Masalah Kecil dan Masalah Besar

Masalah Kecil Dan Masalah Besar

بسم الله الرحمن الرحيم
إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلاَّ الله وحده لا شريك له وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله. فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار .

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم Wa Ba’du :

Allah سبحانه و تعالي berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian turut langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu” (Qs.Al-Baqarah : 208)

Sebagaimana telah diketahui bersama, bahwa dalam Islam memang ada istilah “besar” dan “kecil”. Sebagai contoh di dalam Al-Qur’an Qs.An-Nisaa : 31, Allah menyebut “kabaair”, yaitu apa-apa yang termasuk dosa-dosa besar. Di dalam beberapa hadits disebutkan tentang adanya syirik kecil, dan para ulama mempunyai istilah syirik akbar, kufur akbar, kufur ashghor, istilah ushulud-Dien, istilah furu’iyah dan lain-lain.
Penyebutan di dalam Islam bahwa ini besar dan ini kecil, ini pokok dan ini cabang memang ada, akan tetapi yang tidak ada di dalam Islam adalah penyepelean terhadap suatu ajaran di dalam Islam karena menganggapnya hal kecil.
Orang harusnya mengerti, adanya istilah besar atau kecil di dalam Islam bukanlah supaya diambil (dijalankan) yang besarnya dan diterbengkalaikan ajaran lainnya yang dianggap kecil.
Istilah besar atau kecil itu hanyalah untuk memberikan gambaran status perbandingan antara satu dengan lainnya, sehingga jelas bahwa yang ini di atas yang itu atau yang itu memang seperti yang ini tetapi masih di bawah yang ini, dan seterusnya…

Segolongan orang telah menyepelekan sebagian ajaran-ajaran Islam, yaitu dengan menyatakan bahwa itu masalah kecil dan kemudian enggan untuk melaksanakannya (meskipun tidak mengingkarinya).   Sikap penyepelean ini adalah karena “kebablasan” menanggapi peristilahan besar-kecil dalam Islam namun tanpa upaya mencari kejelasan yang lebih dalam tentangnya. Ketika (mungkin) ia mendengar perkataan dari guru-gurunya : “Itu masalah kecil…” Maka buru-buru ia menyepelekan masalah itu, dan beralih ke permasalahan lain yang dianggapnya sebagai permasalahan yang besar.
Pada masa-masa yang lalu, peremehan terhadap hal-hal tertentu di dalam ajaran Islam biasanya dilakukan orang-orang jahil atau oleh para ahli bid’ah. Orang-orang berilmu dan para Imam Islam tidak ada yang berani bersikap seperti itu.

Imam Malik رحمه الله pernah ditanya dengan satu pertanyaan, kemudian beliau menjawab: “Aku tidak tahu”. Mendengar jawaban ini si penanya terheran-heran dan berkata :
“Sesungguhnya ini adalah masalah yang sepele, dan aku bertanya tentang hal ini hanyalah karena ingin memberi tahu kepada amir (penguasa)”.
Karena ini, Imam Malik marah dan berkata:
“Kau katakan ini masalah sepele dan remeh?   Tidak ada dalam agama ini perkara yang remeh..!   Tidaklah kau mendengar perkataan Allah سبحانه و تعالي :

إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلا ثَقِيلا

“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat” (Qs.Al-Muzammil : 5)

Oleh karena itu seluruh ilmu agama ini semuanya berat, khususnya karena akan dipertanyakan pada hari kiamat…” (Tartibul-Madariq, Qadli ‘Iyadl 1/184; Dlarurarul-Ihtimam bis-Sunnatin-Nabawiyyah, hal.118)

Sholat masalah kecil?

Ada sekelompok orang yang menganggap sholat bukanlah hal yang besar hingga tidak pernah dibahas secara detil dan khusus tentang kaifiat dan tata-caranya selama puluhan tahun.

Mereka mengatakan : “Islam bukan agama sholat”

Ketahuilah bahwa Islam itu adalah agama sholat, artinya bukan Islam kalau tidak ada sholat, bukanlah ajaran Islam jika tidak ada di dalamnya ajaran tentang sholat. Ada lebih dari delapan puluh ayat di dalam Al-Qur’an yang berbicara tentang sholat (secara khas ataupun secara makna) dan ada banyak sekali hadits-hadits shohih dari Nabi yang mengajarkan tentang sholat.

