Koreksi pemahaman yang salah kelompok abu hamzah (3)

Koreksi pemahaman yang salah kelompok abu hamzah (3)

بسم الله الرحمن الرحيم
إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلاَّ الله وحده لا شريك له وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله. فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار .

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم Wa Ba’du :

Allah سبحانه و تعالي berfirman di dalam Al-Qur’anul Kariim :

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya.”  (Qs.Al-An’am : 153).

Di dalam ayat ini Allah سبحانه و تعالي menggunakan bentuk tunggal (mufrod) untuk “jalan yg lurus” dan menggunakan bentuk jamak untuk “jalan yg lain”, yg dilarang mengikutinya.  Ini bermakna bahwa jalan yg lurus itu hanya satu, sedangkan jalan yg menyimpang ada banyak.  Hal ini juga identik pada sabda Nabi صلي الله عليه وسلم tentang firqoh-firqoh :

Dari ‘Auf bin Malik رضي الله عنه , bahwa Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

افْتَرَقَتْ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتْ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ الْجَمَاعَةُ

“Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, satu di surga, yang 70 di neraka. Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, satu di surga, 71 di neraka.  Demi Yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, satu di surga, 72 di neraka.” Rasulullah ditanya : “Ya Rasulullah, siapakah mereka?”  Beliau menjawab: “Al-Jama’ah.”
(HR. Ibnu Majah, 11/493/3982. Ath-Thabarani, Musnad Asy-Syamiyin, 3/334/963. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani, lihat Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah, 8/492)

Dari 73 firqoh umat Rasul, hanya satu yg selamat di surga tanpa masuk neraka, yaitu Al-jama’ah.  Sedangkan lainnya yg 72 firqoh masuk ke neraka.  Hadits ini juga menunjukkan bahwa hanya ada satu “jamaah” dalam Islam, “jamaah-jamaah” yg lain tidak diakui sebagai jamaah Islam yg benar.  Maka, apa/siapakah satu-satunya yg dimaksud “Al-jamaah” dalam hadits itu?

Al-Jama’ah

Firman Allah سبحانه و تعالي :

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَةَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kapada tali Allah dan janganlah kamu berpecah belah, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah memepersatukan hatimu lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara ; dan kamu telah berada ditepi jurang Neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk” (QS. Ali Imron : 103).

Da’wah Rasul صلي الله عليه وسلم telah mempersatukan hati manusia dalam satu persaudaraan global atas satu pegangan, yaitu “tali Allah”.  Secara otomatis da’wah Rasul tsb telah membentuk satu jama’ah kaum muslimin di dunia yg tidak dibatasi suku, ras, golongan atau keturunan.  Jama’ah yg terbentuk dari da’wah Rasul tsb telah eksist dan hanya dikriteriakan atau dipersyaratkan dengan satu pegangan, yaitu “tali Allah”.  Maka siapa yg berpegang dengan tali Allah itu, dialah orang yg berjama’ah dan tidak berpecah dari jama’ah yg telah terbentuk dari da’wah Rasul tsb.  Bisa difahami demikian sebagaimana yg difahami sahabat Rasulullah, Ibnu Mas’ud رضي الله عنه :

الجماعة ‏ماوفق‏الحق‏وان‏ كنت ‏وحدك

“Jama’ah adalah apa yg selaras dengan kebenaran sekalipun engkau seorang diri” (Ighotsatul lahfan min mashayid asy-syaithon 1/70, Ibnul Qoyyim)

Sahabat-sahabat Nabi kemudian melanjutkan eksistensi jama’ah yg sudah terbentuk itu dan bukanlah mereka itu orang-orang yg membuat-buat jama’ah baru, dengan mengambil pegangan baru. Begitu pula para thobi’in dan orang-orang Islam selanjutnya, hanyalah penerus. Jama’ah kaum muslimin terus menerus eksist dari sejak terbentuknya, dari jaman ke jaman dengan pegangan yg sama sejak masa Rasulullah صلي الله عليه وسلم yaitu “tali Allah”. Dan apakah “tali Allah” itu?

Al-Qurthubi رحمه الله berkata : “Ayat tersebut Allah memerintahkan kita untuk berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah secara keyakinan dan amalan, karena hal itu akan menyatukan kalimat, menyatukan perbedaan dalam menangani urusan dien, dunia dan perdamaian dari marabahaya perpecahan, ayat itu mengajak untuk selalu mengadakan pertemuan dan melarang perpecahan” (Tafsir Al-Qurthubi).

Dan perhatikanlah hadits-hadits berikut :

أَلاَ وَإِنِّيْ أُوْتِيْتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ

“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi Al-Qur’an dan yang semisal dengannya (As-Sunnah) bersamaan dengan Al-Qur’an itu”. (HR. Abu Dawud).

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابُ اللهِ وَسُنَّةُ رَسُوْلِهِ

“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat selagi kalian berpegang teguh pada keduanya, (yaitu) Kitabullah dan Sunnah Rasulnya”. (HR. Malik, Al-Muwaththo (shahih lighairihi)).

Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah dua yg tidak bisa dipisahkan.
Seorang ulama salaf/terdahulu, Imam Al-Barbahari رحمه الله hingga mengatakan : “Islam adalah Sunnah dan Sunnah adalah Islam, tidak bisa tegak salah-satunya kecuali ditegakkan yg lainnya” (Syarhus-Sunnah, Imam Al-Barbahary).
Tidaklah mungkin Islam ditegakkan (dengan benar) tanpa As-Sunnah.  Jika Islam itu adalah Al-Qur’an yg diambil tanpa As-Sunnah, maka yg akan terjadi adalah Al-Qur’an itu akan dita’wil dan difahami sendiri-sendiri oleh setiap orang yg mengambilnya tanpa terbimbing dengan benar, yaitu bimbingan Rasulullah صلي الله عليه وسلم melalui As-Sunnah. Maka, yg akan ada adalah kesesatan.

Siapa yg tidak berpegang kepada tali Allah yg benar (Al-Qur’an dan As-Sunnah), maka dia akan menyempal dan pasti dia akan membentuk jama’ah baru, dan jama’ah itu bukanlah jama’ah yg selamat yg disebut Rasulullah صلي الله عليه وسلم dalam haditsnya.  Jama’ah itu hanyalah sempalan.
Ummat Rasul memang terpecah menjadi banyak firqoh (sekte), namun Al-Jama’ah cuma satu, dan itu lebih dikriteriakan dengan pegangan yg dianutnya (Al-Qur’an dan As-Sunnah), bukan dengan kepemimpinan penguasa (kholifah/sulthon) tertentu.  Inilah yg difahami dengan baik oleh para ulama salaf/terdahulu.

Dari sejak masa sahabat Ali bin Abi Tholib saja sudah terjadi ketidak utuhan kepemimpinan dalam satu kekuasaan (kubu kholifah Ali & kubu Mu’awiyah) akibat terjadinya fitnah di kalangan kaum muslimin.  Namun demikian tidak bisa difahami bahwa satu dari dua kubu itu telah menyempal, sebab mereka hanyalah berselisih, meskipun hingga terjadi peperangan, tetapi masih tetap dalam satu pegangan : Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Pada masa-masa kelanjutannya, seiring dengan semakin mendunianya Islam, kekuasaan-kekuasaan Islam semakin tidak fokus kepada satu kekholifahan/sulthon.
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab رحمه الله mengatakan bahwa semenjak masa sebelum Imam Ahmad, Islam sudah tidak berada pada satu kekuasaan di dunia.
Ibnu Bathuthah mengungkap fakta sejarah dalam “Tuhfatun-Nazzar” (ditulis antara 756-757 H) bahwa paling-tidak ada tujuh kekuasaan Islam yg eksist di dunia pada waktu itu…

Dalam konteks yg lain tentang Al-Jama’ah, Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

لا يجمع الله هذه الأمة على الضلالة أبدا وقال : يد الله على الجماعة فاتبعواالسواد الأعظم ، فإنه من شذ شذ في النار

“Tidaklah Allah kumpulkan ummat ini dalam kesesatan selamanya.” Dan beliau juga bersabda : “Tangan Allah atas jama’ah, maka ikutilah As-Sawaadul A’zham, maka barangsiapa yang menyempal, maka dia menyempal ke neraka.” (HR. Al Hakim, Al Mustadrak ‘Alash Shahihain, 1/378/358)

Dalam hadits di atas setelah Rasulullah صلي الله عليه وسلم menyebut Al-Jama’ah, beliau sebut As-Sawaadul A’zham untuk diikuti.  As-Sawaadul A’zham adalah bagian besar/banyak di antara para ahli ilmu (jumhur ulama) dan yang mengikutinya di atas kebenaran, di mana mereka pada hakikatnya adalah satu jama’ah.
Lebih spesifik Imam Ibnu Rajab رحمه الله sebagaimana dikutip dalam Fathul Baari, mengatakan:

وحكاه ابن شاهين عَن عامة أهل السنة ، قَالَ : وهم السواد الأعظم .

“Ibnu Syahin menghikayatkan tentang semua Ahlus-Sunnah, dia berkata : mereka adalah Sawaadul A’zham.” (Imam Ibnu Rajab, Fathul Baari Syarh Shahih Bukhori, 5/200)

As-Sawaadul A’zham menurut penafsiran ulama adalah “Ahlus-Sunnah”.  Jadi, As-Sawaadul-A’zham adalah bagian besar dari kalangan ahli-‘ilmu dan yang mengikuti kebenaran dalam kategori Ahlus-Sunnah.
Kata “Ahlus-Sunnah” (yg mengikut sunnah) bukanlah kata-kata baru yg diada-adakan orang, sebagai nama sebuah aliran dalam Islam, tetapi kata “Ahlus-sunnah wal-jama’ah” ada disebut dalam tafsir Ibnu Katsir di mana sahabat Nabi, Ibnu Abbas رضي الله عنه menafsirkan surat Ali Imron ayat 106 (lihat tafsir Ibnu Katsir Qs. Ali Imron : 106).

