Megalomania syndrome

Megalomania Syndrome

بسم الله الرحمن الرحيم
إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلاَّ الله وحده لا شريك له وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله. فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار .

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم Wa Ba’du :

Allah سبحانه و تعالي berfirman :

وَلا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Qs.Luqman : 18)

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

ثَلاَثُ مُهْلِكَاتٍ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

“Tiga perkara yang membinasakan, (yaitu) kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan takjubnya seseorang terhadap dirinya sendiri”  (HR Ath-Thabrani dalam Al-Ausath no.5452, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shohiihah no.1802)

“Megalomania”, berasal dari kata Yunani “megalo” yang berarti : sangat besar, sangat hebat. Kata megalomania diistilahkan untuk sebuah sindrom kejiwaan pada manusia yang merupakan suatu bentuk ketidak normalan (penyakit).
Dalam peristilahan bahasa Indonesia , megalomania berarti suatu kelainan jiwa yang ditandai oleh adanya khayalan tentang kekuasaan dan kebesaran diri (Kamus besar bahasa Indonesia).
Secara medis, megalomania didefinisikan sebagai suatu kondisi mental di mana pasien memiliki delusi mengenai kebesaran diri berlebihan dan perasaan kebesaran atas dirinya sendiri (Medical dictionary, University of New Castle, England).
Sigmund Freud berpendapat bahwa megalomania adalah bentuk narsisme atau perasaan mencintai diri sendiri secara berlebihan dalam diri manusia.  Penderita megalomania mempunyai kecenderungan untuk menilai dirinya secara berlebihan atau menilai diri di luar batas.

Dalam sejarah, Hitler adalah salah satu nama legendaris pengidap megalomania. Kepercayaan terhadap dirinya sendiri begitu kuat, tak pernah pandangannya berubah bahwa dirinya adalah seorang yang akan membawa kejayaan bangsa Aria (Indo-Jerman) ke puncak dominasi kekuasaan dunia. Di negerinya, ia tak bisa disaingi dan perkataannya yang paling terkenal adalah : “Aku adalah negara dan negara adalah aku..”

Jauh sebelum Hitler menunjukkan gejala megalomanianya, Namrud dan Fir’aun (Pharaoh) telah lebih dulu menunjukkan gejala sindrom megalomania yang hebat. Perasaan kebesaran dan keagungan diri sendiri menyebabkan merasa sebagai penentu nasib dan kehidupan orang lain.
Kata-kata Namrud yang paling terkenal adalah : “Aku bisa menghidupkan dan mematikan…”
Dan kata-kata Fir’aun yang terkenal adalah : “Akulah Tuhan tertinggi” dan “Apakah kalian akan beriman sebelum aku izinkan..?”

Megalomania adalah sindrom yang dibuat-buat sendiri penyebabnya dan cenderung dinikmati oleh pengidapnya.  Seringkali seseorang menyadari tentang keadaanya, akan tetapi seringkali juga seseorang meng-kebelakangkan kesadarannya itu dikarenakan merasa nikmat dengan keadaan sindromnya dan tidak mau bersusah-susah dalam ketidak nyamanan akibat upaya mengendalikan diri.
Megalomania berefek buruk bagi kejiwaan seseorang, dan dalam kondisi yang ekstrim apa yang dirasakannya akan berusaha dia wujudkan secara irasional, tidak lagi memperdulikan norma-norma apapun, sangat subjektif, egoisme yang tinggi dan kehilangan pertimbangan yang logis dan bijak. Jika sudah seperti ini, bukan hanya dirinya yang akan dihancurkannya, tapi ia juga akan menjadi sosok yang berbahaya bagi orang lain ataupun bagi suatu komunitas masyarakat.

Dalam Islam, gejala megalomania diidentikkan sebagai bagian dari penyakit kulub yang disebut ujub , sebagaimana tersirat dalam Qs.Luqman:18 dan disebut dalam hadits riwayat Ath-Thabrani di atas.

Ibnu Katsir رحمه الله dalam tafsirnya mengatakan : “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”, yaitu sombong dan bangga pada diri sendiri serta “fakhuur” yaitu sombong terhadap orang lain..” (Tafsir Ibnu Katsir, juz 21 Qs.Luqman:18).

Megalomania dalam sekte-sekte sempalan

Banyak sekte-sekte sempalan dengan faham-faham sempalannya dicetuskan dan dibangun oleh pendirinya di atas sindrom ini.  Sebut saja kelompok sesat pertama yang ditumpas di masa sahabat, yaitu Musailamah al-Kadzdzab dan para pengikutnya.  Musailamah mengaku mendapatkan wahyu sebagaimana Muhammad صلي الله عليه وسلم dan mengklaim bahwa dirinya adalah juga seorang Nabi.  Ia begitu yakin bahwa dirinya setara dengan Muhammad صلي الله عليه وسلم dan layak mendapatkan wahyu Tuhan.
Pada masa-masa selanjutnya setelah kasus Musailamah, semakin marak dalam sejarah orang-orang yang mengklaim bahwa dirinya adalah seorang Nabi.  Hal ini sebagaimana telah diprediksi oleh Nabi صلي الله عليه وسلم :

وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِى بِالْمُشْرِكِينَ حَتَّى تَعْبُدَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِى الأَوْثَانَ وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِى أُمَّتِى كَذَّابُونَ ثَلاَثُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِىٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لاَ نَبِىَّ بَعْدِى وَلاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِىَ أَمْرُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ».

