Ajaran Dan Fatwa-Fatwa Bathil (3) II

(lanjutan)

Qs.Al-Baqarah : 121

Firman Allah سبحانه و تعالي :

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلاَوَتِهِ أُوْلَـئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ

“Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya.” (Qs.Al-Baqarah : 121)

Dalam tafsir Jalalain disebutkan : “Orang-orang yang telah Kami beri Alkitab, merupakan fa’il (subjek), sedangkan mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, artinya membacanya sebagaimana diturunkan dan digabungkan dengan kalimat ini menjadi ‘hal’; ‘haqqa’ mendapat baris di atas sebagai mashdar atau maf’ul muthlak, sedangkan yang menjadi khobarnya ialah : mereka itulah yang beriman kepadanya. (Tafsir Jalalain)

Ibnu Jarir Ath-Thobari رحمه الله memilih pendapat bahwa yang dimaksud dengan orang-orang di ayat itu adalah Yahudi dan Nasrani.   Sedangkan Qotadah رحمه الله mengatakan bahwa mereka adalah sahabat-sahabat Rasulullah.  (lihat dalam Tafsir Ibnu Katsir, juz 1 Qs.Al-Baqarah:121)

Berkenaan dengan makna حَقَّ تِلاَوَتِهِ (bacaan yang sebenarnya) dalam ayat ini ada beberapa tafsir, di antaranya adalah :

Ibnu Abbas رضي الله عنه berkata : “Mereka mengikutinya dengan sebenarnya, menghalalkan yang telah dihalalkan dan mengharamkan yang telah diharamkan serta tidak menyelewengkannya dari yang semestinya”.

Dan Qatadah رحمه الله berkata : “Mereka itu adalah sahabat-sahabat Muhammad صلي الله عليه وسلم. Beriman kepada kitab Allah, lalu membenarkannya, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram serta melaksanakan apa yang ada di dalamnya.”  (Tafsir Ath-Thobari)

Inilah makna “bacaan yang sebenarnya” menurut Ibnu Abbas dan Qotadah, maka baiknya kita berpelajaran agar jangan menghalalkan yang telah diharamkan dan mengharamkan yang telah dihalalkan Allah di dalam Al-Qur’an.  Jangan menghalalkan dan mengharamkan dengan hanya bersandar kepada olah-akal belaka lantaran kurangnya ilmu dalam memahami dalil.
Orang akan dikatakan tidak membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang sebenarnya apabila dalam prakteknya ternyata menghalalkan yang telah diharamkan, seperti misalnya menghalalkan harta sesama kaum muslimin dan menghalalkan darahnya, padahal itu semua telah diharamkan oleh Allah سبحانه و تعالي.
Jangan pula kita menyelewengkan makna ayat-ayat Allah, misalnya dengan menta’wil-ta’wil sendiri berdasarkan sangkaan dan hawa nafsu.   Contohnya adalah menta’wil sendiri ayat ini dan lalu mengatakan bahwa membaca Al-Qur’an jika belum mengerti maknanya adalah tidak boleh.   Jika demikian,maka bacaan Al-Qur’annya itu berarti tidak dengan bacaan yang sebenarnya.
Dan hendaknya kita melaksanakan ajaran-ajaran yang ada di dalam Al-Qur’an sekemampuan kita.
Allahu A’lam.

“Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya.”

Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله mengatakan (tentang “bacaan yang sebenarnya“) bahwa mereka mengetahui ke-muhkam-an (bacaan) nya dan beriman kepada mutasyabih-nya, serta memasrahkan hal-hal yang sulit bagi mereka kepada yang mengetahuinya.  (Tafsir Ibnu Katsir, juz 1 Qs.Al-Baqarah:121)

Al-Qurthubi رحمه الله mengatakan : “Sesungguhnya makna seperti ini telah diriwayatkan dari Nabi صلي الله عليه وسلم bahwa beliau apabila melewati ayat rahmat (dalam bacaan Al-Qur’an) beliau meminta rahmat; dan apabila melewati ayat adzab, beliau meminta perlindungan (kepada Allah dari adzab).”

Ada keterangan yang semakna dengan apa yang disebutkan oleh Al-Qurthubi yang bersumber dari Umar bin Khaththab.
Dari bagian ini telah jelas bahwa membaca Al-Qur’an itu memang perlu untuk mengerti maknanya sehingga berefek pada jiwa dan hati pun mengikutinya.
Inilah yang terbaik, oleh karena itu senantiasa kaum muslimin mendatangi majelis-majelis ilmu untuk berusaha menuntut ilmu sebagaimana Rasulullah telah wajibkan pula untuk menuntut ilmu.

