Ajaran Dan Fatwa-Fatwa Bathil (3) III

(lanjutan)

Belajar Al-Qur’an adalah di masjid

Mesjid adalah tempat orang-orang Islam sholat. Salah satu fungsi lain dari mesjid adalah tempat pengajaran Islam atau pengajaran Al-Qur’an. Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca Kitabullah (Al-Qur’an), melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya. (HR.Muslim)

فَلَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَتَعَلَّمَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَإِنْ ثَلَاثٌ فَثَلَاثٌ مِثْلُ أَعْدَادِهِنَّ مِنْ الْإِبِلِ

“Sungguh salah seorang diantara kalian setiap hari datang ke Masjid, mempelajari dua ayat dari Kitab Allah ‘azza wajalla adalah lebih baik baginya daripada dua ekor unta, dua ayat lebih baik daripada tiga unta, seperti bilangan-bilangan unta tersebut.” (HR.Abu Daud, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shohih Sunan Abu Daud)

Itulah hadits-hadits tentang “tadarus” Al-Qur’an di masjid.  Meskipun tidak difahami buruk membaca atau mempelajari Al-Qur’an di rumah (yang bukan masjid), akan tetapi menjadi pertanyaan besar apabila ada orang-orang yang mengaku lebih baik karena belajar dan mengajarkan Al-Qur’an ternyata tidak pernah ‘kenal’ dengan masjid.

Belajar Al-Qur’an dengan belajar tafsirnya

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ.

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.” (HR.Bukhori /5027)

Sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله dalam “Syarah Riyadhus-Shalihin” bahwa belajar dan mengajar ini mencakup aspek lafzhi (bacaan) dan maknawi.  Mempelajari tafsir Al-Qur’an adalah upaya untuk bisa memahami kandungan makna dalam Al-Qur’an dengan lebih baik, karena cukup banyak dari ayat-ayat Allah yang sulit dimengerti jika hanya melihat zhohir lafaznya.
Masalah tafsir-mentafsir Al-Qur’an adalah masalah yang berat, tidak boleh sembarangan.

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

وَمَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ …

“…Dan barangsiapa yang berkata (menafsirkan) Al-Qur’an dengan ro’yu-nya, maka bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka.”  (HR.At-Tirmidzi /2875. Abu Isa berkata : “Hadits ini hasan”).

Karena itu mempelajari tafsir ini haruslah kepada ahli-nya, yang dikenal kredibilitas ke-ilmuannya, bersanad, dan mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal-hal yang berhubungan dengan tafsir ayat seperti pengetahuan tentang as-Sunnah (beserta ilmu-ilmu hadits) penguasaan bahasa Arab, asbabun-nuzul, nasikh-mansukh, dll.
Mempelajari tafsir adalah mempelajari agama, tidak boleh dari orang-orang “cekak“, apalagi dari “guru jadi-jadian“ yang hanya tampilannya saja seperti orang-orang berilmu yang lurus.

Muhammad bin Sirin رحمه الله berkata :
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama.  Maka lihatlah dari siapa engkau mengambil agamamu!”  (HR.Muslim dalam Muqaddimah Shahiihnya, 1/14)

Tafsir Al-Qur’an dan ilmu-ilmu hadits

Mempelajari tafsir Al-Qur’an tidak akan pernah terlepas dari mempelajari hadits-hadits, karena melalui hadits-hadits banyak diketahui makna ayat-ayat Al-Qur’an yang difahami dengan benar oleh Nabi, sahabat, thobi’in dst.  Karena itu seorang guru tafsir Al-Qur’an perlu mengetahui banyak tentang As-Sunnah dan perlu mengerti ilmu-ilmu hadits dengan baik.
Orang yang yang tidak mengerti As-Sunnah dan buta ilmu-ilmu hadits senantiasa mempunyai kecenderungan menafsirkan Al-Qur’an dengan ro’yu-nya.  Perhatikanlah perkataan Umar bin Khaththab رضي الله عنه berikut ini,

Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه berkata : “Hati-hatilah dan jauhilah oleh kalian “ashabir-ro’yi” (orang-orang yang menggunakan ro`yu-nya).  Karena sesungguhnya mereka adalah musuh-musuh As-Sunnah.  Mereka dilemahkan oleh hadits-hadits, hingga tidak mampu menghafalnya.  Akhirnya mereka berbicara dengan ro`yu mereka, maka mereka tersesat dan menyesatkan (orang lain).”   (HR.Daruquthni dalam Sunannya dan Al-Lalikai dalam Syarhu Ushul I’tiqad Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah)

