Ahlul bid’ah dan ayat-ayat munafik

Ahlul-bid’ah dan munafikin

بسم الله الرحمن الرحيم
إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلاَّ الله وحده لا شريك له وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله. فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار .

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم Wa Ba’du :

Allah سبحانه و تعالي berfirman :

لِيَجْعَلَ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ فِتْنَةً لِلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ

“Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh setan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit.” (Qs.Al-Hajj : 53)

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

وَإِيَّاكُمْ وَمُـحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُـحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ …

“…Dan awaslah kalian dari perkara-perkara yang baru, karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR Ahmad 4/126, Ad-Darimi 1/57, At-Tirmidzi 5/44, Ibnu Majah 1/15, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah hal. 26, 34)

Ahlul bid’ah dan munafikin adalah dua kategori manusia yg berbeda dalam pandangan Islam. Namun mereka secara fisik sama-sama berada di antara orang-orang Islam.
Di pandangan beberapa ulama Islam, ternyata sifat-sifat ahlul-bid’ah ada mempunyai kemiripan dengan kaum munafikin.

Seorang ulama besar terdahulu, Fudhoil bin Iyadh رحمه الله berkata :
“Bila engkau melihat seorang Ahlus-Sunnah, seakan-akan engkau melihat salah seorang sahabat صلي الله عليه وسلم. Dan bila engkau melihat seorang ahlul-bid’ah, seakan-akan engkau melihat salah seorang dari kaum munafik” (Irsyadun Sari fi Syarhis-Sunnah lil-Barbahari, hal.248)

Beberapa ulama menggambarkan sifat-sifat kemunafikan yg juga terdapat dalam diri para ahlul-bid’ah secara umum (termasuk para khawarij lokal).
Berikut adalah di antaranya

Firman Allah سبحانه و تعالي :

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“(Sesungguhnya) orang-orang munafik laki-laki dan perempuan sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik” (Qs.At-Taubah : 67)

Tentang ayat di atas, Syaikh Fauzan bin Shalih al Fauzan dengan tegas menyatakan : “Adapun ahlul-nifaq (munafiqin) termasuk golongan mereka adalah firqah-firqah sesat (termasuk khawarij), maka sifat mereka adalah seperti yang Allah firmankan (dalam ayat di atas), maka sifat mereka sangat berlawanan dengan sifat Mukminin.” (Dhahiratut Tabdi’ wat-Tafsiq wat-Takfir hal.13)

Sifat ahlul-bid’ah (termasuk khawarij) adalah sama seperti sifat ahlul-nifaq. Yg mereka suruhkan sebenarnya adalah suruhan untuk kemunkaran.
Ahlul-bid’ah khawarij lokal banyak menyuruh untuk hal yg munkar, seperti misalnya suruhan meninggalkan sholat atau sholat jum’at, suruhan mengambil sikap permusuhan terhadap kerabat ataupun kaum muslimin (yg beda kelompok dengan mereka), suruhan menganggap remeh hal-hal yg menjadi sunnah dalam Islam, suruhan menikah dengan wali-nikah yg salah, , suruhan untuk bodoh (dengan dalih internalisasi belajar ilmu), suruhan mengingkari As-Sunnah (dengan dalih memperdalam hadits tidak terlalu penting) ,suruhan taklid-buta (dengan alasan percaya dan sangka baik terhadap guru penyampainya), ajaran mendurhakai orang-tua (karena orang-tuanya tidak segolongan dan dianggap kafir), dan lain-lain, dan lain-lain (masih banyak untuk disebutkan).

Dan yg mereka larangkan adalah sesungguhnya larangan kepada hal yg ma’ruf, seperti misalnya larangan melaksanakan ibadah haji (dengan alasan bahwa kota Mekkah belum aman dan masih dikuasai orang-orang munafik), larangan berwali (wala,loyal) dengan muslim yg lain (dengan alasan mereka orang munafik), larangan sholat di mesjid-mesjid pada umumnya (deng- an dalih semuanya mesjid dhiror), larangan makan sembelihan muslim yg disebut asma Allah padanya (dengan alasan yg menyembelihnya itu orang kafir), larangan bersilaturrahim, larangan berkasih-sayang terhadap sesama muslim, larangan shodaqoh, dan lain-lain, dan lain-lain.
Jika diurutkan, itu semua bermuara kepada fitnah besar yg telah mereka buat, yaitu fitnah faham takfir mereka yg bathil.

