Menjauhkan Dari Al-Qur’an Dengan Mengajak Kepada Al-Qur’an

بسم الله الرحمن الرحيم
إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلاَّ الله وحده لا شريك له وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله. فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار .

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah
صلي الله عليه وسلم Wa Ba’du :

Allah سبحانه و تعالي memberitakan tentang perkataan Iblis di dalam Al-Qur’an :

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“Iblis berkata : Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya
kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlish di antara mereka” (Qs.Shaad : 82-83)

Pernahkah anda menyaksikan tentang suatu kaum yang giat menyerukan untuk berpegang kepada Al-Qur’an, namun setelah orang-orang datang mengikuti seruannya, orang-orang tersebut justeru diajak untuk meninggalkan ajaran-ajaran Al-Qur’an sedikit demi sedikit tanpa mereka sadari…..

Telah banyak upaya-upaya syetan untuk menyesatkan kaum muslimin dari ajaran agamanya yang haq yang dianutnya.  Mereka berusaha memalingkan orang-orang Islam dari agamanya dengan menggulirkan berbagai macam fitnah syahwat dan fitnah syubhat yang hebat.  Banyak orang yang telah terjebak.
Fitnah syahwat melalui harta dan wanita bukanlah sesuatu yang sulit dilihat kejadiannya, justeru menjadi fenomena umum yang seringkali malah sulit untuk menemukan di manakah fenomena ini tidak terjadi.
Fitnah syubhat pun banyak terjadi.  Kemunculan kelompok-kelompok berfaham menyimpang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah cukup marak yang menandai fenomena ini.
Imam Mahdi palsu, Nabi-Nabi palsu, hingga titisan malaikat palsu muncul dan ternyata tetap mempunyai pengikut-pengikut tersendiri, meskipun hanya berjumlah sedikit.
Namun yang seperti ini tentu saja tidak terlalu mengecoh bagi kebanyakan kaum muslimin lantaran keganjilan yang terlampau menyolok menurut ukuran logika sehat.  Orang yang jarang sholat dan tidak berpuasa di bulan Ramadhan saja umumnya akan langsung curiga jika ada seseorang mengaku sebagai Nabi baru atau mengaku sebagai Imam Al Mahdi yang telah ditentukan Tuhan.  Begitulah.

Namun akan lain halnya apabila ada seseorang yang mengatakan :

“Al-Qur’an adalah pedoman kaum muslimin, Al-Qur’an adalah petunjuk hidup, maka berpeganglah hanya kepada Al-Qur’an, yang terjaga kemurniannya dari sejak diturunkannya hingga hari kiamat.”

Perkataan-perkataan ini adalah perkataan-perkataan yang haq.   Tidak ada seorang muslimpun yang akan membantahnya, semua orang Islam pasti akan menyepakatinya.

Berangkat dari sini, seorang orientalis Yahudi bernama Prof.Dr.Goldziher telah mendalami Islamologi (seluk beluk pengetahuan yang menyangkut tentang Islam).   Ia adalah seorang sahabat dekat Christian Snouck Hogronye.   Ia kemudian mendapatkan beasiswa untuk belajar di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir pada tahun 1873 hingga 1874M.   Dengan pengetahuan yang telah didapatkannya, ia kemudian mencetuskan ide ‘hanya berpegang kepada Al-Qur’an’, ide yang kemudian terkenal sebagai faham ingkar-Sunnah.
Idenya ini didasarkan pada pengetahuannya bahwa Al-Qur’an tidak akan ditolak oleh kaum muslimin yang manapun.   Mulailah Goldziher menyebarkan teori-teori pemahamannya dan banyak di antara orang-orang Islam yang tertarik dan lalu menjadi murid-muridnya.   Ia bersama dengan pendukung-pendukungnya mendefinisikan fahamnya sebagai ‘pembaharuan Islam’.

Di India, pada tahun 1899M seorang delegasi kristenisasi Inggris (India merupakan bagian wilayah koloni Inggris pada waktu itu) bernama Maulawi Abdullah Cakralawi menulis sebuah tafsir Al-Qur’an dengan penolakan terhadap As-Sunnah (hadits-hadits) yang tegas.
Faham Al-Qur’an sebagai satu-satunya pegangan dengan penolakan terhadap As-Sunnah yang dikemukakannya banyak mempunyai pengikut.   Logika yang dimainkannya adalah bahwa Al-Qur’an adalah Kitab terlengkap yang telah cukup menjelaskan segala sesuatu. Kelompok ingkar-sunnah Cakralawi kemudian dikenal dengan nama “Ahludz-dzikri wal-Qur’an”.
Cakralawi adalah tokoh terdepan ingkar-sunnah India, bahkan namanyapun mendunia.   Ia adalah orang yang brilian dan religius, namun sesungguhnya ia adalah orang bayaran Inggris yang ditugasi mengacak-acak Islam dari dalam dengan menyebarkan faham sesatnya itu.

Ini hanyalah dua dari sekian rentetan kejadian upaya pengrusakan terhadap Islam melalui isu ajaran berpegang dengan Al-Qur’an.   Selain beberapa terdapat di India, tercatat pula dalam sejarah terjadi di Mesir, Syria, Kuwait, Yordania, Iran dan Libya.

Bagaimana dengan Indonesia?

Telah tercatat nama Abdul Rahman Pedurenan dan Irham Sutarto sebagai tokoh-tokoh penganut faham ingkar-Sunnah di Indonesia.  Selain mereka juga di antaranya adalah Dalimi Lubis, H.Sanwani dan yang paling terkenal karena banyak menulis buku adalah Nazwar Syamsu.
Di Jakarta ada kelompok pengajian yang disebut “kelompok Qur’ani” dan di Yogyakarta ada kelompok “faham Qur’ani”.   Perhatikanlah bahwa mereka mengusung-usung nama Qur’an, seakan mereka adalah pembela-pembela ajaran Al-Qur’an yang sebenarnya.
Tentang mereka lebih detil dan jelas bisa diikuti dalam : Aliran dan Faham Sesat di Indoesia, Hartono Ahmad Jaiz (Jakarta : Pustaka al-Kautsar),  Capita Selekta Aliran-Aliran Sempalan di Indonesia, Amin Jamaluddin (Jakarta : LPPI).

‘Furqon’ yang menjauhkan dari ajaran Al-Qur’an

Apa yang dilakukan oleh Goldziher dan Cakralawi sebenarnya adalah upaya untuk merusak Islam serta menjauhkan orang-orang Islam dari ajaran agamanya sendiri.  Isu berpegang kepada kitab Suci memang merupakan trik samar yang efektif bisa mengecoh. Al-Qur’an telah dijadikan alat untuk menjauhkan orang-orang Islam dari ajaran Al-Qur’an itu sendiri.   Para pengikut Goldziher dan Cakralawi tidak menyadari apa yang sedang terjadi, mereka hanyalah menganggap bahwa beliau-beliau ini adalah orang-orang yang baik yang mempunyai visi tentang Islam yang jauh ke depan.
Inilah upaya yang dihembuskan Iblis untuk menyesatkan manusia dengan tipu daya melalui perantaraan para pengikut hawa nafsu, dari kalangan orang-orang kafir maupun dari kalangan orang-orang Islam pembuat bid’ah yang sengaja atau tanpa sengaja (akibat kebodohan, kesombongan atau kerendahan imannya terhadap Rasulullah صلي الله عليه وسلم ) tidak menyadari bahwa ia telah mendaftarkan dirinya sebagai kaki-tangan syetan perusak agama.

