Selamat Tinggal FAH, Selamat Datang Ramadhan (Harapan-harapan di bulan Ramadhan)

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله اللهم صل وسلم على محمد وآله أجمعين، أما بعد

Allah سبحانه و تعالي berfirman :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.”  (Qs.Al Baqarah : 185)

Saat-saat menjelang Ramadhan, adalah saat-saat yang penuh harap.  Teristimewa Ramadhan kali ini, di mana suasana baru mengelilingi kehidupan kami dan saudara-saudara kami.

Hiruk-pikuk dan hingar-bingar atas kesibukan berat di hari-hari kemarin perlahan telah Allah jauhkan dari kami.  Semakin jauh, dan semakin menjauh, hingga suaranya hanya tinggal sayup-sayup.
Dia-lah Allah, Rabb kami Yang Maha Mengerti keadaan hamba-hambaNya.
Dia-lah Yang telah mencukupkan bagi kami sebuah ‘pesta’ yang panjang, sebuah pesta keangkuhan untuk merayakan hari-hari kesombongan yang kosong.
Kini, ‘pesta’ itu telah usai.
Piring-piring telah dicuci, gelas-gelas telah kembali disusun dan sendok-sendok telah dirapikan.
Yang tertinggal hanyalah letihnya tubuh-tubuh kami dan penatnya pikiran-pikiran kami. Kami lunglai menanti yang selanjutnya.

Ramadhan…Ramadhan…
Samar-samar suara itu telah mulai terdengar.  Semakin dekat, dan semakin mendekat hingga suaranya menjadi jelas seperti telah berada di depan pintu-pintu rumah kami.
Ada cahaya yang sudah mulai tampak biasnya.  Nanti cahaya itu akan semakin terang dan akan menyinari langkah-langkah kami dengan kegembiraan dalam beribadah di bulan yang mulia, bulan Ramadhan….

Ramadhan adalah bulan ampunan

Kami adalah manusia-manusia yang lemah, yang telah banyak berbuat kesalahan.
Bertemu dengan bulan Ramadhan adalah harapan besar kami saat ini, karena Ramadhan adalah bulan yang paling utama dalam satu tahun, dan Ramadhan adalah harapan kami agar terampuni dosa-dosa kami yang telah lalu.   Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melakukan puasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap ganjaran dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”  (HR.Muttafaqun ‘alaih)

Ya Allah, Ya Rabb kami…
Izinkanlah kami sampai kepada Ramadhan, agar kami bisa berpuasa untuk-Mu, ridhoilah kami dan ampunilah dosa-dosa kami…
Ya Allah, Ya Rabb kami…
Sesungguhnya kami telah berperan menjadi manusia-manusia akhir zaman yang buruk di hari-hari kemarin, sebagaimana yang telah disabdakan oleh utusan-Mu yang mulia :

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَظْهَرَ الْفَحْشُ وَالتَّفَاحُشُ وَقَطِيعَةُ الرَّحِمِ وَسُوءُ الْمُجَاوَرَةِ.

“Tidak akan tiba hari Kiamat hingga banyak perbuatan dan perkataan keji, pemutusan silaturrahim, dan jeleknya hubungan bertetangga.” (HR.Ath-Thabrani dalam Al-Ausath)

Ya Allah…maafkanlah kami yang telah mengumbar perkataan-perkataan kekafiran kepada sesama muslim saudara-saudara kami di hari-hari kemarin…
Maafkanlah kami yang telah memutuskan hubungan silaturrahim dengan orang-tua kami, sanak famili dan kerabat-kerabat kami di hari-hari kemarin…
Maafkanlah kami yang telah membenci tetangga-tetangga kami di hari-hari kemarin…

