Ajaran Dan Fatwa-Fatwa Bathil (3) I

بسم الله الرحمن الرحيم
إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلاَّ الله وحده لا شريك له وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله. فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah
صلي الله عليه وسلم Wa Ba’du :

Allah سبحانه و تعالي berfirman :

قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan . Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan Allah mengeluarkan mereka dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Qs.Al-Maidah : 15-16)

Telah lazim di kalangan kaum muslimin bahwa kitab Al-Qur’an adalah kitab yang membawa petunjuk dari Allah dan telah lazim pula bahwa ia adalah kitab yang senantiasa dibaca dan dipelajari oleh kaum muslimin.
Sekelompok orang ada yang meng-klaim bahwa mereka adalah lebih baik karena halaqoh-halaqoh mereka senantiasa diisi dengan belajar dan mengajarkan Al-Qur’an, bukan belajar dan mengajarkan yang lain.  Bagaimanakah sebenarnya pemahaman belajar dan mengajarkan Al-Qur’an yang tersebut dalam hadits Nabi :

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ.

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”

Belajar dan mengajarkan Al-Qur’an

Hadits Rasulullah صلي الله عليه وسلم : Dari Utsman bin Affan رضي الله عنه berkata Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ.

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.” (HR.Bukhori /5027)

Di dalam hadits ini telah jelas disebutkan bahwa yang sebaik-baik diantara kaum mukminin adalah yg belajar Al-Qur’an, dan ia juga mengajarkan Al-Qur’an.

Ibnu Katsir رحمه الله mengatakan :
(Maksud dari sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم) “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur‘an dan mengajarkan kepada orang lain” adalah, bahwa ini sifat-sifat orang-orang mukmin yang mengikuti dan meneladani para Rasul.  Mereka telah menyempurnakan diri sendiri dan menyempurnakan orang lain.  Hal itu merupakan gabungan antara manfaat yang terbatas untuk diri mereka dan yang menular kepada orang lain…( Fadhaailul- Qur’an, hal.126-127)

Ibnu Hajar al-Atsqollani رحمه الله mengatakan :
“Tidak diragukan lagi bahwa orang yang dapat menggabungkan antara belajar dan mengajarkan Al-Qur’an adalah orang yang sempurna bagi dirinya dan orang lain.  (Dan mereka itulah) orang yang mampu mengumpulkan antara manfaat yang sedikit dan banyak.” (Fathul-Baari 9/96).

Belajar dan mengajarkan Al-Qur’an dalam hadits ini mencakup berbagai aspek,

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله mengatakan :
“Hadits ini tertuju pada seluruh umat islam.  Sebaik-baik orang adalah insan yang memadukan dua hal diatas, belajar Al-Qur’an dari orang lain dan mengajarkannya kepada orang.  Belajar dan mengajar ini mencakup aspek lafzhi (bacaan) dan maknawi.” (Syarah Riyadhus-Shalihin, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin).

Sepeninggal Rasulullah صلي الله عليه وسلم Islam semakin meluas ke berbagai penjuru dunia dan dianut oleh berbagai ras dan suku bangsa.   Perbedaan bahasa dan tulisan semakin kompleks dan menyolok, sehingga urgensi mempertahankan kemurnian lafaz dan tulisan Al-Qur’an juga semakin nyata.
Adanya penambahan tanda-tanda baca di kemudiannya seperti tanda kasrah, fathah dsb adalah dengan maksud memudahkan dalam mempelajari bacaan dan membacanya agar tidak melenceng dari lafaz aslinya (lafaz Quraisy) serta pemaknaannya secara umum sebagaimana yang diturunkan kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم.
Di kalangan para ulama pun kemudian ada standar-standar dan kaidah-kaidah dalam mempelajari Al-Qur’an.
Barangkali ada sebagian orang yang menganggap bahwa metode para ulama bersalahan dengan cara yang dicontohkan oleh Rasulullah صلي الله عليه وسلم dalam hal belajar Al-Qur’an, namun perlu difahami dengan baik bahwa apa yang ditempuh oleh para ulama adalah justeru diperlukan karena kondisi yang telah berbeda dari jaman Rasul.