“Tidak akan tegak hari kiamat hingga ada beberapa kabilah di antara ummatku akan bergabung dengan kaum musyrikin; sampai ada beberapa kabilah diantara ummatku akan menyembah berhala. Sesungguhnya akan ada di antara ummatku 30 tukang dusta, semuanya mengaku bahwa ia adalah Nabi. Akulah penutup para Nabi, tak ada lagi Nabi setelahku.  Dan (namun begitu) akan tetap ada dari ummatku segolongan yang tegak membela kebenaran (Al-Haq) dan mendapat pertolongan (dari Allah), mereka tidak tergoyahkan oleh orang-orang yang menyelisihi (dan menghinakan) mereka, sampai datang keputusan Allah ‘Azza wa Jalla” (HR Abu Dawud /4253, At-Tirmidzi /2219, Ahmad /22448, Ibnu Hibban /7238, Al-Hakim /8390, Ath-Thobroni dalam Al-Ausath /8397, di-shohihkan Al-Albani dalam Takhrij Al-Misykah /5406)

Di Indonesia, kasus-kasus orang mengaku Nabi cukup banyak, bahkan ada yang mengaku bahwa dirinya adalah “jibril”. Orang-orang seperti ini sangat yakin terhadap dirinya sendiri dengan keyakinan yang melampaui batas logika sehat.
Akan tetapi sudah menjadi Sunnatullah, mereka tetap punya pengikut, yaitu orang-orang yang juga telah kehilangan logika sehat.

Sebagian orang lagi ada yang mengidap sindrom megalomania pada batas-batas tertentu. Ia merasakan suatu perasaan besar tentang pandangan dan ilmu yang dimilikinya. Sebelumnya ia telah banyak merekam di dalam pikirannya kekhilafan dari para ulama dan keburukan-keburukan para tokoh yang ada.  Dan lebih banyak lagi dari itu ia telah merekam hal-hal benar dari pandangan-pandangannya, sehingga muncullah perasaan agung dan besar-diri yang melahapnya perlahan tanpa ia sadari.  Semakin hari semakin menjadi, diperparah dengan lingkungan di sekitar dirinya yang senantiasa mendukung dan meng-elu-elukannya, maka jadilah ia sebagai seorang pengidap sindrom megalomania tanpa bisa dihindari lagi.
Ia mengalami halusinasi yang sangat sulit ia tolak bahwa dirinya adalah tokoh alim sebagaimana para ulama salaf dengan kebesaran ilmu dan pandangan-pandangan tentang kebenaran yang tinggi, yang layak diikuti segenap kaum muslimin, bahkan lebih dari itu.  Ia telah merasakan tentang agungnya dirinya sebagai orang yang akan membebaskan kaum muslimin dunia dari kegelapan pandangan tentang hukum dan ajaran Islam, menegakkan daulah kekholifahan dunia sebagaimana Rasul dan para sahabat mampu menegakkannya.  Ulama-ulama salaf yang hidup di masa raja-raja menjadi kecil dibandingkan dengan dirinya.  Dan pandangan-pandangan dari para ulama muta’akhirin menjadi pandangan-pandangan para pecundang dibandingkan dengan pandangan-pandangan brilian yang datang dari dalam dirinya.
Sindrom megalomania telah menggejala total di dalam dirinya…

“Ujub” (takjub/kagum terhadap diri sendiri) para pengidap sindrom megalomania, merupakan penyakit kulub yang berbahaya.  Orang yang ujub akan sulit tersadar untuk bisa mengendalikan diri dan kembali berpandangan dan berlaku lurus. Perkara ujub lebih besar daripada perkara-perkara dosa biasa.

Rasulullah صلي الله عليه وسلم mengingatkan :

لَوْ لَمْ تَكُوْنُوا تُذْنِبُوْنَ خَشِيْتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ الْعُجْبَ الْعُجْبَ

“Jika kalian tidak berdosa, maka aku takut kalian ditimpa dengan perkara yang lebih besar darinya, (yaitu) ujub ! ujub !” (HR Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no.6868, Al-Munaawi dalam At-Taisir menyatakan isnadnya jayyid (baik) dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no.5303)

Al-Munaawi berkata :

“Rasulullah صلي الله عليه وسلم mengulangi-ngulanginya (‘ujub !, ‘ujub !) sebagai tambahan (penekanan) untuk menjauhkan (umatnya) dan sikap berlebih-lebihan dalam mengingatkan (umatnya). Hal ini dikarenakan pelaku maksiat (biasanya) mengakui kekurangannya maka masih diharapkan ia akan bertaubat, adapun orang yang ujub maka ia terpedaya dengan amalannya, maka jauh/sulit baginya untuk bertaubat” (At-Taisiir bisyarh Al-Jaami’ as-Shoghiir 2/606)

Sifat ujub pada diri seseorang akan berlanjut dengan kesombongan (kibr), karena kesombongan ini adalah proses lanjut dari adanya ujub.
Dan apakah kesombongan itu?

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia” (HR Muslim no.2749)

Kesombongan adalah menolak kebenaran (Al-Haq), di mana Al-Haq ini adalah Al-Qur’an dengan pemahaman As-Sunnah dari Rasulullah صلي الله عليه وسلم , yang difahami oleh para sahabatnya, oleh para thobi’in yang terpilih dan orang-orang berilmu yang sholih yang mengikuti mereka.
Orang yang sombong adalah orang yang tidak mau menerima Al-Qur’an melalui mereka, padahal merekalah Ahlul-Haq.  Ia hanya mau menerima Al-Qur’an jika Al-Qur’an itu menurut apa yang difahamkan oleh dirinya yang agung, yang dirasakannya sebagai orang besar berilmu.  Dengan demikian, sesungguhnya ia telah melakukan sebuah pengingkaran. Namun sebagai seseorang yang (merasa) penuh dengan ilmu yang haq, hal yang seperti itu bukanlah kesalahan sama sekali, tetapi hal yang seperti itu justeru adalah bentuk berpegang kepada Al-Qr’an yang sebenar-benarnya yang hanya dia yang mengetahuinya, tidak diketahui oleh orang-orang lain yang bodoh….