Ya Allah, Ya Rabb kami…
Kami telah berusaha memperbaikinya hingga hari ini
Izinkanlah kami sampai kepada Ramadhan, niscaya kami akan menebar salam kepada sesama muslim saudara-saudara kami…
Izinkanlah kami sampai kepada Ramadhan agar kami bisa meneruskan perbaikan-perbaikan ini, niscaya kami akan mempererat silaturrahim kepada orang-tua kami, sanak famili dan kerabat-kerabat kami…Izinkan kami berbuka puasa bersama mereka dengan ketulusan hati…
Ya Allah, Ya Rabb kami…
Izinkanlah kami sampai kepada Ramadhan agar kami bisa tersenyum tulus kepada tetangga-tetangga kami dan menjabat tangan-tangan mereka, dan agar kami bisa membawakan semangkuk-dua mangkuk makanan berbuka kami untuk mereka….
Telah sampai kepada kami perkataan Rasul-Mu yang mulia :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ.

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka berbuat baiklah kepada tetangganya.”  (HR.Muslim)

Telah berlalu banyak Ramadhan, seakan seperti angin yang lewat saja.  Mengapakah dan ada apakah sebenarnya dengan kami?
Apakah karena selama ini kami tidak pernah merasakan berdosa ataukah karena kami suka meremehkan dosa-dosa?

Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه mengatakan :
“Seorang mukmin melihat dosa-dosanya seolah-olah dia sedang duduk di bawah sebuah gunung, dia khawatir kalau gunung itu akan runtuh menimpanya.  Adapun orang yang fajir/munafik melihat dosa-dosanya seperti lalat saja, yang mampir di atas hidungnya, lantas dengan ringannya dia halau lalat tersebut –dengan tangannya–.” (HR.Bukhori)

Ya Allah, Ya Rabb kami…Ampunilah kami.
Sungguh kami ingin mendapatkan ampunan-Mu dan mendapatkan kasih-sayang-Mu Yang Besar, dan bebaskanlah kami dari adzab-Mu….Engkau telah berfirman di dalam kitab-Mu yang mulia :

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ, وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الأَلِيمُ

“Kabarkanlah kepada hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang dan sesungguhnya Adzabku adalah Adzab yang sangat pedih.”  (Qs.Al-Hijr : 49)

Dan sungguh kami tidak ingin seperti yang disabdakan oleh Nabi-Mu :

“رغم أنف رجل دخل عليه رمضان ثم انسلخ قبل أن يُغفر له, ورغم أنف رجل أدرك عنده أبواه الكبر فلم يدخلاه الجنة”

“Celakalah bagi seseorang yang Ramadhan mendatanginya kemudian pergi sebelum dia diampuni….”  (HR.At-Tirmidzi, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shohih al-Jami’ no.3510).

Ramadhan adalah bulan perbaikan diri

Pesta keangkuhan yang panjang, merayakan hari-hari kosombongan yang kosong telah banyak menguras tenaga dan pikiran kami, menjadikan diri-diri kami jauh dari akhlak yang mulia.
Kami selalu dipacu untuk lebih baik dari yang lain dengan amalan-amalan kami yang akan dilihat oleh ‘orang-orang beriman’ yang akan memberikan penilaian dan pengakuan lebih baik atau “lebih qori” di antara kami…
Kami berkata : “Jangan riya” padahal kami memang riya.

Ya Allah, Ya Rabb kami…
Bimbinglah kami dalam bulan Ramadhan agar menjadi orang-orang yang senantiasa ikhlas di dalam amalan-amalan kami, jauh dari riya kepada manusia, sebagaimana Engkau telah membimbing orang-orang sholih terdahulu menjadi orang-orang yang ikhlas

Ibrahim At-Taimi رحمه الله pernah berkata :
“Orang yang ikhlas adalah yang berusaha menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana dia suka menyembunyikan kejelekan-kejelakannya.”  (Ta’thirul-Anfas, hal.252)

Mengapakah kami tidak merasa puas jika kebaikan-kebaikan kami belum diketahui orang?