Orang-orang awam yang menjadi pengikut-pengikut mereka terkesima dengan gaya mereka yang senantiasa mengemukakan ayat-ayat Allah untuk menanggapi dan menjelaskan segala permasalahan.   Mereka tampak seolah sebagai “ahli Al-Qur’an”.
Sedikit-sedikit ayat…sedikit-sedikit ayat….segala permasalahan selalu dijawabnya semata-mata dengan Al-Qur’an.
Goldziher dan Cakralawi adalah perintis dalam pola-pola penyampaian seperti ini.

Di Indonesia, sebagian kelompok penganut faham takfir seperti sekte NII KW-9 dan sekte abu hamzah meneruskan ide-ide dari para pencetus ini.   Mereka menggunakan pola-pola yang sama pula, yaitu menggembar-gemborkan berpegang teguh kepada Al-Qur’an.
Di tangan mereka seolah benar bahwa Al-Qur’an menjelaskan segala-sesuatu.  Padahal orang-orang awam yang mereka pengaruhi sedang ditipu dengan ta’wil-ta’wil ayat yang dikarang-karang sendiri oleh mereka dengan tanpa ilmu yang haq.  Orang-orang awam yang telah termakan tipuan mereka secara lengkap kemudian akan berkata : “Ternyata Al-Qur’an itu sudah jelas.  Kriteria orang beriman, orang kafir, orang munafik, ternyata sudah jelas semuanya diterangkan dalam Al-Qur’an…”
Padahal jelasnya mereka itu hanyalah berdasar zhohir-zhohir ayat tanpa mengerti tafsir ayat-ayat itu secara utuh dan menyeluruh dari Rasul, sahabat dan para ulama Islam.. Mereka hanya dibacakan ta’wil-ta’wil secara dangkal oleh guru-guru mereka yang tiada berilmu dan bukan pengikut para ulama.

Setelah beberapa fase mengikuti ajaran-ajaran yang disampaikan, orang-orang awam itu lalu merasa bahwa mereka telah punya ‘furqon’ dari Al-Qur’an.   Mereka merasa bahwa mereka telah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah.   Dengan ‘furqonan’ yang ada pada mereka ini kemudian mulailah mereka mengkafirkan ibunya, bapaknya, sanak keluarganya, tetangganya bahkan semua orang di seluruh dunia yang tidak sefaham dengan kelompoknya.   Dengan ‘furqonan’ dari Al-Qur’an itu mereka kemudian memutus silaturrahim dengan orang-tua dan keluarganya, meninggalkan sholat jum’at (sebagian lagi malah meninggalkan sholat lima waktu), menjauhi masjid-masjid, mencela para ulama Islam, mencaci dan menjelek-jelekkan orang Islam yang lain, mengambil sikap permusuhan hingga menghalalkan harta dan darah sesama kaum muslimin.

Dengan ‘furqonan’ yang telah mereka dapat karena berpegang teguh kepada Al-Qur’an mereka akhirnya malah menjadi orang-orang yang terang-terangan melanggar banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang mereka pegang dan mereka usung-usung sendiri….
Akan tetapi senantiasa datang ‘bisikan’ yang menguatkan mereka agar terus seperti itu dari dalam ruang lingkup internal mereka, dari depan, belakang, kiri, dan kanan : “Kalian adalah orang-orang yang mulia.  Di luar kalian adalah orang-orang yang diliputi kehinaan di manapun mereka berada…”
Mereka kemudian menjadi orang-orang yang berjalan dengan sombong di muka bumi, menolak kebenaran dari yang lain dan merendahkan manusia dengan perendahan yang nyata.
Dan ayat-ayat yang mereka langgar pun ternyata bukanlah ayat-ayat yang beresiko ringan, tetapi ayat-ayat yang beresiko turunnya adzab Allah di dunia dan ancaman adzab Allah yang besar di hari kiamat.   A’udzubillah, tsumma a’udzubillah….

Sejak masa Rasulullah, orang-orang yang berusaha menjauhkan manusia dari Al-Qur’an memang telah ada, yaitu orang-orang yang berusaha menjauhkan manusia dari Rasulullah sebagai figur penerima wahyu dan sebagai figur penjabar penerapan ajaran-ajaran Al-Qur’an yang sebenarnya.   Perhatikan ayat yang berikut :

Allah سبحانه و تعالي berfirman :

وَهُمْ يَنْهَوْنَ عَنْهُ وَيَنْأَوْنَ عَنْهُ وَإِنْ يُهْلِكُونَ إِلا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

“Mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Qur’an, dan mereka sendiri menjauhkan diri darinya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari.” (Qs.Al-An’am : 26)

Dalam tafsir Jalalain disebutkan tentang asbabun-nuzul ayat ini : Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa turunnya ayat ini berkenaan dengan Abu Thalib yang melarang kaum musyrikin menyakiti Nabi صلي الله عليه وسلم padahal ia sendiri menjauhkan diri dari ajaran Nabi.   Ayat ini (Qs.Al-An’am:26) menegaskan bahwa perbuatan seperti itu hanya akan mencelakakan dirinya sendiri tanpa disadarinya. (Diriwayatkan Al-Hakim dan yang lainnya dari Ibnu Abbas)

Ibnu Katsir رحمه الله di dalam tafsirnya menyebutkan :
“Ali bin Abi Tholhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firmanNya :

وَهُمْ يَنْهَوْنَ عَنْهُ

“Mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Qur’an…” (Qs.Al-An’am : 26)
Yakni mereka menjauhkan manusia dari Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم agar mereka tidak beriman kepadanya”. (Tafsir Ibnu Katsir juz 7, Qs.Al-An’am:26)

Menjauhkan manusia dari Al-Qur’an telah dilakukan oleh orang-orang kafir dengan melarang atau menakut-nakuti manusia dari bertemu dan mengikuti ajaran Muhammad صلي الله عليه وسلم .   Rasulullah صلي الله عليه وسلم adalah manusia yang mengajarkan Al-Qur’an dan menjelaskan ajaran Al-Qur’an tersebut dengan benar dan utuh.
Jika manusia jauh dari Rasulullah, maka ia pun akan jauh dari ajaran Al-Qur’an.
Pada masa sekarang ini, menjauhkan manusia dari Rasulullah (supaya manusia jauh dari ajaran Al-Qur’an yang sebenarnya) adalah dengan menjauhkannya dari As-Sunnah yang telah ditinggalkan Rasulullah.
Manusia berusaha dibutakan dari As-Sunnah sehingga ia pun akan buta terhadap pemahaman ajaran Al-Qur’an yang benar.
Hal ini karena segala sesuatu yang diperbuat Rasulullah (dalam As-Sunnah) adalah gambaran pemahamannya terhadap Al-Qur’an.
‘Aisyah رضي الله عنها berkata :

كَانَ خُلُقُهُ القُرْآنَ   “Akhlaq/perilaku beliau adalah Al-Qur’an”  (HR Muslim /746)

Bagaimanakah caranya supaya orang-orang Islam jauh dari Sunnah Rasulullah?  Tentu saja dengan membuat mereka tidak tahu tentang berita-berita (hadits-hadits) yang berasal dari Rasulullah صلي الله عليه وسلم atau hadits-hadits yang menceritakan tentang Rasulullah صلي الله عليه وسلم
Mereka dijauhkan dari hadits-hadits Rasul.
Sementara itu cara lain yang juga ditempuh adalah dengan membuat orang-orang Islam menjadi curiga, antipati, bahkan jadi membenci hadits-hadits.  Goldziher mengatakan bahwa hadits-hadits adalah sesuatu yang dibuat-buat orang setelah Rasulullah wafat.

