Ahlul bid’ah khawarij lokal (2)

Ahlul bid’ah khawarij lokal (2)

بسم الله الرحمن الرحيم
إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلاَّ الله وحده لا شريك له وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله. فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار .

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم Wa Ba’du :

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِي يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَتْ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ شَيْئًا وَلَا صَلَاتُكُمْ إِلَى صَلَاتِهِمْ شَيْئًا وَلَا صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ شَيْئًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ لَا تُجَاوِزُ صَلَاتُهُمْ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ

“Akan keluar satu kaum dari ummatku, mereka membaca Al-Qur’an, bacaan kalian dibanding- kan dengan bacaan mereka tidak ada apa-apanya, juga sholat dan puasa kalian dibandingkan dengan sholat dan puasa mereka tidak ada apa-apanya.
Mereka mengira Al-Qur’an menjadi hujjah buat mereka, padahal sesungguhnya ia (Al-Qur’an itu) menjadi bantahan/hujatan buat mereka.  Sholat mereka tidak sampai tenggorokan, mereka lepas dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari buruannya” (HR Abu Dawud)

Sebagaimana telah dijelaskan dalam tulisan “Ahlul-bid’ah khawarij lokal” sebelumnya, setiap orang yang berfaham khawarij akan selalu mengutip ayat-ayat Al-Qur’an untuk menguatkan pendapatnya dalam mengambil sikap berontak dan mengkafirkan orang-orang Islam yang lain.
Mereka menyangka berjalan di atas hujjah Al-Qur’an, padahal sesungguhnya Al-Qur’an itu justeru membantah semua faham salah yang mereka yakini sebagai kebenaran.

Hal yang perlu diingat juga tentang khawarij adalah tidak satupun dari mereka sepanjang sejarah yang memang terbukti sebagai orang-orang berilmu yang membawa penerangan kepada ummat, dan menegakkan kemenangan Islam.  Malah sebaliknya, khawarij justeru identik dengan penyimpangan, kebodohan dan kemunduran Islam.

Rasulullah صلي الله عليه وسلم juga mengatakan tentang mereka :

يَأْتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْرٌ لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Akan datang pada akhir zaman suatu kaum yang muda usia, rusak akalnya/dungu, suka bermimpi, mereka memperkatakan dari sebaik-baik perkataan manusia.  Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah keluar dari buruannya.  Keimanan mereka tidaklah melampaui tenggorokannya.  Dimana saja kalian mendapati mereka, maka perangilah, karena bagi yang memerangi mereka, akan ada balasan (pahala) pada hari Kiamat.”  (HR Bukhori-Muslim).

Di sini akan dipaparkan lanjutan dari ulasan-ulasan sebelumnya (dalam “Ahlul-bid’ah khawarij lokal (1)”), tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang seringkali difahami para khawarij lokal mendukung fahamnya, padahal sesungguhnya ayat-ayat itu justeru mempermasalahkan faham mereka.
Berikut di antaranya

Firman Allah سبحانه و تعالي :

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً. الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعاً

“Katakanlah : Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yg paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yg telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”  (Qs.Al-Kahfi : 103-104)

Ayat-ayat ini dikemukakan oleh khawarij (terutama sekte abu hamzah) untuk mencela amalan orang-orang di luar kelompok mereka sebagai amalan sesat dan sia-sia karena mereka anggap tidak mengikut Al-Qur’an.  Benarkah apa yg dikatakan mereka?

Ibnu Katsir رحمه الله di dalam tafsirnya dan pada satu ulasan dalam Al-Bidayah wan-Nihayah, mengatakan bahwa ayat-ayat ini adalah juga tentang orang-orang haruriyah (khawarij).  Ali bin Abi Tholib dan Ad-Dhohhak juga mengatakan bahwa ayat-ayat ini adalah untuk khawarij.
Khawarij mengaku beramal cukup hebat padahal semua itu ke-sia-sia-an saja karena tidak didasari ilmu yg benar dan akidah yang lurus.
Ibnu Katsir mengatakan : “Karena amal-amal mereka bathil, bukan pada jalan yg diperintahkan oleh syari’at, yakni tidak diridhoi dan tidak diterima”  (Tafsir Ibnu Katsir)

Khawarij mencela amalan orang lain dengan ayat itu, padahal yg dimaksud di dalam ayat itu adalah mereka sendiri.