Sahabat Nabi, Ibnu Mas’ud رضي الله عنه mengatakan :

”Kalian akan menjumpai suatu kaum, mereka mengaku mengajak kamu kepada kitab Allah (Al-Qur’an), padahal mereka (sesungguhnya) membuang Al-Qur’an ke balik punggung mereka….” (HR Ad-Darimi 1/66)

Kesombongan itu adalah merendahkan manusia, di mana manusia ini adalah Rasulullah , para sahabatnya, para thobi’in yang terpilih, dan orang-orang berilmu yang sholih yang mengikuti mereka.
Orang yang sombong adalah orang yang meremehkan Rasulullah dengan cara meremehkan ajaran-ajarannya di dalam hadits-haditsnya, meremehkan para sahabat Nabi dengan cara meremehkan keterangan-keterangan yang berasal darinya, meremehkan orang-orang berilmu (para ulama) yang mengikuti mereka dengan cara meremehkan tulisan-tulisan ke-ilmuannya.

Orang yang sombong adalah orang yang meremehkan dan merendahkan orang Islam yang lain, orang yang selalu menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya, orang yang selalu menganggap orang lain tidak punya kebaikan dan selamanya kafir, orang yang menganggap orang lain hanyalah binatang ternak, hanyalah sapi, hanyalah kambing, atau hanyalah babi bahkan… kotoran yang najis…
Subhanallah…
Alangkah dahsyatnya kesombongan iblis yang telah ditularkan kepada manusia.

Allah سبحانه و تعالي telah berfirman kepada iblis, sang penghulu orang-orang yang sombong :

قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ

“Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah..sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina” (Al-A’raaf : 13)

Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, tidak akan berada di surga orang-orang yang sombong.

Dan Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda tentang orang-orang yang sombong :

يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ يَغْشَاهُمْ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَيُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ فِي جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُولَسَ تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ يُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ طِينَةَ الْخَبَالِ

“Pada hari kiamat orang-orang yang sombong akan digiring dan dikumpulkan seperti semut kecil, dalam bentuk manusia, kehinaan akan meliputi mereka dari berbagai sisi. Mereka akan digiring menuju sebuah penjara di dalam Jahannam yang namanya Bulas. Api neraka yang sangat panas akan membakar mereka. Mereka akan diberi minum nanah penduduk neraka, yaitu “thiinatul khabaal” (lumpur kebinasaan).” (Al-Bukhori dalam Al-Adabul-mufrad no.557; At-Tirmidzi no.2492; Ahmad, 2/179, hadits hasan).
Allahu A’lam bish-showab.

Kader-kader pengidap sindrom megalomania

Sekte-sekte penganut faham takfir, selalu dipimpin oleh seorang pengidap sindrom megalomania.  Sindrom ini memang bukanlah bentuk kegilaan dalam arti kehilangan kesadaran total.  Secara fungsional, intelejensia pengidap sindrom ini tetap utuh tanpa terpengaruhi.
Ia tetap bisa menghitung sejumlah tumpukan uang, tetap bisa menjadwal giliran kepada isteri-isterinya, dan tetap bisa menangkap point-point isi berita selebritis di televisi.  Dalam tekhnik kepemimpinan, ia malahan terlihat sangat bagus dan menonjol (ingat tentang Hitler, Namrud dan Fir’aun).
Namun dalam pandangan-pandangan, faham-faham dan keyakinan-keyakinannya, tampaklah kejanggalan yang sangat menyolok.
Dalam sekte-sekte penganut faham takfir, sindrom megalomania menjadi sindrom umum para pengikutnya yang terbilang taat.  Pengkaderan dengan doktrin-doktrin “kemuliaan” mengajak pengikutnya yang taat kepada mimpi sang pemimpin dan ikut sama-sama bermimpi, berhalusinasi dan melaksanakan kehidupan religius yang dianggap benar dalam negeri-negeri khayal : Ada ulil-amri/Imam kaum muslimin, ada wazir/gubernur/wali daerah, ada pemimpin-pemimpin kafilah, ada pemimpin-pemimpin sariah, dan sebagainya. Di sekte tertentu kepemimpinan dalam negeri khayal ini malah mirip dengan pola Indonesia Raya : Ada gubernur, ada camat, ada lurah dan lain-lain.
Mereka ditaati oleh orang-orang di bawahnya yang merupakan rakyat negeri khayal, yang telah menghijrahkan diri mereka dari alam realitas kepada alam khayal yang dipenuhi keindahan semu.

Kader-kader kepemimpinan yang telah terbentuk mewarisi sindrom penyakit sang pemimpin, karena kaderisasi sebenarnya adalah proses penularan sindrom.  Mereka mengadopsi total visi-visi sang pemimpin, yang sebenarnya adalah pandangan-pandangan janggal tanpa dasar hujjah yang kuat dan lebih bersifat khayal daripada bersifat logis.  Oleh karena itu, ikatan sangat kuat di antara mereka atau dengan pemimpinnya bukanlah di atas hujjah dan hal yang logis, tetapi hanyalah atas pengaruh kedekatan yang terlanjur membelenggu.
Dengan ikatan seperti ini wajarlah jika himbauan yang paling penting untuk menjaga keutuhan mereka adalah : “mendekatlah ke inti” dan juga : “jauhilah orang-orang luar”. Dan dengan ikatan seperti ini wajarlah jika hujjah kuat dan sanggahan logis yang didatangkan tidak berefek apapun, kecuali sinisme dan kecurigaan tak berdasar.