Yazid bin Abdullah bin asy-Syikhkhir menceritakan bahwa ada seorang lelaki yang bertanya kepada Tamim ad-Dari : “Bagaimana sholat malammu?”
Maka beliau pun marah sekali, beliau berkata : “Demi Allah, sungguh satu raka’at yang aku kerjakan di tengah malam dalam keadaan rahasia itu lebih aku sukai daripada aku sholat semalam suntuk kemudian hal itu aku ceritakan kepada orang-orang…”  (Ta’thirul-Anfas, hal.234)

Pesta keangkuhan yang panjang, merayakan hari-hari kosombongan yang kosong telah menjadikan diri-diri kami jauh dari akhlak yang mulia.  Kami telah banyak menolak kebenaran dan telah banyak merendahkan manusia-manusia yang lain.
Kami selalu merasa lebih berilmu dari orang-orang lain
Kami selalu merasa amalan kami lebih baik dari orang-orang lain, hal ini masih terbawa-bawa dalam diri kami hingga hari ini.  Kami sangat sulit melihat keburukan diri kami sendiri dan selalu mudah melihat kekurangan atau keburukan orang-orang lain, sebagaimana yang dikatakan seorang sahabat Rasulullah صلي الله عليه وسلم ,

Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه berkata :
“Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.”  (HR.Bukhori dalam Al-Adabul-mufrod. Syaikh Al-Albani berkata : “sanadnya shohih”)

Kami telah jauh dari tawadhdhu dan senang berbangga dengan diri sendiri, padahal Rasulullah telah bersabda :

وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِى أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Dan sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku untuk memiliki sifat tawadhdhu’. Janganlah seseorang menyombongkan diri (berbangga diri) dan melampaui batas pada yang lain.”  (HR. Muslim no.2865)

Ya Allah, Ya Rabb kami…
Bimbinglah kami dalam bulan Ramadhan agar menjadi orang-orang yang tawadhdhu, jauh dari ujub dan kesombongan, sebagaimana Engkau telah membimbing orang-orang sholih terdahulu menjadi orang-orang yang tawadhdhu

Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله pernah ditanya tentang makna tawadhdhu, maka beliau menjawab :
“Seorang keluar dari rumahnya, maka ia tidak bertemu seorang muslim, kecuali mengira bahwa yang ditemui itu lebih baik dari dirinya.” (Az-Zuhd, hal.279)

Abdullah Al-Muzani رحمه الله mengatakan :
“Jika iblis memberikan was-was kepadamu bahwa engkau lebih mulia dari muslim lainnya, maka perhatikanlah….
Jika ada orang lain yang lebih tua darimu, maka seharusnya engkau katakan : “Orang tersebut telah lebih dahulu beriman dan beramal sholih dariku, maka ia lebih baik dariku.”
Jika ada orang lainnya yang lebih muda darimu, maka seharusnya engkau katakan : “Aku telah lebih dulu bermaksiat dan berlumuran dosa serta lebih pantas mendapatkan siksa dibanding dirinya, maka ia sebenarnya lebih baik dariku.”
Demikianlah sikap yang seharusnya engkau perhatikan ketika engkau melihat yang lebih tua atau yang lebih muda darimu.”  (Hilyatul-Auliya’, Abu Nu’aim Al-Ashbahani, Mauqi’ Al-Waroq, 1/310)

‘Urwah bin al-Ward رحمه الله mengatakan : “Sifat rendah hati dapat menjaring kemuliaan bagi pemiliknya. Setiap karunia yang diterima manusia pasti ada orang yang mendengkinya, kecuali jika karunia itu berupa kerendahan hati.”  (Al-Ihya‘ : 3/362)

Ramadhan adalah bulan kesabaran

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

شَهْرُ الصَّبْرِ وَ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صَوْمُ الدَّهْرِ

“Bulan kesabaran, dan (puasa) tiga hari pada setiap bulan adalah (sepadan dengan) puasa sepanjang masa.“ (HR.An-Nasai 4/218, Ahmad 2/263, Al-Baihaqi 4/293 dari Abu Hurairah dengan sanad yg shohih).