Dan berikut ini adalah pengertian Ahlus-Sunnah dari para ulama salaf :

Imam Ibnu Hazm az-Zhahiri رحمه الله : “Ahlus-Sunnah yang kami sebutkan itu adalah Ahlul Haq, sedangkan selain mereka adalah Ahlul Bid’ah. Karena sesungguhnya Ahlus-Sunnah itu adalah para Shahabat Radhiyallahu Ajma’in dan setiap orang yang mengikuti manhaj mereka dari para Thobi’in yang terpilih, kemudian Ash-habul Hadits dan yang mengikuti mereka dari ahli fiqih dari setiap generasi sampai pada masa kita ini serta orang-orang awam yang mengikuti mereka baik di timur maupun di barat.” (Al-Fishaal fil Milaal wal Ahwaa’ wan Nihaal II/271-DaarulJiil,Beirut)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله : “Ahlus-Sunnah adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah صلي الله عليه وسلم dan apa yang disepakati oleh as-Sabiqunal Awwalun dan kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.” (Majmu’ Fatawa 3/375)

Imam Ibnul-Jauzi رحمه الله : ” Tidak diragukan bahwa orang yang mengikuti atsar (keterangan/hadits) Rasulullah صلي الله عليه وسلم dan atsar para shahabatnya adalah Ahlus-Sunnah”  (Talbisul-Iblis, Ibnul-Jauzi hal.16 dan Al-Fashlu, Ibnu Hazm 2:107)

Syaikh Abdullah bin Abdil Hamid Al-Atsari رحمه الله :
“Maka, Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah adalah mereka yang berpegang teguh dengan sunnah (jalan) Nabi صلي الله عليه وسلم, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dan menempuh jalan mereka dalam perkara akidah, ucapan, dan perbuatan, dan orang-orang yang istiqamah dalam ittiba’ (mengikuti sunnah) dan menjauhkan bid’ah (hal-hal baru dalam syariat yg diada-adakan), merekalah orang-orang yang menang dan mendapat pertolongan pada hari kiamat.  Maka mengikuti mereka adalah petunjuk, dan berselisih dengan mereka adalah sesat.” (Al Wajiz …, Hal. 25)

Kesimpulan

Dari uraian-uraian yg telah dipaparkan di atas, maka Insya Allah telah jelaslah tentang gambaran “Al-Jama’ah”, yaitu golongan yg selamat di tengah-tengah banyaknya firqoh akibat perpecahan ummat, tidak lain adalah “Ahlus-Sunnah”.
Akidah Islam yg selamat yg seharusnya diikut adalah akidah Ahlus-Sunnah.  Selain ahlus-Sunnah, pastilah ahlul-bid’ah…

Koreksi terhadap jama’ah-jama’ah sempalan yg menolak As-Sunnah

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

فمن أراد منكم بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة ، فإن الشيطان مع الواحد وهو من الا ثنين أبعد

“Barang siapa di antara kalian menghendaki tamannya surga, maka berpeganglah pada Jama’ah, sebab syaitan itu bersama yang sendirian, ada pun bersama dua orang, dia menjauh.”  (HR. At Tirmidzi, 8/69/2091, katanya: hasan shahih gharib. Ahmad, 1/113/109. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra, 7/91. An Nasa’I, As Sunan Al Kubra, 5/387. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, 11/270. Ibnu Hibban, 19/15/4659. Al Hakim, Al Mustadrak ‘alash Shahihain, 1/376/356, katanya: shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim. Syaikh Al Albani menshahihkan dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, 1/429/430)

يد الله على الجماعة فاتبعواالسواد الأعظم ، فإنه من شذ شذ في النار

“Tangan Allah atas jama’ah, maka ikutilah As-Sawaadul A’zham, maka barangsiapa yang menyempal, maka dia menyempal ke neraka.” (HR. Al Hakim, Al Mustadrak ‘Alash Shahihain, 1/378/358)

Orang-orang yg membentuk jama’ah baru (jama’ah sempalan) mengikuti sangkaan dan hawa-dirinya dalam memeluk ajaran Islam.  Mereka mengaku mengikuti Al-Qur’an namun banyak menolak Sunnah/hadits, yg dengan cara seperti ini sesungguhnya mereka mengikuti Al-Qur’an dengan ta’wil-ta’wil yg mereka ada-adakan sendiri.

Sebetulnya tidak ada satu “ahlul-bid’ah” pun yg secara total tidak memakai Sunnah, sekalipun ia adalah ingkar-sunnah murni, sebab banyak pelaksanaan ajaran ayat-ayat Al-Qur’an hanya diterangkan dalam hadits-hadits.  Seorang ahlul-bid’ah terpaksa harus melihat hadits-hadits tentang tata-cara sholat, atau tentang praktek pembagian zakat misalnya, atau yg lain di mana hal-hal itu cuma ditemukan di dalam hadits, meskipun ia sendiri tidak percaya bahwa hadits-hadits itu terjaga kemurnian ajarannya.  Seorang ahlul-bid’ah juga terpaksa melihat kitab-kitab tafsir dari para ulama untuk membantu mereka dalam beberapa kekurangan/ketidak-mampuan mereka dalam hal men-tafsir, meskipun mereka tidak mempercayai sepenuhnya keterangan-keterangan di dalam tafsir tsb.
Jadi, dalam masalah-masalah fiqh umum mereka tetap tidak abaikan Sunnah/keterangan hadits, wajar jika di antara mereka selalu mengatakan : “kami juga pakai hadits, kok…kami juga pakai kitab tafsir, kok…”  Perkataan-perkataan seperti ini hanyalah untuk mengelabui, entah mengelabui orang lain atau (mungkin) ia sedang mengelabui dirinya sendiri.