Akan tetapi biar bagaimanapun juga, siapapun tak bisa menentang ketetapan Allah عزوجل ketika Dia sudah berkehendak.  Kader-kader yang (konon) sudah terbentuk itu tetap seorang manusia, bukan robot terprogram.
Mereka tetap mempunyai “nurani”, perasaan dan akal sehat meskipun telah diupayakan semua itu terpendam jauh dari permukaan.  Ketika hal-hal itu muncul ke permukaan atas kehendak Allah, mereka akan tersadar tanpa bisa dihalang-halangi lagi.  Allah-lah yang membolak-balikkan kulub manusia.
Ketika hal ini terjadi, sang pemimpin akan mengalami kekecewaan mendalam, begitu juga pendukung-pendukungnya yang masih ‘buta’.  Keraguan senantiasa merayap dalam pikiran mereka sehingga mereka kerap bertanya : “Mengapa di jaman Rasul sangat sedikit orang yang murtad, tetapi di jaman kita (dalam lingkup kelompoknya) cukup banyak orang yang murtad?”
Di dalam hati kecilnya jauh di lubuk yang paling dalam, pertanyaan itu berlanjut : “Apakah benar jama’ah ini memang jama’ah Islam sebagaimana yang Rasul ajarkan?”  Namun dengan belenggu yang ada dan begitu kuat, tidak ada yang bisa dilakukannya selain meyakin-yakinkan dirinya sendiri bahwa memang inilah yang benar.
Demikianlah yang terjadi. Setiap kali ada orang yang keluar dari kelompok mereka, hal ini akan terus berulang.

Tidak ada satupun orang yang telah keluar dari kelompok mereka dan telah mereka anggap murtad akan mau kembali kepada mereka.
Tidak satupun….
Mereka tidak mengetahui bahwa di luar sana orang-orang yang telah berpisah dengan mereka merasa sangat bersyukur telah Allah lepaskan dari belenggu faham syubhat yang membutakan.  Orang-orang itu mengalami kegembiraan yang sangat besar dalam hidupnya atas Hidayah dari Allah ini yang tidak akan lagi mereka lepaskan untuk selama-lamanya.
Orang-orang itu bersujud, bersujud, dan bersujud lagi kepadaNya dengan air-mata ketulusan yang tidak pernah dirasakan sebelumnya….
Kembali mampu menangis untuk Rabb-nya….
Kembali mampu merasakan Kasih-sayang-Nya yang besar….
Kembali mampu merasakan manisnya Hidayah…..
Tak ada yang bisa diucapkan selain menyebut asma-Nya dan memujiNya dengan keharuan yang tak terkirakan….Allahu Akbar, wa lillaahil-hamd…..

Allah Maha Menyayangi hamba-hambaNya yang memang jujur menginginkan kebaikan, tidaklah mungkin Dia akan membiarkannya terus-menerus dalam keadaan ‘buta’ berkepanjangan…

Apa yang mereka tidak ketahui tentang hal ini barangkali akan mereka bawa selamanya sampai datang kepada mereka sakratul maut, menyedak kerongkongan mereka, membelalakkan mata setiap orang yang sombong dan selalu membanggakan diri sepanjang hidup sampai matinya, yang tak pernah bergeming…
Apa yang mereka ucapkan kepada orang lain : “Lakum diinukum wa liyadiin..” benar-benar akan mereka dapati kejelasannya

Benarkah mereka telah benar-benar berada di atas ilmu yang lurus dalam menjalankan dien,

benarkah mereka telah mengetahui dan mengerti segala hujjah sehingga pantas meninggi diri dan memastikan kafirnya orang Islam yang lain,

dan benarkah mereka telah bebas dari tipuan dunia dan syetan yang memperdayakan….

Subhanallah….
Semoga Allah bukakan mata hati orang-orang yang masih mempunyai i’tikad kebaikan.

Polemik bagi kader-kader yang berpetunjuk

Setiap orang yang telah mengalami pencerahan dari kebutaan nya dalam suatu sekte berfaham takfir akan mengalami gejolak bathin yang hebat.  Tekanan akibat belenggu yang mengungkung menjadi beban harian.  Keterbukaan pikirannya akan menjadi aib yang paling nista di pandangan orang-orang di kelompoknya.
Dalam keadaan seperti ini semua pihak akan memojokkannya ke arah kebimbangan yang membuatnya sangat sulit untuk membuat keputusan. Ketakutan terhadap manusia mulai mencekam dan membatasi gerak-geriknya hingga sangat ketat.  Tak tahu lagi apa yang harus diperbuat selain memperturutkan ketakutannya.  Hanya itu.