Hingga di masa-masa awal para sahabat ketika ada orang yang meriwayatkan perkataan Rasul (hadits) tidak ada yang menanyakan tentang sanadnya.  Tetapi setelah banyak terjadi “fitnah”, ketika ada orang yang meriwayatkan perkataan/hadits dari Rasulullah, maka ditanyakan dengan teliti sanad-sanadnya.
Hal ini sebagaimana dikatakan seorang salafus-sholih, Muhammad bin Sirin رحمه الله , ia berkata :
“Dahulu, orang-orang tidak bertanya tentang sanad. Namun setelah terjadi fitnah (munculnya bid’ah), mereka berkata : ‘Sebutkanlah perawi-perawi kalian!’
Jika perawi tersebut Ahlus-Sunnah, maka mereka ambil haditsnya.  Dan jika ahli bid’ah, maka tidak akan mereka ambil haditsnya.” (HR.Muslim dalam Muqaddimah Shahiihnya (1/15) dengan sanad shahih)

Para ulama pun mulai giat meneliti hadits-hadits sehubungan dengan pemahaman suatu permasalahan dalam Islam atau sehubungan dengan penafsiran suatu ayat dari Al-Qur’an.
Di sisi lain para ulama mulai memperketat penafsiran Al-Qur’an lantaran banyaknya penyelewengan penafsiran oleh kaum khawarij, qodariyah, rafidhah (syi’ah) dan murjiah. Muncul ulama-ulama tafsir baik dari kalangan thobi’in maupun dari kalangan selanjutnya, seperti Mujahid, Ath-Thobari, dll.  Pada kelanjutannya dari antara para ulama dikemukakan kaidah-kaidah penafsiran Al-Qur’an dengan mempertimbangkan berbagai aspek, seperti aspek bahasa, as-Sunnah, asbabun-nuzul, dll sebagai upaya menjaga kemurnian ajaran Al-Qur’an dari penyelewengan penafsiran-penafsiran para ahli bid’ah yang sesat.
Disiplin-disiplin ilmu baru yang berkaitan dengan itupun kemudian muncul, seperti ilmu balaghoh, nahwu-shorof, bayan, asbabun-nuzul, hingga ushul-fiqh.  Disiplin-disiplin ilmu ini dipersyaratkan oleh para ulama bukan untuk “merumit-rumitkan” ajaran Islam sebagaimana yang disangkakan oleh orang-orang yang bodoh, akan tetapi sebagai reaksi atas penyimpangan-penyimpangan penta’wilan oleh orang-orang yang suka memperturutkan hawa nafsunya dalam beragama, yang gemar membuat ta’wil-ta’wil sendiri, yaitu kaum ahlul-bid’ah.
Ada sekelompok orang-orang terbelakang yang tidak mau pusing-pusing dengan itu semua mengatakan :

“Di jaman Rasul tidak ada tuh, belajar ilmu balaghoh, belajar ushul-fiqh, asbabun-nuzul…Pokoknya, langsung aja ke Qur’an-nya, gitu…”

Subhanallah…
Alangkah malangnya ibunya mengandungnya….
_________________________________________

Fatwa : “Tidak terlalu penting tentang tajwid dalam belajar dan mengajarkan Al-Qur’an, karena yang penting adalah pemahaman dan amalannya.”

Fatwa ini beredar di kelompok abu hamzah dengan arahan (konon) untuk lebih mementingkan amal-perbuatan dalam ajaran Al-Qur’an daripada sibuk dengan hal-hal yang kurang penting.  Tampaknya sebuah fatwa yang bagus (?).
Bagaimanakah sebenarnya tinjauan tentang ini berdasarkan nash-nash ayat dan hadits-hadits Nabi yang difahami oleh para ulama Islam? Berikut sekelumit ulasannya.

Belajar Al-Qur’an dengan belajar tajwid

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ.

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.” (HR.Bukhori /5027)

Yang pertama kali difahami dari hadits ini dalam mempelajari Al-Qur’an adalah belajar membacanya dengan baik terlebih dahulu, berusaha menghafalnya, kemudian barulah belajar tentang hal-hal yg lain dari Al-Qur’an, seperti pemahaman maknanya, dll.
Allah سبحانه و تعالي telah memerintahkan untuk membaca Al-Qur’an.
Allah سبحانه و تعالي berfirman :

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Al-Kitab (Al-Qur’an)” (Qs.Al-Ankabut : 45)