Dihembuskan kejadian-kejadian dalam sejarah tentang terjadinya pemalsuan-pemalsuan hadits oleh orang-orang tertentu secara berlebihan dan tidak berimbang, tujuannya agar timbul keraguan akan keotentikan hadits-hadits Rasul.  Ujung dari upaya penghembusan oleh syetan ini adalah keluarnya perkataan tanpa ilmu dari orang yang telah terhembuskan : “hadits itu dari manusia, tidak terjaga keasliannya…jangan terlalu banyak baca hadits…”

Dan juga dihembuskan tentang ajaran dari hadits-hadits yang didramatisir seolah banyak tidak masuk akal dan terkesan seperti dongeng.  Ujung dari upaya penghembusan oleh syetan ini adalah keluarnya perkataan serampangan dari orang yang telah terhembuskan : “Hadits-hadits itu adalah dongeng…..
Asbabun-nuzul (yang berisi keterangan-keterangan hadits) adalah hanya buku cerita…”

Dan dihembuskan bahwa Al-Qur’an dengan penafasiran sendiri ternyata lebih masuk akal dan lebih sesuai kondisi jaman dari pada jika merujuk kepada penafsiran As-Sunnah dari Rasulullah dan para sahabatnya melalui tafsir-tafsir masyhur yang ada di kalangan kaum muslimin.  Ujung dari upaya penghembusan oleh syetan ini adalah keluarnya perkataan pengingkaran dari orang yang telah tersesatkan : “Tafsir dari orang-orang sholih terdahulu itu hanyalah berlaku untuk jamannya masing-masing, sedangkan untuk jaman sekarang yang paling benar dan sesuai adalah hasil tafsir sendiri dari bapak fulan yang mulia…”

Ketahuilah…
Perkataan-perkataan seperti itu semua jelas bukanlah gambaran lurusnya ilmu karena terbimbing oleh petunjuk Allah Yang Maha Benar, akan tetapi itu semua gambaran rusaknya ilmu dan bengkoknya akidah akibat memperturutkan hawa-nafsu dalam beragama, yang ditunggangi syetan-syetan para pembisik.  Wal iya’udzubillah…Semoga Allah melindungi orang-orang beriman yang baik dari memperturutkan hawa-nafsunya, dan semoga Allah sadarkan orang-orang yang selalu memperturutkan hawa-nafsunya dalam beragama agar kembali kepada ilmu yang lurus…

Sementara itu dalam satu kelompok tertentu penafsiran-penafsiran Al-Qur’an dengan fakta-fakta dunia sains dan ilmu pengetahuan modern disuguhkan secara bertubi-tubi dan berlebihan sehingga membuat banyak kaum muslimin sibuk tercengang-cengang dan menjadi lupa bagaimana membentuk akhlak diri dan keluarganya dengan Al-Qur’an menurut Rasul, lupa bagaimana mengikuti langkah-langkah Rasul dalam menjalani hidup yang baik dan mulia di dunia untuk menggapai tujuan di akhirat, yaitu tujuan hidup yang sebenarnya.   Tidak ada lagi Sunnah Rasul…tidak ada lagi teladan Rasul…Terjauhkanlah orang-orang Islam dari bimbingan Rasulnya…..

Demikianlah, upaya penghancuran ajaran Islam dengan kedok berpegang kepada Al-Qur’an dengan mengkesampingkan As-Sunnah dari Rasulullah صلي الله عليه وسلم dan para sahabatnya.
Cakralawi (tokoh ingkar-Sunnah India) mengatakan : “Kitabullah telah sempurna dan terperinci tidak membutuhkan penjelasan dan tidak butuh tafsirnya Muhammad صلي الله عليه وسلم dan (juga tidak membutuhkan) penjelasan beliau atau pelajaran amaliyah darinya..” (Al Quraniyun wa Syubhatuhum haula Assunnah hal.210)

Cakralawi mengajak untuk menafsirkan sendiri Al-Qur’an dan membuang penafsiran dari Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم .   Ia telah mengajak untuk beragama tanpa bimbingan seorang Nabi.
Secara terselubung orang-orang Islam telah digiring untuk menolak ajaran Nabinya tentang Al-Qur’an.   Secara terselubung orang-orang Islam diajak untuk membenarkan bahwa Nabi Muhammad sebetulnya tidak terlalu perlu untuk diutus.   Tanpa Nabi Muhammad pun manusia sebetulnya bisa mengerti kebenaran dan bisa berpetunjuk dengan lurus juga.   Akhirnya secara lambat dan tidak terasa diyakinkanlah bahwa orang-orang Islam itu sebetulnya tidak membutuhkan keberadaan Nabi Muhammad…!
Pandangan seperti ini dipompakan terus-menerus sehingga akhirnya akan melahirkan sebuah pengingkaran yang nyata terhadap Muhammad صلي الله عليه وسلم sebagai orang yang membawa risalah (Muhammad adalah seorang utusan Allah).

Yang benar adalah bahwa Allah telah berfirman di dalam Al-Qur’an bahwa Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم adalah orang yang menunjukkan ummatnya kepada jalan yang lurus :

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Sesungguhnya engkau (hai Muhammad) menunjukkan kepada jalan yang lurus.” (Qs.Asy-Syuura : 52)

Dan Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

فا ن خيرالحد يث كتا ب الله وخير الهد ى هد ى محمد

“Sesungguhnya Sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad صلي الله عليه وسلم….” (HR Muslim /1435)

Tanpa Muhammad صلي الله عليه وسلم manusia tidak akan bisa lurus.

Dalih berpegang kepada Al-Qur’an dengan mengkesampingkan As-Sunnah, secara terang-terangan (oleh kelompok ingkar-Sunnah) ataupun secara ‘malu-malu’ / tidak terang-terangan (oleh kelompok-kelompok neo-muta’zilah atau neo-khawarij lokal semacam kelompok abu hamzah) sebetulnya bukanlah mengembalikan orang-orang Islam kepada kitab sucinya sebagaimana yang mereka gembar-gemborkan.   Justeru yang sebenarnya terjadi adalah pembodohan terhadap orang-orang Islam agar mengikuti ajaran yang telah dirusak.

Ketahuilah….
Islam akan berefek “Rahmatan lil ‘alamiin” adalah ketika Islam itu diikut dengan utuh, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Islam menjadikan individu seorang muslim baik, jujur, lurus dan tangguh adalah jika Islam itu diikut oleh setiap individu muslim secara utuh, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Dan Islam menjadikan satu generasi ummat sebagai generasi yang baik, kuat dan menonjol di antara generasi manusia yang lain adalah ketika Islam itu dianut secara utuh, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.  Tanpa Al-Qur’an dan As-Sunnah, orang-orang Islam akan lumpuh…

Banyak orang Islam sendiri yang belum memahami pentingnya As-Sunnah dalam Islam, sehingga tidak mengetahui bahwa Islam tanpa As-Sunnah sebetulnya bukanlah Islam.
Banyak orang Islam yang belum mengetahui bahwa wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم ada dua macam, yaitu Al-Qur’an dan yang satunya lagi adalah As-Sunnah.
Firman Allah سبحانه و تعالي :

وَأَنزَلَ اللّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ

Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan Hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui… (Qs.An-Nisaa‘ : 113)

Dalam ayat di atas Allah menggunakan lafazh  وَأَنزَلَ  (dan telah menurunkan) untuk Al-Kitab dan Al-Hikmah.   Al-Kitab dan Al-Hikmah adalah dua yang sama-sama diturunkan oleh Allah.