Yang dimaksud bulan kesabaran adalah bulan Ramadhan.  Rasulullah telah mengatakan bahwa Ramadhan adalah bulan kesabaran, bulan melatih diri untuk memupuk sifat sabar.

Kami adalah orang-orang yang seringkali dikuasai hawa-nafsu, kami sering bersikap tidak sabaran.  Padahal Allah سبحانه و تعالي telah berfirman :

وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلامٌ عَلَيْكُمْ لا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ

“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata : ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang yang jahil’.” (Qs.Al Qashash : 55)

Ibnu ‘Abbas رضي الله عنه mengatakan : “Allah memerintahkan kepada orang yang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang berbuat jahil, dan memaafkan ketika ada yang berbuat jelek.  Jika setiap hamba melakukan semacam ini, Allah akan melindunginya dari gangguan syetan dan akan menundukkan musuh-musuhnya.  Malah yang semula bermusuhan bisa menjadi teman dekatnya karena tingkah-laku yang baik semacam ini.”

Ibnu Katsir رحمه الله mengatakan : “Namun yang mampu melakukan seperti ini adalah orang yang memiliki kesabaran.  Karena membalas orang yang menyakiti kita dengan kebaikan adalah suatu yang berat bagi setiap jiwa.”  (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 12/243)

Ya Allah, Ya Rabb kami…
Betapa seringnya kami melampiaskan kemarahan-kemarahan kami
Izinkanlah kami sampai kepada Ramadhan dan bimbinglah kami agar menjadi orang-orang yang mempunyai kesabaran

Dan Rasulullah صلي الله عليه وسلم telah bersabda :

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja.  Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari laghwu dan rafats.  (Dan) apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil kepadamu, katakanlah kepadanya : “Aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa“.”  (HR.Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abu Hurairah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shohih At-Targib wa At-Tarhib no.1082)

Al-Akhfasy رحمه الله berkata tentang laghwu : “Laghwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak bermanfaat.” (Fathul-Baari 3/346)
Ibnu Hajar Al-Atsqollani رحمه الله berkata tentang rafats : “Istilah rafats digunakan dalam pengertian ‘kiasan untuk hubungan badan’ dan semua perkataan keji.” (Fathul-Baari 5/157)

Ya Allah, Ya Rabb kami…
Sesungguhnya kami telah banyak memperkatakan perkataan-perkataan yang buruk dan tiada bermanfaat di hari-hari kemarin
Kami sering mencemo’oh dan menggunjing saudara-saudara kami sendiri dengan mulut-mulut kami, padahal Rasulullah صلي الله عليه وسلم telah bersabda :

لما عرج بي مررت بقوم لهم أظفار من نحاس يخمشون وجوههم وصدورهم فقلت من هؤلاء يا جبريل قال هؤلاء الذين يأكلون لحوم الناس ويقعون في أعراضهم

“Ketika aku sedang di-mi’rajkan, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga yang sedang mencakar wajah dan dada mereka.
Aku bertanya : ‘Siapakah mereka wahai Jibril ?’.
Jibril menjawab : ‘Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan mencela kehormatannya’.”  (HR.Abu Daud no.4878 dan Ahmad 3/224, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shohiihah no. 533).

