Ulama

بسم الله الرحمن الرحيم
إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلاَّ الله وحده لا شريك له وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله. فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار .

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah
صلي الله عليه وسلم Wa Ba’du :

Allah سبحانه و تعالي berfirman :

إِنَّماَ يَخْشَى اللهَ مِنْ عِباَدِهِ الْعُلَمآءُ

“Sesungguhnya yg takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah orang-orang yang berilmu (Ulama) (Qs.Faathir : 28)

Pada saat ini orang sangat mudah untuk mengucapkan kata “ulama”.   Akan tetapi kata yang begitu mudah diucapkan itu ternyata sangat sulit untuk difahami dan dimengerti oleh kebanyakan orang yang mengucapkan kata itu sendiri.
Sebut saja tentang permisalan tiga orang yang mempunyai persepsi sendiri-sendiri tentang makna ulama, yaitu si Wawan, si Triono dan si Obih (hanya permisalan).

Si Wawan adalah orang yang bersemangat, bercita-cita ingin menjadi orang yang berguna. Suatu saat dia bertemu dengan seseorang yang banyak tahu tentang ayat Al-Qur’an, tampil beda dari orang kebanyakan.  Orang ini mengajak membangun kembali Islam dari nol dengan membentuk firqoh tersendiri dengan akidah tersendiri.  Bagi dia, inilah sosok ulama yang cocok dan perlu diikut apa yang diajarkannya.  Inilah ulama yang benar…

Si Triono adalah orang yang kadang religius dan kadang suka hiburan. Ketika dilihatnya sosok orang alim di televisi menyertai para selebritis wanita yang mempertontonkan keteknya sambil berjoget bergembira dalam suatu acara, ia merasa terkesan.   Ia berkata : “Ini baru ulama…orang alim yang tahu realitas, tidak kolot, tidak fanatik yang amit-amit…” Bagi dia, inilah sosok ulama yang cocok dan perlu diikut apa yang diajarkannya.   Inilah ulama yang benar…

Si Obih adalah orang kampung yang tidak punya keinginan yang macam-macam selain hidup apa adanya di desanya yang tercinta.   Si Obih sangat mengagumi seorang kiyai di kampungnya yang bersifat “setengah wali”, tahu tentang hal-hal ghoib (ahli tafsir mimpi dan pengaruh baik-buruk tentang nama, hari, dan lain-lain), ahli menyembuhkan kesurupan, ahli minta berkah kepada kuburan keramat, dan lain-lain.
Bagi dia inilah sosok ulama yang cocok dan perlu diikut apa yang diajarkannya. Inilah ulama yang benar…

Permisalan tiga orang ini menggambarkan realitas dalam masyarakat tentang persepsi ulama. Ini hanyalah sebagian. Masih banyak persepsi-persepsi tentang ulama yang lainnya.
Setiap orang dengan pandangan pribadinya akan mempunyai penafsiran tersendiri tentang ulama.
Jadi, kalau ditanya saat ini : Manakah ulama yang benar?
Jawabannya adalah : kamu ingin dijawab oleh siapa?  Oleh si Wawan, si Triono, atau si Obih?
Begitupun ketika ada pertanyaan saat ini : Manakah pengikut salaf dan pengikut sunnah yang benar?
Maka dari penyembah kubur hingga penyembah hawa nafsu semuanya mengklaim bahwa dialah pengikut salaf dan sunnah yang benar….
Masing-masing orang yang bertanya kemudian mengikut pihak-pihak yang dianggapnya pengikut salaf dan sunnah yang benar…
Maka masing-masing orang telah menentukan alur nasibnya sendiri-sendiri…..

Keadaan yang lebih membingungkan dialami oleh orang-orang yang baru saja melepaskan diri dari jeratan kelompok-kelompok sempalan berfaham takfir.
Mereka bingung harus ikut ke mana, mereka tidak tahu manakah ulama yang benar di dunia ini pada saat ini.  Ada di antara mereka yang trauma hingga tidak mau lagi ikut pengajian apapun…
Sebagian lagi menebak-nebak, dan masuklah ke dalam firqoh serupa yang dicetuskan dan dipimpin oleh orang yang juga bukan dari kalangan ulama, bukan murid dari para ulama dunia yg haq, hanyalah orang yang pandai bicara dan pandai ‘menguasai’ orang.   Namun tampilannya memang lebih baik dan lebih maju dibanding firqoh sebelumnya yang pernah ia ikuti.
Sebagian lagi dari mereka, jatuh-bangun dalam kekecewaan sehingga tidak lagi rasionil dan tidak lagi mengkedepankan ilmu dalam menilai manakah ulama yang harus diikut…
Penilaiannya kemudian jatuh kepada ke mana perasaannya tidak lagi kecewa. Semoga benar bahwa dia memang tidak akan lagi kecewa untuk selama-lamanya….
Allahu A’lam.

Ulama adalah pewaris para Nabi

Kata “al-ulama” adalah bentuk jamak dari “al-alim” yang berarti orang yg berilmu. “Ulama” dalam bahasa arab berarti “orang-orang yang berilmu”.   Setelah pengadopsiannya ke dalam bahasa Indonesia, kata ulama biasanya tidak lagi dimaknai jamak, tapi dimaknai tunggal.  Sesungguhnya setiap orang Islam yang mengikut ajaran Allah melalui kerasulan Muhammad صلي الله عليه وسلم mestilah dia orang yang ‘berilmu’, sebab dia telah memahami kebenaran dan telah terlepas dari kejahilan (kebodohan). Namun tidak semua orang di antara ummat Muhammad صلي الله عليه وسلم mempunyai pengetahuan/ilmu tentang dien sama atau setaraf.   Di antara mereka selalu ada orang-orang yang mempunyai taraf ke-ilmuan yang lebih tinggi dan menonjol dibanding orang-orang lainnya, dan mereka inilah yang disebut ulama.   Di antara para sahabat Nabi yang banyak mempunyai kelebihan ilmu di antara para sahabat yang lain misalnya adalah Abu Bakr, Umar, Ali bin Abi Tholib, Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Abu Hurairah, Ibnu Umar رضي الله عنهم dan lain-lain dari sekian ribu jumlah para sahabat yang ada di masa itu. Merekalah para ulama dari kalangan sahabat.   Dan di antara para thobi’in ada nama-nama seperti Mujahid, Said bin Musayyab, Thowus bin Kaisan, Atha’ bin Rabah, Qotadah رحمهم الله dan lain-lain. Dan di antara para thobi’it-thobi’in ada nama-nama seperti Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsauri, Imam Malik, Al-Hasan Al-Bashri رحمهم الله dan lain-lain, dan seterusnya, dan seterusnya, hingga nama-nama para ulama pada abad sekarang.
Mereka adalah para ulama yang mempunyai kelebihan ilmu dibanding yang lain di antara para ahli-ibadah.

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda tentang ulama :

…وَفَضْلُ الْعَالِـمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ. إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ لَـمْ يَرِثُوا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ.