Dan firman Allah سبحانه و تعالي :

ﻤﻥﺍﻠﺫﻴﻥ ﻔﺭﻗﻭﺍﺩﻴﻨﻬﻡ ﻭﻜﺎ ﻨﻭﺍ ﺸﻴﻌﺎ ﻜﻝﺤﺯﺏ ﺒﻤﺎﻟﺩﻴﻬﻡ ﻓﺭﺤﻭﻥ

“Yaitu orang-orang yg memecah-belah (dalam) diin mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan bangga dengan apa yg ada pada golongan mereka”  (Qs.Ar-Ruum : 32).

Sebagian khawarij mengemukakan ayat ini dan mengatakan bahwa orang-orang di luar kelompok mereka telah berpecah-belah karena tidak berpegang dengan Al-Qur’an sebagaimana mereka.  Seharusnya seluruh orang Islam bersatu dengan pegangan Al-Qur’an di bawah kepemimpinan mereka, di bawah satu daulah Islam yg akan dijalankan oleh mereka.
Benarkah pandangan mereka tentang ayat itu?

“…memecah-belah diin mereka dan mereka menjadi beberapa golongan” maksudnya adalah berfirqoh-firqoh/bersekte-sekte dimana terjadi karena adanya perbedaan dalam masalah yg besar/mendasar, yaitu akidah.  Perbedaan madzhab tidaklah termasuk dalam hal ini.
Jika sudah berfirqoh/ bersekte-sekte, maka yg terjadi adalah sikap saling memusuhi hingga saling menghalalkan harta dan darah (karena saling menganggap kafir satu-sama lain).

Ayat di atas semakna dengan Qs.Al-an’am : 159.
Ibnu Katsir رحمه الله menafsirkan tentang ﻭﻜﺎ ﻨﻭﺍ ﺸﻴﻌﺎ  (dan mereka menjadi beberapa golongan), yaitu : “Dan mereka merupakan golongan/kelompok tersendiri, bahkan memusuhi golongan yg lain, mereka kaum khawarij, ahli-ahli bid’ah, ahli syubhat, dan orang-orang yg tersesat.”

Jadi, yg dimaksud dalam Qs.Ar-Ruum : 32 adalah sekte-sekte seperti khawarij atau yg semisal dengan mereka di antara firqoh-firqoh ahlul-bid’ah.
Khawarij menuding orang lain dengan ayat itu sebagai pemecah-belah dalam dien, padahal yg dimaksud di ayat itu adalah mereka sendiri.

Semakna dengan ayat itu tentang perpecahan, yaitu yg Allah larangkan dalam firmanNya :

وَلاَ تَكُونُواْ كالذين تَفَرَّقُواْواختلفوامِن بَعْدِ مَا جآءهُمُ البينات وأولئك لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Dan janganlah kamu menjadi serupa dengan orang-orang yg berpecah-belah dan berselisih sesudah datang keterangan yg jelas kepada mereka.  Mereka itulah orang-orang yg mendapat siksa yg berat”  (Qs.Ali Imron : 105)

Abu Umamah رضي الله عنه berkata : “Mereka adalah haruriyah di syam, yaitu khawarij” (tafsir Al-Baghawi II/86)

Khawarij bercerai dari kaum Muslimin dan membuat perpecahan setelah jelas datang keterangan kepada mereka.  Mereka menyalahkan semua orang Islam dan tidak bisa melihat kesalahan diri mereka sendiri, justeru yg mereka lihat hanyalah ke-aliman, kemuliaan dan keagungan diri mereka di antara orang Islam yg lain, sehingga mereka merendahkan hingga mengkafirkan orang-orang Islam yg lain yg di luar kelompok mereka.

Dalam sejarah, aktivitas kaum khawarij secara fakta hanya berkutat mencela, menghujat, hingga mengangkat senjata terhadap muslimin yg lain.  Mereka justeru sangat sibuk memerangi orang-orang Islam itu sendiri.  Inilah porsi terbesar ajaran dan amalan-amalan mereka.
Khawarij pada masa ini juga akan seperti pendahulunya, hanya sibuk menghujat dan memerangi orang-orang Islam.  Musuh mereka adalah sesama orang-orang Islam.
Merekalah kaum pemecah-belah ummat yg Allah ancamkan dengan siksa yg berat pada ayat di atas.
_________________________________

Dan firman Allah سبحانه و تعالي :

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ

“Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu.  Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat.
Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah.  Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata : “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.”  Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”  (QS.Ali Imran : 7)

Sekte khawarij abu hamzah merasa bahwa mereka adalah orang-orang yg mendalam ilmunya, tidak condong kepada kesesatan dan tidak menta’wil ayat-ayat mutasyabihat seperti Alif-lam-miim, Thoo-haa, Yaa-siin dan lain-lain.
Bagaimanakah yg sebenarnya?

