Taubat Dari Bid’ah Dan Faham Syubhat (2)

(lanjutan)

Meluruskan niat

Semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah سبحانه و تعالي. Terbukanya segala sesuatu tentang kebid’ahan dan kesesatan dari sektenya adalah hal yang sepatutnya dikedepankan untuk dengan tegas menjauhi sekte tersebut dan tidak akan lagi mau untuk kembali ke dalamnya, karena takut Allah akan murka dan takut akan jauh dari ridho-Nya jika mengikuti faham-faham sesat yang menyimpang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Ini pula yang sepatutnya menjadikan ia bersyukur atas kehendak Allah سبحانه و تعالي yang dengan cara sedemikian rupa ternyata Allah telah mengeluarkannya dari sebuah sekte sempalan sesat yang tidak dia duga sebelumnya. Allahu Akbar…

2.Istighfar

Istighfar adalah memohon ampun kepada Allah.
Allah سبحانه و تعالي berfirman :

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ

“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka…(Qs.Ali Imran : 135)

Ibnu Katsir رحمه الله mengatakan di dalam tafsirnya : “Yakni apabila mereka melakukan suatu dosa/kesalahan, maka mereka mengiringinya dengan tobat dan istighfar.” (Tafsir Ibnu Katsir, juz 4 Qs.Ali Imran:135)

Dan Allah سبحانه و تعالي berfirman :

وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun” (Qs.Al-Anfaal : 33)

Istighfar bahkan tidak hanya dilakukan ketika seseorang taubat dari sebuah kesalahan yang nyata yang mengandung faktor traumatis yang tinggi. Kalimat-kalimat istighfar tetap senantiasa diucapkan oleh seorang muslim, sebagaimana sunnah dan ajaran Rasulullah صلي الله عليه وسلم.
Semoga Allah melepaskan dari adzab akibat kesalahan-kesalahan, bagi orang-orang yang memohonkan ampunan dariNya.


3.Mempelajari ilmu dengan baik

Setelah seseorang meluruskan niatnya, maka taubat yang baik adalah dengan berusaha mengerti dulu ajaran-ajaran yang baik dan benar dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan mempelajari dari ahlinya yang haq.

Syaikh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad Asy-Syihhi menasehatkan berkaitan dengan taubat dari faham syubhat :
“Ilmu adalah pondasi/asas dalam memperbaiki taubatmu, yang demikian itu karena dua perkara :
Pertama : Syubhat itu kebanyakan menempel (lekat) di relung hati dan akalmu, jika kamu tidak menghilangkannya dengan ilmu yang bermanfaat maka kamu akan senantiasa dibayangi oleh syubhat tersebut dalam setiap perkataan, perbuatan dan keadaaanmu, bahkan dalam dakwahmu sebagaimana ini adalah fakta kebanyakan dari manusia yang meloncat dari taubat langsung berdakwah…”   (Al-Washayya as-Saniyyah lit-Ta`ibi as-Salafiyyah)

Seseorang yang bertaubat dari faham syubhat memang sangat perlu untuk segera berusaha meraih ilmu yang benar, sebagai dasar perbaikan-perbaikan faham dan amalan-amalannya.  Tidak perlu seseorang bersikap terburu-buru dalam hal ini sehingga terjerumus dalam ke-gegabahan.  Tanpa ilmu yang benar, seseorang hanya akan pindah dari syubhat yang satu ke syubhat yang lain (tanpa dia sadari) karena dia belumlah banyak mengetahui tentang faham-faham syubhat yang lain.  Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Ibnu Asy-Syihhi di atas, bahwa syubhat itu telah lekat di relung hati dan akal. Tentu ini akan sangat sulit untuk hilang-teratasi begitu saja, kecuali dengan ilmu yang benar-benar bisa bermanfaat.
Terlebih jika syubhat-syubhat itu adalah berasal dari suatu sekte ahli-bid’ah yang sangat kental mengkedepankan hawa nafsu dalam menta’wil ajaran agama.  Pola-pola yang tertanam dengan sangat kuat dalam diri seseorang yang berasal dari sekte seperti ini adalah juga kentalnya mendahulukan hawa nafsu dalam memandang sesuatu, masih bercokolnya kesombongan serta penilaian subjektif berdasarkan sangka-sangka yang masih sangat lekat dalam dirinya.  Prioritas yang harus dilakukannya adalah mengatasi dominasi hawa nafsunya dalam olah-fikir dan olah-pandangnya.
Dia harus sadar tentang masalah ini dan harus bisa menguasai dan mengarahkan dirinya, sehingga jika sebelumnya dia terbiasa ujub dan menyombongkan diri (merasa diri sebagai orang penting atau orang besar dan masih sering meremehkan orang lain sebagaimana kebiasaan di sektenya dahulu) di kemudiannya dia tidak lagi seperti itu.   Dia harus mampu mendidik dirinya sendiri untuk menjadi orang yang tawadhdhu yang selalu berfikir bahwa kebaikan orang lain bisa jadi malah lebih banyak daripada kebaikan dirinya.   Kesalahan orang lain bisa jadi lebih sedikit daripada kesalahan yang pernah diperbuatnya.   Dia tidak lagi takut jika dipandang sebagai „orang biasa“ yang tidak mempunyai kebesaran apa-apa untuk dibanggakan, karena yang sebenarnya adalah memang demikian.

Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani رحمه الله mengajarkan :
“Lalu, jauhkanlah diri dari kebiasaan jahat hawa nafsu : bersifat angkuh, sombong, iri, dendam, tamak, dan semua penyakit lahir dan bathin.  Dengan menempuh langkah-langkah itu berarti telah melakukan pertaubatan yang sebenarnya dan mensucikan hati kita.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertobat dan menyukai orang yang mensucikan diri”. (Qs.Al-Baqarah : 222)
(Sirr Al-Asrar Fii Maa Yahtaju Ilaihi Al-Abrar, Syaikh Abdul-Qodir Al-Jailani)

Bukankah seseorang dianggap orang berilmu dan orang penting ketika di sektenya dahulu adalah hanya karena ditunjuk oleh pemimpin sektenya?
Bukankah sudah gamblang terlihat bahwa pemimpin sektenya ternyata adalah orang yang bathil?
Wallahul-musta’an…
Jika pola-pola lama masih lekat dalam dirinya maka sangatlah sulit pertaubatan membawa perbaikan yang utuh.

Orang yang pernah terlibat faham syubhat dan kemudian bertaubat, seharusnya melengkapi dirinya dengan ilmu yang benar dan bermanfaat bagi dirinya terlebih dahulu. Jika ilmunya masih sangat sedikit dan masih belum bisa menjadikan dirinya sebagai seorang muslim yang baik dan berakidah lurus, tidaklah patut seseorang langsung memegang peran dakwah seolah dirinya adalah ustadz atau ulama yang berwibawa yang mampu membimbing ummat dan mampu mengeluarkan fatwa-fatwa.
Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Ibnu Asy-Syihhi di atas, bahwa memang faktanya banyak orang yang baru saja bertaubat dari faham syubhat lalu langsung meloncat berdakwah.
Ilmu yang belum seberapa dan masih jauh dari kelayakan sebagai seorang ‚alim yang haq, tapi sudah ingin buru-buru “tampil” sebagai tokoh pejuang Islam melalui media dakwah. Hal seperti ini sebetulnya adalah karena faham syubhat sisa-sisa warisan sekte lamanya masih menempel erat di dalam hati dan akalnya. Berdalih sabda Nabi : “sampaikan daripadaku meskipun satu ayat..” atau perkataan : “orang yang berdakwah lebih baik daripada orang yang diam” dia masih menganggap bahwa semua orang (termasuk dirinya) harus jadi guru yang memimpin halaqoh-halaqoh ilmu dan menebar fatwa-fatwa ketika telah cukup bekal, yaitu bekal “bisa bicara”.   Dia masih merasa bahwa dirinya adalah sangat layak untuk masalah ini.
Hawa nafsunya masih belum bisa teratasi oleh ilmunya yang belum juga banyak.   Rasa takutnya kepada Allah jika sampai mengajarkan hal yang salah tentang Islam masih sangatlah minim, di mana hal ini justeru menggambarkan kadar ilmu yang sangat dangkal.

