Ingkar Sunnah : Pengingkar Akal Sehat

Ingkar Sunnah : Pengingkar akal sehat

بسم الله الرحمن الرحيم
إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلاَّ الله وحده لا شريك له وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله. فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار .

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah
صلي الله عليه وسلم Wa Ba’du :

Allah سبحانه و تعالي berfirman :

مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَن تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

“Barangsiapa yang mentaati Rasul, berarti ia telah benar-benar mentaati Allah. Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (Qs.An-Nisaâ` : 80)

Ada segelintir orang yang berkata : “Hadits itu dari manusia…” dan perkataan lainnya : “Hadits itu tidak terjaga, yang terjaga adalah Al-Qur’an yang dari Allah…”
Perkataan-perkataan semacam ini sudah lama ada dan berasal dari salah satu faham bid’ah, yaitu faham “ingkar sunnah”. Namun ketika hal ini dikemukakan kepada mereka, mereka berkata : “Iya kita memang begitu, tapi kita bukan ingkar sunnah, kita masih pakai hadits juga….”
Mereka yang berkata seperti itu sama dengan orang yang mempunyai “koreng” lalu dikatakan kepada mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang korengan, mereka lalu menjawab : “Iya kita memang punya koreng, tapi kita bukan orang-orang korengan, sebab koreng kita cuma dua…”
Sebagian dari mereka adalah orang-orang yang sangat awam yang hanya jadi pengikut. Ketika dikatakan kepada mereka bahwa mereka telah menganut faham ingkar-sunnah, mereka tak berkata apa-apa, hanya bengong sambil bertanya-tanya : “Apa itu ingkar-sunnah? Apakah itu sejenis dendeng buatan orang Arab ataukah sejenis kue kering keluaran baru…?”

Subhanallah.
____________________________________

Ingkar Sunnah

Ingkar sunnah mempunyai makna : Ingkar berarti menolak, menafikan, tidak mengakui.
Sunnah berarti “jalan” (yang baik atau yang jelek), namun dalam istilah para ahli hadits Sunnah berarti : Apa yang datang dari Nabi صلي الله عليه وسلم baik berupa perkataan, atau perbuatan, atau pembiaran (persetujuan), atau sifat fisik, atau perilaku, atau perjalanan hidup, sebelum dan sesudah beliau diangkat menjadi Nabi. (Taujihun Nazhar ila Ushulil-Atsar, Thahir bin Shalih Ad-Dimasyqi, hal.3 dan As-Sunnah wa Makanatuha fit-Tasyri’, As-Siba’i, hal.47)

Ingkar Sunnah adalah menolak As-Sunnah yang berasal dari Nabi صلي الله عليه وسلم . Penolakan terhadap As-Sunnah ini dalam prakteknya adalah penolakan terhadap hadits-hadits Nabi.
Imam Asy-Syafi’i رحمه الله menyebut pengingkar sunnah dengan sebutan “At-thoifat allatii roddat al-akhbar” (segolongan yang menolak khabar-khabar/hadits).

Fenomena pengingkaran terhadap Sunnah, sudah diprediksi oleh Rasulullah dalam satu haditsnya :

يُوشِكُ الرَّجُلُ مُتَّكِئًا عَلَى أَرِيكَتِهِ يُحَدِّثُ بِحَدِيثٍ مِنْ حَدِيثِي فَيَقُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا وَجَدْنَا فِيهِ مِنْ حَلَالٍ اسْتَحْلَلْنَاهُ وَمَا وَجَدْنَا فِيهِ مِنْ حَرَامٍ حَرَّمْنَاهُ أَلَا وَإِنَّ مَا حَرَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ . رواه ابن ماجه عن المقدام بن معدي كرب

