Tafsir Abu Hamzah Dalam Tinjauan Kaidah Tafsir Yang Benar (2)

3.Al-Qur’an ditafsirkan dengan perkataan atau pemahaman para sahabat Nabi

Ibnu Katsir رحمه الله berkata : “Jika tidak mendapatkan tafsir di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, dalam hal ini kita merujuk kepada perkataan para sahabat.  Mereka lebih mengetahui tentang hal itu, karena mereka menyaksikan alamat-alamat dan keadaan-keadaan yang mereka mendapatkan keistimewaan tentangnya.  Juga karena para sahabat memiliki pemahaman yang sempurna, ilmu yang benar, dan amal yang shalih.  Terlebih para ulama sahabat dan para pembesar mereka, seperti imam empat, yaitu khulafaur rasyidin, para imam yang mengikuti petunjuk dan mendapatkan petunjuk, Abdullah bin Mas’ud, juga al-habrul al-bahr (seorang ‘alim dan banyak ilmunya) Abdullah bin Abbas.” (Tafsir Ibnu Katsir, Muqaddimah).

Para sahabat Nabi adalah manusia-manusia khusus yang Allah telah takdirkan mendampingi Rasulullah ketika beliau berdakwah menyebarkan ajaran Islam.  Mereka adalah orang-orang yang paling mengerti ajaran yang dibawa oleh Rasulullah, baik berupa pemahaman ayat-ayat Al-Qur’an ataupun As-Sunnah.

Ibnu Mas’ud رضي الله عنه (salah seorang sahabat Nabi) mengatakan : “Sesungguhnya Allah melihat hati hamba-hamba-Nya.  Lalu Dia mendapati hati Muhammad yang terbaik daripada hati hamba-hamba-Nya yang lain.  Kemudian Allah melihat lagi hati hamba-hamba-Nya setelah hati Muhammad, dan Allah mendapati hati sahabat-sahabat Muhammad yang terbaik daripada hati hamba-hamba-Nya yang lain.  Sehingga Alah menjadikan mereka pendamping Nabi-Nya.  Mereka berperang untuk Dien-Nya.  Maka apa yang dilihat baik oleh kaum muslimin (yakni para sahabat), baik pula di sisi Allah.  Dan apa yang dilihat buruk oleh kaum muslimin, buruk pula di sisi Allah.”  (HR.Ahmad, hadits hasan)

Dan Allah telah menyatakan di dalam Al-Qur’an bahwa para sahabat Nabi adalah orang-orang yang Allah telah ridho kepada mereka.   Allah سبحانه و تعالي berfirman :

وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

“Orang-orang terdahulu lagi pertama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada-Nya…” (Qs.At-Taubah : 100)

Orang-orang Muhajirin dan Anshor yang disebut di ayat itu adalah para sahabat Nabi.

Tidak disangsikan lagi bahwa penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an yang benar adalah apabila merujuk kepada perkataan (pemahaman) para sahabat Nabi, jika tidak didapati penafsiran dari ayat Al-Qur’an yang lainnya ataupun dari As-Sunnah.
Jika sahabat sudah menafsirkan suatu ayat, maka tidak boleh seseorang mengkesampingkan penafsiran sahabat Nabi tersebut untuk kemudian mengkedepankan penafsiran dari dirinya sendiri.
Ini adalah nyata-nyata sebuah kesesatan, sebagaimana abu hamzah (agus supriyadi) dan beberapa pendukung setianya telah menafsirkan Qs.Al-Maidah ayat 44 dengan penafsiran sendiri dan mengkesampingkan penafsiran seorang ahli-ilmu dari kalangan para sahabat Nabi, yaitu Ibnu Abbas رضي الله عنه .

Firman Allah سبحانه و تعالي :

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ …

“…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkankan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Qs.Al-Maidah : 44).

Bagian akhir dari Qs.Al-Maidah ayat 44 ini telah ditafsirkan oleh kelompok abu hamzah sebagai kafir akbar (kafir yang mengeluarkan pelakunya dari agama Islam) ketika ada seorang muslim tidak berhukum dengan hukum Allah.  Dengan pemahamannya mereka kemudian mengkafirkan (tidak menganggap sebagai orang Islam lagi) semua orang di luar kelompoknya yang dinyatakan tidak menegakkan hukum Al-Qur’an, apakah itu penguasa, ataukah rakyatnya di setiap negeri yang berpenduduk muslim secara umum, tanpa pandang bulu.