Penolakan mereka terhadap Sunnah/hadits justeru pada masalah yg sangat penting, yaitu bagian akidah, inilah yg membuat mereka jadi ‘menyempal’.   Mereka menyelisihi Sunnah dengan membuat definisi tersendiri tentang kriteria iman atau kafir (atau munafik), tentang kedudukan hadits-hadits Nabi صلي الله عليه وسلم di samping Al-Qur’an, dan lain-lain (Yg merupakan bagian dari akidah).
Para ahlul-bid’ah ini membangun jama’ah sempalannya itu dan mengusahakannya mulai dari ‘nol’, men-disain sendiri struktur dan pola kerja, pola da’wah, bahkan pola mengawini para wanita, lalu dengan bangga mereka katakan inilah Islam menurut Al-Qur’an dan yg dipraktekkan Rasul.
Ketika mereka melihat kekurangan-kekurangan di dalam jama’ahnya, mereka saling berpesan satu-sama lain : “hendaklah kita bersabar..jama’ah kita memang ‘masih bayi’, masih banyak kekurangan dan perlu perbaikan-perbaikan…”
Mereka sesungguhnya sadar bahwa mereka sedang membuat jama’ah baru, namun anehnya mereka justeru merasa benar dan tidak sadar bahwa dengan cara demikian sedang ‘menyempal’ ke neraka.  Apakah ini karena ke-awaman mereka ataukah karena ilmu yg telah sampai kepada mereka tertutup besarnya hawa-diri mereka.  Allahu A’lam.

As-Sunnah pada zhohirnya setelah masa Rasulullah صلي الله عليه وسلم adalah dalam bentuk atsar (keterangan/hadits-hadits) baik dari Rasulullah ataupun dari orang-orang yg banyak mengerti ajaran Rasulullah, yaitu para sahabat (melalui jalur para thobi’in).  Mereka beranggapan bahwa hadits-hadits itu tidak terpelihara (karena dari manusia) sedangkan Al-Qur’an itu terpelihara.
Memang benar bahwa Allah telah menjaga Al-Qur’an (Qs.Al Hijr : 9), tetapi perlu diingat bahwa Al-Qur’an itu sendiri dibawa oleh seorang manusia, yaitu Rasulullah صلي الله عليه وسلم supaya seluruh manusia tahu bagaimana memahami dan menjalankan Al-Qur’an itu dengan benar dalam kehidupannya.
Al-Qur’an tidaklah langsung Allah jatuhkan dari langit kepada manusia dalam bentuk tulisan-tulisan, sehingga manusia cuma tinggal ‘baca’ dan laksanakan isinya.
Faktanya adalah Al-Qur’an dibawa dan diajarkan Allah melalui seorang utusan, dan peran seorang utusan Allah ini sangat penting bagi manusia yg menerima Al-Qur’an dalam melaksanakan ajaran-ajaranNya.

Jika difahami dengan baik, sesungguhnya penjagaan Allah terhadap Al-Qur’an itu juga termasuk penjagaan dalam pemahamannya melalui sunnah Nabi, sehingga sampai hari kiamat bukan hanya lafaz ayat-ayatNya yg terjaga, tetapi juga makna-ajaran dari ayat-ayat itu tetap terjaga. Mengapa bisa demikian? Perhatikanlah hal-hal berikut :

Allah سبحانه و تعالي berfirman :

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Katakanlah : Jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Rasul) niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu…” (Qs. Ali Imron : 31)

Ayat itu adalah satu dari sekian banyak ayat Allah yg mengindikasikan pentingnya mengikuti Rasul.  Bagi para sahabat yg bertemu langsung dengan Rasulullah صلي الله عليه وسلم, pelaksanaan ayat itu (yaitu mengikuti Rasul) tentu tidak masalah karena Rasulullah berada di tengah-tengah mereka.
Tetapi bagi manusia yg hidup setelah masa Rasul tidaklah mungkin bisa mengikuti Rasul dengan baik jika tidak melihat kepada hadits-hadits yg bersumber dari Rasul.  Secara maknawi ada di dalam ayat tersebut Allah mengajarkan kepada manusia agar mengikuti sunnah RasulNya, jika memang ingin benar dalam mencintai Allah.  Maka telah jelas, tidaklah mungkin membuang As-Sunnah dalam menjalani hidup Islam karena merupakan bagian dari ajaran Allah dalam Al-Qur’an, jelaslah pula bahwa As-Sunnah tidaklah mungkin juga Allah biarkan hilang/ rusak begitu saja, sedangkan lafaz-lafaz Al-Qur’an-nya Allah jaga dengan baik.

Keterangan-keterangan hadits yg bisa difahami sebagai rangkaian penjagaan Allah terhadap As-Sunnah (yg merupakan juga penjabaran pemahaman Al-Qur’an) adalah sebagai berikut :

Menghafal & menulis hadits

Dari Zaid bin Tsabit berkata,” Aku mendengar Rasulullah bersabda :

نضّر الله امرأ سمع منّا حد يثا فحفظه حتّى يؤدّ يه فربّ حامل فقه إلى من هو أفقه منه وربّ حامل فقه ليس بفقيه

“Semoga Allah memberikan cahaya pada wajah orang yang mendengar hadits dari kami lalu menghafal hingga menyampaikannya kepada orang yang lebih faham dari padanya, dan berapa banyak orang yang membawa ilmu namun tidak mengerti”. (HR. Abu Dawud, An Nasa’i, Ibnu Majah dan At-Tirmidzi, dia berkata, “Hadits ini hasan”).

