Orang-Orang Beriman Dan “Sami’na wa Atho’na“

Orang-Orang Beriman Dan “Sami’na wa Atho’na“

بسم الله الرحمن الرحيم
إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلاَّ الله وحده لا شريك له وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله. فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار .

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah
صلي الله عليه وسلم Wa Ba’du :

Allah سبحانه و تعالي berfirman :

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan : “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa) : “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (Qs.Al-Baqarah : 285)

Dalam ayat di atas, Allah سبحانه و تعالي menggambarkan tentang orang-orang beriman yang bersama dengan Rasulullah, di mana mereka telah beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya.  Mereka (orang-orang yang beriman) senantiasa mengatakan سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا (”…kami dengar dan kami taat…”).

Ibnu Katsir رحمه الله menjelaskan : “Yakni mendengar firman-Mu, ya Tuhan kami, dan kami memahaminya; Dan kami menegakkan serta mengerjakan amal sesuai dengannya.” (Tafsir Ibnu Katsir, juz 3 Qs.Al-Baqarah:285).

Mendengar apa yang difirmankan Allah dan memahaminya, lalu mengerjakan apa yang diajarkan atau diserukan di dalam firman Allah tersebut, adalah karakter orang-orang yang beriman. Karakter ini telah lekat, dan banyak disebut di dalam ayat-ayat Al-Qur’an, karena itu fenomena “mentaati apa yang didengar“ akan senantiasa terlihat di kalangan orang-orang yang mempunyai cap “beriman”.  Sebaliknya, hal ini tidak akan terlihat di kalangan orang-orang yang mempunyai cap “kafir”, karena orang-orang kafir tidak mungkin mentaati apa yang difirmankan oleh Allah سبحانه و تعالي .

Berikut adalah gambaran fenomena tersebut pada sekelompok orang yang mengakui bahwa hanya merekalah orang-orang yang beriman, di mana komitmen “kami dengar dan kami taat” memang tampak sangat ‘kelihatan’ ada pada aktifitas mereka yang penuh dengan kerja-kerja yang besar dalam rangka mengikuti Rasul.  Inilah sedikit uraiannya.

Sami’na wa atho’na di hari jum’at

Allah سبحانه و تعالي berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu sekalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual-beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Qs.Al-Jumu’ah : 9)

Setelah mendengar ayat ini, merekapun tahu dan mengakui bahwa sholat jum’at hukumnya adalah wajib, maka mereka segera melaksanakan apa yang diserukan oleh Allah di dalam ayat itu.
Sebagian dari mereka ada yang segera pergi ke pinggiran lapangan golf yang tidak aktif, di mana di situ tidak ada orang yang lalu-lalang, sangat sepi.  Hanya burung-burung emprit dan kadang sesekali ada kampret melintas di atas kepala-kepala mereka.  Mereka menjalankan perintah Allah dalam Qs.Al-Jumu’ah ayat 9 di situ dengan penuh ‘ke-khusyu’an’, yaitu dengan mengobrol ngalor dan ngidul, merokok, berkelakar, bengong, mengorek-ngorek kotoran hidung (ngu-phil), dan lain-lain, sesuai dengan kreatifitas masing-masing orang.
Sebagian lagi dari mereka yang berada di tempat lain, ketika mendengar seruan untuk sholat jum’at, maka mereka bergegas “sami’na wa atho’na” (kami dengar dan kami taat) yaitu dengan bersegera bersama-sama pergi menuju kolong jembatan, di mana di situ tidak ada orang yang lalu-lalang, sangat sepi.  Hanya serangga-serangga liar dan kadang sesekali ada kodok buduk melintas di antara kaki-kaki mereka.  Merekapun menjalankan perintah Allah dalam Qs.Al-Jumu’ah ayat 9 di situ dengan penuh ‘ke-khusyu’an’ sebagaimana saudara-saudara seiman mereka yang lainnya, yang menjalankannya di pinggir lapangan golf.
Sebagian lagi dari mereka mencari kebun-kebun atau tanah-tanah kosong yang sepi dari manusia, dan sebagian lagi yang lain ada yang berdiam di rumah-rumah mereka, tidak keluar rumah hingga orang-orang ‘kafir-munafik’ selesai melaksanakan sholat jum’at di mesjid-mesjid dhirornya.