Ibnu Mas’ud رضي الله عنه mengatakan :
“Cukuplah dengan ilmu itu akan membuat takut kepada Allah dan cukuplah dengan kebodohan itu dapat mendurhakai Allah.” (Al-Mawarid Adh-Dham’an lii Durus Az-Zaman)

Berdakwah memerlukan ‘kelayakan’ agar tidak terjerumus ke dalam kesalahan yang sama sebagaimana kesalahan para guru yang bathil di sekte-sekte sempalan.   Sebelumnya mereka mengira bahwa mereka memperbuat sesuatu yang menyiarkan agama Allah, namun belakangan barulah terungkap bahwa sebetulnya mereka hanyalah merusak ajaran Islam di tengah-tengah manusia.   Mereka sama-sekali bukanlah orang-orang berilmu bahkan untuk dirinya sendiri, untuk keluarganya, apalagi untuk ummat Islam.   Mereka menganggap bahwa diri mereka sudah cukup layak dan baik hanyalah menurut anggapan mereka sendiri.   Keinginan menggebu untuk memperjuangkan Islam tidak dibarengi dengan ilmu yang cukup sehingga tidak menjadikan mereka sebagai orang-orang yang berakidah lurus, berakhlak mulia dan mempunyai rasa takut yang tinggi jika seandainya terjerumus ke dalam kesalahan.   Sifat-sifat mereka yang seperti ini sangat jauh dari sifat salafush-sholih (orang-orang sholih terdahulu).

Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Yazib bin Al-Muhallab ketika diangkat sebagai gubernur Khurasan, ia membuat pernyataan : “Beritahukanlah kepadaku tentang seorang laki-laki yang memiliki kepribadian yang luhur lagi sempurna”.
Beliau lalu dikenalkan kepada Abu Burdah Al-Asy’ariy. Ketika Sang Gubernur menemui Abu Burdah, ia mendapatinya sebagai seorang lelaki yang memiliki keistimewaan. Ketika Abu Burdah berbicara, ternyata apa yang ia dengar dari ucapannya lebih baik dari apa yang ia lihat dari penampilannya.
Sang Gubernur lantas berkata : “Aku akan menugaskanmu untuk urusan ini dan ini, yang termasuk dalam kekuasaanku”.
Abu Burdah meminta maaf karena tidak bisa menerimanya.  Namun Sang Gubernur tidak menerima alasannya.
Akhirnya Abu Bardah pun berkata : “Wahai Gubernur, sudikah anda mendengarkan apa yang disampaikan oleh ayahku?   Bahwa ia pernah mendengar Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda”.
Gubernur berkata, “Sampaikanlah”.
Abu Bardah berkata, “Sesungguhnya Ayahku (Abu Musa Al-‘Asy’ariy) telah mendengar Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :
“Barang siapa yang ditugaskan untuk memikul suatu pekerjaan yang dia tahu bahwa dirinya bukanlah orang yang ahli atau pantas dalam pekerjaan tersebut, bersiap-siaplah ia masuk ke dalam neraka…” (Siyar Al-A’lam An-Nubala’ 4/345)

Mempelajari ilmu dengan baik dalam rangka bertaubat adalah hal yang tidak bisa dikesampingkan, karena sesungguhnya seseorang yang terjerumus ke dalam bid’ah dan faham syubhat kebanyakannya adalah karena kurangnya ilmu.   Semoga hal ini tidak terulang untuk kedua kalinya.
Allahu A’lam.

4.Meninggalkan kesalahan

Seseorang yang bertaubat dari bid’ah dan faham syubhat, selayaknya bersegera meninggalkan amalan-amalan buruk yang dilakukannya lantaran faham-faham yang salah, lalu menggantinya dengan amalan-amalan perbaikan.   Faham takfir yang bathil yang berekses permusuhan dan perpecahan yang nyata harus segera dihentikan.
Sedangkan syari’at-syariat yang ditinggalkan karena faham syubhat seperti tidak sholat jum’at, menjauhi mesjid-mesjid, memutus silaturrahim dan sebagainya tidak boleh lagi diteruskan.

