Ajaran dan fatwa-fatwa bathil (1)

Ajaran dan fatwa-fatwa bathil (1)

بسم الله الرحمن الرحيم
إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلاَّ الله وحده لا شريك له وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله. فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار .

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah
صلي الله عليه وسلم Wa Ba’du :
Allah سبحانه و تعالي berfirman :

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَةَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kapada Tali Allah dan janganlah kamu berpecah belah, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah memepersatukan hatimu lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara ; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk” (Qs. Ali Imron :103).

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan beberapa riwayat bahwa yg dimaksud dengan Tali Allah itu adalah Al-Qur’an.  Dan Allah سبحانه و تعالي berfirman :

أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّآأَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَى لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Dan apakah tidak cukup bagi mereka, bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) sedang dia dibacakan kepada mereka.  Sesungguhnya di dalam (Al Qur’an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman”. (Qs.Al-Ankabut : 51)

Dua ayat Al-Qur’an di atas adalah sebagian dari ayat-ayat Allah di mana Allah mengajarkan agar berpegang kepada Al-Qur’an, cukuplah Al-Qur’an itu sebagai pegangan.

Sekte-sekte yg meng-klaim berpegang kepada Al-Qur’an

Sepintas, zhohir ayat menyebutkan (hanya) berpegang dengan Al-Qur’an.  Maka beberapa firqoh (sekte) lantas melaksanakan ajaran tersebut.   Mereka adalah LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia, Islam jama’ah), NII KW-IX (Negara Islam Indonesia, KW-IX) dan kelompok abu hamzah.
Lalu bagaimanakah kemudiannya?
Ketahuilah, sekte LDII melaksanakan berpegang dengan Al-Qur’an.
Sekte NII KW-IX juga melaksanakan untuk cukup berpegang dengan Al-Qur’an.
Dan sekte abu hamzah pun mencukupkan pegangan dengan kuatnya kepada Al-Qur’an.
Lalu apakah yg terjadi?
LDII menganggap NII, sekte abu hamzah dan semua orang Islam yg di luar kelompoknya adalah kafir.
NII KW-IX juga menganggap sekte LDII dan sekte abu hamzah serta semua orang di luar kelompoknya adalah orang-orang kafir.
Begitupun sekte abu hamzah, menganggap LDII, NII KW-IX ataupun semua sekte diluar kelompoknya adalah orang-orang kafir.
Mereka semua sama-sama ‘berpegang-teguh’ dengan Al-Qur’an, efeknya adalah saling meng-kafirkan satu sama lain.   Manakah di antara mereka yg benar?
Jika saat ini anda berada di dalam kelompok LDII, maka tentu anda akan mengatakan LDII yg benar-benar berpegang dengan Al-Qur’an, dan yg lain salah.
Jika anda saat ini berada di dalam kelompok NII KW-IX, maka pastilah anda akan mengatakan bahwa andalah yg benar dalam mengikut Al-Qur’an, dan yg lain itu salah.
Jika saat ini anda adalah seorang pengikut kelompok abu hamzah, maka pastilah anda yakin bahwa hanya kelompok andalah yg berpegang dengan Al-Qur’an, yg lain itu mendustakan Al-Qur’an… kafir…

Beginikah jika orang-orang Islam berpegang dengan Al-Qur’an?    Dimanakah letak kesalahannya?
Atau anda ragu dengan apa yg dipaparkan di atas?
Jika anda ragu dengan apa yg dipaparkan di atas, bertanyalah kepada Adam Amrullah, yg selama 32 tahun menjadi pengikut dan aktivis LDII.
Atau anda bisa bertanya kepada Abu Adnan, yg selama 20 tahun menjadi pengikut dan aktivis NII KW-IX.
Atau anda bisa bertanya kepada Abu Dzaki, yg selama 15 tahun menjadi pengikut dan aktivis kelompok abu hamzah…

Kesalahan dalam memaknai berpegang teguh dengan Al-Qur’an

Berpegang teguh dengan Al-Qur’an adalah kewajiban setiap Muslim, karena Al-Qur’an lah kitab petunjuk dari Allah yg diturunkan untuk membebaskan manusia dari kegelapannya menuju jalan yg terang. Allah سبحانه و تعالي berfirman (yg artinya) : “Alif,Laam,Raa. (Ini adalah) Kitab yg Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap-gulita kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”  (Qs.Ibrahim : 1)

Namun dalam pelaksanaannya, tidaklah bisa setiap orang mengambil Al-Qur’an begitu saja, membacanya dan mempelajarinya dengan masing-masing versinya, lalu kemudian mengukuhkan telah berpegang dengan Al-Qur’an.   Al-Qur’an tidaklah diturunkan langsung dari Allah dalam bentuk tulisan-tulisan di mana manusia tinggal ‘baca’ dan tinggal laksanakan isinya.  Al-Qur’an diturunkan melalui seorang pembawa Risalah, yaitu Rasulullah, Muhammad صلي الله عليه وسلم .

Apakah artinya Allah adakan seorang utusan?   Artinya adalah supaya manusia mengikuti petunjuk Allah (dalam Al-Qur’an) dengan bimbingan utusanNya itu.   Dialah yg paling mengerti makna ajaran-ajaran Allah dalam Al-Qur’an.   Dengan bimbingannya, manusia berada pada jalan yg lurus mengikut Al-Qur’an.   Tanpa bimbingannya, orang akan tersesat, padahal ia memegang Al-Qur’an.  Inilah yg disebut “As-Sunnah”, yaitu cara/jalan Rasul dalam memahami dan melaksanakan ajaran Allah dalam Al-Qur’an.   Allah سبحانه و تعالي berfirman :

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ{ النحل: ٤٤

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran, agar kamu (Muhammad) menerangkan pada ummat manusia wahyu yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan” (Qs.An-Nahl :44)

Rasulullah صلي الله عليه وسلم diperintahkan agar menerangkan kepada manusia perihal wahyu Allah, supaya bagi manusia menjadi jelas tentang apa yg diajarkan Allah kepada mereka. Dan Rasulullah telah mengajarkan kepada manusia (para sahabat pada waktu itu) dalam bentuk perkataan (qaul), contoh perbuatan (fi’il) atau pun segala sesuatu yg dibiarkannya (takrir).   Bagi para sahabat, telah jelas bagaimana memahami dan menjalankan ajaran Al-Qur’an dalam rangka berpegang teguh dengannya.   Lantas, bagaimanakah bagi kita? Supaya sejalan dengan Rasul dan para sahabatnya, yaitu lurus dalam berpegang kepada Al-Qur’an, tidak lain bagi kita adalah dengan semaksimal mungkin meneliti dan mempelajari hadits-hadits yg berasal dari Rasul dan para sahabatnya.   Hadits-hadits yg digali, diteliti dan dikemukakan oleh para ahli/ulama hadits bertujuan untuk itu.   Jadi, hadits-hadits (yg shohih) bukanlah tandingan ayat-ayat Allah.   Justeru hadits-hadits itu memperjelas dalam memahami dan melaksanakan ajaran Allah dengan benar.   Inilah bentuk As-Sunnah pada masa sekarang.