Sepintas apa yang difahami oleh orang-orang di kelompok abu hamzah nampak benar, mengingat lafazh ayatnya memang demikian dan keberadaan harf  مَنْ (man) di ayat itu memang bermakna umum, maksudnya mengandung pengertian “siapa saja” (bukan hanya Yahudi atau Nasrani dan bukan hanya penguasa/pemerintah yang muslim, tetapi semuanya, termasuk rakyatnya juga).
Seorang sahabat Nabi, yaitu Ibnu Mas’ud memang mengatakan bahwa ayat ini berlaku bagi siapa saja (umum, yaitu Yahudi, Nasrani, ataupun yang Muslim) (lihat : Al-Khazin, Lubab at-ta’wil 2/48), dan begitupun pendapat sahabat Nabi yang lainnya, yaitu Ibnu Abbas (lihat : Tafsir Ath-Thobari 10/593).

Terlebih dahulu perlu diingat, bahwa adalah suatu kewajiban untuk menegakkan hukum-hukum Allah.
Kewajiban menegakkan hukum Allah bukan hanya ada pada seorang penguasa, akan tetapi ada pada setiap muslim karena hukum Allah itu bukan hanya hukum-hukum hudud seperti rajam bagi pezina, potong tangan bagi pencuri, atau qishos bagi pembunuh dan lain-lainnya.  Secara umum, hukum Allah itu meliputi segala aturan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, mulai dari hukum wajibnya wudhu sebelum sholat, hukum li’an, hukum ilaa’, hukum waris, haramnya bangkai, babi, judi dan lain-lainnya.
Setiap muslim wajib menegakkan hukum-hukum Allah ini, sesuai dengan kapasitas dan perannya masing-masing.  Seorang pemimpin negeri wajib menegakkan hukum-hukum Allah di negerinya, seorang pemimpin perusahaan wajib menegakkan hukum-hukum Allah di perusahaannya, seorang pemimpin keluarga wajib menegakkan hukum-hukum Allah di keluarganya, dan seorang individu muslim wajib pula menegakkan hukum-hukum Allah bagi dirinya.
Demikianlah, maka pengharapan senantiasa tertuju kepada Allah سبحانه و تعالي , semoga Allah senantiasa memberikan hidayah dan taufik-Nya, karena tidak ada kekuatan dan kemampuan kecuali dengan pertolongan Allah agar kita (terutama penulis sendiri) mampu menegakkan hukum-hukum Allah di dalam diri dan keluarga masing-masing.  Semoga Allah juga memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada para pemimpin di kalangan kaum muslimin agar mau menegakkan hukum-hukum Allah, hukum yang haq dari Allah Rabbul-’Alamin.   Banyak upaya telah dilakukan oleh kaum muslimin yang mempunyai kesadaran tentang hal ini, di antaranya adalah upaya dari para asatidz yang dengan sabar terus berdakwah di tengah-tengah masyarakat.  Para ulama Ahlus-Sunnah (para masyayikh) juga senantiasa sabar menasehati para pemimpin dan petinggi di negeri-negeri kaum muslimin dunia ketika mereka berkunjung ke negeri-negeri kaum muslimin tersebut atau ketika mereka ada kontak/pertemuan dengan para pemimpin negeri tersebut.

Kini yang menjadi masalah adalah, apakah ketika seorang muslim tidak berhukum dengan hukum Allah secara otomatis berhak dinyatakan murtad (keluar dari Islam) atau kafir begitu saja?

Seorang sahabat Nabi yang dikatakan oleh Ibnu Katsir sebagai “al-habrul al-bahr” (seorang ‘alim dan banyak ilmunya) yaitu Ibnu Abbas رضي الله عنه telah menjelaskan bagian ayat Qs.Al-Maidah ayat 44 : وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ … (“…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkankan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.”)
Beliau mengatakan :

ليس بالكفر الذي يذهبون إليه. وفي لفظ: “كفر لا ينقل عن الملة”. وفي لفظ آخر: “كفر دون كفر، وظلم دون ظلم، وفسق دون فسق”. ولفظ ثالث: “هو به كفره، وليس كمن كفر بالله، وملائكته، وكتبه ورسله.