Hadits Rasulullah صلي الله عليه وسلم :
Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

إِنَ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعْ بِدْعَتَهُ

“Allah betul-betul akan menghalangi setiap pelaku bid’ah untuk bertaubat sampai dia meninggalkan bid’ahnya.”  (HR. Thabrani. Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shohih At-Targhib wa At-Tarhib no. 54)

Kesalahan-kesalahan akibat memahami faham syubhat harus ditinggalkan sebagai persyaratan taubat yang baik.   Setelah meninggalkan apa-apa yang tersalah, kemudian diamalkan apa-apa yang difahami benar.

Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata :
“Allah menggantikan mereka dari amal buruk dengan amal sholih, dari kesyirikan dengan keikhlasan, serta menggantikan mereka dari penyelewengan dengan kebersihan, dari kekufuran dengan keislaman”   (Tafsir Ibnu Katsir, juz 19 Qs.Al-Furqon:70)

Tidaklah seseorang benar dikatakan bertaubat jika masih terus melaksanakan apa-apa yang salah.   Dalam hal ini termasuk juga bermajelis dengan orang-orang yang salah di firqoh ahli bid’ah yang telah menjadi sumber-sumber faham syubhatnya.

Mufadhdhol bin Muhalhal as-Sa’di رحمه الله, ia berkata :
“Seandainya ahli bid’ah itu, jika engkau duduk bersamanya, lalu ia berbicara dengan bid’ahnya maka engkau akan mentahdzirnya dan lari darinya.   Akan tetapi ia berbicara kepadamu dengan hadits-hadits sunnah pada majelisnya yang tampak, lalu bid’ahnya masuk kepadamu, kemudian bid’ah itu mengenai hatimu, maka kapan bid’ah itu akan keluar dari hatimu?”
(Diriwayatkan Ibnu Baththoh dalam al-Ibanah al-Kubro)

Fudhoil bin ‘Iyadh رحمه الله berkata : “Permohonan ampun tanpa meninggalkan dosa/kesalahan adalah taubatnya para pendusta.”   (Tafsir Al-Qurthubi, 9/3)

Semoga Allah سبحانه و تعالي memberikan kekuatan untuk mampu meninggalkan kesalahan-kesalahan. Hanya Dialah Yang Maha Kuat, dan hanya Dialah Yang Maha Memberikan Kekuatan…

5.Menyesali kesalahan-kesalahan

Seseorang yang bertaubat yang telah mengetahui bid‘ah dan faham-faham syubhatnya tidak pernah lagi memandang bahwa itu adalah baik.   Dia menyesali pernah menganut itu semua.
Segala perbuatan-perbuatan keliru yang pernah diperbuat akibat faham yang salah tak cukup hanya ditinggalkan.   Semua perlu disesali, inilah taubat yang benar.

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

النَّدَمُ تَوْبَةٌ

“Menyesal adalah (inti) taubat.” (HR.Ibnu Majah, 4252)

Menyesal adalah mengakui bahwa dirinya dahulu bersalah dan merasa berat-hati atasnya.
Adalah dipertanyakan penyesalannya orang-orang yang keluar dari sebuah sekte sempalan kemudian justeru membanggakan dirinya ke sana dan ke mari bahwa dia dahulu adalah seorang “guru” di sekte sempalan itu.   Padahal seorang “guru” di sebuah sekte sempalan adalah gembong penyebar ajaran sesat yang kesalahan-kesalahannya malah lebih bertumpuk daripada seseorang yang bukan guru.   Allahu A’lam….

6.Tidak mengulangi kesalahan-kesalahan

Sesungguhnya Allah Maha Pengampun. Allah mengampuni semua dosa-dosa dengan kehendaknya (kecuali syirik akbar).

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa di bawah syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.”   (Qs.An-Nisaa’: 48, 116)

Akan tetapi seseorang yang bertaubat dengan baik adalah yang meninggalkan kesalahan-kesalahan dan tidak mengulanginya lagi.

Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi رحمه الله berkata : “Taubat itu diungkapkan oleh empat hal : beristighfar dengan lisan, melepaskannya dari tubuh, berjanji dalam hati untuk tidak mengerjakannya kembali, serta meninggalkan rekan-rekan yang buruk.”
(Madaarijus-Saalikiin : 1/ 309, 310. Cetakan As-Sunnah Al-Muhammadiyyah, tahqiq Syaikh Muhammad Hamid al-Faqi. Dan tafsir Ibnu Katsir : 4/ 391, 392).