“….Dan sesungguhnya keutamaan orang ‘alim atas ahli-ibadah (yang tidak ‘alim) seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar tidak juga dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu.  Dan barangsiapa yang mengambil ilmu itu, maka sungguh, ia telah mendapatkan bagian yang paling banyak.” (HR Ahmad (V/196), Abu Dawud (no. 3641), At-Tirmidzi (no. 2682), Ibnu Majah (no. 223), dan Ibnu Hibban (no. 80 al-Mawaarid), lafazh ini milik Ahmad, dari Shahabat Abu Darda’ رضي الله عنه, dishohihkan oleh Al-Albani dalam Al-Misykah : 212)

Tidak semua orang bisa menjadi ulama, ini sangat terkait dengan kehendak Allah عز‏وجل yang membangkitkan mereka dan men-zhohirkan mereka sebagai orang-orang yang mempunyai kelebihan ilmu yang luar biasa di kalangan ummat Islam dan diikuti oleh kaum muslimin di muka bumi ini.   Seorang ulama selalu muncul dari kalangan “Sawaadul-A’zham” yang disebut Nabi dalam satu haditsnya.  Tidaklah mungkin ia muncul dari kalangan eksklusif tertentu seperti kalangan terisolir dari suatu sekte ahlul-bid’ah.

Dalam hadits di atas jelas tersirat bahwa ulama adalah tempat kaum muslimin mengambil ilmu darinya, ilmu yang ditinggalkan Nabi yang terwariskan kepadanya.   Ini tidaklah mungkin kecuali ia memang dikenal oleh kaum muslimin dunia akan kealimannya atau kredibilitas ke-ilmuannya dan telah diketahui orang hingga ke mana-mana serta telah teruji pula.
Tidak mungkin ada ulama yang haq yang Allah zhohirkan sebagai seorang mujaddid yang Nabi katakan sebagai pewaris para Nabi, ternyata hanya dikenal oleh orang-orang tertentu di Depok atau Cibinong.   Camat dan Bupatinya pun tidak kenal padanya…
Bahkan tukang tambal-ban di dekat rumahnya pun tidak pernah tahu…

Ulama-ulama terdahulu seperti Al-Bukhori, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hambal, Ibnul Jauzi, Ibnu Taimiyah, Ibnul-Qoyyim dan lain-lain, adalah orang-orang alim yang dikenal kaum muslimin dunia di masanya, dikenal karena kredibilitas ke-ilmuannya, bukan dikenal karena sepak terjangnya yang sensasional dan mengundang banyak perhatian publik sedangkan dari sisi ke-ilmuan tidak ada hal yang menonjol.
Ke-ilmuan seseorang menjadi salah-satu syarat mutlak dikenalnya seseorang itu sebagai ulama atau bukan.  Tanpa ke-ilmuan yang menonjol, dia bukan ulama sama sekali.
Sebagaimana ajaran Islam yang telah diturunkan oleh Allah kepada seseorang pembawa risalah (Nabi), seseorang ini mestilah bukan seseorang yang sembarangan, Ia mestilah manusia pilihan, karena yang diembannya adalah hal yang luar biasa (yaitu Risalah Islam). Maka ulama yang mewarisi ilmu para Nabi pun mesti juga bukan manusia sembarangan, bukan orang asal-jadi atau orang jadi-jadian, bukan orang cekak…
Ulama yang benar adalah orang yang mewarisi ilmu para Nabi.   Ia adalah orang pilihan dengan banyak kelebihan, tingkat kecerdasan yang luar biasa, kemampuan hafalan yang luar biasa, daya nalar yang luar biasa, mempunyai karya yang luar biasa, dan dikenal kaum muslimin sehingga kaum muslimin pun bisa mengambil ilmu darinya.

Ulama adalah orang yang takut kepada Allah

Allah سبحانه و تعالي mengatakan di dalam surat Faathir : 28 bahwa di antara hamba-hambanya yang takut kepada Allah adalah ulama.  Semakin tinggi ke-ilmuan seseorang, semakin besar takutnya kepada Allah.  Semakin jauh seseorang dari ilmu yang haq, semakin sembaranganlah ia dan semakin besar kecenderunganya untuk durhaka.

Seorang sahabat Nabi, Ibnu Mas’ud رضي الله عنه mengatakan :

“Cukuplah dengan ilmu itu akan membuat takut kepada Allah dan cukuplah dengan kebodohan itu dapat mendurhakai Allah.” (Al-Mawarid Adh-Dham’an lii Durus Az-Zaman)

Orang-orang yang menonjol dari kalangan ahlul-bid’ah dalam semua jenisnya bukanlah ulama.
Orang yang gegabah dalam berfatwa, berbicara tanpa ilmu, menta’wil ayat dengan akalnya sendiri, berdusta mengatasnamakan Rasul, adalah bukan ulama, karena orang yang seperti ini sudah jelas bukanlah orang yang takut kepada Allah عز‏وجل .

Ulama adalah ahli sanad

Semua ahlul-hadits dan muhadditsin adalah ulama. Dan tidak ada seorangpun di antara para ulama yang bukan ahli sanad, karena dengan ketelitian dalam hal ini sebuah berita atau ajaran dari Nabi صلي الله عليه وسلم akan terpilah keabsahan atau kedhoifannya. Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda tentang para ahlul-hadits :

… نَضَّرَ اللهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيْثًا فَبَلَّغَهُ …

“Allah membuat cerah (muka) seorang yang mendengarkan (hadits) dari kami, kemudian menyampaikannya.” (HR Ahmad 5/183, Abu Dawud 3/322, shohih dalam Ash-shohiihah :404)

Al-Khatib Al-Baghdadi رحمه الله mengatakan :

“Sungguh Allah telah menjadikan golongannya (Ahlul Hadits) sebagai tonggak syari’at. Melalui usaha mereka, Dia (Allah) menghancurkan setiap keburukan bid’ah. Merekalah kepercayaan Allah di antara makhluk-makhluk-Nya, sebagai perantara antara Nabi صلي الله عليه وسلم dan umatnya. Dan merekalah yang bersungguh-sungguh dalam menjaga millah (Dien)-Nya. Cahaya mereka terang, keutamaan mereka merata, tanda-tanda mereka jelas, madzhab mereka unggul, hujjah mereka tegas….” (Syaraf ashabil-hadiits)

Orang-orang yang tidak mempunyai keahlian dalam masalah ini bukanlah ulama yang haq, apalagi jika sudahlah tidak punya keahlian dalam masalah ini lalu sangat ringan mencela ulama yang haq yang mempunyai keahlian dalam masalah ini.   Mereka telah mengikuti yang bukan ulama untuk memusuhi ulama tanpa mengerti permasalahan yang ada. Apakah mereka tidak tahu bahwa keahlian para ulama itu tidak bisa didapatkan oleh siapapun kecuali atas ketetapan Allah semata…
Jika Allah sudah tetapkan itu ada pada diri seseorang dan telah dipersaksikan oleh segenap kaum muslimin, maka tidak sepantasnya orang-orang yang jujur bertawakkal kepada Allah membantah fakta dari Allah tersebut, meskipun (mungkin) berlawanan dengan logika atau kemauan hawa-dirinya…

Ulama adalah orang yang seakidah dengan pendahulu-pendahulunya

Ulama yang haq adalah orang yang meneruskan ajaran para salafush-sholih (orang-orang terdahulu yang sholih). Mereka tidak berbeda dalam hal yang mendasar, yaitu akidah (termasuk di dalamnya pegangan terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah, pemahaman Tauhid, pemahaman iman-kafir dan lain-lain).