“(Kekafiran yang dimaksud dalam ayat tersebut -pent) bukanlah kekafiran sebagaimana yang mereka fahami (yang mengeluarkan pelakunya dari Islam).” Dalam suatu lafazh dikatakan : “Kekufuran yang tidak mengeluarkan dari agama.” Dan dalam lafazh yang lain : “Kekufuran yang bukan kekufuran (kufrun duuna kufrin), kedzoliman yang bukan kezaliman (zhulmun duuna zhulmin) dan kefasikan yang bukan kefasikan (fisqun duuna fisqin).”
Dan lafazh ketiga adalah : “Dia telah melakukan suatu bentuk kekufuran namun tidak sama dengan orang yang mengingkari (kufur) terhadap Allah, malaikat-Nya dan para Rasul-Nya”
(Hadits Ibnu Abbas ini diriwayatkan oleh Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak, 2/342, dari Thawus (bin Kaisan), dishohihkan olehnya dan disetujui oleh Adz-Dzahabi dalam Talkhis Mustadrak. Syaikh Al-Albani juga menshohihkan hadits ini dalam As-Silsilah Ash-Shohihah, 6/114.  Ibnu Jarir Ath-Thobari juga meriwayatkan hadits serupa di dalam tafsirnya (6/256) namun dengan versi yang berbeda dari ‘Atha bin Abu Rabah, dishohihkan sanadnya oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shohihah, 6/113).

Berdasarkan tafsir Ibnu Abbas, “kafir” yang dimaksud di ayat di atas bukanlah kafir akbar (kafir yang mengeluarkan dari agama) ketika seorang muslim (apakah dia seorang penguasa ataupun bukan penguasa) berhukum tidak dengan hukum Allah.  Hal ini karena bisa saja itu disebabkan oleh faktor-faktor tertentu, seperti misalnya ketidak mengertian, atau kecenderungan terhadap hawa nafsu atau karena masih menyukai kemaksiatan. Seseorang yang tidak berhukum dengan hukum Allah karena masalah-masalah ini tidak bisa dikatakan dia telah murtad atau kafir selama hatinya masih mengakui bahwa hukum Allah itu adalah benar, namun ia dikatakan melakukan perbuatan kufur, kecuali jika dia memang benar-benar telah kufur terhadap Allah, malaikat-malaikat-Nya, dan para Rasul-Nya…Begitulah tafsir Ibnu Abbas.

Seorang ulama ahli hadits sekaligus ahli sejarah dan ahli fiqh, yaitu Ibnu ‘Abdil-Barr رحمه الله mempertegas tentang hal ini :
”Para ulama telah bersepakat bahwa kecurangan dalam hukum termasuk dosa besar bagi yang sengaja berbuat demikian dalam keadaan mengetahui akan hal itu.  Diriwayatkan atsar-atsar yang banyak dari salaf tentang perkara ini.  Allah Ta’ala berfirman (yg artinya) : “Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”,”…orang-orang yang dhalim”, dan “…orang-orang yang fasiq” ; ayat ini turun kepada Ahli Kitab.
Hudzaifah dan Ibnu ’Abbas رضي الله عنه telah berkata : ”Ayat ini juga umum berlaku bagi kita”.
Mereka berkata : ”Bukan kekafiran yang mengeluarkan dari agama apabila seseorang dari umat ini (kaum muslimin) melakukan hal tersebut, hingga ia kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan hari akhir”.
Diriwayatkan makna ini oleh sejumlah ulama ahli tafsir, diantaranya : Ibnu ’Abbas, Thawus, dan ’Atha”  (At-Tamhiid, 5/74).

Penafsiran Ibnu Abbas ini juga telah dibenarkan dan dijadikan rujukan oleh para ulama dan ahli tafsir di kalangan Ahlus-Sunnah, di antaranya adalah :
Ibnu Katsir di dalam tafsirnya (2/64), Al-Qurthubi dalam tafsirnya, Al-Jaami’ li Ahkamil-Qur’an (6/190), Al Mawarzi dalam Ta’zhim Qadrish-Shalat (2/520), As-Sam’ani dalam tafsirnya (2/42), Al-Baghawi dalam Ma’alimut-Tanzil (3/61), Ibnul ‘Arabi dalam Ahkamul-Qur’an (2/624), As-Sa’di dalam Tafsirnya (2/296), Asy-Syinqhithy dalam Tafsir Adhwa’ul Bayan (2/101), Al-Imam Al-Baqa’i dalam Nizhmud-Duror (2/460), Al-Wahidi dalam Al-Wasith (2/191), Shiddiq Hasan Khan dalam Nailul-Maram (2/472), Abu Ubaid Al-Qosim bin Salam dalam Al-Iman (hal.45), Al-Allamah Abu Hayyan dalam Al-Bahr Al-Muhith (3/492), Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah (2/723), Ibnu Abdil-Barr dalam At-Tamhiid (4/237), Al-Kahzin dalam Tafsirnya (1/310), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa (7/312), Ibnul-Qoyyim Al-Jauziyyah dalam Madarijus-Salikin (1/335).