Kaum “ashabir-ro’yi” adalah orang-orang yang berkehendak menjadi guru, mengajarkan tafsir/pemahaman Al-Qur’an dan mempunyai pengikut-pengikut, akan tetapi mereka ‘buta’ ilmu-ilmu hadits.  Akhirnya mereka banyak menafsirkan Al-Qur’an tidak dengan As-Sunnah, tetapi dengan ro’yu sendiri.
Ketika keadaan mereka dipermasalahkan, ucapan-ucapan yang keluar dari mulut mereka biasanya cukup beragam, di antaranya adalah :
“Hadits itu kan dari manusia, yang dari Allah itu kan Al-Qur’an…”
“Bukan hadits yang harus banyak dipelajari, tapi Al-Qur’an…”
“Jangan terlalu mengagungkan as-Sunnah, Al-Qur’an lebih agung….”
Kaum ashabir-ro’yi mengeluarkan perkataan-perkataan seperti ini adalah karena “terpojok”, sedangkan mereka harus membela diri agar tetap eksist dan mempunyai pengikut-pengikut.  Mereka lalu memainkan logika.

Yang benarnya adalah bahwa As-Sunnah (yang tertinggal dalam bentuk keterangan-keterangan hadits) bukanlah tandingan Al-Qur’an, akan tetapi ia adalah suatu yang menyertai Al-Qur’an dan juga penjabaran pemahaman Al-Qur’an dari Nabi صلي الله عليه وسلم.
Dan bahwa para ulama hadits seperti Al-Bukhori, Muslim, Abu Daud dll menekuni ilmu-ilmu hadits bukanlah dalam rangka mengagungkan As-Sunnah secara berlebihan dan lalu kurang mengagungkan Al-Qur’an.  Justeru para ulama hadits itu menggali hadits-hadits (bahkan menghafalnya) adalah untuk kembali meluruskan ajaran Islam (yang pokoknya adalah di dalam Al-Qur’an) dari penyimpangan-penyimpangan dan ta’wil orang-orang yang bodoh dan melampaui batas.
Merekalah yang disebut di dalam hadits Nabi صلي الله عليه وسلم :

يَحْمِلُ‏هَاذَالْعِلْمِ‏مِنْ‏كُلِّ‏خَلَفٍ‏عُدُوْلُهُ‏،يَنْفُوْنَ‏عَنْهُ‏تَحْرِيْفَ‏الْغَالِيْنَ،وَانْتِحَالَ‏الْمُبْطِلِيْنَ،وَتَأْوِيْلَ‏الْﺠﺎَهِلِيْنَ

“Ilmu ini (Islam) akan dibawa oleh para ulama yang adil dari tiap generasi.  Mereka akan memberantas penyimpangan/perubahan yang dilakukan oleh orang-orang yang ghuluw (melampaui batas), menolak kebohongan pelaku kebathilan (para pendusta) dan takwil orang-orang bodoh”   (HR Al-‘Uqailie, adh-Dhu’afaa-ul-Kabiir 1/26. Hadits hasan lighoirihi dalam Irsyaadul Fuhuul fii Tash-hiih Hadiitsil ‘Udul, Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilali, hal.11-35)

Sebagian kalangan ashabir-ro’yi mempertentangkan Al-Qur’an dengan As-Sunnah, menganggap apabila terlalu banyak menggali As-Sunnah nanti malah jadi melupakan Al-Qur’an.  Dan di antara mereka ada juga yang mereka-reka kata Sunnah dengan konotasi tidak baik.  Masalah ini telah dijelaskan oleh seorang ulama.

Sulaiman An-Nadawi رحمه الله berkata :
“Sebagian orang jahil berkata bahwa kalimat As-Sunnah diambil dari kata masnat bahasa Ibrani, artinya orang Yahudi meninggalkan Taurot karena berpegang kepada riwayat Isra’iliyyah, sedangkan orang Islam meninggalkan Al-Qur‘an karena berpegang kepada hadits Nabi shollallohu alaihi wa sallam lalu menamakannya As-Sunnah.
Hal ini tidak benar, karena As-Sunnah diambil dari ayat Al-Qur’an, bukan dari bahasa Ibrani.

وَلاَ تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيلاً

…. Dan tidaklah akan kamu dapati perubahan bagi sunnah (ketetapan) Kami itu. ( Qs.Al-Israa : 77).”  (Tahqiq Ma’na as-Sunnah wa Bayanul Hajati Ilaiha, Sulaiman An-Nadawi: 70)

Al-Qur’an dan As-Sunnah tetap tidak bisa dipertentangkan bagaimanapun alasannya.