Menulis ilmu

Dari Abdullah bin Amr, dia berkata : “Sesungguhnya aku telah menulis segala sesuatu yg aku dengar dari Rasulullah untuk kemudian aku hafal. Namun banyak dari kaum Quraisy yg melarangku, mereka berkata : “Apakah kamu akan menulis segala sesuatu yg kamu dengar dari Rasulullah صلي الله عليه وسلم sedangkan beliau adalah manusia biasa yg bisa saja berbicara dalam keadaan senang dan marah?” Sehingga aku berhenti menulisnya. Lalu hal tersebut aku adukan kepada Rasulullah, beliau kemudian memberikan isyarat dengan jarinya yg menunjuk ke mulut beliau, beliau berkata : “Tulislah, demi Yang jiwaku berada di tanganNya, tidak ada yg keluar darinya (mulut ini) kecuali kebenaran” (Shohih Sunan Abu Daud /3646, Ash-shohihah 1532)

Dua hadits Nabi tersebut merupakan dorongan dan ajaran Rasulullah صلي الله عليه وسلم kepada sahabat untuk menghafal bahkan menuliskan hadits, selama tidak ada kekhawatiran tertukarnya perkataan Rasulullah dengan ayat-ayat Allah dalam Al-Qur’an. Untuk itu dalam penulisan ayat-ayat Al-Qur’an, Rasulullah صلي الله عليه وسلم menunjuk penulis khusus yg tidak beliau perintahkan kepada setiap orang juga. Dari dua keterangan hadits tersebut nampak tersirat bahwa Rasulpun mengajarkan pelestarian Sunnah.  Pada masa-masa selanjutnya, pelestarian Sunnah jelas-jelas diperintahkan oleh Kholifah Umar bin Abdul Aziz رحمه الله kepada para wazir di seluruh wilayah Islam, supaya mengumpulkan dan membukukan hadits-hadits Nabi agar tidak rusak/hilang.  Setelah itu, muncullah ulama-ulama hadits (Muhaditsin) kenamaan dengan hasil-kerja dalam mengumpulkan hadits yg sangat luar biasa seperti Imam Al-Bukhori, Imam Muslim, Imam Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dll.

Peran Ulama yg Allah zhohirkan di kalangan ummat Islam

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ لَـمْ يَرِثُوا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ….

“…Sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi.  Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar tidak juga dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu.  Dan barangsiapa yang mengambil ilmu itu, maka sungguh, ia telah mendapatkan bagian yang paling banyak.” (HR Ahmad (V/196), Abu Dawud (no. 3641), At-Tirmidzi (no. 2682), Ibnu Majah (no. 223), dan Ibnu Hibban (no. 80 al-Mawaarid), lafazh ini milik Ahmad, dari Shahabat Abu Darda’ radhiyallaahu ‘anhu, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Misykah /212)

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

يَحْمِلُ‏هَاذَ الْعِلْمِ‏ مِنْ‏ كُلِّ‏ خَلَفٍ‏عُدُوْ لُهُ‏، يَنْفُوْ نَ‏عَنْهُ‏ تَحْرِيْفَ ‏الْغَا لِيْنَ، وَانْتِحَا لَ‏ الْمُبْطِلِيْنَ، وَتَأْ وِيْلَ‏ الْ ﺠﺎَ هِلِيْنَ

“Ilmu ini (Islam) akan dibawa oleh para ulama yang adil dari tiap generasi.  Mereka akan memberantas penyimpangan/perubahan yang dilakukan oleh orang-orang yang ghuluw (melampaui batas), menolak kebohongan pelaku kebathilan (para pendusta) dan takwil orang-orang bodoh” (HR Al-‘Uqailie, adh-Dhu’afaa-ul-Kabiir 1/26. Hadits hasan lighoirihi dalam Irsyaadul Fuhuul fii Tash-hiih Hadiitsil ‘Udul, Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilali, hal.11-35)

Hadits Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

Pembaharu 100 th

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه dari Rasulullah صلي الله عليه وسلم beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah mengutus kepada ummat ini (Islam) -setiap seratus tahun- seseorang yg akan memperbaharui agama ummat ini (dari penyimpangan)” (Shohih Sunan Abu Daud /4291, Ash-shohihah 599)

Tiga hadits di atas merupakan keterangan dari Rasulullah صلي الله عليه وسلم tentang peran para ulama yg menjadi rangkaian mekanisme penjagaan Allah terhadap kemurnian As-Sunnah dalam ajaran Islam.  Dengan Allah munculkan para ulama, As-Sunnah dalam ajaran Islam tetap utuh terjaga dari generasi ke generasi pada setiap masa.  Ulama-ulama tersebut di antaranya Allah berikan keahlian lebih yg berbeda satu sama lain (mufassirin, ahlul-fiqh, ahlul-balaghoh, muhaditsin dll).  Akan tetapi pada dasarnya mereka adalah sama, yaitu para hafizh (penghafal) Al-Qur’an dan “ahlul-hadits” (orang-orang yg mengerti ilmu-ilmu hadits/periwayatan).  Tidak ada seorangpun di antara para ulama itu yg bukan ahlul-hadits dan buta ilmu-ilmu hadits, baik sebagai mufassirin, ahlul-fiqh, ahlul-balaghoh, dan terlebih sebagai muhaditsin.

Hal ini sejalan dengan keterangan dari Rasulullah صلي الله عليه وسلم tentang orang-orang yg selalu tampil dalam kebenaran di antara ummat :

Muhaditsin

Dari Tsauban ia berkata : Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda : “Akan selalu ada segolongan dari ummatku yg menampakkan kebenaran.  Tidak akan memudhorotkan kepada mereka orang yg menentangnya, sehingga Allah mendatangkan perintahNya, sedangkan mereka tetap demikian itu” (HR Bukhori – Muslim)

Imam Al Bukhori, Imam Ahmad bin Sinan dan Imam Ibnul-Mubarok semuanya sama dalam menafsirkan hadits ini : “mereka adalah ahlul-hadits” (Syaraf Ashhabil Hadits, hal. 26,37).

