Ahlul-bid’ah khawarij lokal (1)

Ahlul-bid’ah khawarij lokal (1)

بسم الله الرحمن الرحيم
إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلاَّ الله وحده لا شريك له وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله. فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار .

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم Wa Ba’du :

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

فا ن خيرالحد يث كتا ب الله وخير الهد ى هد ى محمد و شرالا مورمحدثا تهاوكل بدعة ضلا لة

“Sesungguhnya Sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad صلي الله عليه وسلم.  Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang di ada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat”  (HR Muslim /1435)

وَإِيَّاكُمْ وَمُـحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُـحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ …

“…Dan awaslah kalian dari perkara-perkara yang baru, karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.”  (HR Ahmad 4/126, Ad-Darimi 1/57, At-Tirmidzi 5/44, Ibnu Majah 1/15, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah hal.26, 34)

Apakah bid’ah itu?

Secara bahasa, bid’ah berasal dari kata  بدع  yg berarti : membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya (Al-Mu’jam Al-Wasith, 1/91, Majma’ Al-Lugoh Al ‘Arobiyah Asy-Syamilah), sebagaimana firman Allah سبحانه و تعالي :

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ  “Ia (Allah) pencipta langit dan bumi”  (Qs.Al-Baqoroh : 117).
Kata  بَدِيعُ  mempunyai arti mencipta/membuat tanpa ada contoh sebelumnya.

Inilah pengertian bid’ah secara bahasa, sedangkan pengertian bid’ah secara syariat adalah sebagaimana dalam keterangan hadits-hadits di atas, yaitu perkara atau hal-hal baru yg diada-adakan/ muhdatsah (dalam syari’at) yg tidak diajarkan dan tidak dicontohkan Nabi dan para sahabatnya dan berkonotasi jelek, yaitu kesesatan.

Imam asy-Syafi‘i رحمه الله menyatakan : Al-muhdatsah (sesuatu yang diada-adakan) adalah apa-apa yang menyalahi Al-Kitab, As-Sunah, atau Ijma Sahabat merupakan bid‘ah yang sesat (dhalâlah)  (Muhammad al-Khathîb asy-Syarbini, Mughni al-Muhtâj, 4/436)

Ibnu Taimiyah رحمه الله mendefinisikan bid’ah secara istilah : “Bid’ah adalah i’tiqod (keyakinan) dan ibadah yang menyelishi Al-Kitab dan As-Sunnah atau ijma’ (kesepakatan) salaf.”  (Majmu’ Al Fatawa, 18/346, Asy-Syamilah).

Ahlul-bid’ah (mubtadi) adalah orang/pelaku ke-bid’ahan, yg meyakini sesuatu ajaran tertentu sebagai bagian dari syariat Islam, padahal tidaklah sesuatu ajaran tersebut ada di dalam Islam.
Fenomena ahlul-bid’ah belum ada di masa Rasulullah صلي الله عليه وسلم masih hidup, ia mulai ada di masa sahabat.  Akan tetapi jauh-jauh hari Rasulullah sudah mengingatkan akan munculnya fenomena itu seperti yg bisa dilihat dalam dua hadits shohih di atas.  Ia mengajarkan kepada para sahabat dan juga kepada kaum muslimin sepeninggalnya bahwa akan ada kesesatan yg lain selain kesesatan jalan kaum nashrani ataupun jalan kafirin yg lain, yg juga bisa menyimpangkan dari jalan Allah Yg Haq, yaitu jalannya ahlul-bid’ah, jalannya para pembuat ajaran/ syariat tersendiri dalam Islam yg berlainan dengan ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Ahlul-bid’ah merupakan kebalikan/lawannya Ahlus-Sunnah, inilah yg terindikasi dari ungkapan seorang sahabat Nabi, yaitu Ibnu Abbas رضي الله عنه ketika ia menafsirkan ayat 106 surat Ali Imron, bahwa maksud ayat “pada hari yg di waktu itu ada muka yg menjadi putih berseri” adalah Ahlus-Sunnah. Sedangkan maksud ayat “dan ada pula muka yg menjadi hitam muram” adalah ahlul-bid’ah  (Tafsir Ibnu Katsir, juz 4 Qs.3 : 106).

Ahlul-bid’ah dalam sejarah

Allah Yg Memperjalankan manusia dalam kehidupannya, telah mem-‘bekas’kan tentang bukti-bukti munculnya fenomena ahlul-bid’ah dalam sejarah beserta kesesatan-kesesatan mereka.  Tercatat ada nama-nama seperti : khawarij, qodariah, syi’ah, muta’zilah, murjiah, dll.   Masing-masingnya menganut prinsip dan ajaran yg menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan justeru dalam masalah yg pokok dan fundamental, yaitu yg berkaitan dengan akidah.

Khawarij menyelisih As-Sunnah dengan membuat faham “takfir” (pengkafiran terhadap orang Islam dengan tanpa haq) dan membuat definisi tersendiri tentang iman dan kafir.
Qodariah menyelisih As-Sunnah dengan pengingkarannya terhadap takdir, syi’ah menyelisih As-Sunnah dengan faham takfir terhadap kaum Muslimin dan para sahabat Nabi (Abu Bakr, Umar bin Khaththab, Usman bin Affan dll.), muta’zilah menyelisih As-Sunnah dengan banyak menolak nash hadits dan mengkedepankan akal-pikiran, sementara murjiah menyelisih As-Sunnah dengan berpandangan buta terhadap amal buruk apapun yg bisa mempengaruhi keimanan.

Selain dari yg disebutkan ini, masih banyak ahlul-bid’ah yg lain dengan karakteristik penyimpangan tersendiri, seperti misalnya jahamiah, mumatsilah, ahmadiah, karramiah, ingkar-sunnah, dll.
Mereka ini adalah kelompok-kelompok yg ‘menyempal’ (memisahkan diri dari kaum Muslimin) dengan mengambil akidah tersendiri yg berlainan dengan akidah Sunnah, yaitu akidah yg dianut Rasul, para sahabat, para thobi’in dan para ulama salaf yg mengikuti mereka.  Mereka adalah kelompok-kelompok yg menjadikan Islam berpecah dan berfirqoh-firqoh (bersekte-sekte) saling memusuhi satu-sama lain di antara mereka dan terhadap yg lain.

Ibnu Katsir رحمه الله di dalam tafsirnya berkata : “Dan mereka merupakan golongan/kelompok tersendiri, bahkan memusuhi golongan yg lain, mereka kaum khawarij, ahli-ahli bid’ah, ahli syubhat, dan orang-orang yg tersesat” (Tafsir Ibnu Katsir, juz 8 QS.6 : 159).

Setiap firqoh/sekte memusuhi yg lain dan berpandangan sesat, namun justeru menilai dirinya masing-masing adalah yg paling benar.

Ibnu Taimiyah رحمه الله mengatakan tentang mereka : “Kebanyakan ahli bid’ah, seperti Khawarij, Rafidhah (syi’ah), al Qadariyah, al Jahmiyah dan al Mumatsilah ; mereka memiliki keyakinan yang sebenarnya sesat, namun mereka lihat sebagai kebenaran, dan menganggap kufur terhadap orang yang menyelisihi mereka dalam i’tikad tersebut” (Majmu’ Fatawa 12/466-467).

Faham-faham seperti faham takfir, menolak hadits dan mengkedepankan akal-pikiran, meniadakan (ta’thil) terhadap sifat-sifat Allah, pengakuan adanya nabi baru, penafsiran Al-Qur’an dengan akal-pikiran dan lain-lain adalah faham-faham klasik ahlul-bid’ah yg sudah ada sejak dahulu.  Para ahlul-bid’ah di masa sekarang hanyalah mengikuti jejak para pendahulu mereka (secara sadar atau tidak sadar) yg banyak menyelisihi Sunnah dan cenderung mengikuti ‘bisikan’ hawaa dari dalam diri mereka (hawa nafsu).

Ahlul bid’ah Khawarij

Khawarij adalah fitnah pertama dan terbesar di kalangan ummat Islam sampai saat ini.
Akibat buruk yg timbul dengan adanya fitnah khawarij sangat meluas, dan menjadi faktor traumatis yg tak kunjung reda di kalangan para ulama Ahlus-Sunnah hingga sekarang.
Khawarij adalah ahlul-bid’ah pertama.  Ia membawa faham takfir (pengkafiran orang Islam yg lain dengan tanpa haq) yg merupakan bid’ah pertama dalam sejarah Islam.

Ibnu Taimiyah رحمه الله mengatakan : “Firqoh Khawarij adalah kelompok pertama yang mengkafirkan kaum muslimin dan mengatakan kafir bagi setiap pelaku dosa.  Mereka mengkafirkan orang yang menyelisihi bid’ah mereka serta menghalalkan darah serta hartanya.”  (Majmu’ Fatawa 7/279)

Ulama muta’akhirin seperti Syaikh Nashiruddin Al-Albani رحمه الله, dan beberapa ulama yg lain menyatakan bahwa setiap kelompok yg berfaham berontak terhadap penguasa yg Islam dan berfaham takfir pada masa sekarang ini adalah khawarij juga.  Hal ini sejalan dengan yg difahami oleh para ulama salaf (terdahulu),

Ulama salaf, Asy-Syihristani رحمه الله berkata : “Siapa saja yang keluar dari ketaatan terhadap sulthon (pemimpin negeri orang-orang Islam) yang sah, yang telah disepakati, maka ia dinamakan khariji (seorang khawarij), baik keluarnya di masa shahabat terhadap Al-Khulafa Ar-Rasyidin atau terhadap pemimpin setelah mereka di masa tabi’in, dan juga terhadap pemimpin kaum muslimin di setiap masa”  (Al-Milal wan-Nihal, hal.114)

Dan ulama salaf yang lain seperti Imam Al-Ajurri, Ibnu Abdil Barr, Al-Qadhi Abu Ya’la, dan yg lainnya seperti Al-Jashshash mengatakan bahwa pendapat yang mengkafirkan seluruh orang yang berhukum dengan selain hukum Allah سبحانه و تعالي tanpa memperinci apakah dengan pengingkarannya (terhadap hukum Allah) atau tidak, adalah pendapat (pernyataan) khawarij.  (Lihat Fiqhu As-Siyaasah Asy-Syar’iyyah hal.86-87)

Keberadaan faham khawarij dalam suatu kelompok bisa dicirikan, dan telah dicatatkan oleh Jamal bin Furaihan Al-Faritsi berdasarkan keterangan hadits-hadits Nabi dan fakta sejarah.  Ia menyebutkan dalam “Syarru Qatla Tahta Adimis-Samaa’i Kilabun-Naar” sebagai berikut :

1. Adanya majelis-majelis rahasia (tidak terang-terangan kepada umum)
2. Kaum Khawarij adalah orang-orang yang bersemangat dalam ibadah. Mereka itu bukanlah para pelaku kemaksiatan atau para preman (para kriminal).
3. Kaum Khawarij adalah orang-orang yang (umumnya) muda umurnya serta dungu cara berpikirnya, dan mereka sama sekali bukan dari kalangan ulama.
4. Al-Khawarij selalu berupaya menyembunyikan berbagai operasi jaringan mereka dari keumu- man manusia dan tidak mau menampakkan identitas (jati diri) mereka secara terang-terangan…
5. Al-Khawarij selalu menampakkan diri mereka dengan slogan amar-ma’ruf nahi-munkar dalam rangka menarik simpati hati manusia.
6. Al-Khawarij sering meletakkan nash-nash (dalil Al-Quran dan As-Sunnah) bukan pada tempatnya.