Ibnul-Qayyim رحمه الله berkata :
“Peran As-Sunah terhadap Al-Qur’an ada tiga :
Pertama : Mempunyai maksud sama dengan Al-Qur’an dilihat dari semua segi.  Sehingga masing-masing ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi yang sama-sama menunjukkan kepada hukum yang sama termasuk dalam kategori suatu yang hukum mempunyai lebih dari satu dalil.
Kedua : Menjelaskan maksud dari Al-Qur’an dan penafsirannya.
Ketiga : Menetapkan suatu hukum, wajib atau haram, yang tidak ada terdapat dalam Al-Qur’an.  Peran itu tidak keluar dari tiga hal ini dan tidak ada pertentangan sama sekali antara Al-Qur’an dan As-Sunah.”  (I’lamul Muwaqqi’in ‘An-Rabbil ‘Alamin, hal.263)

Ketahuilah bahwa setiap muhadditsin (ahli ilmu hadits) atau ahlul-fiqh sebelum mencapai tingkat ke-ilmuan yang mendalam di bidangnya, mereka itu mempunyai persyaratan yang sangat ketat dengan Al-Qur’an.  Di tingkat ke-ilmuan para ulama salaf, disiplin yang sangat ketat itu adalah bahwa seseorang baru diajarkan ilmu-ilmu hadits setelah sebelumnya hafal Al-Qur’an dengan baik terlebih dahulu.

Imam An-Nawawi رحمه الله mengatakan :
“Hal Pertama (yang harus diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu) adalah menghafal Al-Qur‘an, karena ia adalah ilmu yang terpenting, bahkan para ulama salaf tidak akan mengajarkan hadis dan fiqh kecuali bagi siapa yang telah hafal Al-Qur‘an.“  (Al-Majmu’, Beirut, Dar Al Fikri, 1996, Cet.Pertama, Juz I, hal.66)

Al-Khatib Al-Baghdadi رحمه الله berkata : “Selayaknya bagi setiap penuntut ilmu memulai dari menghafalkan Al-Qur’an.  Karena Al-Qur’an adalah ilmu yang paling mulia dan yang paling pantas didahulukan.”  (Al-Jaami’ li Akhlaaqir Rowi wa Li Aadabis-Saami’)

Ibnu ‘Abdil-Barr رحمه الله mengatakan : “Menuntut ilmu memiliki tingkatan dan tahapan yang tidak boleh dilanggar.  Siapa yang melanggarnya secara keseluruhan, maka ia telah melanggar jalan para salaf, siapa yang melanggar jalan mereka dengan sengaja, maka ia telah tersesat, dan siapa yang melanggarnya lantaran ijtihadnya, maka ia telah menyimpang.
Awal dari ilmu adalah menghafalkan Kitabullah dan memahaminya.  Segala apa yang dapat membantu untuk memahaminya, maka wajib untuk mempelajarinya.
Aku tidak katakan bahwa menghafal seluruh Al-Qur’an adalah fardhu, tetapi aku katakan bahwa hal itu adalah wajib (sunnah yang mendekati wajib) dan keharusan bagi siapa saja yang ingin menjadi seorang yang alim, bukan fardhu.”  (Jaami’ Bayaanil-‘ilmi wa Fadhlihi II/1129).

Syaikh Yahya bin Ali Al-Hajuri berkata :
“Mengatakan bahwa menghafalkan Qur‘an “Bukan perkara penting” adalah tidak benar..!
Allah Ta`ala berfirman :

بلْ هُوَ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ

“Bahkan sesungguhnya Al-Qur`an adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.”  (Qs.Al-Ankabut : 49)

Maka benar, Allah telah memuji para Ulama (orang-orang yang diberi ilmu) karena sesungguhnya mereka menghafal ayat-ayat yang nyata (di dalam dada mereka). Dan demikian pula para qurro` ketika mereka terbunuh, bukankah para shahabat Nabi merasa khawatir akan sirnanya Al-Qur’an sehingga mereka diperintahkan untuk mengumpulkan mushaf…“  (Fatwa-fatwa Syaikh Al-Hajuri atas pertanyaan manca negara; ulama Sunnah)