Para ulama yg ahlul-hadits ini sangat teliti, cermat dan kritis.  Di antara mereka ada orang-orang yg menguasai ilmu sanad dan matan hadits dengan lebih baik, sehingga melalui mereka hadits-hadits yg shohih (benar) atau yg dho’if/maudhu (lemah atau palsu) bisa dibedakan.  As-Sunnah yg seringkali rusak atau tercemar dengan bid’ah senantiasa kembali dibersihkan dan diluruskan.

Dari semua keterangan-keterangan hadits di atas, dapatlah diambil kesimpulan yg pasti bahwa Allah pun menjaga As-Sunnah, karena ia merupakan bagian ajaran Al-Qur’an, atau juga yg menyertai diturunkannya Al-Qur’an.  As-Sunnah menjadi kunci benar-tidaknya dalam mengikuti ajaran Al-Qur’an, rujukan dasar mengambil petunjuk Allah dengan mengikuti utusan pembawa Risalah Islam, yaitu Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم.

Imam/pemimpin-pemimpin yg bodoh pencetus jama’ah sempalan

Keinginan berjuang dan menegakkan Islam yg ada pada diri seseorang (yg memiliki sedikit kemampuan memimpin, tetapi sangat besar keinginan menjadi imam/pemimpin), yang tidak dibarengi dengan ilmu dan kebijaksanaan yg mumpuni tentang Dien, melahirkan imam/pemimpin yg bodoh.  Mereka bukanlah ulama (orang berilmu dalam Islam) yg ditakdirkan Allah sebagaimana yg disebutkan dalam hadits-hadits tentang ulama di atas. Mereka memaksakan diri karena tidak bisa mengendalikan diri dan jadilah dikuasai oleh hawa-nafsunya.  Tentang imam/pemimpin yg bodoh, Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الأَئِمَّةَ الْمُضِلِّيْنَ

“Sesungguhnya aku hanyalah mengkhawatirkan bagi umatku adanya para imam yang menyesatkan” (HR Ahmad dan Tirmidzi, Shahih Sunan Tirmidzi II/487, Kitaabul Fitan, no. 2229)

Dan sabda beliau :

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ اِنْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اِتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهَّا لاً فَسُئِلُوْا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوْا وَ أَضَلُّوْا

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari dada-dada manusia sekaligus.  Akan tetapi Allah mencabut ilmu itu dengan dimatikannya para ulama.  Sehingga manakala Allah tidak menyisa-kan seorang ‘alimpun, maka orang-orang akan mengangkat tokoh/ketua-ketua yang bodoh.  Tokoh/ketua-ketua ini pasti akan ditanya, maka mereka akan berfatwa tanpa ilmu hingga mereka sesat dan menyesatkan” (HR Bukhori-Muslim)

Imam/pemimpin-pemimpin ini tidak mengerti tentang “Al-Jama’ah” dan ajaran para Imam Ahlus-Sunnah pendahulunya.  Di antara mereka ada yg mencari-cari pengikut karena kepentingan politis (sehubungan dengan kekuasaan atau pengaruh), bermodalkan sedikit pengetahuan tentang Islam diramu dengan ro’yu dan logika, merumuskan visi dan misi arahan kelompoknya ke arah apa yg diinginkan.  Namun ada juga di antara mereka yg mencari-cari pengikut karena semangat berbuat untuk Allah dengan keikhlasan, tetapi sayangnya caranya salah karena menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah.  Berandai-andai tanpa dasar ilmu yg kuat bahwa hanya merekalah pewaris ajaran Nabi yg sesungguhnya, yg benar, dan yg akan memimpin dunia dengan kekholifahan di tangan mereka.  Keikhlasan mereka membuat terpana orang-orang awam pengikutnya sehingga menutupi pandangan tentang keganjilan-keganjilan ajaran yg ada di kelompok itu.  Pengikut-pengikutnyapun diajarkan untuk ikhlas, berbuat ‘karena Allah’ dengan banyak mengabaikan Sunnah, terfokus kepada Al-Qur’an yg difahami sepihak oleh sang imam /pemimpin.  Padahal sesungguhnya tidaklah cukup hanya dengan keikhlasan, tapi juga diperlukan cara yg benar, yaitu yg menurut Sunnah.

Seorang ulama’ salaf, Fudhail bin Iyadh رحمه الله dalam menafsirkan amal shaleh, beliau mengatakan:

“Setiap amalan jika dilakukan dengan ikhlas namun tidak benar, maka amalan itu tidak diterima. Demikian pula jika dilakukan dengan benar tapi tidak ikhlas maka tidak diterima juga hingga amal itu dikerjakan dengan ikhlas dan benar.  Ikhlas artinya amalan itu dikerjakan karena Allah, sedangkan benar artinya amalan itu dikerjakan menurut sunnah Rasulullah” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al-Hambali, Darul Muayyid)

