Qoriah Dari Setia Mekar

بسم الله الرحمن الرحيم
إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلاَّ الله وحده لا شريك له وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله. فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار .

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah
صلي الله عليه وسلم Wa ba’du,

Petikan sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم dalam hadits tentang penciptaan manusia di dalam rahim :

ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ

….Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat, lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya…. (HR.Bukhori-Muslim)

Setiap manusia mempunyai cerita hidupnya masing-masing. Setiap manusia telah Allah gariskan alur jalan hidupnya.
Ini adalah sepotong cerita seorang perempuan hamba Allah, seorang akhwat bagi penulis, seorang perempuan yang telah menapaki jalan hidupnya tersendiri.
____________________

Kisah berawal di Bekasi, Desa Setia Mekar pada pertengahan tahun 1992.
Suatu ketika para pemuda dan remaja karang-taruna desa mengadakan suatu acara, aku dan adik perempuanku menghadirinya.  Anak-anak muda dan remaja sekitar banyak juga yang datang bergabung.
Sebelum acara dimulai, sebagai pembukaan majulah seorang perempuan sebaya adikku, dengan baju ghomis panjang dan berkerudung rapat ia maju ke depan mimbar seraya membawa sebuah mushaf Al-Qur’an.  Tidak lama kemudian mulailah ia melantunkan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an.

Ayat demi ayat dibacanya, suara lantunan bacaan mulai memenuhi setiap sudut-ruang di sekitar kami berada.  Lambat tapi tetap, semakin lama nada suaranya semakin meninggi. Lengkingan lantunan ayat-ayat suci darinya semakin nyata terdengar dengan sangat bagus dan indah, menggambarkan penguasaan kaidah dan seni membaca yang sangat tinggi, membuat banyak orang terhenyak.  Kami terkondisikan menjadi diam dan jadi mendengarkan.
Itulah moment yang sampai hari ini aku masih mengingatnya dengan baik.
Selesai acara adikku mengatakan, bahwa yang membaca tilawah di pembukaan acara tadi itu adalah temannya, namanya “En” (hanya inisial, bukan nama sebenarnya) seorang qoriah (pen-tilawah Al-Qur’an) dari kelurahan kami.
Melalui apa-apa yang dituturkan adikku, aku sepintas menangkap profil pribadi En.
Dia adalah seorang remaja perempuan yang taat, mempunyai wibawa dan tidak suka banyak berbasa-basi.  Umumnya para remaja laki-laki di kalangannya merasa “segan”, tidak ada yang mau berlaku macam-macam terhadapnya.

Ajakan belajar pemahaman Al-Qur’an
Tahun-tahun berikutnya, aku menikahkan adik perempuanku dengan seorang laki-laki yang baik yang melamarnya.
Setahun kemudian akupun menikah dengan seorang akhwat kenalan adikku.  Kami menikah tanpa ada pacaran dan tanpa berpanjang-panjang proses perkenalan.  Keluargakku dan keluarga adikku menjadi dua keluarga yang kompak dan se “fikroh” dalam Islam.  Kamipun bersama-sama menjalani kehidupan, saling bantu, saling tolong, saling berbagi dalam kesulitan dan kelapangan.
Hingga pada suatu hari teman adikku, En datang berkunjung ke rumah adikku dan mengajak belajar pemahaman Al-Qur’an.
En sendiri ternyata telah belajar pemahaman Al-Qur’an selama beberapa tahun, sehingga kini diapun telah mampu untuk mengajarkan juga kepada yang lain.
Keluarga adikku menyambut ajakan baiknya dengan sukacita.  Tak lama berselang akupun dan isteriku juga ikut belajar pemahaman Al-Qur’an.

Selain seorang yang taat beribadah, En ternyata juga adalah pribadi yang sederhana dan ramah.  Isteriku dan adikku belajar kepadanya, sedangkan aku dan suami adikku belajar kepada seorang laki-laki muda di lain waktu.
En datang ke rumahku untuk mengajarkan isteriku dan iapun pergi ke Cikarang untuk mengajarkan adikku, sebab setelah menikah adikku tinggal di Cikarang bersama suaminya.
Suatu waktu adikku pernah bertanya kepada En apakah dia ada niatan untuk menikah.
Dia mengatakan bahwa belum lama ini ada seorang “ikhwan tarbiyahan” yang datang melamarnya.  Seorang yang cukup mempunyai penghasilan, mempunyai rumah sendiri meskipun masih lajang, dan sudah mempunyai kendaraan (mobil pribadi) dan kelengkapan lainnya juga.  Tapi karena persyaratan yang diajukannya tidak dipenuhi (yaitu ikut belajar pemahaman Al-Qur’an) maka En pun menolak lamarannya.  Hal ini membuat ibunya senantiasa menyesalkannya.