Al Imam Asy-Syafi’i رحمه الله ia berkata : “Segala yg dihukumkan oleh Rasulullah itu, semuanya dari apa-apa yg difahamkannya dari Al-Qur’an”   Dan ia pun berkata : “Dan semua Sunnah itu adalah penjelasan bagi Al-Qur’an”.

Allah سبحانه و تعالي berfirman :

…وَيُعَلِمُهُمُ‏الْكِتٰبَ‏والْحِكْمَةََ …
Dan mengajarkan kepada mereka kitab dan ‘hikmah’…(Qs.Al-Jumu’ah : 2)
Dalam tafsir Jalalain dijelaskan tentang “hikmah” pada ayat itu adalah : yaitu hukum-hukum yg terkandung di dalamnya atau hadits.

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

أَلاَ وَإِنِّيْ أُوْتِيْتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ

“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi Al-Qur’an dan yang semisal dengannya (As-Sunnah, dalam hadits-hadits) bersamaan dengan Al-Qur’an itu” (HR Abu Daud).

تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَ هُمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنّتِيْ

“Aku tinggalkan pada kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat setelah berpegang dengan keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnahku.” (HR Al-Hakim dari Abu Hurairah, 1/172, Shahih Al-Jami’ no. 2937, Ash-Shahihah no. 1761)

Maka yg benar adalah berpegang teguh dengan Al-Qur’an sebagaimana berpegang teguhnya Nabi صلي الله عليه وسلم dan para sahabatnya.  Dengan kata lain adalah : berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, itulah lengkapnya.   Inilah yg benar, sebagaimana yg Nabi nyatakan pada dua hadits di atas.

Bisa dipastikan bahwa menyimpangnya sekte-sekte yg disebutkan di halaman sebelumnya itu adalah karena i’tikad berpegang dengan Al-Qur’an namun tidak disertai dengan kelengkapan As-Sunnah.  Ini terjadi karena beberapa hal :

1. Awam dalam ilmu-ilmu hadits
Tidak satupun di antara mereka yg serius menekuni dan menjadi pakar/ahli hadits. Mereka memang tetap mengambil hadits, namun hanya sesekali dan ‘ala-kadarnya’. Keawaman mereka dalam ilmu-ilmu hadits hingga menjadikan mereka meragukan keotentikan hadits-hadits Rasul.

2. Awam dalam ilmu-ilmu tafsir
Tidak satupun di antara mereka yg serius menekuni berbagai macam tafsir dari para ulama tafsir terkemuka seperti Mujahid, Ath-Thobari, As-Sa’di, Al Baghawi, Al Qurthubi, Jalalain, Ibnu Katsir.   Mereka hanya melihat tafsir tertentu (misalnya Jalalain atau Ibnu Katsir) secara tidak utuh dan tanpa disertai dengan kemampuan mengkaji riwayat/hadits, ilmu-ilmu bahasa dan kaidah-kaidah tafsir yg lengkap.   Lebih utamanya mereka justeru membuat-buat tafsir sendiri tanpa kaidah.

3. Dorongan hawa-nafsu yg terlampau kuat
Hawa-nafsu (hawa dari dalam diri seseorang) terhadap ambisi berkuasa, berkepemimpinan, mempunyai pengikut yg banyak dan dihormati orang-orang di kalangannya bisa menutup penglihatan seseorang terhadap kebenaran nash-nash yg datang kepadanya.  Ini adalah faktor yg sangat dominan sulitnya seseorang adil dalam menyikapi hujjah, meskipun ia mungkin mampu memahami kebenaran suatu hujjah. Ini karakter di antara para pemimpin mereka.

4. Taklid buta
Di kalangan bawah di antara mereka, adalah orang-orang yg lebih awam daripada pemimpin-pemimpin mereka yg awam.  Mereka hanya ikut saja apa yg diajarkan kepada mereka tanpa mau pusing-pusing mengetahui kebenaran ajaran yg telah sampai kepada mereka.

5. Sangka buruk terhadap ulama
Tidak satupun dari mereka yg sepenuhnya menaruh kepercayaan kepada para ulama/para Imam Islam, sehingga mereka lebih memilih berjalan sendiri dengan Al-Qur’annya tanpa mengambil bimbingan para ulama, bahkan mereka mensejajarkan diri mereka dengan para ulama itu.   Dan yg lebih parah justeru di antara mereka ada yg merasa lebih hebat pemahaman Islamnya daripada para ulama.   Padahal, di kalangan manusia, yg paling banyak mengetahui tentang As-Sunnah adalah para ulama Sunnah, baik yg terdahulu (salaf) dari kalangan sahabat, thobi’in, thobi’it-thobi’in, ataupun yg terkemudian (ulama muta’akhirin).   Mengapa demikian?
Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ لَـمْ يَرِثُوا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ….

“…Sesungguhnya para ulama, mereka itu (adalah) pewaris para Nabi.   Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar tidak juga dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu.   Dan barangsiapa yang mengambil ilmu itu, maka sungguh, ia telah mendapatkan bagian yang paling banyak.” (HR Ahmad (V/196), Abu Dawud (no. 3641), at-Tirmidzi (no. 2682), Ibnu Majah (no. 223), dan Ibnu Hibban (no. 80 al-Mawaarid), lafazh ini milik Ahmad, dari Shahabat Abu Darda’ radhiyallaahu ‘anhu. dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Misykah /212)

Ajaran-ajaran bathil

Ajaran “takfir”

“Takfir” adalah faham pengkafiran, yaitu meng-kafirkan orang Islam yg lain yg di luar kelompoknya secara asal dan tanpa dalil yg syar’i.   Ajaran ini dianut oleh syi’ah, LDII, NII KW-IX, kelompok abu hamzah, dan sekte-sekte lain yg serupa dengan mereka.   Faham takfir ini adalah faham bid’ah pertama yg dipelopori oleh sekte khawarij di jaman sahabat Ali bin Abi Thalib, merekalah “nenek-moyangnya” penganut takfir.   Ajaran takfir adalah ajaran yg bathil, sebagai dampak pentakwilan ayat-ayat Al-Qur’an tanpa penguasaan As-Sunnah yg utuh.   Cirinya yg sudah bisa dipastikan adalah banyaknya mengupas ayat-ayat Al-Qur’an tapi sangat sedikit mengupas hadits-hadits Rasul.   Mengenai bantahan terhadap ajaran takfir ini diulas panjang lebar dalam tulisan khusus yg lain.

Fatwa-fatwa bathil

Fatwa ‘bithonah’ dan ‘diplomasi’

Di kalangan LDII dikenal konsep “bithonah”, yaitu untuk kepentingan dakwah LDII seseorang dihalalkan untuk berbohong.   Jika ada orang di luar LDII mempermasalahkan faham pengkafiran yg dilakukan LDII terhadap orang Islam di luar kelompoknya, maka seorang pengikut LDII bisa berbohong dengan menyangkalnya.   Begitupun ketika suatu waktu LDII mengatakan kepada ketua MUI bahwa LDII sudah berubah (melakukan perbaikan-perbaikan), itu hanyalah bagian dari strategi ‘bithonah’.   Hal ini diungkap oleh Adam Amrullah, yg selama puluhan tahun telah menjadi pengikut dan aktivis LDII, sebagai ketua pemuda Islam jama’ah wilayah Jakarta Timur.