Ibnu Katsir رحمه الله mengatakan tentang ayat mutasyabihat : “Bagian lain dari kandungan Al-Qur’an adalah ayat-ayat mutasyabih (yg samar/ tidak jelas) pengertiannya bagi kebanyakan orang atau (bagi) sebagian dari mereka..”  (Tafsir Ibnu Katsir, juz 3 Qs.3 : 7)

Abu Umamah رضي الله عنه (seorang sahabat Nabi) menisbatkan ayat ini untuk khawarij (Dalam riwayat Al-Baihaqi 8/188 dan dalam riwayat Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jamul-Kabiir 8035)

Imam Abu Ishaq Asy-Syatibi رحمه الله mengatakan : “Dengan tafsir ini jelaslah bahwa yang dimaksud dalam ayat di atas adalah ahlul-bid’ah karena Abu Umamah memasukkan khawarij dalam keumuman ayat di atas.  Sedangkan mereka adalah ahlul-bid’ah menurut para ulama.  Dan beliau menjadikan kelompok khawarij termasuk orang yang dalam hatinya ada penyimpangan, sedangkan kriteria seperti ini terdapat pada semua ahlul-bid’ah.”  (Al I’tisham 1/55)

Imam Al Ajurri رحمه الله membawakan riwayat dari Thawus, dia berkata : “Pernah disebutkan kepada Ibnu Abbas tentang khawarij dan tentang bacaan Al-Qur’an mereka. Maka beliau (Ibnu Abbas) menjelaskan : “Mereka beriman dengan ayat-ayat muhkamat namun mereka tersesat ketika menyikapi ayat-ayat mutasyabihat.”  Kemudian beliau membaca surat Ali Imran ayat 7” (Asy-Syari’ah hal. 27 no. 43)

Syaikh Ahmad Salam berkata : “Mereka (khawarij) mengikuti ayat-ayat mutasyabih, sifat ini nampak ketika mereka mengambil zhohir lafadz-lafadz nash yang menerangkan tentang kekafiran, tanpa mereka kembalikan (ayat tersebut) kepada ayat-ayat muhkam yang menafsirkan dan menerangkannya.”  (Maa Ana Alaihi wa Ashaabi : 36)

Khawarij ataupun ahlul-bid’ah yg lain banyak menafsirkan ayat yg bagi mereka sebenarnya samar (tidak jelas, karena kurangnya ilmu) bermaksud untuk berusaha mengerti sendiri dan lalu banyak mencari ta’wil dengan mengandalkan melihat zhohir-zhohir lafadznya, sedangkan hati mereka dalam keadaan condong-menyimpang.
Mereka akhirnya tersesat, meskipun dalam sangkaan dan khayalan mereka justeru mereka mendapat banyak pelajaran dan petunjuk.

Sekte khawarij lokal NII KW-9 dan sekte abu hamzah masing-masing mengaku sebagai orang-orang yg berpegang dengan Al-Qur’an dan mengaku sebagai yg paling mengerti dengan Al-Qur’an, sehingga yg keluar dari kelompok mereka dikatakan sebagai orang yg melepaskan Al-Qur’an, murtad, keluar dari Islam karena telah keluar dari satu-satunya kelompok di muka bumi ini yg berpegang dengan Qur’an.
Pandangan ini juga merupakan bagian kesesatan mereka.

Di antara mereka ada yg mengatakan : belajar Qur’an adalah belajar kehidupan, karena Qur’an itu ilmu untuk hidup.
Demikianlah ucapan mereka yg menakjubkan dan mereka mengatakan telah hidup di bawah bimbingan Al-Qur’an.  Perkataan mereka itu ternyata jauh dari kebenaran, karena yg mereka fahami dan mereka terapkan adalah faham-faham yg salah hasil penta’wilan ayat-ayat Al-Qur’an dengan tanpa ilmu yang benar.
Faham-faham yg salah tersebut (hasil ta’wil mereka) adalah faham-faham ‘syubhat’ (tidak jelas, rancu/kacau).  Inilah yg mereka ikuti dan timbullah banyak fitnah.
Dan fitnah terbesar yg telah mereka buat adalah sebagaimana yg telah dibuat oleh nenek-moyang mereka, khawarij klasik, yaitu fitnah faham takfir.

