Ghibah Dan Tahdzir

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله اللهم صل وسلم على محمد وآله أجمعين،
أما بعد

Allah سبحانه و تعالي berfirman :

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (Qs.Ali Imran : 104).

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

فا ن خيرالحد يث كتا ب الله وخير الهد ى هد ى محمد و شرالا مورمحدثا تهاوكل بدعة ضلا لة

“Sesungguhnya Sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad صلي الله عليه وسلم. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang di ada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat” (HR.Muslim, 1435)

Dengan mengharap Ridho Allah سبحانه و تعالي dan dengan mengkesampingkan segala hal yang bisa menjadikan sebuah niatan menjadi buruk, berikut ini dikemukakan tentang penjelasan-penjelasan mengenai tahdzir terhadap ahlul-bid’ah yang sering tersamar dengan masalah ghibah terhadap sesama muslim, padahal perbedaannya sangatlah jelas.   Tulisan ini lebih terfokus khusus kepada kelompok/firqoh abu hamzah, meskipun secara umum bisa saja termasuk juga kepada firqoh-firqoh lain yang semisal dengannya.

Sebuah kelompok yang berfaham menyimpang, umumnya memang selalu diikuti oleh orang-orang yang awam tentang ilmu-ilmu agama.  Meskipun mereka telah berkecimpung di kelompok itu selama bertahun-tahun (yang konon mengkedepankan berpegang dengan Al-Qur’an), namun keawaman senantiasa meliputi mereka.   Mereka tetap tidak banyak mengerti tentang unsur-unsur akidah yang banyak tersirat di dalam ayat-ayat Al-Qur’an, tidak pernah mendapatkan pembahasan khusus secara mendalam tentang tauhid (padahal tauhid adalah inti ajaran di dalam Al-Qur’an), mengenal Allah dengan lebih baik melalui pembahasan Nama-nama-Nya dan Sifat-sifat-Nya yang banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an, memahami kaidah-kaidah tafsir, kaidah-kaidah fiqh ataupun istilah-istilah yang digunakan oleh para ulama Islam (salaf ataupun muta’akhirin) untuk memahami suatu permasalahan tertentu di dalam Islam.

Jika di dalam Al-Qur’an disebutkan tentang “orang-orang yang berilmu” atau “orang-orang yang berpetunjuk”, mereka justeru sangat terasing dengan nama para ulama (orang-orang berilmu, orang-orang yang berpetunjuk) di kalangan ummat Islam yang telah eksist sepanjang sejarah.  Di antara mereka bahkan ada yang hanya tahu nama Imam Syafi’i sebagai ulama, itupun dengan selalu salah menyebutkan namanya, yaitu : Sape’i…

Dan begitu pula mereka tidak mengerti tentang permasalahan “tahdzir” yang ada di dalam Islam.   Ketika ada yang men-tahdzir, buru-buru dikatakan bahwa itu adalah ghibah.
Dikatakan : “Itu tidak boleh! Itu kerjaan orang-orang yang buruk. Lebih baik urusi saja keluarga masing-masing dan urusi saja urusan masing-masing, jangan ‘jahil’ terhadap urusan orang!”
Para pengikut kelompok yang awam itu pun segera manggut-manggut dan menirukan perkataan itu untuk mengkritik pen-tahdzir.

Lalu para pengikut kelompok itu pun tidak mau ambil pusing ketika ada orang-orang yang mengaku Islam tetapi menyatakan ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم .
Mereka mengatakan : “Masing-masing sajalah…Itu urusannya…”

Ketika ada orang yang mengaku Islam dan berpegang dengan Al-Qur’an kemudian menolak hadits-hadits Rasulullah, mereka pun tidak mau ambil pusing.
Mereka berkata : “Masing-masing sajalah…Itu urusannya…”

Dan ketika ada orang yang mengatas-namakan Islam tapi fahamnya membolehkan menggauli istri orang, mereka pun tetap tidak mau ambil pusing.
Mereka pun berkata : “Masing-masing sajalah…Itu urusannya…Asal jangan istri saya saja yang digauli…’tak kemplang kepala kowe!”

Betulkah mereka yang seperti itu memang menjaga kesucian diri mereka dari ghibah?

