Taubat Dari Bid’ah Dan Faham Syubhat (1)

بسم الله الرحمن الرحيم
إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلاَّ الله وحده لا شريك له وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله. فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار .

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم Wa Ba’du :

Allah سبحانه و تعالي berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan nabi dan orang-orang mukmin yang bersamanya.” (Qs.At-Tahrim : 8)

Manusia adalah makhluk yang senantiasa mempunyai kesalahan. Adakalanya seorang manusia sangat tidak ingin membuat kesalahan, akan tetapi tetap saja ada kesalahan-kesalahannya, besar atau kecil, sedikit ataupun banyak.

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam pasti memiliki kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang mau bertaubat.” (HR Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam al Misykah dan shahih Sunan Ibni Majah)

Orang-orang yang tergelincir ke dalam bid’ah dan faham syubhat

Bid’ah dan faham syubhat, adalah lembah lain tempat terjerumusnya manusia ke dalam kubangan kesalahan dan dosa.  Ketika seseorang terjerumus ke dalam bid’ah dan faham syubhat, banyak aturan dan ajaran Islam yang dilanggar bahkan mungkin tak terasa telah didustakannya.
Orang-orang yang telah terjerumus ke dalam bid’ah dan faham syubhat, mempunyai kecenderungan lebih sulit bertaubat dari kesalahan-kesalahannya daripada orang-orang yang terjerumus ke dalam lembah maksiat-syahwat.   Telah disinggung di tulisan-tulisan lainnya, bahwa ini adalah bentuk kesalahan yang lebih disukai iblis karena seseorang yang terlibat dalam kesalahan bentuk ini (bid’ah dan faham syubhat) tidak merasakan sama-sekali bahwa dirinya sedang berada di dalam kesalahan, justeru dia menganggap sedang berada di atas petunjuk dan jalan yang benar.   Berapa banyak orang yang merasa bahwa dia sedang mengikuti ajaran ayat-ayat Allah dalam Al-Qur’an padahal sesungguhnya dia hanyalah mengikuti ta’wil-ta’wil pemimpinnya/guru-gurunya saja yang diada-adakan sendiri.   Maka sudah berapa banyak orang yang merasa sedang menolong agama Allah, padahal sesungguhnya dia sedang merusak agama Allah.   Sudah berapa banyak orang yang merasa sedang berbuat sesuatu yang mendatangkan keridhoan Allah, padahal sesungguhnya dia sedang berbuat sesuatu yang mendatangkan kemurkaan Allah.   Dan sudah berapa banyak pula orang yang merasa bahwa dirinya adalah seorang da’i penyeru jalan yang lurus, padahal sesungguhnya dia adalah seorang da’i penyeru kesesatan…

Orang-orang yang bisa lepas dari bid’ah dan faham syubhat sungguh hanyalah orang-orang tertentu yang telah Allah kehendaki kebaikan bagi dirinya.   Tidak ada seorangpun yang bisa lolos dari cengkraman bid’ah dan faham syubhat kecuali semata-mata atas pertolongan Allah سبحانه و تعالي Yang Maha Kuat dan Maha Penyayang kepada hamba-hambanya yang mempunyai kejujuran dan keikhlasan.

Kebanyakan orang yang terjerumus ke dalam bid’ah dan faham syubhat adalah orang-orang awam yang memang tidak mempunyai dasar ilmu ke-Islaman yang kuat.   Akan tetapi ternyata tidak selalu demikian, karena ada juga orang-orang pandai berilmu yang sempat berada dalam kesalahan bentuk ini.
Dalam sejarah telah tercatat nama Abul Hasan Al-Asy’ari رحمه الله adalah nama seorang Imam yang sempat berkecimpung di dalam faham bid’ah mu’tazilah cukup lama.
Ibnu Katsir رحمه الله mengatakan : “Sesungguhnya Abul Hasan Al-Asy’ari awalnya adalah seorang Mu’tazilah kemudian bertaubat dari pemikiran Mu’tazilah di Bashrah di atas mimbar, kemudian beliau tampakkan aib-aib dan kebobrokan pemikiran mu’tazilah.” (Al-Bidayah wan-Nihayah 11/187)
Seorang Imam yang lain yang sempat terpuruk dalam faham bid’ah adalah Al-Ghozali رحمه الله , di mana beliau sempat menjadi seorang tokoh filsuf-sufi yang dikenal banyak orang.
Abu Bakar bin Al-Arabi رحمه الله yang hidup semasa dengan Al-Ghozali berkata : “Guru kami Abu Hamid (Al-Ghozali) menyelami filsafat kemudian ia ingin keluar darinya, namun ia tidak bisa” (Muwafaqah Shahih Al-Manqul li Sharih Al-Ma’qul, Ibnu Taimiyah, 1/94, cetakan Kairo).
Kitabnya Ihya’ Ulumuddiin sangat terkenal namun juga banyak dikritik oleh para ulama yang lain.
Ibnul-Jauzi رحمه الله berkata : “Ketahuilah bahwasanya dalam kitab Al Ihya’ ini terdapat kerusakan-kerusakan yang hanya dapat diketahui oleh para ulama. Yang terkecil dari kerusakan tersebut adalah terdapatnya hadits-hadits yang bathil, maudlu’ dan mauquf kemudian ia menjadikannya marfu’. Dan ia hanya menukil sebagaimana yang telah ia terima, bukan karena ia (sengaja) berdusta dengannya. Tidak sepantasnya seseorang beribadah dengan hadits maudlu’ (palsu) dan tertipu dengan lafazh yang dibuat-buat.” (Minhajul-Qaashidin)
Ibnu Taimiyah رحمه الله mengatakan : “Perkataannya di Ihya’ Ulumuddiin pada umumnya baik.  Akan tetapi di dalamnya terdapat isi yang merusak, berupa filsafat, ilmu kalam, cerita bohong sufiyah dan hadits-hadits palsu.” (Majmu Fatawa 6/54).