Ibnu Katsir رحمه الله di dalam tafsirnya mengatakan :
“Kemudian Allah Ta’Alaa berfirman memerintahkan RasulNya serta orang-orang yang beriman untuk men-tilawah-kan Al-Qur’an, yaitu membacanya dan menyampaikannya kepada manusia.” (Tafsir Ibnu Katsir, juz 21 Qs.Al-Ankabut:45)

Dan ayat yang lainnya :

وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ

“Dan bacakanlah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al-Qur’an)” (Qs.Al-Kahfi : 27)

Adanya ayat-ayat Allah yang memerintahkan untuk membaca Al-Qur’an, menjadikan membaca Al-Qur’an difahami wajib bagi seorang muslim.  Karena itu mempelajari untuk bisa membacanya-pun menjadi wajib pula.

Dan Firman Allah سبحانه و تعالي :

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

“Dan bacalah Al-Qur`an dengan tartil.” (Qs.Al-Muzzammil : 4)

Ibnu Katsir رحمه الله di dalam tafsirnya menjelaskan :
“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil“, maksudnya, bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan, sebab hal itu akan membantu dalam memahami dan mentadabburi/merenunginya.“ (Tafsir Ibnu Katsir, juz 29 Qs.Al-Muzammil:4).

Seseorang yang tidak bisa tartil dalam membaca Al-Qur’an akan sangatlah sulit untuk bisa memahami dan mentadabburi/merenungi makna ayat-ayat yang dibacanya dengan benar. Karena itu berusaha untuk bisa membaca secara tartil terlebih dahulu diperlukan, sebelum kemudian menjadi lebih mudah untuk memahami dan mentadabburi ayat-ayat yang dibacanya.
Allah سبحانه و تعالي memerintahkan agar membaca Al-Qur’an dengan tartil, yaitu dengan perlahan dan baik (Tidak tergesa-gesa, membaguskan huruf dan mengetahui tempat-tempat berhenti bacaannya).  Membaca Al-Qur’an dengan cara dan proses yang benar adalah dipersyaratkan.

Imam Asy-Syaukani رحمه الله mengatakan tentang Qs.Al-Muzammil ayat 4 di atas :
“Yakni bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan disertai dengan tadabbur.  Dan makna tartil itu adalah memperjelas bacaan semua huruf dalam Al-Qur’an dan memenuhi hak-hak huruf tersebut dengan sempurna tanpa ditambah atau dikurangi.” (Fathul-Qadir)

Dalam tafsir Al-Baidhowi disebutkan bahwa yang dimaksud tartil adalah : “Tajwidkanlah bacaan (Al-Qur’an) mu dengan tajwid yang benar” (Tafsir Al-Baidhowi)

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Mansur ketika Ibnu Mas’ud رضي الله عنه menuntun seseorang membaca Al-Qur’an.  Maka orang itu mengucapkan :

“Innamash shadaqatu lil fuqara-i wal masakin.”

Dengan meninggalkan bacaan panjangnya, maka Ibnu Mas’ud رضي الله عنه mengatakan : “Bukan begini Rasulullah صلي الله عليه وسلم membacakan ayat ini kepadaku.”
Maka orang itu berkata : “Lalu bagaimana Rasulullah membacakan ayat ini kepadamu wahai Abu Abdirrahman?”
Maka beliau mengucapkan :

“Innamash shadaqaatu lil fuqaraa-i wal masaakiin.”

Dengan memanjangkannya.” (HR. Sa’id bin Mansur)

Karena itu bagi seorang muslim sangat perlu (bahkan wajib) untuk belajar tajwid (sekemampuan maksimalnya) yang berhubungan dengan pembacaan yang tartil dengan baik, sebelum ia mempelajari tentang tafsir, asbabun-nuzul atau yang lainnya dari Al-Qur’an.  Inilah kaidah yang benar dalam memulai belajar Al-Qur’an.  Para Imam ahli hadits, ahli fiqh dan ahli tafsir Al-Qur’an beserta murid-muridnya adalah orang-orang yang memulai belajar Al-Qur’an dengan kaidah ini dari sejak dini.