Beruntunglah orang yang menyadari kelemahan dirinya, lalu menyungkur bersujud kepada Allah Rabbnya, memohon petunjuk dan pertolonganNya dengan mengakui setulus-tulusnya akan kerendahan dirinya di hadapan Rabbnya.  Mengucap kalimat-kalimat pengagungan dan permohonan…

Sangat tidak beruntung orang yang mengandalkan akalnya, merasa perkasa dan merasa mampu menguasai keadaan…
Ia akan terus terjebak tanpa bisa keluar, karena sesungguhnya ketakutan-ketakutan-lah yang membuatnya merasa harus bisa menguasai keadaan.
Kalaupun ia keluar, kelak ia akan keluar dari sekte itu untuk terlempar ke sekte lain yang serupa, yang hanya berbeda dalam tampilan tapi hakekatnya sama…

Orang-orang yang beruntung yang mampu keluar dari konflik bathin, melangkah dengan pasti meninggalkan kelompoknya yang sudah sangat gamblang baginya tentang kesesatan-kesesatannya.  Mereka berusaha kembali hidup normal dengan syariat yang telah difahami oleh As-Sawaadul A’zam dari kaum muslimin sejak masa sahabat Nabi.  Mereka memulai hidup dengan lembaran yang baru, meskipun telah banyak terenggut keutuhan dari dalam dirinya, keluarganya, dan dari dalam kehidupan bermasyarakatnya.  Menata kembali dari puing-puing yang tersisa sambil tak berhenti berharap, semoga Allah mengampuni dosa-dosa dan kesalahan-kesalahannya…

Ternyata memang tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Kehidupan lama yang ditinggalkannya menyisakan bekas mendalam akan hal-hal buruk yang masih menggelayut.
Sindrom lama, sindrom megalomania warisan pemimpin sekte masih ada di dalam dirinya.
Anggapan diri yang besar membuatnya masih sangat sulit mengakui kelebihan orang lain.
Sangat sulit.
Ke mana ia pergi, ia masih merasakan kebesaran dirinya di antara manusia yang lain. Kepada siapa ia bertemu, ia masih merasakan kelebihan dirinya dan kekurangan orang lain yang ditemuinya itu.  Setiap kali ia lihat sebuah kepemimpinan dalam satu komunitas, ia masih menganggap bahwa dirinya juga (dahulu) adalah seorang pemimpin yang dihargai, akan sangat layak jika menjadi pemimpin juga.  Dan setiap kali menyaksikan dakwah-dakwah kaum muslimin, ia akan langsung berfikir bahwa dirinya juga adalah seorang yang memperjuangkan Islam sebagaimana para ulama dan para mujahid….

Maka ia tetaplah menjadi seorang yang beruntung, ketika ia benar-benar menyadari tentang ini semua.
Ia mulai berusaha memahami realitas yang ada, dan mengambil bimbingan dari orang lain yang membawa ajaran para ulama, setelah ia terlebih dahulu memampukan dirinya untuk mengatakan secara jujur : “aku bukan siapa-siapa”

Selalu diyakinkan dirinya ke mana ia pergi, bahwa dirinya sama seperti manusia lainnya tanpa ada kelebihan apa-apa.  Selalu diyakinkan dirinya setiap kali bertemu seseorang, bahwa bisa jadi kekurangan dirinya lebih banyak dibandingkan kelebihan orang yang ditemuinya itu.  Selalu diyakinkan dirinya ketika menyaksikan dakwah-dakwah kaum muslimin, bahwa dirinya telah merusak ajaran Islam di masa lalu, mendakwahkan hal yang tidak benar akibat jauh dari ilmu dan memperturutkan hawa-nafsu.  Dirinya bukanlah orang yang pantas berdakwah seperti para ulama, tetapi dirinya adalah orang bodoh yang penuh kekurangan yang justeru sangat memerlukan untuk didakwahi oleh para ulama.  Sudah tidak mau lagi ia terus dalam keadaan bodoh, tidak mau lagi menjadi orang yang mengikuti sangka-sangka sendiri dan bisikan hawa nafsu…Ia adalah orang yang bertobat.

Maka ia menjadi orang yang beruntung, ketika ia berani menerima realitas apa adanya.  Menjadi orang yang pandai bersyukur, mudah menghargai orang lain dengan tulus, bergembira dengan kegembiraan saudara-saudaranya muslim yang lain, berdoa untuk keselamatan mereka sebagaimana ia berdoa untuk keselamatan diri dan keluarganya, menghilangkan sangka buruk dan lebih bersangka baik, memuji Allah dalam kesenangan, mengharap kepada Allah dalam kesulitan.  Hidup sebagai manusia yang sehat lahir dan bathin, sebagai muslim yang normal dengan akidah yang lurus.  Semoga menjadi akhir yang baik.

Kepada orang-orang yang beruntung…

Selamat datang, kawan….Selamat datang….

Inilah kisah hidup kita……

للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَْيتَنا ، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمة ، إِنّكَ أنتَ الوَّهابُ
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
َاللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ وَالأَبْصَارِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

Al-Faqir, Hamba Allah

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Pos ini dipublikasikan di belajar islam, Islam, kelompok Islam, Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

12 Balasan ke Megalomania syndrome

  1. anto berkata:

    Apakah naira salah satu anggota firqoh abu hamzah?sebab jika bukan,sy khawatir anda tdk mengerti duduk permasalahannya
    Dan jika tdk mngerti duduk prmasalahannya,jangan brkomentar tentang sesuatu yg anda sndiri tdk paham

  2. naira (@naira1106) berkata:

    ya, insyaAllah saya mengerti apa yg saya komentari mengenai siapa yg dimaksud dengan org yg mengidap penyakit “MEGALOMANIA”,bagi saya untuk org yg dimaksud Allahu A’lam, murid2nya adalah guru2 saya, sebagian ada yg berakhlak baik, sebagian ada yg berakhlak buruk, apa saya harus menyalahkannya atas kelakuan guru saya atau kelakuan saya sendiri yg jd berakhlak buruk?
    saya juga mengerti sebenarnya permasalahan krusialnya adalah mengenai faham takfir, tp alangkah indahnya peringatan itu klo disampaikan dengan menyampaikan kebenaran tanpa menyalahkan siapapun kecuali DIRI ini, apalagi mengaitkan org tsb dengan penyakit kejiwaan, bagaimana nanti pertanggungjawaban kita di hadapan Allah klo tuduhan itu ternyata tidak benar, akhi…?