Isteriku belajar Al-Qur’an kepada En setiap minggu, dia sangat menyukai pelajaran itu.
Minggu demi minggu, bulan demi bulan, keluargaku semakin akrab dengan En. Kami menghormatinya.  Aku kemudian memanggilnya dengan panggilan “Mbak En”.
Meskipun aku jarang bertatap muka langsung dengannya, tetapi kehadirannya sudah terasa akrab dalam keluargaku.  Aku lebih sering mendengar suaranya saja.
Kadang suaranya terdengar berbincang dengan isteriku, kadang suaranya terdengar tertawa bersama tawa isteriku, kadang suaranya terdengar membujuk anakku yang masih kecil untuk berhenti dari menangis.
Mbak En adalah seorang perempuan yang sudah tidak lagi asing bagi keluargaku.

Seiring berjalannya waktu, pemahaman ajaran guruku semakin banyak aku ikuti dan kemampuanku mengulas ulang pelajaran semakin baik, maka akupun ditugaskan untuk mengajarkan juga kepada orang lain.  Mulailah aku mengajarkan.
Satu orang, dua orang, tiga orang dan seterusnya hingga akupun makin banyak menghandel halaqoh-halaqoh di wilayah Bekasi. Sementara itu Mbak En sudah tidak lagi mengajarkan isteriku, karena ia telah hijrah ke rumah keluarga kakak perempuannya di Wanayasa yang juga telah ikut belajar Al-Qur’an.  Ia meninggalkan ibunya dan saudaranya yang lain di Bekasi yang sudah sulit diajak belajar pemahaman Al-Qur’an.

Hiruk-pikuk keseharian dalam menjalani kehidupan sebagai “pengemban ajaran Al-Qur’an” semakin hari semakin rumit. Keadaan keuangan semakin menyulitkan, sementara isteriku melahirkan anakku untuk yang kesekian kalinya.
Anakku bertambah banyak.
Di satu sisi aku bersyukur, di sisi lain aku harus membuktikan syukurku itu kepada Allah.
Tahun-tahun yang berat aku masuki.
Bersama isteri dan anak-anakku yang masih kecil-kecil, aku berusaha menjalani ajaran yang menentang arus di semua sisi kehidupan : sisi kehidupan sebagai seorang pribadi, sisi kehidupan sebagai seorang yang mempunyai kerabat dan sanak famili, sisi kehidupan sebagai seorang di dalam kemasyarakatan, dan lain-lainnya.
Selama tahun-tahun itu sudah tidak terpikirkan olehku dan oleh isteriku tentang keadaan Mbak En bersama keluarga kakaknya di Wanayasa.  Aku dan keluargaku benar-benar tersibukkan untuk menjalankan ajaran yang telah kudapat dan kuanggap benar di tempat di mana aku tinggal.

Tugas dakwah ke Purwakarta

Pada tahun 2001, aku diutus pemimpin untuk mengajarkan orang-orang yang belajar pemahaman Al-Qur’an ke daerah Purwakarta.  Tak ada kendaraan pribadi pada waktu itu, aku berangkat dengan bus luar kota, dan seperti itu juga seterusnya.

Agak terkejut, ketika aku dapati bahwa ternyata salah satu orang yang aku ajarkan di antara sekian laki-laki dan sekian perempuan adalah Mbak En.  Aku tidak menyangka sebelumnya.
Lama memang tidak bertemu, akan tetapi tampak ada hal-hal yang telah berubah.
Mbak En kelihatan agak lebih pucat, dan pada wajahnya seolah tercermin kelelahan yang selalu menggelayutinya.

Aku rutin ke Purwakarta seminggu sekali, semakin lama aku semakin jelas melihat perubahan pada diri Mbak En.  Meskipun ia tetap ramah dan bersahaja, namun tetap bisa dirasakan seperti ada sesuatu dalam diri Mbak En yang telah hilang. Ia tidak sesemangat dan seceria dahulu lagi.
Ia kadang gagap, kadang diam dengan tatapan mata yang kosong, dan di halaqoh ia tidak banyak menunjukkan pemahaman ayat-ayat Al-Qur’an yang banyak seperti dahulu lagi.  Sebenarnya ada terbersit heran di dalam hati, namun aku berusaha untuk lebih mengkedepankan sangka baik.

Proses belajar-mengajar di Purwakarta berlangsung selama kurang-lebih satu tahun.  Selama itu aku jadi banyak tahu tentang keadaan Mbak En bersama keluarga kakaknya di Wanayasa.

Mbak En ternyata banyak didera kesulitan hidup.  Ia berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri dengan menjahit dan berdagang kue kecil-kecilan.  Apa yang begitu mudah dia lakukan ketika tinggal di Bekasi, ternyata sangat sulit bisa dia lakukan di daerah terpencil seperti Wanayasa.
Menjahit baju hanya sesekali dan itupun dengan bayaran upah yang sangat murah.  Berjualan kue sangat sulit mengingat sumber kue kering jauh dari tempat tinggalnya dan hasil penjualannya pun sangat sedikit karena masyarakat di daerah itu tidaklah berpola konsumtif seperti di kota-kota yang ramai semisal Bekasi atau Jakarta.
Sementara orang-orang di rumah di mana ia tinggal tidak bisa banyak membantu karena mereka sendiri sulit perekonomiannya. Kakaknya hanyalah pedagang makanan di sebuah kantin sekolah di kampung tinggalnya.  Kebutuhannyapun tinggi karena mempunyai delapan orang anak, sebahagian besarnya masih kecil-kecil.