Ibnu Taimiyah رحمه الله pernah ditanya tentang aqidah Imam Syafi’i. Beliau menjawab : “Aqidah Imam Syafi’i dan aqidah para ulama terdahulu (salaf) seperti Imam Malik, Imam ats-Tsauri, Imam al-Auza’i, Imam Ibnu al-Mubarak, Imam Ahmad bin Hambal, dan Imam Ishaq bin Rahawaih adalah seperti aqidah para imam panutan umat yang lain, seperti Imam al-Fudhail bin ‘Iyadh, Imam Abu Sulaiman ad-Darani, Sahl bin Abdullah at-Tusturi, dan lain-lain. Mereka tidak berbeda pendapat dalam Ushuluddin (hal aqidah dasar).  Begitu pula Imam Abu Hanifah, aqidah tetap beliau dalam masalah tauhid, qodar, dan sebagainya adalah sama dengan aqidah para imam tersebut di atas.  Dan aqidah para imam itu adalah sama dengan aqidah para sahabat dan thobi’in, yaitu sesuai dengan apa yang dituturkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah”. (Majmu Fatawa, V/256)

Orang yang gampang mengkafirkan muslim yang lain bukanlah ulama, meskipun pandai bicara dan pandai mencela, karena ia ini berbeda akidah dalam memahami iman-kafir dengan para ulama salaf.
Ahli tawassul kepada kuburan dan para praktisi ilmu ghaib bukanlah ulama, karena berseberangan dengan para salafush-sholih dalam memahami Tauhid.
Para penolak hadits shohih tanpa alasan bukanlah ulama, meskipun ia mengaku membawa faham yang lebih kuat yaitu faham Al-Qur’an.  Faham Al-Qur’an seseorang tanpa penguasaan As-Sunnah sesungguhnya hanyalah faham ahlul-bid’ah yang telah ditentang keras oleh para ulama salaf.

Sedekat manakah seseorang mengikuti jejak jumhur kaum salaf dalam hal akidah mereka yang baik, ia lebih pantas mendapatkan predikat ulama…

Ulama dan musuh ulama

Setiap ulama mempunyai musuh-musuh.   Tidak ada seorang ulamapun yang mendakwahkan Islam yang tidak mempunyai musuh.
Musuh para ulama salaf adalah kaum ahlul-bid’ah.  Bagaimana dengan musuh para ulama mutaakhirin abad ini?
Jika sudah bisa dikenali siapakah ulama mujaddid yang telah Allah zhohirkan di abad ini, bukankah sudah bisa juga dikenali siapakah musuh-musuhnya?

Mudah-mudahan tidak ada yang masih menginginkan jawaban si Wawan, si Triono atau si Obih.

Jika kita hidup di masa Imam Ahmad, ke mana kita akan melangkahkan kaki kita?

Ada banyak majelis yang mengatasnamakan Islam di sana pada masa itu…..
Allahu A’lam.  Hati-hatilah.

للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَْيتَنا ، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمة ، إِنّكَ أنتَ الوَّهابُ
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
َاللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ وَالأَبْصَارِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

Al-Faqir, hamba Allah

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Pos ini dipublikasikan di belajar islam, Islam, kelompok Islam, Uncategorized dan tag , , , , , . Tandai permalink.

44 Balasan ke Ulama

  1. anto berkata:

    Assalamu alaikum
    Teruslah menulis ya akhi,,mudah2an Alloh membalas amal baikmu ini

  2. Abu Ida berkata:

    http://cuappapcuap.blogspot.com/2011/12/selamat-tinggal-firqoh-abu-hamzah.html

    jangan lupa penulIs. mereka juga tidak pernah sholat jumat dan melarang jamaahnya utk sholat di masjid. ini saya comment lewat email teman saya. yg terparah ketika bapak kandung saya dibilang kafir. pdhl bapak saya sholat wajib dan sholat tahajudnya lebih rajin drpd guru saya. wkt itu guru saya bernama edwin saptono, dan sejumlah uang saya sempat diwalikan oleh dia tanpa tau kejelasannya. (uni)

  3. Nisa berkata:

    assalamu’alaikum warahmatullaah… prkenalkan, sy nisa, sblmnya prnh komen di tulisan akhi yg brjudul firqoh abu hamzah… jujur sy trmasuk org yg awam ttg semua hal ini, bs dbilang blm bnyk ilmu ALLOH yg sy dptkn utk mngabdi pd ALLOH dgn Haq… sy masih haus ilmu… dan stlh mengetahui kebenaran ttg kelompok sempalan ini, jujur sy shock dan berfikir ‘dmn sy hrs menggali ilmu lg?’ sprti yg akhi tulis atau komentar2 d tulisan sblmnya, jujur sy bingung…

    stlh bca ulasan ulama ini, adakah saran akhi spy sy tdk ‘masuk’ lg k lubang yg sama? sy bnr2 mencintai ALLOH & Rasul-Nya, yg sgt merindukan pertemuan dgn Robb-ku, Robb org2 beriman, Robb seluruh alam…

  4. Tholabul ilmi berkata:

    Yaa akhi,ada baiknya antum tambah artikel tentang biografi ulama yg lurus pemahaman islamnya,dr shahabat,thobi’in,atba’ut thobi’in,dst..yg patut jadi panutan dan rujukan tholabul ilmi,terutama buat saya pribadi dan org2 awam yg blm bnyk mengenal mrk..apalagi buat mrk2 yg kalo disebut nama2 ulama(imam2 kutubusittah,ibnu taimiyyah,ibnul qoyyim,al jashshosh,al-mawardi,as-shobuni,as-Sa’di,dll.) seolah2 ulama tsb msh dibwh mrk dlm memahami islam,krn ulama belajar dr gurunya,kalo mrk BELAJAR dr Allah(??)

    • Al-Faqir berkata:

      Insya Allah ya akhi.
      Kalau antum punya masukan, bisa komunikasi lwt email. Saya belum banyak berilmu, saya bukan ustadz, apalagi ulama.
      Bahkan saya baru banyak mempelajari ajaran para ulama salaf dari ustadz2 setelah bebas dari firqoh itu.
      Jazakallah atas komentar2nya ya akhi…Semoga antum dirahmati Allah.

  5. Tholabul ilmi berkata:

    amiin..wa ‘iyyakum,
    sebelumnya saya jg menyadari, kita msh awam dan perlu bnyak menimba ilmu dr ulama dan asatidz yg berpemahaman lurus dan berdakwah ikhlas menyeru ke jalan Allah.
    Saya jg baru mulai mengikuti majelis2 ilmu dr asatidz,dan insyaAllah bisa sama2 sharing ilmunya…smoga kita dimudahkan dan ditolong Allah Ta’ala dlm menempuh jalan yg lurus.krn hanya dgn pertolongan dan kehendakNya-lah kita dpt menempuhnya. Qs.An-Nahl:9, dan hak Allah-lah menerangkan jalan yg lurus dan diantaranya ada(jalan) yg menyimpang. Dan jika Dia menghendaki, tentu Dia menunjuki kamu semua (ke jalan yg benar).