“Kelak akan ada seorang laki-laki yang duduk bersandar di ranjang mewahnya, dia berbicara menyampaikan haditsku. Lalu dia berkata, ‘Di antara kami dan kalian sudah ada kitab Allah Azza wa Jalla. Maka, apa yang kita dapatkan di dalamnya sesuatu yang dihalalkan, kita halalkan. Dan apa yang diharamkan di dalamnya, maka kita haramkan. Padahal, sesungguhnya apa yang diharamkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sama seperti apa yang diharamkan Allah.” (HR Ibnu Majah dari Al-Miqdam bin Ma’di Karib, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shohih Sunan Ibni Majah 1 no.12. Hadits serupa juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Abu Dawud dan Al Hakim)

Meskipun orang-orang yang mengingkari Sunnah baru tersirat jelas dalam keterangan-keterangan dari Imam Asy-Syafi’i (sekitar abad kedua hijriyah) namun sebenarnya polanya sudah ada dari sejak Rasulullah صلي الله عليه وسلم masih hidup.
Dzul-Khuwaisiroh dari bani Tamim adalah orang pertama yang menunjukkan penolakan terhadap cara-cara Rasul (yang merupakan sunnah/praktek yang diterapkan oleh Rasul) membagi ghonimah dalam satu peperangan (mengenai hal ini bisa dilihat dalam beberapa riwayat dari Bukhori atau Muslim).   Ia (Dzul-Khuwaisiroh) menganggap Rasulullah tidak menerapkan keadilan yang Allah ajarkan. Nabi dianggap sebagai orang yang menyalahi ajaran Allah.   Ia tidak bisa memahami bahwa yang dipraktekkan Rasulullah صلي الله عليه وسلم adalah berdasarkan bimbingan wahyu.
Nampaknya Dzul-Khuwaisiroh sangat sulit menerima fakta bahwa yang mendapatkan wahyu dari Allah dan yang paling mengerti tentang ajaran Allah dalam Al-Qur’an adalah Rasulullah, bukan dirinya. Nampaknya Dzul-Khuwaisiroh mengira bahwa dia mengerti ajaran Allah yang benar dan Rasulullah pada saat itu salah, sehingga ia mengajari Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم untuk berlaku adil dan bertakwa kepada Allah.
Ini adalah fenomena penolakan terhadap Sunnah yang dipraktekkan oleh Rasul secara langsung akibat kebodohan dan pikiran yang kaku. Pada kelanjutannya pola seperti ini menjadi pola yang memicu munculnya faham khawarij, yaitu di masa sahabat.   Dan setelah masa sahabat, pola kebodohan terhadap makna Sunnah dan sikap skeptis terhadapnya semakin berkembang hingga memunculkan faham mu’tazilah, yaitu faham yang mengkedepankan akal pikiran dan banyak menolak ajaran yang dianggap tidak masuk akal.
Sementara itu orang-orang jahil yang di dalam kulubnya ada penyakit seperti nifak, ujub, atau hasud semakin banyak mencurigai dan meragukan ajaran dari hadits-hadits Rasul bahkan sebagian hadits kemudian dianggapnya bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Muncullah faham ingkar sunnah, faham yang tidak mempercayai dan menolak hadits-hadits Rasul.   Ini terjadi pada sekitar abad kedua Hijriyah, keberadaan penganut ingkar sunnah terekam dalam satu bagian tulisan kitab Al-Um dari Imam Asy-Syafi’i.

Ingkar sunnah dan ahlul-bid’ah

Dalam hal pengingkaran mereka terhadap hadits-hadits (atau dari sisi tinjau faham yang mereka anut), para pengingkar sunnah terbagi ke dalam tiga pengelompokan :

1. Ingkar sunnah yang menolak hadits-hadits Rasul secara “keseluruhan”
2. Ingkar sunnah yang menolak hadits-hadits Rasul kecuali hadits-hadits yang mengandung ajaran yang ada nash-nya dalam Al-Qur’an
3. Ingkar sunnah yang menolak hadits-hadits ahad dan hanya menerima hadits-hadits yang mutawatir

Sedikit atau banyak hadits-hadits Rasulullah (yang dikenal shohih) yang di-ingkari tetaplah dikategorikan sebagai ingkar sunnah.