Konsep ‘bithonah’ LDII ini mirip dengan konsep ‘taqiyah’ di kalangan syi’ah, baik bentuk operasional ataupun tujuannya.   Syi’ah menutupi jati dirinya ketika mendekati kalangan Ahlus-Sunnah dengan ‘taqiyah’, diupayakan seolah olah syi’ah bukanlah faham yg asing bagi mereka.

Di kalangan kelompok abu hamzah ada istilah “diplomasi”.   Sebagaimana konsep ‘bithonah’, dalam situasi mendesak seseorang bisa berbohong, untuk kepentingan dakwah atau kepentingan orang-orang lain di kelompoknya.   Diplomasi hingga tingkat ini tidak diajarkan kepada orang-orang “baru” di kelompoknya, yaitu orang-orang yg belum terikat kuat.   Faham-faham yg diajarkan kepada orang-orang “baru” ini dipilih yg tidak terdengar aneh, hanyalah yg normatif dan terkesan tidak menyimpang.   Sambil dibimbing bertahap agar terikat lebih kuat, orang-orang “baru” disikapi ‘diplomatif’
Misalnya jika terlanjur muncul ‘fitnah’ bahwa kelompok ini mengkafirkan orang-orang di luar kelompoknya (siapapun dia), maka para seniornya akan berdiplomasi kepada orang-orang “baru” tersebut dengan mengatakan : “kita tidak meng-kafirkan orang, kok…”   Atau jika ada tudingan bahwa mereka tidak melakukan sholat Jum’at, maka untuk menenangkan orang-orang “baru” akan dikatakan : “kita tidak melarang orang untuk sholat Jum’at, kok…”   Atau jika ada tudingan bahwa mereka mengajarkan pemutusan hubungan silaturahim jika orang-tua atau keluarga tidak segolongan dengan mereka, maka mereka akan mengatakan : “kita tidak melarang orang mau bertemu ibu atau keluarganya, kok…” Dan lain-lain, dan lain-lain.

Taktik ‘diplomasi’ sebenarnya tetap berlaku bagi siapapun dan kepada siapapun di kalangan sekte abu hamzah, namun dengan bentuk dan penyikapan yg berbeda-beda,
sesuai objek yg di-diplomasikannya itu.  Ber-‘diplomasi’ adalah sebuah strategi yg telah difatwakan dan dianggap sebagai penyikapan yg bijak.
Antara ‘bithonah’nya LDII, ‘taqiyah’nya syi’ah, dan ‘diplomasi’nya kelompok abu hamzah, semua mempunyai satu kesamaan, yaitu alat “akal-akalan” untuk menutupi faham yg rusak.

Fatwa penerapan dinar

Dinar dan dirham adalah mata uang Islam.   Dinar (emas 4,25g) memang lebih stabil sebagai patokan nilai dan harga.   Akan tetapi menjadi masalah besar ketika penerapan dinar dalam perhitungan, sedangkan dalam prakteknya adalah (masih) penerapan rupiah.   Usaha-usaha kecil yg dikelola dengan perhitungan permodalan, perhitungan keuntungan dan besaran-besaran transaksi dengan satuan dinar, dalam prakteknya tidak bisa menghindar dari pembayaran dengan rupiah ketika transaksi ke “orang luar”, baik membeli ataupun menjual.   Padahal segala sesuatunya masih sangat dominan dengan transaksi ke luar.   Sebagai contoh usaha produksi baju gomis sangat kuat transaksi ke luarnya, di mana mereka harus beli seluruh bahan baku ke luar dengan rupiah, dan mereka juga harus menerima pembayaran dari luar dengan rupiah (pembeli utama mereka adalah orang-orang luar).   Ketika semuanya dihitung dengan dinar, mereka harus selalu melakukan “apresiasi” karena harga emas di pasaran senantiasa naik. Ini berdampak buruk, antara lain : pekerja yg cenderung terzholimi pembayarannya bahkan seringkali tidak dibayar karena harus menutupi biaya apresiasi dari perolehan keuntungan (itupun jika ada keuntungan).   Padahal, pekerja “harus” dibayar utuh. Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda

أعطواالاجيرأجره ‏قبل‏أن‏ يجف‏عرقه

“Berikanlah pekerja upahnya, sebelum keringatnya kering” (HR Ibnu Majah)

Sementara itu para pemodal justeru menikmati penambahan nilai modalnya dalam kenyataan hitungan rupiah, setelah satu kurun waktu perhitungan.   Di sini para pemodal mendapatkan nilai tambah bukan karena keuntungan usaha.   Mereka menikmati hasil riba nasi’ah.

Dalam hal perhitungan jual atau beli dengan dinar dan kenyataan transaksi (yaitu transaksi ke luar) dengan uang rupiah, maka inipun menjadi riba. Seharusnya adalah : emas dengan emas, perak dengan perak.   Yg terjadi di sini bukanlah emas dengan emas, tetapi emas dengan rupiah.
Proses “dain” atau hutang-menghutangkan di kalangan merekapun bermodus sama dan tidak pernah ada perhitungan yg tidak menghitung dulu jumlah rupiahnya.   Terjadi kekaburan : dinar ataukah rupiah sebenarnya yg dijadikan rujukan.   Fatwa penerapan dinar tidaklah menjadi solusi berlepas dari ‘debu riba’, tapi justeru mempertegas penerapan riba dalam tijaroh.   Allahu A’lam.

Fatwa belum bisa melaksanakan sholat Jum’at

Perintah sholat Jum’at telah jelas dalam Al-Qur’an sebagai perintah Allah yg muhkam :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu sekalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual-beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (Qs.Al-Jumu’ah : 9)

Alasan sekte abu hamzah tidak melaksanakan sholat Jum’at adalah karena belum tegaknya daulah Islam. Mereka mengatakan bahwa Rasulullah صلي الله عليه وسلم baru melaksanakan sholat Jum’at setelah tegaknya daulah Islam (kekholifahan) di Madinah. Ayat sholat Jum’at diturunkan di Mekkah, dan Rasul baru melaksanakan sholat Jum’at itu setelah beliau berada di Madinah sebagai kholifah.
Alasan ini tidak mempunyai dasar dan tidak ada ambilan keterangan untuk pemahaman seperti itu.   Apakah mereka belum memahami, bahwa sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah, berarti kekholifahan di Madinah belumlah ada, akan tetapi sholat Jum’at itu sudah dilakukan untuk pertama-kalinya oleh sahabat-sahabat di Madinah.   Perhatikan keterangan berikut :

أَسْعَدُ بْنِ زُرَارَةَ أَوَّلُ مَنْ جَمَّعَ بِنَا فِي هَزْمِ النَّبِيتِ مِنْ حَرَّةِ بَنِي بَيَاضَةَ فِي نَقِيعٍ يُقَالُ لَهُ نَقِيعُ الْخَضَمَاتِ قُلْتُ كَمْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ قَالَ أَرْبَعُون