  6. Tholabul ilmi berkata:

    kalau boleh,saya minta alamat email antum,mudah2an jika Allah menghendaki,kita bisa share info yg bermanfaat

  7. Nisa berkata:

    Assalamu’alaikum akhi, sy berkunjung lagi, ad yg sy mau tnyakan lewat e-mail, apakah boleh?
    Jujur sy tdk lantas keluar/kabur dr firqoh stlh mmbca hmpir sluruh ulasan dsini, sminggu ini sy mncari kbnrnnya kpd guru sy dn org2 yg ktnya lbih faham, n mnawarkan hasil print bbrp ulasan mulai dr koreksi pemahaman 1,2,3, fatwa bathil 1,2, khawarij lokal 1,2 dst, tp tanggapan mrk smua sama, GAK PERLU BACA dgn alasan2 yg cukup aneh bgi sy…ad yg ngaku udh tau prmasalahannya tnpa bca tp ktika sy mnanyakan prmslhnnya dia mnjawab asal saja persis dgn ap yg akhi paparkan dlm ulasan2nya… ckckck… sy tdk hbs fikir knp bs sprti itu… bkhn yg lebih anenya adnya alasan ‘takut qulubnya terkotori’ ????? sebuah pertanyaan bsr bgi saya, apakah ini iman yg kuat kpd ALLAH? bknkh klo kuat mk tdk akn putus? Allahu a’lam…

    bnyk yg mau sy tnyakan pd akhi tp sprtinya tdk bs dsini, krg ma’ruf jk dikonsumsi umum…

    • Al-Faqir berkata:

      Silahkan ukhti Nisa…..saya telah kirim data lewat email anti.
      Sikap mereka memang sering aneh spt itu. Mrk di-wanti2/didoktrin oleh atasan2nya utk “menjaga kulub dari virus” hingga ke tingkat yg ekstrim sedemikian rupa. Di Bekasi bahkan ada perempuan yg sangat ketakutan membuka tafsir Ibnu Katsir, khawatir kalau2 nanti “kulubnya kena virus” dan bisa berubah pemahamannya…..
      Demikian ya ukhti. Memang begitu.
      Barokallahu fiikum.

  8. Tholabul ilmi berkata:

    utk ukhti Nisa,assalamu’alaikum,
    telah sampai kpd saya penuturan teman2 yg pernah di kelompok tsb.memang demikian umumnya sikap mrk(seperti alergi) bhkan para gurunya,terhadap informasi dari luar mengenai ilmu islam.tp kalo info bisnis,berita politik/selebritis,keahlian(exp:teknologi barat,dll),sinetron,dll mrk tdk melarang,ktnya asal difilter saja.anehkan?
    Kalau kita merasa sdh punya furqonan,knpa takut membaca tulisan2 yg didlmnya ada dalil2 dari Al-Qur’an,dan hadits nabawi,jg atsar shahabat,dan perkataan para ulama terdahulu?kalaulah dlm blog ini dan blog2 lain,jg kitab2 ulama salaf maupun khalaf(Tafsir ibnu katsir,FATHUL BARI syarah shahih bukhari,SYARAH NAWAWI li SHAHIH MUSLIM,SYARAH ARBA’IN AN-NAWAWI,dll)ada kesalahan atau dianggap ada tuduhan thd kelompok,knpa mereka tdk menulis/menyatakan bantahan ilmiyyah kpd khalayak,atau lwt media?dan ini adalah kaidah yg dikenal para ulama,dgn menulis kitab/risalah,selain bantahan dgn lisan dgn mengemukakan dalil2 ilmiyah..bukan dgn bantahan ngawur,emosional,kmdian ujung2nya mentahdzir/hajr(boikot) bahkan mengkafirkan orang2 yg menyelisihi pahamnya..wallahul musta’an..
    Dalam berselisih pendapat,ada adabnya.kita diperintah Allah seperti dlm Qs.4:59 jika kalian ada tanaza'(perselisihan) pd sesuatu maka kembalikanlah kpd Allah(dgn Kitabullah)dan RosulNya(dgn sunnahnya).juga sifat org beriman dlm QS.39:18,mendengar perkataan kmudian mengikuti yg ahsan.jgn seperti sifat2 nifaq,yg pernah Rosul ingatkan,bhwa alamatul munafiq(tanda-tanda munafiq)… salah satunya adalah kalau berdebat/berselisih curang.kalau keempat sifat nifaq tsb ada smua pd diri seseorang maka munafiq tulen..(baca di Fathul Bari syarh Shahih Bukhari,oleh al-hafidz ibnu hajar al-asqalani).

  9. Nisa berkata:

    wa’alaikum salam @Tholabul ilmi, afwan sy blm tahu nama antum.
    kpd abu dzaki n @tholabul ilmi, blh sy minta pndapat? apakan langkah saya salah bertanya kpd org2 yg msh dlm kelompok mengenai hal ini? pdhl niatan sy menyodorkan hasil print smua ulasan di blog ini adalah spy mrk jg tau kebenaran FAH, tp sikap mrk ya sprti itu, semua menolak mmbaca seolah tau apa permasalahannya, malah mereka ingatkan kpd sy, janganlah kamu termasuk orang yg ragu (QS Al Imran : 60) dan terus memojokan sy yg sprti munafik… demi Dzat yang mengetahui semua isi qulub, sungguh sy sdikitpun tidak ragu dgn al qur’an dan as sunah… tp mereka menuding sy sprti itu…

    sy msh bertahan dlm FAH bkn krn ragu dgn yg ditulis olh abu dzaki di blog ini, malah saya smakin yakin bahwa ulasan dsini benar adanya dgn melihat sikap2 ‘temen2’ thdp sy yg ingin mencari kebenaran, sy hanya berusaha teliti sbgmn firman Allah dlm QS al hujurat : 6, apakah langkah sy terlalu berlebihan? afwan, sy malah jd curhat…

    • Al-Faqir berkata:

      Gertakan yg bisa memperlemah org2 yg akan keluar adalah : “Apa ragu sama ayat2 Al-Qur’an..? Apa tdk percaya sama Al-Qur’an..?”
      Dengan gertakan seperti itu akan membuat takut orang2 yg akan keluar, se-olah2 kalau keluar dari kelompok itu berarti telah melepaskan diri dari Al-Qur’an, membuang Al-Qur’an dan menjadi orang kafir…
      Seolah ukuran seseorang itu berpegang dengan Al-Qur’an atau tidak adalah dengan ngaji di kelompok itu (dgn imam abu hamzah) atau tidak.
      Ketahuilah, tidak ada keraguan sedikitpun bagi kita terhadap Al-Qur’an. Kita hanyalah menolak pemahaman Al-Qur’an dari mereka yg mereka ta’wil2 sendiri tanpa ilmu yg haq.
      Yg kita tidak percayai bukanlah Al-Qur’annya, tapi yg tidak kita percayai adalah hasil2 tawilan mereka terhadap ayat2 Allah dengan tanpa ilmu yg haq itu.
      Berlindunglah dgn sungguh2 kepada Allah dari syetan yg banyak menipu, sehingga jelas keburukan2 yg selama ini tersamar. Dan semoga kita kemudian bisa menjauh dari keburukan2 itu…

  10. Tholabul ilmi berkata:

    #ukhti Nisa,afwan kalo saya blm memperkenalkan diri,nama ana Abu Abdullah,Abdul Hady,saya hanya seorang penuntut ilmu yg msh hrs bnyk belajar,kebetulan ana ikut kajian dgn ustadz2 ahlus sunnah,dan bertemu dgn ikhwah yg pernah ikut di FAH.Ada kejadian diantara mrk yg bertanya kpd ustadz ttg berhukum ke hukum selain Allah dan ikhwah tsb membwkan hujah2 seperti yg dipahami FAH.Dan terjadi diskusi yg alot,yg akar dr smua itu adlh adanya paham takfir yg tdk pd tempatnya..tp akhirnya saudara tsb menyadari kekeliruannya,alhamdulillah syubhat2 takfirnya bisa diuraikan dgn dalil2 yg shahih..