Inilah ajaran dari wahyu Allah yang sedang mereka laksanakan, dan inilah “kerja-kerja” Rasul yang sedang mereka contoh.  Mereka mengharapkan dengan menjalankan ‘kerja-kerja Islam sebagaimana yang Rasul lakukan’ ini akan mendapatkan ridho dari Allah dan beroleh pahala yang besar di sisi-Nya dan akan masuk ke dalam surga yang luasnya seluas langit dan bumi….
Pemimpin mereka senantiasa mengajarkan : “Jika menginginkan surga, inginkanlah surga yang tertinggi, yaitu surga Firdaus.”
Allahu Akbar…..

Sementara itu, orang-orang yang dikatakan ‘kafir’, pada hari jum’at sudah mempersiapkan diri sebelum adzan berkumandang, yaitu dengan mandi dan mengenakan pakaian terbaik, memakai wewangian, dan bersiap-siap pergi ke masjid di mana sholat jum’at diserukan.  Namun, yang seperti itu tidaklah dikatakan mengikut “kerja-kerja Rasul”, bahkan dikatakan bahwa yang seperti itu hanyalah kerja-kerja orang-orang ‘kafir’ yang tidak faham Qur’an….
Jika seseorang itu betul-betul beriman dan telah faham Qur’an, pastilah ia akan mencari tempat yang sepi setiap hari jum’at di tengah hari, sebab beginilah kerja-kerja Rasul ketika daulah Islam belum tegak, beginilah kerja-kerja para sahabat Nabi, dan beginilah kerja-kerja orang-orang sholih terdahulu yang menjadi panutan ummat.
Jika tidak seperti ini, itulah pendusta ayat-ayat Al-Qur’an yang tidak “sami’na wa atho’na”, itulah orang-orang ‘kafir’…

Inna Lillaahi wa inna ilaihi rojiuun…
Semoga Allah memberikan petunjuk dan hidayah kepada orang-orang yang masih mempunyai i’tikad kebaikan,
Sesungguhnya segala petunjuk dan hidayah hanyalah dari Allah سبحانه و تعالي .

Sami’na wa atho’na untuk bersilaturrahim

Allah سبحانه و تعالي berfirman :

واتقوا الله الذى تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرحام…

“Dan bertaqwalah kepada Allah Yang dengan (nama)Nya kamu saling meminta satu-sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturrahim.” (Qs.An-Nisaa : 1)

Dan Allah سبحانه و تعالي juga berfirman :

وَ الَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَهُمُ اللهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَ يَخَافُونَ سُوءَ اْلحِسَابِ

“Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan (yakni silaturrahim) dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk.” (Qs.Ar-Ra’d : 21)

Setelah mendengar ayat-ayat ini, merekapun tahu bahwa menyambung silaturrahim adalah wajib, maka mereka pun melaksanakan ayat tersebut, yaitu dengan memutus hubungan kekerabatan terhadap orang-tua, keluarga atau sanak famili mereka.
Silaturrahim mereka artikan : shilla berarti sambungan, rahiim berarti kasih sayang.  Jadi, silaturrahim adalah sambungan kasih sayang, di mana hanya ada di antara orang-orang yang ‘beriman’.
Tidak ada kasih sayang terhadap orang-orang kafir, karena itu silaturrahim pun tidak boleh ada terhadap orang-orang kafir, harus diputus….
Orang-orang yang tidak belajar Qur’an, mereka adalah orang-orang ‘kafir’, yaitu kafir terhadap ayat-ayat Allah karena tidak percaya terhadap ayat-ayat Qur’an.  Bukti bahwa orang-orang itu tidak percaya terhadap Qur’an (kafir) adalah tidak maunya mereka untuk belajar Qur’an dengan benar kepada orang-orang beriman yang faham Qur’an (yaitu mereka).  Karena itu siapapun yang tidak belajar Qur’an kepada mereka adalah ‘kafir’, termasuk keluarga ataupun ibu-bapak sendiri.  Maka tidak ada kasih sayang dan tidak ada silaturrahim terhadap orang-orang kafir.
Ibu-bapak yang ‘kafir’ tidak perlu dijenguk, ditengok, diperhatikan, karena tidak boleh ada kasih sayang terhadap mereka.
Orang-tua yang kesusahan, biarlah mereka kesusahan sebagai adzab dari Allah.
Orang-tua yang sakit, biarlah dia sakit, sekarat, ataupun mati sekalian, karena orang-orang beriman yang imannya baik tidak akan berkasih-sayang dengan orang-orang kafir, siapapun dia.