Ketahuilah, sholat bukanlah hal yang boleh disepelekan.
Allah سبحانه و تعالي berfirman :

وخلف من بعدهم خلف أضاعوا الصلاة واتبعوا الشهوات فسوف يلقون غيا إلا من تاب وآمن وعمل صالحا

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan sholat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal sholih…” (Qs.Maryam : 59-60)

Ibnu Katsir رحمه الله di dalam tafsirnya menukil perkataan Al-Hasan Al-Bashri bahwa mereka menelantarkan masjid-masjid dan menetapi perbuatan sia-sia.
Orang-orang yang menyepelekan sholat juga menyepelekan mesjid-mesjid.  Tidak mengisi mesji-mesjid yang ada (malah dianggap mesjid dhiror) dan tidak juga membangun mesjid.
Mereka sholat di rumah-rumah. Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

hadits-xiii-04-02

“Demi Yang jiwaku ada ditangan-Nya.
Sungguh aku ingin memerintahkan untuk mengumpulkan kayu bakar lalu terkumpul, kemudian memerintahkan untuk sholat dan diadzankan. Kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami sholat, lalu aku pergi menemui orang-orang dan membakar rumah-rumah mereka (yaitu yang sholat di rumahnya).” (HR Bukhori)

Ketahuilah bahwa sholat itu sangat penting, termasuk jaminan sebagai seorang muslim sehingga terjaga darah dan hartanya.
Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan (yang berhak diibadahi) kecuali Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka lakukan yang demikian maka mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah” (HR Bukhori-Muslim)

Ketahuilah bahwa tanpa sholat seseorang bisa jatuh kafir.
Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ

“Sungguh, yang memisahkan antara seorang laki-laki dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat.” (HR Muslim no.116)

Mereka tidak menganggap sholat sebagai amalan besar. Apakah mereka tidak tahu bahwa sholat adalah sebaik-baik amalan. Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

سَدِّدُوْا وَقَارِبُوْا وَاعَمَلُوْا وَخَيْرُوْا وَاعْلَمُوْا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالَكَمُ الصَّلاَةُ وَلاَ يُحَافِظُ عَلىَ الْوُضُوْءِ إِلاَّ مُؤْمِنٌ .

“Luruskanlah dan mendekatlah, beramallah dan memilihlah. Dan ketahuilah bahwa sebaik-baik amal perbuatanmu adalah sholat. Dan tidaklah menjaga wudhu melainkan seorang mukmin.”
(HR Ahmad 5/282, dihasan-kan oleh Al-Albani dalam Ash-Shohiihah)

Seluruh orang di kaum itupun sholat secara ‘asal-asalan’, banyak di antara mereka yang sholat tanpa mengerti thuma’ninah, mereka tidak pernah mengerti apa arti bacaan-bacaan dalam sholat mereka, tidak pernah tahu sumber-sumber hadits dari apa yang mereka baca dalam sholat mereka, tidak pernah tahu apakah yang mereka amalkan dalam sholat mereka itu bersumber dari hadits yang shohih atau dhoif atau maudhu, semua ini mereka anggap tidak penting (masalah kecil) sehingga tidak pernah dibahas secara lebih khusus dan mendetail.

Apakah sudah benar-benar yakin bahwa sholatnya sudah sebagaimana sholat Nabi?
Bukankah Nabi صلي الله عليه وسلم menyuruh : “sholatlah kamu sebagaimana kamu lihat aku sholat…” (HR Bukhori).   Bagaimana jika sholatnya ternyata tidak seperti yang Nabi ajarkan?   Nabi صلي الله عليه وسلم mengatakan :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْه ِأَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada atasnya perintah kami, maka ia tertolak.” (HR Muslim no.1718)

Terlebih lagi dalam hal sholat-sholat yang ‘sunnah’, cara pandang mereka dalam menyikapinya sangat jauh berbeda dengan para sahabat Nabi dan orang-orang sholih terdahulu.
Jika orang-orang sholih terdahulu begitu antusias melaksanakan sholat-sholat sunnah, mereka malah menyepelekannya dan menganggap orang yang rajin sholat sunnah sebagai orang yang suka dengan ajaran yang kecil-kecil…
Mengisi waktu-waktu sebelum dan sesudah sholat wajib nampaknya lebih baik dengan duduk-duduk berkelakar atau bicara masalah-masalah dunia ketimbang sedikit meluangkan waktu dua atau tiga menit melakukan sholat sunnah yang dianjurkan Nabi kepada ummatnya. Tak ada waktu meski hanya dua atau tiga menit untuk hal kecil yang telah diajarkan oleh Nabi….