Ibnu Katsir dan Ibnu Jarir Ath-Thobari رحمهم الله berkata : “Al-Hikmah ialah As-Sunnah.”  (Tafsir Ibnu Katsir 1/555, Tafsir ath-Thobari 3/274)

Dan Firman Allah سبحانه و تعالي :

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Qs.An-Najm : 3-4)

Apa yang diucapkan Rasulullah صلي الله عليه وسلم adalah Al-Qur’an (yang dibacakan) dan juga ajaran As-Sunnah.

Al-Qurthubi رحمه الله di dalam tafsirnya mengatakan : “dalam ayat ini ada penjelasan bahwa As-Sunnah adalah wahyu yang diturunkan dari Allah سبحانه و تعالي “.

As-Sunnah tidak bisa dipisahkan dari Islam.  Jika dipisahkan, maka yang terjadi adalah kesesatan karena memotong-motong ajaran Islam sehingga menjadi tidak utuh.

Abu Qilabah رحمه الله berkata : “Jika kamu menyampaikan As-Sunnah kepada seseorang lalu dia berkata : ‘Tinggalkan As-Sunnah, mana dalil al-Qur’an?’ Ketahuilah… dia sesat”.  (Thobaqot Ibnu Sa’ad 7/I84)

Orang yang berbicara tentang Islam tetapi tampak ada upaya penolakan terhadap As-Sunnah, HARUS dicurigai ke-Islamannya.  Benarkah dia seorang Islam yang lurus ataukah hanya seorang ahli bid’ah atau pengikut hawa-nafsu?   Atau malah bisa jadi dia adalah seorang Goldziher atau Cakralawi yang baru?   Mencurigai orang-orang seperti ini bukanlah suatu sangka-buruk terhadap sesama muslim, akan tetapi ini sebagai upaya penjagaan terhadap kemurnian ajaran Islam dari pengrusakan yang merupakan hal yang lebih penting, sebagaimana hal ini sangat dikedepankan oleh para ulama salaf.

Abul-Qosim al-Ashbahani رحمه الله berkata : “Ahli Sunnah dari ulama salaf berkata : ‘Apabila ada orang yang mencela atsar (keterangan/hadits) maka HARUS dicurigai keislamannya”  (Al-Hujjah fii Bayanil-Mahajjah 2/428)

Imam Al-Barbahari رحمه الله berkata : “Jika kamu mendengar seseorang mencela atsar atau menolak atsar atau ingin selain atsar, curigailah keislamannya. Tidak diragukan, dialah penyembah hawa nafsu, ahli bid’ah.” (Syarhus-Sunnah : 51)

Kehati-hatian agar tidak terlibat dalam pengrusakan terhadap ajaran Islam

Upaya pengrusakan ajaran Islam yang dilakukan oleh orang-orang bayaran semisal Goldziher dan Cakralawi telah merebak di berbagai negara muslim di dunia.
Tak terkecuali di Indonesia, di mana Indonesia merupakan Negara dengan mayoritas penduduk muslim yang cukup potential untuk tujuan itu.  Struktur masyarakat adat, pola interaksi serta system kepercayaan dasar yang ada di dalam masyarakat Indonesia membentuk sifat-sifat khusus yang unik (sebagian—tidak semua) orang Indonesia.  Sifat khusus yang unik itu adalah mudahnya mempercayai sesuatu yang masih bersifat spekulan besar.
Di Indonesia, orang-orang yang mengaku Nabi dan mengaku Imam Mahdi bahkan ada yang mengaku Jibril tetap ada yang mempercayai sehingga mereka tetap mempunyai pengikut-pengikut.  Seandainya di Indonesia ini ada orang yang berkata : “Aku adalah Brama-Kumbara yang hidup kembali…” sepertinya tetap akan ada orang yang mempercayai dan menjadi pengikutnya.  Allahu A’lam.

Begitupun ketika ada orang yang mengklaim bahwa hanya melalui dirinya belajar dan mengikut Islam tersambung hingga ke orang-orang sholih terdahulu, ternyata banyak yang mempercayainya dan menjadi pengikut-pengikutnya yang loyal.

Dan ketika ada yang menisbahkan dirinya sebagai Imam yang faham Al-Qur’an dan satu-satunya pemimpin yang berpetunjuk dengan Al-Qur’an di dunia (padahal bacaannya saja tidak fasih dan tidak banyak menghafal Al-Qur’an, serta puluhan tahun bersekolah di negeri barat) ternyata ada juga orang-orang yang kemudian mempercayai dan mengikut dengan setia.
Subhanallah…
Inilah fakta di sekitar kita, yang mengharuskan kita agar senantiasa waspada menyikapi seruan-seruan yang sepintas seperti mengajak kepada jalan benar, padahal mengajak kepada jalan menuju neraka.

Dari Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه berkata :

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ قَالَ يَزِيدُ مُتَفَرِّقَةٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ إِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Rasulullah صلي الله عليه وسلم membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda : ”Ini adalah jalan Allah,” kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda : ”Ini adalah jalan-jalan (yang banyak).  Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan itu,” kemudian beliau membaca,

إِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya.” (Al-An’am:153)  (HR.Ahmad I/435)

Para ulama yang haq telah Allah bangkitkan di muka bumi, akan tetapi sayangnya banyak manusia lebih mendengarkan perkataan-perkataan orang yang bukan ulama dan malah menghujat para ulama yang benar dengan tanpa mengerti permasalahannya secara pasti, hanya berkisar : “katanya demikian…demikian” maka mengikutlah manusia-manusia itu kepada tokoh-tokoh penipu semisal Goldziher atau Cakralawi yang lain.   Sebagian orang lagi benar-benar tidak mengerti tentang siapakah yang patut disebut ulama, hanya mengikut perkataan orang-orang yang terkesan banyak ilmu karena pandai bicara dalam menerangkan sesuatu, lalu diperturutkanlah persangkaan hatinya sehingga kemudian jadilah mereka pengikut tokoh-tokoh penipu semisal Goldziher dan Cakralawi yang lain.   Sebagian orang lagi dikacaukan pikirannya dengan “pluralisme” agama : “Semua agama itu pada dasarnya baik dan benar….”
Sehingga muncullah perkataan : “Kita tidak boleh fanatik dan merasa hanya agama kita sendiri yang benar…”
Sebelum sampai ke tingkat itu, telah didahului dengan pengguliran “pluralisme” manhaj dan golongan : “Kita tidak boleh fanatik terhadap satu pendapat meskipun jelas hujjahnya.  Ahmadiyah, Syiah dan yang lainnya adalah orang Islam juga, kita jangan merasa benar sendiri…”
Maka bingunglah orang-orang awam.   “Tidak merasa benar sendiri” menjadi patokan sikap yang bijak dan benar.   Sikap yang bijak dan benar itu adalah apabila seseorang itu “tidak merasa benar sendiri” bukan lagi hujjah-hujjah yang dipegang.