Dengan sifat-sifat ahlul-bid’ah yg seperti itu, wajar jika seseorang yg sebelumnya dikenal baik, suka bersilaturrahim, rajin sholat di mesjid-mesjid Allah, berbakti kepada kedua orang-tuanya, berkata lemah-lembut dan sering bangun di waktu malam mendekat kepada Rabb-nya dengan ber-tahajjud, setelah mengikut faham khawarij NII KW-9 atau faham sekte abu hamzah, maka semuanya itu ditinggalkannya dan justeru lalu berkata dengan kebanggaan : “inilah Islam yg benar…”
Ada orang tertentu yang malah berkata : “Saya sudah mengaji ke mana-mana, tidak ada yang sebaik ini…”   Inilah perkataan orang awam yang baru saja menganut faham ahli bid’ah, di mana ia sedang hangat-hangatnya terpukau dengan kamuflase yang ditebar kelompok ahli bid’ah. Perkataan seperti ini adalah perkataan “orang-orang baru”. Perkataannya itu akan berubah dengan sendirinya jika ia menyelami kelompok itu selama belasan tahun lagi, jika ia belum keburu diwafatkan oleh Allah.
___________________________________

Ibnu Taimiyah رحمه الله mengutip ayat Allah tentang orang-orang munafik untuk menggambarkan kondisi ahlul-bid’ah. Beliau berkata :

“…sebaliknya orang yang berpaling dari mengikuti kebenaran yang telah dia ketahui, dikarenakan mengikuti hawa nafsunya, maka hal itu akan melahirkan kebodohan dan kesesatan, sehingga hatinya tidak akan melihat kebenaran yang demikian terang, sebagaimana firman Allah Tabaroka wa Ta’ala :

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“… Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (Qs.Ash-Shaff : 5)

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Qs.Al Baqarah : 10).  (At-Tuhfatul Iraqiyyah, Ibnu Taimiyah)

Kaum khawarij lokal sangat sulit melihat kebenaran yg terang.   Hujjah-hujjah tafsir ayat ataupun hadits-hadits yg didatangkan kepada mereka tidak membuat mereka bertaubat, apalagi sekedar perkataan para ulama salaf.   Mereka tidak membutuhkan hujjah dalam beragama, yg mereka butuhkan adalah ‘kharisma’ sang imam atau pemimpin.   Karena itu jika ada perkataan atau ajaran dari sang imam atau pemimpin meskipun tanpa memperlihatkan hujjah secara detil dan nyata yg mereka bisa lihat, mereka tetap akan meresponnya dengan cepat.   Mereka adalah orang-orang yg telah dipalingkan hatinya dan orang-orang yg di dalam hatinya ada penyakit…
____________________________________

Ibnul Qoyyim رحمه الله dalam “Madarijus-Salikin” mengemukakan ayat-ayat berikut untuk menggambarkan karakter ahlul-nifaq (munafikin) dan ahlul-bid’ah (mubtadi) yg ia anggap berkarakter serupa, ia berkata :

“Orang yang berpegang teguh dengan Al Qur’an dan As-Sunnah di antara mereka adalah orang yang menampakkan keislamannya secara zhahir. Orang yang menguasai nash-nash (Al Qur’an dan As-Sunnah) di kalangan mereka adalah seperti keledai memikul kitab. Ahlul-ittiba’ (yg kon- sisten mengikut Sunnah Nabi dan sahabat) menurut mereka (orang munafik dan ahlul-bid’ah) adalah orang-orang yang bodoh, sehingga mereka tidak mau bermajelis dengan ahlul-ittiba’ tersebut :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ أَلا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لا يَعْلَمُونَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka : “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman.” Mereka menjawab : “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah! Sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh tapi mereka tidak mengetahui” (Qs.Al-Baqarah : 13)”   (Madarijus-Salikin, Ibnul-Qoyyim)