Dari Ka’ab bin Malik : “As’ad bin Zararah adalah orang pertama yang mengadakan shalat Jum’at bagi kami di daerah Hazmi An Nabit dari Harrah Bani Bayadhah di daerah Naqi’ yang terkenal dengan Naqi’ Al Khadhamat”.   Saya bertanya kepadanya: “Waktu itu, kalian berapa?” Dia menjawab,”Empat puluh.”  (HR Abu Dawud dalam Sunan-nya, kitab Ash Shalat, Bab Al Jum’ah Fil Qura’, no.1069 dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya, kitab Iqamatu Ash Shalat Wa Sunan Fiha, Bab Fardhiyah Al Jum’ah, no.1082 dan Ibnu Al Jarud dalam Al Muntaqa, no 291. Hadits ini dihasankan oleh Abu Ishaq Al Huwaini dalam kitab Ghauts Al Makdud Bi Takhrij Muntaqa Ibni Al Jarud, Dar Al Kitab Al ‘Arabi, hlm. 1/254)

Hadits ini difahami oleh banyak ulama sebagai hadits pelaksanaan sholat Jum’at yg pertama.   Dan dari hadits ini diketahui bahwa bukanlah Rasulullah yg mengawali pelaksanaan sholat Jum’at, akan tetapi para sahabat di Madinah, karena pada waktu itu Rasulullah belum hijrah ke Madinah.   Jika Rasulullah belum hijrah ke Madinah, berarti belum ada kekholifahan, dan mereka (para sahabat) sudah melaksanakan sholat Jum’at ini meskipun kholifahnya belum ada.

Alasan bahwa sholat Jum’at membutuhkan seorang ‘Imam negeri’ berbentuk kholifah tidak difahami oleh ulama Sunni (Ahlus-Sunnah) yg manapun.   Ketahuilah, ini adalah faham syi’ah imamiah dari sejak dahulu, sehingga kaum syi’ah imamiah dalam perjuangan Islamnya selalu mendahulukan penegakkan konsep imamah (imam negeri/kholifah) yg dianggap sebagai wadah dasar pelaksanaan syari’at-syari’at, termasuk sholat Jum’at. Rasulullah صلي الله عليه وسلم tidak menyebutkan bahwa tidak adanya kekholifahan merupakan salah satu uzur untuk tidak melaksanakan sholat Jum’at.   Uzur-uzur tidak berjum’at telah dijelaskan Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ عَنْ اَبِى مُوْسَى عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اَلْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ اِلاَّ اَرْبَعَةً: عَبْدٌ مَمْلُوْكٌ اَوْ امْرَأَةٌ اَوْ صَبِيٌّ اَوْ مَرِيْضٌ.

Dari Thariq bin Syihab, dari Abu Musa, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Shalat Jum’at adalah wajib atas setiap muslim dengan berjama’ah, kecuali empat : hamba sahaya, wanita, anak-anak dan orang yg sakit”. (HR Al-Hakim, dalam Al-Mustadrak 1/425, shahih atas syarat Bukhari-Muslim)

Perintah sholat Jum’at dalam Qs.Al-Jumu’ah : 9 menggunakan lafaz فاسعوا (maka segeralah) yg merupakan “fi’il amr” (kata perintah) dari Allah langsung, sehingga perintah ini hukumnya wajib.   Jika kewajiban ini dikatakan harus dilaksanakan dengan adanya kekholifahan dulu, lantas di manakah letaknya ayat yg juga menggunakan fi’il amr yg memerintahkan adanya kekholifahan?

Jika berdalih dengan alasan keamanan, adakah keterangan yg jelas bahwa di Madinah pada waktu itu (sebelum kedatangan Nabi) kondisinya aman, padahal dalam tarikh diketahui bahwa para sahabat pada waktu itu berada di antara puak-puak kaum yahudi Madinah hingga Rasulullah tiba dan kemudian membuat beberapa kesepakatan bersama dengan mereka.

Mufassirin di kalangan Sunni tidak ada yg memahami seperti pemahaman sekte abu hamzah ini, begitu juga para ahli fiqh dari empat Imam dan para ahli fiqh dari kalangan muta’akhirin.   Jadi, alasan ini hanyalah alasan yg dibuat-buat dengan akalnya tanpa ada keterangan dalil apapun, maka tidaklah mungkin fatwa seperti ini adalah karena adanya bisikan dari malaikat.   Perintah yg sangat jelas dan kuat dalam Al-Qur’an bisa begitu saja tidak berlaku karena pemikiran.   Apakah sebenarnya yg diinginkan mereka dengan mengajak orang kepada faham seperti ini?
Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعاَتِ أَوْ لِيَخْتِمَنَّ اللهُ عَلَى قُلُوْبِهِمْ ثُمَّ يَكُوْنَنَّ مِنَ الْغاَفِلِيْنَ

“Hendaklah orang-orang berhenti dari meninggalkan solat jum’at atau Allah akan menutup hati-hati mereka kemudian mereka pasti termasuk orang-orang yang lalai”. (HR Muslim, Nailul Authar 3 : 272 )

Jika seseorang sudah tertutup hatinya, akan sulit masuk hidayah ke dalam hatinya, iapun akan jadi orang lalai/lengah, dan lalu bagaimana selanjutnya?

مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلَا بَدْوٍ لَا تُقَامُ فِيهِمْ الصَّلَاةُ إِلَّا قَدْ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمْ الشَّيْطَانُ

“Tidak ada dari tiga orang di satu perkampungan atau pedalaman tidak ditegakkan padanya sholat , kecuali syetan akan menguasai mereka” (HR Abu Dawud dalam Sunan-nya, kitab Shalat, Bab At Tasydid Fi Tarki Al Jamah, no 537 dan An-Nasa’i dalam Sunan-nya, kitab Al Imamah, Bab At Tasydid Fi Tarki Al Jamah, 2/106 dan dishahihkan Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)
Sholat di hadits ini mencakup pengertian umum, termasuk sholat Jum’at, demikian pendapat Ibnu Taimiyah, Syaikh Ibnu Baz, dan Syaikh Ibnu Al Utsaimin.

Fatwa memotong sapi dan kambing qurban sambil berdiri

Fatwa ini dugulirkan dan dikatakan sebagai ajaran Allah dan Rasul dan seluruh anggota kelompok sekte abu hamzah “manggut” dan melaksanakannya.   Meskipun ini hanyalah masalah ‘ringan’, namun ini adalah salah-satu contoh fatwa paling konyol yg pernah dibuat dalam suatu sekte berlabel Islam.   Allah سبحانه و تعالي berfirman :

…وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ

“Dan telah Kami jadikan untuk kamu onta-onta itu sebagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya, dalam keadaan berdiri…” (Qs.Al-Hajj : 36)

Secara lafaz ayat ini telah jelas menyebut الْبُدْنَ (Al-budna) yaitu bentuk jamak dari بدنة (budanah) yg berarti onta (yaitu onta yg disediakan dan untuk disembelih sebagai qurban). Penyembelihan onta dengan diberdirikan memang diajarkan Allah di ayat tersebut, dan juga diajarkan oleh Rasulullah صلي الله عليه وسلم dalam keterangan hadits :

وَنَحَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ سَبْعَ بُدْنٍ قِيَامًا وَضَحَّى بِالْمَدِينَةِ كَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ …

…dan Nabi صلي الله عليه وسلم menyembelih tujuh ekor onta dengan tangannya sendiri dalam keadaan berdiri, dan di Madinah Beliau berqurban dua ekor kambing yang gemuk dan bertanduk. (Shohih Bukhori, kitab Haji, hdts no.1599)

Bagaimana dengan penyembelihan sapi dan kambing?