Dan orang-orang yang banyak menghadapi masalah-masalah yang dirasakan berat, tidak ada diajarkan kepada mereka agar bersujud berendah kepada Allah Yang Maha Perkasa memohon pertolonganNya, padahal Rasulullah apabila menghadapi suatu permasalahan (yang besar atau berat) beliau senantiasa melakukan sholat (lihat Tafsir Qs.Al-Baqarah:45).
Iman yang tumbuh di dalam kulub menjadi seperti pohon tak berdaun.
Tidak rimbun dan tidak rindang.
Kering.
Tidak menyejukkan dan tidak mendamaikan….

Dan orang-orang yang menyepelekan sholat sunnah seperti sholatul-lail menjadi orang-orang yang secara bathin sulit dekat dengan Rabbnya, karena sholatul-lail merupakan suatu sarana penting untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah secara bathiniyah.
Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِيْنَ قَبْلَكُمْ وَهُوَ قُرْبَةٌ إِلَى رَبِّكُمْ وَمُكَفِّرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِ

“Hendaklah kalian melakukan qiyamul-lail, karena sesungguhnya ia merupakan kebiasaan orang-orang sholih sebelum kalian dan ia juga sebagai sarana mendekatkan diri bagi kalian kepada Rabb kalian, sekaligus sebagai penghapus dosa-dosa kalian, serta pencegah dari perbuatan dosa” (HR At-Tirmidzi no.3549, Al-Hakim I/308 dan Al-Baihaqi II/502, dihasankan oleh Al-Albani dalam Irwaa-ul Ghaliil II/199-202)

Mereka tidak diajarkan mendekatkan diri kepada Rabbnya dengan sholatul-lail meskipun telah jelas ada petunjuk dari Rasulullah, tetapi malah sangat gencar diajarkan mendekat kepada ‘orang-orang alim’ di kalangan mereka (dengan istilah mendekat ke inti).
Mereka akan mendapatkan cap “baik” jika banyak mendekat kepada pemimpin-pemimpinnya, dan akan mendapatkan cap “kurang baik” jika rajin mendekat kepada Rabbnya dengan banyak melaksanakan sholat-sholat sunnah.
Mereka seolah digiring untuk lebih dekat kepada manusia daripada dekat dengan Allah سبحانه و تعالي yang menjadi Rabbnya.
Seolah dekat kepada manusia itu lebih penting.
Akibat pola yang seperti ini akan tertanam dalam jiwa mereka (secara sadar atau tidak sadar) ketakutan akan cap jelek dari manusia adalah lebih besar daripada ketakutan akan cap jelek dari Allah عز‏وجل….
Mereka takut diintimidasi.
Mereka takut dijauhi orang-orang di kalangannya.
Jika seseorang di antara mereka merenungi akan hal ini, tidak akan ia mengingkari kenyataan itu.
Tidakkah sampai kepada mereka hadits Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

من أرضى الناس بسخط الله وكله الله إلى الناس و من أسخط الناس برضا الله كفاه الله مؤنة الناس

“Barangsiapa yang mencari keridhoaan manusia dengan membuat Allah murka maka Allah akan menjadikannya bergantung kepada manusia. Dan barangsiapa mencari keridhoaan Allah meskipun dengan membuat manusia marah maka Allah akan menolongnya dari gangguan manusia.” (HR At-Tirmidzi dari Ummul Mukminin Aisyah رضي الله عنها, Shahih Al-Jami’ : 6010)

Mereka akan menghadapi perhitungan dari Allah akibat penyepelean mereka tentang ajaran sholat dengan tanpa ilmu ini.  Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ الصَّلَاةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلَائِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِي صَلَاةِ عَبْدِي أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِي فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الْأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ

“Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dari amal perbuatan manusia pada hari kiamat adalah sholatnya. Rabb kita Jalla wa ‘Azza berfirman kepada para malaikat-Nya -padahal Dia lebih mengetahui-, “Periksalah sholat hamba-Ku, sempurnakah atau justeru kurang?” Jika sempurna, maka akan dituliskan baginya dengan sempurna, dan jika ada kekurangan maka Allah berfirman, “Periksalah lagi, apakah hamba-Ku memiliki amalan sholat sunnah?” Jikalau terdapat sholat sunnahnya, Allah berfirman, “Sempurnakanlah kekurangan yang ada pada sholat wajib hamba-Ku itu dengan sholat sunnahnya.” Selanjutnya semua amal manusia akan dihisab dengan cara demikian.”  (HR Abu Daud no.964, At-Tirmidzi no.413, An-Nasai no.461-463, dan Ibnu Majah no.1425. Dishohihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no.2571).