“Neo khawarij” yg ada pada masa sekarang tidak kalah berbahayanya dengan khawarij terdahulu, yaitu sebagai pembawa perpecahan ummat, pembuat kerusakan dalam Islam hingga memicu pertumpahan darah di kalangan sesama kaum Muslimin.

Sejak kemunculannya di masa sahabat Nabi, faham-faham firqoh khawarij terus berkembang dengan berbagai macam variasi pemahamannya hingga masa sekarang ini.
Seorang ulama salaf besar, Ibnul-Jauzi رحمه الله mencatat cabang-cabang (atau variasi faham-faham) khawarij dan mengklasifikasikan perkataan-perkataan (faham-faham) mereka secara ringkas dalam kitabnya “Talbis Iblis” sebagai berikut :

“Haruriyah (khawarij) terbagi menjadi dua belas kelompok :

Pertama, Al Azraqiyah, mereka berkata : “Kami tidak tahu seorang pun yang Mukmin.” Dan mereka mengkafirkan kaum Muslimin (Ahli Qiblat) kecuali orang yang sepaham dengan mereka.

Kedua, Ibadhiyah, mereka berkata : “Siapa yang menerima pendapat kita adalah orang yang Mukmin dan siapa yang berpaling adalah orang munafik.”

Ketiga, Ats Tsa’labiyah, mereka berkata : “Sesungguhnya Allah tidak ada menetapkan Qadha dan Qadar.”

Keempat, Al Hazimiyah, mereka berkata : “Kami tidak tahu apa iman itu. Dan semua makhluk akan diberi udzur (diberi maaf karena ketidak tahuannya itu).”

Kelima, Khalafiyah, mereka berkata : “Pria atau wanita yang meninggalkan jihad berarti telah kafir.”

Keenam, Al Mujarramiyah, mereka berpendapat : “Seseorang tidak boleh menyentuh orang lain, karena dia tidak tahu yang suci dengan yang najis. Dan janganlah dia makan bersama orang itu hingga orang itu bertaubat dan mandi.”

Ketujuh, Al Kanziyah, mereka berpendapat : “Tidak pantas bagi seseorang untuk memberikan hartanya kepada orang lain karena mungkin dia bukan orang yang berhak menerimanya. Dan hendaklah dia menyimpan harta itu hingga muncul para pengikut kebenaran.”

Kedelapan, Asy Syimrakhiyah, mereka berpendapat : “Tidak mengapa menyentuh wanita ajnabi (yang bukan mahram) karena mereka adalah rahmat.”

Kesembilan, Al Akhnashiyah, mereka berpendapat : “Orang yang mati tidak akan mendapat kebaikan dan kejelekan setelah matinya.”

Kesepuluh, Al Muhakkimiyah, mereka berkata : “Siapa yang berhukum kepada makhluk adalah kafir.”

Kesebelas, Mu’tazilah dari kalangan Khawarij, mereka berkata : “Samar bagi kami masalah Ali dan Mu’awiyah maka kami berlepas diri dari dua kelompok itu.”

Kedua belas, Al Maimuniyah, mereka berpendapat : “Tidak ada iman, kecuali dengan restu orang-orang yang kami cintai.” (Talbis Iblis hal.32-33)

Di Indonesia, ada beberapa kelompok penganut akidah khawarij dan di antara mereka ada yg telah berkiprah cukup lama sebagai kelompok ahlul-bid’ah lokal. Mereka adalah sekte-sekte yg sangat berbahaya, yg tampak bersemangat mengusung nama Islam, namun dalam prakteknya mereka merusak ajaran Islam dan memecah-belah ummat Islam secara nyata.

NII KW-9, adalah satu sekte yg berfaham khawarij syimrakhiyah.  Mereka mengkafirkan orang Islam yg lain tanpa pandang bulu, mengajarkan untuk tidak menegakkan sholat lima waktu, membolehkan menampakkan aurat bagi muslimah, serta menghalalkan cara-cara membohongi/ menipu, dan membolehkan mencuri harta orang lain yg tidak segolongan dengan mereka.

LDII (Islam jama’ah) yg sudah lama eksist, adalah satu sekte berfaham khawarij mujarramiyah.  Mereka mengkafirkan semua orang Islam di luar kelompoknya.  Mereka menganggap orang Islam yg lain itu najis luar-dalam, juga secara fisik (dianggap semacam kotoran manusia (tai) atau yg semacam itu) dan hanya yg segolongan dengan mereka, itulah orang yg suci.

Dan khawarij pendatang baru di blantika ahlul-bid’ah Indonesia, yaitu kelompok abu hamzah yg pengikutnya hanya berjumlah sedikit.  Mereka menganut faham khawarij azraqiyah.  Mereka juga mengkafirkan yg lain tanpa pandang bulu dan berkeyakinan bahwa hanya merekalah orang-orang yg beriman di muka bumi ini.  Mereka tidak melaksanakan sholat jum’at, dan tidak umroh atau berhaji ke Mekkah dan mengatakan bahwa mesjid-mesjid di Indonesia ini semuanya mesjid dhiror (mesjid mudhorot yg dibuat oleh orang kafir-munafik).  Orang-orang Islam yg lain bagi mereka adalah seperti binatang ternak bahkan lebih jelek dari itu.
Dalam pandangan mereka jika ada seseorang (di luar mereka) memelihara monyet atau anjing, maka monyet atau anjingnya itu lebih mereka hargai daripada orang yg memeliharanya.

Selain dari firqoh-firqoh (sekte-sekte) yg telah disebutkan itu, masih ada beberapa kelompok yg berakidah berontak dan berfaham takfir dengan alasan klasik khawarij (yaitu tidak berhukum dengan hukum Allah) yg lebih moderat.  Mereka berfaham khawarij ibadhiyah dan hanya mengkafirkan penguasa-negeri orang-orang Islam dan tidak mengkafirkan orang-orang Islamnya.  Sejak awal keberadaannya, faham ibadhiyah dalam banyak hal sangat mirip dengan Ahlus-Sunnah (banyak orang yg terkecoh dengan mengira bahwa mereka adalah ahlus-sunnah).

Imam Al-Asy-‘ari رحمه الله berkata tentang mereka : “Orang-orang khawarij bersepakat bahwa orang yang menyelisihi mereka, dihalalkan darahnya (dikafirkan), kecuali firqoh ibadhiyah.  Mereka tidak berpendapat seperti itu kecuali kepada sulthon (penguasa)”
(Maqolaat Al-Islamiyyah)

Para penganut akidah khawarij pada masa sekarang umumnya tidak sadar kalau mereka adalah khawarij, mereka hanya yakin bahwa merekalah orang Islam yg fahamnya benar. Padahal sesungguhnya mereka memang khawarij, dalam pandangan para ulama salaf maupun khalaf dan khawarij memang selalu ada di setiap jaman.  Kedudukan suatu kelompok berlabel khawarij sangatlah jelek, sebagaimana yg difahami oleh para ulama Islam dari jaman ke jaman.

Khawarij terhujat oleh ayat-ayat Al-Qur’an

Seseorang yg menganut akidah dan faham khawarij sudah sangat lazim begitu mudah menuding ‘orang luar’ bersalah dan kafir dengan mengutip ayat-ayat Al-Qur’an.  Mereka membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan mengatakan bahwa orang-orang di luar mereka adalah orang-orang yg dimaksud kafir atau munafik di dalam ayat-ayat Al-Qur’an.  Inilah pandangan mereka.  Bagaimanakah menurut Nabi صلي الله عليه وسلم tentang pandangan mereka itu?

Ali bin Abi Tholib berkata : “Wahai sekalian manusia, saesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

khawarij 1

“Akan muncul suatu kaum dari ummatku yg membaca Al-Qur’an, bacaan Al-Qur’an kalian tidak ada apa-apanya dibanding bacaan mereka, shalat kalian tidak ada apa-apanya dibanding shalat mereka, puasa kalian tidak ada apa-apanya dibanding puasa mereka. Mereka membaca Al-Qur’an dan menyangka Al-Qur’an itu menjadi hujjah yg mendukung mereka, padahal Al-Qur’an menjadi hujjah yg membantah mereka.  Mereka keluar dari Islam seperti anak panah keluar dari buruannya.  Sekiranya pasukan yg memerangi kaum ini tahu apa yg disediakan buat mereka melalui lisan Nabinya, niscaya mereka akan meninggalkan amal……” (HR Muslim, Al-Bidayah wan-Nihayah, Ibnu Katsir)

Dan Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِي يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَتْ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ شَيْئًا وَلَا صَلَاتُكُمْ إِلَى صَلَاتِهِمْ شَيْئًا وَلَا صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ شَيْئًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ لَا تُجَاوِزُ صَلَاتُهُمْ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ

“Akan keluar satu kaum dari ummatku, mereka membaca Al-Qur’an, bacaan kalian dibanding- kan dengan bacaan mereka tidak ada apa-apanya, juga sholat dan puasa kalian dibandingkan dengan sholat dan puasa mereka tidak ada apa-apanya.
Mereka mengira Al-Qur’an menjadi hujjah buat mereka, padahal sesungguhnya ia (Al-Qur’an itu) menjadi hujatan buat mereka.  Sholat mereka tidak sampai tenggorokan, mereka lepas dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari buruannya” (HR Abu Dawud)

Kedua hadits di atas adalah mengenai orang-orang haruriyah atau khawarij.  Sangat ironis, para penganut akidah khawarij biasa membawa-bawa Al-Qur’an dan senantiasa menjadikan Al-Qur’an sebagai dalil-dalil pembenar tindakan mereka dan dalil-dalil hujatan mereka terhadap orang-orang di luar kelompoknya, padahal Al-Qur’an itu sebenarnya justeru menghujat mereka sendiri, begitulah yg dikatakan Rasulullah dalam dua hadits di atas.
Mereka tidak sadar akan hal ini, bisa jadi dikarenakan mereka tidak tahu siapakah diri mereka (mereka tidak merasa sebagai khawarij, padahal mereka nyata-nyata menganut akidah khawarij), atau karena mereka memang benar-benar bodoh, tidak mengenal khawarij dengan benar (buta tentang khawarij) atau tidak mengetahui tentang keberadaan hadits-hadits Nabi ini.

