI/47,165, Ad-Darimi, II/137)

Pernikahan yang bathil pun dilangsungkan…Hubungan badan di atas kebathilan pun dilakukan setiap malam…..setiap malam…dan setiap malam…
Sang pembisik sangat girang dan sang penyombong selalu menyarankan agar segera dilakukan hubungan-hubungan badan itu tanpa sungkan-sungkan, tanpa ditunda-tunda….
Kelak, akan lahir dari hubungan-hubungan di atas kebathilan itu anak-anak tanpa nasab yang jelas, yang akan dijadikan penerus pengikut bagi sang penyombong.  Namun untuk menjadi pengikutnya, anak-anak ini haruslah jadi orang yang lemah pula sebagaimana bapak-bapak mereka.  Untuk hal ini, sang penyombong sudah mempunyai planning-planning tersendiri.
Sampai di sini, sekali lagi tampaklah keunggulan sang penyombong dari sang orang lemah…..
(bersambung)

وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ.

Al-Faqir, Hamba Allah.

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Pos ini dipublikasikan di belajar islam, belajar tafsir, Islam, kelompok Islam, Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Sang Pembisik, Sang Penyombong Dan Sang Orang Lemah (1)

  1. Almustaqiim berkata:

    Bismillah, mdah2an tmn2 ana yg msh di firqoh dibukakan pintu qulubny segera meningglkan dosa2 besar d bertaubat pd Alloh, to tmnku yg d Ciamis segeralah pulang k orang tua, saudaramu menunggumu jg tmn2 dkatmu, jgn tkut dosa meninggalkan suamimu yg jelas2 yg diikut hanya “pemimpin”yg menyesatkan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s