Keterangan yang telah jelas dari Ibnu Abbas رضي الله عنه dan telah diakui pula oleh para ulama Islam, tidak bisa begitu saja dimentahkan oleh hasil olah-akal, meskipun (barangkali) orang tersebut sangat cerdas dalam olah-akalnya.  Terlebih urusan kafir-mengkafirkan terhadap orang-orang Islam yang masih berstatus muslim (siapapun dia), bukanlah perkara ringan yang hanya cukup disandarkan kepada hasil olah akal dalam memahami ayat.  Diperlukan keterangan yang jelas, kuat, dan diakui oleh para ahli-ilmu dari kaum muslimin.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab رحمه الله berkata : ”Wajib atas orang yang menasehati dirinya agar tidak berbicara dalam masalah ini kecuali dengan ilmu dan burhan dari Allah, hendaklah ia waspada dari mengeluarkan seseorang dari islam dengan sebatas pemahamannya, dan penganggapan baik akalnya, karena mengeluarkan seseorang dari Islam atau memasukkannya termasuk perkara agama yang paling agung, dan syetan telah menggelincirkan kebanyakan manusia dalam masalah ini” (Ad-Dauror As-sunniyyah, 8/217).

Jika dipaksakan juga olah akalnya, maka mereka pasti akan mendapati fakta bahwa ternyata akal mereka itu rendah.
Sebagaimana telah disinggung di atas, hukum Allah itu meliputi segala aturan atau ketentuan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Di dalam Qs.Al-Maidah ayat 44 Allah سبحانه و تعالي menggunakan lafazh : يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ artinya : “(ia) berhukum dengan “apa yang diturunkan Allah”.
Semua aturan “yang diturunkan Allah” di dalam Al-Qur’an (dan juga As-Sunnah) itulah yang telah diperintahkan Allah supaya berhukum dengannya, dan aturan yang diturunkan Allah itu sangatlah luas, melingkupi segala sendi dalam kehidupan manusia.
Apabila memang benar bahwa seseorang yang tidak berhukum dengan hukum Allah langsung bisa dikatakan kafir, bisa jadi mereka akan mengkafirkan diri mereka sendiri, keluarga mereka sendiri, atau orang-orang di dalam kelompok mereka sendiri.

Apakah benar mereka tidak mempunyai kesalahan sama-sekali/sedikitpun sehubungan dengan aturan-aturan Allah yang sangat luas itu?
Apakah mereka benar-benar para malaikat yang sangat bersih dari kesalahan dalam berhukum, yang bahkan lebih bersih dari para sahabat Nabi?

Alangkah rendahnya akal mereka karena berusaha menentang nash yang telah jelas..!

Apabila satu ayat telah jelas penafsirannya dan telah kuat hal yang mendukungnya, maka ayat-ayat yang lain tidak mungkin bertentangan dengan penafsiran ayat tersebut.  Misalnya jika ada lagi dikatakan bahwa menurut ayat-ayat yang lainnya, yang tidak berhukum dengan hukum Allah adalah mutlak kafir.  Dalam hal seperti ini yang perlu lebih diteliti lagi adalah penafsiran ayat-ayat yang lainnya itu, apakah memang benar seperti itu.  Jika seseorang tidak mampu untuk meneliti dan kemudian memahami dengan benar, ada baiknya disandarkan saja kepada hasil ulasan dari para ulama yang telah eksist.  Hendaklah jangan gegabah merasa bisa padahal tidak bisa akhirnya terjerumus ke dalam kesalahan yang sangat fatal.