Ya Allah, Ya Rabb kami…
Ampunilah kami dan jauhkanlah kami dari adzab
Izinkanlah kami sampai kepada Ramadhan dan bimbinglah kami agar menjadi orang-orang yang pandai menjaga mulut, sebagaimana Engkau bimbing orang-orang sholih terdahulu pandai menjaganya

Dan kami sering berbicara dengan tanpa ilmu, padahal berbicara dengan tanpa ilmu adalah termasuk laghwu, dan Allah سبحانه و تعالي telah melarang berbicara dengan tanpa ilmu :

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan-jawabnya.” (Qs.Al-Israa’ : 36)

Ibnu Katsir رحمه الله mengatakan : “Kesimpulan penjelasan yang mereka sebutkan adalah : bahwa Allah Ta’ala melarang berbicara dengan tanpa ilmu, yaitu (berbicara) hanya dengan persangkaan yang merupakan perkiraan dan khayalan.”  (Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, Qs.Al-Israa’:36)

Ya Allah, Ya Rabb kami…
Izinkanlah kami sampai kepada Ramadhan dan bimbinglah kami agar menjadi orang-orang yang tidak sembarang berbicara apabila tidak ada ilmunya, sebagaimana Engkau telah membimbing orang-orang sholih terdahulu,

Abu Ja’far Ath-Thohawiy رحمه الله berkata : “Dan kami berkata : ‘Wallahu A’lam (Allah Yang Mengetahui)’, terhadap perkara-perkara yang ilmunya samar bagi kami”.  (Minhah Ilahiyah Fii Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal.393)

Ibnu Hibban رحمه الله berkata : “Wajib bagi orang yang berakal untuk lebih banyak diam berbanding banyak bicara.  Betapa banyak orang yang menyesal karena banyak bicara, dan sedikit orang yang menyesal karena diam.”  (Raudhatul ‘Uqala, hal.45).

Ramadhan adalah bulan memperbanyak membaca Al-Qur’an

Telah berlalu banyak Ramadhan, seakan seperti angin yang lewat saja.  Kami akrab dengan mushaf Al-Qur’an, tetapi kami sangat sedikit sekali membacanya, tak terkecuali pada bulan Ramadhan.
Entah siapa yang telah menyuruh kepada kami agar sangat sedikit membaca Al-Qur’an, sekalipun pada bulan Ramadhan.  Yang pasti bukanlah Allah, bukanlah Rasulullah, dan bukan pula malaikat….Entah siapa….
Padahal bulan Ramadhan adalah bulan yang lebih khusus untuk membaca Al-Qur’an.  Allah سبحانه و تعالي berfirman :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (Qs.Al Baqarah : 185)

Dan telah kuat keterangan tentang sunnah Rasulullah صلي الله عليه وسلم dari Ibnu Abbas رضي الله عنه :

أنّ المدارسة بينه وبين جبريل كانت ليلاً

Bahwasanya pengkajian terhadap Al-Qur’an antara beliau (Nabi) dengan Jibril terjadi pada malam bulan Ramadhan.  (HR.Muttafaqun ‘alaih).

Dan Allah سبحانه و تعالي telah berfirman :

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْءاً وَأَقْوَمُ قِيلاً

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.”  (Qs.Al-Muzammil : 6)

Ya Allah, Ya Rabb kami…
Izinkanlah kami sampai kepada Ramadhan, niscaya kami akan mengisi malam-malamnya dengan “tadarus” membaca Al-Qur’an sebagaimana sunnah dari Rasul-Mu
Sesungguhnya Engkau Maha Tahu bahwa kami selama ini tidak bermaksud melalaikan dari membaca Al-Qur’an

Ya Allah, Ya Rabb kami…
Berilah kami hidayah dan taufik agar kami bisa mengisi bulan Ramadhan dengan membaca Al-Qur’an, sebagaimana Engkau telah memberi hidayah dan taufik kepada orang-orang sholih yang terdahulu

Sufyan Ats-Tsauri رحمه الله jika datang bulan Ramadhan beliau meninggalkan manusia dan mengkonsentrasikan diri untuk membaca Al-Qur’an.

Imam Malik bin Anas رحمه الله jika memasuki bulan Ramadhan beliau meninggalkan pelajaran hadits dan majelis ahlul-ilmi, dan beliau mengkonsentrasikan kepada membaca Al-Qur’an dari mushaf.