Para imam/pemimpin jama’ah sempalan tidak jarang dipertanyakan pemahamannya dengan beberapa keterangan hadits.  Ketika ada hadits-hadits yg bertentangan dengan fahamnya, maka untuk membela diri akan dikatakan oleh mereka : “lebih kuat mana, Al-Qur’an atau hadits?”
Padahal ayat Al-Qur’an yg konon mereka pegang adalah ayat yg dita’wil sendiri dengan ilmu mereka yg kacau.
Mereka tidak mampu untuk memahami bahwa Al-Qur’an dan Al-Hadits (yg shohih) adalah sejalan dan saling melengkapi, bukan ‘berseteru’.
Sangat berat bagi mereka memahami hal ini karena terlalu fokus kepada zhohir-zhohirnya ayat.  Seolah Al-Qur’an itu turun langsung melalui mereka (para imam/pemimpin mereka) dan tidak melalui Rasul, sehingga tidak merasa perlu mendalami hadits-hadits Rasul dalam memahaminya.  Imam/pemimpin seperti inilah yg dikhawatirkan Rasul keberadaannya, yg dengan Al-Qur’an bukanlah menunjuki manusia, tetapi justeru menyesatkan.

Pada satu kelompok ada imam/pemimpin yg dengan terang-terangan memperlihatkan ketidak ber-ilmu-annya di antara para pengikutnya.
Ia tetap jadi imam/pemimpin karena pandai me-‘manage’ pemahaman.
Fatwa-fatwanya seringkali ditetapkan setelah sebelumnya minta dicarikan hujjah oleh pengikut/murid-muridnya.  Pengikut/murid-muridnya juga demikian terhadap orang-orang di bawahnya lagi, tapi kadang karena rada gengsi mengatakan : “Kalian cari hujjah bukan karena saya tidak tahu, tapi dengan begini kalian belajar..”
Dalam banyak kasus, orang-orang yg dianggap “lebih faham” atau “lebih qori” (sehingga memimpin dan jadi guru) mempunyai ilmu dien yg sangat kedodoran di banding beberapa muridnya, tetapi tetap bertahan berusaha mengajarkan muridnya.  Yg terjadi kemudian adalah keluhan dari beberapa muridnya yg merasa ‘capek’ meluruskan sang guru, sementara sang murid hampir selalu merasa tidak mendapatkan ilmu apa-apa dari sang guru.
Pemimpin yg seperti ini seharusnya menyimak perkataan Umar bin Khoththob رضي الله عنه :

Umar bin Khoththob berkata : “Dalamilah ilmu agama sebelum kalian menjadi pemimpin”  (HR. Ibnu Abi Syaibah, shohih).

Abu Ubaid رحمه الله menjelaskan hadits tersebut : “Dalamilah agama selagi kalian menjadi orang kecil (rakyat) atau sebelum menjadi seorang pemimpin, maka kalian akan merasa malu untuk menuntut ilmu kepada orang yg lebih rendah kedudukannya sehingga kalian tetap menjadi orang-orang yg bodoh”  (Kitab Ghoribul-hadits, Al-Imam Abu Ubaid).

Jama’ah-jama’ah sempalan berfaham takfir

Takfir (mengkafirkan orang lain tanpa dasar ilmu dan tanpa dalil syar’i) adalah bid’ah pertama dalam sejarah Islam, sebagaimana yg diungkapkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله : “Oleh karena itu, wajib berhati-hati dari memvonis kafir kaum Muslimin dengan sebab dosa dan kesalahan, karena itu merupakan bid’ah yang pertama muncul dalam Islam. Mereka mengkafir- kan kaum Muslimin dan menghalalkan darah dan harta mereka”  (Majmu’ Fatawa 13/31)

Pada awalnya faham takfir ini dipelopori oleh kaum khawarij, lalu diikuti sekte-sekte yg lain seperti Rafidhah (segolongan syi’ah), Qodariyah, Mu’tazilah, Jahmiyah, Mumatsilah dan lain-lain, hanya saja dengan ungkapan bahasa atau peristilahan kafir yg kadang berbeda. Setiap sekte ini masing-masingnya menyatakan sebagai kelompok yg benar, atau mengklaim sebagai Jama’ah Islam, yg lain bukanlah jama’ah Islam, hanyalah jama’ah orang-orang kufur.   Setiap orang di antara mereka saling mengkafirkan satu sama lain terhadap orang yg berada di luar jama’ahnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله mengatakan : “Kebanyakan ahli bid’ah, seperti Khawarij, Rafidhah, al Qadariyah, al Jahmiyah dan al Mumatsilah; mereka memiliki keyakinan yang sebenarnya sesat, namun mereka lihat sebagai kebenaran, dan menganggap kufur terhadap orang yang menyelisihi mereka dalam i’tikad tersebut” (Majmu’ Fatawa 12/466-467)

Abdul Qohir Al-Baghdadi رحمه الله menggambarkan tentang mereka sebagai berikut : “Tidaklah ada satu kelompok sempalan yang menyelisihi (Islam), kecuali (pada diri mereka) terdapat sikap saling mengkafirkan di antara mereka dan saling berlepas diri, seperti halnya Khawarij, Rafidhah dan al Qadariyah, hingga berkumpul tujuh orang dari mereka dalam satu majlis, lalu berpisah dalam keadaan saling mengkafirkan di antara mereka” (Al-Farqu Bainal-Firaq, hal.361)

Sulit dibayangkan jika seluruh kaum muslimin berisi kelompok-kelompok seperti mereka. Jika pandangan Abdul Qohir Al-Baghdadi ditransfer kepada kondisi di Indonesia pada saat ini, di mana juga banyak sekte berfaham takfir, barangkali akan ada cerita anekdot seperti berikut :