Telah jelas, tafsir abu hamzah tentang Qs.Al-Maidah ayat 44 telah menyelisihi tafsir sahabat Nabi, dan ini telah keluar dari kaidah penafsiran yang benar.  Tafsir abu hamzah juga telah menyelisihi penafsiran yang benar dari para ulama dan ahli tafsir kaum muslimin dari jaman ke jaman.
Namun abu hamzah dan kelompoknya tetap bertahan dengan penafsiran ini, maka mereka harus memastikan bahwa mereka lebih benar dalam tafsirnya sedangkan apa yang dikemukakan oleh para ulama itu adalah salah semua.  Mereka harus pastikan itu.
Ibnul-Qoyyim رحمه الله berkata : “Sesungguhnya mengadakan sebuah pendapat dalam menafsirkan Kitabullah yang bertentangan dengan penafsiran salaf dan para imam berkonskwensi dua perkara : Boleh jadi pendapat tersebut salah atau penafsiran salaf dan para imam yang salah..!
Tentu orang yang berakal tidak akan merasa ragu bahwa pendapat tersebut lebih layak tersalahnya daripada penafsiran salaf dan para imam.”  (Mukhtashar Ash-Showa’iq Al-Mursalah, 2/128)

Dalam mempertahankan faham “takfir”nya, orang-orang di kelompok abu hamzah senantiasa mempertanyakan dan meragukan tentang keberadaan dan keabsahan hadits/atsar dari Ibnu Abbas ini.
Terhadap orang-orang seperti abu hamzah atau yang semisal dengannya, seorang ulama besar abad ini, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله mengatakan :

“Akan tetapi tatkala atsar ini tidak diterima oleh mereka yang terjangkiti penyakit “takfir” (pengkafiran kaum muslimin secara mutlak dan tidak memakai kaidah-kaidah dalam mengafirkan seseorang -pent), mereka mengatakan : Atsar ini tidak bisa diterima dan tidak berasal dari Ibnu Abbas.
Maka kita katakan kepada mereka : Bagaimana bisa atsar tersebut tidak shohih, padahal atsar tersebut telah diterima oleh orang-orang yang lebih tinggi kedudukannya, lebih banyak keutamaannya dan lebih tahu tentang hadits daripada kalian?
Namun anehnya kalian tetap mengatakan : Kami tidak akan menerimanya.
Maka cukuplah bagi kita bahwa para ulama yang benar-benar alim seperti Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnul-Qayyim dan lain-lainnya, semuanya menerima atsar tersebut, berpendapat dengannya dan menukilnya.  Alhasil atsar tersebut shohih.”
(At-Tahdzir min Fitnatit-Takfir, hal.68).

Berkaitan dengan penafsiran ayat yang harus dirujuk kepada perkataan sahabat Nabi, para ulama tafsir yang masyhur dan kredibel seperti Ath-Thobari, Al-Qurthubi, Ibnu Katsir, Jalaluddin As-Suyuthi (salah seorang penulis tafsir Jalalain), Al-Baghawi, dan yang lain-lainnya adalah para pakar hadits dan atsar yang mempunyai perbendaharaan yang cukup banyak berkaitan hadits-hadits dan atsar dari Nabi dan para sahabat.
Hal ini sangat berbeda dengan abu hamzah dan beberapa gelintir pengikutnya yang setia yang ternyata semuanya buta tentang ilmu sanad dan tidak mempunyai perbendaharaan apapun berkaitan hadits-hadits dan atsar, kecuali buku-buku umum yang telah diterjemahkan oleh orang-orang yang mereka sendiri menganggapnya orang kafir.
Akan tetapi dalam keadaan yang sedemikian mereka justeru berani menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an yang mulia, sehingga akibatnya timbullah fitnah syubhat yang sangat besar.
Mereka menganggap remeh ayat-ayat Al-Qur’an, seolah ayat-ayat Al-Qur’an itu hanyalah kalimat-kalimat biasa yang mudah ditafsir-tafsir oleh siapa saja dengan tanpa penguasaan ilmu apapun.  Mereka berdalih bahwa Al-Qur’an itu telah Allah mudahkan, maka merekapun kemudian menggampangkannya dan menafsir-nafsirkan sendiri sejadi-jadinya tanpa pemahaman kaidah…

Mereka juga membenci untuk menelaah hadits-hadits atau atsar melalui sanad-sanadnya, di mana umumnya didahului dengan uraian : haddatsana…haddatsana… atau ‘an…’an…
Sebagian dari mereka menjadikan hal itu sebagai olok-olok dan dikatakan sangat tidak perlu.  Padahal beginilah semua hadits dan atsar diriwayatkan dengan teliti oleh para ahli hadits semisal Al-Bukhori, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan lain-lainnya sehingga melalui penelaahan terhadap sanad-sanadnya setiap hadits atau atsar bisa diteliti keabsahan atau keshohihannya.
Dalam sejarah, orang-orang yang berkarakter seperti ini telah di-cap oleh para ulama ahlul-hadits terdahulu sebagai “zindiq”. Perhatikanlah keterangan-keterangan berikut :