Bagaimanakah contoh-contohnya bahwa khawarij berdalil dengan Al-Qur’an padahal mereka justeru yg terhujat dengan Al-Qur’an?  Berikut adalah sebagian dari ulasan-ulasannya.
______________________________________

Firman Allah سبحانه و تعالي :

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Katakanlah : Jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Rasul) niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu…” (Qs. Ali Imron : 31)

Orang-orang yg berakidah khawarij mengaku mencintai Allah dan di antara mereka ada yg sering mengutip ayat ini untuk menguatkan diri mereka sendiri untuk mencintai Allah dan mengikuti “kerja-kerja” Rasul.  Benarkah demikian?

Ibnul Qayyim رحمه الله menjelaskan : “Ketika semakin banyak orang-orang yang mengaku cinta, mereka dituntut menunjukkan bukti nyata pengakuan cintanya itu… Maka Allah سبحانه و تعالي berfirman : “Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Rasul)”  Akhirnya semua mundur, kecuali orang-orang yg (dengan benar) mengikuti Al-Habib (Rasulullah صلي الله عليه وسلم) dalam setiap ucapan, perbuatan, dan akhlaknya.”

Al Hasan Al Bashri رحمه الله berkata : “Ada sebagian orang yang mengaku bahwasanya mereka mencintai Allah, maka Allah menguji (kebenaran pengakuannya) dengan ayat ini.”

Ibnu Katsir رحمه الله berkata : “Ayat mulia ini merupakan hakim bagi setiap orang yang mengakui dirinya cinta kepada Allah, padahal ia tidak meniti jalan Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم, bahwa (jika demikian) sesungguhnya ia adalah orang yg dusta dalam pengakuannya, sebelum ia menjalankan syari’at Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم dalam segala ucapan dan perbuatannya”  (Tafsir Ibnu Katsir, juz 3 Qs.3 : 31))

Bukti nyata seseorang yg cinta kepada Allah adalah dengan mengikuti Rasul (mengikuti Sunnahnya dalam ucapan, pemahaman tentang ajaran, dan apa-apa yg diperbuat).  Sunnah Rasul itu pada masa sekarang ini hanya tertinggal dalam bentuk keterangan-keterangan hadits yg dibawa oleh para ulama ahli hadits dan telah difahami dengan baik oleh para ulama salaf.
Bagaimana bisa dikatakan mengikut Rasul jika tidak mau mendalami hadits-hadits Rasul itu dan bahkan meremehkannya?
Bagaimana bisa tahu “kerja-kerja” Rasul jika banyak tidak mengerti tentang hadits-hadits Rasul?
Mereka mengaku cinta kepada Allah namun tidak hendak dengan cara mengikuti Rasul dengan benar (yaitu mendalami dan menerapkan As-Sunnah), tapi dengan cara mengikuti pemikirannya sendiri.  Inilah cinta palsu neo-khawarij lokal Indonesia yg terhujat dengan ayat itu.

Dan pada ayat Allah selanjutnya :

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ

“Katakanlah : Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; (namun) jika kalian berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir” (Qs.Ali Imron : 32)

Ibnu Katsir رحمه الله mengatakan :
“Ayat ini memberikan pengertian bahwa menyimpang dari jalan ketaatan kepada Allah dan RasulNya (dalam thariqah/metode pemahaman dan aplikasi agama) adalah kekufuran.  Allah tidak mencintai orang yang demikian – meskipun ia mengaku bahwa ia mencintai Allah dan senantiasa bertaqarrub (berusaha mendekatkan diri) kepadaNya – sebelum ia (benar) mengikuti Rasulullah صلي الله عليه وسلم , Nabi yang ummi dan penutup para Rasul, yg diutus (oleh Allah) kepada segenap ats-tsaqalain yaitu bangsa jin dan bangsa manusia…” (Tafsir Ibnu Katsir, juz 3 Qs.3 : 32)
_________________________________

Dan firman Allah سبحانه و تعالي :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian turut langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu” (Qs.Al-Baqarah : 208)

Khawarij lokal mengemukakan ayat ini sebagai slogan diri mereka sendiri, yaitu pelaksana ajaran Islam yg benar dan kaffah (menyeluruh).  Apa-apa yg tidak mereka jalankan mereka katakan adalah karena kondisinya belum memungkinkan.  Apakah benar mereka kaffah?

Ibnu Katsir رحمه الله menafsirkan ayat ini ia berkata : “Allah memerintahkan kepada hamba-hambaNya yg beriman kepadaNya dan membenarkan RasulNya, hendaklah mereka berpegang kepada tali Islam dan semua syari’atnya serta mengamalkan semua perintahnya dan meninggal kan semua larangannya dengan segala kemampuan yg ada pada mereka” (Tafsir Ibnu Katsir)

Ibnu Abbas رضي الله عنه memaknai tentang kaffah adalah keseluruhan (tanpa terkecuali) dan Mujahid رحمه الله memaknai maksud ayat ini : “berkaryalah/beramallah kalian dengan semua amal dan semua segi kebaikan..” (Tafsir Ibnu Katsir, juz 2 Qs.2 : 208)

Makna “kaffah” (keseluruhan) yg telah jelas adalah amalan seluruh ajaran kebaikan dari Allah dan RasulNya, yg wajib atau yg sunnah tanpa ada yg dianggap remeh lalu menyepelekannya.

Sekte-sekte Islam lokal yg berakidah khawarij tidaklah melaksanakan Islam secara kaffah, karena faham-faham kacau mereka akibat menafsirkan Al-Qur’an secara asal-asalan tanpa ilmu.
LDII, NII KW-9 dan sekte abu hamzah telah banyak meninggalkan ajaran Allah dan RasulNya sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya dan pada bagian-bagian selanjutnya dalam tulisan ini.
NII KW-9 tidak melaksanakan sholat, sekte abu hamzah tidak melaksanakan sholat jum’at, dan kedua sekte itu juga tidak berhaji ke Mekkah.  Dan semua sekte-sekte itu tidak berbuat baik kepada sesama muslim (malah mengkafirkannya), tidak mengikut Rasul, tidak berbuat dengan ilmu, tidak menyambung silaturrahim, dan lain-lain.  Sangat banyak ajaran dalam ayat-ayat Al-Qur’an yg mereka tidak jalankan. Terlebih perkara-perkara yg merupakan sunnah Rasul seperti sholat malam, sholat ied, tidak ‘isbal’, berjenggot dan lain-lain yang mereka anggap sebagai “hal kecil/remeh” dan lalu menyepelekannya.  Padahal para sahabat, para thobi’in, dan orang-orang sholih terdahulu sangat antusias menjalankan sunnah-sunnah Rasul tersebut.

Kebutaan mereka terhadap petunjuk dan kehilangan akal sehat nampak jelas dalam keyakinan-keyakinan yg mereka anut.  Yg sangat menyolok di antara penyebabnya adalah sebagai berikut

-Kepercayaan mankul-muttashil di kalangan LDII, melahirkan anggapan bahwa hanya Imam merekalah yg mempunyai sambungan hingga kepada Imam-Imam terdahulu seperti Al-Bukhori, atau Imam-Imam yg lain dalam hal hadits.  Dan dalam hal Al-Qur’an hanya Imam merekalah yg mempunyai sambungan hingga kepada sahabat-sahabat Nabi bahkan hingga kepada malaikat Jibril, sehingga hanya kepada Imam merekalah yg haq manusia belajar Islam atau mengikut ajaran Islam.  Kepercayaan seperti ini mengkonsekwensikan ajaran yg diterapkan di kelompok itu terfokus penuh hanya kepada apa-apa yg diajarkan oleh sang Imam.

-Kepercayaan bai’at kepada amir di kalangan NII KW-9 yg merupakan dasar ketaatan dalam menjalankan ajaran.  Inipun mengkonsekwensikan ajaran yg diterapkan di kelompok itu terfokus hanya kepada fatwa-fatwa sang amir (pemimpin).  Seolah amir mereka berkata : “ajaran Islam yg ini boleh dijalankan caranya adalah demikian, demikian…sedangkan ajaran Islam yg ini belum bisa dijalankan, alasannya adalah demikian dan demikian…Jadi, Islam bagi kita adalah demikian, demikian…”

-Kepercayaan ulil-amri (pemimpin) di kalangan sekte abu hamzah adalah orang yg paling ‘qori’ atau (konon) paling faham tentang ajaran Islam, di mana keputusan banyak hal termasuk pemahaman tentang ajaran Islam yg diberlakukan berada pada keputusan sang pemimpin.  Hal seperti ini telah mengkonsekwensikan ajaran yg diterapkan dan difahami di kelompok itu berada di bawah keputusan atau persetujuan pemimpin.  Dan pemimpin mereka seakan berkata : “ajaran Islam yg ini bisa dijalankan, caranya adalah demikian dan demikian, sedangkan ajaran Islam yg itu belum bisa dijalankan karena hal demikian dan demikian.  Adapun ajaran Islam yg itu dan yg itu adalah hal kecil, tidak penting untuk dijalankan, yg besar adalah yg ini dan yg ini, maka perlu dijalankan saat ini juga…”

Ajaran Islam atau ajaran dalam ayat-ayat Allah dipilih-pilih dan dilaksanakan sebagian, dan ditinggalkan sebagian dengan dalil-dalil hasil rekayasa akal karena terpojok oleh konsekwensi hasil ta’wil-ta’wil mereka sendiri.  Mereka menjadi tidak kaffah di dalam Islam karena hanya melaksanakan sebagian dan meninggalkan sebagiannya.  Kemudian di bagian akhir ayat Qs.Al-Baqarah : 208 Allah katakan وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ  (“dan janganlah kalian turut langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu”).
Ketidak kaffah-an (dijalankan sebagian ditinggalkan sebagian) sesungguhnya adalah mengikut langkah-langkah syetan.  Allah سبحانه و تعالي larangkan hal ini, terlebih buat mereka.
Allahu A’lam.

____________________________________

Dan firman Allah سبحانه و تعالي :

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“..Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu (Nabi) menerangkan kepada umat manu- sia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan” (Qs.An-Nahl : 44)

Dengan ayat ini para khawarij lokal merasa bahwa mereka telah meneruskan ajaran Rasul yaitu dengan mengajarkan dan menerangkan ajaran Al-Qur’an kepada manusia.  Betulkah demikian?

Ibnu Katsir رحمه الله menjelaskan tentang ayat itu : “…maka sudah sepantasnya engkau (Muhammad) memberikan keterangan kepada mereka (manusia) segala sesuatu yg global (belum terperinci), serta memberi penjelasan tentang hal-hal yg sulit mereka fahami” (Tafsir Ibnu Katsir, juz 14 Qs.16 : 44)

Ayat ini menjadi dasar yg harus difahami dengan baik, bahwa Rasulullah صلي الله عليه وسلم adalah yg paling mengerti tentang Al-Qur’an dan ia menerangkan makna dan praktek ajaran Al-Qur’an melalui sunnahnya (dalam hadits-hadits).

Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata : “Rasulullah صلي الله عليه وسلم mengajarkan makna Al-Qur‘an kepada para sahabat dan (juga) lafazhnya” (Majmu Fatawa 13/331)

Imam Asy-Syafi’i رحمه الله berkata: “Ayat ini menjadi dalil, sabda Nabi صلي الله عليه وسلم merupakan penjelasan Al-Qur’an.” (Al-Mahsul 3/513)

Orang-orang dalam sekte-sekte khawarij lokal banyak meremehkan hadits-hadits Rasul.  Ada yg mengatakan “hadits itu dari manusia” dan bahkan ada yg mengatakan bahwa hadits-hadits adalah dongeng!   Subhanallah…
Kalaupun hadits-hadits itu diambil, mereka memilih-milihnya yg sesuai dengan kemauan faham mereka, bukan karena ilmu ‘takhrij-hadits’ yg ada pada mereka.   Secara umum, mereka banyak menolak hadits-hadits dengan alasan hanya Al-Qur’an yg shohih, yg dari Allah.   Dalam masalah ini mereka telah mengambil akidah kaum inkarus-Sunnah juga.   Maka Al-Qur’an yg mereka fahami bukanlah sebagaimana yg difahami oleh Rasulullah صلي الله عليه وسلم dan inilah yg mereka ajarkan kepada manusia.  Sesungguhnya mereka tidaklah mengajarkan pemahaman Al-Qur’an kepada manusia, tetapi mereka itu hanyalah mengajarkan faham kesesatan mereka kepada manusia.

Ibnu Abdil Barr رحمه الله berkata : “Tidak mungkin me¬mahami maksud ayat Al-Qur’an melainkan lewat Rasulullah صلي الله عليه وسلم.
Belumkah kamu membaca firmanNya dalam surat An-Nahl : 44?
Belumkah kamu ketahui bahwa sholat, zakat, haji, puasa, dan semua hukum di dalam Al-Qur’an umumnya masih global?  Lalu Nabi صلي الله عليه وسلم menjelaskan hukumnya. Barangsiapa menolak hadits yang shohih, dia sesat dan jahil.” (At-Tamhid 23/324)

Ibnu Mas’ud رضي الله عنه berkata : ”Kalian akan menjumpai suatu kaum, mereka mengaku mengajak kamu kepada kitab Allah, padahal mereka membuang Al-Qur’an ke balik punggung me¬reka.  Maka kalian wajib berpe¬gang kepada ilmu, jauhkan dirimu dari perkara bid’ah, jauhkan dirimu dari mendalami perkara (yg berlebihan) , dan kamu wajib berpegang kepada As-Sunnah” (HR Ad-Darimi 1/66)
____________________________________

Khawarij lokal banyak sembarangan dan meremehkan hadits-hadits Rasul.  Sebagian di antaranya (mungkin) ada juga yg berusaha mempelajarinya dengan setengah hati.
Orang-orang sekte abu hamzah membuka buku-buku hadits terjemahan yg ringkasan yg itu-itu juga tanpa mengikuti syaroh kitab hadits aslinya dan dengan hanya bermodalkan itu berusaha memahami hadits yg terlalu banyak untuk ukuran mereka.   Lalu karena “keburu pusing” dan dianggapnya ‘menjelimet’ (sangat sulit, karena tidak punya kemampuan) maka buru-buru mereka mengatakan : “belajar hadits itu tidak terlalu penting!  Yg penting adalah Al-Qur’annya, sebab bukan hadits yg menjadi petunjuk, tapi Al-Qur’an..”   Inilah sifat dungu yg khas dari ahlul-bid’ah khawarij, sebagaimana Rasulullah صلي الله عليه وسلم mensifatkan mereka dalam riwayat Bukhori dengan kalimat : سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ (dangkal akalnya, atau dungu).

Meremehkan hadits-hadits Rasul bahkan menolaknya, adalah sikap penentangan terhadap Rasul itu sendiri, karena beliau mengajarkan pemahaman akidah dalam Al-Qur’an, mengajarkan yg dimaksud halal-haram dalam Al-Qur’an, mengajarkan berakhlak dengan Al-Qur’an, dan yg lain-lainnya adalah melalui hadits-hadits itu (setelah Rasulullah wafat, ajarannya itu tertinggal dalam bentuk hadits-hadits).   Sikap penentangan terhadap Rasul ini berarti juga telah menentang Allah yg telah memerintahkan di dalam ayat-ayat Al-Qur’an supaya mentaati Rasulullah صلي الله عليه وسلم .  Di antaranya adalah :

مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَن تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

“Barangsiapa yang mentaati Rasul, berarti ia telah benar-benar mentaati Allah. Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka” (An-Nisâ` : 80)

Ibnu Katsîr رحمه الله berkata : “Allah menjelaskan tentang hamba dan RasulNya, Muhammad صلي الله عليه وسلم, bahwa barangsiapa yang mentaatinya, berarti ia telah mentaati Allah, dan barangsiapa menentangnya berarti ia telah menentang Allah.  Tidaklah yang demikian itu kecuali karena tidaklah beliau berkata dari hawa nafsunya, tidak lain ucapan beliau itu merupakan wahyu yang diturunkan kepada beliau” (Tafsir Ibnu Katsir, juz 5 Qs.4 : 80)

Menentang Rasul sesungguhnya adalah termasuk perbuatan menghalangi dari jalan Allah.   Apakah mereka benar tahu bagaimanakah jika menghalangi dari jalan Allah dan menentang RasulNya?  Allah سبحانه و تعالي berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَن سَبِيلِ اللهِ وَشَآقُّوا الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَاتَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى لَن يَّضُرُّوا اللهَ شَيْئًا وَسَيَحْبِطُ أَعْمَالَهُمْ

“Sesungguhnya orang-orang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah serta menentang Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi madharat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka” (Qs.Muhammad : 32)
________________________________

Dan firman Allah سبحانه و تعالي :

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan ‘hawa’nya (hawa-nafsunya) sebagai ilahnya (tuhannya) dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya” (Qs.Al-Jatsiyah : 23)

Orang-orang yg berakidah khawarij menjadikan ayat ini sebagai hujatan kepada orang-orang Islam di luar kelompoknya yg mereka anggap tidak mengikut Al-Qur’an dan mereka katakan sebagai pengikut ‘hawa’ (hawa nafsu).   Bagaimana sebenarnya penafsiran para ulama tentang orang-orang yg mengikuti hawa nafsunya?   Siapakah sebenarnya yg mengikuti hawa nafsu itu?

Ibnu Katsir رحمه الله menjelaskan dalam tafsirnya : “Yakni dia menjadikan hawa nafsunya sebagai pemimpin (ikutan), bila ia memandang baik maka dia kerjakan dan bila ia memandang jelek maka ia tinggalkan.” (Tafsir Ibnu Katsir 4/162)

Ayat tersebut ditafsirkan oleh Ibnu Katsir sedemikian yang merupakan karakter ahlul-bid’ah.  Berarti secara umum adalah juga untuk semua ahlul-bid’ah termasuk khawarij, qodariyah, murjiah dan lain-lain karena mereka ini mempunyai pola yg sama, yaitu mengikuti segala sesuatu dalam Islam hanya berdasarkan pandangannya sendiri yg dianggap benar.

Imam Al-Barbahari رحمه الله mengatakan tentang pengikut hawa-nafsu : “Jika engkau mendengar seseorang mencela peninggalan Rasulullah صلى الله عليه وسلم (hadits-hadits Rasul) atau menolaknya, atau menginginkan selain yang ditinggalkan oleh Rasulullah maka jelas ia adalah ahlul-ahwa (pengikut hawa-nafsu) dan mubtadi’ (ahlul-bid’ah).” (Syarhus-Sunnah, Imam Al-Barbahari)

Sekte NII KW-9 dan sekte abu hamzah adalah sekte-sekte khawarij yg banyak mengkesamping-kan hadits-hadits Rasul dengan anggapan : Qur’an lebih kuat daripada hadits, karena hadits dari manusia dan tidak terjaga ke-otentikannya.
Anggapan seperti ini tidak bersumber dari ilmu yg haq dan hanyalah memperturutkan sangkaan dan pemikiran belaka.   Mereka belum pernah menjadi ahli-hadits setingkat Bukhori, Muslim, Abu Dawud dll. tapi sudah berani menyimpulkan seperti itu, sedangkan para ahli-hadits yg mumpuni di bidangnya tsb.seperti Bukhori, Muslim, Abu Dawud dll. justeru tidak berkesimpulan seperti itu.
Menurut Imam Al-Barbahari, yg seperti ini adalah ahlul-ahwa (pengikut hawa-nafsu) dan mereka adalah ahlul-bid’ah.

Imam Al-Barbahari رحمه الله juga mengatakan : “Siapa yang meninggalkan sholat Jum’at dan sholat berjama’ah tanpa udzur, maka orang tersebut adalah mubtadi’ (ahlul-bid’ah)…”  (Syarhus-Sunnah, Imam Al-Barbahari)

Sekte abu hamzah dikenal sebagai sekte yg tidak melaksanakan sholat jum’at dengan alasan-alasan yg dibuat-buat yg bukan merupakan uzur yg disebutkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم .
Setiap kali berkumandang adzan jum’at mereka akan bergegas-gegas menjauh dari mesjid-mesjid dan dari keramaian, ngumpet di tempat yg sepi supaya tidak ketahuan bahwa mereka tidak sholat jum’at.   Konyolnya, ada sebagian dari mereka yang ketika adzan sholat jum’at berkumandang malah bergegas-gegas pergi ke kolong jembatan.   Subhanallah…
Mereka juga tidak sholat berjama’ah dalam satu masjid dan enggan membuat masjid dengan alasan yg juga dibuat-buat.   Menurut mereka, ini semua adalah ajaran dari wahyu Allah dalam Al-Qur’an.
Menurut mereka, begnilah ajaran yang haq yang dibawa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم yang kemudian pada saat ini mereka sedang amalkan.

Begitu pula sekte NII KW-9 dan bahkan mereka ini lebih parah lagi, yaitu tidak melaksanakan sholat sama sekali karena anggapan masih periode Mekkah, di mana daulah Islam belum tegak sehingga belum ada kewajiban sholat apapun.
Menurut Imam Al-Barbahari, yg seperti ini adalah mubtadi (ahlul-bid’ah), yg juga merupakan pengikut hawa nafsu karena menta’wilkan ajaran Islam dengan ‘hawa’ nya.