Ibnul-Qoyyim mengemukakan ayat ini untuk menggambarkan ahlul-bid’ah yg serupa dengan orang-orang munafik.  Sifat ahlul-bid’ah khawarij yg ‘pede’ berlebihan menganggap orang-orang di luar kelompoknya semuanya bodoh, dan merekalah yg pintar dan cerdas. Mereka menganggap bodoh orang-orang yg tekun beribadah dan menjalankan berbagai Sunnah-Rasul karena dianggap menjalankan ajaran-ajaran yg kurang penting.   Padahal merekalah yg bodoh, karena hal-hal sunnah yg mereka anggap kecil itu diberitakan Nabi bisa mendekatkan diri kepada Allah, atau membuka hati dari hidayah, atau penghapus dosa, atau hal yg memudahkan menuju surga ,dan lain-lain.   Bahkan beberapa hal yg mereka sering sepelekan malah mengandung ancaman neraka, atau membuat hati tertutup dari hidayah, atau tidak dicintai oleh Allah, atau membentuk kekikiran, atau menumbuhkan kemunafikan, dan lain-lain.
Mereka tidak tahu tentang hal ini…

Mereka juga menganggap bodoh orang-orang yg memperdalam ilmu-ilmu Islam seperti Fiqh, Tafsir, Mustholah-hadits, Nahwu-shorof, Ushulud-dien dan lain-lain dari sumber ulama-salaf (Imam-Imam Islam terdahulu).   Padahal merekalah yg bodoh, karena mengkesampingkan ilmu-ilmu itu justeru menyebabkan mereka menjadi ahlul-bid’ah yg jauh dari kebenaran dan petunjuk.
Mereka tidak tahu itu.

Mereka mencela kaum Ahlus-Sunnah yg mereka katakan “tidak ada kerja-kerjanya, hanya teori yg banyak”.   Mereka menganggap kerja-kerja merekalah yg hebat, yaitu dakwah kepada tegaknya Islam.   Padahal dakwah yg mereka serukan tidaklah melebihi kerongkongan mereka dan dakwah mereka tidaklah melampaui wilayah yg luas, kecuali hanya kepada secuil orang awam yg terjerat di beberapa tempat meskipun selama puluhan tahun.
Itupun dengan disertai selalu saja ada yg keluar dari kelompok mereka secara bergelombang setelah orang-orang itu sadar bahwa mereka berada di tempat yg salah.

Sementara itu kaum Ahlus-Sunnah (pengikut salaf dari Riyadh-Madinah) yg mereka cela dan mereka katakan “tidak ada kerja-kerjanya”, telah berdakwah Tauhid menembus seluruh negeri Jazirah Arab, Afrika (Sudan, Maroko dll), Asia Tengah (India, Pakistan, Bangladesh dll), Asia Tenggara (termasuk Indonesia), Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, bahkan Amerika latin.   Dan dakwah Tauhid ini telah semakin meluas dalam kurun waktu kurang lebih duapuluh tahun ke seluruh penjuru dunia.   Mereka tidak tahu tentang hal ini, karena mereka seperti katak dalam tempurung.
___________________________________

Ibnul Qoyyim رحمه الله juga mengatakan :
“Orang-orang munafik dan ahlul-bid’ah mempunyai dua wajah. Satu wajah untuk bertemu kaum Mukminin (Ahlus-Sunnah) dan wajah yang lainnya ketika kembali kepada teman-teman mereka. Mereka juga memiliki dua lisan, yang satu zhahirnya dapat diterima kaum mukminin dan yang lain menjelaskan rahasia yang tersembunyi di balik itu :

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman mereka mengatakan : “Kami beriman.” Bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan : “Sesungguh- nya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” (Qs.Al-Baqarah : 14)”  (Madarijus-Salikin, Ibnul-Qoyyim)

Ahlul-bid’ah lokal merahasiakan faham-faham asli mereka dari orang-orang Islam yg lain, dan tidak ingin diketahui umum, hanyalah di kalangan internal.  Pola tidak terang-terangan seperti ini sudah lazim sebagai ciri khas di kalangan ahlul-bid’ah sesat dari sejak dahulu.