Dan firman Allah سبحانه و تعالي :

أَلَـمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُواْ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُواْ إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُواْ أَن يَكْفُرُواْ بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلاَلاً بَعِيداً

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yg mengakui dirinya telah beriman kepada apa yg telah diturunkan kepadamu dan kepada apa yg diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thoghut. Padahal mereka telah diperintah mengingkari thoghut itu.
Dan syaithon bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yg sejauh-jauhnya” (Qs.An-Nisaa : 60)

Orang-orang berakidah khawarij menjadikan ayat ini sebagai hujjah untuk meng-kafir-munafik-kan orang Islam yg lain yg mereka katakan tidak berhukum dengan hukum Allah atau tidak menerapkan system Islam.  Lalu bagaimanakah halnya mereka dengan ayat ini?

Ibnu Katsir رحمه الله berkata tentang ayat ini : “Allah ingkar terhadap orang yg mengakui dirinya beriman kepada apa yg diturunkan oleh Allah kepada RasulNya, juga kepada para Nabi terdahulu, padahal di samping itu ia berkeinginan dalam memutuskan semua perselisihan merujuk kepada selain Kitab Allah dan Sunnah RasulNya seperti yg disebutkan di dalam asbabun-nuzul ayat ini”.  (Tafsir Ibnu Katsir Juz 5 Qs.4 : 59-60)

As-Sa’di رحمه الله menafsirkan ayat ini bersama dengan ayat sebelumnya, Qs.An-Nisaa : 59 (yg artinya) : “…kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan RasulNya (Sunnahnya), jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir.  Yg demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya”  (Qs.An-Nisaa : 59)

Beliau (As-Sa’di) mengatakan di dalam tafsirnya : “…kemudian Dia memerintahkan untuk mengembalikan apa saja yg diperselisihkan manusia, yg berupa pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya kepada Allah dan RasulNya yaitu kepada kitab Allah dan Sunnah RasulNya karena sesungguhnya di dalam keduanya itu keputusan di dalam seluruh masalah-masalah khilafiah, mungkin dengan (nash) yg tegas atau keumuman, atau isyarat, atau peringatan, atau pemahaman atau keumuman makna.
Apa-apa yg menyerupainya bisa diqiyaskan padanya.  Karena sesungguhnya Kitab Allah dan Sunnah RasulNya itu adalah bangunan agama, dan iman tidak akan lurus kecuali dengan keduanya.  Maka mengembalikan kepada keduanya adalah syarat dalam keimanan.  Karena itulah Allah berfirman “jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir”.
Maka hal itu menunjukkan bahwa siapa yg tidak mengembalikan perkara-perkara perselisihan antara keduanya, bukanlah seorang mukmin yg sebenarnya.
Akan tetapi dia adalah seorang yg beriman kepada thoghut, sebagaimana disebutkan di dalam ayat berikutnya (yaitu Qs.An-Nisaa : 60)“  (Tafsir Karimir-Rahmaan Qs.An-Nisaa : 59-60)

Jadi, berhakim kepada thoghut di Qs.An-Nisaa : 60 adalah jika perkara-perkara agama (yg menyangkut faham tentang akidah atau yg lainnya) tidak dirujuk kepada Allah (Al-Qur’an) dan RasulNya (As-Sunnah), tetapi kepada selainnya (seperti hawa nafsu, sangkaan, pemikiran sendiri ataupun pemikiran “bapak fulan”).
Dan siapakah orang-orang yg seperti ini?