Beberapa keterangan dari para ulama salaf ada menggambarkan orang-orang tertentu yang terindikasi mengingkari Sunnah, tetapi mereka ini tidak dikategorikan khusus sebagai kaum ingkar sunnah, karena mereka diketahui dalam sejarah adalah bagian orang-orang berakidah khawarij atau mu’tazilah. Sebagaimana juga para ulama salaf telah memahami karakter ahlul-bid’ah secara umum yang mereka pasti tidak akan menyukai ajaran dari As-Sunnah, dan ketidaksukaan mereka terhadap ilmu-ilmu hadits dan para ahlul-hadits. Mereka membuat bid’ah dan efek dari bid’ah yang mereka ada-adakan adalah penentangan mereka terhadap As-Sunnah yang sepeninggal Rasulullah صلي الله عليه وسلم adalah berbentuk hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para ulama, baik ulama dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan setelah sahabat hingga kepada masa sekarang ini.
Khawarij, mu’tazilah dan ahlul-bid’ah yang lain secara khas bukanlah ingkar-sunnah, tetapi dalam satu atau lain-hal mereka menolak hadits-hadits Rasul juga sebagaimana kaum ingkarus-Sunnah.
Berikut beberapa nukilan tentang keberadaan mereka di masa lalu yang menolak Sunnah :

Suatu hari, ketika shahabat yang mulia Imran bin Hushain رضي الله عنه menyampaikan hadits-hadits Rasulullah صلي الله عليه وسلم, tiba-tiba ada seorang laki-laki memprotes :
“Berilah kami ayat-ayat Al-Qur`an saja..!”
Maka ‘Imran pun marah mendengarnya seraya mengatakan :
“Sungguh kamu ini orang yang dungu..! Allah menyebutkan dalam Al-Qur’an perintah zakat, namun di manakah ketentuan pada tiap dua ratus ada jatah lima dirham (yakni ketentuan 1/40)? Allah menyebutkan dalam Al-Qur’an perintah Shalat, namun di manakah ketentuan Shalat Zhuhur atau ‘Ashr 4 rakaat? Allah menyebutkan dalam Al-Qur’an perintah Thawaf, namun di manakah ketentuan thawaf di Ka’bah 7 kali dan Sa’i antara Shafa dan Marwa juga 7 kali?! Hanyalah itu merupakan hukum yang ditetapkan oleh Al-Qur’an, dan ditafsirkan (diterangkan) oleh As-Sunnah.” (Ahadits fii Dzammil-Kalam wa Ahlihi II/81)

Dua orang laki-laki dari kalangan (penganut) khawarij datang kepada Khalifah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz رحمه الله, dua orang ini termasuk yang mengingkari disyari’atkan hukum rajam bagi pelaku zina, dan keharaman menikahi wanita bersama bibinya sekaligus, dengan alasan bahwa hukum tersebut tidak ada dalam Al-Qur’an.
Maka ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz bertanya kepada mereka berdua :
“Berapa kali Allah mewajibkan shalat kepada kalian?”
Mereka berdua menjawab : “Shalat lima waktu dalam sehari semalam.”
Kemudian khalifah bertanya lagi tentang jumlah rakaatnya, yang kemudian dijawab oleh mereka, lalu Khalifah bertanya lagi tentang kadar dan nishob Zakat, mereka pun menjawabnya.
Lalu khalifah bertanya : “Apakah kalian berdua mendapatkan ketentuan hukum-hukum tersebut dalam Al-Qur’an?
Dua orang tersebut menjawab : “Kami tidak mendapatinya dalam Al-Qur’an.”
Khalifah bertanya lagi : “Maka dari mana kalian mengetahui ketentuan hukumnya?”
Keduanya menjawab : “Hal itu telah dipraktekkan oleh Rasulullah dan kaum muslimin.”
Maka Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz lalu berkata, “Demikian pula ini” (yakni hukum rajam bagi pelaku zina, dan keharaman menikahi wanita bersama bibinya sekaligus juga diamalkan dan dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam) (Al-Mughni VII/115)