Mbak En harus senantiasa mempunyai biaya untuk makan sehari-hari dan untuk ongkos kendaraan umum dari Wanayasa ke Purwakarta setiapkali menghadiri halaqoh.  Ia pun harus senantiasa mempunyai biaya untuk ongkos kendaraan umum ke beberapa tempat halaqoh yang dihandelnya (meskipun tidak banyak).  Belum lagi biaya untuk keperluan-keperluan yang lain seperti memasarkan barang dagangan, bersilaturrahim ke tempat teman yang lain, dan juga keperluan-keperluannya sebagai seorang pribadi untuk membeli sesuatu yang diperlukan.
Dia mempunyai problem perekonomian yang cukup serius.

Sementara itu problemnya sebagai manusia yang normal juga ada. Mbak En tidaklah tergolong seorang perempuan yang buruk rupa, meskipun ia juga bukanlah seorang dengan keadaan yang istimewa.
Sebagai seorang perempuan yang normal, ia pun mempunyai keinginan agar ada teman pendamping hidup; seorang suami.
Menginjak usianya yang sudah semakin bertambah banyak dari tahun ke tahun, adalah wajar jika ia mempunyai keinginan berumah tangga.  Terlebih dalam kondisi serba sulit yang terus dialaminya, wajar pula jika ia mempunyai pengharapan adanya seorang laki-laki yang akan mendampingi hidupnya dan bisa meringankan bebannya selama ini.
Akan tetapi ia terjebak dalam kenyataan faham yang dianut. Mbak En tidak mungkin menerima lamaran seorang laki-laki dari luar kalangan.  Yang melamarnya haruslah orang yang berada di dalam kalangan orang-orang yang belajar Al-Qur’an.  Prinsip ini haruslah ia pegang, terlebih bahwa ia adalah seorang senior yang telah banyak mengerti ajaran.

Polemik menjadi semakin nyata ketika laki-laki satu kalangan yang ada di daerah itu tidak ada yang melamar dirinya, tapi melamar perempuan-perempuan lain yang lebih muda.  Inilah polemik umum kaum perempuan yang belajar Al-Qur’an pada waktu itu, bukan hanya terjadi pada Mbak En.
Aku sebagai pengajar hanya bisa menasehati, menguatkan pendirian agar bersabar, tanpa bisa memaksakan segala sesuatu kepada siapapun.  Aku juga berusaha memberikan motivasi untuk hidup karena Allah, mengajarkan untuk bisa mengendalikan diri dan berusaha untuk bisa merasakan kedamaian di tengah-tengah kesulitan dalam keseharian.  Aku tidak ingin mereka (orang-orang di Purwakarta) menjadi “kering”.  Karenanya selama di Purwakarta aku lebih banyak berusaha menimbulkan kegembiraan mereka, bukannya banyak memberikan tekanan atas ajaran-ajaran yang belum juga mereka amalkan.
Akan tetapi sepertinya mereka senantiasa merasa tertekan untuk dipacu melaksanakan ajaran agar lebih baik, dari sejak dulu sebelum aku meneruskan sebagai guru pengajar mereka di situ. Aku hanya sekali dalam seminggu bertemu dengan mereka, itupun hanya beberapa jam.  Lebih banyaknya mereka bergaul ke sana ke mari bertemu dengan teman-teman yang lain bahkan yang dari luar Purwakarta ataupun bertemu dengan guru-guru yang lain yang lebih muda dariku yang bersemangat, namun tanpa pemikiran yang bijak, yang seringkali hanya bisa menekan dan mencela atas apa-apa yang dipandang salah pada mereka.  Mereka menjadi terkondisikan untuk selalu begini atau begitu, sebab jika tidak, pergaulan akan membuat mereka tertekan.
Apabila kemudian mereka menjadi tidak bergaul, maka intimidasi jama’ah akan mereka dapati.  Dan jika sudah ini yang terjadi, maka keseharianpun akan selalu digelayuti perasaan bersalah dan rendah diri yang sangat membebani mental….

Kurang lebih setahun aku di Purwakarta, akupun “ditarik” kembali oleh pemimpin dan ditugaskan ke tempat lain, yaitu Tangerang.  Orang-orang di Purwakarta termasuk Mbak En, akan segera mendapatkan guru baru, guru yang (konon) lebih “qori”, yang lebih muda dariku, dan yang lebih bersemangat…
Aku hanya berharap segalanya akan berjalan lebih baik.
Sampai di sini, ceritaku tentang Mbak En kembali terputus untuk waktu yang lama.

(Bersambung ke : Qoriah Dari Setia Mekar (2))

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Pos ini dipublikasikan di kelompok Islam dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s