Di sebagian kalangan para ulama salaf, apabila ada seseorang yang berstatus Imam (mempunyai pengikut dan banyak ilmu diambil darinya) tetapi tidak hafal Al-Qur’an, maka ini adalah sesuatu yang sangat “aib”.  Ini bisa dilihat dari apa yang diungkapkan oleh Ibnu Hajar Al-Atsqollani رحمه الله dalam “Taqriibut-Tahdziib” tentang biografi ‘Utsman bin Muhammad bin Abi Syaibah : “Dia adalah tsiqah, seorang hafizh yang terkenal, tetapi dia memiliki auham (sejumlah keraguan) dan dikatakan dia tidak hafal Al-Qur’an”

Demikianlah ulama-ulama yang benar, yang mempunyai disiplin ke-ilmuan yang benar, dan yang memang serius mengusung Al-Qur’an.
Hal ini sangat berbeda dengan imam-imam pemimpin kelompok sempalan yang hanya tampaknya saja seolah-olah mengusung Al-Qur’an, padahal sebenarnya sangat tidak serius terhadap Al-Qur’an itu sendiri.  Keseriusan mereka sebenarnya hanyalah untuk menjadi pemimpin dengan mempunyai pengikut-pengikut dari kalangan orang-orang awam yang mudah dibuat “terkesima”.   Mereka ingin menjadi tokoh-tokoh agama yang dihormati dengan cara ‘potong-kompas’, tak perlu susah-susah dan tak usah pusing-pusing.
Mereka adalah “imam jadi-jadian”.
Bagaimana pula dengan bawahan-bawahannya?
Jika semua Imam Islam yang ada di dunia bentuknya seperti ini, dari dulu mungkin Islam sudah punah dari muka bumi…
Akan tetapi Allah سبحانه و تعالي senantiasa menjaga Islam di muka bumi ini, sehingga “imam jadi-jadian” ini tidak akan pernah besar namanya dan tidak akan pernah mempunyai pengikut-pengikut yang banyak, meskipun mereka sangat bersemangat dalam mencari pengikut.  Tidak perlu seorang ulama besar untuk membantah faham-faham mereka yang bathil, karena sesungguhnya faham-faham mereka itu sangat rapuh hujjahnya dan sangat mudah untuk dibantah bahkan oleh orang yang ilmunya sedikit sekalipun.
Semoga Allah berikan hidayah kepada “imam jadi-jadian” agar menyadari kekeliruannya dan kembali kepada ilmu yang lurus. Dan semoga tidak ada orang yang ingin ikut-ikutan menjadi imam jadi-jadian juga (yaitu imam jadi-jadian part 2)….

Tafsir Al-Qur’an dan ilmu bahasa

Allah سبحانه و تعالي berfirman :

إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآناً عَرَبِيّاً لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ. وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya kami menjadikan Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya). Dan Sesungguhnya Al-Qur’an itu dalam Induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi kami, adalah benar-benar Tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.”  (Qs.Az-Zkhuruf : 3-4)

Penguasaan bahasa Arab adalah mutlak diperlukan, karena Al-Qur’an adalah berbahasa Arab dan keterangan-keterangan As-Sunnah juga berbahasa Arab.

Imam As-Suyuthi رحمه الله mengatakan : “Tidak diragukan lagi bahwa bahasa Arab adalah bagian dari agama, karena ia adalah termasuk masalah yang hukumnya fardhu kifayah, dan dengannya akan diketahui makna lafaz-lafaz Al-Qur’an dan As-Sunnah.” (Al-Muzhir fii ‘uluumil-lughoh, 2/302)

Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata : “Dan sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri bagian dari agama dan hukum mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-Kitab dan As-Sunnah itu wajib dan keduanya tidaklah bisa difahami kecuali dengan memahami bahasa Arab. Hal ini sesuai dengan kaidah :
مَا لاَ يَتِمٌّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
“Apa yang tidak sempurna suatu kewajiban kecuali dengannya, maka ia juga hukumnya wajib.”
Namun disana ada bagian dari bahasa Arab yang fardhu ‘ain dan ada yang fardhu kifayah. Dan hal ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Abi Syaibah, dari Umar bin Yazid, beliau berkata : Umar bin Khattab menulis kepada Abu Musa Al-Asy’ari (yang isinya) “…Pelajarilah As-Sunnah, pelajarilah bahasa Arab dan I’roblah Al-Qur’an karena Al-Qur’an itu berbahasa Arab.”
Dan pada riwayat lain, Beliau (Umar bin Khattab) berkata : “Pelajarilah bahasa Arab sesungguhnya ia termasuk bagian dari agama kalian, dan belajarlah faroidh (ilmu waris) karena sesungguhnya ia termasuk bagian dari agama kalian.”
(Iqtidho Shiroth al-Mustaqim).

