Idul-Fithri, Hari Kebahagiaan

Idul-Fithri, Hari Kebahagiaan

بسم الله الرحمن الرحيم
إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلاَّ الله وحده لا شريك له وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله. فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار .

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah
صلي الله عليه وسلم Wa ba’du :

Allah سبحانه و تعالي berfirman :

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ…

“…Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”  (Qs.Al-Baqarah : 185)

Bagian ayat di atas adalah berkaitan dengan berakhirnya bulan Ramadhan dan datangnya Hari Raya Idul Fithri, di mana kaum muslimin disyariatkan untuk bertakbir, mengagungkan Allah سبحانه و تعالي .
Ibnu Katsir رحمه الله di dalam tafsirnya mengatakan : “Karena itulah banyak kalangan ulama yang mengatakan bahwa membaca takbir adalah disyariatkan dalam Hari Raya Idul-Fithri atas dasar firman-Nya…(kemudian disebutkan ayat di atas).

Hari Raya Idul-Fithri

Ramadhan adalah bulan yang mulia.
Ketika Ramadhan telah berakhir, tidaklah kemuliaan berubah jadi kehinaan. Kebahagiaan baru akan mengiringi berlalunya Ramadhan dengan terbitnya fajar di hari raya, yaitu Hari Raya Idul-Fithri.

Idul-Fithri adalah satu dari dua Hari Raya ummat Islam.  Idul-Fithri berasal dari kata ‘aid dan fithrah.
Al ‘aid adalah hari raya, secara harfiah ia berarti : kembali atau berulang.
Ibnul-Arabi رحمه الله mengatakan : “Hari ‘ied disebut ‘ied karena ia senantiasa kembali (berulang) setiap tahun dengan kebahagiaan yang baru.”  (Syarh Umdah al-Fiqh, hal.309)
Fithrah berarti berbuka, yaitu berbuka (makan, minum dsb.) setelah berpuasa.  Fithrah dapat juga diterjemahkan dengan arti : suci/bersih.

Hari Idul-Fithri adalah hari kebahagiaan.
Dalam satu hadits qudsi Allah سبحانه و تعالي berfirman :

للصائم فرحتان : فرحة عند فطره ، وفرحة عند لقاء ربه

“Orang yang berpuasa itu memiliki dua kegembiraan, (yaitu) kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu Rabb-nya kelak”  (HR.Muttafaqun ‘alaih)

Dan diriwayatkan bahwa di zaman Rasulullah صلي الله عليه وسلم , dua orang budak wanita bernyanyi menyenandungkan syair-syair hari Bu`ats pada Hari Raya ‘Ied.   Abu Bakar pun marah dan mengingkari perbuatan dua budak wanita tersebut.
Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda : “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum itu memiliki hari raya, dan hari ini adalah hari raya kita.”  (HR.Muttafaqun ‘alaih)

Ibnu Hajar Al-Atsqollani رحمه الله berkata : “Dalam hadis ini terdapat petunjuk bahwa menampakkan kebahagiaan pada hari raya termasuk syi’ar agama.”  (Fathul-Baari, 2/443)

Al-Khaththabi رحمه الله berkata : “Dikatakan, dalam hadis tersebut terdapat dalil bahwa hari raya diperuntukkan untuk bersenang-senang, mengistirahatkan jiwa, makan, minum dan jima.  Tidakkah engkau lihat bahwasannya dibolehkan nyanyian karena alasan hari raya.”  (Umdah al-Qary : 6/274)

Hari Idul-Fithri bukanlah hari biasa, ia bukan seperti hari-hari lainnya, ia adalah hari yang dirayakan.  Seorang muslim yang telah melalui Ramadhan sepatutnya mempunyai kegembiraan dan berbahagia di hari raya, hingga orang-orang miskin yang biasanya sering tidak punya makanan pun pada hari itu bisa merayakannya dengan makanan melalui bagian dari zakat fithrah.
Demikianlah…kegembiraan dan kebahagiaan meliputi kaum muslimin di seluruh dunia.