Al-Bukhori رحمه الله mengkhatamkan Al-Qur’an pada siang bulan Ramadhan setiap harinya dan setelah melakukan shalat tarawih beliau mengkhatamkannya setiap 3 malam sekali.
(Siyar A’lam an-Nubala’)

Ramadhan adalah bulan tarawih

Telah berlalu banyak Ramadhan, seakan seperti angin yang lewat saja.  Ke mana sajakah kami di malam-malam bulan Ramadhan selama ini?  Negara besar apakah yang sedang kami urus sehingga kami sampai tidak sempat bermunajat dan bersujud kepada Rabb kami di malam-malam bulan Ramadhan?
Sesungguhnya Rasulullah صلي الله عليه وسلم telah bersabda :

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa yang berdiri (shalat malam) pada bulan Ramadhan dengan (penuh) keimanan dan mengarapkan pahala, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR.Muttafaqun ‘alaih)

Dan alangkah baiknya tarawih di masjid bersama Imam-sholat di malam-malam bulan Ramadhan, karena Rasulullah صلي الله عليه وسلم telah bersabda :

إِنَّهُ مَنْ قاَمَ مَعَ اْلإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفُ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

“Sesungguhnya barang siapa yang berdiri (shalat tarawih) bersama imam, hingga imam berpaling (selesai), dituliskan baginya (sebagai) shalat sepanjang malam“.  (HR.Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai, & Ibnu Nashr, dari Abu Dzar رضي الله عنه dengan sanad shohih).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله mengatakan :
“Tidak sepantasnya bagi seseorang untuk tidak menghadiri sholat tarawih demi untuk mendapatkan pahala dan keutamaannya.  Dan begitu pula jangan dia berhenti darinya sampai imam selesai dari tarawih tersebut beserta sholat witirnya supaya dicatat mendapatkan pahala melakukan qiyamul-lail semalam penuh.
Dan boleh bagi wanita untuk menghadiri tarawih jika aman fitnah bagi dirinya dan selain dia, akan tetapi wajib baginya untuk memakai hijab yang menutupi auratnya dengan tanpa tabarruj dan memakai wewangian dan tidak mengangkat suaranya serta menampakkan perhiasannya.”  (Majaalis-Syahri Ramadhan, hal.9)

Ya Allah, Ya Rabb kami…
Izinkanlah kami sampai kepada Ramadhan, berilah kami hidayah dan taufik agar bisa bersujud kepada-Mu di masjid-masjid selama bulan Ramadhan
Semoga Engkau izinkan kami termasuk orang-orang yang mendapatkan kebaikan malam kemuliaan, sebagaimana yang Engkau firmankan :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدَرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدَرِ لَيْلَةُ الْقَدَرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada Lailatul-qadr, dan tahukah kamu apakah Lailatul-qadr itu? Lailatul-qadr itu lebih baik dari seribu bulan”  (Qs.Al-Qadr : 1-3)

Ya Allah, Ya Rabb kami…
Hati kami telah berpaling dari hal kebaikan besar pada malam bulan Ramadhan di hari-hari kemarin
Padahal berjuta-juta manusia memohon dan berharap-sangat kepada-Mu akan dilimpahkannya kebaikan-kebaikan Lailatul-qadr baginya sambil merintih-menangis…
Telah basah pipi-pipi mereka dengan air mata pengharapan kepada Rabb-nya yang tak terkirakan…
Sementara kami hanya terdiam, kosong dari harapan itu
Dan mengapakah kami tidak bisa menangis?
Justeru kami malah mengarahkan telunjuk-telunjuk kami ke arah mereka sambil berkata : “Itu orang-orang kafir yang tidak faham Al-Qur’an….”
Ya Allah, ampunilah kami…maafkanlah kami….
Jangan turunkan adzab kepada kami….Terimalah kami sebagai orang-orang yang bertaubat….