    • Al-Faqir berkata:

      Ya..akhi naira, betul apa yang anda katakan kita memang harusnya lebih dulu menyalahkan diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain. Itu juga di masa yang lalu adalah ajaran saya kepada murid-murid saya, seperti guru-guru naira juga saat ini mengajarkan itu kepada naira. Dan tambahan lagi adalah supaya jangan terlalu pede/yakin bahwa kita sudah pasti masuk surga, kita tidak tahu apakah amalan kita mampu memasukkan kita ke surga atau tidak, lebih baik kita sibuk menghisab diri dan memperbaiki amalan sendiri. Begitulah…ajaran kami para guru untuk diri dan untuk para murid. Ini bukan ajaran salah. Ini ajaran yang baik.
      Yang jadi janggal adalah jika tidak yakin terhadap amalan sendiri apakah sudah benar atau belum tapi justeru begitu yakin bahwa amalan orang lain sudah pasti salah (yaitu sebagai amalan orang2 kafir).
      Belum tahu apakah dirinya akan bisa berada di surga atau tidak tapi begitu tahu dan yakin bahwa orang lain sudah pasti di neraka (sebagai orang2 kafir).
      Sepertinya kita malah lebih tahu tentang buruknya orang lain (yaitu dengan memastikannya kafir) daripada buruknya diri kita sendiri. Inilah syubhat…akal kita dipermainkan tapi kita tidak terasa…
      Jika kita menuding orang lain kafir, itu berarti kita telah memastikan tempatnya di neraka, karena tidak ada orang kafir masuk surga. Inilah hebatnya orang2 penganut faham takfir, padahal itu hanyalah hak Allah, para ulama sangat berhati2 dalam hal yang bisa berekses sangat besar ini (lihat koreksi pemahaman yang salah…(1))

      Akhi naira perlu tahu, saya telah menghubungi orang2 ex sekte abu hamzah di banyak tempat : Bekasi, Cirebon, Medan, Cilengsi, Setu, Tangerang, Lemah abang, dan Cibinong…Saya kembali menjalin ukhuwah bersama mereka. Dan di antara obrolan kami di antara orang2 di Bekasi dan Cibinong adalah bahwa sisi kebaikan mereka banyak, kami tidak diajarkan Allah untuk serampangan hanya bisa menyalahkan fahamnya tapi tidak bisa mengambil manfaat dari sisi2 baiknya. Semuanya yang baik mestilah dari Allah, meskipun melalui orang2 yang keliru fahamnya. Dan jika ada yang bathil mestilah itu hanya dari manusianya.
      Saya tidak menuding pemimpin anda mengidap sindrom megalomania. Saya berbicara umum tentang sekte-sekte berfaham takfir di tulisan itu dan tidak ada penyebutan nama di tulisan itu. Demikian.

      Jangan terkecoh. Justeru yang harus dipertanyakan adalah : Bagaimana jika tuduhan terhadap saya (Abu Dzaki) ternyata salah. Tuduhan paling besar terhadap orang2 yang telah keluar dari kelompok itu adalah : murtad dan kafir….
      Adakah tuduhan yang lebih keji lagi dari tuduhan ini?
      Tuduhan merampok atau berzinah tidaklah lebih berat daripada tuduhan murtad dan kafir…
      Sadarlah dari syubhat, jangan biarkan pikiran dan logika kita dikacaukan tanpa kita sadari, dibolak-balik sehingga kita kehilangan pandangan logis…
      Sebaiknya mereka tidak usah mengatakan : Kita tidak begitu, kok…
      Kepada naira silakan mereka katakan itu, tapi kepada saya dan orang2 yang telah bergabung belasan hingga puluhan tahun lalu keluar, mereka tidak bisa berkata begitu.
      Saya tidak mengkafirkan mereka, meskipun mereka mengkafirkan saya, karena saya sekarang sudah mengikuti ajaran Allah dan RasulNya yang difahami para ulama.
      Mereka anggap saya kafir dan murtad, dan tuduhan-tuduhan lain yang biasanya digulirkan bagi orang2 yang keluar dari situ.
      Apakah saya betul murtad dan kafir..? Bagaimana kalau tidak..? Bagaimana pertanggungan-jawabannya di hadapan Allah…?

      Untuk saudaraku naira, jangan membuang semangat yang baik. Saya pun seperti anda lima-belas tahun yang lalu.

    • Abu Ida berkata:

      http://m.beritasatu.com/ekonomi/12014-19-juta-penduduk-indonesia-gangguan-jiwa.html
      Jangan buru2 untuk menyimpulkan. Megalomania hanya salahsatu dari sekian jenis penyakit jiwa. Bisa jadi ..kita kena penyakit jiwa jenis lain nya. Penelitian d thn 1999 ditemukan satu diantara lima orang di indonesia pengidap sakit jiwa ..berat ataupun ringan… sekarang ini mungkin bisa naik prosentasenya. FaceBook mania salahsatu nya. Belum lagi yg rela dsebut GILA oleh media massa : “PengGila Bola” ..”PengGila Games”… dst dst….