Ibnu Al-Jazari رحمه الله mengatakan :
“Tidak diragukan lagi bahwa mereka itu beribadah dalam upaya memahami Al-Qur’an dan menegakkan ketentuan-ketentuannya, beribadah dalam pembenaran lafaz-lafaznya, menegakkan huruf yang sesuai dengan sifat dari ulama qura’ yang sampai kepada Nabi صلي الله عليه وسلم.” (An-Nasyr 1/210)

Syaikh Nashiruddin Al-Albani رحمه الله ketika ditanya tentang perkataan Ibnul-Jazari tersebut di atas, maka beliau mengatakan :
“Kalau yang dimaksud itu sifat bacaannya di mana Al-Qur’an itu turun dengan memakai tajwid dan dengan tartil maka itu adalah benar, tapi kalau yang dimaksud cuma lafaz hurufnya maka itu tidak benar.” (Al-Qaulul Mufid fii Wujub At-Tajwid, hal.26)

Adalah orang-orang yang “menyembarangkan” Al-Qur’an (seperti orang-orang di sekte abu hamzah) yang kebanyakan di antara mereka berani menjadi guru-guru tafsir (pemahaman) Al-Qur’an di halaqoh-halaqoh ilmu sedangkan bacaan Al-Qur’an-nya masih sangat “blepetan” tidak karu-karuan.
Di antara mereka bahkan ada yang masih rada buta huruf Arab, tapi menjadi guru tafsir/pemahaman Al-Qur’an.   Mereka adalah “guru jadi-jadian”….
Mereka mengatakan bahwa Rasulullah juga buta huruf dan para sahabatnya juga banyak yang buta huruf, tapi mengajarkan ajaran-ajaran Al-Qur’an.   Mereka mensejajarkan diri mereka dengan Rasul (yang dibimbing langsung oleh Allah) dan para sahabat (yang dibimbing langsung oleh Rasulullah) dalam hal belajar dan mengajarkan Al-Qur’an, yang mana para salafush-sholih (orang-orang sholih terdahulu) setelah masa Rasul dan masa sahabat tidak ada yang berani melakukan yang sedemikian.
Apakah mereka memang benar-benar semisal dengan Rasulullah dan para sahabatnya?
Apakah mereka memang benar lebih hebat dari para thobi’in, thobi’ut-thobi’in dan para Imam Islam yang sholih terdahulu?
Fatwa yang di keluarkan di sekte itu adalah : “Tidak terlalu penting tentang tajwid dalam belajar dan mengajarkan Al-Qur’an, karena yang penting adalah pemahaman dan amalannya.”
Sepintas apa yang difatwakan itu sepertinya benar.  Akan tetapi pada kenyataannya fatwa itu menggiring orang-orang di sekte itu untuk menyembarangkan lafaz-lafaz ayat Allah yang agung, dan ikut berekses pada penta’wilan yang sembarangan pula.
Itu semua karena tajwid atau ilmu-ilmu membaca Al-Qur’an dianggap hal yang remeh.

Imam Malik رحمه الله pernah mengatakan :
“Kau katakan ini masalah sepele dan remeh? Tidak ada dalam agama ini perkara yang remeh..!  Tidaklah kau mendengar perkataan Allah سبحانه و تعالي :
إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلا ثَقِيلا
“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat” (Qs.Al-Muzammil : 5)
Oleh karena itu seluruh ilmu agama ini semuanya berat, khususnya karena akan dipertanyakan pada hari kiamat…” (Tartibul-Madariq, Qadli ‘Iyadl 1/184; Dlarurarul-Ihtimam bis-Sunnatin-Nabawiyyah, hal.118)

Imam As-Suyuthi رحمه الله mengatakan :
“Adalah hal yang sangat penting men-tajwid-kan bacaan Al-Qur’an…” (Al-Itqon)

Ibnu Al-Jazairi رحمه الله mengatakan :
“Menggunakan Tajwid adalah wajib/lazim.  Dan barang siapa tidak mentajwidkan Al-Quran adalah berdosa, karena dengan Tajwidlah Allah turunkan dia (Al-Quran) dan begitulah hingga sampai ke kita.” (Al-Mandzumatul-Jazariyyah)

Asy-Syaikh Makki Nashr رحمه الله mengatakan :
“Telah sepakat seluruh umat yang terbebas dari kesalahan tentang wajibnya tajwid mulai zaman Nabi صلي الله عليه وسلم sampai zaman sekarang ini dan tidak ada seorang pun yang menyelisihi pendapat ini.” (Nihayah Qaul-Mufid hal.10)

Jika para ulama Islam mempunyai usaha untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an yang salah-satunya adalah dimulai dari penjagaan terhadap kemurnian lafaz-lafaz Al-Qur’an, akan tetapi mereka malah mendorong untuk terjadinya pengrusakan terhadap Al-Qur’an, yaitu dengan menyembarangkan masalah melafazkan bacaan ini.  Apa yang dianggap penting oleh para ulama salaf, mereka justeru menganggapnya hanya hal yang kecil (remeh).
Semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka agar kembali kepada ilmu yang benar.
Allahu A’lam.