7.Bertaubat sebelum terlambat

Secara umum, taubat dari kesalahan apapun (bid’ah atau maksiat) dilakukan dengan segera sebelum terlambat.   Bilakah taubat itu terlambat?

Taubat itu dikatakan terlambat apabila bertaubat setelah datang kepadanya kematian, atau setelah ruh (nyawa) berada di kerongkongan.
Allah سبحانه و تعالي berfirman :

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآَنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

“Dan tidaklah taubat itu diberikan kepada orang-orang yang mengerjakan kejahatan sampai ketika datang kematian kepada salah seorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati dalam keadaan kafir, bagi mereka telah Kami sediakan siksa yang pedih.”  (Qs.An-Nisaa’ : 18)

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

“Sesungguhnya Allah tetap menerima taubat seorang hamba sebelum nyawanya berada di kerongkongan.”  (HR. At-Tirmidzi, hadits hasan)

Taubat juga dikatakan terlambat apabila baru bertaubat setelah matahari terbit dari sebelah barat… Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِىءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِىءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya di waktu malam agar bertaubat orang yang berbuat salah pada siang hari.  Dan membentangkan tangan-Nya di waktu siang agar bertaubat orang yang berbuat salah pada malam hari, (hal ini terus terjadi) sampai terbit matahari dari barat.”  (HR. Muslim, no. 7165)

Adakah manusia yang mampu memastikan bahwa kematiannya masih lama dan kedatangan hari kiamat itu masih sangat jauh?

Semoga Allah menjauhkan dari kesalahan setelah berbuat kesalahan, yaitu mengulur-ulur waktu taubat sehingga terlambat.   Laa haula wa laa quwwata illa Billah…

Demikianlah, hanya sekelumit tentang taubat dari bid’ah dan faham syubhat.   Semoga tidak ada yang tersinggung dan marah atas beberapa point yang telah dikemukakan, karena sebetulnya apa yang tertuang di dalam tulisan ini adalah hanya nasehat seseorang yang dhoif, Al-Faqir, yang dikemukakannya terhadap dirinya sendiri…

للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَْيتَنا ، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمة ، إِنّكَ أنتَ الوَّهابُ
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
َاللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ وَالأَبْصَارِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

Al-Faqir, hamba Allah

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Pos ini dipublikasikan di belajar islam, belajar tafsir, Islam, kelompok Islam, Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

10 Balasan ke Taubat Dari Bid’ah Dan Faham Syubhat (2)

  1. hamba Alloh berkata:

    Bismillah, Alhamdulillah mdah2an dgn tulisan ini menyadarkan kt semua..Amiin. “Sesungguhnya yg takut pd Alloh diantara hamba2Nya hanyalah ulama” Faathir 28. Kl orang itu berilmu ada rasa takut pd Alloh ga mgkin membuat kelompok br (ktny fitrah berkelompok itu) dan sibuk nyari pengikut memanfaatkan situasi, dgn dalih hrs belajar kpd o/yg “kenal” ya hrsny dikenal ilmuny bkn orang yg dkenal mantan o/besar dsekte sempalan. jgn tertakjubkn yg dbcakn tfsir ib.katsir.tp pola fikirny firqoh..mdah2an menyadari

    • Manager berkata:

      Dakwah memang bukan dagang,
      Tapi kita bisa mengambil ilmu dari strategi pasar.
      Tak perlu melarang konsumen yg penginnya barang murah kualitas bawah.
      Gelar saja dagangan kualitas bagus.
      Biarlah konsumen yang memilih.
      Nanti juga akan tersaring,
      Hanya konsumen yg berselera tinggi yg akan mengerti barang bagus.
      Bahkan yg tidak mempermasalahkan harga.
      “Kita jual, mereka borong..”.(tidak sekedar beli)
      Maka disanalah keuntungan sang penjual.