Ingkar sunnah dan ingkar akal sehat

Mengingkari sunnah, sebetulnya adalah suatu hal yang tidak mungkin dalam Islam. Bagaimana orang bisa menjalankan ajaran Al-Qur’an tanpa mengerti caranya dari penjelasan Nabi?
Bagaimana bisa melaksanakan perintah Allah dalam Al-Qur’an untuk sholat sedangkan tatacara dari gerakan awal hingga akhir, keterangan bacaan-bacaan dari awal hingga akhir semuanya hanya ada di dalam hadits-hadits?
Bagaimana bisa melaksanakan ajaran zakat dalam Al-Qur’an sedangkan tatacara pengeluaran harta zakat (nishob, haul) hanya diterangkan di dalam hadits?
Bagaimana bisa melaksanakan perintah Allah untuk berteladan kepada Nabi sedangkan akhlak dan perilaku Nabi hanya lengkap diceritakan di dalam hadits-hadits?

Ada seorang penganut khawarij mengatakan : “Hadits-hadits itu dongeng…” Sesungguhnya dengan perkataan yang demikian dia telah men-cap semua aktivitas ibadahnya sendiri dipenuhi dongeng.
Ketika dia mengeluarkan zakat menjelang idul fithri, dia sedang menjalankan ajaran dongeng…
Ketika dia sholat, dia sedang melaksanakan ibadah yang tatacaranya menurut ajaran dongeng….
Dan ketika datang Idul Adha, dia memilih kambing untuk kurban sesuai ajaran dongeng…

Setiap pengingkar Sunnah sebenarnya adalah pengingkar akal sehat mereka sendiri. Mereka mengingkari As-Sunnah yang merupakan penjelasan praktek pelaksanaan ajaran-ajaran Al-Qur’an dari Nabi.

Mereka berfikir bahwa Al-Qur’an itu diturunkan kepada Rasul صلي الله عليه وسلم tanpa Rasul menerangkan apa-apa. Selama tahun-tahun Al-Qur’an diturunkan, Rasul tidak pernah ngomong apapun, tidak memberitahukan apapun, tidak mencontohkan perbuatan apapun, hanya diam dan tidak menerangkan penjelasan apapun tentang ayat-ayat Al-Qur’an. Ketika Al-Qur’an seluruhnya telah lengkap diturunkan, lalu Al-Qur’an itu ditaruh oleh Rasul di pinggir jalan. Seribu empatratus tahun kemudian seorang guru berakidah ingkar sunnah lewat di jalan itu ketika hendak beli cabe merah buat bikin sambel dan menemukan Al-Qur’an dari Rasul itu tergeletak, maka dipungutlah Al-Qur’an itu dan lalu mulailah diajarkan kepada murid-muridnya sampai sekarang….

Aku berlindung kepada Allah dari sifat bodoh dan kaku

Semoga Allah lindungi orang-orang yang baik dari sifat bodoh dan kaku…

للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَْيتَنا ، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمة ، إِنّكَ أنتَ الوَّهابُ
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
َاللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ وَالأَبْصَارِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

Al-Faqir, hamba Allah

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Pos ini dipublikasikan di belajar islam, belajar tafsir, Islam, kelompok Islam, Uncategorized dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Ingkar Sunnah : Pengingkar Akal Sehat

  1. handayaniarief06 berkata:

    segala sesuatu kembalikan ke alquran… ayat alquran yg mana mewajibkan untuk percaya kepada manusia (dalam hal ini,orang yg menulis kitab hadist) ?? Ayat alquran mana yg mewajibkan percaya kepada kitab hadist buatan manusia?

  2. Quranist Memurnikan Sunnah Rosûl berkata:

    KUTIP TULISAN ANDA..

