Sufahaa’ul-ahlaam

Sufahaa’ul-ahlaam

بسم الله الرحمن الرحيم
إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلاَّ الله وحده لا شريك له وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله. فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار .

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم Wa Ba’du :

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

يَأْتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْرٌ لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Akan datang pada akhir zaman suatu kaum yang muda usia, rusak akalnya/dungu, suka bermimpi, mereka memperkatakan dari sebaik-baik perkataan manusia. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah keluar dari buruannya. Keimanan mereka tidaklah melampaui tenggorokannya. Dimana saja kalian mendapati mereka, maka perangilah (bunuh), karena bagi yang memerangi mereka, akan ada balasan (pahala) pada hari Kiamat.” (HR Bukhori-Muslim).

Khawarij, di samping sesat dan berbahaya, di sisi lain juga merupakan sebuah fenomena yang mempunyai keunikan tersendiri dalam cakrawala sekte-sekte Islam.
Ia mempunyai karakteristik khas yang lain, yang telah dikenal oleh para ahli sejarah Islam sebagai karakteristik yang sangat erat melekat pada diri setiap penganutnya, dari jaman ke jaman.
Karakteristik itu adalah : سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ (sufahaa’ul-ahlaam) sebagaimana tersebutkan di dalam hadits Nabi di atas.

Ibnu Hajar Al-Atsqollani رحمه الله menjelaskan : ” Ahdats’ul-Asnaan “ artinya : yang muda umurnya, dan yang dimaksud dengan sufahaa’ul-ahlaam adalah akal mereka rusak.” (Fathul-baari 12 : 356).

Dan pengertian secara terjemah, sufahaa’ul-ahlaam adalah dangkal-akal atau dungu.  Secara makna, sufahaa’ul-ahlaam bisa berarti semuanya, yaitu rusak-akal dan bisa juga dangkal-akal atau dungu.
Yang dimaksud rusak-akal adalah hilangnya pertimbangan yang bijak dan kendali atas akal sehat.  Dan dangkal-akal atau dungu adalah kebodohan yang akut.

Dalam keterangan-keterangan yang lain tersiratkan bahwa khawarij juga mempunyai sifat khas suka mencela (‘ngatain orang).  Maka lengkaplah : rusak-akal, bodoh/dungu, dan pencela.

Bagaimanakah kebersesuaian sabda Nabi dalam riwayat Bukhori-Muslim di atas dengan riwayat-riwayat yang lain yang menggambarkan karakter sufahaa‘ul-ahlaam ditambah dengan karakter suka mencela (‘ngatain orang)?

Berikut adalah riwayat-riwayat khawarij terdahulu yang menggambarkan karakteristik mereka, yaitu bodoh/dungu tapi suka mencela (‘ngatain orang) :

Dari Ibnu Abbas رضي الله عنه , ia mengatakan :

“Ketika kaum Haruriyah (Khawarij) keluar dan berkumpul di suatu tempat, jumlah mereka (telah mencapai) sekitar enam ribu.
Aku mendatangi Ali seraya berkata : “Wahai Amirul Mukminin, akhirkanlah shalat zuhur, barangkali aku dapat berbicara dengan mereka.”
Ali berkata : “Aku mengkhawatirkan keselamatanmu.”
Aku berkata : “Tidak perlu khawatir.”
Aku pun pergi menemui mereka (kaum khawarij) dan aku memakai pakaian Yaman yang paling bagus, kemudian aku mengucapkan salam kepada mereka.
Mereka berkata : “Selamat datang wahai Ibnu Abbas, pakaian apa yang engkau pakai…?!!
Aku menjawab : “Apa yang kalian cela dariku, padahal aku pernah melihat Rasulullah صلي الله عليه وسلم pernah memakai pakaian yang paling bagus, dan telah turun ayat :

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللهِ الَّتِى أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ

“Katakan (Muhammad), siapakah yang berani mengharamkan perhiasan dari Allah dan rezeki yang baik yang Allah keluarkan untuk hamba-hambaNya?” (QS. Al-A’raaf: 32).
(HR Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 2/164 no.2656. Shohih sesuai syarat Muslim)
__________________________________

Dari Ziyad bin Kusaib :