    • Nisa berkata:

      ya, faham takfir yg didoktrinkan dlm FAH memang berakibat buruk pd pola pikir dan pola hidup para mantan kader2nya, termasuk saya… saya jg baru mencoba mengenali ajaran salafush shaleh lwt internet, dan karena msh ada ‘sisa2’ doktrin yg ditanamkan dlm FAH, entah knp msh agak aneh dgn membaca artikel2 di blog2 rujukan abu dzaki… audzubillah mindzalik… saya mesti segera membersihkan pikiran n qulub sy dr pemahaman yg menyimpang dlm FAH ini…

      jazaakalah khoir abu abdullah atas responnya pd sy, do’akan sy spy bs mlangkah kedepan dgn haq tentunya mengikut para ulama salaf, perjalanan sy baru saja dimulai… laa haula wa laa quwwata illa billaah…

  11. Tholabul ilmi berkata:

    semoga Allah merahmati dan meridhoi anti,ukhti Nisa.juga bagi siapa saja yg mau belajar dgn ilmu yg lurus dan bertaubat atas kesalahan2 yg tlah lalu.sbgmana dlm hadits Rosul:barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu,akan Allah lapangkan jalan ke surga.
    Jg dlm QS.LUQMAN:16-19,nasehat org shaleh(Luqman) kpd anaknya.dan ini adalah adab dan akhlaq yg mulia yg diajarkan Allah.
    Dan jgn lupa slalu mendekatkan diri kpd ALLAH dgn amal2 shaleh yg wajib,maupun yg mustahab.krn dgn itulah RAHMAT dari ALLAH akan didapat..lht QS.9:71.Juga QS.39:53-55.

  12. Abu Ahmad berkata:

    Assalamu’alaikum,akhi penulis.saya punya temen yg pahamnya seperti mudah ngafirin orang,gimana cara menyadarkannya ya?
    Ulama seperti syekh bin Baz,Muhammad Bin Sholeh al-utsaimin,Al-Albany,Abdurahman as-Sudais,dibilangnya ulama suu’.
    Sekarang dianggap jaman jahiliyah, tdk ada satupun negri islam, pdhal kalo kita baca hadits tentang kehormatan kota Makkah dan Madinah, Rosululloh mendoakan keberkahannya dan keHAROMAN 2 kota tsb..bhkan 2 kota tsb tdk dpt dimasuki dajjal
    maaf penulis, hadits tsb sama temen saya tdk diperdulikan meskipun saya bawakan buku Syarah hadits Riyadus shalihin karya ibnu Utsaimin.

  13. Abu Ahmad berkata:

    masalah vonis takfir/pengkafiran sepertinya masalah utama yg jadi akar smua perpecahan dlm umat islam,alih2 mau bersatu menghadapi musuh(kaum kuffar),malah umat islam terpecah-belah dan saling mengkafirkan,musibah dan fitnah yg mengerikan..
    Wal’iyadzubillah..

    Oya penulis,bisa antum sajikan pembahasan soal takfir,dan kaidah2nya,juga faktor penghalangnya terutama takfir thd person tertentu..karena sering disepelekan bhw ada dalil2 dlm al-Qur’an dan sunnah tentang kaidah dan faktor penghalang takfir,krn dianggapnya itu cuma teori buatan ulama saja.sampai2 ada org yg menuduh ulama membuat syarat2 diluar kitabullah,dgn berdalil pd hadits:brgsiapa yg mensyaratkan suatu syarat diluar kitabullah maka batil,skalipun ia mendatangkan seratus syarat.

    • Al-Faqir berkata:

      Subhanallah…mereka menyangka bahwa para Ulama hanya membuat teori2? Saya belum tahu ada orang yg bisa bicara seperti itu, dari firqoh mana dia, ya..?
      “brgsiapa yg mensyaratkan suatu syarat diluar kitabullah maka batil, skalipun ia mendatangkan seratus syarat”, ini hadits dari mana, ya? Di kitab mana hadits itu berada? Dan bagaimana juga statusnya?
      Antum harus dapatkan perawinya dari orang yg mengemukakan hadits itu, sebab kalau tdk akan terjerumus berdusta meng-atasnamakan Rasul.
      “..Barangsiapa berdusta atas namaku, maka bersedialah tempat duduknya dari api neraka..(HR Bukhori)
      Setiap orang di kalangan ahli-ilmu dan tholibul ‘ilmi akan melaknat orang2 yg berani mengatakan sebuah perkataan dari hadits Nabi padahal bukan…

      Mengenai tulisan kaidah2 takfir mu’ayyan sudah banyak dibahas di blog2 lain. Kalaupun nanti ada yg ditulis ulang di sini, barangkali hanya yg akan terkait dengan firqoh abu hamzah.
      Jazakallah khoir atas komentarnya ya akhi.

  14. Abu Ahmad berkata:

    saya baca diblog tentang fitnah takfir,kemudian ada coment dari anonim yg nampaknya dia pengusung paham takfir(pengagum usamah bin laden).dia blm tahu bhw vonis takfir itu ada syarat dan faktor penghalangnya.kmdian dia bantah dgn hadits tadi.kayaknya org itu asal sebut hadits..insya Allah nanti saya cek hadits tsb.
    Kalau dari coment2 di blog ini yg negatif,nampaknya jg dr org2 yg sepaham dgn paham takfir (walaupun berasal dari lain2 bendera/kelompok,yg kalau ketemu satu sama lain bisa-bisa tdk akur bhkan saling takfir…!!)

  15. Abu Ahmad berkata:

    alhamdulillah ketemu hadits-nya ya akhi.hadits tsb.ada dlm Kitab al-Buyu'(jual-beli),diriwayatkan oleh al-Bukhari no.2168 dan Muslim no.1504,dari ‘Aisyah rodliyallohu anha,tentang hak kemerdekaan(maula) bekas budak yaitu kepada orang yg memerdekakan.

    ROSULULLOH bersabda:amma ba’du,famaa baalu rijaalin yasytarithuuna syuruuthon,laisat fii kitaabillah? KULLU SYARTHIN LAISA FII KITAABILLAH FAHUWA BAATHILUN WA IN KAANA MIATA SYARTHIN.QODHOULLOHI AHAQQU.WA SYARTHULLOHI AUTSAQ.
    WA INNAMAA ALWALA’U LIMAN A’TAQO.
    artinya:”amma ba’du,ada kepentingan apa orang2 yang meminta syarat2 yg tdk ada dalam kitab Allah.syarat apa saja yg tdk tertulis dlm Kitab Allah,maka batil.Meskipun sampai 100 syarat.Qadha Allah itu benar dan syarat Allah kuat.
    Dan sesungguhnya hak wala'(yg mewalikan) hanyalah utk orang yg memerdekakan.”

    hadits tsb benar maknanya cuma dipakai tdk pd tempatnya sm oknum takfiry utk membantah kaidah-syarat takfir yg disebutkan ulama,pdhal tdk mungkin ulama menetapkan syarat tanpa dalil dari Kitabullah dan sunnah Nabi,apalagi dlm perkara hukum yg berakibat besar dan luas,yaitu penetapan vonis kafirnya seseorang.
    Wallahu a’lam

  16. saudaramu berkata:

    Bismillah to abu ida:baca komentar yg “ketika waslan ketemu wawan….”sm komentar to ummu marqissa apakah anda sdh mengingatkan langsung pd orangny?spertiny anda kenal baik sm yg anda komentarin,oh ya apakah anda sdh benar2 keluar dr kelompok abu hamzah mksdny ga ikut belajar lg ke orang2 yg msh dikel.itu?kl sdh keluar scara total Alhamdulillah,jgn sampe menyatakan sdh keluar dr faham ab.hmzh tp msh dtng bljar ke mrka bnyak yg sprti itu dah tau kbobrokan firqoh itu tp msh ada di dlmny krn alasan ingin da’wah ke tmn2 yg msh ada d firq itu,mrk ga menyadari sedikit demi sdikit keserat lagi msuk kdlmny dokrinan F AH menembus qulubny lg,bahkan ada yg sdh niat keluar tp balik malah membela FAH lg,yg herannya ada yg memberitaukan yg benarny/menyebarkan internet tp dia sendiri ga ada niatan to keluar sabar tetap bertahan di firq bahkan orang yg mau keluar dia halanghalangi,yg udah keluarpun disuruh msuk lg dan yg udah keluar difitnah habis habisan ternyata ada orang sprti itu,ketika d firq mengingatkan jg ngga malah balik akhirny membela si bpk,tp insya Alloh sy yakin abu ida ga sprti itu liat komen nya suka memaparkn ilmuny.sy komen sprti di atas mdah2 an bisa diambil pelajaran..to yg msh dfirqoh itu…