Kholifah Umar bin Abdul Aziz رحمه الله berkata : “Jika engkau melihat ada sekelompok orang yang berbisik-bisik membicarakan masalah agama tanpa ingin diketahui orang lain, maka ketahuilah bahwa mereka itu di atas landasan kesesatan” (HR Ad-Darimi no.307)

Ahlul-bid’ah mempunyai alat untuk menutupi faham mereka yg sesat (untuk berpura-pura) terhadap orang Islam yg lain di kalangan Ahlus-Sunnah.   Syi’ah mempunyai “taqiyah” (yg bathil), LDII/ Islam jama’ah mempunyai “bithonah” dan pada sekte abu hamzah dikenal istilah “diplomasi”.

Dengan itu mereka berpura-pura manis ketika bertemu dengan kelompok lain, dan ketika kembali kepada orang-orang sesamanya, mereka mengatakan : “kita hanya ber-taqiyah”, atau “kita hanya ber-bithonah” atau “kita hanya ber-diplomasi”.
___________________________________

Ibnul Qoyyim رحمه الله melanjutkan :
“Mereka telah berpaling dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam rangka mengolok-olok dan menghina ahlinya. Mereka tidak mau tunduk kepada keputusan dua wahyu (Al-Qur’an dan As-Sunnah) karena mereka membanggakan ilmu yang ada pada mereka. Maka, engkau lihat mereka senantiasa mengejek orang-orang yang berpegang teguh dengan wahyu :

اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

“Allah akan (membalas) mengolok-olok mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.” (Qs.Al-Baqarah : 15)”   (Madarijus-Salikin, Ibnul-Qoyyim)

Mereka mengaku berpegang dengan wahyu Allah, padahal mereka tidaklah berpegang secara utuh, sebab mereka tidak memahami tentang dua wahyu yg berdampingan (sebelumnya perlu diwaspadai kaum yg jahil yg menyamakan dua wahyu yg dimaksud Ibnul Qoyyim di sini dengan dua wahyu yg dikatakan Ibnu Abbas dalam tafsir Qs.6:121. Dua wahyu yg dimaksud Ibnu Abbas adalah Yg dari Allah kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم (Dalam bentuk Al-Qur’an dan As-Sunnah) dan wahyu yg satunya lagi adalah dari syetan kepada pengikutnya untuk mendebat faham dari Allah dan RasulNya).

Mereka mengira wahyu Allah itu hanyalah Al-Qur’an.   Padahal wahyu Allah itu tidak semuanya berbentuk ayat-ayat Allah dalam Al-Qur’an, seperti misalnya dalam hadits-hadits qudsi juga termaktub wahyu Allah namun bukan bagian dari Al-Qur’an.   Ajaran dari perkataan, tindakan, dan pembiaran tentang sesuatu dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga adalah di bawah bimbingan wahyu, inilah As-Sunnah, bagian dari wahyu Allah juga (berdasarkan Qs.An-Najm : 2-4 & Qs.An-Nisaa : 113).   Ini sangat sulit mereka fahami karena sempitnya ilmu mereka.
Kebimbangan mereka terhadap apa yg mereka yakini terlihat pada fatwa-fatwa mereka yg seringkali berubah dengan dalih ‘mengadakan perbaikan-perbaikan’ atau ‘perubahan pemahaman’.   Ini sangat nyata terlihat, terutama pada sekte LDII dan sekte abu hamzah.
_________________________________

Ibnul Qoyyim رحمه الله juga mengatakan :
“Mereka pergi mencari ‘perdagangan yang merugi’ di samudra kegelapan. Mereka menunggangi kendaraan syubhat dan keraguan yang membawa mereka menuju gelombang ombak khayalan.   Angin kencang pun mempermainkan kapal-kapal mereka dan akhirnya melemparkan mereka di antara kapal-kapal orang-orang yang binasa :

أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلالَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ

“Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.” (Qs.Al-Baqarah : 16)”   (Madarijus-Salikin, Ibnul-Qoyyim)