Akan tetapi Al-Ghozali di akhir hidupnya kemudian menemukan pentingnya arti hadits (yang shohih), karena itu ia berusaha keras mengejar apa yang terlewatkan yaitu dengan mempelajari hadits-hadits yang shohih secara seksama.   Namun kematian menjemputnya sebelum ia dapat mewujudkan tekadnya, dan ia wafat ketika sibuk mempelajari kitab Shohih Bukhori.

Demikianlah dua Imam terkenal yang sempat menganut faham bid’ah yang di penghujung hidupnya mereka kemudian menyadari dan bertaubat dari kekeliruan faham yang dianutnya.   Mereka adalah orang-orang besar yang mempunyai jiwa yang besar pula, yang berani mengkoreksi diri mereka sendiri ketika datang bukti-bukti bahwa mereka dalam keadaan yang salah.
Mereka adalah orang-orang panutan yang tidak pernah takut kehilangan pengikut, karena pada dasarnya mereka menjadi seorang hamba Allah yang dianugerahi kecerdasan dan kemampuan menyerap ilmu yang tinggi bukanlah semata-mata untuk mempunyai pengikut-pengikut belaka.
Mereka adalah ulama besar yang hidup bukan untuk mencari dan mempunyai pengikut.
Ada atau tidak ada pengikut bagi mereka bukanlah hal yang penting, akan tetapi kebenaran-lah yang harus dijunjung tinggi di mana kaitannya adalah dengan pertanggung-jawaban secara pribadi di hadapan Allah kelak pada hari kiamat.

إِنَّماَ يَخْشَى اللهَ مِنْ عِباَدِهِ الْعُلَمآءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah Ulama (orang-orang yang (benar) berilmu)” (Qs.Faathir : 28)

Sangat jauh dari yang sedemikian adalah sifat dari sebagian orang-orang yang memimpin di dalam sekte-sekte sempalan lokal.   Mereka hanyalah menjadi pemimpin-pemimpin segelintir orang saja (itupun orang-orang yang bingung) akan tetapi tampak begitu silaunya mereka dengan kepemimpinan yang tidak seberapa itu sehingga sangat “ngotot” dengan alibi-alibinya dalam mempertahankan faham bid’ahnya yang sesat.   Keterangan-keterangan yang haq yang datang dari ahli tafsir dan ahlul-hadits ulama salaf mereka bantah dengan terang-terangan.   Mereka sangat taat dan bertaklid total kepada ‘Imam besar’ pemimpin sekte mereka yang telah mengangkat mereka menjadi guru-guru, pemimpin-pemimpin wilayah (meskipun secara fiktif/bohong-bohongan), dan yang mengizinkan mereka menikahi perempuan-perempuan secara bathil (dengan wali-nikah yang tidak haq) dan yang memberikan mereka pangkat-pangkat kehormatan semu di dalam lingkungan sekte mereka.   Alangkah sempitnya alam pikiran mereka itu.   Tidakkah mereka mau untuk sejenak berfikir dan membandingkan antara pemimpin sekte mereka atau diri mereka sendiri dengan Imam-Imam berjiwa besar semisal Al-Asy’ari dan Al-Ghozali? Apakah sesungguhnya yang membuat mereka begitu antusias mengkesampingkan hujjah-hujjah yang datang kepada mereka dengan menutup mata dan menutup telinga?
Apakah karena kekuasaan atas segelintir pengikut-pengikut?
Apakah mereka memang tidak bisa menerima resiko bahwa apabila mereka membuka diri dengan hujjah-hujjah yang datang kepada mereka dan kemudian mereka jadi mengkoreksi faham mereka yang salah, maka mereka akan menjadi “orang-orang biasa”, bukan lagi pemimpin-pemimpin atau guru-guru yang dihormati oleh para anak buahnya?
Subhanallah…
Ternyata benarlah apa yang dikatakan Ibnul Qoyyim رحمه الله , beliau mengatakan : “Keinginan untuk menjadi pemimpin lebih memabukkan daripada mabuk yang diakibatkan oleh gelas-gelas arak…” (Al-Fawaa’id).