Sementara itu, orang-orang yang mereka katakan ‘kafir’ tidak memahami seperti itu, tetapi memahami bahwa silaturrahim adalah tali kekerabatan atau tali kekeluargaan, sebagaimana pemahaman para ulama salaf.
Silaturrahim yang diartikan menyambung tali kekeluargaan atau tali kekerabatan oleh para ahli bahasa dan oleh para ulama salaf dari kalangan ahli hadits dan ahli fiqh semisal Imam An-Nawawi atau al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqollani (lihat tulisan : “Silaturrahim”), dianggap tidak tepat.
Sesungguhnya para ahli bahasa, ahli hadits dan ahli fiqh Islam baik dari kalangan ulama salaf ataupun dari kalangan ulama muta’akhirin, semuanya adalah orang-orang yang tidak faham Qur’an.  Mengambil ilmu tidak boleh dari orang-orang yang tidak faham Qur’an seperti itu.  Mengambil ilmu haruslah dari orang yang sudah pasti kepahaman Qur’annya, yaitu pemimpin mereka.
Para ulama telah memahami bahwa silaturrahim adalah tali kekeluargaan/kekerabatan yang tetap harus disambung meskipun orang-tua itu kafir (yahudi, Nasrani atau musyrikin), namun ini adalah pemahaman yang dikatakan keliru, meskipun pemahaman itu adalah pemahaman para ulama salaf semisal Ibnu Hajar Al-Atsqollani, Imam An-Nawawi, Al-Qurthubi dll (lihat tulisan : “Silaturrahim”).  Pemahaman ini adalah pemahaman orang kebanyakan dan merupakan pemahaman orang-orang ‘kafir’. Sebagaimana sudah disinggung di atas, bahwa para ulama salaf adalah orang-orang yang tidak faham Qur’an.  Kalaupun mereka ada kefahaman tentang Qur’an juga, kefahaman mereka hanyalah cocok untuk zamannya masing-masing.  Pada masa sekarang kefahaman mereka sudah pasti tidak akan cocok dengan realita yang ada.

Inna Lillaahi wa inna ilaihi rojiuun…
Semoga Allah memberikan petunjuk dan hidayah kepada orang-orang yang masih mempunyai i’tikad kebaikan,
Sesungguhnya segala petunjuk dan hidayah hanyalah datang dari Allah سبحانه و تعالي .

Sungguh, faham syubhat telah mampu membuat seseorang yang berwibawa menjadi sangat konyol
Dan sungguh, faham syubhat mampu membuat seseorang yang baik menjadi sangat jahat…

Hendaklah menjauh dari faham syubhat, agar tidak menjadi orang-orang yang konyol
Dan hendaklah menjauh dari faham syubhat, agar tidak menjadi orang-orang yang jahat…

للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَْيتَنا ، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمة ، إِنّكَ أنتَ الوَّهابُ
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
َاللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ وَالأَبْصَارِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

Al-Faqir, hamba Allah

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Pos ini dipublikasikan di belajar islam, belajar tafsir, Islam, kelompok Islam, Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Orang-Orang Beriman Dan “Sami’na wa Atho’na“

  1. Riadi berkata:

    Terkait “Sami’na wa atho’na untuk bersilaturrahim”
    Rasullullah saw saja tetap menjalin silaturrahim (berkasih sayang) dengan pamannya abu thalib yang jelas adalah seorang kafir, sampai dengan pamannya itu menghembuskan nafas terakhir nya dalam kekafiran. Pun demikian halnya dengan nabi-nabi lain seperti : nuh, ibrahim, daud, dan lain-lain. Mereka tidak memutuskan tali silaturrahim dengan keluarga mereka dan tidak bosan-bosan nya memperingatkan mereka supaya menyembah Allah. Justru yang terjadi malah keluarga mereka yang meninggalkan para nabi tersebut.

  2. Ijin share saudaraku.. Assalamualaikum..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s