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ ثِنْتَانِ حَفِظْتُهُمَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا

Dari Syadad bin Aus, beliau berkata, “Ada dua hal yang kuhafal dari sabda Rasulullah yaitu sesungguhnya Allah itu mewajibkan untuk berbuat baik terhadap segala sesuatu.   Jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan cara yang baik.   Demikian pula, jika kalian menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik…” (HR Muslim no. 5167)

Menyembelih dengan cara yg baik adalah sebagaimana yg dicontohkan Rasulullah صلي الله عليه وسلم
:
بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَـحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَـمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلىَ صِفَاحِهِمَا

“Rasulullah berqurban dengan dua ekor kambing putih kehitaman yang bertanduk.   Beliau sembelih sendiri dengan tangannya.  Beliau membaca basmalah, bertakbir, dan meletakkan kakinya di sisi leher kambing tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 5554 dan Muslim no.1966, dan lafadz ini milik Muslim)

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَمَرَ بِكَبْشٍ اَقْرَنَ يَطَأُ فِى سَوَادٍ وَيَبْرُكُ فِى سَوَادٍ وَيَنْظُرُ فِى سَوَادٍ فَأُتِيَ بِهِ لِيُضَحِّيَ بَهِ فَقَالَ لَهَا يَاعَائِشَةَ هَلُّمِيْ الْمُدْيَةَ ثُمَّ قَالَ اشْحَذِيْهَا بِحَجَرٍ فَفَعَلَتْ ثُمَّ اَخَذَهَا وَاَخَذَ الْكَبْشَ فَاَضْجَعَهُ ثُمَّ ذَبَحَهُ ثُمَّ قَالَ : بِاسْمِ اللهِ اللهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ اُمَّةِ مُحَمَّدٍ ، ثُمَّ ضَحَّى بِهِ

Dari Aisyah رضي الله عنه bahwa Rasulullah صلي الله عليه وسلم menyuruh membawakan domba yang bertanduk, yang sekitar kukunya hitam, lututnya hitam, dan sekitar matanya hitam lalu dibawakan padanya untuk disembelih, kemudian sabda beliau kepada Aisyah : “Ya Aisyah kemarikan pisaunya”, sabdanya pula : “Asah terlebih dahulu dengan batu”.
Istrinya melakukan apa yang diperintah lalu beliau mengambilnya dan membawa dombanya, domba itu dibaringkan, lalu disembelih sambil berdo’a :

بِاسْمِ اللهِ اللهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ اُمَّةِ مُحَمَّدٍ

Dengan nama Allah, ya Allah terimalah dari Muhammad dan dari ummat Muhammad, kemudian ia berqurban dengannya (HR Muslim no.1967)

Sayyid Sabiq رحمه الله mengatakan : “Ada pun sapi dan kambing, disunnahkan menyembelih dengan cara dibaringkan” (Fiqhus-Sunnah 1/741)

Fatwa mereka terlalu buru-buru dan sembrono, apakah mereka akan merubah fatwa salah yg sudah terlanjur digulirkan?  Untuk masalah ‘ringan’ seperti ini mungkin saja mereka akan merubahnya.  Hanyalah ajaran takfir yg tidak akan mereka rubah, sebab di kalangan sekte-sekte seperti NII KW-IX, LDII, syi’ah ataupun sekte abu hamzah, takfir merupakan modal utama.   Tanpa faham ini mereka tidak akan mempunyai pengikut-pengikut yg fanatik.

Fatwa-fatwa lain

Ada cukup banyak fatwa yg digulirkan yg jika diteliti dari pandangan syari’at mengandung banyak masalah, seperti fatwa “mendekat ke inti”, fatwa internalisasi dalam belajar ilmu, fatwa sahnya pernikahan dengan mengkesampingkan wali dari orang-tua atau kerabat pihak perempuan, fatwa menguasai dunia dengan dimulai membeli tanah/sawah (?), dan lain-lain. Setiap fatwa yg tidak didasari ilmu yg benar dan kelurusan, pastilah akan banyak menghasilkan permasalahan dan penyimpangan, menyeret semua yg terlibat dalam pelaksanaan fatwa-fatwa itu ke jurang kehancuran. Rasulullah صلي الله عليه وسلم mengingatkan :

إِنَّمَا أَخَافُعَلَى أُمَّتِي الأَئِمَّةَ الْمُضِلِّيْنَ

“Sesungguhnya aku hanyalah mengkhawatirkan bagi umatku adanya para imam yang menyesatkan” (HR Ahmad dan At-Tirmidzi, shohih Sunan Tirmidzi II/487, kitaabul fitan : 2229)

للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَْيتَنا ، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمة ، إِنّكَ أنتَ الوَّهابُ
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
َاللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ وَالأَبْصَارِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

Al-Faqir, Hamba Allah

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Pos ini dipublikasikan di belajar islam, belajar tafsir, Islam, kelompok Islam, Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

27 Balasan ke Ajaran dan fatwa-fatwa bathil (1)

  1. pondok berkata:

    Assalamu’alaikum Akhi Al Faqir..
    Alhamdulillah… sdh lama saya nantikan ulasan ini.
    Bisakah saya bertanya via email ?

  2. naira (@naira1106) berkata:

    “fatwa menguasai dunia dengan dimulai membeli tanah/sawah (?), dan lain-lain. Setiap fatwa yg tidak didasari ilmu yg benar dan kelurusan, pastilah akan banyak menghasilkan permasalahan dan penyimpangan, menyeret semua yg terlibat dalam pelaksanaan fatwa-fatwa itu ke jurang kehancuran”
    —————————————————————-
    pernah dengar ceramah Imron Husein? bagaimana tanggapan antum kalau dia yang mengatakan hal itu dengan analisanya berdasarkan ilmu akhir zaman dari hadits2 Rasulullah, apa bisa dikatakan juga dia telah mengeluarkan fatwa bathil?

    • Al-Faqir berkata:

      Setahu saya Imron Husein tidak memaksudkan seperti itu dan tampaknya anda belum banyak tahu tentang kelompok abu hamzah sehingga hanya sepihak mengerti tentang itu. Tidak mengapa.
      Hanya ini yang bisa saya katakan.

  3. Askar muslim berkata:

    Assalamu’alaikum,bagaimana tanggapan antum tentang istidlal QS.60:12 yg jadi dalil standar keislaman versi mrk?juga QS.60:10 tentang fatwa putusnya ikatan nikah dgn org yg tdk segolongan,dan bolehnya menahan(mengambil?)harta org yg dianggap ‘murtad’dr kelompok mrk?bgm saran/solusinya bg muslim yg tertahan/terdholimi harta,marwah mrk?smoga Alloh menolong hamba-hambaNya yg terdholimi..