    • Al-Faqir berkata:

      Untuk yg belum jelas kelanjutannya memang kita sebaiknya berbaik sangka, karena tidak mudah keluar dari FAH. Tapi untuk yg telah jelas kelanjutannya, yaitu karena berlama-lama duduk bermajelis dengan ahli bid’ah akhirnya malah kembali lagi ke FAH atau malah mengajak org2 yg sudah keluar utk balik lagi, berikut pandangan ulama salaf untuk mereka :

      بسم الله الرحمن الرحيم

      Sekedar peringatan dari orang2 berilmu terdahulu (ulama salaf) tentang “duduk” atau “masih bersama-sama” dengan ahlul-bid’ah :

      Dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنه, ia berkata :

      لا تجالس أهل الأهواء ، فإن مجالستهم ممرضة للقلوب

      “Janganlah engkau duduk-duduk (bermajelis) dengan ahlul ahwa! karena duduk-duduk bersama mereka membuat hati(mu) menjadi sakit.”
      (Diriwayatkan oleh al-Ajurri dalam asy-Syari’ah pada bab Dzammul Jidal wal Khushumat fid Din dan Ibnu Baththoh dalam al-Ibanah al-Kubro pada bab at-Tahdzir min Shuhbati Qoumin Yumridhul Qulub wa yufsidul Iman, dengan sanad yang shohih)

      Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

      الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

      “Ruh-ruh adalah seperti tentara yang berbaris-baris, maka yang saling mengenal akan bersatu dan yang saling mengingkari akan berselisih.”
      (HR. Bukhori (3158), Muslim (2638), Abu Dawud (4834), Ahmad (7922), Ibnu Hibban (6168), al-Hakim (8296), dll.)

      Berkaitan hadits ini, Fudhoil bin Iyadh berkata :

      إن لله ملائكة يطلبون حلق الذكر، فانظر مع من يكون مجلسك، لا يكون مع صاحب بدعة؛ فإن الله تعالى لا ينظر إليهم، وعلامة النفاق أن يقوم الرجل ويقعد مع صاحب بدعة، وأدركت خيار الناس كلهم أصحاب سنة وهم ينهون عن أصحاب البدعة

      “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang bertugas mencari majelis-majelis dzikir, maka lihatlah bersama siapakah majelismu itu, janganlah bersama ahli bid’ah; karena Allah ta’ala tidak melihat kepada mereka. Dan salah satu tanda nifaq adalah seseorang bangun dan duduk bersama ahli bid’ah. Aku mendapati sebaik-baik manusia (yakni tabi’in, pent), mereka semuanya adalah ahlus Sunnah dan mereka melarang (yakni memperingatkan) dari ahli bid’ah.”
      (Hilyatul-Aulia (8/104))

      Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

      مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ فَوَاللَّهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيهِ وَهُوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ مِمَّا يَبْعَثُ بِهِ مِنْ الشُّبُهَاتِ أَوْ لِمَا يَبْعَثُ بِهِ مِنْ الشُّبُهَاتِ

      “Barangsiapa mendengar Dajjal, hendaklah ia mejauh darinya. Karena demi Allah, seseorang akan mendatanginya dengan mengira bahwa ia (Dajjal) itu seorang mu’min, lalu iapun mengikutinya dalam syubhat-syubhat yang dilontarkan oleh Dajjal atau karena syubhat-syubhat yang dilontarkan oleh Dajjal.”
      (HR. Abu Dawud (4319), Ahmad (19982), Al-Hakim (8616), ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir (550), dll. Dishohihkan al-Albani dalam Shohihul Jami’ (6301))

      Ibnu Baththoh setelah membawakan hadits ini berkata :

      هذا قول الرسول صلى الله عليه وسلم ، وهو الصادق المصدوق ، فالله الله معشر المسلمين ، لا يحملن أحدا منكم حسن ظنه بنفسه ، وما عهده من معرفته بصحة مذهبه على المخاطرة بدينه في مجالسة بعض أهل هذه الأهواء ، فيقول : أداخله لأناظره ، أو لأستخرج منه مذهبه ، فإنهم أشد فتنة من الدجال ، وكلامهم ألصق من الجرب ، وأحرق للقلوب من اللهب

      “Inilah sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم , dan dia adalah ash-shodiqul mashduq (yang benar dan dibenarkan).

      Maka Allah…!
      Allah wahai sekalian kaum muslimin…!!
      Janganlah salah seorang dari kalian membawa baik sangkanya terhadap dirinya sendiri (percaya diri, pent) dan apa-apa yang telah ia ketahui dari kebenaran madzhabnya, kepada yang membahayakan agamanya dari bermajelis dengan sebagian ahlil ahwa ini, lalu ia mengatakan :

      “Aku akan masuk kepadanya untuk kudebat dia, atau aku akan mengeluarkannya dari madzhabnya“,

      Sesungguhnya fitnah mereka (ahlul hawa/ahlul bid’ah) lebih parah dari Dajjal, dan perkataan mereka lebih melekat daripada kudis, dan lebih membakar hati daripada api yang menyala.”
      (Lihat al-Ibanah al-Kubro 3/470, kemudian beliau membawakan riwayat contoh orang-orang yang termakan syubuhat ahlul ahwa’ wal bida’, wal ‘iyadzu billah)

      Dari Al-Hasan (al-Bashri) dan Muhammad (bin Sirin), mereka berdua berkata :

      لا تجالسوا أصحاب الأهواء ولا تجادلوهم ولا تسمعوا منهم

      “Janganlah kalian bermajelis dengan ahlul-ahwa..! janganlah kalian berdebat dengan mereka..! dan janganlah kalian mendengar dari mereka..!”
      (Diriwayatkan Ibnu Sa’ad dalam ath-Thobaqot al-Kubro (7/172), sanadnya shohih)

      Dari Ayyub, ia berkata : Abu Qilabah berkata :

      لا تجالسوا أهل الأهواء ولا تجادلوهم فإني لا آمن أن يغمسوكم في ضلالتهم أو يلبسوا عليكم ما كنتم تعرفون

      “Janganlah kalian bermajelis dengan ahlul ahwa dan jangan berdebat dengan mereka..! karena aku tidak merasa aman jika mereka akan menenggelamkan kalian ke dalam kesesatannya atau men-talbis (membuat kesamaran/tipuan) terhadap apa yang kalian anggap baik.”
      (Diriwayatkan Ibnu Sa’ad dalam ath-Thobaqot al-Kubro (7/184), lihat as-Siyar (4/472) oleh adz-Dzahabi. Sanad ini shohih)

      Al-Imam Sufyan ats-Tsauri berkata :

      من أصغى بسمعه إلى صاحب بدعة، وهو يعلم، خرج من عصمة الله، ووكل إلى نفسه

      “Barangsiapa mendengarkan ahli bid’ah dengan pendengarannya, padahal dia mengetahui, maka ia keluar dari penjagaan Allah dan (urusannya) diserahkan kepada dirinya sendiri.” (Siyar A’lamin Nubala 7/261)

      Kesimpulan :
      Siapa yg menganggap remeh tentang perkara duduk2/bersama ahlul-bid’ah, dia akan termakan sendiri dengan penganggapan remehnya itu. Kemungkinannya adalah :
      1. Dia semakin susah untuk keluar
      2. Dia kehilangan pandangan benar yg pernah dia tangkap sebelumnya (karena talbis dari ahli-bid’ah) dan menjadi org2 yg bingung di dalam firqoh itu
      3. Dia kembali mengikuti dan mendukung faham bid’ah kelompoknya

      Para ulama salaf yg telah berpengalaman dalam hal ini telah memberikan peringatan.
      Siapa yg menganggap peringatan para ulama salaf ini sebagai hal yg remeh, diapun akan termakan sendiri dengan anggapan remehnya itu, sesungguhnya tidak ada yg dirugikan kecuali dirinya sendiri…..