Demikianlah sekilas keterangan-keterangan tentang tafsir Qs.Al-Baqarah:121 yang bisa diulas yang bersumber dari para ulama salaf.  Tidak ada di dalam tafsir ayat itu yang mengemukakan tentang pelarangan untuk membaca Al-Qur’an jika belum dimengerti maknanya, kecuali jika seseorang membuat-buat tafsir sendiri tanpa ilmu yang haq.
Allahu A’lam.

Qs.Ash-Shaff : 2-3

Firman Allah سبحانه و تعالي :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan, apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah, bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.”  (Qs.Ash-Shaff : 2-3)

Dalam Tafsir Jalalain disebutkan tentang asbabun-nuzul ayat ini : Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika para sahabat Rasulullah صلي الله عليه وسلم duduk-duduk bermudzakarah, di antara mereka ada yang berkata : “Sekiranya kami mengetahui amal yang lebih dicintai oleh Allah, pasti kami akan mengerjakannya.”
Ayat ini turun berkenaan dengan pewristiwa tersebut di atas, yang kemudian dibacakan oleh Rasulullah sampai akhir surat.  Surat ini turun sebagai tuntunan amal yang diridhoi Allah سبحانه و تعالي untuk berkurban mempertahankan agama dan mengamalkannya. (HR.Tirmidzi dan Al-Hakim yang dishohihkannya yang bersumber dari Abdullah bin Salam رضي الله عنه ).

Ibnu Katsir رحمه الله mengatakan : “Firman Allah Ta’Ala : Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tiada kamu perbuat?
Ini merupakan pengingkaran Allah terhadap orang yang menetapkan suatu janji atau mengatakan suatu ucapan tetapi tidak memenuhinya.  Karena itu ayat ini dijadikan landasan bagi ulama salaf yang berpendapat mengharuskan pemenuhan janji itu secara mutlak, baik janji tersebut adalah sesuatu yang harus dilaksanakan ataupun tidak…”
Ibnu Katsir juga menyebutkan : “Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan keadaan perang.  Ada seseorang berkata : “Aku telah berperang”, padahal dia sama sekali tidak berperang.  “Aku telah menikam“, padahal dia tidak melakukannya.  “Aku telah memukul“, padahal tidak.  “Aku telah bersabar“, padahal ia tidak pernah bersabar.“ (Tafsir Ibnu Katsir, juz.28 Qs.Ash-Shaff:2-3)

Al-Qurthubi رحمه الله mengatakan : “Qotadah dan Ad-Dhohhak berkata : Ayat ini turun pada kaum yang berkata, ‘Kami akan berjihad dan kami akan mati.’ Namun mereka tidak melakukan (hal itu).
Ayat ini mewajibkan semua orang yang telah mewajibkan dirinya (dengan perkataan) untuk mengerjakan sebuah amalan ketaatan, bahwa dia harus memenuhi hal itu.
Sesuatu yang diwajibkan seperti nazar; nazar ini sendiri ada dua bagian :

1. Nazar untuk mendekatkan diri kepada Allah sejak awal, seperti ucapan seseorang : Aku akan menunaikan shalat, puasa, sedekah, dan berbagai bentuk pendekatan diri lainnya kepada Allah. Nazar seperti ini wajib untuk dipenuhi.  Hal ini telah disepakati oleh para ulama.

2. Nazar yang mubah, yaitu nazar yang dikaitkan kepada syarat yang diinginkan, misalnya ucapan seseorang : Jika milikku yang hilang kembai, aku akan bersedekah.  Atau dikaitkan pada syarat yang ditakuti, misalnya ucapan seseorang : Jika Allah memelihara aku dari keburukan anu, maka aku akan bersedekah.  Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini (Bentuk nadzar ke dua).
Imam Malik dan Abu Hanifah berpendapat bahwa dia wajib memenuhi nazar tersebut, sedangkan Imam Asy-Syafi’i mengatakan pada salah satu pendapatnya, bahwa dia tidak wajib memenuhi nazar tersebut…” (Tafsir Al-Qurthubi)