Imam Al-Ajurri رحمه الله berkata : “Mereka (khawarij) juga menonjolkan amalan amar-ma’ruf nahi-mungkar, tetapi ia tidak bermanfaat bagi mereka (sia-sia), karena mereka gemar menafsirkan Al-Qur’an dengan hawa nafsu dan menipu ummat Islam… (Asy-Syari’ah, 1/22)

Semua ahlul-bid’ah bersifat seolah orang-orang yg benar tahu (sok-tahu).  Khawarij lokal NII KW-9 berbicara seolah tahu tentang konsep Tauhid, mereka membagi Tauhid menjadi tiga : Rububiyah, Mulkiyah, dan Uluhiyah dengan pemaknaan yg sangat menyimpang.  Mereka bicara tentang Tauhid dengan tanpa ilmu, maka sebenarnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu.

Orang-orang sekte abu hamzah (dan juga NII KW-9) berbicara tentang negeri Islam dengan tafsir ayat-ayat yg kacau dan dengan kacamata khayal.   Mereka berkhayal akan mengembalikan “daulah Islam” sebagaimana di masa Rasul secara utuh, dimulai dari Indonesia dan kemudian menegakkan daulah Islam itu ke penjuru bumi, padahal mereka tidak juga menegakkan daulah meskipun hanya di lingkungan satu RT atau RW, bahkan dalam diri-diri merekapun tidak tampak tanda-tanda penegakkan daulah Islam itu, justeru yg ada adalah penegakkan daulah ‘hawa’.

Pola berkhayal dan berbicara tanpa ilmu menjadi hal yg lazim di antara mereka.

Imam Ali bin Abil ‘Izzi Al-Hanafi رحمه الله berkata : “Barangsiapa berbicara tanpa ilmu, maka sesungguhnya dia hanyalah mengikuti hawa nafsunya, dan Allah سبحانه و تعالي telah berfirman:

اللهِ مِّنَ هُدًى بِغَيْرِ هَوَاهُ اتَّبَعَ مِمَّنِ أَضَلُّ وَمَنْ

“Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun” (Qs.Al Qashash : 50)
(Minhah Ilahiyah Fii Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal: 393)
__________________________________

Dan firman Allah سبحانه و تعالي :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ …

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan ulil-amri diantara kamu…” (Qs.An-Nisaa : 59)

Setiap khawarij tidak bisa mengingkari keberadaan ayat ini, maka merekapun mengambil ayat ini dan mereka fahami sendiri untuk penguat hujjah-hujjah mereka bagi para pengikutnya.
Mereka mengajarkan untuk taat kepada Allah, yaitu dengan mengikut Al-Qur’an, dan sepintas ajaran ini benar.   Tetapi sayangnya mengikuti Al-Qur’an yg ditafsirkan oleh pemimpin-pemimpin mereka saja yg bukan ulama sama sekali.
Akhirnya mereka merasa telah mentaati Allah ketika mereka telah mengkafirkan orang-orang Islam yg lain; merasa telah mentaati Allah ketika mereka mencela orang lain dan meremehkan para ulama; merasa telah mentaati Allah ketika mereka menikahkan laki-laki dan perempuan dengan wali yg tidak haq; merasa telah mentaati Allah ketika mereka mengambil harta orang lain dengan alasan “fa’i” (rampasan perang); dll… Apakah benar mereka telah mentaati Allah?

Merekapun mengajarkan untuk mentaati Rasul صلى الله عليه وسلم dan mengatakan mengikut “kerja-kerja” Rasul.   NII KW-9 dan LDII merasa telah mentaati Rasul ketika mereka menarik infaq/ shodaqoh-wajib yg ditarget kepada para pengikutnya; merasa telah mentaati Rasul ketika mereka menghalalkan pencurian; NII KW-9 merasa telah mentaati Rasul ketika mereka tidak melaksanakan sholat wajib; dan merasa telah mentaati Rasul ketika mereka menganggap ‘tidak mengapa’ berzina dengan orang di luar kalangannya; dll…
Dan orang-orang sekte abu hamzah merasa telah mentaati Rasul dan mengikuti kerja-kerja Rasul ketika mereka meninggalkan sholat jum’at untuk bersembunyi di tempat sepi; merasa telah mentaati Rasul ketika mereka menyembelih qurban tanpa memulainya dengan sholat ‘Ied; merasa telah mentaati Rasul ketika mereka mengajarkan untuk mendurhakai orang-tua dan memutus silaturrahim kepada kerabat atau kepada orang Islam yg lain yg beda kelompok; merasa telah mentaati Rasul ketika mereka mengambil sikap permusuhan terhadap orang-orang Islam yg lain dan menganggap halal darah dan hartanya; dll.
Apakah benar yg seperti ini adalah mentaati Rasul?

Merekapun mengajarkan untuk mentaati ulil-amri, yaitu (menurut mereka) adalah pemimpin kelompok mereka.  Maka mereka merasa telah mentaati ulil-amri ketika mereka taat kepada pemimpin kelompoknya untuk tidak perlu melihat tulisan-tulisan para ulama (Imam-imam Islam) terdahulu; mereka merasa telah mentaati ulil-amri ketika mereka mentaati pemimpin kelompoknya untuk tidak perlu belajar bahasa arab dan ilmu-ilmu hadits dalam mentafsir Al-Qur’an, tidak perlu menelaah banyak tafsir dan cukuplah mengikuti pemimpinnya itu (taklid) dalam memahami Al-Qur’an; dll…Mereka pikir pemimpin mereka itu adalah ulil-amri yg harus ditaati manusia setelah Allah dan Rasul-Nya.
Siapakah sebenarnya yang dimaksud ulil-amri di dalam Al-Qur’an itu?

Abu Hurairah رضي الله عنه mengatakan : “Mereka (ulil amri) adalah “sulthon” (kholifah, atau penguasa negeri)” (Tafsir Ath-Thobari)
Imam Asy-Syafi’i dan An-Nawawi رحمه الله juga berpendapat demikian.  Yg dimaksud “sulthon” di sini tentu saja penguasa negeri yg Islam di negeri di mana orang-orang Islam tinggal.

Ibnul Qoyyim رحمه الله mengatakan bahwa kandungan ayat ini mengandung dua kelompok, yaitu
“ulama” maupun “sulthon” (penguasa negeri). (lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir 2/235, 238)

Di dalam tafsir Ibnu Katsir dikemukakan beberapa riwayat yg menafsirkan bahwa termasuk ulil-amri adalah pemimpin pasukan yg ditunjuk oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم sebagai kholifah.  Pada dasarnya penafsiran ini juga termasuk kepada penafsiran taat kepada sulthon (kholifah) jika ia menunjuk suatu kepemimpinan, seperti misalnya pemimpin pasukan perang atau yg lain.

Telah jelas bahwa makna ulil-amri di ayat itu tidak bisa diartikan untuk sembarang pemimpin seperti pemimpin sebuah sekte, ketua partai, ketua LSM, ketua karang-taruna atau ketua geng motor.  Ini karena kedudukan ulil-amri yg khusus dan penting bagi kaum muslimin yg Allah sebut setelah Allah dan RasulNya.  Ulil-amri yg difahami oleh sahabat Nabi dan ulama salaf yaitu sulthon ataupun ulama.
Faham khawarij yg mengatakan ulil-amri adalah pemimpin sekte mereka adalah faham yg sangat bathil, faham ‘hawa’, meskipun mereka sebut hanya mengambil pelajarannya saja.
Dan khawarij menyepelekan para ulama dan bersikap menentang sulthon (penguasa) di negeri di mana orang-orang Islam tinggal.  Sesungguhnya khawarij itu tidak mentaati siapapun yg disebut dan diperintahkan oleh Allah untuk ditaati di Qs.An-Nisaa : 59…
______________________________________

Dan firman Allah سبحانه و تعالي :

اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللهِ…

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah” (Qs.At-Taubah : 31)

Khawarij lokal mencela orang Islam lain dengan ayat ini sebagai pelaku kesyirikan karena mempertuhan orang-orang alimnya (ustadz, kiyai dan lain-lain).  Apakah mereka tidak tercela sebagai penyembah ‘orang alim’ dengan ayat ini?

Ibnu Katsir رحمه الله di dalam tafsirnya menyebutkan : “Sehubungan dengan ayat ini Imam At-Tirmidzi di dalam kitab tafsirnya telah meriwayatkan dari Addi bin Hatim (dahulunya ia seorang nasrani) yg mengatakan bahwa ia pernah bertanya : “Wahai Rasulullah, mereka (ahli-kitab) tidak menyembahnya..”
(maka) Rasulullah bersabda : “Tidak, sesungguhnya mereka (orang alim & rahib-rahib ahli kitab) menghalalkan bagi pengikut-pengikutnya hal yg diharamkan (oleh Allah) dan mengharamkan yg halal lalu para pengikut mereka menurutinya.  Yg demikian itulah penyembahan mereka kepada orang-orang alim dan para rahibnya.”  (Tafsir Ibnu Katsir, juz 8 Qs.6 : 121)

Pemimpin-pemimpin khawarij lokal banyak menghalalkan secara sembarangan dan kemudian diikuti saja oleh para pengikutnya.
Di antara pemimpin-pemimpin itu ada yg menghalalkan pencurian, ada yg menghalalkan mengambil harta orang secara bathil (dengan dalih itu harta fa’i/rampasan perang, padahal tidak ada pasukan perang), ada juga yg menghalalkan menikah tanpa wali yg haq, menghalalkan praktek riba (berdalih penerapan dinar sebagai mata uang), menghalalkan menggunjing saudaranya sendiri dan membuka aibnya, hingga menghalalkan darah saudaranya sendiri (dengan dalih yg tidak haq bahwa ia telah kafir), yg kesemuanya itu telah diharamkan oleh Allah سبحانه و تعالي dan lalu para pengikutnya menurutinya dengan patuh.

Pada bagian lain pemimpin-pemimpin khawarij lokal mengharamkan apa-apa yg dihalalkan oleh Allah.
Di antara mereka ada yg mengharamkan menikah dengan perempuan atau laki-laki yg muslim (karena tidak segolongan), ada yg mengharamkan sembelihan muslim lain yg disebut asma Allah atasnya hingga ber-efek mengharamkan semua makanan thoyib yg mengandung unsur daging sembelihan, dan lain-lain pengharaman yg kesemuanya telah dihalalkan oleh Allah سبحانه و تعالي dan lalu para pengikutnyapun menurutinya dengan patuh.

Seluruh pengikut sekte khawarij berfaham takfir adalah para pelaku kesyirikan, para penyembah ‘orang alim’ mereka.   Dalam hal ini tidak ada bedanya antara yahudi, nasrani, dan khawarij.