Lantas, apakah hal yang dianggap besar?  Memelihara kambing atau menanam padi di sawah?

Ataukah menegakkan system khilafah?

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun atas lima perkara, Yaitu persaksian bahwa tidak ada sesembahan (yang berhak diibadati) melainkan Allah, bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, dan shaum di bulan ramadhan.” (HR Bukhori-Muslim)

Jika menegakkan system khilafah adalah lebih besar, berarti Nabi telah salah menyebut dalam hadits di atas. Seharusnya setelah bersyahadat yang Nabi sebut adalah “menegakkan khilafah”, bukan menegakkan sholat.

Benarkah diakui bahwa hal yang besar adalah Tauhid?
Jika memang diakui bahwa hal yang besar adalah Tauhid, seharusnya setiap orang membersihkan diri dari syirik, termasuk syirik dengan mempertuhan orang-orang yang dianggap alim dengan bertaklid kepadanya, termasuk syirik dengan memperturutkan hawa-nafsu dalam berhujjah, termasuk syirik dengan riya kepada manusia (orang-orang yang dianggap alim) dengan amalan yang diperbuat.

Semoga Allah membimbing kaum muslimin kepada Jalan yang lurus

Jalan yang telah ditempuh Nabi صلي الله عليه وسلم , para sahabatnya, dan orang-orang sholih terdahulu yang mengikutinya

Semoga Allah membimbing orang-orang yang tersalah kembali kepada kebenaran, kepada Al-Haq yang diridhoiNya.  Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang kepada hamba-hambaNya

Semoga Allah menurunkan RahmatNya…

للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَْيتَنا ، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمة ، إِنّكَ أنتَ الوَّهابُ
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
َاللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ وَالأَبْصَارِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

Al-Faqir, hamba Allah

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Pos ini dipublikasikan di belajar islam, belajar tafsir, Islam, kelompok Islam, Uncategorized dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

9 Balasan ke Masalah Kecil dan Masalah Besar

  1. Manager berkata:

    Masalah memelihara kambing juga bukan masalah kecil :
    HR. Bukhori, dari Abu said al Kudri:
    Rosululloh صلي الله عليه وسلم berkata : “Hampir tiba masanya sebaik-baik harta seorang Muslim adalah kambing-kambing yang digembalakan di puncak-puncak gunung dan tempat-tempat curahan hujan, Ia mejauhkan diri dari fitnah karena menjalankan ajaran agamanya.”

    • Al-Faqir berkata:

      Hdts tsb tidak menunjukkan memelihara kambing lebih urgent dari sholat, ya akhi…
      Tidak berdosa jika tidak memelihara kambing di rumah, tetapi akan berdosa jika tidak sholat.
      Makna hdts itu adalah : Kondisi ekstrim pada masa fitnah sehingga seseorang harus menjauhkan diri dari keramaian manusia karena banyak kemungkaran, dan ia menjadi orang yg tidak berharta, selain kambing2 gembalaannya itu…

  2. Manager berkata:

    Ya tentu saja seharusnya Sholat jauh lebih diutamakan daripada mengurus kambing.
    Namun, sesuatu yang pernah disebut oleh Rosululloh صلي الله عليه وسلم , tentu ada fadhilahnya.
    Yang saya amati di F.A.H ..Perkara Sholat tidak dibahas secara rinci di majelis2, dan terlalaikannya sholat bukan karena mengurus kambing saja, tetapi ketika sibuk dengan “kerja2 amal sholeh”, ketika di perjalanan harian dalam kota maupun dari kota satu ke kota lain… Sholat ditunda-tunda. Bahkan sampai terlambat sholat.
    Saya hanya tidak sependapat bila dipaparkan: Sholat “dikonfrontasikan” dengan urusan kambing.
    Dari zaman Habil bin Adam sampai saat ini, kambing diperlukan untuk Qurban. Aqiqoh pun dengan kambing. Bukan tidak mungkin bila kaum Muslim kurang peduli dengan pemeliharaan kambing, dimasa depan kita harus mengimport kambing dari negara kufur untuk ibadah.
    Tentu ironis, untuk suatu ibadah, kita “bergantung” kepada produksi dari orang kufur.
    Hal yang sama adalah masalah menanam padi.
    Sekarang import beras padahal dulu negeri lumbung padi…