Demikianlah, telah jelas dari ulama-ulama tafsir bahwa dalam ayat itu Allah سبحانه و تعالي mengajarkan agar memenuhi apa-apa yang telah diucapkan untuk dilakukan (yang bukan maksiat) dan berkata jujur, sesuai dengan keadaan atau fakta yang sebenarnya.  Besar kebencian Allah terhadap orang-orang yang berkata bahwa dirinya demikian dan demikian (menyebutkan tentang kebaikan-kebaikan dirinya), padahal faktanya tidak seperti itu. Sebagai contoh adalah mengatakan bahwa dirinya mengikuti jalan Rasul dan sahabat tapi faktanya banyak meyepelekan hadits-hadits dari Rasul dan sahabat (tidak serius dalam ilmu-ilmu hadits) bahkan sebagian hadits ditolak (meskipun shohih) dengan alasan bahwa Al-Qur’an lebih kuat.  Padahal hal itu terjadi karena penafsiran Al-Qur’annya yang tidak sejalan dengan As-Sunnah.
Allah juga mengajarkan agar memenuhi nazar-nazar yang telah terucapkan dengan lisannya, karena pada hakikatnya nazar adalah bagian dari janji.  Semoga Allah سبحانه و تعالي memasukkan pelajaran yang baik dan memampukan kita untuk menjalankan ajaran-ajaran di dalam ayat-ayatNya.

Sebagai kesimpulan, tidaklah benar jika ayat-ayat ini dijadikan alasan/hujjah untuk melarang membaca Al-Qur’an jika belum mengerti pemahamannya.  Tafsirnya ternyata tidak seperti itu.
Yang dimaksud “mengatakan apa yang tidak diperbuat” di ayat itu adalah mengatakan perkataan sendiri yang tidak diperbuat, dan bukan memperkatakan perkataan-perkataan Allah yang kemudian ditarik-tarik pengertiannya sebagai membaca ayat-ayat Al-Qur’an.
Penafsiran seperti ini adalah tidak benar dan merupakan penafsiran yang meng-ada-ada.

Barangkali pelarangan itu juga didasarkan kepada hadits berikut :

Abu Nu’aim Al-Hafizh meriwayatkan dari hadits Malik bin Dinar, bahwa Anas bin Malik berkata, Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :
“Aku mendatangi suatu kaum pada malam Isra’ yang lidahnya digunting dengan gunting api. Setiap kali lidahnya digunting, maka panjang kembali lidah itu.
Aku bertanya (kepada malaikat Jibril) : “Siapakah mereka, wahai Jibril?”
Jibril menjawab : “Mereka adalah para khatib dari ummatmu yang mengatakan (sesuatu) namun mereka tidak mengerjakan(nya) dan mereka membaca kitab Allah namun mereka tidak mengamalkan(nya).”
(HR.Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, As Suyuthi dalam Al-Jami’ Al-Kabir dan Ibnu Abi Daud dalam Al-Mashahif).

Hadits ini mengajarkan untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan yang diserukan/diajarkan kepada orang lain dan mengamalkan ajaran dari ayat-ayat yang dibaca, di mana hal ini mengkonsekwensikan bahwa yang dibaca itupun perlu dimengerti.  Akan tetapi tetaplah tidak bisa menjadikan hadits ini (seandainya sanadnya memang shohih) sebagai alasan bahwa membaca Al-Qur’an jika belum memahami maknanya adalah tidak boleh.
Membaca Al-Qur’an namun tidak mengamalkannya adalah karena adanya kedurhakaan dan ini berbeda dengan membaca Al-Qur’an yang belum dimengerti maknanya, karena membaca Al-Qur’an yang belum dimengerti maknanya tidak bisa dikatakan karena adanya kedurhakaan.  Keterangan-keterangan hadits yang lain tidak menunjukkan demikian, malah dikatakan tetap berpahala (lihat dalam tulisan sebelumnya).

Dan sebagai bagian akhir dari penjelasan masalah ini adalah bahwa bukanlah bermaksud untuk mengkedepankan membaca Al-Qur’an tetapi mengkebelakangkan ajaran untuk mengerti makna dan melaksanakan isinya.
Penjelasan ini adalah untuk memperjelas kedudukan membaca Al-Qur’an dengan keterangan-keterangan yang syar’i, bahwa itu adalah tetap baik (meskipun ada yang lebih baik), terlepas dari mengerti atau tidaknya ayat-ayat yang dibacanya itu.
Jika bersikukuh bahwa membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang belum dimengerti maknanya adalah tetap tidak boleh, maka perlu dijawab pertanyaan ini :

“Adakah orang di dunia ini dan pada hari ini yang mengerti seluruh ajaran Al-Qur’an?”

Allahu A’lam bish-showab.

(bersambung)

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Pos ini dipublikasikan di belajar islam, belajar tafsir, Islam, kelompok Islam, Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s