Sang Pembisik, Sang Penyombong Dan Sang Orang Lemah (2)

Sang pembisik, sang penyombong dan sang orang lemah (2)

(Lanjutan)
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahunpun berganti tahun. Sang orang lemah semakin terpaut hatinya dengan sang penyombong.  Dialog dan diskusipun tak pernah putus antara sang orang lemah dan sang penyombong, begitu pula antara sang penyombong dengan sang pembisik.  Mereka menjadi kesatuan yang semakin solid.

Berkata sang pembisik kepada sang penyombong : “Tantangan kita semakin berat, carilah ide baru untuk menjamin agar si lemah itu tak akan bisa masuk ke dalam surga.  Sesungguhnya kita telah dipersilahkan untuk menghasung dan menekan orang-orang yang kita sanggupi untuk dihasung dan ditekan (lihat Qs.Al-Israa:64). Apa pendapatmu?“

Berkata sang penyombong : “Aku tahu hal lain yang menjadikan orang bisa bertempat di neraka, yaitu berdusta mengatasnamakan Nabi Muhammad (صلي الله عليه وسلم), sebab beliau mengatakan :

اتَّقُوا الْحَدِيثَ عَنِّي إِلَّا مَا عَلِمْتُمْ فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ وَمَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Jagalah diri untuk menceritakan dariku kecuali yang kalian ketahui, barangsiapa berdusta atas namaku, maka bersiap-siaplah untuk menempati tempatnya di neraka dan barangsiapa mengatakan (menafsirkan) Al-Qur’an dengan ro’yu-nya, maka bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka..” (HR.At-Tirmidzi, 2875. Ia berkata; “Hadits ini hasan”)

Berkata sang pembisik : “Bagus…cobalah agar dia menjadi penyebar dusta yang mengatas-namakan Muhammad (صلي الله عليه وسلم) sehingga satu poin lagi dia mendapatkan dorongan untuk menuju neraka.  Suruhlah dia berdakwah agar dia merasa dirinya berharga dan terhormat.  Biarkan dia buta bahasa Al-Qur’an, biarkan dia buta ilmu-ilmu sanad dan ilmu-ilmu hadits yang mengiringi tafsir-tafsir ayat, biarkan dia buta tentang fiqh, buta pemahaman akidah dari Muhammad (صلي الله عليه وسلم) dan dari para sahabatnya serta dari orang-orang yang sholih yang mengikutinya, dan biarkan dia buta hal-hal yang lainnya, karena semakin dia itu buta, maka akan semakin besar kedustaan yang akan disebarkannya… Mudah-mudahan apa yang kita usahakan akan membawa hasil.“

Berkata sang penyombong : “Ya, akan aku besarkan hatinya lewat kata-kata bahwa dia adalah orang pilihan yang menyebarkan kebenaran di muka bumi.  Tetapi aku minta tolong kepadamu agar menjadikan indah apa yang telah dikerjakannya selama ini. Tumbuhkanlah di dalam perasaannya sebuah keindahan dan keagungan ketika dia mencaci dan mengkafirkan ibunya sendiri, bapaknya sendiri, dan saudara-saudaranya sendiri.  Alirkanlah ke dalam hatinya sebuah perasaan bangga karena melakukan kebenaran yang tinggi ketika dia memutus tali silaturrahim yang telah Allah perintahkan.  Tumbuhkanlah di dalam perasaannya kecintaan kepada perempuan yang tidak pernah sah dinikahinya itu, jadikanlah indah di matanya hubungan-hubungan badan yang tidak pernah diakui sah-nya oleh jumhur para ulama dari kalangan ummat Islam dari jaman ke jaman itu sebagai kenikmatan dunia yang halal lagi sangat memuaskan…“

Berkata sang pembisik : “Aku akan membantumu dengan bisikan-bisikanku ke dalam dadanya.  Akan tetapi agar segalanya berjalan lancar, kau harus mengusahakan agar dadanya tidak dipenuhi ayat-ayat Al-Qur’an kecuali sedikit.“

Berkata sang penyombong : “Kamu tak usah khawatir…aku punya rencana agar dia tak akan pernah hafal Al-Qur’an meskipun belajar Al-Qur’an selama berpuluh tahun.  Tidak akan ada yang mati dalam keadaan pernah menghafal Al-Qur’an secara utuh.  Tidak akan pernah… percayalah!   Aku juga punya rencana agar dia tak akan pernah gemar mengisi malam-malamnya dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an.“

Berkata sang pembisik : Bagus…tidak salah aku berpartner denganmu.  Kau memang sesuai dengan namamu…bagus…
Apa yang kau lakukan itu sesuai juga dengan program jangka panjangku agar Al-Qur’an punah dari muka bumi.  Sesungguhnya dari sejak jaman Nabi hingga saat ini, penjagaan kemurnian Al-Qur’an yang paling utama adalah melalui hafalan-hafalan yang diteruskan dari generasi ke generasi, bukan melalui tulisan-tulisan.  Jika metodemu itu semakin banyak diikuti orang, akan semakin mudahlah Al-Qur’an habis dari muka bumi…!“