Ber-hari rayanya seorang muslim

Pagi hari di hari raya, seorang muslim sudah mulai melaksanakan apa yang telah diajarkan untuk menyambut hari yang bahagia, ia pun mandi.
Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه pernah ditanya tentang mandi, maka beliau menjawab :

يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَوْمَ عَرَفَةَ وَيَوْمَ النَّحْرِ وَيَوْمَ الْفِطْرِ

“(Mandi seyogyanya dilakukan) di hari Jum’at, hari Arafah (wuquf), hari Iedul Adh-ha, dan hari Idul-Fithri.“  (HR.Asy-Syafi’i dalam Al-Musnad, 114, dan Al-Baihaqi, 5919)

Jika anak-anak mungkin bergembira dengan mengenakan baju lebarannya, seorang muslim pun tak ketinggalan mengenakan pakaian lebaran yang baik, berhias di hari yang fithri.
Ibnu Umar رضي الله عنه ia berkata :

أَخَذَ عُمَرُ جُبَّةً مِنْ إِسْتَبْرَقٍ تُبَاعُ فِيْ السُّوْقِ فَأَخَذَهَا فَأَتَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَارَسُولَ اللهِ اِبْتَعْ هَذِهِ تَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيْدِ وَالْوُفُوْدِ

”Umar mengambil jubah dari sutera yang dijual di pasar.  Diapun mengambilnya lalu dibawa kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم seraya berkata : “Ya Rasulullah, belilah ini agar engkau bisa berhias dengannya untuk hari ‘Ied dan para utusan … ” (HR.Bukhori dalam Shohih-nya, 906, Muslim dalam Shohih-nya, 2068)

Imam Asy-Syaukani رحمه الله berkata : ”Segi pengambilan dalil dari hadits ini tentang disyari’atkannya berhias di hari ‘Ied adalah adanya taqrir Nabi صلي الله عليه وسلم bagi Umar atas dasar bolehnya berhias di hari ‘Ied, dan terfokusnya pengingkaran beliau (adalah) atas orang yang memakai sejenis pakaian tersebut, karena ia dari sutera.”  (Nailul-Author, 3/349)

Hari Idul-Fithri adalah hari berbuka.  Biasanya kaum muslimin telah mempersiapkan makanan untuk bisa dimakan di hari raya.  Tak ada salahnya ketupat lebaran dengan sayurnya, tak ada salahnya pula rendang-daging, opor-ayam, bandeng-kecap (hmmm….) atau masakan yang semisalnya jika memang ada dan tidak terlalu memaksakan, karena hari raya memang hari berbuka dengan memakan makanan-makanan.
Sebelum berangkat untuk melaksanakan sholat Idul-Fithri bersama kaum muslimin yang lain, seorang muslim pun makan terlebih dahulu, sebagaimana sunnah Nabinya صلي الله عليه وسلم :

Buraidah رضي الله عنه berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفِطْرِ لَا يَخْرُجُ حَتَّى يَطْعَمَ وَيَوْمَ النَّحْرِ لَا يَطْعَمُ حَتَّى يَرْجِعَ

“Nabi صلي الله عليه وسلم tidaklah keluar di Hari Idul-Fithri sampai beliau makan, dan pada Hari Idul-Adh-ha beliau tidak makan sampai beliau kembali.”  (HR.Ibnu Majah dalam As-Sunan, 1756. Di-hasan-kan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-Musnad)

Al-Muhallab bin Abi Shafrah رحمه الله berkata : ”Hikmahnya makan sebelum sholat ‘Ied adalah agar orang tidak menyangka wajibnya puasa sampai usai sholat ‘Ied. Seakan Nabi صلي الله عليه وسلم hendak menepis persangkaan itu.”  (Fathul-Baari, 2/447)

Seorang muslim pun lalu berangkat menuju “musholla” (lapangan tempat digelarnya sholat ‘Ied) dengan bertakbir dan bertahlil.

كَانَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضِيَ الصَّلاَةَ قَطَعَ التَّكْبِيْرَ

“Beliau (Nabi) keluar pada hari raya fithri lalu bertakbir sampai ke Mushola dan sampai menunaikan sholat.  Setelah beliau sholat beliau menghentikan takbirnya.”  (HR.Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf, 2/165, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ahadits Shohihah no.170)

Dari sahabat Ibnu Mas’ud رضي الله عنه, beliau mengucapkan :

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لَاإِلَهَ إِلَّااللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
(Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha Illallaahu Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillaahil-hamd)
(HR.Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf, 2/168 dengan sanad yang shohih)

Dan seorang muslim pun kemudian melaksanakan sholat ‘Ied bersama kaum muslimin yang lain,

Ummu Athiyyah رضي الله عنها berkata :

أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِيْ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَ ذَوَاتِ الْخُدُوْرِ . فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلَاةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِيْنَ قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ إِحْدَانَا لَا يَكُوْنُ لَهَا جِلْبَابٌ؟ قَالَ: لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