  3. mantan RFC/A2T berkata:

    Diceritakan disuatu perjalanan RFC, dua anggota bertugas sbg penjaga pos di suatu tmpt di Karawang, mrk bertugas menunjukkan jalan bagi ruba’/sariyah yg datang dr berbagai penjuru daerah, azan asar sdh berlalu dan hari sdh mulai menjelang magrib, kedua org tsb blm shalat asar.
    Salah seorg yg lbh junior dr ke2nya mengingatkan utk shalat,tp tmnnya berkata, tunggu Abu amir dulu (hanya julukan), kita shalat jamaah dgn pimpinan, dan kita blm dpt perintah utk meninggalkan pos!
    Akhirnya si junior shalat asar sendiri, khawatir azan magrib berkumandang..dan yg mengherankan bagi si junior, kenapa sang Senior msh menunggu jg perintah pemimpinnya, drpada khwtir keutamaan shalat asar tdk dia dptkan bhkan bisa mendpt murka dr Allah al-Aziz al-Hamiid.
    Dalam kejadian nyata tsb, menunjukkan pentingnya memahami Islam dgn ilmu yg benar dan tdk meremehkan amalan yg Utama dan mendahulukan manusia drpd Allah.
    Wahai saudaraku..PERINTAH ALLAH : udkhulu fiisilmi KAAFFAH..itu yg sering kalian smpkan, mari kita buktikan

    • Manager berkata:

      itulah akibat seringnya mereka mengatakan “menurut apa yang saya pahami…bla. bla.. bla..” maka ro’yu mereka sendiri yang dijadikan hujjah.
      mengapa tidak mengatakan : “Menurut Ayat Al Qur’an, atau Hadits, atau Kutubussittah ..begini..begini..”
      BELUM PERNAH saya melihat Hadits, bahwa para Tabiin atau TabiutTabi’in mengatakan : ” MENURUT APA YANG SAYA PAHAMI …”
      Ataukah itu sengaja diajarkan oleh Para Pemimpin,
      sehingga kalau ada kasus2 spt diatas, maka Pemimpin cuci tangan : “…. Itu kan kepahaman si Fulan, saya tidak seperti itu..”