Ibnu Taimiyah رحمه الله menyatakan : “Ahlul-bid’ah itu tidak bersandar kepada Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah serta Atsar (keterangan/hadits) Salafus-Shalih (orang-orang shalih terdahulu) dari kalangan Shahabat maupun Thabi’in…“ (Majmu Fatawa 7/119)

Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata : “Barang siapa yang menentang Al-Kitab dan As-Sunnah dengan apa-apa bentuk ta’wil sama ada qiyas atau zawuq (perasaan hati), akal, atau perkara tertentu, maka padanya terdapat kesamaan dengan al-khawarij pengikut dzul-khuwaishiroh”  (as-Sawa’iq al-Mursalah, 1/308)

Imam Adz-Dzahabi رحمه الله berkata : ”Jika ada seorang ahlul-kalam yang juga ahlul-bid’ah berkata ”Jauhkan kami dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dan pakailah akal,” maka ketahuilah dia adalah Abu Jahal” (Siyar ‘Alam an-Nubala 4, hal. 472)

Ahlul-bid’ah khawarij sepintas tampak seperti mengusung Al-Qur’an, mereka senantiasa membacakan ayat-ayat Al-Qur’an, padahal sesungguhnya mereka jauh dari Al-Qur’an. Secara umum, mereka memahami ayat-ayat Allah tanpa mengambil landasan ilmu dari As-Sunnah, akan tetapi dengan mediasi sangkaan dan hawa nafsu.
Mereka menuding orang lain kufur terhadap ayat-ayat Allah dan tidak berhukum dengannya (dalam hukum-hukum had), padahal dalam masalah hukum yg lebih utama, lebih pokok dan lebih prinsipil dalam akidah Islam yaitu hukum pendalilan segala sesuatu yg harus dirujuk kepada Kitab Allah dan Sunnah RasulNya, justeru merekalah yg mengkufurinya, baik secara sadar (karena kedurhakaan) ataupun secara tidak sadar (karena kebodohan terhadap As-Sunnah).

Dari uraian ini kini telah jelas juga, siapakah yg tidak berhukum dengan hukum Allah ketika khawarij menghujat orang Islam yg lain dengan Qs.AlMaidah : 44

وَ مَا لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولـئِكَ هُمُ الكَافِرُوْنَ

“…dan siapa yg tidak berhukum dengan apa yg telah diturunkan Allah maka mereka itulah orang-orang yg kafir”

Bukankah mengembalikan permasalahan-permasalahan di dalam dien kepada Allah (Al-Qur’an) dan RasulNya (As-Sunnah) adalah hukum dari ayat Allah juga? (yaitu dalam Qs.An-Nisaa :59-60).  Mengapa mereka mau mengambil Al-Qur’an tetapi tidak mau mendalami As-Sunnah dengan sungguh-sungguh?
Mereka tidak mengembalikan urusan pemahaman dien ini di mana mereka berselisih dengan kalangan Ahlus-Sunnah kepada Allah dan RasulNya (Al-Qur’an dan Al-hadits).
Mereka bersikukuh dengan fahamnya sendiri, meskipun dibangun tanpa dasar ilmu yg benar.

Jika mereka mengatakan orang-orang selain mereka tidak berhukum dengan hukum Allah karena tidak menegakkan hukum Al-Qur’an seperti hukum rajam, hukum qishos dan lain-lain hukum had, apakah mereka juga telah menegakkan hukum-hukum ini?
Merekapun tidak menegakkannya.
Jika mereka berdalih bahwa mereka tidak mengkufuri itu dan sedang mengusahakannya untuk bisa ditegakkan, apakah mereka mengira bahwa orang lain tidak seperti itu?
Semoga Allah bukakan kesempitan pikiran mereka…

Sebagian sekte-sekte khawarij berusaha meng-cover image buruk mereka ini supaya tidak di-cap sebagai kaum ingkar-sunnah dengan mengatakan : “kami juga pakai hadits…”
Realitas dalam prakteknya ternyata mereka sangat tidak serius dalam hal ini.  Tidak satupun di antara mereka yg bersungguh-sungguh menggali As-Sunnah dengan mendalami ilmu-ilmu hadits, mereka justeru buta terhadap ilmu-ilmu hadits dan malah ada yg mencela orang yg berusaha mendalami hadits-hadits.
Bahkan ada juga yg mengatakan bahwa hadits-hadits itu dongeng (Maha Benar Allah Yang telah mengutus Nabi-Nya صلى الله عليه وسلم , semoga Allah berikan hidayah kepada orang-orang yang berkata demikian agar mereka bertaubat).