Di antara para ahlul-bid’ah itu berusaha untuk mendapatkan keberuntungan, yaitu kebaikan dari Allah dan keridho-anNya.   Mereka berusaha ikhlas, memperbuat segala sesuatu “karena Allah”, namun sayangnya mereka melakukannya dengan memperturutkan hawa nafsunya dalam menta’wil ajaran dan membuang petunjuk, yaitu petunjuk Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم padahal beliau bersabda :

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Sesungguhnya Sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad صلي الله عليه وسلم. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang di ada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat. (HR Muslim /1435)

Petunjuk Nabi Muhammad (As-Sunnah) ini digali dan berusaha difahami dengan baik dan diajarkan kepada manusia melalui orang-orang berilmu (ulama), namun para ulama inipun mereka sepelekan, beginilah cara mereka membuang petunjuk Nabi, yaitu dengan menyepelekan para pewaris ajaran Nabi, yaitu para ulama.

Jika para ahlul-bid’ah itu mengambil petunjuk Nabi, tentu mereka akan sejalan dengan para ulama Ahlus-Sunnah yg juga sangat konsisten mengikuti petunjuk Nabi tsb.   Akan tetapi pada kenyataannya mereka berseberangan dengan para ulama dan justeru sejalan dengan khawarij.   Mereka akan merugi, sebab ikhlas saja tidak cukup untuk meraih ridho Allah, tetapi perlu cara yg benar menurut Sunnah Rasulullah صلي الله عليه وسلم .
Sebagai contoh, jika misalnya seseorang sholat shubuh tiga raka’at (berlebihan/ melampaui batas) meskipun ikhlas karena Allah, tidak akan diridhoi oleh Allah sholatnya itu. Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa mengamalkan yang bukan ajaran kami, maka ia tertolak.” (HR Muslim /1718)

Terlebih bagi para ahlul-bid’ah yg sembarangan menta’wil dan memahami Al-Qur’an, sembarangan dalam menta’wil hadits-hadits Rasul atau ajaran–ajaran Islam, memperturutkan ‘hawa’ dalam menjalankan Islam dengan tanpa ilmu yg benar, sehingga dasar akidah mereka pun menyimpang.   Di atas dasar akidah yg menyimpang inilah mereka beraktivitas Islam.   Bagaimanakah keikhlasannya bisa mendatangkan keridhoan Allah?   Jika kemudian dikatakan : “Biarlah Allah yg menilai, kita semua tidak tahu tentang itu”  maka perkataan ini sama saja dengan menganggap bahwa semua petunjuk dari Allah dan RasulNya itu tidak ada artinya…
_________________________________

Demikianlah sebagian pemahaman para ulama tentang ahlul-bid’ah yang sifat-sifatnya seperti sifat orang-orang munafik. Mereka tidak menyukai Islam yang utuh.   Dan ahlul-bid’ah tidak pernah menginginkan kalau di kalangan ummat Islam ada kriteria ulama, sehingga mereka menjadi sulit untuk “berkreasi” dalam pemahaman dan ajaran sesuai kehendaknya, sebab para ulama Islam akan senantiasa menentangnya.   Sampai kapanpun, mereka akan selalu berseteru dengan para ulama…
Allahu A’lam.

Semoga Allah سبحانه و تعالي senantiasa menunjuki kaum Muslimin kepada petunjuk yg benar, petunjuk yg dibawa Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم ,cahaya Al-Qur’an dengan Sunnah RasulNya

Semoga Allah سبحانه و تعالي senantiasa menjauhkan kaum Muslimin dari fitnah dajjal, yg besar maupun yg kecil

Semoga Allah سبحانه و تعالي senantiasa mengampuni orang-orang yg telah tergelincir dan kembali bertaubat

Dan semoga Allah سبحانه و تعالي menurunkan RahmatNya

للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَْيتَنا ، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمة ، إِنّكَ أنتَ الوَّهابُ
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
َاللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ وَالأَبْصَارِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

Al-Faqir, Hamba Allah

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Pos ini dipublikasikan di belajar islam, belajar tafsir, Islam, kelompok Islam, Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s