Al-Imam Al-Barbahari رحمه الله mengatakan : “Bila kamu mendengar seseorang dibacakan hadits di hadapannya tetapi ia tidak menginginkannya dan ia hanya menginginkan Al-Qur’an, maka janganlah kamu ragu bahwa dia seorang yang telah dikuasai oleh kezindikan. Berdirilah dari sisinya dan tinggalkanlah ia..!” (Syarhus-Sunnah, Imam Al-Barbahari)

Abu Utsman Ash-Shobuni رحمه الله (seorang ulama besar murid dari Imam Al-Hakim, ulama ahlul-hadits yang masyhur) mengungkapkan :

“Aku (Abu Utsman Ash-Shobuni) mendengar Al-Hakim berkata : Aku mendengar Abu Al-Husain Muhammad bin Ahmad Al-Handhali berkata di Baghdad : Aku mendengar Muhammad bin Isma’il At-Tirmidzi berkata : “Aku dan Ahmad bin Al-Hasan At-Tirmidzi pernah berada di sisi Imamuddien Abu ‘Abdillah Ahmad bin Hanbal.
Maka Ahmad bin Al-Hasan berkata kepadanya : ‘Wahai Abu ‘Abdillah (Ahmad bin Hanbal), orang-orang pernah menyebut ahli hadits di hadapan Ibnu Abi Qutailah. Maka ia (Ibnu Abi Qutailah) berkata : ‘Para Ahli Hadits (Ashhabul-Hadits) adalah satu kaum yang jelek’.
Maka Ahmad bin Hanbal berdiri sambil mengibaskan pakaiannya seraya berkata : ‘Zindiq, zindiq, (zindiq) !’, hingga ia masuk rumah”.  (Aqidatus-Salaf Ashhabil-Hadits : 164).

“Aku (Abu Utsman Ash-Shobuni) mendengar Al-Hakim Abu ‘Abdillah berkata : Aku mendengar Abu Nashr Ahmad bin Sahl, seorang faqih negeri Bukhara, berkata : Aku mendengar Abu Nashr bin Salam Al-Faqih berkata : “Tidak ada satu hal yang lebih berat dan dibenci oleh Ahlul-Ilhad (pengingkar/ahli-bid’ah) daripada mendengarkan hadits dan meriwayatkan dengan sanadnya”.  (Aqidatus-Salaf Ashhabil-Hadits : 165).

“Aku (Abu Utsman Ash-Shobuni) mendengar Al-Hakim berkata : Aku mendengar Asy-Syaikh Abu Bakr Ahmad bin Ishaq bin Ayyub Al-Faqih – saat itu ia tengah berdebat dengan seorang laki-laki – . Maka berkatalah Asy-Syaikh Abu Bakr : “Haddatsana Fulan… (telah menceritakan kepada kami Fulan)”.
Lalu laki-laki tersebut berkata kepadanya : “Tinggalkan kami dari perkataan haddatsana. Sampai kapan kita menyebutkan haddatsana?”.
Syaikh Abu Bakr berkata : “Berdirilah wahai kafir..! Tidak halal bagimu untuk memasuki rumahku setelah ini untuk selamanya.”.
Kemudian ia (Asy-Syaikh Abu Bakr) menoleh kepada kami dan berkata : “Aku tidak pernah berkata pada seorang pun untuk tidak masuk ke rumahku kecuali pada orang ini”.  (Aqidatus-Salaf Ashhabil-Hadits : 166).

Mereka benar-benar tidak tahu tentang ini.  Mereka benar-benar tidak sadar bahwa keberadaan mereka sesungguhnya hanyalah ulangan atas keberadaan orang-orang yang pernah muncul di masa yang lalu.

Bisa jadi mereka akan mengatakan bahwa ini hanya bisa-bisanya penulis saja.
Apakah mereka men-check atau menelitinya?
Tentu saja tidak!
Mereka sudah terbiasa mengabaikan keterangan-keterangan begitu saja.

Namun demikian harapan tetap tak putus, semoga mereka menyadari dan kembali kepada faham yang benar.  Faham yang telah dianut oleh para sahabat Nabi, para thobi’in, para thobi’ut-thobi’in dan para ulama Ahlus-Sunnah dari setiap masa.
Allahu A’lam.

(Bersambung, Insya Allah)

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Pos ini dipublikasikan di belajar islam, belajar tafsir, Islam, kelompok Islam, Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s