Oleh karena suatu sebab yg tidak bisa dihindari, telah berkumpul dengan terpaksa empat orang dari sekte-sekte berfaham takfir yg berbeda; Satu dari sekte Rafidhah (syi’ah yg mulai marak juga di Indonesia), satu dari sekte LDII (Islam jama’ah), satu dari sekte Abu Hamzah dan satu dari sekte NII KW-9. Keempat orang ini bertemu dan saling berkata-sapa basa-basi : “blaa..blaa..blaa…”

Seorang dari sekte Rafidhah menatap tiga orang lainnya sambil berkata dalam hati : “ Para pengikut pengkhianat, pendusta Rasul dan ahlul-bait Imam Ali…terbakarlah di neraka…”

Seorang dari sekte LDII sambil sesekali merapikan jubahnya menatap dingin tiga orang lainnya dan mewanti-wanti dirinya sendiri : “Para kafirin dan musyrikin, tak boleh bersentuhan dengan mereka, repot nyucinya. Mereka adalah najis seperti kotoran keluar dari pantat…”

Seorang dari sekte Abu Hamzah sambil berpura-pura sebagai orang yg pintar yg mengerti masalah apapun, menyesali pertemuan itu dan berkata dalam hatinya : “Mendingan ngumpul sama kambing-kambing daripada ngumpul bareng mereka. Mereka ini lebih jelek dan ngaco dari binatang ternak…Tapi kalau ada peluang bisnis sih, boleh juga diakrabin. Siapa tahu jadi bisnis yg mantep, lumayan buat kawin lagi…”

Dan seorang dari sekte NII KW-9 tersenyum dengan senyum muslihat sambil matanya mengawasi kantong belakang celana tiga orang yg lainnya, bergumam dalam hatinya : “Para pendukung negara kafir, calon-calon penghuni neraka…Hartanya halal…awas tuh dompet, meleng ‘dikit gua sikat…”

Untuk orang-orang yg masih terlibat dalam faham syubhat :

“Kembalilah kepada faham yg lurus, ajaran Al-Qur’an yg dibawa Rosulullah صلي الله عليه وسلم sebagaimana difahami para sahabatnya, para thobi’in terpilih dan difahami para ulama terdahulu yg baik”.

“Jangan jadikan diri sendiri terus menerus dalam keadaan awam akibat berada di dalam jama’ah Islam yg palsu yg justeru mengajak kepada kebodohan, perpecahan dan kehancuran”

“Lepaskan syubhat dan ambil jalan yg terang. Selamatkan diri dan keluarga dari jerat ahlul-bid’ah berakidah khawarij yg mencelakakan.  Pandangi ‘orang-orang qori’ kalian dengan cermat, simpulkanlah, apakah mereka pengikut Al-Qur’an dan As-Sunnah yg memang berilmu, ataukah justeru pendusta Al-Qur’an dan As-Sunnah yg bodoh…apakah kalian diajak untuk semakin banyak menjalankan ajaran Al-Qur’an ataukah justeru diajak untuk lebih jauh dari ajaran Al-Qur’an….”

“Jangan terkecoh dengan kesan bahwa mereka seolah melakukan hal-hal besar dalam Islam, semua itu hanyalah fatamorgana amalan.  Berlindunglah kepada Allah dari tipu daya syetan, sujudlah kepada Allah, mohonkan petunjuk dan ampunanNya, mudah-mudahan Allah jadikan kita orang-orang yg berpandangan benar…”

Hanya kepada Allah sajalah kita memohon pertolongan dan petunjuk, semoga dilimpahkan taufiqNya kepada kita dan kepada seluruh ummat Islam untuk memahami dien Allah dengan benar dan tetap teguh padanya.

للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَْيتَنا ، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمة ، إِنّكَ أنتَ الوَّهابُ
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
َاللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ وَالأَبْصَارِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

Al-Faqir, Hamba Allah

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Pos ini dipublikasikan di belajar islam, belajar tafsir, Islam, kelompok Islam, Uncategorized dan tag , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Koreksi pemahaman yang salah kelompok abu hamzah (3)

  1. sandi bim salabim berkata:

    beginilah monyet sandi ini mengangkat sisi dakwahnya hanya untuk mengunghkapkan kebencian semata, padahal belum tentu begitu, wahai kamu Monyet Sandi, matilah dalam kegeraman mu, mimpilah kalau kamu bisa membawa kebaikan itu selagi bisa, namun Insaya Allah dengan izin Allah kalau kamu tidak menghentikan ini atau kembali kejalan yang haq dan bertaubat, maka tunggulah, apakah kamu masih duduk-duduk disini mengomentari orang yg tlah bergabung menegakan dien Allah………? Wahai monyet sandi mana komentarmu, mana hujahmu, mana nyalimu, demi Allah, Allah akan membangun rasa ketakutan sepanjang hidupmu, menghinakan keadaanmu jika ini tidak dihentikan dan Alloh akan murka kepada kamu dan keluargamu dan orang yang mengaminkanmu, yang setuju dengan mu beserta sekutu-sekutumu, tau kah kenapa…..?.?. karna kamu mencela para Mujahid tentara Daulah islamiah, tentara khalifah, ….Ya Alloh saksikanlah Monyet ini, bagaimana ia merendahkan orang yg engkau ridhoi dijalan yg engkau ridhoi, dinegeri yg engkau ridhoi, sementara ia duduk-duduk disini. Wahai monyet sandi kefaqiranmu akan terwujud sesaat lagi Isnya Alloh……..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s