  2. hamba Alloh berkata:

    Bismillah,Wakalimatulloohi hiyal’ulya (kalimat Alloh itulah yg tinggi)At taubah 40.Ketika si adik sdh terlepas dr cengkraman firqoh,dia berdo’a spy kakany terlepas jg dr firqoh kembali pd jln yg lurus,Alhamdulillah pd akhirny si kaka Alloh keluarkn,sminggu merasakn ikatan silaturahmi semakin erat,stlah itu si kaka diajak tmanny ktny belajar Qur’an lg menghubungkn sila ukhuwah brsama salah stu mantan yg dr firqoh,4 hari si kaka ga pulang2,dtengah2 itu dia sibuk tlp istri adikny to ngajak pd klompokny yg br

  3. hamba Alloh berkata:

    dia menghubungi orang2 yg keluar spy bljar k dia,ato diajak k “guruny” yg br,si adik ga mau msuk k lubang yg sm to ke2 kali,dia inginbelajar k yg benar2 ulama yg mengikut jln pr salafush sholeh(Rosul,pr sahabatny dan gnrasi brkutny)si kaka ga mau terima tlp si adik,terputuslah silaturahmi yg br dirasakn seminggu,ktika si adik mengajak kakany k majelis d mesjid yg dsampaikn o/ulama(yg berilmu) si kaka menolak”sy ga kenal amalan dia gmn”bkn bertany apa yg dsampaikn.ITULAH HEBATNYA DOKRINAN FIRQOH

  4. hamba Alloh berkata:

    ya Alloh tlg selamatkan aku dan keluargaku dr fitnah syubhat d bid’ah,luruskanlah jlnku,jauhkanlah aku d saudara2ku dr hawa nafsu kedudukan di mata manusia,ikhlaskanlah dlm mencari ilmu dan beramal to bisa mengabdi pdMu to mencari RidhoMu bkn to nyari pengikut to meraih kedudukan di mata manusia,Ampunilah kami ya Alloh,Tolonglah kami ya Alloh,bimbinglah kami kjlnMu yg lurus..Amiin

  5. Ida berkata:

    Lagu lama tehnik diplomasi ala FAH : shilla ukhuwah,
    eh gak tahunya cari pengikut & bikin grup baru yah? Wah, seru nih
    Pasti bossnya sekarang jadi org no 1 di dunia eh…di Indonesia…
    Ah, saya mah mending sibuk siap2 mo romadon. Kata ustad, Nabi ngajarin puasa2 sya’ban jelang romadon. Pisik, mental, moga2 OK…

  6. tauhidsyahadah berkata:

    Kami menghimbau berhati2 dalam membuat kesimpulan terhadap pihak tertentu,
    Ibn Taimiyyah råhimahullåh berkata,
    هذا مع أنى دائما ومن جالسنى يعلم ذلك منى انى من أعظم الناس نهيا عن أن ينسب معين الى تكفير وتفسيق ومعصية إلا اذا علم أنه قد قامت عليه الحجة الرسالية التى من خالفها كان كافرا تارة وفاسقا أخرى وعاصيا أخرى وانى أقرر أن الله قد غفر لهذه الأمة خطأها وذلك يعم الخطأ فى المسائل الخبرية القولية والمسائل العملية، وما زال السلف يتنازعون فى كثير من هذه المسائل ولم يشهد أحد منهم على أحد لا بكفر ولا بفسق ولا معصية
    “Demikianlah, sementara saya senantiasa—dan orang-orang yang bermajelis dengan saya mengetahui hal tersebut—bahwa saya termasuk orang yang paling keras melarang menisbatkan person tertentu kepada kekurufan, kefasiqan dan maksiat, kecuali apabila telah diketahui bahwa telah ditegakkan atas yang bersangkutan hujjah risalah, di mana orang yang menyelisihi hal itu terkadang menjadi kafir, atau terkadang menjadi fasiq, atau terkadang menjadi pelaku maksiat.