  4. Manager berkata:

    Kalo dicermati, Masalah Sholat ada kemiripan Firqoh Abu Hamzah dengan Firqoh SYIAH.
    1. Definisi imam menurut Syiah adalah :
    “Manusia yang memiliki kepemimpinan menyeluruh dalam perkara dien
    dan dunia sebagai wakil dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.”
    Pada FAH. walaupun tidak mengakui definisi itu tapi prakteknya bahkan lebih taqlid dari pengikut Syiah. hingga sholatpun harus “konfirmasi” dulu ke Imam yang belum/akan hadir di tempat sholat.
    2. Syiah membolehkan digabungnya dua shalat dhuhur dengan ashar, maghrib dengan isya,
    walaupun dalam keadaan mukim, tidak dalam shafar.Karena keyakinan Syiah bahwa Dhuhur waktunya adalah sampai dengan magrib,dan Magrib waktunya hingga pertengahan malam.
    Yakni usai shalat dhuhur di waktunya, seorang Syiah dapat langsung melakukan shalat ashar.
    Begitu juga usai shalat maghrib, dapat dilakukan shalat Isya secara langsung.
    Pada FAH.karena sholat adalah “masalah kecil” maka banyak dilakukan sholat yang mirip di Syiah,walaupun tetap meyakini batas Dhuhur adalah sampai dengan sebelum Asar.
    Sebagai contoh setelah Sholat Dhuhur kemudian “muzakaroh” atau sekedar “bincang-bincang”
    setelah itu dikerjakan sholat asar ketika belum masuk waktu asar.
    yaitu dengan alasan dijamak krn akan shafar (walaupun masih dalam kota, atau antar kota jarak pendek) dan karena di perjalanan sulit menemukan tempat sholat karena terbatasi oleh konsep Masjid Dhiror. Padahal haditsnya adalah Nabi menjamak dua Sholat tanpa “tasbih” diantara dua sholat tersebut, sehinngga “menjamak” benar-benar “menyambung” dua sholat tanpa disela amal lain bahkan dzikirpun tidak ..(apalagi ini malah ngobrol).
    Pada perjalanan, walaupun sudah mukim sementara (menginap pada suatu tempat),dilakukan sholat Magrib dan Isya pada akhir malam mejelang subuh. Dengan alasan hadits Nabi kadang2 mengakhirkan Sholat Isya. Padahal tidak ada yang menghalangi bila dilakukan awal waktu.
    3. Syiah mendua dalam hal shalat Jum’at.
    Bagi Syiah shalat Jum’at hukumnya adalah wajib takhyiri,
    yakni suatu kewajiban yang dapat dikerjakan atau tidak “di saat tidak ada imam maksum”.
    Oleh karena itu, di jaman keghaiban Imam Mahdi saat ini, karena imam maksum itu masih ghaib dan tak hadir, maka shalat Jum’at dapat dilakukan atau juga tak dilakukan.
    Pada FAH. prinsipnya sama dengan Syiah, hanya tidak menyebut Imam Mahdi secara spesifik,
    tetapi karena “belum tegak kekhalifahan”.
    Bolehnya mengerjakan sholat jum’at adalah khusus bagi murid yang “belum beriman”..!!!

  5. Abu Ahmad berkata:

    Astaghfirullohal-Azhim,
    hanya krn tdk adanya ”khalifah”, amal wajib seperti shalat jumat ditinggalkan?!
    Pdhal bbrpa kelompok yg berpaham takfir yg lain,msh mengamalkan syari’at yg mulia ini.bhkan mrk msh mau berbaur dgn kaum muslimin yg lain ketika mengerjakannya,ada jg yg mengamalkan menurut versi pemahamannya.tp mrk msh tetap menegakkan Jum’at krn syariat ini telah qath’iy dlm nash ayat Al-Qur’an dan sunnah.
    Jadi mau dikemanakan ayat Allah Azza wa Jalla dlm QS.al Jum’ah dan sabda”Nabi tentang keutamaan Jum’at.juga tentang masjid-masjid dan keutamaannya,seperti tahiyatul masjid,i’tikaaf,dll.
    Kalau bnyak amalan2 syariat yg ditinggalkan,trus ISLAM tinggal apanya?ya kalau kekhalifan segera tegak,kalo blm jg,apa jwb kita di yaumul hisab nanti?bukankah amalan2 tsb adlh syariat dien?bgm mau menegakkan dien,kalo syariatnya malah dipendam dlm2.
    Saudaraku,JUM’AT dan MASJID adalah SYI’AR (dien)Allah..dan kaum muslimin di seluruh dunia dr zaman generasi terbaik(Rosul dan shahabatnya) sampai nanti akhir zaman tetap memuliakan dan mencintai syi’ar”Allah,kecuali org2 yg ada penyakit dlm hatinya!!

    • Al-Faqir berkata:

      Selamat datang saudaraku Abu Ahmad….
      Inilah firqoh kami yg baru saja kami tinggalkan dan yg sedang kami ingatkan orang2 di sana agar keluar juga melalui blog ini.
      Semoga Allah mengampuni kami atas kesalahan2 di masa yang lalu. Semoga Allah maafkan kami atas kekurangan di sana-sini karena kami terpaksa harus membuat juga blog ini…

  6. Abu Ahmad berkata:

    Semoga Allah Ta’ala membimbing dan memberi hidayatuttaufiq kpd kita juga kpd teman2 antum baik yg sdh keluar dr kelompok tsb.maupun yg blm.
    Sungguh suatu keaadaan yg sulit digambarkan,bila paham atau kelompok ini berkembang..
    MASJID-MASJID makin sepi,atau tinggal bngunan kosong,tdk ada lagi suara Adzan,hari jum’at tdk ada beda dgn hari lain..krn semua tdk mau mendekat dan memakmurkan masjid dan lbh memilih dirmh,atau pasar2,sawah2,peternakan,dll.wallahul musta’an..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s