Hanya orang-orang yang senantiasa berendah di hadapan Allah, menjauhi sikap sombong dan ujub serta tidak pernah merasa “sudah tahu tentang yang benar” kecuali selalu mengharapkan petunjuk dari Rabbnya.   Allah lah tempatnya bergantung.   Tidaklah ia menjadikan persangkaan, pemikiran dan ‘hawa’ dari dalam dirinya sebagai pedoman untuk menentukan sesuatu itu benar atau salah.   Orang-orang yang selalu berhati-hati terhadap perasaan yang muncul di dalam dirinya bahwa ia lebih mengerti daripada orang lain…
Inilah orang-orang yang tidak pernah lagi bingung meniti jalannya, meskipun banyak penipu semisal Goldziher atau Cakralawi bertebaran dan berkeliaran berusaha mempengaruhinya.
Inilah orang yang sadar bahwa kebingungan sebenarnya adalah bentuk was-was dari syetan.   Ia pun juga telah sadar bahwa was-was dari syetan itu hanya bisa dihilangkan dengan berlindung kepada Allah Azza wa Jalla.   Menyerahkan urusannya itu kepada Allah, dan lalu membiarkan Allah memperbuat kehendakNya terhadap dirinya.

بَلِ اللَّهُ مَوْلاكُمْ وَهُوَ خَيْرُ النَّاصِرِينَ

“Tetapi (ikutilah Allah), Allah-lah Pelindungmu, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong…..”

للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَْيتَنا ، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمة ، إِنّكَ أنتَ الوَّهابُ
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
َاللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ وَالأَبْصَارِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

Al-Faqir, Hamba Allah

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Pos ini dipublikasikan di belajar islam, belajar tafsir, Islam, kelompok Islam, Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

21 Balasan ke Menjauhkan Dari Al-Qur’an Dengan Mengajak Kepada Al-Qur’an

  1. Abu Ahmad berkata:

    Barokalloh fiik ya akhi..
    Tepat sekali antum menuliskan topik ini,karena bnyk pd hari ini org2 jahil yg menginginkan kedudukan di hadapan manusia, dgn cara mengada-adakan hal baru,yakni dgn meraih simpati manusia seolah dirinya lah yg paling paham al-Qur’an, tp dgn menyuruh manusia menjauhi sunnah/ajaran dan jalan hidup Rosululloh shollallohu alaihi wasallam. Ketika ada yg menasehati utk kembali kpd pemahaman al-Qur’an yg benar sbgmana pemahaman Rosul dan shahabat dan ini didapati dalil2nya dlm Sunnah/hadits dan atsar shahabat, sbg hujjah yg kokoh yg mengkoreksi terhadap penyimpangan2 mereka, dan mrk tdk bisa mengelak, maka mrk justru menyerang dan menyalahkan sunnah Nabi, dan mengajak utk hanya berpegang dgn Al-Qur’an..
    Pdhal Allah memerintahkan kita utk mengikuti Rosul (lihat QS.Ali ‘Imran:31), Rosul adalah uswatun hasanah (lihat QS.33:21),
    Apa yg Rosul datangkan (ajaran dan perintahnya) maka ambillah, dan apa yg Rosul larang maka tinggalkanlah (lihat QS.59:7)

  2. Abu Abdullah berkata:

    Perhatikan peringatan dari Allah dlm QS.AL-HIJR:91-93:
    ”Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan),Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitabullah),yaitu orang-orang yg telah menjadikan al-Qur’an itu terbagi-bagi. Maka demi Robb engkau, Kami pasti akan menanyai mereka semua,tentang apa yg telah mereka kerjakan dahulu.”

    Peringatan tsb.supaya kita jangan meniru perbuatan Ahli Kitab(yahudi dan nasrani),karena mereka membagi-bagi al-Qur’an ada bagian yg mrk imani ada pula bagian yg mrk ingkari.
    Bagi umat islam hendaknya menerima kitabullah dgn kaffah,termasuk kewajiban menerima dan mengamalkan ajaran yg dibawa oleh Rosululloh.
    Kalau kita jahil thdp sunnah,maka cari dan belajarlah sunnah2 yg shahih.
    Jangan karena kita jahil,trus nggak mau cari dan mempelajarinya,malah ngajak orang menjauhi sunnah(pdhal sunnah adalah penjelasan bgm ROSUL mengamalkan al-Qur’an)?!

  3. Al-Faqir berkata:

    بسم الله الرحمن الرحيم

    Kecenderungan aliran2 sesat adalah menjauh dari ajaran sholat, tidak haji ke Baitullah, meragukan bahkan tidak mempercayai hadits2 dan menafsirkan Al-Qur’an tanpa kaidah2 tafsir yg benar.

    Sebagian ada yg menjauh dari aktivitas sholat jum’at, di antaranya adalah sekte “berserah diri” yg disebarkan ajarannya oleh seseorang yg bernama Burhanuddin di Tanjung Morawa.
    Sekte ini tidak mengajarkan sholat jum’at dengan alasan tertentu dan juga mengingkari ajaran haji ke Baitullah dengan alasan tertentu pula.
    Sekte “berserah diri” juga tidak mempercayai hadits2 dan menafsirkan Al-Qur’an tanpa kaidah2 tafsir serta menyatakan KAFIR terhadap orang2 yg di luar kelompoknya.
    MUI Tanjung Morawa, tertanggal 6 November 2007 telah menetapkan berdasarkan kesepakatan anggotanya bahwa aliran ini adalah aliran sesat, demikian dalam suaranews.com.

    Sekte lainnya adalah “Aliran Milah Ibrahim” di Cirebon yg dicetuskan seseorang yg bernama Zubaedi Djawahir dan dikomandoi oleh rekannya bernama Ahmad Haris Amirullah (Aris).
    Sekte ini tidak mau menjadikan hadits2 Nabi sebagai landasan hukum se-hari2, menafsirkan Al-Qur’an tanpa kaidah2 yg benar, dan menganggap para ulama yg terdahulu maupun yg sekarang adalah orang2 yg salah kaprah. MUI Kabupaten Cirebon telah menetapkan bahwa aliran ini adalah aliran sesat, demikian dalam radarcirebon.com.

    Di Aceh muncul aliran Laduni yg mengajarkan ajaran2 menyimpang, salah satunya adalah ajaran untuk tidak sholat jum’at, sedangkan dalam sehari semalam sholat hanyalah tiga waktu. Aliran Laduni mempercayai bahwa guru mereka adalah ‘malaikat’. Aliran ini dipermasalahkan oleh warga Aceh, hingga dialog antara tokoh2 agama setempat dgn pengikut2 aliran Laduni menjadi kericuhan, demikian rakyataceh.com tgl 4 september 2012. Berita ini juga dimuat di nahimunkar.com.

    Di Cisalopa, Desa Bojong Tipar, Sukabumi, seseorang bernama Sumarna, mendirikan kelompok benama “Aliran At-Tijaniyah”. Dia mengajarkan pengikutnya untuk tidak sholat jum’at dan juga tidak sholat shubuh. Sumarna mengaku menerima “wahyu”, demikian indosiar.com tertanggal 22-08-2012.

    Di Klaten, muncul sebuah kelompok bernama “Amanat Keagungan Ilahi“ yg dipimpin seseorang bernama Andreas Guntur. Sekte ini tidak mengajarkan sholat dan berpuasa di bulan Ramadhan.
    Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Klaten telah mengungkap ini pada Oktober 2011 dan akhirnya dikasuskan dalam persidangan Pengadilan Negeri Klaten pada tgl 10-01-2012 atas tuduhan penistaan agama.