كُنْتُ مَعَ أَبِي بَكْرَةَ تَحْتَ مِنْبَرِ ابْنِ عَامِرٍ وَهُوَ يَخْطُبُ وَعَلَيْهِ ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَقَالَ أَبُو بِلَالٍ انْظُرُوا إِلَى أَمِيرِنَا يَلْبَسُ ثِيَابَ الْفُسَّاقِ فَقَالَ أَبُو بَكْرَةَ اسْكُتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ أَهَانَهُ اللَّهُ

Suatu ketika aku bersama Abi Bakrah berada tepat di bawah mimbar Ibnu ‘Amir. Sedangkan ia ketika itu sedang memberi khutbah dengan memakai pakaian yang agak tipis (jarang-jarang).
Lalu Abu Bilal berteriak : “Lihatlah pemimpin kita ini, dia mengenakan pakaian orang fasiq..!”
Maka, Abi Bakrah pun berkata : “Diamlah, bahawasanya aku telah mendengar Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda : ‘Siapa yang menghina penguasa Allah di muka bumi, niscaya Allah akan menghinakannya.’” (HR At-Tirmidzi, Kitabul-Fitan, no. 2224. Dishohihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

Adz-Dzahabi رحمه الله berkata :

“Abu Bilal dalam hadis tersebut adalah Mirdas bin Udayyah, seorang yang berfaham Khawarij.  Disebabkan kebodohannya, ia menganggap pakaian tipis bagi kaum lelaki sebagai pakaian orang fasiq.”  (Siyar A’lam an-Nubala’, 3/20 dan 14/508)
_________________________________

Dua keterangan hadits di atas menggambarkan tentang adanya dua sifat yang sangat erat melekat pada pribadi-pribadi khawarij, yaitu bodoh/dungu tapi suka mencela (‘ngatain orang).
Sifat ini adalah sifat klasik kaum khawarij. Dari sifat-sifat inilah mereka kemudian akan menjadi orang-orang yang gegabah, menggampang-gampangkan urusan ilmu, sombong, mudah mengkafirkan orang lain, hingga berujung kepada menggampangkan penghalalan harta dan darah muslimin yang lain.

Sebagaimana pendahulu-pendahulu mereka, kaum neo-khawarij pada masa sekarang juga adalah orang-orang yang banyak tidak mengerti namun gemar melontarkan celaan-celaan.

Sekte NII KW-9 bahkan biasa mencela temannya sendiri dengan kata-kata : goblok..tolol… dalam pertemuan-pertemuannya. Pertemuan-pertemuan yang tidak menggambarkan kealiman orang-orang yang bertawakkal.  Lalu, bagaimanakah terhadap orang-orang di luar kelompoknya?
Tidak perlu dipertanyakan lagi…

Dan di sekte abu hamzah sudah terbiasa temannya sendiri dicemooh dengan kata-kata ‘nyelekit’ ketika halaqoh atau ketika berlangsung musyawaroh-musyawaroh usaha mereka.  Di antara sesama mereka sendiri aktifitas saling “ngomongin” dengan mengungkapkan celaan adalah hal yang lumrah.  Lalu, bagaimanakah terhadap orang-orang di luar kelompoknya?
Tidak perlu dipertanyakan lagi…
Dalam sekte ini “orang-orang yang lebih qori” justeru adalah orang-orang yang lebih faham dalam tekhnik-tekhnik ‘nyela.
Semakin tinggi tingkat pemahamannya, semakin ‘mantap’ celaannya.
Seandainya mereka melihat tulisan-tulisan di blog inipun maka yang pertamakali akan keluar dari mulut mereka pastilah sebuah celaan.  Kecuali orang-orang yang belum banyak larut dalam kelompok itu, atau orang-orang yang telah mulai sadar.
Mencela adalah bagian dari keseharian dan jalan hidup mereka. Tiada hari tanpa ‘nyela.

Terhadap orang-orang di luar kelompoknya, celaan mereka bisa dalam masalah apapun : perkataan, perilaku, ajaran, dan sebagainya.
Uniknya, celaan-celaan itu adalah justeru karena kebodohan dalam pemahaman mereka, bukan karena mereka memang lebih mengerti.  Sifat khawarij terdahulu yang suka mencela padahal tidak mengerti telah terwariskan dengan baik kepada mereka.