Apakah mereka benar sudah tahu akibat dari kesyirikan?  Allah سبحانه و تعاليberfirman :

وَلَقَدْ أُوْحِىَ ‏إِلَيْكَ ‏وَإِلَى ‏الَّذِيْنَ‏ مِنْ‏ قَبْلِكَ ‏لَِٕنْ ‏أَشْرَكْتَ‏ لَيَحبَطَنَّ‏عَمَلُكَ ‏وَلَتَكُوْنَنَّ‏ مِنَ‏ الْخٰسِرِيْنَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-Nabi) yg sebelummu : Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yg merugi” (Qs.Az-Zumar : 65)

Semoga mereka menyadari kesalahan-kesalahannya dan segera bertaubat.
___________________________________

Demikianlah para penganut akidah khawarij, terjerumus ke dalam kesyirikan dengan bertaklid-buta kepada orang-orang alimnya.  Lalu bagaimanakah dengan ‘orang-orang alim’ mereka yg begitu berani mengharamkan dan menghalalkan apa yg sudah Allah tetapkan kehalalan dan keharamannya?

Allah سبحانه و تعاليberfirman :

وَلا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لا يُفْلِحُونَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kedustaan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah tiadalah beruntung” (Qs.An-Nahl : 116)

Ibnu Katsir رحمه الله berkata : “Dan yang termasuk ke dalam ayat ini adalah setiap orang yang melakukan bid’ah yang tidak didasarkan pada sandaran syari’at, atau orang yang menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, atau mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah yang hanya didasarkan oleh pendapat dan hawa nafsunya semata” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/609)

Mengharamkan apa yg dihalalkan Allah (atau sebaliknya) sesungguhnya adalah upaya penyesatan dari syetan kepada manusia.
Allah سبحانه و تعالي berfirman dalam satu hadits qudsi :

يَقُوْلُ‏الله ‏اِنِّي‏خَلَقْتُ‏عِبَا دِي‏حُنَفَاءَ‏ فَجَاءَتْهُمُ‏ الشَيَا طِيْنُ‏ فَاجْتَا لَهُم‏عَنْ ‏دِيْنِهِم‏ وَحَرُمَت‏عَلَيْهِمْ‏ مَااَحْلَلْتُ‏ لَهُم

Allah berfirman : “Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hambaKu dalam keadaan hanif (cenderung kepada agama yg haq), kemudian datanglah syetan, lalu syetan menyesatkan mereka dari agamanya dan mengharamkan kepada mereka apa-apa yg telah Aku halalkan kepada mereka” (HR Muslim, Tafsir Ibnu Katsir juz 9 Qs.7 : 172)

Semoga mereka tidaklah benar-benar menghalalkan dan mengharamkan dalam hati mereka, atau semoga mereka lekas-lekas bertaubat, sebab dalam masalah ini ulama ada berpendapat :

Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata : “Dan seseorang ketika menghalalkan yang haram yang telah disepakati keharamannya, atau mengharamkan yang halal yang telah disepakati kehalalannya, atau mengganti syari’at yang telah disepakati : maka ia kafir lagi murtad dengan kesepakatan fuqaha…” (Majmu Fatawa, 3/267)
_____________________________________

Dan firman Allah سبحانه و تعالي :

يٰاَيُّهَاالنَّبِيُّ‏ ٳِذَاخَاءَ كَ‏اَلْمُؤْمِنٰتُ ‏‏‏يُبَا يِعْنَكَ‏عَلٰى‏أَنْ‏ لَا يُشْرِكْنَ‏ بِالله ‏شَيْٵَ وَلَا يَشْرِقْنَ‏‏ وَلَا يَزْنِِيْنَ ‏وَلَا يَقْتُلْنَ‏أَوْلٰدَهُنَّ‏ وَلَايَأْ تِيْنَ ‏بِبُهْتَنٍ ‏يَفْتَرِيْنَهُ‏ بَيْنَ ‏أَيْدِيْهِنَّ‏ وَأَرْخُلِهِنَّ‏ وَلَا يَعْصِيْنَكَ‏ فِى‏مَعْرُوْفٍ‏ فَبَا يِعْهُنَّ‏ واسْتَغْفِرلَهُنَّ‏ الله ‏إِنَّ‏ الله‏غَفُوْرٌرَّحِيْمٌ

“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yg beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mensyirikkan Allah dengan sesuatupun, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yg mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka, dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yg ma’ruf, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Qs.Al-Mumtahanah : 12)

Sebagian besar kalangan ahlul-bid’ah mempunyai syariat bai’at khusus kepada pemimpin mereka.  Masing-masing dengan caranya sendiri-sendiri.
Ayat ini dijadikan dasar pembai’at para pengikut sekte abu hamzah dengan pemimpinnya.
Bai’at di dalam sekte ini memang tidak dilafazkan dengan seremonial tertentu seperti pada sekte LDII atau NII KW-9, akan tetapi caranya adalah dengan masing-masing pengikut diberikan pengajaran dan kemudian akan ‘dilihat’ amalannya.
Jika amalannya sesuai dengan kriteria ayat di atas (menurut yg mereka fahami) maka sang pemimpin akan mengakuinya sebagai pengikut yg telah “beriman” dengan baik. Kriteria “hijau” pun akan diberikan, setelah sebelumnya dikategorikan “merah”.
Akses untuk datang ke tempat-tempat tertentupun dibuka, setelah sebelumnya dirahasiakan dan telah dimungkinkan juga untuk bertemu “orang-orang yg lebih qori” (orang-orang yg dianggap lebih faham Al-Qur’an) atau bertemu pemimpinnya di tempat tinggalnya.

Point-point yg disebutkan pada ayat di atas menjadi tolak ukur seorang anggota jama’ah telah “beriman” dengan baik dan berkriteria “hijau”.  Para wali-daerah, para pemimpin kafilah, dan para pemimpin sariah (kelompok kepemimpinan dalam sekte abu hamzah) adalah orang-orang yg telah memenuhi semua point kebaikan yg telah disebutkan di ayat itu.  Benarkah ini semua?

Allah سبحانه و تعالي sebutkan dalam ayat di atas :  لَا يُشْرِكْنَ‏ بِالله ‏شَيْٵَ  (tidak akan mensyirikkan Allah dengan sesuatupun/seorangpun)
Dalam kenyataannya para pengikut sekte abu hamzah telah mensyirikkan Allah dengan sesuatu/seseorang, yaitu dengan pemimpinnya (lihat pada ulasan sebelumnya tentang Qs.At-Taubah : 31).
Dan pemimpinnya serta orang-orang di dekatnya lebih parah lagi, yaitu sebagai tokoh penyembah ‘hawa’ (lihat ulasan sebelumnya tentang Qs.Al-Jatsiyah : 23) dan sebagai pembuat syari’at lain di samping Allah, yaitu penghalal yg haram dan pengharam yg halal (lihat ulasan sebelumnya tentang Qs.An-Nahl : 116)

Dan Allah سبحانه و تعالي sebutkan dalam ayat di atas :  وَلَا يَشْرِقْنَ‏‏  (dan tidak akan mencuri)
Dalam kenyataannya orang-orang di sekte abu hamzah telah menghalalkan harta orang-orang yg tidak segolongan lagi dengan mereka.  Mereka mengambil harta orang-orang yg keluar dari sekte mereka dengan alasan fa’i (rampasan perang), kadang beralasan punya hutang dengan jama’ah, kadang beralasan dengan ‘balasan konsekwensi hijrah’ dan lain-lain alasan yg dibuat-buat yg semuanya bathil.
Mereka memang tidak mencuri seperti copet di bis kota, tapi dengan cara yg lebih ‘berhujjah’….

Dan Allah سبحانه و تعالي sebutkan :  وَلَا يَزْنِِيْنَ  (dan tidak akan berzina)
Dalam kenyataan prakteknya mereka menikahi (atau menikahkan) perempuan-perempuan dengan wali nikah yg tidak haq, sehingga menjadikan pernikahan-pernikahan itu berstatus tidak sah, atau bathil.  Perempuan yg menikah tidak akan diwalikan oleh bapaknya (atau wali-haqnya yg lain) jika bapaknya (atau wali-haqnya yg lain) itu tidak segolongan.  Padahal Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

Tidak shah nikah kecuali dengan wali dan dua saksi yang adil.”  (HR Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir /XVIII/142, no. 299 dan Al-Baihaqi /VII/125, dari ‘Imran bin Hushain, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahiih Al-Jaami’ush-Shaghiir no. 7557)

Seorang wanita yang menikah tanpa izin walinya maka pernikahannya adalah bathil, bathil, bathil…” (HR Abu Dawud /2083, Tirmidzi /1102, Ibnu Majah /1879, Ad-Darimi /2/137, Ahmad /6/47,165, Asy-Syafi’i /1543)

Maka lalu pemimpinnya-lah yg kemudian mewalikan (kadang menunjuk wakilnya) dengan alasan “wali-hakim”.  Padahal “wali-hakim” dalam Islam adalah “sulthon” (penguasa negeri),
Sebagaimana sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

“…maka jika mereka (wali-wali perempuan itu) berselisih, maka “sulthon” (penguasa) adalah wali bagi perempuan yang tidak mempunyai wali.” (HR Abu Dawud /2083, At-Tirmidzi /1102, Ibnu Majah /1879), Ahmad /VI/47, 165, Ad-Darimi /II/137)

Amir NII KW-9 dan pemimpin sekte abu hamzah bukanlah penguasa-penguasa negeri, hanyalah pemimpin sekte yg tidak berkuasa atas suatu negeri apapun dan di manapun, tidak bisa menjadi wali-hakim secara syari’at.  Maka dari sisi tinjau yg manapun, pernikahan-pernikahan mereka itu adalah pernikahan yg tidak sah atau bathil.

Dengan demikian banyak pernikahan-pernikahan mereka yg berstatus tidak sah secara syari’at.  Banyak di antara mereka pasangan laki-laki dan perempuan yg tidak pernah sah sebagai suami-isteri, hidup dalam satu atap hingga beranak-pinak yg banyak…
Subhanallah, wal-iya’udzubillah..

Dan Allah سبحانه و تعالي sebutkan :  ‏وَلَا يَقْتُلْنَ‏أَوْلٰدَهُنَّ‏  (dan tidak akan membunuh anak-anak mereka)
Dalam masalah ini mereka tidak membunuh anak-anak mereka seperti kaum jahiliah di masa Nabi, dan juga tidak seperti pembunuh anak-anak di masa sekarang.  Akan tetapi mereka banyak zholim terhadap anak-anak mereka. Kezholiman sudah terjadi dari sejak proses kelahiran anak.  Banyak anak-anak mereka yg kelahirannya tidaklah ditangani oleh ahlinya seperti bidan atau peraji terlatih atau dokter kandungan, tetapi ditangani oleh bapak-bapak mereka sendiri atau dibantu oleh para perempuan yg tidak ahli dalam masalah itu.  Sehingga sudah berapa kasus bayi-bayi yg mati di tangan bapaknya sendiri ketika dilahirkan dan bahkan kematian perempuan-perempuan yg melahirkan bersama anak mereka.