Perjalanan hidup Imam Al-Asy’ari dan Imam Al-Ghozali sesungguhnya telah memberikan pelajaran lain bagi banyak orang (termasuk kita), bahwa sepeninggal Rasulullah صلي الله عليه وسلم dan para sahabatnya sangat sulit untuk mengatakan : “Kita saat ini sudah berada pada faham yang pasti paling benar”.
Salah seorang Imam madzhab besar, Imam Abu Hanifah رحمه الله bahkan mengatakan kepada seorang muridnya : “Wahai Ya’qub (Abu Yusuf), celakalah kamu ! Janganlah kamu tulis semua yang kamu dengar dariku. Hari ini aku berpendapat demikian, tapi hari esok aku meninggalkannya. Besok aku berpendapat demikian, tapi hari berikutnya aku meninggalkannya” (Shifaatu sholati an-Nabiyyi, Syaikh Nashiruddin Al-Albani).

Seorang yang merasa sebagai “guru” seharusnya tetap sadar bahwa berpegang kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah adalah yang utama dan dia mungkin saja bisa berubah jika memang harus demikian yang dilakukan, yaitu ketika datang keterangan-keterangan hujjah yang lebih shohih dan lebih kuat.

Seorang murid juga seharusnya mengerti bahwa gurunya bukanlah ‘Tuhan’ bahkan seorang Nabi pun bukan, maka tidaklah pantas ia bertaklid-buta kepadanya.   Di sisi lain ia juga seharusnya mengerti bahwa gurunya hanyalah seorang manusia yang bisa saja tersalah dan kemudian berusaha memperbaiki kesalahannya.   Ketika sang guru kemudian menyadari kesalahan faham yang dianutnya dan kemudian berusaha untuk memperbaikinya, sang murid sepatutnya bersikap objektif, teliti, dan tidak buru-buru mengatakan : “Dulu kamu yang mengajarkan saya begini, sekarang kamu juga yang mengajarkan saya untuk meninggalkan ini… Apakah kamu hendak menjilat ludah sendiri?”

Adakah murid dari Imam Al-Asy’ari yang berkata sedemikian ketika sang Imam menyatakan dirinya keluar dari faham lamanya yang sesat?

Langkah-langkah taubat dari bid’ah dan faham syubhat yang baik

1.Meluruskan niat
Sangatlah beruntung orang-orang yang menyadari kekeliruan faham-faham syubhatnya lalu mampu mengkesampingkan hawa nafsunya dan kemudian bertaubat.   Orang-orang yang bertaubat adalah orang-orang yang memang beruntung.   Allah سبحانه و تعالي berfirman :

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (Qs.An-Nuur : 31)

Seorang hamba yang bertaubat dari kesalahan-kesalahannya, memulai langkah taubatnya dengan mengikhlaskan semata-mata karena Allah.   Apa yang ia lakukan (meninggalkan faham-faham lamanya yang salah) bukanlah karena memperturutkan kekecewaan, bukan karena kebencian terhadap orang-orang di dalam sektenya, bukan karena hendak mengejar dunia, dan bukan juga karena lari dari permasalahan.   Ia keluar dari fahamnya yang lama dan meninggalkan sektenya adalah karena takut kepada Allah dan mengharapkan ampunan serta ridhoNya, setelah gamblang baginya kesesatan-kesesatan di dalam sektenya itu.

Petikan hadits Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

…. إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرىء ما نوى ….

“…Sesungguhnya amal perbuatan tergantung kepada niatnya, dan bagi seseorang tergantung apa yang ia niatkan…” (HR.Bukhori-Muslim)

Ibnu Rajab Al-Hambali رحمه الله berkata : “… dan ada kemungkinan taqdir (makna secara sempurna) dari sabda beliau, “setiap amalan tergantung dengan niat-niatnya,” adalah bahwa setiap amalan –syah atau rusaknya, diterima atau ditolaknya, berpahala atau tidak berpahala- ditentukan oleh niat-niatnya, sehingga hadits ini menerangkan tentang hukum suatu amalan secara syar’i.”  (Fathul-Baari 1/13)

Ibnu Daqiqil ‘Ied رحمه الله berkata : “(Lafadz ini) mengharuskan bahwa barangsiapa yang meniatkan sesuatu maka itu yang dia dapatkan dan semua yang dia tidak niatkan maka dia tidak akan mendapatkannya.”  (Ihkamul-Ahkam 1/10)

Waki’ رحمه الله berkata:
“Tidaklah kita hidup melainkan dalam suatu tutupan.   Andaikata tutupan tersebut disingkap, niscaya akan memperlihatkan suatu perkara yang besar, yakni kejujuran niat.”

(bersambung)

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Pos ini dipublikasikan di belajar islam, belajar tafsir, Islam, kelompok Islam, Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Taubat Dari Bid’ah Dan Faham Syubhat (1)

  1. hamba Alloh berkata:

    Bismillah,Subhanalloh..Alhamdulillah kami bisa terlepas dr fitnah syubhat d bid’ah,kami bersyukur pd Alloh yg tlh mengeluarkan kami dr cengkraman mrk..mdah2 Alloh slalu membimbing kita k jln yg lurus yg dRidhoiNy..Aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s