    Demikianlah, ketika seorang memvonis saudaranya sesama muslim dengan penyimpangan dalam hal agama, terlebih lagi dengan kekufuran, maka ia telah melakukan suatu pelecehan terberat, di mana jika vonis tersebut tidak benar maka akan kembali yang pengucapnya.
    Kalaupun hendak memvonis orang lain sebagai ahli bid`ah, misalnya, maka hendaklah yang bersangkutan benar-benar mengetahui syarat dan batasan bid`ah serta ahli bid`ah (istīfā’ asy-syurūth wa intifā’ al-mawāni`), juga pertimbangan eksternal lainnya, semisal pertimbangan maslahat dan mudharat dalam pengambilan sikap kepada ahli bid`ah, dan bukan hanya sekedar ikut-ikutan kelompok atau ustadz semata. Sebab segala pendengaran, penglihatan dan hati akan dimintai pertanggungjawaban, terlebih lagi menyangkut hak dan kehormatan orang lain.

    cuplikan dari : http://abuzuhriy.com/larangan-sembarangan-memvonis-seseorang-tertentu-dengan-vonis-kafir-atau-ahlul-bidah/

  7. penuntut ilmu berkata:

    gak boleh sembarangan ngecap kafir n gak boleh sembarangan jg bilang ahli bidah,
    Berkata al-Imam al-Albaniy råhimahullåh,
    “Tidak setiap orang yang jatuh ke dalam kebid’ahan maka (dengan serta merta) kebid’ahan jatuh atasnya (sehingga ia menjadi ahlul bid’ah); dan tidak setiap orang yang jatuh ke dalam kekufuran maka (dengan serta merta) kekufuran jatuh atasnya (sehingga ia menjadi kafir).”

    di sisi lain gak boleh sembarangan jg dg Islam, jauhi yg mngarah ke bidah,
    Ciri-ciri ahlul hawa atau ahlul bid’ah
    oleh : Syaikh Ibrahim ar-Ruhailiy Hafizhåhullåh

    1.BERPECAH BELAH

    Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa syiar ahli bidah adalah perpecahan. Oleh karena itu al-Firqatun Najiah (golongan yang selamat) disifati dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka adalah jumhur dan kelompok terbesar umat ini. Adapun kelompok lainnya maka mereka adalah orang-orang yang nyleneh, berpecah belah, bidah dan pengikut hawa nafsu. Bahkan terkadang di antara firqah-firqah itu amat sedikit dan syiar firqah-firqah ini ialah menyelisihi al-Quan, as-Sunnah serta ijma.

    2.MENGIKUT HAWA NAFSU
    3.MENGIKUTI AYAT-AYAT YG SAMAR

    Rasulullah berkata,
    “Bila engkau melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutashyabihat maka merekalah yang Allah namakan sebagai orang-orang yang harus dijauhi.”
    (HR. Bukhari Muslim)

    Dari Amiril Mukminin Umar bin Al-Khathab, bahwa ia berkata,
    “Akan datang manusia mendebat kalian dengan ayat-ayat mutaysabihat maka balaslah mereka dengan sunah-sunnah karena Ahlus Sunnah lebih mengetahui akan kitabullah.”

    4.MEMPERTENTANGKAN AS-SUNNAH DENGAN AL-QUR’AN

    Al-Imam Al-Barbahari mengatakan:
    “Bila kamu melihat seorang mencela hadits atau menolak atsar /hadits atau menginginkan selain hadits, maka curigailah keislamnnya dan jangan ragu-ragu bahwa dia adalah ahli bidah(pengikut hawa nafsu) Beliau berkata:Bila kamu mendengar seorang dibacakan hadits di hadapannya tetapi ia tidak menginginkannya dan ia hanya mengingnkan al-Quran maka janganlah kamu ragu bahwa dia seorang yang telah dikuasai oleh kezindikan (kemunafikan). Berdirilah dari sisinya dan tinggalkanlah ia!”

    5.MEMBENCI AHLI HADITS
    6.MENGGELARI AHLUS-SUNNAH DGN TUJUAN MERENDAHKAN MEREKA
    7.TIDAK BERPEGANG DGN MAZHAB SALAF
    8.MEMVONIS KAFIR ORANG YG MENYELISIHI MEREKA TANPA (BUKTI DAN) HUJJAH (YG NYATA)

    Syaikh Abdul Lathif bin Abdur Rahman Alu Syaikh ditanya tentang orang yang menvonis kafir sebagian golongan yang menyelisihinya. Beliau menjawab,
    “Jawabannya, Saya tidak mengetahui sandaran ucapan itu. Berani memvonis kafir golongan lain yang menampakkan keislaman tanpa dasar syari dan keterangan yang akurat menyeilisihi manhaj para pakar ilmu agama dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Jalan ini adalah jalannya ahlul bidah dan orang-orang sesat.
    [Diambil dari Mauqif Ahlus Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa wal Bid’ah karya Dr. Ibrahim Ruhaily Hafizhåhullåh]