Apakah jika semua orang Islam yang ada di sekelilingnya mempunyai keyakinan yang nyata-nyata menyimpang mereka tetap mengatakan : “Masing-masing sajalah…Itu urusannya…”?
Apakah jika Islam telah porak-poranda hingga tinggal menunggu kehancurannya saja mereka tetap akan mengatakan : “Masing-masing sajalah…Itu urusannya…”?

Ketahuilah, jika demikian sesungguhnya mereka itu benar-benar ummat Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم yang sangat buruk, yang membiarkan agamanya dinistakan dan dicabik-cabik di depan matanya tetapi tidak pernah perduli.
Padahal Allah سبحانه و تعالي telah mengingatkan agar jangan seperti kaum bani israil, yang bersikap masa-bodoh terhadap kemunkaran

كَانُوا لاَ يَتَنَاهَوْنَ عَن مُنكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

“Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (Qs.Al-Maidah : 79)

Abu Ali Ad-Daqoq رحمه الله mengatakan : “Orang yang diam dari kebenaran adalah syetan bisu, sedang yang berucap dengan kebathilan adalah syetan yang berbicara” (Madarikun-Nazhor, hal.67)

Di tengah orang-orang seperti merekalah Islam dihancurkan oleh kaki-tangan musuh-musuh Islam dengan sangat leluasa, tanpa ada perlawanan sama sekali.
Apakah mereka berbohong ketika menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang mencintai Allah, Rasul dan mencintai Islam?
Allahu A’lam.

Ghibah dan tahdzir

Ghibah adalah menggunjing sesama muslim, yaitu membicarakan tentang hal-hal yang tidak disukai oleh orang yang dibicarakan itu, bisa berupa aib, keburukan, atau yang lainnya.

Allah سبحانه و تعالي berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa.  Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain.  Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?  Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.  Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Qs.Al-Hujuraat : 12)

Secara spesifik, ghibah disebut di dalam hadits :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ. قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ. قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ. قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah صلي الله عليه وسلم pernah bertanya : “Tahukah kamu, apa itu ghibah?”
Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”
Kemudian Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda : “Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.”
Seseorang bertanya : “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan?”
Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda : “Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu tentang dirinya, maka berarti kamu telah meng-ghibahnya (menggunjingnya).  Namun apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah menfitnahnya (dengan mengatakan kebohongan).” (HR.Muslim, 2589)

Berdasarkan ayat dan hadits di atas, ghibah adalah sesuatu yang haram, sedikit ataupun banyak.  Ghibah adalah sesuatu yang sangat tercela di dalam ajaran Islam.
Setiap orang selalu mempunyai kesalahan dan setiap orang mempunyai rahasia aib tentang diri atau keluarganya.   Ketika hal-hal itu digunjingkan oleh seseorang kepada orang yang lainnya, ini menjadi perbuatan yang sangat buruk yang disebut oleh Allah dengan perumpamaan ‘memakan daging saudaranya’.
Di dalam keseharian, kita memang sering tergelincir ke dalam kesalahan ini.
Dalam Qs.Al-Hujuraat ayat 12 di atas, Allah perintahkan untuk bertakwa kepada-Nya, yaitu dengan menjauhi perbuatan-perbuatan buruk yang disebut di ayat itu, termasuk menggunjing atau ghibah, dan Allah juga berfirman bahwa Dia adalah Maha penerima taubat lagi Maha Penyayang.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita hingga benar-benar terjauh dari ghibah.  Dan semoga Allah memaafkan kesalahan-kesalahan kita yang seringkali lalai hingga tergelincir ke dalam kesalahan ghibah.

Tahdzir adalah memperingatkan manusia (kaum muslimin) dari kesalahan atau dari orang yang bersalah.
Dalam konteks lain : memperingatkan umat dari kesalahan individu atau kelompok dan membantah kesalahan tersebut, dalam rangka menasehati mereka dan mencegah agar ummat tidak terjerumus ke dalam kesalahan serupa.

Sesungguhnya Allah سبحانه و تعالي telah menurunkan ajaran yang haq yang dibawa oleh Rasul-Nya.  Di antara ajaran yang haq itu ada satu yang sangat penting dan harus ada di kalangan kaum muslimin, yaitu “amar ma’ruf nahi munkar” (menyeru yang ma’ruf, mencegah kemunkaran).