    Seseorang bernama Ahmad Mosaddeq mengaku telah menerima ‚wahyu‘ di gunung Bunder, Bogor-Jawa Barat. Ia menyatakan akan mendirikan KHILAFAH dan akan menghancurkan orang2 kafir. Siapapun yg tidak sekelompok dengannya divonnis KAFIR.
    Mosaddeq menafsirkan ayat2 Al-Qur’an semau-maunya tanpa kaidah dan mengajarkan bahwa sholat, puasa, haji dll adalah tidak wajib. Setelah diamankan oleh Polisi, Mosaddeq menyatakan kembali kepada akidah yg benar pada th 2007, demikian merdeka.com

    Masih banyak aliran2 sesat yg ajaran2nya tidak jauh berkisar : tidak sholat atau tidak sholat jum’at, tidak berhaji ke Baitullah, menafsirkan Al-Qur’an tanpa kaidah yg benar, menolak hadits2, dan mengkafirkan orang2 Islam di luar kelompoknya.
    Semoga tidak semakin banyak sekte2 ini muncul di sekitar kita. Semoga kita yg telah keluar dari FAH bisa mensyukuri dengan baik nikmat dan karunia Allah yg telah sampai kepada kita, dan semoga org2 yg masih berada di FAH segera Allah lepaskan dari belenggu syubhat hingga bisa terlepas dari kesesatan2 perangkap syetan…

    • mirza pahlevi berkata:

      telusuri lebih dlm, apa yang anda tulis .jangan asal degar isu angin. sesungguhnya allah melaknat orang -orang menfitnah .sedangkan dirinya tidak tahu kebenaranya.

    • Syarif Satimen berkata:

      Asa. Bapak Al-Faqir Yth,
      Anda telah memakai baju Tuhan, sekiranya anda membaca Q.s. AL-Nahl:125 bahwa Tuhanmu yang lebih tahu orang sesat dari jalan-Nya dan Dia yg lebih tahu siapa yg mendapat petunjuk.

      Sebelum anda mengatakan sesuatu salah atau sesat dan kafir. nilai dulu apakah diri anda sudah paham betul dengan Al-Quran sendiri dan Q.s. AL-Nahl:125 di atas????. tanpa menumpang kepahaman kepada ahli tafsir atau ahli hadis. atau (M. Amin Djamaluddin yg memakai baju Tuhan) atau harian yg tidak ada namanya atau hanya tahu dari mulut kemulut bahwa naik haji ke kerinci yg justru menunjukkan anda seperti binatang seekor anjing yang mana 1 anjing di kejauhan menggongong dan diikuti pula gonggongan anda tanpa anda sendiri tau.. Yang menjadi sorotan masyarakat pada Jam’iyyatul-Islamiyah yaitu ketika bulan haji., seluruh anggota dari berbagai provinsi di seluruh Indonesia, dan bahkan dari luar negeri seperti Singapura, Malaysia, dan Arab Saudi, datang ke Masjid untuk Ziarah ke makam Kyai H Buya A Kharim Jamak. Saat itu anggota Jam’iyyatul-Islamiyah berkumpul dan menginap selama dua hari di pemondokan Masjid yang berada di sebelah kanan-kiri masjid. Para anggota Jam’iyyatul-Islamiyah juga mengadakan jamuan makan bersama saat itu. “Di belakang masjid ada dapur umum. Saat hari raya haji ibu-ibu anggota Jam’iyyatul-Islamiyah masak bersama di situ,” kata Faisal Karim. Jadi kegiatan ziarah dan menginap di Masjid Hijau dimanfaatkan oknum tertentu yang menuding di Masjid Hijau dilaksanakan ibadah haji. “Padahal kenyataannya tidak benar sama sekali,” ujar Faisal. Ajaran Jam’iyyatul-Islamiyah tetap mewajibkan haji ke Baitullah sesuai pokok ajaran Kyai H Buya A Kharim Jamak, yakni rukun Islam kelima adalah naik haji ke Mekkah bagi yang mampu

      kembali ke penafsirannya terhadap sesuatu hadis atau ayat tidak menyakini seratus persen tentang tafsir itu karna itu datang dari akal pikir manusia tidak datang dari pada allah dan rasul.

      Sekiranya Anda belajar tafsir Anda akan tahu bahwa Kupasan tafsir itu hny rangkaian hrf pd susunan teks. Tafsir sifatnya hanya mencari, tafsir tidak bs dipegangi secara mutlak. Pengajarannyg baik itu adlh dengan ilmu hikmah Q.s. 16:124; 2:151. Pngthuan yg hanya disandarkan pada Diah centris akan menolak bhw hikmah itu hrs bersumber langsung dr Rasul.

      Supaya tdk panjang Lebar dan fitnah anda terlhat semakin ketahuan hanya copy paste dari musuh2x Allah dan anda sebagai orang yg menyesatkan org lain dia telah sombong krn telah memakai baju Tuhan, dan krnnya dialah yg pasti sesat dan kafir (ingkar) terlebih dahulu..

      Ttd.
      Dr. H. Syarif Satimen, MA
      Dosen Tafsir STAIN Pontianak

  4. ummu khonsa berkata:

    ini bukan fitnah atau sekedar isyu angin ..
    kami korban2nya yang sudah sekian tahun di sana .. ada yang 7 tahun , ada yg 10 tahun bahkan ada yg sudah 18 tahun ..

    Harusnya Akhi Mirza yang sebelum bicara di baca dulu poin2 lain dalam artikel ini ..
    kalao antum tidak pernah masuk ke dalam firkoh ini memang bingung ..
    Tapi kami yang sudah pernah mengalamainya insya Alloh Faham

    Wallohu alam bisshowab

    • Demon Hunter berkata:

      Ummu Khonsa & Al-Faqir

      Saya etuju banget dengan comment Dr. H. Syarif Satimen, MA

      Anda telah memakai baju Tuhan, sekiranya anda membaca Q.s. AL-Nahl:125 bahwa Tuhanmu yang lebih tahu orang sesat dari jalan-Nya dan Dia yg lebih tahu siapa yg mendapat petunjuk.

      Sebelim fitnah anda terlhat semakin tidak ada bukti dan anda sebagai orang yg menyesatkan org lain anda telah sombong krn telah memakai baju Tuhan, dan krnnya dialah yg pasti sesat dan kafir (ingkar) terlebih dahulu..

      • Ummu Khonsa berkata:

        JMI dan Demon hunter adalah orang yg sama dalam komen di sini Ya ..

        Maaf saya Tidak Bertuhan ! Dan Saya Anti Tuhan !
        Sepertinya Melelahkan Jika Bicara Dengan orang sejenis anda …
        So ..Mending Kita Urusi Masalah Dan Amalan Kita Masing masing ya..

  5. Endri Inyiak berkata:

    Sekedar informasi kepada pembaca semuanya bahwa paham pengajian dari Jam’iyyatul-Islamiyah itu tidak sesat. Terima kasih.

  6. mantan fah citayam berkata:

    @endri, hehehe..mengaku-aku tidak sesat tapi termasuk firqoh / sempalan juga

  7. aburidho berkata:

    buat yang dulu pernah belajar sama saya seperti pak Muhadi, pak Soleh, Lukman, Memen, dll, apa yang dulu pernah di sampaikan masalah sholat jum”at ataupun masalah masjid insya Allah saya berlepas apa yang di pahami dalam fah, yang haq nya memang umat Islam akan menjadikan pusat kegiatannya di masjid, baik itu masalah belajar dan mengajar, urusan kesehatan ketika luka2 perang, urusan pemerintahan, termasuk sholat jum”at, tidak ada lagi masa Mekah dan Madinah atau istilah NII-kw9 futuh, sudah lama kalian tinggalkan sholat jum’at …malah nongkrong di tempat yang ngga jelas, bertaubatlah kalian….