    • Rani berkata:

      Ternyata. Saya pikir cuma disini aja ada orang yg kyk gitu.. Bisa sama ya, pdhal jauh jaraknya n gk kenal pun sm Abu Hamzah.. Heran yah, udah tau hujjah mereka terbantahkan semua, msh suka duduk2 jg

  17. Abu Asmaa' berkata:

    bismillah..
    semoga Alloh Azza wa Jalla membarokahi mereka yg sudah keluar dari firqoh tersebut dengan kebaikan dan keistiqomahan dalam memahami yg haq..
    semoga pula Alloh Tabaroka wa Ta’ala membuka qulub mereka yg masih di firqoh tersebut dan menyadarkan akal mereka yg terilusinasi syubhat2nya..!
    insya Allohu Ta’ala.

  18. Mari tegakkan sunnah berkata:

    dari pada lama-lama duduk nggak jelas manfaatnya,lebih baik duduk dan dengarkan ahlul ‘ilm menyampaikan ilmu,atau duduk-duduk menunggu shalat di masjid,jelas ada sunnah-nya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam

  19. hamba Alloh berkata:

    Bismillah,Assalamu’alaikum abu dzaki,sy mu menanyakan hdits Bukhori “Sebaik baik kalian adalah orang yg belajar AlQur’an dan mengajarkanny” hdits ini maksudny gmn?sy pernah baca yg dmksud hdits ini maksud belajar Alqur’an dlm membacany tartil tajwid sm makhrojny benar lalu mengajarkn k yg lain dlm membacany.Ada jg memahami dgn tafsirny.Dulu wkt d firqoh hdits ini djdikn hujah to kita belajar Qur’an dr ayat k ayat lalu mengajarknny pdhl kt ga bisa bhs arab,kaidah2 tafsir d jelas bukan ulama,

    • Al-Faqir berkata:

      Waalaikumussalam warohmatulloh, semoga anti selalu dalam bimbingan Allah.
      Masalah ini jadi salah satu syubhat di FAH. Ukhti bisa tanyakan ini secara langsung kepada yang berkompeten, para ustadz di tempat kajian2 sunnah. Saya hanya bisa kumpulkan sebagian di “Ajaran dan fatwa-fatwa bathil (3)”

  20. hamba Alloh berkata:

    sehingga sbagian tmn2 yg msh bertahan dfirqoh blm mau keluar krn hdits tsb stlh keluar hrs ada beljr dr Qur’an k qur’an lg.Mgkn terbiasa sprt itu sy pun ktika mngikuti kajian2 Islam yg mengikuti pr ulama salafush sholeh agak blm terbiasa krn tafsirny ga dbhs detail,sy cek dtafsirny(ibnu katsir) itu sdh merangkum semuany..jd jelas to praktekny justru mempermudah kita dlm memahaminy krn yg menyampaiknny jlas ulama bkn sprti d FAH.

  21. Salim al-Batamy berkata:

    to hamba Allah,
    Alhamdulillah yg telah memberi hidayah dan taufik kepada hamba-Nya dan melepaskan dari syubhat firqoh.Dan hendaknya kita selalu memohon kpd Allah di setiap shalat,yaitu tambahan hidayah,sehingga Dia membimbing kita di atas jalan yang lurus.Juga sebagai hamba,kita tetap mencari sebab-sebab datangnya hidayah kepada kita,yaitu salah satunya dengan tholabul ilmi.dan kita diperintah oleh Allah,utk bertanya kepada ahli dzikir(ulama) jika kita tdk tahu ilmu(agama),demikian juga Rasul-Nya berpesan bhw ulama adalah pewaris (ilmu) para Nabi.wa ba’du,alhamdulillah antum sdh mengikuti kajian ilmu dari ahlinya,ikhlas dan istiqomah dlm menuntut ilmu insya Allah akan menjadikan ilmu yg kita dpt jadi ilmu yg bermanfaat.Awal yg baik dgn niat yg baik,semoga Allah tidak menyia-nyiakan amalan hamba-Nya..

  22. Salim al-Batamy berkata:

    Sebagai gambaran utk akhi hamba Alloh..
    Kajian islam dgn manhaj salafush-sholeh,alhamdulillah mendapat respon yg baik dari masyarakat kaum muslimin,walaupun ada saja orang,oknum,organisasi,hizb,dll yg kurang respon bahkan antipati,karena bertentangan dgn misi2 hizbiyah,tradisi,hawa,dll.padahal yg dikaji dan diajarkan adalah tauhid dan sunnah,mengajak manusia merujuk aqidah,ibadah,mua’malah dan akhlak salaf(Rasulullah shallallahu alaihi wasallam & shahabatnya radliyallahu anhum).
    Materi kajianpun berusaha komprehensif,mulai dari dasar” bahasa Arab,Tauhid,Aqidah shahihah,fikih,musthalah hadits,akhlak,dll.juga mengkaji kitab” tafsir(ibnu katsir,al-qurthubi,ath-thobary,as-sa’di,dll),kitab hadits dan syarahnya(fathul bari,mukhtashar shahih bukhari,riyadlus shalihin,bulughul marom,syarhus-sunnah,dll),kitab ushul fiqh(syarhul mumthi’,umdatul qori,umdatul ahkam,dll),dan kitab salaf lainnya.juga ilmu alat seperti tahsinul qur’an(ilmu baca dgn tajwid,nahwu-shorof,dll).Mudah-mudah Allah menolong hamba-Nya yg mau menolong (agama)Nya.(QS.Muhammad:7). Sabda Nabi: Siapa yg menempuh jalan menuntut ilmu,Allah mudahkan jalannya ke surga.