Dan anak-anak yg sudah mulai tumbuh banyak terzholimi karena terbengkalai hak-haknya.  Para orang tua banyak yg tidak mengajarkan anak-anaknya ilmu-ilmu dunia (karena mereka sendiri banyak yg bodoh ilmu-ilmu dunia) akan tetapi tidak juga bersekolah atau belajar intensif melalui media-media lainnya.
Akibat kezholiman ini muncul generasi-generasi bodoh dan “kuper” tetapi dengan tingkat keangkuhan yg sangat tinggi.   Dan dalam ilmu-ilmu akhirat, anak-anak ini tidak terdidik dengan baik dan lurus.   Dari sejak dini mereka sudah dijejali faham-faham pengkafiran yg dianut oleh bapak-bapaknya.  Dan dari sejak dini pula mereka sudah didoktrin ajaran-ajaran permusuhan dengan orang-orang di luar kalangan mereka.  Sehingga jika mereka tumbuh hingga dewasa, mereka bisa menjadi orang-orang yg lebih buta dan lebih menyimpang dibanding bapak-bapak mereka.   Mereka adalah korban kesesatan orang tua mereka.
Allahu A’lam.

Dan Allah سبحانه و تعالي sebutkan :  وَلَايَأْ تِيْنَ ‏بِبُهْتَنٍ ‏يَفْتَرِيْنَهُ‏ بَيْنَ ‏أَيْدِيْهِنَّ‏  (dan tidak akan berbuat dusta yg mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka)
Dalam kenyataannya mereka bahkan berani membuat-buat kedustaan terhadap Allah, maka bagaimanakah lagi kedustaan terhadap manusia (lihat ulasan sebelumnya tentang Qs.An-Nahl : 116).
Mereka berani membuat-buat ta’wil sendiri dalam beragama dan mendefinisikan sendiri tentang yg halal dan yg haram tanpa ilmu yg haq, mendefinisikan sendiri tentang iman dan kafir tanpa hujjah yg lengkap.
Mereka juga terbiasa menghujat dan mencela orang secara dusta, membuat fitnah dan tuduhan-tuduhan palsu kepada orang-orang di luar kelompok mereka.

Dan Allah سبحانه و تعالي sebutkan :  ‏ وَلَا يَعْصِيْنَكَ‏ فِى‏مَعْرُوْفٍ‏  (dan tidak mendurhakaimu (Muhammad) dalam urusan yg ma’ruf)
Mereka berbicara tentang ikut “kerja-kerja Rasul”, dalam kenyataannya justeru banyak menentang ajaran Rasul, yaitu dengan cara menolak banyak hadits-hadits Rasul dan menyepelekan As-Sunnah (lihat ulasan sebelumnya tentang Qs.Ali Imron : 31).

Dengan menjadikan Qs.Al-Mumtahanah ayat 12 sebagai dasar bai’at mereka, sesungguhnya mereka justeru menentang dan melanggar point-point bai’at di ayat itu sendiri.
Kepada siapakah sesungguhnya mereka itu berbai’at?
Allahu A’lam.
_______________________________________

Ahlul-bid’ah semacam khawarij juga ter-kriteriakan/ tersifatkan munafik, yaitu sebagai orang-orang yg mengadakan kerusakan di muka bumi.

Firman Allah سبحانه و تعالي :

ءَلآ إِنَّهُمْ هُمُ المفسدون ولكن لاَّ يَشْعُرُونَ قَالُواْ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ لاَ تُفْسِدُواْ فِى الأرض وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka : janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka berkata : sesungguhnya kami orang-orang yg mengadakan perbaikan. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yg membuat kerusakan tetapi mereka tidak sadar” (Qs.Al-Baqarah : 11-12)

Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata : “Kalau sekiranya Allah tidak menegakkan seseorang untuk menolak bahaya mereka (ahlul-bid’ah), tentu rusaklah dien ini.
Kerusakannya sangat besar daripada kerusakan yang ditimbulkan musuh Islam dari kalangan ahlul-harbi (orang-orang kafir yang memerangi kaum muslimin).
Orang-orang kafir yang menguasai kaum muslimin, mereka tidak merusak hati dan ajaran-ajaran dien yang ada di dalamnya, melainkan hanya menundukkan zhohirnya. Adapun ahlul-bid’ah merusak hati/qulub” (Majmu Fatawa 28/232)

Imam Abu Ishaq Ay-Syatibi رحمه الله berkata : “Ahlul-bid’ah ialah musuh dan penghancur syariat” (Al I’tisham 1/hal.65 tahqiq Salim Al-Hilali)

Khawarij menuding kepada semua orang di luar kelompoknya sebagai munafik yg membuat kerusakan di muka bumi, yaitu yg mereka katakan kerusakan system.  Padahal kerusakan yg mereka buat jauh lebih fundamental : kerusakan di dalam dien.
Semua ahlul-bid’ah mengaku membawa Islam dan melakukan kebaikan-kebaikan, padahal sesungguhnya mereka membuat kerusakan dalam akidah, keyakinan dan syari’at, membuat kekacauan di dalam ajaran Islam di kalangan ummat.  Kerusakan yg justeru lebih berbahaya daripada kerusakan fisik.
___________________________________

Sebetulnya masih sangatlah banyak hujatan/ bantahan ayat-ayat Al-Qur’an terhadap ahlul-bid’ah khawarij, sebab sebagaimana hadits Nabi صلي الله عليه وسلم yg telah dicantumkan di halaman sebelumnya bahwa mereka menyangka mempunyai hujjah dari Al-Qur’an, padahal sesungguh- nya ayat-ayat Al-Qur’an itu justeru membantah atau menghujat mereka.
Ini adalah sesuatu fakta yg haq, yg datang dari Nabi Allah صلي الله عليه وسلم dalam hadits yg shohih yg tidak terbantahkan.

Jika ada ayat yg mereka sangkakan mendukung alasan mereka dan dengan itu mereka menyalahkan orang Islam yg lain, sebenarnya justeru merekalah yg tersalahkan dengan ayat itu.  Dan jika ada ayat tentang kebaikan yg mereka sangkakan untuk mereka, sebenarnya adalah mempermasalahkan mereka karena tidak mempunyai kebaikan itu….
Allahu A’lam.

Kejelekan ahlul-bid’ah di pandangan para ulama Islam

Telah diketahui bersama, ahlul-bid’ah (khawarij, syi’ah, muta’zilah dll.) adalah perusak agama dan syari’at.  Mereka berseberangan dengan para ulama salaf ataupun para ulama muta’akhirin Islam.  Karena itulah tidak ada kecocokan di antara mereka.
Para ahlul-bid’ah tidak menyukai bahkan membenci para ulama dan para ulama Islampun membenci mereka.  Tidak satupun di antara ulama Ahlus-Sunnah yg memandang baik ahlul-bid’ah, justeru sebaliknya.

Begitu jeleknya pandangan para ulama tentang ahlul-bid’ah, sehingga di antara mereka telah berkomentar tentang ahlul-bid’ah sebagaimana yg berikut :

Fudhoil bin Iyadh رحمه الله berkata : “Barangsiapa yang memuliakan pelaku kebid’ahan maka sungguh dia telah menolongnya untuk menghancurkan Islam.” (Syarhus-Sunnah hal.128, Al-Barbahari)

Abu Fadhl Al-Hamadzani رحمه الله berkata : “Ahli bid’ah serta orang-orang yang memalsukan hadits lebih berbahaya daripada orang-orang kafir yang secara terang-terangan menentang Islam.  Orang-orang kafir bermaksud menghancurkan Islam dari luar sedangkan ahli bid’ah bermaksud menghancurkan Islam dari dalam.  Mereka seperti penduduk suatu kampung yang ingin menghancurkan keadaan kampung tersebut sedangkan kaum kuffar bagaikan musuh yang sedang menunggu di luar benteng sampai pintu benteng tersebut dibuka oleh ahli bid’ah.  Sehingga ahli bid’ah lebih jelek akibatnya terhadap Islam dibanding orang yang menentang secara terang-terangan.”  (Al-Maudhu’at, Ibnul-Jauzi, lihat kitab Naqdur-Rijal hal.128)

Ada sedikit selentingan yg beredar tentang hal ini.  Dikatakan bahwa NII KW-9 sebenarnya adalah kelompok bentukan intelijen RI di era Suharto (melalui binaan Ali Murtopo) untuk menimbulkan image buruk terhadap musuh-musuh ideologi Suharto, yaitu mereka yg berideologi negara Islam seperti para penerus ajaran Karto Suwiryo atau yg semisal dengan itu.

Dan selentingan yg lain yaitu adanya kemungkinan yg kuat upaya musuh-musuh Islam seperti Yahudi, Nasrani atau kaum atheis-nasionalis yg berupaya merusak Islam dengan merekayasa kelompok-kelompok sempalan berfaham aneh dan nyeleneh seperti kelompok JIL (jaringan iblis liberal), aliran kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, partai-partai Islam liberal, kelompok taman-eden oleh Lia edan, kelompok ingkar-sunnah, kelompok satria piningit, kelompok aliran kebathinan, yayasan sai baba Indonesia, dan lain-lain yg kesemuanya diupayakan diterima oleh masyarakat atau bahkan dianut oleh masyarakat banyak, sebagaimana syi’ah juga dahulunya seperti itu.
Lalu, bagaimanakah sebenarnya dengan keberadaan kelompok ekstrim Islam (teroris), Islam jama’ah (LDII) atau kelompok abu hamzah?
Khusus tentang kelompok abu hamzah, ada selentingan bahwa sudah banyak sekte-sekte Islam baru yg telah dicetuskan oleh seseorang yg lama bersekolah di negeri barat, begitu pulang ke tanah air justeru mendirikan kelompok Islam (menjadi imam dan berpengikut) dengan faham-faham yg “nyeleneh”.   Barangkali banyak yg belum tahu bahwa Agus Supriyadi (abu hamzah) adalah seseorang yg bergelar Doktor lulusan UNSW Australia.
Wallahu A’lam bish-showab….

Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata : “Sesunguhnya ahli bid’ah itu lebih jelek daripada ahli maksiat-syahwat.  Sebab dosa ahli maksiat adalah karena mengerjakan larangan seperti mencuri, zina, minum khamr, atau memakan harta secara bathil.
Sedangkan dosa ahli bid’ah itu adalah karena meninggalkan perintah untuk mengikuti Sunah dan ijma’ kaum Mukminin” (Ilmu Ushulil-Bida’ hal.219)

Sufyan Ats-Tsauri رحمه الله berkata : “Bid’ah lebih disenangi Iblis daripada maksiat. Maksiat dapat diharapkan bertaubat darinya, sedangkan bid’ah susah untuk diharapkan bertaubat darinya” (Al-Musnad hal.748 no.1885)

Perkataan Imam Sufyan Ats-Tsauri ini bermakna demikian : Orang yg melakukan maksiat seperti berjudi, minum khamr, mencuri dan sebagainya biasanya masih mengakui keadaannya yg salah dan masih sangat mungkin bisa bertaubat.
Tetapi orang yg terlibat faham bid’ah, dalam keadaan salah dan sesat justeru mereka menganggap sedang berada di jalan yg benar dan di atas petunjuk.  Dengan keadaan yg demikian itu sangat sulit dari bertaubat.  Dan inilah yg lebih disukai Iblis.