Belajar Al-Qur’an dengan menghafal Al-Qur’an

Seorang yang belajar Al-Qur’an dengan mempelajari pembacaannya dengan baik, kemudian menghafalnya sejauh kemampuannya, minimal adalah menghafal sebagaimana perlunya hafalan tersebut untuk kepentingan pembacaan ketika ia sholat.  Hafalan yang senantiasa benar adalah hafalan yang didasari pengetahuan hukum-hukum baca yang benar pula.
Dan orang-orang yang mempunyai banyak hafalan Al-Qur’an adalah orang-orang yang mempunyai keutamaan yang lebih.

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ مَثَلُ الْأُتْرُجَّةِ: رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ، وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ: لاَ رِيْحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ الرَّيْحَانَةِ رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ الحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيْحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ

“Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an itu seperti buah utrujjah, baunya wangi, dan rasanya pun lezat. Perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah kurma, tidak punya bau namun rasanya manis. Perumpamaan seorang munafik yang membaca Al-Qur’an seperti minyak wangi, baunya wangi tetapi rasanya pahit. Perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah hanzhalah, tidak berbau dan rasanya pun pahit.” (HR.Bukhori no. 5020 dan Muslim no. 797)

Imam An-Nawawi رحمه الله mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang menghafal Al-Qur’an. (Al-Minhaj, 6/83)
_________________________________________________________________________

Fatwa : “Tidak boleh membaca Al-Qur’an jika belum faham makna ayat yang dibaca”

Inilah fatwa yang menjadikan Al-Qur’an tidak akan pernah dibaca secara utuh dan dihafal oleh orang-orang Islam yang manapun jika fatwa itu diikuti.  Jika tidak boleh dibaca, maka mustahil bisa dihafal.
Pemimpin sekte abu hamzah pun yang (konon) paling faham Al-Qur’an ternyata sangat sedikit sekali hafalannya, dan justeru dialah yang mengeluarkan fatwa itu.

Telah disinggung di bagian sebelumnya bahwa Allah سبحانه و تعالي telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar membaca Al-Qur’an.  Yang terbaik, tentu saja adalah membaca Al-Qur’an dan mengerti maknanya hingga bisa mentadabburi ayat-ayatnya lalu mengamalkan ajaran-ajaran yang ada di dalamnya.  Akan tetapi tidak berarti bahwa jika Al-Qur’an itu dibaca padahal belum dimengerti artinya dianggap sebagai suatu keburukan sehingga orang dilarang untuk melakukannya.
Ulama memahami bahwa membaca Al-Qur’an tetap berpahala meskipun belum mengerti tentang apa yang dibaca.  Ini merupakan bagian dari kelebihan Al-Qur’an sebagai Kitab bacaan yang mulia, yang tidak bisa disamakan dengan bacaan-bacaan yang lain.
Beberapa hadits dari Rasulullah menunjukkan hal yang sedemikian, di antaranya adalah :

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barang siapa membaca satu huruf dari bacaan Al Qur’an, maka baginya ada kebaikan sebanyak sepuluh kebaikan, aku tidak mengatakan Alif Laam Miim satu huruf, tapi Alif satu huruf dan Laam satu huruf dan Miim satu Huruf .”  (HR.At-Tirmidzi, 2910 dan Ad-Darimi, no. 3311. Shohih, lihat Al-Misykah 2137, Takhrij Thohawiyah 158)

Alif-lam-miim” adalah bagian dari ayat mutasyabihat (ayat samar yang tidak dimengerti maknanya) akan tetapi tetap Rasul katakan mendapatkan sepuluh pahala/kebaikan dari huruf per-huruf ketika membacanya.