Sekte LDII mengambil hadits yg asal-asalan.
Banyak fatwa-fatwa ajaran di dalam kelompok itu yg didasarkan kepada hadits-hadits dhoif bahkan hadits maudhu, tanpa mengerti keabsahan jalur periwayatannya (minimal mengetahui adanya ‘syahid’ riwayat yg lebih shohih pada matan yg semakna), yg penting isinya sesuai dengan apa yg diinginkan, maka diambillah perkataan-perkataan yg tampaknya seperti hadits Nabi tersebut sebagai dasar fatwa.

Sekte NII KW-9 dan sekte abu hamzah malah lebih parah lagi.
Mereka sering mengambil perkataan-perkataan yg dikatakan hadits tanpa menyebutkan riwayat siapa dan dari manakah pengambilan hadits tersebut, juga tanpa mengerti tingkat keshohihannya.  Mereka bahkan berani memalsukan hadits Nabi (Laknatullah alaihim, wa Laknatullah alaihim).
Mereka katakan ini hadits Nabi, padahal bukan hadits Nabi.
Mereka katakan ada haditsnya, padahal tidak ada.
Di antara mereka ada yg katakan ini hadits Muslim atau Abu Dawud, padahal tidak benar.
Jika ada yg kritis dan mempermasalahkannya, barulah mereka kemudian berpura-pura teliti.  Jika semua telah berlalu, mereka kembali menjadi orang-orang yg masa-bodoh.

Orang-orang yg tertipu yg mengikuti mereka menyangka bahwa mereka adalah orang-orang berilmu, atau para ustadz yg alim yg tidak mau menonjol di masyarakat, atau orang-orang yg benar yg ikhlas berjuang untuk Islam, padahal sesungguhnya mereka adalah agen-agen KGB (khawarij gaya baru) atau neo-khawarij.
___________________________________________

Dan firman Allah سبحانه و تعالي :

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain.  Dan jika syaithan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).”  (Al-An’aam : 68)

Ayat ini semakna dengan Qs.An-Nisaa : 140, yaitu larangan bermajelis dengan orang-orang yg mengolok-olok ayat-ayat Allah.
Khawarij lokal melarang pengikutnya duduk dalam majelis pengajian orang-orang di luar kalangannya, dengan asumsi bahwa mereka hanya mengolok-olok ayat-ayat Allah.
Sebenarnya siapakah yg mengolok-olok ayat-ayat Allah itu?

Ibnu Abbas رضي الله عنه berkata : “Masuk ke dalam ayat ini (menjauhkan) setiap orang yang mengadakan hal-hal baru dalam agama dan setiap orang yang berbuat bid’ah sampai hari Kiamat” (Tafsir Al-Baghawi I/392)

Ibnu Jarir Ath-Thobari رحمه الله berkata : “Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas tentang larangan untuk ikut di dalam majelis ahli bid’ah dari setiap macam pelaku kebid’ahan (termasuk khawarij) dan orang-orang fasik yang mereka berbicara tentang kebathilan.”  (Tafsir Ath-Thobari)

Al-Qurthubi رحمه الله menukil dari Ibnu Khuwaiz bin Mindad : ”Barang siapa yang berbicara tentang ayat-ayat Allah tanpa ilmu, saya tidak mau duduk-duduk bersamanya dan memutuskan hubungan dengannya baik orang mukmin atau kafir…” (Tafsir Al-Qurthubi 7/13)

Imam Asy-Syaukani رحمه الله berkata : “Dalam ayat ini terdapat nasihat yang agung bagi orang yang masih memperbolehkan (bertoleransi) untuk duduk bersama ahlul-bid’ah yang mereka itu mengubah Kalam Allah, dan mempermainkan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya صلي الله عليه وسلم , dan memahami Al-Qur-an dan As-Sunnah sesuai dengan hawa nafsu mereka yang menyesatkan, dan sesuai dengan bid’ah-bid’ah mereka yang rusak.
Maka sesungguhnya jika seseorang tidak dapat mengingkari mereka dan tidak dapat mengubah keadaan mereka, maka paling-tidaknya ia harus meninggalkan duduk dengan mereka, dan yang demikian itu mudah baginya dan tidaklah sulit…”.  (Fathul-Qadir II/128-129)

Mereka menuding orang lain dengan ayat itu.  Mereka benar-benar tidak sadar bahwa sebenarnya merekalah yg mengolok-olok ayat-ayat Allah, yaitu dengan membaca sejadinya tanpa ilmu, dan menggampang-gampangkan ta’wil Al-Qur’an dan hadits-hadits asal-asalan dengan sangkaan dari hawa nafsu mereka yg rendah.
Mereka anggap main-main dengan Al-Qur’an?
_____________________________________________

Demikianlah, sebagian yg bisa dipaparkan tentang khawarij yg terhujat dengan ayat-ayat Al-Qur’an yg keterangan-keterangannya dinukil dari para ulama.