    • Al-Faqir berkata:

      Waalaikumussalam akhi..
      Jazaakallah khoir atas komentarnya akhi. Di kelompok ini sudah lazim seorang isteri meninggalkan suaminya bahkan anak2nya begitu saja jika sang isteri sudah “kuat” pemahamannya. Kaitannya dengan istidlal Qs.Al-Mumtahanah:12 sebagai standar keimanan memang jadi bertolak belakang. Silahkan lihat Ahlul-bid’ah khawarij lokal (1).
      Bagi orang2 yg terzholimi harta dan marwah mereka kami sulit berbuat banyak, kami hanya berdoa untuk mereka dan mengupayakan tersampainya tulisan2 di blog ini supaya para penganut faham syubhat tersadar dan bertobat dari kesalahan2nya.
      Demikian ya akhi, doa antum juga kami harapkan…

  4. Tholabul ilmi berkata:

    Assalamu’alaikum,akh bisa tolong dijelaskan maksud adanya riba nasiah pd usaha yg bermodal emas/dinar,atau mata uang lain(dolar,riyal,dll) tapi transaksi/operasi usaha dlm rupiah/mata uang tdk sejenis.
    Mereka melakukan Pendalilan adanya kekholifahan sbg syarat shalat jum’at dan ied,bgm dgn zakat,menetapkan kapan shaum/ru’yatul hilal,dll,yg itu jg hal yg menjadi hak penguasa/kholifah?apakah hal itu jg mrk tunda/tdk dikerjakan dgn alasan tdk ada kholifah atw pemimpin mrk ngaku2 jd kholifah?Rancu dlm berdalil

    • Al-Faqir berkata:

      Waalaikum salam ya akhi…
      Mereka (para pemodal) menanam modalnya dalam hitungan dinar (harga emas LM 4,25gr pada saat itu) meskipun ketika penyerahan itu uang rupiah. Perputaran uang perusahaan tersebut dominannya dlm rupiah; produsen bahan baku, perongkosan dan pelanggan adalah org2 luar yg minta rupiah. Dalam prakteknya ini yg mereka keluarkan adalah rupiah, tapi mereka menghitungnya bahwa yg dikeluarkan itu adalah dinar. Setelah satu periode waktu tertentu, dihitunglah laba-ruginya. Hitungannya pakai dinar lagi, padahal uang yg terkumpul banyaknya rupiah. Ketika dihitung laba-rugi itu, harga emas LM sudah berubah naik (sangat jarang turun). Otomatis hitungan dlm dinar di atas kertas harus sama jmlh rupiahnya dg harga emas LM yg baru. Maka dilakukan “apresiasi” thd dinar. Biaya untuk apresisasi ini diambil dari keuntungan dagang. Setelah itu akan didapatkan nilai dinar pada modal dari para pemodal tetap tulisan angka dinarnya, tapi dalam jmlh rupiahnya sudah bertambah banyak. Keuntungan dagang yg dibagi kepada pemodal itu lain urusan lagi. Maka kecenderungannya adalah pekerja memutar uang modal hanya untuk membesarkan jumlah uang modal dari para pemodal dalam hitungan rupiah.

      Alasan tidak sholat jum’at katanya karena belum tegak kekholifahan. Tapi ini juga sering berubah atau di-tambah2kan alasannya sesuai kebutuhan. Dalam hal ru’yatul hilal, pengambilan zakat dan wali hakimn pernikahan yg juga merupakan hak sulthon/kholifah, mereka malah tidak mengkaitkannya dengan kekholifahan, tetap mereka jalankan meskipun kekholifahan belum tegak. Pendalilannya memang sangat rancu di kelompok itu. Saya sendiri kadang merasa sangat malu pernah ikut kelompok itu…

    • Manager berkata:

      Silakan diperhatikan, apakah Fatwa Pimpinan itu RESMI diatas kertas ditandatangani dan diSTEMPEL sehingga dapat dipegang sbg pedoman pengikut ?
      Bila tidak, maka wajar bila hujjah bisa berubah sesuai situasi.
      Bukankah Rosul mengajarkan ketika beliau mengirimkan Utusan, dituliskan dan distempel sebagai bukti otentik ketetapan Rosul ?
      Bukti juga bahwa Rosul bertanggungjawab atas efek ketetapan beliau.
      Dalam F.A.H , Pimpinan bisa kabur kapan saja, karena tidak ada bukti bilamana Ketetapannya berakibat buruk atau kerugian pihak tertentu. Bahkan bisa balik menyalahkan bawahan..bukankah kamu mengatakan “yang saya pahami”..
      Silakan tanggung sendiri, karena tdk ada bukti Pimpinan bertanggungjawab.

  5. Tholabul ilmi berkata:

    Insya Allah cukup jelas gambaran tentang rancunya pemahaman mrk terhadap pemakaian dinar,jg dlm fatwa2 aneh yg lain.hal ini terjadi krn tdk pahamnya mrk dgn ilmu yg benar.apalagi berdalil dgn hadits dgn pemahaman yg minim/menurut ro’yu tanpa melihat syarah hadits dr ulama muhaditsin..

  6. Tholabul ilmi berkata:

    Utk pak manager,kelihatanya antum juga mantan F.A.H,sepertinya tahu betul seluk beluk kelompok tsb?saya jg kenal beberapa org yg seblmnya pnya pemahaman serupa dgn FAH,alhamdulillah mrk sdh bertaubat dan skrg rajin mengikuti kajian dgn pemahaman salafush-sholeh,ada yg sdh ikut kelompok tsb dr 5th-10th,tp ketika berdialog tdk bnyk ilmu,yg ada malah kekecewaan dan penyesalan..mdh2an bagi yg msh setia dgn klmpok tsb,dibukakan qulub mrk kpd hidayah dan taufiq dr Allah..

    • Manager berkata:

      Amiin… mudah2an mereka segera mendapat “pencerahan qulub”.

      Ya saya pernah di F.A.H. dan beberapa kali makmum sholat dibelakang “Komisaris Utama” F.A.H . beberapa kali ditunjuk sebagai manager kegiatan tertentu, sehingga saya pun tahu beberapa “rahasia perusahaan”. diantara seperti yang telah antum tulis:
      “Modal ilmu” dan “Modal Jism” nya minim sekali, Lebih mendengar apa kata Boss , daripada menyimak “tulisan orang yang sudah mati”. Padahal itulah “Referensi Standart … sedangkan hasil yang ingin diraih terlalu besar , Maka yang terjadi adalah tersandung-sandungnya langkah maju, banyak energi terbuang percuma ditengah jalan dan akhirnya “perusahaan collaps” seperti saat2 sekarang ini dan beberapa waktu yang lalu, dimana banyak “sumber daya perusahaan” yang lost…

      • Manager berkata:

        Mirip di kantor-kantor umum, di F.A.H berlaku juga aturan :
        1. Boss selalu BENAR
        2. Bila Boss SALAH, lihat aturan nomor 1..!!!
        serta :
        1. Sholat itu NOMOR DUA (menunggu izin dari Boss)
        2. Nomor SATU adalah “Kerja-kerja yang terORGANIZING by Boss”
        ditimpali dengan State Ashobiyah “Perusahaan lain = Dhiror”,
        maka kesulitan sendiri ketika sedang shafar dan terbengkalailah urusan Sholat.
        Malah di”SAH”kan dengan State Ruwaibidhoh :”Islam bukan Agama Sholat”

  7. Tholabul ilmi berkata:

    ada link bermanfaat tentang kaidah takfir
    http://ustadzaris.com/jangan-kafirkan-saudaramu

  8. Tholabul ilmi berkata:

    atau masuk ke blog-nya abul-jauzaa cari di daftar artikel tentang kaidah-kaidah dalam pengkafiran didalam artikel tsb ada keterangan dr para ulama tentang kaidah2 tsb,diantaranya dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah,Ibnul Qoyyim,dll.
    Wallahu a’lam

  9. Abu Ahmad berkata:

    Subhanallah..
    Ternyata di masa sekarang msh ada penerusnya Dzul Khuwaisyiroh,Najdah al-Haruri,Abdurrahman bin Muljam,dkk.(pentolan-pentolan khawarij)
    Pdhal disebutkan dlm Bidayah wa Nihayah-nya Ibnu Katsir mereka(kaum khawarij) nyaris habis diperangi dimasa Amirul Mu’minin Ali bin Abi Tholib..
    Wahai ummat islam,bersatulah di atas kitabullah dan sunnah Rosululloh,hindari perpecahan,dan jauhi firqoh-firqoh..