Ya Allah, Ya Rabb kami…
Sampaikanlah kami kepada Ramadhan, semoga Engkau izinkan kami menjadi orang-orang yang bisa memperbaiki diri dan bertakwa
Agar kami bisa kembali kepada fithrah

Jadikanlah kami orang-orang yang bersih di hari yang fithri nanti….
Jadikanlah kami orang-orang yang bersih di hari yang fithri nanti….

وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ.

Al-Faqir, hamba Allah.

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Pos ini dipublikasikan di belajar islam, belajar tafsir, Islam, kelompok Islam, Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Selamat Tinggal FAH, Selamat Datang Ramadhan (Harapan-harapan di bulan Ramadhan)

  1. Nisa berkata:

    Aamiiin ya Robbal ‘alamiin…
    hampir seperti inilah cerminan diri ana, mungkin sama pula dgn teman2 yg lain? Allohu a’lam…
    smoga Alloh memberikan kt ksmpatan utk mmperbaiki diri di Ramadhan kali ini, amiin…
    oia, soal tarawih, d masjid terdekat, bacaan imamnya super cepat n tak jelas, apa kt ttp hrs shalat tarawih berjamaah disana meski tidak ad ke khusyu-an?

    • Al-Faqir berkata:

      Sholat tarawih yg baik tentu saja dimulai dari persyaratan sah atau tidaknya sholat tersebut. Jika anti tarawih di mesjid lalu sulit mengikuti imam hingga tidak bisa “tuma’ninah” (karena terlalu cepat), lebih baik sholat di masjid yg lain yg bisa tuma’ninah dgn baik, sebab tuma’ninah adalah salah satu syarat sahnya sholat. Atau bisa juga anti sholat di rumah.

  2. Abu Ahmad Salim berkata:

    Dari ibnu Abbas rodliyallohu anhuma :”Adalah Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam adalah orang yg paling dermawan.Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Romadlon.beliau bertemu Jibril.Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al-Qur’an.Dan kedermawanan Rosululloh sholallohu alaihi wasallam melebihi angin yang berhembus.”(HR.Bukhori no.6)

    Dari Abu Hurairah rodliyallohu ‘anhu dia berkata:”Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan yang harom dan melakukan perbuatan harom,maka Alloh tidak butuh jerih payahnya meninggalkan makan dan minumnya.(HR.al-Bukhori)
    Berkata Umar bin al-Khoththob dan Ali bin Abu Tholib rodliyallohu ‘anhuma: Bukanlah puasa itu sebatas menahan diri dari makan dan minum saja,akan tetapi puasa itu menahan diri dari perkataan dusta,perbuatan bathil,sia-sia dan sumpah yang tidak ada gunanya.(HR.ibnu Abi Syaibah)

  3. Abu Ahmad berkata:

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,ia berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Setiap amalan anak Adam dilipatgandakan pahalanya sebanyak 10 sampai 700 kali lipat sesuai yang dikehendaki oleh Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman: kecuali puasa maka sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Seseorang dia meninggalkan syahwat,makan dan minumnya karena Aku. Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan: gembira ketika berbuka dan gembira ketika bertemu dengan Rabb-nya. Dan bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah adalah lebih harum dari bau minyak wangi misik.” (HR. Ibnu Majah,dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)

  4. Abu Ahmad berkata:

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :”Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan yang haram dan mengerjakan perbuatan haram,maka Allah tidak butuh kepada jerih payahnya meninggalkan makan dan minumnya. (HR. al-Bukhori)

    Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata :”Bukanlah puasa itu sebatas menahan diri dari makan dan minum saja,akan tetapi puasa itu menahan diri dari perkataan dusta, perbuatan bathil,sia-sia dan sumpah yang tidak ada gunanya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

    Mujahid berkata: ada dua perangai yang barangsiapa menjaga diri darinya,puasanya akan selamat,yakni ghibah dan berdusta. (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s