Berikut adalah contoh-contohnya.

Seorang guru yang dihormati di sekte abu hamzah dalam satu pertemuan mencela penterjemah mushaf Al-Qur’an yang dipegangnya, yang dianggapnya salah dalam menterjemahkan. Dalam Qs.Al-Ikhlas ayat 4 disebutkan kata … أَحَدٌ…dalam terjemahan tertulis : “..seorangpun..”
Ia mengatakan : “Ini ngaco, nggak benar. Padahal ahad itu artinya satu, bukan seorang…”
Dia menyalahkan orang lain padahal dirinya sendiri yang salah, tidak memahami bahasa.

Seorang guru yang lain yang lebih dihormati lagi di sekte itu dalam satu pertemuan menerangkan ‘kebodohan’ orang-orang luar.
Dia berkata : “Lihat orang-orang luar, ngomongnya aja salah. Mereka pakai kata “ana” dan “antum”.
Padahal kata “antum” itu bentuknya jamak, tapi mereka pakai kata itu meskipun untuk temennya yang satu orang….”

Dia menilai orang lain bodoh.  Padahal justeru dirinya sendiri yang bodoh, tidak mengerti kaidah penggunaan bahasa.
Temannya yang lain di pertemuan itu ada yang berharap agar dia belum melontarkan celaan dan kritikan terhadap orang-orang luar yang ditemuinya berkaitan dengan itu.
Sebab……..bakalan malu-maluin…

Dan seorang murid di sekte itu pernah mengemukakan koreksi tafsir Qs.Al-Fath ayat 29 :

…. ۚذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚوَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ ….

“…. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya….”

Ia mengemukakan bahwa tidak tepat bagian ayat itu yaitu kata زَرْعٍ (tanaman) ditafsirkan dengan pohon kurma yang disebut di dalam hadits Muslim, karena ayat itu adalah tentang objek yang jamak yaitu jama’ah muslimin/jama’ah para sahabat, sedangkan pohon kurma yang disebut di dalam hadits Muslim berbentuk mufrod (tunggal).  Jalalain dan Ibnu Katsir tidak menafsirkan ayat itu dengan hadits Muslim tentang pohon kurma bukan karena mereka tidak tahu tentang adanya hadits perumpamaan pohon kurma tsb. Tetapi karena memang maknanya “tidak nyambung”.  Dan merekapun tahu bahwa secara bahasa ada perbedaan antara kata زَرْعٍ (tanaman) dan kata شجرة (pohon).  Kata زَرْعٍ lebih dipakai untuk tanaman-tanaman yang biasa dimakan tanaman itu oleh binatang peliharaan atau oleh manusia, sebagaimana disebut demikian dalam Qs.As-Sajdah : 27.
شجرة (“syajaroh” yang sering diterjemahkan “pohon”) lebih digunakan untuk pohon-pohon besar.
Murid tersebut beberapa kali mengemukakan ini kepada beberapa gurunya, namun dia pernah dicemo’oh menafsirkan ayat dengan ‘hawa’ nya.
Hal ini terjadi karena guru-guru dari murid tersebut hanya taklid kepada pemimpin sektenya.  Jika sang pemimpin sekte bodoh, maka semuanya harus ikut bodoh juga.

Dan orang yang (konon) paling ‘qori’ di dalam sekte itu menyalahkan pemahaman orang-orang luar tentang “aib” yang dinilainya tidak beres. Ia kemudian menerangkan makna “aib” kepada para pengikutnya yang (konon) adalah orang-orang yang banyak ‘faham’ : “…Yang benar yang kita fahami adalah bahwa aib itu sesuatu yang hanya sekedar memalukan, seperti kentut, tidur ngorok, dan lain-lain…”

Tidakkah dia tahu bahwa aib secara bahasa berarti cacat? (lihat qomus bahasa arab)
Tidakkah dia tahu bahwa Imam An-Nawawi di dalam Riyadhus-Sholihin, menempatkan hadits tentang menutup aib saudaranya yang muslim bersama dengan ayat perselingkuhan dan hadits-hadits lain tentang perbuatan dosa dan maksiat? Apakah Imam Nawawi salah karena tidak mengerti bahasa?
Tidakkah dia tahu bahwa ‘Aisyah isteri Nabi dalam satu riwayat Bukhori menceritakan Rasul tidur mendengkur (ngorok)? Apakah ‘Aisyah telah membuka aib suaminya yang Nabi itu?
Subhanallah…

Beginilah al-khawarij, suka mencemooh dan mencela orang padahal dia sendiri yang tidak mengerti.