    (…Mereka yang berkata seperti itu sama dengan orang yang mempunyai “koreng” lalu dikatakan kepada mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang korengan, mereka lalu menjawab : “Iya kita memang punya koreng, tapi kita bukan orang-orang korengan, sebab koreng kita cuma dua…”)

    TANGGAPAN SAYA..
    Hahahaa, saya benar-benar tertawa tatkala membaca tulisan anda, benar-benar konyol, masa’ disamakan orang yang mengingkari sebagian h̝adîts ‘berlabel s̝oh̝îh̝’ dengan permisalan orang-orang yang memiliki sedikit koreng, hanya dua, namun mereka menolak disebut “orang-orang korengan”🙂

    Teori menguji h̝adîts yang sebenar-benar s̝oh̝îh̝ ya memang seperti itu, bila sebuah h̝adîts telah dinyatakan ‘s̝oh̝îh̝’ secara isnad/sanad (jalur periwayatan), namun ternyata setelah diuji matan (isi)-nya bertentangan dengan Al-Qur’ân, maka otomatis h̝adîts itu tertolak. H̝adîts yang bertentangan dengan Al-Qur’ân jelas tidak bisa disebut sebagai Sunnah Rosûl, sebab antara Al-Qurʼân dan Sunnah Rosûl SAW tidak mungkin bertentangan..🙂
    Al-Qur’ân adalah sebuah kitab yang lengkap sebagai dasar kehidupan seorang Muslim, dan Sunnah Rosûl adalah penerapan dari kandungan ayat2 Al-Qur’ân dalam kehidupan sehari-hari, yang mana Sunnah itu berupa ucapan, perbuatan, & taqrîr Rosûlillâhi S̝ollollôhu ‘Alayhi Wa Sallam dalam rangka mengamalkan apa yang diajarkan dalam Al-Qur’ân, salah satunya dengan menjelaskan detil tertentu atas hal-hal yang mujmal didalam Al-Qur’ân, contohnya seperti yang anda sebutkan tadi (perihal berapa jumlah roka‘at dalam tiap S̝olât yang berbeda, dll.), yang semisal itu memang saya tidak ingkari, saya pun S̝olât lima kali sehari, kadangkala plus tahajjud sebagai S̝olât Sunnah (QS. [17] Al-Isrô: 79), dengan jumlah roka‘at sebagaimana yang ditetapkan dalam Sunnah, demikian pula dengan detil dari hal-hal yang lain, tidak ada masalah buat saya, karena memang tidak bertentangan dengan Al-Qur’ân🙂
    TAPI, begitu melihat h̝adîts ‘s̝oh̝îh̝’ yang hanya s̝oh̝îh̝ secara sanad, namun matan BERTENTANGAN dengan ayat Al-Qur’ân, jelas bahwa saya menolaknya, karena tidak mungkin Rosûl menetapkan sesuatu yang bertentangan dengan Al-Qur’ân itu sebagai Sunnah beliau SAW.
    Contoh h̝adîts-h̝adîts ‘s̝oh̝îh̝’ (secara sanad) yang ternyata matan-nya bertentangan dengan Al-Qur’an adalah:
    * h̝adîts perintah hukuman rajam bagi pezina, padahal dalam Al-Qur’ân hukumannya adalah dera 100x, QS. [24] An-Nûr: 2
    Jika sekiranya ada yang mengatakan bahwasanya ayat tersebut telah dimansukh oleh h̝adîts, maka itu adalah sebuah tanggapan yang tidak mendasar.
    Memangnya ayat Al-Qur’ân bisa dimansukh oleh h̝adîts? Padahal yang dimaksud nasîkh-mansûkh adalah adanya ayat-ayat tertentu dalam Al-Qur’ân yang menggantikan hukum dari ayat-ayat lainnya.
    * h̝adîts perintah bunuh orang murtad, secara tersirat bertentangan dengan QS. [5] Al-Mâ’idah: 54 & QS. [47] Muh̝ammad: 38 yang menyebutkan bahwa intinya jika ada orang-orang mu’min yang murtad kelak Allôh SWT akan mengganti dengan kaum yang lain yang s̝olîh̝.
    Ayat QS. [109] Al-Kâfirûn: 6 memberikan pernyataan yang jelas bagaimana bersikap terhadap orang-orang yang kafir, “lakum dînukum waliyadîni (bagi kalian agama kalian & bagiku agamaku)”, yang bermakna tiada paksaan dalam agama & jaminan keamanan bagi orang-orang yang kafir (murtad termasuk golongan kafir)
    Dan adanya ayat QS. [2] Al-Baqoroh: 256, “lâ ikrôha fiddîn (tiada paksaan dalam agama)” turut meneguhkan ayat diatas, yakni bahwa mereka dibiarkan saja/diberi kebebasan untuk memilih kekafiran, tidak ada paksaan dalam beragama (tentu kelak mereka sendiri akan menanggung konsekuensinya di âkhirot).
    Dan akan semakin jelas lagi apabila anda membaca QS. [4] An-Nisâ’: 137, di ayat itu dikatakan bahwa:
    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, lalu beriman (lagi) kemudian kafir (lagi), kemudian bertambah kekafiran, Allôh tidak akan mengampuni mereka dan tidak pula menunjukkan kepada mereka jalan (yang lurus).”
    Perhatikanlah, bahwa di ayat itu dikatakan bahwa Allôh tidak akan mengampuni serta menunjukkan jalan bagi orang-orang yang beriman lalu kafir, kemudian beriman (lagi) lalu kafir (lagi), lalu bertambah kekafirannya.
    Tersirat dengan sangat jelas, jika sekiranya memang benar-benar ada hukuman mati bagi orang-orang murtad, tentu takkan pernah ada kasus orang yang “beriman – kafir – beriman – kafir – bertambah kekafirannya” sebagaimana dinyatakan oleh ayat tersebut, karena seandainya memang ada hukuman mati bagi mereka:
    bila sekali saja mereka menjadi kafir sesudah beriman, mereka akan kehilangan nyawa mereka dan tidak mempunyai kesempatan untuk beriman lagi!