Sedikit catatan tentang para ulama salaf yg banyak berbicara tentang ahlul-bid’ah

Telah banyak reaksi negatif terhadap para ulama salaf yg banyak berbicara tentang ahlul-bid’ah. Nama-nama seperti Ibnu Taimiyah dan Ibnul-Qoyyim seringkali dikatakan oleh orang-orang yg banyak membuat bid’ah sebagai ulama-ulama sesat, sebagian dari mereka bahkan ada yg balik menudingnya sebagai ulama ‘khawarij’ (padahal merekalah ulama yg justeru sangat keras terhadap ahlul-bid’ah, termasuk khawarij) untuk berusaha memfitnah agar timbul kesan di kalangan masyarakat awam bahwa nama-nama itu adalah nama-nama sesat yg tidak perlu dilihat tulisan-tulisannya.  Orang-orang awam yg tidak tahu-menahu dan belum pernah mengikuti uraian-uraian dari para ulama itu banyak yg terhasut dengan fitnah ini.

Dan nama-nama lain seperti Imam Asy-Syatibi, Adz-Dzahabi, Al-Ajurri, Ath-Thohawiy, Ibnul-Mubarok, Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, Al-Baghawi, As-Sa’di dan lain-lain seringkali juga disikapi sama dan dibuat asing nama-nama itu dari kalangan ummat Islam oleh para penganut faham bid’ah (orang-orang yg pro-syi’ah, kaum kuburiyiin, neo-khawarij, neo-muta’zilah, neo-sufisme, kaum mukollid mazhab dan lain-lain).   Jika kaum muslimin banyak melihat kepada tulisan-tulisan ke-ilmuwan para ulama itu maka akan terbongkarlah segala bentuk ke-bid’ahan yg bisa mengancam kredibilitas para ahlul-bid’ah itu di antara para pengikutnya di tengah-tengah ummat Islam yg cukup heterogen, dari dulu hingga sekarang.

Penutup

Ahlul bid’ah khawarij adalah fenomena yg selalu muncul di setiap jaman hingga hari kiamat.  Pada hari inipun bertebaran para khawarij dengan berbagai variasi pemahamannya, namun kesamaannya sejak dulu adalah berontak dan mengkafirkan. Angan-angan menegakkan daulah Islam yg ideal sebagaimana di masa Rasul selalu menghantui mereka.

Padahal,..

Ketahuilah,
jika pada hari ini benar-benar tegak daulah-kekholifahan itu, merekapun tetap akan berontak terhadapnya.
Dzul-khuwaisiroh (cikal-bakal/bibit khawarij di masa Rasul) tetap ‘berontak’ dan menganggap Rasul sebagai kholifah yg tidak menerapkan keadilan Allah (ketika membagi ghonimah), padahal Rasulullah صلي الله عليه وسلم adalah seorang kholifah terbaik dan paling adil di muka bumi.
Dzul-Khuwaisiroh adalah orang pertama yg menunjukkan gejala penyimpangan seperti khawarij ini.

Pada masa Utsman bin Affan, gejala penyimpangan ini semakin banyak di antara orang-orang yg awam, yg tidak bijak dan mudah terhasut.  Termakan slogan-slogan ‘keadilan’ mereka berontak terhadap Utsman hingga sebagian dari mereka menghakimi dan lalu membunuh Utsman.  Padahal beliau adalah kholifah yg lurus, salah seorang Khulafaa’ur-Rasyidin.

Dan khawarij di masa Ali bin Abi Tholib telah berontak terhadap Ali dan mengkafirkannya, padahal ia adalah Imam kaum muslimin, kholifah yg lurus, satu dari empat Khulafaa’ur-Rasyidin yg menerapkan ajaran Islam.
Pada masa Ali ini gejala penyimpangan khawarij telah mewabah di kalangan kaum haruriyah.  Meskipun sempat diperangi dan ditumpas, namun sisa-sisa mereka kemudian berhasil membunuh Ali.