  10. Abu Abdullah berkata:

    #manager,
    semoga antum diberi kesabaran dan bimbingan dari ALLOH ke jalan yg lurus dan istiqomah di atasnya..
    Innallaha ma’ash-shobiriin..
    Yg tdk kalah pentingnya adalah langkah berikutnya, mdh2an antum mengambil ibroh dr yg tlh lalu, dan tdk membuat “PERUSAHAAN” baru..
    Cukuplah kita jadi hamba-hamba Alloh dan penuntut ilmu yg ikhlas..
    Meminjam istilah akhi yg lain :
    JADI PENGIKUT KEBENARAN LEBIH BAIK DARIPADA JADI TOKOH KEBATILAN

  11. Abu Abdullah berkata:

    Assalamu’alaikum, akhi al-Faqir.boleh nambahin keterangan lagi di blog antum ini?moga ngga bosan sm coment2 saya. mudah2an ada manfaatnya.
    Saya baca Syarhul Arba’in an-Nawawiyyah (terjemahan, cet.Darul Haq) di hadits no.8 Kehormatan Seorang muslim.
    Dari ibnu umar rodliyallohu anhuma, bhw Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Aku diperintahkan agar memerangi manusia sampai mereka bersaksi bhw tiada ilah (yg berhak disembah) kecuali Allah dan bhw Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka melakukan hal itu, maka jiwa dan harta mereka terlindung dariku,kecuali dgn hak Islam, dan perhitungan mereka diserahkan kepada Allah.” (HR. al-Bukhori no.50 dan Muslim no.22).
    Dlm syarahnya syaikh Muhyiddin (an-Nawawi), ketika menjelaskan sabda Nabi, illa bi haqqil islam
    ‘kecuali dengan hak islam’
    An-Nawawi berkata : “Di antara hak Islam ialah melaksanakan berbagai kewajiban. Barangsiapa meninggalkan kewajiban, boleh diperangi (oleh sulthon) seperti pemberontak, pembegal, perampok, orang yg menolak membayar zakat, orang yg menolak memberikan air kepada orang yg membutuhkan dan binatang muhtaramah, pelaku kejahatan/kriminal, orang yg menolak bayar hutang padahal mampu, pezina muhshon, orang yang meninggalkan Sholat Jum’at dan meninggalkan berwudhu.
    Mengenai hal-hal tsb.dibolehkan (bagi sulthon/penguasa muslim) utk membunuh dan memeranginya.
    Demikian pula seandainya meninggalkan shalat berjama’ah. Menurut kami, shalat berjama’ah adalah fardhu ‘ain atau kifayah”. (selesai kutipan dr syarah an-nawawi).
    Faidah hadits ini, salah satunya adalah jika manusia memeluk agama Islam secara zohirnya maka ia diakui secara zohir didunia sbg muslim, maka hal batinnya dipasrahkan kepada Allah hakikat yg di kalbunya.
    Wallahu Ta’ala a’lam..

    • Al-Faqir berkata:

      Waalaikumussalam Abu Abdullah, kolom utk comment saya buat “lebar” sehingga bisa menampung lebih banyak comment dari biasanya.
      Alhamdulillah, keterangan dari antum ini nampaknya lebih jelas tentang hdts seorang muslim itu dari pada yg sekedar saya cantumkan di “koreksi pemahaman yg salah…(1)”. Mudah2an buat pembaca yg mengikuti juga jadi lebih jelas juga. Jazakallah khoir atas masukannya, ya akhi.

  12. Abu Haidar berkata:

    Berikut adalah contoh dari para salaf dan ulama yang terpercaya :

    Dari Abdurrozaq, dari Ma’mar dari orang yang mendengar shahabat Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib berkomentar ketika kelompok Haruriyyah memerangi Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib -ayahandanya-.
    Orang-orang bertanya kepada Ali Bin Abi Thalib :
    “Wahai Amirul Mukminin, siapakah mereka ? Apakah mereka telah kafir (karena mereka mengkafirkan Ali) ?”
    Beliau menjawab :
    “MEREKA (MELAKUKAN ITU) JUSTRU KARENA LARI DARI KEKAFIRAN”
    (lari dari kekafiran maksudnya adalah mereka mengkafirkan dan memerangi Khalifah Ali bin Abi Thalib karena mereka takut terjatuh kepada kekufuran -menurut anggapan mereka- disebabkan tidak mengkafirkan Ali yang menurut mereka telah berhukum kepada selain hukum Allah, pent)

    “Apakah mereka itu munafik ?”

    Ali bin Abi Thalib menjawab :
    “Orang munafik tidak pernah mengingat Allah (berdzikir) kecuali hanya sedikit sekali, sedangkan mereka ini orang-orang yang banyak berdzikir dan menyebut Allah”

    “Lalu siapa mereka itu ?”

    Ali bin Abi Thalib menjawab :
    “Mereka adalah sekelompok orang yang terkena fitnah (kekacauan, ujian dan cobaan) lalu mereka menjadi buta dikarenakan fitnah itu dan menjadi tuli”

    (Mushonnaf Abdurrozaq 4/150, Jami’ul Ahadits 32/5)

    Khalifah Ali Bin Abi Thalib mengajarkan kepada kita agar kita tidak terjebak ikut-ikutan mengkafirkan secara serampangan tanpa hujjah syar’i yang kuat.

    Beliau bukan hanya menolak menjatuhkan vonis terhadap mereka tetapi justru menyebutkan permakluman atas kekeliruan mereka dengan kalimat : “Mereka (melakukan itu) justru karena lari dari kekafiran”, serta menyebutkan kebaikan mereka dengan kalimat :
    “Orang munafik tidak pernah mengingat Allah (berdzikir) kecuali hanya sedikit sekali, sedangkan mereka ini orang-orang yang banyak berdzikir dan menyebut Allah”

    Sebuah kehati-hatian yang dibalut dengan sifat tawadhu’ dan husnuzhon yang sangat tinggi telah beliau ajarkan kepada kita. Semoga Allah Memberikan kita kecintaan kepada mereka yang mencintai dan meneladani kekasih tercinta kita, Rasulullah Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam.