Para ulama mempersyaratkan penguasaan bahasa Arab kepada para da’i, terlebih lagi yang berkecimpung dalam pengajaran tafsir-tafsir Al-Qur’an.  Mereka sangat keras dalam hal ini demi menjaga kemurnian Al-Qur’an dan menjauhkannya dari penyimpangan-penyimpangan.  Perhatikanlah perkataan-perkataan mereka yang berikut :

Mujahid رحمه الله mengatakan : “Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir untuk berbicara tentang Kitabullah apabila dia tidak mengetahui bahasa Arab.”  (Al-Burhaan fii ‘Ulumil-Qur’an, az-Zarkasyi, I/292)

Imam Malik رحمه الله mengatakan : “Tidaklah didatangkan seseorang yang tidak mengetahui bahasa Arab lalu ia menafsirkan Kitabullah, melainkan ia akan aku jadikan hukuman.”  (Al-Burhaan fii ‘Ulumil-Qur’an, az-Zarkasyi, II/160)

Tanpa penguasaan bahasa Arab, seseorang yang berkecimpung dalam dakwahnya, terlebih mengajarkan tafsir/pemahaman Al-Qur’an hanya akan banyak bermain akal-akalan dan cenderung merusak Islam.  Inilah yang diketahui oleh para ulama salaf dan para ulama itu telah banyak mempunyai fakta tentang ini.
Akan tetapi para “imam jadi-jadian“ dan para “guru jadi-jadian“ produk dari sekte-sekte sempalan tidak mengerti tentang masalah ini.   Mereka tetap bersikeras mengajarkan tafsir-tafsir Al-Qur’an ke sana dan ke mari meskipun mereka bukanlah orang-orang yang mengerti bahasa Arab (bahkan tajwid bacaannya saja banyak “blepetan”).
Peringatan dari ulama salaf dianggap tidak ada artinya karena kepentingan untuk mempunyai pengikut-pengikut adalah lebih kuat daripada kepentingan terjaganya Islam dari kerusakan-kerusakan yang bisa mereka perbuat dengan kebodohan mereka.   Tidak pernah terfikir oleh mereka tentang hal ini karena tertutup kegagahan dan kewibawaan sebagai ‘ahli-ahli ilmu’ ketika mereka berada di hadapan orang-orang yang mereka ajar-ajarkan….
Melalui mereka, muncullah bid’ah-bid’ah dan ajaran-ajaran baru (ngarang-ngarang sendiri berdasarkan sangka-sangka terhadap dalil), dan digulirkannya fatwa-fatwa rusak, tapi mereka yakini sebagai ajaran Islam yang haq…

Syaikh Mahmud Syaltut رحمه الله mengatakan : “Kejahilan terhadap uslub-uslub (gaya bahasa) Arab itu akan menjadikan nash-nash difahami tidak sebagaimana maksudnya. Inilah yang menyebabkan terjadinya perbuatan mengada-ada sesuatu (ngarang-ngarang sendiri) yang tidak diketahui oleh kaum muslimin generasi awal“ (Al-Bid’ah, hal.20)

Dalam banyak hal, seseorang yang ‘buta’ bahasa Arab berkutat dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan berusaha memahami sendiri makna-maknanya, ia tidak akan pernah menjadi ahli-ilmu yang haq dalam Islam, ia akan tetap bodoh.  Ketika ia mengajarkan, maka ajaran yang diajarkannya adalah lebih banyak bersifat filosofi dari dirinya belaka.

Imam Asy-Syafi’i رحمه الله mengatakan : “Manusia menjadi buta agama, bodoh dan selalu berselisih faham lantaran mereka meninggalkan bahasa Arab, dan lebih mengutamakan konsep Aristoteles.” (Siyar A’lam an-Nubala, 10/74.)