    • abdurohman berkata:

      Untuk Naira :
      Sebuah konsep yang baik tapi tidak KONSEKWEN !
      pola pikir baiknya menyalahkan diri sendiri daripada menyalahkan orang lain memang sudah seharusnya (introspeksi diri) hanya saja pada FIRQOH INI tidak bisa adil. jika ada sedikit kesalahan yang dibuat oleh orang luar segera dijadikan hujah untuk mengkafirkan mereka, TAPI BISAKAH JIKA YANG MENGERJAKAN ORANG DALAM berani anda memvonis KAFIR….?????? trus apakah betul orang bereiman hanya yang ada di kelompoknya abu hamzah saja ??? jika anda jawab TIDAK. mengapa kita hanya boleh bersangka baik pada orang dalam, dan WAJIB SANGKA BURUK pada orang luar. coba cari praktek dijamaah, bukti konsekwensi berpijak pada ISLAM bukan GOLONGAN. barangkali jika direnungkan akan bisa memahami maksud isi artikel2 di blog ini.

      • naira (@naira1106) berkata:

        Baiklah saudaraku, insyaAllah, saya hanya berusaha adil, secara pemikiran saya sudah keluar dari pemahaman TAKFIR, tp seharusnya tidak ada yg menghalangi saya untuk berkumpul/berjama’ah dgn mereka kecuali pemahaman itu karena mereka juga masih Muslimun sama seperti keluarga saya yg masih jahil, tidak ada yg menghalangi saya berkumpul dengan mereka kecuali kekhawatiran akan kelalaian thd diri ini. Sekarang buat saya, sekian banyak ilmu yg telah sampai menunggu antrian untuk dilaksanakan Bismillah.

        • Al-Faqir berkata:

          Alhamdulillah, akhi…semoga Allah merahmati anda.
          Mereka saudara kita satu dien, kita tetap mengucapkan salam kpd mrk, mendoakan mrk, membantu mrk dan memberi ketika mereka susah, begitulah sbg saudara selama mereka mengizinkan demikian.
          Dan kita semua memang punya banyak sekali hal yg harus dilaksanakan, sementara di antara beberapa orang dari kita terpaksa memulai kembali memperbaiki akidah yg telah rusak setelah puluhan tahun menganut akidah takfir dan meninggalkan pola ahlussunnah. Masing2 punya hal yg dilaksanakan utk memperbaiki dirinya dalam rangka mengabdi kpd Allah.
          Tidak ada yg kita harapkan di sini selain hal yg lebih baik. Semoga berkah Allah atas kita semuanya.

  3. Al-Faqir berkata:

    Barangkali sedikit bisa saya tambahkan, bahwa di kalangan para ulama dikenal istilah Al-Jarh wa At-Ta’dil, yaitu dalam masalah perawian hadits, berdasarkan firman Allah :

    يآ أَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنْ جآءَكُمْ فاَسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوْا أَنْ تُصِيْبُوْا قَوْماً بِجَهاَلَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلَى ماَ فَعَلْتُمْ ناَدِمِيْن

    “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kalian tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kalian menyesal dengan perbuatan itu.” (Qs.Al-Hujuraat : 6)

    Al-Jarh wa At-Ta’dil adalah sebuah metode yang dipakai para ulama Ahlus-Sunnah untuk menjaga kemurnian ajaran Islam. Al-Jarh adalah menandai dengan kritik terhadap seorang rawi atau tokoh yang diketahui mempunyai kelemahan atau sisi buruk sehingga menjadi perhatian jika akan diambil riwayatnya atau ajaran yang disampaikan darinya. Ini disertai dengan penyebutan nama secara jelas bahkan hingga bin fulan bin fulan…dst. At-Ta’dil adalah kebalikan dari Al-Jarh, yaitu memuji atau menyatakan keadilan seorang perawi atau tokoh karena adanya faktor-faktor yang menunjukkan keadilannya dan tidak terdapatnya sesuatu yang menjadikan dia layak dicela.
    Dari konsep Al-Jarh Wat-Ta’dil ini juga difahami bolehnya menerangkan seseorang tokoh yang mempunyai penyimpangan faham (seperti misalnya menganut faham khawarij, qodariyah, jabariyah, ingkar-sunnah dll.) dengan menyebutkan secara jelas nama, silsilahnya serta penyimpangan2nya sebagai bahan perhatian bagi kaum muslimin agar tidak mengambil ajaran darinya. Ini berlaku bagi siapa saja kecuali terhadap Rasulullah dan para sahabatnya.

    Ibnu Taimiyah mengatakan :
    “Apabila suatu kelompok bukan dari kalangan munafikin, namun suka mendengarkan perkataan orang-orang munafikin, telah kabur atas mereka urusan orang-orang munafikin tersebut. Sehingga dia mengira ucapan mereka adalah benar, padahal menyelisihi sunnah. Akhirnya mereka menjadi corong yang menyuarakan dan mengajak kepada bid’ah (yang dianut) orang-orang munafikin tadi. Hal ini sebagaimana firman Allah:
    “Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antaramu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka..” (At Taubah: 47)
    Maka harus diterangkan keadaan orang-orang tersebut. Fitnah yang ditimbulkan mereka lebih hebat, karena pada diri mereka ada iman yang mendorong kita wajib bersikap loyal (wala`) kepada mereka. Sementara mereka telah terjerumus ke dalam bid’ah kaum munafikin yang merusak agama ini. Sehingga, mesti ada tahdzir dari bid’ah tersebut, meskipun hal itu mengharuskan penyebutan mereka dan ta’yin (menerangkan nama tokoh-tokohnya). Bahkan kalaupun mereka tidak mengambil bid’ah itu dari kaum munafikin, namun muncul dari pendapat sendiri yang mereka anggap bahwa hal itu adalah petunjuk, kebaikan bahkan merupakan agama, tetap wajib untuk menerangkan keadaan (kesesatan) mereka.” (Majmu’ Fatawa, 28/233)