  3. Quranist Memurnikan Sunnah Rosûl berkata:

    Berkaitan dengan kritik sanad dan matan, sebagian orang menyatakan bahwa kritik sanad mendapat prioritas dari ulama-ulama hadis. Muhammad Afif misalnya, menyatakan bahwa meskipun kritik matan telah dirintis sejak awal oleh para sahabat generai pertama, tampaknya belum dilanjutkan secara sungguh-sungguh. Selama ini, kriteria s̝oh̝îh̝nya sebuah hadis, masih ditentukan hanya oleh sanadnya. Al-Bukhôrî sendiri, memaksudkan s̝oh̝îh̝ di situ adalah s̝oh̝îh̝ sanad-nya. Ini terlihat dengan jelas bila kita memperhatikan keseluruhan judul yang diberikan pada kitab sahihnya, yakni Al-Jamî‘ As̝-S̝oh̝îh̝ Al-Musnad Al-Mukhtas̝or min ‘Umûr Rosûlillâh (SAW) Wa Sunanih Wa Ayyâmih. Dalam judul tersebut tertera secara jelas kalimat Al-Jamî‘ As̝-S̝oh̝îh̝ Al-Musnad (Himpunan H̝adîts Yang S̝oh̝îh̝ Sanadnya). (Afif Muhammad, 1992: 29).
    Agaknya memang sulit dihindari kesan prioritas kritik pada sanad ketimbang matan, meskipun pada kenyataannya kesungguhan para ‘ulamâ h̝adîts dalam meneliti matan tak dapat diragukan. Hal ini disebabkan karena sanad h̝adîts merupakan keharusan pertama dalam kritik h̝adîts, sebab sanad yang tidak dapat dipertahankan validitasnya maka secara otomatis matannya tak dapat dinyatakan dari Rasul. Karenanya, para ‘ulamâ h̝adîts terdahulu tampaknya telah terserap waktu dan energinya oleh studi atas sanad h̝adîts.
    Jadi wajar saja, bila diantara h̝adîts-h̝adîts yang terdapat didalam kitab-kitab h̝adîts, bahkan sampai setingkat S̝oh̝îh̝ Bukhôrî & S̝oh̝îh̝ Muslim pun tidak dapat dikatakan isinya 100% s̝oh̝îh̝.
    S̝oh̝îh̝nya baru sebatas sanadnya saja, belum dapat dikatakan s̝oh̝îh̝ secara matan, makanya perlu ditinjau ulang dari segi matan.. :)ȟ

  4. Mahmud berkata:

    @Quranist
    Ane setuju 100% ama agan.
    Sip komennya gan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s