Dan Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

“Orang yang mahir/bagus dalam membaca Al-Qur’an dia bersama para malaikat yang mulia lagi sangat taat dan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan bacaan itu terasa sukar baginya maka ia mendapat dua pahala.”  (HR.Bukhori dan Muslim)

Yang dimaksud mahir dan terbata-bata dalam hadits tersebut adalah dalam hal membaca/melafazkan huruf-hurufnya, bukan karena mengerti atau tidak tentang artinya.
Bacaan yang terbata-bata Rasul katakan tetap mendapatkan dua pahala.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله mengatakan : “Dua pahala itu adalah satu pahala untuk membaca Al-Qur’an dan satu pahala lagi untuk kesulitan yang dialaminya ketika membacanya.” (Majaalis-Syahri Ramadhan, hal.58)

Fatwa tidak membolehkan membaca Al-Qur’an jika belum mengerti arti/pemahamannya adalah fatwa yang sembrono.  Mereka mengkait-kaitkan antara membaca Al-Qur’an tanpa mengerti maknanya dengan Qs.Al-Baqarah : 121 dan Qs.Ash-Shaff : 2 dan memaksakan pemahaman ayat-ayat itu ke arah sana.  Padahal jika dikaji tentang tafsir ayat-ayat itu, tidaklah mengandung pemahaman bahwa membaca Al-Qur’an tanpa mengerti maknanya adalah tidak boleh.  Tidak ada keterangan dari Rasul, sahabat dan para ulama salaf di dalam tafsir tentang ayat-ayat itu yang melarang membaca Al-Qur’an jika belum memahami maknanya.
Bagaimanakah ulasan tafsir Qs.Al-Baqarah ayat 121 dan Qs.Ash-Shaff ayat 2 tersebut?

(bersambung)

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Pos ini dipublikasikan di belajar islam, belajar tafsir, Islam, kelompok Islam, Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Ajaran Dan Fatwa-Fatwa Bathil (3) I

  1. tauhidsyahadah berkata:

    ” KETERGELINCIRAN ULAMA ”
    (Ulama juga Manusia – Tidak Ma’sum)

    Semua ulama pasti ada ketergelincirannya, kita dituntut untuk,……
    – Mengikuti dalil,…
    – Bukan mengikuti kesalahan ulama…

    Hal ini telah diperingatkan secara keras oleh para ulama kita,…
    Di antaranya,..

    – Sulaiman at-Taimi rahimahullah mengatakan:
    “Apabila engkau mengambil setiap ketergelinciran ulama, maka telah berkumpul pada dirimu seluruh kejelekan.”

    – Al-Auza’i rahimahullah berkata:
    “Barangsiapa memungut keganjilan-keganjilan ulama, maka dia akan keluar dari Islam.”

    – Hasan al Bashri rahimahullah berkata:
    “Sejelek-jelek hamba Allah adalah mereka yang memungut masalah-masalah ganjil untuk menipu para hamba Allah.”

    – Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah berkata:
    “Seorang tidaklah disebut alim bila dia menceritakan pendapat-pendapat yang ganjil.”

    – Imam Ahmad rahimahullah menegaskan bahwa orang yang mencari-cari pendapat ganjil adalah seorang yang fasiq.

    – Bahkan Imam Ibnu Hazm rahimahullah menceritakan
    ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa orang yang mencari-carikeringanan mazhab tanpa bersandar pada dalil merupakan kefasikan dan tidak halal.

    Para “Ulama” di sekte FAH terlalu sering tergelincir, sehingga ……….. ( silakan diisi sendiri )

  2. mantan geng motor berkata:

    nimbrung ye..
    kalo ane dulu pernah nggelosor di jalan raye,ngebut jadinye benjut dah..
    Kapok gua!
    Mangkenye kudu ati-ati,liat tuh rambu-rambu n marka jalan,jangan maen labrak aj
    ini dunia lalu lintas cing..!
    Pagimane dunia dakwah nyang resikonye dunia akherat!
    Waspadalah! Waspadalah!

  3. Nisa berkata:

    hampir 90% mantan FAH tidak tartil mmbaca Qur’an, ana jd merasa lucu sendiri, ketika ikut belajar tahsin, subhanalloh… trnyta bacaan ana kacau balau, shg dimulai kmbali baca dari iqro jilid 1, aduh malunya… trnyata ckup sulit bljr bca dgn tartil itu, apalagi melatih keluarnya huruf… hufft… butuh kerja keras n hrs sering mura’jaah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s