Iblis tidak menyesatkan orang-orang yg ber-i’tikad baik (yg bersemangat untuk ibadah) dengan mengajaknya ke tempat pelacuran atau ke tempat perjudian karena mereka pasti tidak akan mau.
Iblis mengajak orang-orang seperti ini ke tempat-tempat pengajian tertentu berselimut Islam yg akan menggiring mereka tanpa sadar menuju jalan kesesatan dengan doktrin faham-faham bid’ah.

Said bin Jubair رحمه الله berkata : “Kalau seandainya anakku berteman dengan perampok yang sunni maka lebih aku sukai daripada dia berteman dengan ahli ibadah yang mubtadi’ (ahlul-bid’ah).” (Ilmu Ushulil-Bida’ hal.218)

Al-Bukhori رحمه الله berkata (tentang khawarij) : “Adalah Ibnu Umar menganggap mereka sebagai ‘Syiraaru khaliqah’ (seburuk-buruk mahluk Allah)”.  Dan dikatakan bahwa mereka mendapati ayat-ayat yang diturunkan tentang orang-orang kafir, lalu mereka kenakan untuk orang-orang beriman (Fathul Baari XII/282)

Imam Al-Ajurri رحمه الله berkata : “Khawarij ini dan yang sealiran dengannya adalah orang-orang yang jahat, najis, dan kotor.  Mereka saling mewarisi faham sesat ini sejak dahulu hingga sekarang…”  (Asy-Syari’ah, 1/22)

Abu Umamah رضي الله عنه (seorang sahabat Nabi) berkata tentang khawarij : “Anjing-anjing neraka, seburuk-buruk orang yang terbunuh di kolong langit, dan sebaik-baiknya yang dibunuh adalah orang yang dibunuh oleh mereka (Khawarij), kemudian beliau membaca Ayat : “Pada hari wajah-wajah menjadi putih dan wajah-wajah lain menjadi hitam..” sampai akhir ayat…” (HR At-Tirmidzi no.3000 di-hasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Misykah no.3554)

Demikianlah, begitu jeleknya pandangan para ulama sholih yg terdahulu terhadap ahlul-bid’ah.  Ada perbedaan kepentingan yg sangat menyolok antara para ulama itu dengan para ahlul-bid’ah.  Ulama menghabiskan hidupnya untuk memperjuangkan Islam, mempelajarinya, menekuninya dan membersihkan ajaran Rasulullah صلي الله عليه وسلم dari penyimpangan-penyimpangan serta menyebarkannya agar tetap utuh sampai kepada manusia di setiap jaman.
Akan tetapi para ahlul-bid’ah justeru meng-acak-acak dan merusaknya hanya karena memperturutkan hawa nafsu mereka dalam beragama.  Merekapun menjadi musuh para ulama.   Mereka banyak mendapatkan kritikan dari para ulama dan merekapun lalu jadi mencela para ulama…
____________________________________

Para ulama telah mengingatkan tentang bahaya mereka dan agar kaum Muslimin ekstra hati-hati terhadap perangkap yg mereka pasang untuk menjaring pengikut-pengikut pendukungnya.
Belajar Islam memang telah diwajibkan oleh Rasul, akan tetapi dalam belajar ini perlu diketahui dengan baik kepada siapakah orang-orang Islam seharusnya belajar tentang agamanya.

Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه berkata : “Manusia senantiasa tetap shalih dan berpegang kepada yang baik selama ilmu datang kepada mereka dari Sahabat Muhammad صلي الله عليه وسلم dan dari “akaabir” (orang-orang besar yg berilmu) dari mereka.  Jika ilmu datang kepada mereka dari kaum “ashooghir” (orang-orang kerdil yg ilmunya minim) maka mereka akan binasa.”  (HR Ibnul-Mubarok /815, ‘Abdurrazaq /XI/246, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah /VIII/49 dan Al-Lalika’i dalam Syarh Ushuul I’tiqaad Ahlis-Sunnah /101. Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali mengatakan : sanad hadits ini shohih)

Ibnu Umar رضي الله عنه berkata : ”Berhati-hatilah terhadap agamamu, sebab dia adalah darah dagingmu. Lihatlah dari mana kamu mengambilnya.  Ambillah dari orang istiqomah dan janganlah mengambil dari orang yang menyeleweng” (Al-Kifayah, hal.121)

Muhammad bin Sirin رحمه الله berkata : “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka lihatlah dari siapa engkau mengambil agamamu!” (HR Muslim, muqaddimah (1/14) dengan sanad shahih)

Al-Khathib Al-Baghdadi رحمه الله berkata : “Seorang penuntut ilmu seharusnya menimba ilmu dari ahli fiqih yang terkenal kuat memegang agama, dikenal sholih dan menjaga kesucian diri” (Al-Faqiih wal-Mutafaqqih 11/960)

Ibnu Abdil Barr رحمه الله menukil perkataan Imam Malik رحمه الله : ”Tidak boleh mengambil ilmu dari empat orang :
(1) orang yang sangat dungu,
(2) ahli bid’ah yang mengajak kepada (faham) bid’ah,
(3) orang yang dikenal suka berdusta kepada manusia meskipun tidak mendustakan hadits Nabi صلي الله عليه وسلم , dan dari
(4) orang sholih yang tidak tahu status hadits yang diriwayatkan”
(Jami’ Bayan Al-Ilmi, hal.348)
____________________________________________

Ajaran-ajaran para ulama dari kalangan sahabat, thobi’in dan thobi’ut-thobi’in serta para Imam Ahlus-Sunnah supaya waspada, berlepas-diri dan menjauhi ahlul-bid’ah, telah ter-dokumentasi dengan baik dalam tulisan-tulisan ke-ilmuan yg senantiasa dijadikan pelajaran bagi kaum muslimin hingga sekarang dan seterusnya.  Mereka (para ulama) sangat mengutuk ahlul-bid’ah dan melarang kaum Muslimin untuk bersama-sama dengannya.  Berikut adalah di antaranya :

Ibnu Umar رضي الله عنه ketika ditanya tentang kelompok Qodariyah (satu kelompok ahlul-bid’ah lanjutan setelah khawarij) ia berkata : “Jika engkau bertemu mereka, kabarkan kepada mereka bahwa aku telah berlepas diri dari mereka dan bahwa mereka telah berlepas diri dariku.” (HR Muslim hdts no.7)

Ibnu Abbas رضي الله عنه berkata : “Janganlah engkau duduk-duduk (bermajelis) dengan ahlul ahwa! karena duduk-duduk bersama mereka membuat hati(mu) menjadi sakit (berpenyakit)”  (Al-Ajurri dalam asy-Syari’ah, bab Dzammul Jidal wal-Khushumat fid-Din dan Ibnu Baththoh dalam Al-Ibanah al-Kubro, bab at-Tahdzir min Shuhbati Qoumin Yumridhul Qulub wa yufsidul Iman, dengan sanad yang shohih)

Fudhoil bin Iyadh رحمه الله berkata : “Hindarilah duduk bersama ahli bid’ah dan barangsiapa yang duduk bersama ahli bid’ah, maka ia tidak akan diberi hikmah.
Aku suka jika di antara aku dan pelaku bid’ah (mubtadi) ada benteng dari besi.”  (Ibnu Baththoh dalam Al-Ibaanah /470, Al-Lalika’i dalam Syarh Ushul I’tiqod Ahlis-Sunnah wal-Jamaa’ah /1149)

Beliau juga berkata : “Janganlah engkau duduk bersama ahli bid’ah, karena sesungguhnya aku takut akan turun laknat untukmu.”  (Al-Lalika’i dalam Syarh Ushul I’tiqod Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah 1/137, dan Ibnu Baththoh dalam Al-Ibanah al-Kubro dan dinukil oleh al-Barbahari dalam Syarhus-Sunnah)

Abu Qilabah al-Raqasyi رحمه الله berkata : “Janganlah duduk bersama mereka dan janganlah bergaul dengan mereka.  Sebab aku khawatir mereka menjerumuskanmu ke dalam kesesatan mereka dan mengaburkan kepadamu banyak hal dari apa-apa yang telah kamu ketahui.”  (Ahmad bin Hambal dalam As-Sunnah I/ 137, no. 99, Al-Ajurri dalam asy-Syarii’ah I/435, no.114)

Imam Al-Barbahari رحمه الله mengatakan : “Jika engkau melihat suatu kebid’ahan pada seseorang, jauhilah ia sebab yang ia sembunyikan darimu lebih banyak dari apa yang ia perlihatkan kepadamu”  (Syarhus-Sunnah /148)

Yahya bin Abi Katsir رحمه الله berkata : “Jika engkau bertemu dengan pelaku bid’ah di jalan, maka ambillah jalan lain”  (Al-Bida’ wan Nahyu ‘anhaa I/98-99, no.124 oleh Ibnu Wadhdhah, tahqiq ‘Abdul Mun’im Salim, dan Syarah Ushul I’tiqaad Ahlis-Sunnah wal-Jamaa’ah no.240)

Demikianlah, orang-orang berilmu di kalangan ummat telah melarang bermajelis dengan ahlul-bid’ah sedemikian rupa.  Akidah yg lurus jauh lebih utama daripada kepentingan-kepentingan selain itu.
Jika seseorang telah memahami dengan baik sebagaimana yg telah diajarkan oleh para ulama, maka seseorang yg telah sadar bahwa ia sebenarnya sedang terlibat dengan ahlul-bid’ah, akan segera pergi darinya meskipun harus meninggalkan uang rosmal ataupun uang yg tertahan pada mereka jutaan rupiah banyaknya…Huwar-Rahmaanu wa huwa khoirur-Roziqiin…

Semoga Allah سبحانه و تعالي senantiasa menunjuki kaum Muslimin kepada petunjuk yg benar, petunjuk yg dibawa Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم ,cahaya Al-Qur’an dengan Sunnah RasulNya

Semoga Allah سبحانه و تعالي senantiasa menjauhkan kaum Muslimin dari fitnah dajjal, yg besar maupun yg kecil

Semoga Allah سبحانه و تعالي senantiasa mengampuni orang-orang yg telah tergelincir dan kembali bertaubat

Dan semoga Allah سبحانه و تعالي menurunkan RahmatNya

للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَْيتَنا ، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمة ، إِنّكَ أنتَ الوَّهابُ
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
َاللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ وَالأَبْصَارِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

Al-Faqir, Hamba Allah

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Pos ini dipublikasikan di belajar islam, belajar tafsir, Islam, kelompok Islam, Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ahlul-bid’ah khawarij lokal (1)

  1. millah7ibrahim berkata:

    Assalamu alaikum.
    Terima kasih atas pencerahannya akhi. Oh y tolong dijabarkan arti pemimpin Islam. Siapa mereka?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s