  8. Al-Faqir berkata:

    Sabar ya akhi…Lebih baik kita tumpahkan perasaan kita kepada Allah سبحانه و تعالي . Dia Maha Mengerti tentang kita dan tentang apa yang sedang kita alami. Ketenangan yang datang setelah kita menumpahkan perasaan kita kepada Allah adalah jauh lebih menentramkan dan lebih menjaga kehormatan diri kita.
    Dia mempunyai maksud yang pasti baik dengan apa yang telah kita alami yang sudah menjadi takdir bagi kita semua. Kita hanya perlu bersabar untuk membuktikan bahwa setiap kehendak-Nya adalah baik bagi kaum muslimin.
    Dengan hormat dan dengan kerendahan hati, sudilah antum untuk tidak mencela cacat fisik seseorang karena semua itu sesungguhnya adalah kehendak Allah, bukan kehendak seseorang itu. Kalaupun kita mencela, kita hanya diperbolehkan mencela keburukan2 sehubungan faham2nya yang menyimpang.
    Bersabarlah ya akhi…berdoalah untuk kebaikan kita semua. Di sini teman antum masih terus mendoakan, tetaplah menjadi teman kami ya akhi, jangan lepaskan tangan kita untuk saling menggenggam, saling menjaga, saling membantu dan saling menasehati di antara kita.
    Antum tetap seorang yang saya hormati, semoga antum dan keluarga mendapatkan Rahmat dari Allah…

  9. JMI berkata:

    Asa. Bapak Al-Faqir Yth,
    Anda telah memakai baju Tuhan, sekiranya anda membaca Q.s. AL-Nahl:125 bahwa Tuhanmu yang lebih tahu orang sesat dari jalan-Nya dan Dia yg lebih tahu siapa yg mendapat petunjuk.

    Sebelum anda mengatakan sesuatu salah atau sesat dan kafir. nilai dulu apakah diri anda sudah paham betul dengan Al-Quran sendiri dan Q.s. AL-Nahl:125 di atas????. tanpa menumpang kepahaman kepada ahli tafsir atau ahli hadis. atau (M. Amin Djamaluddin yg memakai baju Tuhan) atau harian yg tidak ada namanya atau hanya tahu dari mulut kemulut bahwa naik haji ke kerinci yg justru menunjukkan anda seperti binatang seekor anjing yang mana 1 anjing di kejauhan menggongong dan diikuti pula gonggongan anda tanpa anda sendiri tau..

    Yang menjadi sorotan masyarakat pada Jamiyyatul-Islamiyah yaitu ketika bulan haji., seluruh anggota dari berbagai provinsi di seluruh Indonesia, dan bahkan dari luar negeri seperti Singapura, Malaysia, dan Arab Saudi, datang ke Masjid untuk Ziarah ke makam Kyai H Buya A Kharim Jamak. Saat itu anggota Jamiyyatul-Islamiyah berkumpul dan menginap selama dua hari di pemondokan Masjid yang berada di sebelah kanan-kiri masjid. Para anggota Jamiyyatul-Islamiyah juga mengadakan jamuan makan bersama saat itu. Di belakang masjid ada dapur umum. Saat hari raya haji ibu-ibu anggota Jamiyyatul-Islamiyah masak bersama di situ, kata Faisal Karim.

    Jadi kegiatan ziarah dan menginap di Masjid Hijau dimanfaatkan oknum tertentu yang menuding di Masjid Hijau dilaksanakan ibadah haji. “Padahal kenyataannya tidak benar sama sekali, ujar Faisal. Ajaran Jamâiyyatul-Islamiyah tetap mewajibkan haji ke Baitullah sesuai pokok ajaran Kyai H Buya A Kharim Jamak, yakni rukun Islam kelima adalah naik haji ke Mekkah bagi yang mampu.

    Kembali ke penafsirannya terhadap sesuatu hadis atau ayat tidak menyakini seratus persen tentang tafsir itu karna itu datang dari akal pikir manusia tidak datang dari pada Allah dan Rasul.

    Sekiranya Anda belajar tafsir Anda akan tahu bahwa Kupasan tafsir itu hny rangkaian hrf pd susunan teks. Tafsir sifatnya hanya mencari, tafsir tidak bs dipegangi secara mutlak. Pengajarann yg baik itu adlh dengan ilmu hikmah Q.s. 16:124; 2:151. Pngthuan yg hanya disandarkan pada Diah centris akan menolak bhw hikmah itu hrs bersumber langsung dr Rasul.

    إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ رَجُلاً قَرَأَ الْقُرْآنَ حَتَّى إِذَا رُئِيَتْ بَهْجَتُهُ عَلَيْهِ وَكَانَ رِدْءًا لِلْإِسْلاَمِ انْسَلَخَ مِنْهُ وَنَبَذَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ وَسَعَى عَلَى جَارِهِ بِالسَّيْفِ وَرَمَاهُ بِالشِّرْكِ ، قَالَ : قُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللهِ ، أَيُّهُمَا أَوْلَى بِالشِّرْكِ الْمَرْمِيُّ أَوِ الرَّامِي ، قَالَ : بَلِ الرَّامِي
    “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kamu adalah seseorang yang membaca Alquran, sehingga apabila telah diperlihatkan kepadanya keindahannya dan tadinya ia adalah pembela Islam, tiba-tiba ia lepas dari Islam dan melemparkan (Alquran) ke belakangnya, dan mendatangi tetangganya dengan membawa pedang dan menuduhnya dengan kesyirikan.” Aku berkata (periwayat hadis ed.), “Wahai Nabi Allah, siapakah yang lebih layak kepada kesyirikan, yang dituduh atau yang menuduh?” Beliau menjawab, “Yang menuduh (lebih layak /ini berarti anda pak Al-Faqir).” (HR. Al Bazzar)[1]

    Supaya tdk panjang Lebar dan anda sebagai orang yg menyesatkan org lain dia telah sombong krn telah memakai baju Tuhan, dan krnnya dialah yg pasti sesat dan kafir (ingkar) terlebih dahulu..

    Ttd. Dr. H. Syarif Satimen, MA Dosen Tafsir STAIN Pontianak

    tolong jangan dihapus lagi coment saya ini,,tampilkan klo anda memang merasa benar..apa anda akan menutup2inya seakan akan andalah yg benar..

    • Al-Faqir berkata:

      بسم الله الرحمن الرحيم

      Untuk bpk DR.H.Syarif Satimen MA yth.
      Saya mohon maaf jika apa yg tertulis di blog ini tidak berkenan di hati anda.
      Semoga Allah melindungi saya dari apa yg bapak katakan bahwa saya telah memakai baju Tuhan, dan semoga pak Amin Jamaluddin dilindungi oleh Allah juga dari apa yg bapak katakan, bahwa beliau telah memakai baju Tuhan. Saya maupun pak Ust. Amin Jamaluddin sama sekali tidak memakai baju Tuhan.
      Saya telah bertemu dengan beberapa orang yg biasa berkecimpung di dalam kelompok2 yg menyimpang, antara lain : bpk Ust. Amin Jamaluddin, Ust. Hartono Ahmad Jaiz, bpk. Dr.Amirsyah Tambunan dari MUI dan lain-lainnya. Saya banyak mendapatkan pandangan dari mereka dan insya Allah saya mempercayai mereka.