    Diringkas dari : http://abuzuhriy.com/ciri-ciri-ahlul-ahwa-pengekor-hawa-nafsu-dan-ahlul-bidah-pemimpinpenyeru-kepada-kebidahan/

  8. Nisa berkata:

    @Hamba Alloh, rasanya ana kenal sm anti, tp ‘afwan jika ana salah, soalnya ana jg mmiliki kasus yg serupa ttg silah ukhuwah tsb. Ana hnya ingin mendo’akan smg Alloh mmberikan kesabaran & kekuatan dlm menjalani ujian dari-Nya untuk anti, n smoga kt ttp kokoh dlm mntuntut ilmu yg haq ssuai dgn ajaran para salafush shaleh… amiin…

    setelah ana bertaubat dgn bersungguh-sungguh sprti langkah2 tsb diatas, dlm hal menuntut ilmu ana merasakan sedikit ‘kewalahan’ mempelajari ilmu yg ternyata sangat-sangat bnyk n luas, ana baru sadar btapa ‘bodoh’nya ana… tp sungguh ana sgt bersyukur ats besarnya nikmat Alloh yg diberikan-Nya pd ana dgn dtgnya ilmu yg haq tsb, shg dgn ilmu tsb ana bs islah dr kesalahan2 n trs mndekat pd Alloh Subhanahu Wa Ta’alaa shg nyata cinta yg bersangatan pd-Nya, rindu perjumpaan dengan-Nya n mengharap wajah-Nya…

    semoga smua tmn2 yg tlh Alloh berikan hidayah bs kmbali mrasakan manisnya iman, merasakan bimbingan-Nya kpd al-haq dgn berserah diri n berharap hnya kpd-Nya.

  9. Abu Haidar berkata:

    Peringkat-peringkat Ukhuwah dalam Islam
    1. Ta’aruf : saling kenal mengenal sesama manusia (Qs. 49:13)
    2. Ta’aluf : bersatunya seorang muslim dengan muslim lainnya. (Qs. 8:63)
    Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya bahwa Rasulullah SAW bersabda:
    “Orang mukmin itu mudah disatukan, tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak bisa menyatu
    dan tidak bisa dipersatukan.” [imam Ahmad dalam Musnadnya]
    3. Tafahum : saling memahami. Adapun prinsip-prinsip yang harus dipahami adalah:
    1. Berpegang teguh kepada aturan Allah SWT : menjadikan Allah sebagai sandaran.
    2. Berpegang teguh kepada tali Allah yaitu AlQur’an.
    3. Tolong menolong dalam menta’ati Allah dan Rasul-Nya.
    4. Berupaya menghilangkan sebab-sebab timbulnya kebencian, permusuhan dan perpecahan.
    4. Ri’ayah dan Tafaqud : hendaklah seorang muslim memperhatikan keadaan saudaranya agar ia
    bisa bersegera memberikan pertolongan sebelum saudaranya meminta.
    5. Ta’awun ; saling membantu dan tolong menolong. (Qs. 5:2)
    Sabda Rasulullah SAW: “Perjalanan seorang diantara kamu untuk memenuhi hajat saudaranya
    dan sehingga terpenuhi hajatnya adalah lebih baik dari ber’tikaf sepuluh tahun”. [HR. Ath
    Thabrani dan Al Baihaqi dan al Hakim menshahihkannya]
    6. Tanashur : semakna dengan ta’awun tetapi memiliki pengertian lebih dalam.
    Tercakup di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra, ia berkata,
    Rasulullah bersabda: “Tolonglah saudaramu yang menzhalimi dan yang dizhalimi. Mereka
    berkata : Wahai Rasulullah, telah menjadi kewajiban kami menolong orang yang terzhalimi,
    tetapi bagaimanakah cara kami menolong orang yang zhalim? Beliau bersabda: Tolonglah dia
    dengan mencegahnya men-zhalimi (menindas) orang lain.” [HR. al Bukhari, no:2264]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s