Sang penyombong kembali menggarap proyek besarnya, sang orang lemah senantiasa disemangati agar mau beramal untuk Allah, agar hidup di dunia tanpa perasaan takut kepada orang-orang kafir, karena bumi ini telah Allah wariskan kepada orang-orang yang beriman.  Digembar-gemborkan agar segala sesuatunya dilakukan untuk Allah, namun dengan ilmu yang jauh dari sunnah Rasulullah.
Sang orang lemah diajak bangga dengan amalan yang telah dilakukannya.  Kini dia telah menjadi orang yang sangat sombong.  Apapun yang datangnya dari luar gurunya, maka akan ditolak mentah-mentah meskipun mengemukakan hujjah yang jelas, karena baginya sekarang dalam beragama bukanlah dengan pegangan hujjah yang jelas dari Nabi, dari para salafush-sholih ataupun dari para ulama ummat Islam.  Beragama baginya adalah dengan mengikuti ayat-ayat Al-Qur’an menurut ro’yu sang penyombong.
Amalan-amalan besar telah dilakukannya seperti mencaci dan mengkafirkan ibunya, mengkafirkan sesama muslim dan memutus silaturrahim dengan kaum kerabat, mengawini perempuan secara bathil dengan tanpa walinya yang haq hingga beranak-pinak, dan termasuk pula amalan memakan harta orang lain secara bathil serta meninggalkan sholat jum’at dengan dalih ro’yu yang dibuat-buat.
Sang orang lemah sudah tidak bisa berkutik karena digempur dengan tawaran mengawini perempuan dan dianugerahi label kehormatan sebagai orang faham yang memimpin beberapa anak-buah.  Sang penyombong sangat mahir mengakali dirinya yang polos.
Dia kini merasa superior dalam menjalani kehidupannya yang sesungguhnya sangat morat marit di dalam banyak hal.  Akan tetapi dia senantiasa diajarkan untuk pandai membohongi dirinya sendiri dan pandai mengingkari kenyataan, supaya dengan demikian dia bisa bertahan hidup di dalam kepura-puraan yang lestari.
Namun segala sesuatu ada takdirnya.  Suatu hari di tengah-tengah perasaan superiornya, dia mengalami takdir yang tak bisa ditolak oleh makhluk yang manapun, yaitu datangnya kematian….
Setelah sempat sekarat dan meregang nyawa, jasadnya kini telah terbujur kaku tanpa nyawa.  Dia telah meninggal dunia dalam kesetiaan kepada ajaran sang penyombong.

Sang pembisik bertanya kepada sang penyombong : “Bagaimanakah matinya?  Apakah tetap di dalam ajaran-ajaran kita?“

Sang penyombong menjawab : “Aku tidak tahu rahasia Allah, tetapi secara zhohir dia tetap berada di dalam ajaran-ajaran kita.“

Berkata sang pembisik : “Kalau begitu apa yang kita usahakan terhadapnya selama ini telah membuahkan hasil.  Dia telah mati dalam keadaan berlumuran dosa-dosa besar, dosa-dosa yang bahkan lebih besar dari yang dimiliki oleh para rampok dan para pelacur jalang….“

Berkata sang penyombong : “Ya, sejauh ini tampaknya begitu.  Tapi masih ada satu kemungkinan dia akan diampuni oleh Allah dosa-dosanya karena adanya syafa’at (do’a) dari orang-orang yang menyolatinya, yaitu apabila mayatnya disholatkan oleh 40 orang Islam (atau lebih) yang tidak melakukan ke-syirikan.  Nabi Muhammad (صلي الله عليه وسلم) telah mengatakan :

مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلاً لاَ يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ شَفَّعَهُمُ اللَّهُ فِيهِ

“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lantas dishalatkan (shalat jenazah) oleh 40 orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah sedikit pun melainkan Allah akan memperkenankan syafa’at (do’a) mereka untuknya.” (HR. Muslim, no.948).

Ketahuilah…jika Allah sampai mengampuni dosa-dosanya, maka upaya kita selama ini terhadapnya akan sia-sia saja…“

Berkata sang pembisik : “Benar juga… Cobalah pikirkan cara agar mayatnya tidak sampai disholatkan oleh 40 orang!  Aku khawatir akan ada syafa’at pengampunan dari Allah baginya.”

Berkata sang penyombong : “Tenang…tak perlu khawatir.  Dia tak akan pernah disholatkan oleh banyak orang.  Dia hanya akan disholatkan oleh segelintir orang saja, itupun sebagian besarnya orang-orang awam yang tidak mengerti makna doa-doa di dalam sholat janazah.
Aku akan gulirkan titah agar mayatnya tidak diurus oleh orang-orang luar, dan akupun akan gulirkan titah agar tidak semua orang di jama’ah tumplek mengurus mayatnya dengan alasan keamanan ataupun alasan yang lainnya.   Tidak akan banyak yang menyolati mayatnya, mudah-mudahan tertutup kemungkinan adanya pengampunan baginya…”

Subhanallah, wal iya’udzu Billah

قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا أَنَحْنُ صَدَدْنَاكُمْ عَنِ الْهُدَى بَعْدَ إِذْ جَاءَكُمْ بَلْ كُنْتُمْ مُجْرِمِينَ

“Orang-orang yang menyombongkan diri, berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah : ‘Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk, sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa’.” (Qs.Saba : 32).
_______________________________

Ya Allah ya Rabb kami,
Selamatkanlah kami dari tipu daya yang licik dan memperdayakan
Laa haula wa laa quwwata illa Billah…
Ya Allah ya Rabb kami,
Ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami…

للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَْيتَنا ، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمة ، إِنّكَ أنتَ الوَّهابُ
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
َاللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ وَالأَبْصَارِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

Al-Faqir, hamba Allah

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Pos ini dipublikasikan di belajar islam, belajar tafsir, Islam, kelompok Islam, Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s