Allah سبحانه و تعالي berfirman :

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (Qs.Ali Imran : 104).

Ibnu Katsir رحمه الله mengatakan di dalam tafsirnya : ”Makna yang dimaksud dari ayat ini adalah hendaklah ada segolongan dari kalangan ummat ini yang mengemban urusan tersebut (amar ma’ruf nahi munkar), sekalipun urusan tersebut diwajibkan pula atas setiap individu dari ummat ini.  Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Shohih-Muslim dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah. Disebutkan bahwa Rasulullah pernah bersabda :

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنَ لَـمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْـمَـانِ

“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya; dan jika ia tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (Tafsir Ibnu Katsir, juz 4 Qs.Ali Imran:104).

Imam An-Nawawi رحمه الله mengatakan : “Sesungguhnya amar ma’rûf nahi munkar adalah fardhu kifâyah kemudian terkadang menjadi fardhu ‘ain jika pada suatu keadaan dan kondisi tertentu tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia.” (Syarah Muslim, II/23)

Amar ma’ruf nahi munkar bukan hanya sebatas mengajak sholat dan melarang perzinahan.  Termasuk amar ma’ruf nahi munkar yang sangat penting adalah mengajak kepada Sunnah dan mencegah kesesatan ahli-bid’ah.
Tahdzir adalah bagian dari amar ma’ruf nahi munkar.  Tahdzir juga dilakukan dalam rangka mencegah tersebarnya kesesatan para ahli-bid’ah.

Ibnu Taimiyah رحمه الله mengatakan :
“Orang yang mengajak kepada bid’ah, berhak mendapat sanksi berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.  Sanksi tersebut bisa berupa hukuman mati seperti hukuman mati yang telah diterapkan pada Jahm bin Shofwan, Ja’d bin Dirham, Ghailan Al-Qodari dan yang lainnya.  Andaikata (pelakunya) tidak mungkin dijatuhi sanksi, namun kebid’ahan harus tetap dijelaskan kepada ummat, sebab hal itu bagian dari amar ma’ruf dan nahi mungkar yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.” (Majmu’ Fatawa, 35/414).

Tahdzir dilakukan dengan menjelaskan keburukan-keburukan (berupa faham-faham yang menyimpang atau yang lainnya) seseorang atau kelompok dan membantahnya (meluruskannya).
Nama-nama yang telah disebutkan oleh Ibnu Taimiyah di atas adalah nama-nama legendaris tokoh-tokoh ahlul-bid’ah dengan faham sesatnya masing-masing (lihat tulisan : Sejarah hitam perpecahan ummat) yang sebelumnya telah di-tahdzir oleh para ulama Islam di zamannya masing-masing.
Dengan menyebutkan inisial dan menjelaskan keburukan-keburukan ahli bid‘ah, pada dasarnya tahdzir ini memang ghibah juga.  Akan tetapi para ulama salaf maupun muta’akhirin telah sepakat bahwa ini adalah ghibah yang boleh dilakukan menimbang dari pemahaman ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah.

Ibnu Abi Zamanain رحمه الله (seorang ulama salaf, wafat tahun 399H) berkata :
“Senantiasa Ahlus-Sunnah mencela ahlul-ahwa/bid’ah yang menyesatkan (umat), mereka melarang bermajelis dengan ahli bid’ah, mengkhawatirkan fitnah mereka serta menjelaskan akibat buruk mereka.  Dan Ahlus-Sunnah tidak menganggap hal tersebut sebagai suatu ghibah.” (Ushulus-Sunnah, Ibnu Abi Zamanain hal.293)

Imam Ahmad رحمه الله mengatakan :
“Tidak ada istilah ghibah untuk (membantah) ahli bid’ah” (Thobaqoh Al-Hanabilah, 2/274)

Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله mengatakan :
“Tidak ada istilah ghibah dalam membantah ahli bid’ah”.
Beliau mengatakan : “Tiga golongan manusia yang tidak ada larangan dalam mengghibah mereka, salah satunya adalah ahli bid’ah yang ekstrim dalam bid’ahnya”.
Beliau juga pernah berkata : “Tidak ada istilah ghibah dalam mencela pelaku bid’ah dan orang fasik yang menampakkan kefasikannya.” (Syarh Ushul-I’tiqod Ahlis-Sunnah, Al-Lalika’i 1/140)

Imam Asy-Syathibi رحمه الله menjelaskan hukum membicarakan keburukan ahli bid’ah :
“Boleh menyebut-nyebut keburukan ahli bid’ah dan menjelaskan kebid’ahan mereka agar semua orang terhindar dari fitnah ucapan bid’ah dan bahayanya, sebagaimana yang dilakukan para ulama salaf.” (Al-I’tishom, 1/176).