  23. tauhidsyahadah berkata:

    Dalil majelis ilmu yang digunakan oleh FAH memang shahih, maka ghiroh dan amaliyahnya harus tetap dijaga, namun “guru”nya yang diganti.
    Ibnu Mas’ud : “Dahulu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membuat jadwal rutin bagi kami pada hari-hari tertentu, beliau tidak ingin kami menjadi bosan” (HR Bukhari no. 68, 70, dan 6411)
    Anas bin Malik : “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata : Mudahkanlah. Jamgan menyusahkan. Sampaikanlah berita gembira dan jangan membuat orang lari.”( HR Bukhari no.69, dan 6125)
    Dahulu Abullah menyampaikan nasihat kepada kami tiap hari kamis, Seorang lelaki berkata : “Wahai Abu Abdulrahman, sungguh betapa inginnya aku agar engkau menyampaikan kepada kami setiap hari”. Abdullah berkata, “Sungguh tidak ada yang menghalangiku untuk itu. Hanya saja aku tidak ingin membuat kalian bosan. Aku akan mengatur jadwal penyampaian nasihat untuk kalian sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajur jadwal untuk kami karena khawatir kami menjadi bosan.” ( HR. Muslim no. 83 dan 2821)
    Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata :
    Sebagian ulama berpendapat : “Mengapa kita menetapkan suatu hari tertentu yang dibiasakan untuk menyampaikan nasihat atau menyampaikan ilmu ? Perbuatan ini merupakan bid’ah. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajari manusia tanpa menentukan satu hari tertentu.” Jawabnya adalah : “ Perbuatan ini diriwayatkan oleh sahabat Radhiallahu Anhum. Perbuatan ini tidak termasuk bid’ah, bahkan ini merupakan disiplin waktu. Shahabat menetapkan hari tertentu bagi manusia dengan tujuan agar mereka mengetahuinya dan mendatanginya. Ini adalah kebaikan dan tidak ada unsur bid’ah padanya. (Syarah Shahih Bukhari, Kitab Ilmu Bab 12).
    Syaikh juga berkata : Seandainya para penuntut ilmu yang meminta penyampaian ilmu setiap hari, apakah sang guru memenuhi permintaan mereka atau ia menyampaikan sesuai kadar mereka, dan manakah yg lebih utama ? Jawabnya adalah : Dalam masalah ini ada perincian. Apabila para penuntut ilmu yang meminta jadwal belajar yg memungkinkan bagi mereka untuk mengikutinya, maka sang guru memenuhi permintaan mereka. Sebab itu adalah hak mereka dan merekalah yang memilihnya sendiri.( Syarah Shahih Bukhari, Kitab Ilmu bab 11)
    Umar berkata : “Dahulu saya dan tetangga saya seorang Anshar dari Bani Umayah bin Zaid – salah satu desa yg ada di Madinah – selalu bergantian mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Apabila tiba giliran saya, maka saya menyampaikan kepadanya tentang wahyu yang turun pada hari itu ataupun yang lain. Apabila gilirannya, ia melakukan seperti apa yang saya lakukan….”( HR Bukhari no.2468,4913,1914,4915,5191,5218,5843,7256 dan 7263)

    • hamba Alloh berkata:

      Maaf
      saya kurang jelas, perkataan syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin itu ada di kitabnya apa, yah? Apa itu pendapatnya diya ato hanya menukil pendapat sebagian ulama, yah? Soalnya para pengikut salaf punya kajian2 rutin yg katanya juga ajaran ulama2 pengikut salaf termasuk syaikh utsaimin. Oh, yah…syarah shohih Bukhori itu kitab fathul bari apa bukan yah? Soalnya katanya ada juga kitab syarah Bukhori dari Imam ibnu Rajab hambali

      • tauhidsyahadah berkata:

        Bukan Fathul Baari, tapi Kitab Syarah Shahih Al-Bukhari oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin, terjemahnya ada 7 jilid diterbitkan oleh Darussunnah.

  24. hamba Alloh berkata:

    Aamiin Ya Robbal ‘Alamiin,jazakAlloh atas jwban d info kajiannya akhi Salim al Batamy jg to akhi tauhidsyahadah.Alhamdulillah ilmu2 sprti dkajian salafush sholeh yg ana cari2 selama ini,tafsir d Haditsny jelas,mdah2an kita slalu mendapat bimbingan d ptunjuk dr Alloh..Amiin

  25. Abu Ahmad berkata:

    Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata : “… Diriwayatkan oleh Ya’qub bin Syaibah dari jalur Al-Harits bin Hashirah dari Zaid bin Wahb,ia berkata :
    “Aku mendengar Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu berkata : “Tidak akan datang satu masa atas kalian melainkan masa yang akan datang lebih buruk daripada masa sebelumnya hingga datang hari Kiamat. Maksudku bukanlah kelapangan hidup yang diterimanya atau harta yang didapatkannya, akan tetapi maksudku adalah masa yang akan datang itu lebih sedikit ulamanya daripada masa yang telah berlalu. Apabila ulama telah pergi dan semua manusia merasa sama rata, akibatnya tidak lagi menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Saat itulah mereka binasa.”

    Diriwayatkan dari jalur Asy-Sya’bi dari Masruq ia berkata:
    “Tidaklah datang satu masa melainkan pasti lebih buruk daripada masa sebelumnya. Maksudku bukanlah seorang amir lebih baik daripada amir lainnya, bukan pula satu tahun lebih baik daripada tahun lainnya, namun maksudku adalah perginya ulama dan ahli fiqh. Kemudian kalian tidak menemukan penggantinya, lalu datanglah satu kaum yang berfatwa atas dasar ra’yu (pikiran) mereka.”
    (Fathul Baari 13/21, atsar ini Shahih, diriwayatkan juga oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘ilmi wa Fadlihi 2/136)

    Atsar tsb menunjukkan begitu pentingnya kehadiran Ulama pada suatu zaman dan keutamaan mereka dalam kehidupan manusia secara menyeluruh dengan izin Allah…
    Semoga Allah menjaga ulama umat Islam yg msh ada pada zaman kita, dan semoga kita dikaruniai Allah, rasa syukur atas mereka dgn mau merujuk dan mengambil ilmu dari mereka.

  26. hamba Alloh berkata:

    Amiin,Alhamdulillah jazakAlloh atas jwbny Al-Fakir d ulasan Ajaran d Fatwa2 bathil 3,mdah2 an dgn ilmu yg jelas menjdikan langkah kita lbih baik dlm mencari ridho Alloh..Amiin

  27. alhamdulillah selamat dari fah berkata:

    Assalamu’alaikum. Salam kenal akhi Al-Faqir. Saya ikut FAH selama 3 tahun. Alhamdulillah saya dan suami keluar dari FAH ini sekitar 3 tahun yang lalu. Dan subhanallaah saya butuh waktu 3 tahun pula untuk melenyapkan doktrin2 sesat FAH di kepala saya.

    Butuh keberanian utk berhenti dari FAH, karena dulu saya ga tau harus belajar islam dmn lagi. Alhamdulillaah skrg Allaah swt menggantikan tempat yg sangat baik utk saya belajar.

    Sekarang saya belajar kitab tafsir al-quran, kitab2 tauhid para ulama, belajar fiqh, dan belajara ilmu alat dan non alat lainnya. Belajar di majelis ilmu seperti itu, rasanya benar2 nikmat luar biasa.

    Kalau saya mau berdiskusi lebih banyak, kmn saya bisa menghubungi antum? Saya merasa punya tanggungjawab untuk menyadarkan pengikut2 FAH ini.

    Jazaakallaahu Khaira

    • Al-Faqir berkata:

      Waalaikumussalam Warohmatulloh.
      Alhamdulillah jika anti sudah bisa keluar dari fah, memang tidak mudah untuk membuat keputusan seperti itu karena ajaran syubhat dari mereka sering membuat orang menjadi ragu2 dan banyak orang jadi “maju-mundur” untuk keluar. Dan betul juga apa yang anti bilang, butuh keberanian untuk berhenti dari fah. Meskipun sudah menyadari tentang kekeliruan2 fah jika tidak punya “nyali” tetap saja akan terus berada di fah…
      Bagus kalau anti merasa punya tanggung-jawab untuk menyadarkan pengikut2 fah, jika ada yang bisa saya bantu untuk didiskusikan mungkin bisa melalui e-mail, alamatnya sudah saya kirim ke alamat e-mail anti.
      Jazaakillah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s