“Rasulullah صلي الله عليه وسلم memerintahkan kami mengeluarkan para wanita gadis, haidh, dan pingitan.  Adapun yang haidh, maka mereka menjauhi sholat, dan (tetap) menyaksikan kebaikan dan dakwah/doanya kaum muslimin.
Aku berkata : ”Ya Rasulullah, seorang di antara kami ada yang tak punya jilbab”.
Beliau menjawab : “Hendaknya saudaranya memakaikan (meminjamkan) jilbabnya kepada saudaranya.“  (HR.Muttafaqun ‘alaih)

Ibnu Hajar Al-Atsqollani رحمه الله mengatakan : “Di dalamnya terdapat anjuran keluarnya para wanita untuk menyaksikan dua hari raya, baik dia itu gadis, ataupun bukan; baik dia itu wanita pingitan ataupun bukan…“  (Fathul-Baari, 2/470)

Sungguh malang orang-orang yang mereka bukanlah wanita-wanita pingitan, akan tetapi malah tidak pernah melaksanakan sholat ‘Ied dan bertakbir mengagungkan Allah Rabb-nya di hari raya, sebagaimana Nabi dan para sahabat melakukannya. Sungguh malang orang-orang yang telah ditipu dan diperdayakan oleh ajaran agama yang dibuat-buatnya sendiri…

Sholat ‘Ied dilaksanakan dengan mengikuti kekhusyuannya dan menyimak khutbahnya, hingga kaum muslimin pun selesai melaksanakan sholat ‘Ied dengan hati yang lapang dan berbahagia.  Ketika mereka saling berpapasan atau bertemu, mereka saling mengucapkan do’a antara satu dengan yang lainnya :

“Taqobbalallaahu minna wa minka“
(semoga diterima amalan-amalan dari kami dan dari engkau).

عن خالد بن معدان قال لقيت واثلة بن الأسقع في يوم عيد فقلت تقبل الله منا ومنك . فقال : نعم ، تقبل الله منا ومنك . قال واثلة لقيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم عيد فقلت تقبل الله منا ومنك . قال : نعم ، تقبل الله منا ومنك .

Dari Khalid bin Ma’dan, “Aku berjumpa dengan Watsilah bin al Asqa’ pada hari ‘Ied lantas kukatakan : “Taqabbalallahu minna wa minka”.
Jawaban beliau, “Na’am, taqabbalallahu minna wa minka”.
Watsilah lantas bercerita bahwa beliau berjumpa dengan Rasulullah pada hari ‘Ied lalu beliau mengucapkan : “Taqabbalallu minna wa minka”.
Jawaban Rasulullah adalah“Na’am, taqabbalallahu minna wa minka”  (Al-Baihaqi dalam Sunan Kubro)

Ibnu Taimiyyah رحمه الله pernah ditanya : “Apakah ucapan selamat hari raya yang biasa diucapkan oleh banyak orang semisal “Ied Mubarak” memiliki dasar dalam agama ataukah tidak?  Jika memang memiliki dasar dalam ajaran agama lalu ucapan apa yang tepat? Berilah kami fatwa”.
Jawaban Ibnu Taimiyyah رحمه الله : “Ucapan taqabbalallahu minna wa minka atau ucapan ahalahullahu ‘alaika yang dijadikan sebagai ucapan selamat hari raya yang diucapkan ketika saling berjumpa sepulang shalat hari raya adalah ucapan yang diriwayatkan dari sejumlah shahabat bahwa mereka melakukannya.  Karenanya banyak ulama semisal Imam Ahmad membolehkan hal tersebut…”  (Majmu Fatawa, 24/233).

Kebahagiaan di hari Idul-Fithri berlanjut dengan kehangatan interaksi di antara anggota-anggota keluarga, sanak famili dan orang-orang sekitar.  Ada cium tangan seorang anak kepada ibu-bapaknya, ada cium tangan orang yang muda kepada orang yang tua-tua, dan ada cium tangan seseorang kepada orang lain yang dihormatinya.
Mengapakah kebiasaan cium tangan seperti ini harus mendapatkan cap jelek di hari-hari kemarin?  Padahal cium tangan-cium tangan itu bukanlah cium tangan yang melanggar syariat (misalnya antara laki-laki dan perempuan yang bukan haq-nya) dan bukan pula cium tangan karena adanya pengkultusan.  Akan tetapi telah dimaklumi bahwa itu semua adalah sebagai penghormatan satu dengan lainnya.   Dalam nash ada disebutkan :

عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ، قَالَ: ” بَايَعْتُ بِيَدِي هَذِهِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَاهَا، فَلَمْ يُنْكِرْ ذَلِكَ ”

Dari Salamah bin Al-Akwaa’, ia berkata : “Aku berbaiat kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم dengan tanganku ini, lalu kami menciumnya. Beliau صلي الله عليه وسلم tidak mengingkari hal itu”  (HR.Abu Bakr bin Al-Muqri’ dalam Ar-Rukhshah fii Taqbiilil-Yadd no.12, hasan).

حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ رَزِينٍ، قَالَ: ” مَرَرْنَا بِالرَّبَذَةِ، فَقِيلَ لَنَا: هَا هُنَا سَلَمَةُ بْنُ الأَكْوَعِ، فَأَتَيْنَاهُ فَسَلَّمْنَا عَلَيْهِ، فَأَخْرَجَ يَدَيْهِ، فَقَالَ: بَايَعْتُ بِهَاتَيْنِ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَأَخْرَجَ كَفًّا لَهُ ضَخْمَةً كَأَنَّهَا كَفُّ بَعِيرٍ، فَقُمْنَا إِلَيْهَا فَقَبَّلْنَاهَا ”

Telah menceritakan kepadaku ‘Abdurrahmaan bin Raziin, ia berkata : “Kami pernah melewati daerah Rabadzah.  Lalu dikatakan kepada kami : “Itu dia Salamah bin Al-Akwa’”. Maka kami mendatanginya dan mengucapkan salam kepadanya.  Lalu ia mengeluarkan kedua tangannya dan berkata : “Aku berbaiat kepada Nabi صلي الله عليه وسلم dengan kedua tanganku ini”.  Ia mengeluarkan kedua telapak tangannya yang besar yang seperti tapak onta.  Kami pun berdiri, lalu menciumnya (tangan Salamah)”  (HR.Bukhori dalam Al-Adabul-Mufrod no.973; dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul-Mufrod hal.372).

Al-Marwazi رحمه الله bekata : “Aku pernah bertanya kepada Abu ‘Abdillah (Ahmad bin Hanbal) tentang mencium tangan, maka ia memandang hal itu tidak mengapa jika dilakukan karena alasan agama, dan ia memakruhkan jika dilakukan karena alasan keduniaan”  (Al-Wara’, no.476).

Syaikh Abdullah Al-Jibrin mengatakan : “Kami berpendapat bahwa cium tangan itu dibolehkan jika dengan maksud menghormati orang tua, ulama, orang shaleh, kerabat yang berusia lanjut dan semisalnya.  Imam Ibnul-Arabi telah menulis sebuah buku khusus mengenai cium tangan dan semisalnya, maka dipersilahkan merujuk kepadanya.  Cium tangan terhadap kerabat yang sudah berusia lanjut dan orang shaleh adalah bentuk penghormatan bukan pengagungan dan sikap merendahkan diri (tadzallul).  Memang diantaranya guru kami ada yang mengingkari dan melarang tindakan cium tangan, akan tetapi merupakan bentuk ketawadhuan beliau-beliau dan bukan karena mengharamkan hal tersebut.”  (dari Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram hal.1020, cet. Dar Ibnul Haitsam).

Sholat ‘Ied pun telah dilaksanakan, kaum muslimin saling berjabat tangan dan saling mengucapkan selamat, mendoakan satu dengan yang lainnya, semoga amalan-amalan dirinya dan saudaranya diterima oleh Allah Yang Maha Penyayang.
Orang-orang tampil rapi, hilir-mudik dengan wajah-wajah ceria yang dihiasi senyuman…alangkah indahnya suasana di hari raya.
Sebagian dari kaum muslimin ada yang berdiam di rumah, merayakan Hari Idul-Fithri bersama keluarganya.  Sebagian lagi ada yang mengunjungi sanak famili atau kerabat-kerabat dekatnya.  Meskipun ada yang harus menempuh perjalanan yang cukup jauh, namun di hari raya, semua itu dilalui dengan perasaan yang penuh sukacita.

Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madkholi pernah ditanya tentang hukum mengkhususkan hari ‘Ied untuk mengunjungi para kerabat dan teman-teman yang baik, beliau menjawab : “Ini perbuatan yang baik.  Para kerabat adalah orang-orang yang paling wajib untuk dijalin tali silaturrahimnya.  Karena mereka adalah orang-orang yang memiliki qurabah (hubungan keluarga), sehingga mereka lebih layak dari yang lain untuk dijalin erat silaturrahimnya.  Mulailah dari mereka, baru yang lain, inilah yang semestinya. Sebab lain, mereka juga memiliki hak yang lebih besar dari diri anda, dibandingkan yang lain.  Maka, berbuat-baiklah kepada mereka, lalu jika ada waktu, kunjungilah mereka.  Kalau memang bisa demikian, itu akan membuat kita gembira…“  (Transkrip rekaman tanya jawab, sumber : http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=122458)

Syaikh Abdullah Al-Faqih mengatakan : “Tidak ragu lagi bahwa saling berkunjung di hari ‘Ied, yang menyebabkan terjalinnya silaturrahim, berakhirnya sengketa, berakhirnya saling benci, maka ini adalah perkara yang dianjurkan dan dilakukan oleh para salaf dari kalangan sahabat dan yang setelah mereka. Ini pun merupakan kebiasaan kaum muslimin sampai hari ini…” (Sumber : http://www.islamweb.net/ahajj/index.php?page=ShowFatwa&lang=A&Id=43305&Option=FatwaId).

Kaum muslimin yang saling mengunjungi keluarga dan kerabat-kerabat dekatnya, mereka bersilaturrahim, berkumpul dan bergembira bersama.  Bagi yang kedapatan kunjungan, mereka telah sediakan hidangan-hidangan untuk dinikmati bersama.  Tak ada salahnya makanan-makanan ringan dan kue-kue lebaran, tak ada salahnya kacang lebaran, dodol, manisan kolang-kaling, tape-uli, nastar, sagon-jawa, lapis legit, brownies (hmmmm….) selama tidak berlebih-lebihan.
Berkumpulnya kaum muslimin dengan sanak keluarga dan kaum kerabat mereka merupakan kegembiraan dan kebahagiaan yang besar di hari raya, sebuah kebahagiaan yang tak bisa diukur dengan harta dan uang berapapun juga, semua ini hanyalah karunia dari Allah semata.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillaahil-hamd….

Di tengah berbahagianya kaum muslimin dalam berhari-raya, ada tangisan-tangisan haru yang tak terbendungkan…
Orang-orang yang pernah kehilangan makna berhari-raya dengan sesama, kini telah kembali bisa memahami dan merasakan indahnya berhari-raya.
Syukur yang tak habis-habisnya dari mereka, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillaahil-hamd…

Namun di tengah berbahagianya kaum muslimin dalam berhari raya, ada juga tangisan-tangisan pilu yang tak mampu tertutupkan…
Ada seorang anak yang tak bisa mencium tangan orang tuanya dengan rasa sayang dan rasa hormatnya di hari raya ini
Ada seorang ibu yang tak bisa memeluk dan mencium anak-anak yang disayanginya di hari raya ini
Ada keluarga yang telah kehilangan seorang anak
Ada keluarga yang telah kehilangan seorang bapak
Ada keluarga yang telah kehilangan seorang ibu
Dan ada keluarga yang telah terpecah belah kehilangan semuanya…

Sedang si kecil Luthfia telah kehilangan ibunya
Dia adalah seorang anak kecil yang dipaksa untuk bisa memahami realita, bahwa lebaran kali ini adalah sama saja seperti lebaran-lebaran lain yang telah berlalu baginya
Tak ada peluk-cium sayang dari seorang ibu di hari lebaran ini…
Tak ada seorang ibu yang akan tersenyum memuji penampilannya dengan gaun lebaran yang cantik dan lucu yang sangat disukainya itu di hari lebaran ini…
Dan tak ada kebahagiaan bertemu dengan ibunya di hari lebaran ini…
Seperti biasanya, jika ia ingin bertemu ibunya,
Dia hanya harus bermimpi di dalam tidurnya….

Selamat Hari Raya Idul-Fithri, Luthfia
Berbahagialah bersama bapak, saudara-saudara dan teman-teman sebayamu

Selamat Hari Raya Idul-Fithri orang-orang yang beruntung
Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan hati kami

Selamat Hari Raya Idul-Fithri kaum muslimin

TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM……

للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَْيتَنا ، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمة ، إِنّكَ أنتَ الوَّهابُ
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
َاللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ وَالأَبْصَارِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

Al-Faqir, Hamba Allah

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Pos ini dipublikasikan di belajar islam, belajar tafsir, Islam, kelompok Islam, Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s