      Mengenai Qs.An-Nahl ayat 125 bahwa Allah lebih mengetahui siapa yg tersesat, saya lebih mempercayai penafsiran Ibnu Katsir daripada penafsiran anda. Ibnu Katsir Rahimahullah menafsirkan tentang ayat itu : “Maksudnya Allah mengetahui siapa yg celaka dan siapa yg berbahagia di antara mereka (manusia) dan hal tsb telah dicatat di sisi-Nya dan telah dirampungkan kepastiannya.“ (Tafsir Ibnu Katsir juz.14, Qs.Al-An’am:125).
      Jadi, di dalam ayat tsb Allah سبحانه و تعالي menyatakan bahwa Dia lebih mengetahui siapa2 yg akan masuk neraka (celaka) dan siapa2 yg akan masuk surga (bahagia). Manusia tidak mengetahui dan tidak boleh memvonis/menetapkan bahwa si A akan masuk neraka atau si B akan masuk surga, ini hanyalah hak Allah سبحانه و تعالي , itulah yg dimaksud di dalam ayat ini.
      Perihal seseorang masuk surga atau masuk neraka ini memang hanya Allah Yang Maha Mengetahui, karena melibatkan banyak kemungkinan seperti : Apakah seseorang bertaubat menjelang ajalnya, apakah diterima amalan2 baiknya ketika di dunia ataukah tidak, apakah ada pengampunan dari Allah baginya, apakah ada syafaat baginya, dan lain-lain.

      Mengenai jalan manakah yg lurus atau jalan manakah yg sesat, Allah telah nyatakan bahwa itu sudah jelas. Allah سبحانه و تعالي berfirman :

      لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

      “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya, telah jelas jalan yang benar (lurus) daripada jalan yang salah (sesat)….” (Qs.Al-Baqarah:256)

      Bagi kaum muslimin, jalan itu akan lurus jika mengikuti petunjuk Allah melalui Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم, Allah سبحانه و تعالي berfirman :

      وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

      “Sesungguhnya engkau (hai Muhammad) menunjukkan kepada jalan yang lurus.” (Qs.Asy-Syuura:52)

      Seorang yg sudah mengaku Islam dan konon mengikuti Al-Qur’an tetapi tidak mengikuti petunjuk Nabi Muhammad (yaitu As-Sunnah dalam hadits2), maka dia bukanlah orang yg lurus, karena Al-Qur’an itu pasti ditakwil-takwil sendiri menurut interprestasinya saja. Dan mengerti petunjuk dari Nabi Muhammad itu tidak lain adalah dgn menguasai hadits2 beserta ilmu2 yg menyertainya, dan ini hanya maksimal ada pada para ulama Islam yg telah eksist. Mengerti petunjuk Nabi Muhammad bukan melalui mimpi2, bisikan wangsit, dan lain sebagainya karena itu semua hanya bohong belaka.

      Demikianlah yg bisa saya jelaskan. Jika jalan yg sesat dan jalan yg lurus itu tidak pernah jelas bagi manusia (karena hanya Allah yg tahu), untuk apa Rasulullah صلي الله عليه وسلم diutus? Bukankah Rasulullah diutus untuk menerangkan secara jelas perihal agama yg diturunkan kepada manusia (termasuk yg benar dan yg salah)?
      Apakah sampai hari ini jalan yg lurus dan yg sesat itu tetap tidak pernah jelas sehingga pengikut jalan yg lurus dan pengikut jalan yg sesat itu juga tidak pernah ketahuan yg mana dan yg mana?
      Ketahuilah, yg sesat tetap harus dikatakan sesat meskipun tidak berarti seseorang telah dipastikan akan berada di neraka.
      Yg sesat tetap harus dikatakan sesat meskipun tidak berarti dipastikan kekafirannya, karena sesat (dalam konteks Arab : Dholaal) tidak melulu berkonotasi kafir.

      Qs.An-Nahl ayat 125 memang sering dijadikan tameng untuk memberikan alibi bahwa apa yg dianut oleh seseorang itu meskipun berbeda dgn pandangan akidah Ahlus-Sunnah tetap tidak boleh di-cap “sesat“ sembarangan, karena hanya Allah-lah yg mengetahui tentang org2 yg tersesat itu. Sehingga dgn alibi demikian mereka menginginkan untuk tidak dipermasalahkan ketika membuat-buat kreasi baru dalam agama berbentuk apapun…bebas, sesuai dengan ekspresi masing2, tak ada kaidah2, tak ada batasan2, dan tak ada arti ijma dari para salaf.
      Pokoknya bebas saja dan boleh semau-maunya…Ini tentu tidak benar.

      Untuk bpk DR.H.Syarif Satimen MA yth.
      Mengenai keterangan anda perihal pergi haji ke Kerinci, hal itu bisa bpk jelaskan saja kepada Ust. Amin Jamaluddin (sekarang menjadi ketua LPPI) atau kepada pihak MUI bahwa dahulu pun Jam’iyyatul-Islamiyyah tdk seperti itu (sebelum dinyatakan sesat oleh MUI). Jika ada keterangan dari mereka lebih detil, tentu media pun akan mengikutinya.
      Sebetulnya di dalam pernyataan2 Ust.Amin di berbagai media yg saya kutip juga di atas, menyebutkan bahwa Jam’iyyatul Islamiyyah sudah meninggalkan fahamnya yg keliru dan sudah kembali kepada faham yg benar. Jadi, sebenarnya tidak ada yg mempermasalahkan faham2 Jam’iyyatul-Islamiyyah yg sekarang, entah bagaimana faham2nya itu. Yg sering dikutip oleh media dengan menukil pernyataan Ust. Amin adalah faham2nya yg lama.

      Namun untuk menjaga agar permasalahan ini tidak berkepanjangan, saya koreksi tulisan comment saya di postingan ini. Terima kasih atas komentarnya dan mohon maaf jika ada yg dianggap keliru.
      Demikianlah balasan dari saya jika memang benar yg berkomentar ini adalah seorang dosen terhormat. Namun jika yg berkomentar hanya mencatut nama Syarif Satimen padahal bukan beliau, maka saya tidak ragu lagi tentang akhlak anda. Anda orang Jam’iyyatul Islamiyyah?
      Saya tidak menganggap kafir orang2 yg saya kritik di blog ini (terutama kelompok abu hamzah), karena tidak layak saya mengenakan “baju Tuhan“. Namun komentar anda di bagian akhir begitu jelas memastikan sesat bahkan kafir. “Anda memakai baju Tuhan“?
      Allahu A’lam.

    • assallam… saya azis jaka saputra akan terus mengikuti perintah allah dan rasul sampai akhir hayat saya…. hati2 jangan sampai kita ikut hawa nafsu dunia syetan yang terus mengganggu kita lebih baik kita doakan saja beliau yang menganggap JMI sesat agar bisa di berikan hidayah dan rahmatnya dari Allah dan Rasulnya……

  10. hahahaha berkata:

    hah licik kamu anjeng,,,…coment yg menunjukkan pada pembuktian kalau lo fitnah mangkanya loh hapus,,,isss pengen kupatahin leher kamu anjing,!,,serasa kayak lo yg masuk sorga,,,muke2 kayak lo ya gue hafal disogok duit sama betina saja kau sudah lupa!! mmhhh mampus orang kayak gini klo ketemu gua..

    • Ummu Khonsa berkata:

      Masya Alloh ….
      Inikah ucapan orang yang Merasa Benar ? Yang Merasa Baik ? Yang Merasa Sholeh ?
      Apakah Rosululloh Pernah Mengajarkan Ummatnya Berkata Demikian Keji Dan Menjijikan ??

  11. hamba Alloh berkata:

    Bismillah Ya ALLOH berikan sifat binatang tersebut kepada orang yang selalu mengatakan nama binatang kepada orang lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s