Dan yang paling parah dari yang bisa terjadi karena hal ini adalah terseretnya seseorang ke dalam ke”zindiq”an…A’udzu Billah…

Abu Amr bin ‘Alla’ رحمه الله mengatakan : “kebanyakan orang yang menjadi zindiq di Iraq adalah karena jahilnya dengan bahasa Arab.”  (Nuzhatul-Alibba’ fii thobaqootil-udaba’ hal.31)

Al-Qur’an adalah Kitab yang Allah turunkan kepada manusia pilihan, Nabi pilihan.  Dan orang-orang yang berhak menafsirkan dan mengajarkannya adalah juga orang-orang pilihan yang memang telah nyata-nyata Allah kehendaki kebaikannya, yaitu orang-orang yang telah Allah karuniai kefaqihan ilmu kepadanya.   Rasulullah صلي الله عليه وسلم mengingatkan dengan keras kepada orang-orang yang berbicara tentang Al-Qur’an dengan tanpa ilmu :

مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Barangsiapa berkata tentang Al-Qur’an tanpa ilmu, maka bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka..(HR.At-Tirmidzi /2874, Abu Isa berkata : Hadits ini hasan-shahih)

Maka siapapun yang terlibat dalam pengrusakan terhadap Al-Qur’an dengan ajaran-ajaran yang ada di dalamnya lantaran banyak berbicara tentang Al-Qur’an dengan tanpa ilmu, ketahuilah….
Ia akan berhadapan dengan Yang Maha Kuasa, Penjaga Al-Qur’an, yaitu ALLAH سبحانه و تعالي :

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”  (Qs.Al-Hijr : 9).

Maha Suci Allah Yang telah mengutus Rasul-Nya, sesungguhnya urusan agama ini memang bukan urusan main-main…
Urusan ajar-mengajar Al-Qur’an pun ternyata bukan urusan main-main…
Semoga Allah mengampuni orang-orang yang pernah tergelincir dan lalu bertaubat….

Kepada Imam dan para guru “jadi-jadian”,

Yang senantiasa berbangga bahwa dirinya lebih baik karena BELAJAR DAN MENGAJARKAN AL-QUR’AN,

Dengan hormat dan dengan kerendahan hati kami bertanya :

Betulkah kalian sudah belajar Al-Qur’an?

Bagaimana kalian bisa mengajarkan Al-Qur’an?

Apa sebenarnya yang kalian ajar-ajarkan?

للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَْيتَنا ، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمة ، إِنّكَ أنتَ الوَّهابُ
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
َاللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ وَالأَبْصَارِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

(Al-Faqir, hamba Allah)

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Pos ini dipublikasikan di belajar islam, belajar tafsir, Islam, kelompok Islam, Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Ajaran Dan Fatwa-Fatwa Bathil (3) III

  1. badaic berkata:

    emang lu mikir apa emang gue pikirin

  2. Tholibul ilm berkata:

    Telah sampai kepada kita khabar dari Nabi alaihi sholatu wasallam beliau bersabda yg artinya “Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ditanya empat perkara: tentang umurnya,untuk apa dihabiskan; masa mudanya,untuk apa digunakan; hartanya,dari mana didapatkan dan ke mana dibelanjakan; dan tentang ilmunya, apa yang ia perbuat.” (lihat Ash-Shohihah no.946, as-Syaikh al-Albani)

    Juga beliau shallallahu alaihi wasallam mencontohkan do’a yg sering beliau ucapkan setiap hari :
    “Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’an wa rizqon thoyyiban wa ‘amalan mutaqobbalan.” (ya Alloh,aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat,rizki yang baik,dan amalan yang diterima), doa ini sangat baik diucapkan pada pagi hari,sebelum memulai aktifitas kita memohon kepada Alloh hal-hal tsb.
    Kita memohon barokah Alloh diberikan kepada hamba-hamba-Nya yg mau berfikir dgn ilmu yg lurus dan bermanfaat dgn mengamalkan ilmunya.

    Di antara ciri-ciri mu’miniin adalah berfikir, sehingga mereka mendapat panggilan dari Alloh di antaranya dengan sebutan Ulil Albaab,Ulin-Nuha dan Ulil abshor

  3. Nisa berkata:

    tentang belajar Qur’an di masjid apakah itu mutlak harus selalu di masjid? bagaimana dengan ma’had-ma’had ahlus sunnah?

    ana jg baru belajar bahasa arab, dan ternyata lebih sulit dibandingkan b.inggris… tp bahasa arab memang slh satu ilmu penunjang yg utama n butuh dipelajari oleh para penuntut ilmu spy kt bs memahami Qur’an n Hadits yg kt baca shg bs mentadaburinya…

    • Al-Faqir berkata:

      Belajar Al-Qur’an tdk mutlak hrs di masjid. Yg disoroti dalam tulisan di atas adalah perihal org2 yg enggan ke masjid dlm ibadah2nya seperti sholat dan termasuk juga belajar Al-Qur’an (yaitu kelompok abu hamzah atau yg semisal dgn-nya).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s