Beberapa orang yang telah keluar dari kelompok abu hamzah ada yang menceritakan bahwa mereka mendapatkan bantahan berupa celaan-celaan ketika ditanyakan masalah penyimpangan hujjah mereka.  Ketika apa yang mereka fahami ada yang membantahnya, mereka bukan menjelaskan dengan hujjah yang jelas, tapi lebih banyak mengalihkan pembicaraan dan mengeluarkan celaan-celaan.
Begitupun ketika ada seseorang yang baru saja keluar dari kelompok itu, mereka beramai-ramai mengungkapkan celaan-celaan mereka terhadap orang yang baru keluar tersebut.  Berbagai tudingan dusta yang tidak masuk akal pun mereka lontarkan.
Beberapa orang guru bahkan berusaha dengan giat menggali rumor-rumor yang paling memalukan sehubungan dengan orang yang keluar tersebut.  Untuk apa?
Tentu saja untuk bahan celaan di halaqoh dan untuk bahan gosip mengisi pembicaraan pada pertemuan-pertemuan mereka.
Tiada hari tanpa ‘nyela.

Celaan terhadap ulama

Dalam keterangan riwayat Al-Hakim di atas, khawarij di masa sahabat mencela ulama dari kalangan sahabat, yaitu Ibnu Abbas رضي الله عنه .
Tanpa berkaca dan mengukur diri, mereka mudah “nyeletuk” meskipun terhadap seorang sahabat berilmu yang cukup dihormati oleh sahabat-sahabat lainnya.

Dan begitupun para khawarij di masa-masa selanjutnya, mudah menyepelekan orang-orang berilmu dan melecehkannya.  Padahal sikap yang demikian bukanlah karena ia lebih berilmu, tetapi justeru karena tabiat dungu yang melekat.

Secara umum, setiap ahlul-bid’ah mempunyai ciri pencela.

Seorang ulama salaf, Imam Ash-shobuni رحمه الله mengatakan : “Dan ciri-ciri yang dimiliki oleh ahli bid’ah itu amatlah jelas dan terang. Yang paling menonjol di antaranya adalah : Besarnya antipati mereka terhadap para pembawa riwayat hadits-hadits Nabi صلي الله عليه وسلم , melecehkan mereka (merendahkan mereka), bahkan menggelari mereka sebagai hasyawiyyah (tukang hapal catatan kaki), orang-orang jahil, dhahiriyyah (tekstual), dan musyabbihah.
Semua itu didasari keyakinan mereka bahwa hadits-hadits Rasulullah صلي الله عليه وسلم itu terpisah dari ilmu…” (‘Aqiidatus-Salaf Ashhaabil-Hadiits, Abu Utsman Ash-Shobuni)

Bagaimanakah dengan ahlul bid’ah khawarij masa kini ?

Telah diulas pada bagian tulisan yang lain, bahwa mereka tidak menyukai ahli-hadits.  Mereka mengatakan : “Hadits itu dari manusia” atau “hadits itu tidak terjamin..”
Ucapan-ucapan ini begitu ringan keluar dari mulut-mulut mereka, namun begitu ‘dalam’ mengandung makna pelecehan dan peremehan terhadap para ulama hadits ummat Islam.

Tidakkah mereka pernah tahu kalau para ulama hadits itu telah mengumpulkan, mempelajari, meneliti, dan memilah dengan seksama hadits-hadits Nabi, demi terjaganya kemurnian ajaran Islam dari kerancuan dan kerusakan, sepanjang umurnya?
Apakah mereka pikir para ulama hadits itu hanya menjadi pakar hadits selama setahun atau tiga tahun?