    Kita juga bisa mengambil pelajaran dari jawaban Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah terhadap kelompok Jahmiyyah berikut ini :
    و لهذا كنت أقول للجهمية من الحلولية و النفاة الذين نفوا أن الله تعالى فوق العرش لما وقعت محنتهم أنا لو وافقتكم كنت كافرا لأني أعلم أن قولكم كفر و أنتم عندي لا تكفرون لأنكم جهال وكان هذا خطابا لعلمائهم و قضاتهم و شيوخهم وأمرائهم و أصل جهلهم شبهات عقلية حصلت لرؤوسهم في قصور من معرفة المنقول الصحيح و المعقول الصريح الموافق له وكان هذا خطابنا
    “Oleh karena itu aku katakan kepada para penganut Jahmiyyah yaitu orang-orang yang memiliki keyakinan hulul serta menolak keyakina bahwa Allah di atas Arsy, saat terjadi fitnah dan kerancuan :
    “JIKA AKU MENYETUJUI PENDAPAT DAN KEYAKINAN KALIAN, MAKA AKU TELAH KAFIR KARENA AKU TELAH MENGETAHUI BAHWA UCAPAN KALIAN ITU ADALAH PERBUATAN KUFUR. NAMUN BAGIKU KALIAN TIDAK AKAN AKU KAFIRKAN KARENA KALIAN JAHIL (TIDAK MEMILIKI ILMU)”
    “Ucapan ini saya tujukan kepada ulama’, qadhi, syaikh dan umara’ mereka (bukan kepada orang awamnya, pent). Dan pokok kebodohan mereka adalah syubhat (kerancuan) akal (pemikiran) yang terjadi di kepala mereka karena keterbatasan mereka dalam memahami dalil Naqli yang shahih dan dalil Aqly yang shorih (jelas dan terang) yang sesuai dengan pendapat. Inilah ucapan kami kepada mereka”
    (Ar Roddu ‘alal Bakri 2/494)

  13. Abu Ahmad berkata:

    Pantaslah Allah Tabaroka wa Ta’ala memuji mereka(generasi shahabat) dgn sebutan KHOIRU UMMAH,
    dgn sifat tawadhu,bijak,hati-hati,dan santun.bhkan dlm amar ma’ruf nahi munkar.
    Diikuti generasi berikutnya dr para imam2 salafush-sholeh,yg mengikuti generasi sblmya dgn ihsan..
    Giliran kita bgm?..

  14. Abu Abdullah berkata:

    Ajaran taqiyah,bithonah dan diplomasi pd asalnya adalah kedustaan. Sedangkan dusta yg dikecualikan adalah apa yg Allah & Rasul-Nya bolehkan,seperti pd hadits ttg dusta yg dikecualikan,yaitu dlm peperangan(jihad fisik melawan kafirin),untuk mendamaikan orang yg berselisih,dan rafats(pembicaraan suami-istri dlm hubungan intim).

    Perintah untuk jujur,
    Allah telah berfirman ( yg artinya): Hai orang-orang beriman,bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang” yang benar. (QS. At-Taubah : 119).

    Dari ibnu Mas’ud,dari Nabi shallahu alaihi wa sallam,beliau bersabda: Sesungguhnya ash-shidqa(kebenaran) menunjuki kepada kebaikan.dan kebaikan akan menunjuki kpd al-jannah.Dan seseorang akan selalu berlaku jujur sehingga ia dicatat di sisi Allah sebagai shiddiiqan(org yg jujur). Dan sesungguhnya dusta itu menunjuki kpd kejahatan dan kejahatan itu menunjuki ke neraka. Seseorang akan selalu berdusta sampai ia dicatat di sisi Allah sebagai pendusta. (Muttafaqun ‘alaih)

    Dari Abu Muhammad al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib rodliyallahu anhuma,ia berkata: Saya menghafal beberapa kalimat dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,yaitu: ”Tinggalkanlah apa-apa yang meragukanmu kepada apa-apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya jujur itu menimbulkan ketenangan dan dusta itu menimbukan kebimbangan”
    (HR. at-Tirmidzi)

  15. Abu Ahmad berkata:

    Dalam jual-beli kita disyari’atkan untuk jujur(tidak dusta/menipu) apalagi dalam perkara yang dipandang lebih besar ( akidah,dakwah,penerapan hukum,hubungan sesama muslim,dll.)bila tdk jujur akan hilang berkahnya.
    Berikut penuturan shahabat Abu Khalid(Hakiim bin Hizam),ia masuk Islam waktu Fathu Makkah,dan ayahnya adalah tokoh Quraisy,baik di zaman Jahiliyah maupun setelah masuk Islam, ia berkata:”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
    ”Dua orang yang berjual beli itu haruslah bebas memilih selama mereka belum berpisah.-Atau beliau bersabda,”Hingga keduanya berpisah.”Jika keduanya telah sama-sama jujur dan menjelaskan(terus terang) maka keberkahan diberikan kepada keduanya dalam jual-beli itu dan jika keduanya menyembunyikan dan berdusta,maka keberkahan ditarik dari jual-beli diantara keduanya.”
    (HR. Al-Bukhari no.2079 dan Muslim no.1532)

    Semoga keberkahan dari
    Allah bagi orang-orang yang jujur

  16. Abu Abdullah berkata:

    betul ya akhi,kita dukung kejujuran dan berkata yg benar..
    Apalagi dlm hal penyampaian/dakwah ilmiyyah..
    Imam-imam muhaditsin semisal al-Bukhari,Muslim,Malik bin Anas,Ali bin Madini,Ahmad,an-Nasa’i,dll. adalah teladan dlm kejujuran dan orang2 yg terpercaya lagi tsiqoh(kuat hafalan dan pengamalan dlm ilmu),mrk mensyaratkan hadits2 yg mereka dapatkan dgn kriteria yg ketat.karena di masa nya sdh terjadi banyak penyimpangan dan pemalsuan ajaran islam.dgn fitnah yg terjadi pd masa itu,mereka berjuang menyeleksi hadits2 mana yg benar2 shahih dan mana yg dha’if dan maudlu(palsu),sehingga umat islam mendapat manfaat dari usaha mereka dan terhindar dari penyelewengan ajaran islam.
    Pentingnya sanad periwayatan adalah hal yg tidak bisa diremehkan.sbgmana perkataan para salaf:Jangan kalian mengambil dariku,kecuali kalian ketahui darimana aku mengambilnya.perkataan ini tdk dipahami hanya tempat mengambil yaitu kitabullah dan sunnah,tetapi juga rantai periwayatan ilmu tsb.

    Berkata Sufyan ats-Tsauri : ”Pada suatu hari az-Zuhri menyampaikan suatu hadits.lalu aku berkata: ”Sampaikanlah hadits itu tanpa sanad.”
    Maka ia (az-Zuhri) berkata:” bagaimana aku akan menaiki loteng tanpa tangga?”

    Para imam muhadits menyadari,bahwa mereka tdk bisa begitu saja menyampaikan suatu ajaran dlm Islam,dan mengklaim bhw dia dpt langsung dari Allah dan Rosul-Nya.mereka akan menyandarkan kpd imam-imam pendahulunya yg mereka sebutkan.karena mrk menyadari jika tidak ada imam pendahulunya mereka khawatir akan terjerumus dlm kesalahan dan penyimpangan.

  17. Abu Akmal berkata:

    “Wahai Rabb Kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian terhadap orang-orang yang beriman (berada) dalam hati kami. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr: 10)

  18. ummu marqisa berkata:

    Apakah akhi Abu akmal metro? Ketahuilah..saudara yg keluar dari FAH,tidak mendengki thd kalian.Bahkan selalu mendoakan utk kelembutan qulub kita semua…

  19. Abu Akmal berkata:

    Bismillah. Ana bukan abu zakia atau abu akmal metro, tapi pernah belajar sama dia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s