Demikianlah sebagian dari perkataan para ulama salaf tentang tahdzir kepada ahli bid’ah yang merupakan bukan ghibah dalam arti yang buruk, tapi justeru sebagai bentuk amar ma’ruf nahi munkar.
Pemahaman para ulama salaf tentang tahdzir ini tidaklah bertentangan dengan ajaran/sunnah Rasulullah صلي الله عليه وسلم .

Sesungguhnya Rasulullah pun telah men-tahdzir Dzul-Khuwaisiroh (padahal ia masih seorang muslim) dengan mengatakan kepada para sahabat : “Akan keluar dari keturunan orang ini beberapa kaum, yang kalian akan merendah bila shalat kalian dibandingkan dengan shalat mereka, puasa kalian dibandingkan dengan puasa mereka, amal-amal kalian dibanding dengan amal-amal mereka.  Mereka membaca Al-Qur’an akan tetapi tidak sampai ke tenggorokan mereka (tidak paham), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari buruannya.  Seandainya aku menjumpai mereka maka aku akan membinasakan mereka seperti Allah membinasakan kaum ‘Ad.  Barang siapa membunuh mereka maka mendapat pahala sekian dan sekian dan barangsiapa dibunuh mereka maka mati syahid.” (Lihat HR.Bukhori no.5058 dan Muslim 147/1064)

Dan beberapa keterangan hadits yang lain ada menunjukkan tentang tahdzir yang dilakukan oleh Rasulullah, dan tahdzir yang dilakukan di kalangan sahabat dan thobi’in.
Semoga dengan penjelasan yang sedikit ini menjadi jelaslah apa-apa yang belum jelas.
Sungguh, tahdzir terhadap ahli bid’ah memang benar-benar harus dilakukan.

Syaikh Ibnu Baz رحمه الله mengatakan : “Sesungguhnya wajib untuk men-tasyhir dan men-tahdzir dari orang yang menyimpang tersebut, dilakukan oleh seorang yang mengetahui hakikat (kesesatannya), sehingga manusia menjauh dari jalan mereka, dan agar orang yang tidak mengetahui hakikat mereka tidak kemudian bergabung bersama mereka, yang pada akhirnya merekapun menyesatkannya dan memalingkannya dari jalan lurus yang telah Allah perintahkan kita untuk mengikutinya.” (Fatawa al-‘Ulama al-Mu’ashirin fi Hukmit Ta’awuni ma’al Mukhalifin, hal.8-9)

Imam Ahmad رحمه الله pernah ditanya seseorang : “Manakah yang lebih engkau sukai, antara seorang yang berpuasa (sunnah), shalat (sunnah), dan i’tikaf.. dengan seorang yang membantah ahli bid’ah?”
Beliau رحمه الله menjawab : “Kalau dia shalat dan i’tikaf maka kebaikannya untuk dirinya pribadi, tetapi kalau dia membantah ahli bid’ah maka kebaikannya untuk kaum muslimin, dan ini lebih utama.” (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah XVIII/131)

Jika ada seseorang atau kelompok yang nyata-nyata menganut faham bid’ah (seperti faham takfir-khawarij, dll) lalu di-tahdzir, kemudian ada yang mengatakan : “Jangan saling meng-ghibah dan ribut sesama orang Islam, masing-masing dengan urusannya sajalah…“
Maka yang mengatakan seperti itu tidak lepas dari dua kemungkinan :

Pertama, dia adalah orang yang jahil (tidak mengerti)
Kedua, dia bukan orang yang jahil, tetapi dia adalah ahli-bid’ah juga yang khawatir apabila dia pun nanti akan di-tahdzir.
Allahu A’lam.

وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ.

Al-Faqir, hamba Allah

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Pos ini dipublikasikan di belajar islam, belajar tafsir, Islam, kelompok Islam, Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s