Tidakkah mereka tahu para ulama hadits itu telah menempuh puluhan bahkan beratus mil perjalanan di jamannya hanya untuk mendapatkan sepotong dua potong hadits Nabi, atau seberkas naskah periwayatan hadits?
Apakah mereka pikir para ulama hadits itu mendapatkan hadits-hadits itu dari tong sampah di belakang rumahnya?

Tidakkah mereka tahu para ulama hadits itu telah rela menggunakan segenap kecerdasan pikiran mereka untuk menghafal ribuan (bahkan lebih) hadits-hadits beserta jalur-jalur sanad periwayatannya?  Imam Muslim bahkan wafat karena sakit lantaran terlalu banyak menggunakan otaknya.
Apakah mereka mengira para ulama hadits itu hanya menghafal beberapa puluh hadits untuk sekedar mengisi waktu luang?

Subhanallah….
Kehebatan perjuangan dan kemampuan tinggi para ahli hadits, bisa dijatuhkan dan menjadi tidak teranggap apa-apa hanya dengan ucapan-ucapan ringan dari mereka.
Mereka kadang mengucapkan ucapan-ucapan ringan itu dengan “cengengesan” sambil mengunyah kerupuk kulit.

Beginilah al-khawarij, suka mencemooh dan meremehkan padahal tidak mengerti….

Pada bagian lain, jika mereka disodorkan keterangan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh perawi-perawi seperti : Ibnul-Mubarok, Ibnu Abdil-Barr, Al-Khatib Al-Baghdadi, Al-Bazzar dan lain-lain, mereka mengatakan : “kita nggak ngurusin hadits-hadits yang begituan…hadits-hadits kacangan”
Mereka seolah lebih alim dari para ulama salaf, sehingga mudah berucap seperti itu, padahal para ulama salaf yang sejaman dengan para ahli hadits yang tersebut itu, tidak ada yang berani berucap seperti mereka.

Dan ketika disodorkan ulasan-ulasan ke-ilmuan dari ulama-ulama semisal : Al-Imam Ibnu Abil-‘Izz, Ibnu Taimiyah, Ibnul-Qoyyim, Ibnul-Jauzi dan lain-lain, mereka mengatakan : “Saya heran, kok ngomongnya Imam-imam melulu…..”

Mereka meremehkan muhaditsin dan para ulama terkemuka di kalangan ummat Islam.  Mereka berbicara seperti itu adalah karena kebodohannya yang akut, tidak mengetahui ke-ilmuan para ulama itu dan tidak mengenal mereka, bahkan (mungkin) baru saja mendengar namanya.
Mereka tidak tahu sama sekali bahwa ulama-ulama itu jauh lebih berilmu daripada pemimpin sekte mereka yang parlente.
Mereka tidak tahu bahwa ulama-ulama itu telah menjadi panutan-panutan ummat sejak masanya hingga sekarang di kalangan ahlus-Sunnah dan ahli ilmu Islam. Tentu saja mereka tidak akan mengenalnya karena mereka memang bukan ahli ilmu sama sekali. Bukan orang-orang yang serius dengan ilmu yang haq dalam Islam.

Dan ada juga yang berpendapat : “hadits-hadits semacam itu adalah hadits-hadits yang sudah dibuangin oleh Bukhori atau Muslim, lalu diambilin oleh perawi-perawi yang lain itu…”
Inilah contoh sebuah pendapat yang muncul dari “udel”, bukan dari kepala yang di dalamnya ada sesuatu. Seorang yang buta sanad, buta jalur-jalur perawian, tidak pernah tahu tentang takhrij hadits, bisa berkomentar tentang hadits-hadits layaknya seorang muhaditsin…

Beginilah al-khawarij, bersombong diri dan meremehkan, padahal tidak mengerti….

Semoga Allah سبحانه و تعالي melindungi kaum muslimin dari keburukan mereka para pencela….

Semoga Allah سبحانه و تعالي memberi hidayah yang lurus kepada para pencela….

للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَْيتَنا ، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمة ، إِنّكَ أنتَ الوَّهابُ
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
َاللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ وَالأَبْصَارِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

Al-Faqir, Hamba Allah

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Pos ini dipublikasikan di belajar islam, belajar tafsir, Islam, kelompok Islam, Uncategorized dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s