    Peringatan ini tentu saja tidak didasarkan isu sentimen atau kebencian kelompok, dan faham menyimpang yang dibeberkan adalah yang benar2 telah disepakati penyimpangannya dari para ulama salaf. Dalam sejarah telah masyhur nama2 seperti Jahm bin Shofwan, Ja’d bin Dirham, Ghailan Al-Dimsyaqi dll. sebagai tokoh2 yg dikenal sebagai ahli2 bid’ah (lihat : sejarah hitam perpecahan ummat).
    Para ulama pun telah mengulas penyimpangan2 faham ahlul-bid’ah. Misalnya ulasan Imam Asy-Syafi’i tentang ingkarus-sunnah dalam satu bagian di kitab Al-Um, Abdul-Qodir Al-Jailani membahas penyimpangan faham Jahmiyah dalam Al-Ghunyah, Ibnu Katsir telah mengupas sejarah dan penyimpangan khawarij dalam Al-Bidayah wan-Nihayah, Ibnul Jauzi membeberkan faham2 bid’ah khawarij dan lainnya dalam Talbis-Iblis dll.

    Faham takfir khawarij, adalah faham menyimpang menurut kesepakatan para ulama, maka ini harus dibeberkan.
    Jika ada yang mengatakan bahwa ini tuduhan bohong, akan banyak para saksi yang akan memberikan kesaksian….

  4. Lina berkata:

    8 Tahun menjalani kehidupan tidak sebagaimana yang orang2 alami .Sediih dan sangat sediih ..Apalagi ketika Butuh Kawan untuk di kuatkan secara DZohir ..
    Kemanakah Mereka yang menggembar gemborkan “Berkasih Sayang Terhadap Orang Mukmin “”??
    Yang Menggembar gemborkan “Bahwa Orang Beriman Bagaikan Tubuh Yang Satu ??
    Kemana ??
    Demi Alloh Aku Tidak Dapati Satu Orangpun Saat Itu !!
    Mereka Hilang Di Telan Gema Suaranya Sendiri ..!!
    YaNG Ku dapat Hanya Tatapan Sinis Dari Mereka …
    Yang Ku Dapat Hanya Cercaan Dan Kecaman Sebagai Orang yg Tak Mau Menerima Hukum2 Alloh “Katanya “!
    Kalaulah Bukan Karena Sisa2 Keimanan Yang Ada saat itu ..Ntah lah Apa Jadinya Diri Ini ..
    Alhamdulillah Wasyukurillah..
    Semua Adalah Qodarulloh ..

  5. Nisa berkata:

    Subhanalloh… ulasan terakhir dgn sub-judul “Polemik bagi kader-kader yang berpetunjuk” itu berasa bgt, persis dgn apa yg sy rasakan saat ini… bgitu pula dgn ‘kader’ lainnya yg telah mengetahui penyimpangan2 dlm firqoh ini… jazaakallahu khairan katsiran abu dzaki… lwt tulisan-tulisan dlm blog ini, ALLAH tlh menunjukan kebathilan2 kpd kmi ttg kelompok ini, sehingga mantaplah niat kmi utk sgera kluar dr firqoh sempalan ini n kmbali kpd ajaran ahlus sunnah…

    sekali lg, jazaakallah abu dzaki, smg ALLAH membalas usaha2 yg tlh abu dzaki lakukan dlm mmerangi ahlul bid’ah, terutama firqoh ini…

    • Al-Faqir berkata:

      Amiin ya ukhti…
      Jangan terlalu berlebihan terhadap manusia. Akan tetapi Agungkanlah ALLAH dengan pengagungan Yang seBesar-Besarnya.
      Semua kebaikan datang dari ALLAH, tanpa kebaikan dariNya, kita semua hanyalah makhluk2 dho’if…

  6. Manager berkata:

    Wahai Teman yang masih bertahan di “dalam”…
    Pengidap Megalomania telah “menyandera” pengikutnya, dengan memasukkannya kedalam tempurung (meminjam istilah Abu Ida). Namun para pengkut yang TAQLID justru membela penyandera, karena tidak menyadari bahwa mereka terkena SINDROM STOCKHOLM …!
    Sindrom Stockholm adalah respon psikologis dimana dalam kasus-kasus tertentu para sandera penculikan menunjukkan tanda-tanda kesetiaan kepada penyanderanya tanpa memperdulikan bahaya atau risiko yang telah dialami oleh sandera itu. Sindrom ini dinamai berdasarkan kejadian perampokan Sveriges Kreditbank di Stockholm pada tahun 1973. Perampok bank tersebut, Jan-Erik Olsson dan Clark Olofsson, memiliki senjata dan menyandera karyawan bank dari 23 Agustus sampai 28 Agustus pada tahun 1973. Ketika akhirnya korban dapat dibebaskan, reaksi mereka malah memeluk dan mencium para perampok yang telah menyandera mereka. Mereka secara emosional menjadi menyayangi penyandera, bahkan membela mereka.Sandera yang bernama Kristin bahkan jatuh cinta dengan salah satu perampok dan membatalkan pertunangan dengan pacarnya setelah dibebaskan.
    Link : http://id.wikipedia.org/wiki/Sindrom_Stockholm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s