Dan pada masa-masa kepemimpinan orang-orang Islam selanjutnya tetap bermunculan khawarij.  Kelompok-kelompok berakidah khawarij akan senantiasa muncul dengan ‘bughot’ dan ‘takfir’ hingga hari kiamat.

Alasan khawarij di setiap kemunculannya selalu sama, yaitu tuduhan tidak menegakkan hukum/aturan Allah, meskipun yg mereka tuding itu adalah seorang kholifah (bukan lagi presiden atau raja atau kaisar) yg menerapkan system Islam (bukan lagi system belanda atau system kafir dalam pemerintahan dan hukum), dan juga kholifah yg lurus (bukan lagi raja yg zholim yg mengingkari Al-Qur’an).

Ini semua adalah hanya satu ‘penyakit’ penyimpangan berakidah, dan bukan suatu kewajaran.
Dan penyakit ini karena ‘semangat yg ganjil’ dalam menegakkan Islam akibat ke-awaman (kebodohan memahami Al-Qur’an) dan pengaruh hawa nafsu (termasuk besar-diri, ujub, dan keinginan berkuasa), hingga kemudian terjadilah hawa nafsu yg tertunggangi syetan.

Ketahuilah,
orang-orang yg berakidah khawarij di masa yg manapun sesungguhnya hanyalah pendusta.
Penegakkan daulah dengan system/aturan Islam hanyalah igauan akibat penyakit penyimpangan akidah mereka.
Kalaulah daulah itu benar tegak, mereka tetap akan menuntut kesempurnaan seperti di masa Nabi dan tidak bisa menerima fakta bahwa mereka tidak lagi hidup di masa Nabi, Abu Bakar atau Umar.   Sahabat-sahabat terbaik Nabi pun seperti Utsman dan Ali tetap mereka salahkan (dituntut sempurna) karena dianggap tidak sama seperti kholifah sebelumnya (yaitu Rasulullah, Abu-Bakar dan Umar) dan lalu mereka halalkan darahnya.
Bagaimanakah lagi dengan para sulthon/penguasa di negeri-negeri berpenduduk muslim pada masa sekarang ini yg sudah lebih jauh penyimpangannya dengan apa yg ditegakkan oleh Rasulullah, Abu Bakar dan Umar?
Tidak satupun pemimpin negeri-negeri kaum muslimin saat ini yg tidak mereka kafirkan, terlebih pemimpin-pemimpin yg banyak di-klaim bermaksiat.  Dan tidak satupun negeri di dunia ini pada saat ini yg tidak mereka katakan sebagai negeri kafir.   Semua adalah negeri kafir.   Mereka menuntut semua negeri yg ada di dunia ini agar menegakkan daulah sama seperti yg ditegakkan Rasulullah, atau minimalnya seperti yg ditegakkan Abu-Bakar atau Umar, atau juga para sahabat yg lain, tidak boleh ada kesalahan.   Jika tidak…KAFIR! dan KAFIR!
Sesungguhnya menggebunya mereka bukanlah untuk menegakkan daulah Islam, tetapi hanyalah untuk menegakkan terlaksananya hawa nafsu mereka, tetapi mereka tidak sadar.  Ingatlah tentang ini dan jangan sampai lupa.

Ketahuilah,
Jika pada hari ini daulah Islam tegak oleh NII, maka sekte abu hamzah, LDII dan khawarij lainnya akan mengkafirkan daulah itu dan tetap akan memberontakinya.

Jika pada hari ini daulah ditegakkan oleh LDII, maka NII, sekte abu hamzah dan khawarij lainnya akan mengkafirkan daulah itu dan tetap akan memberontakinya.

Jika pada hari ini daulah Islam tegak oleh sekte abu hamzah, maka LDII, NII dan khawarij lainnya akan mengkafirkan daulah itu dan tetap akan memberontakinya.

Inilah bagian dari yang dimaksud Nabi dengan “sufahaa’ul-ahlaam” (rusak akalnya).

Ketahuilah,
Jika semua khawarij berkumpul (NII, LDII, sekte abu hamzah dan khawarij lainnya) masing-masing mereka akan saling menyalahkan dan mengkafirkan satu-sama lain. Karena….

Dengan akidah seperti itu, akan berpandangan bahwa tidak satupun orang Islam di dunia pada hari ini yg masih berkehendak akan menegakkan hukum dan ajaran Allah dalam khayal dan angan-angan mereka kecuali hanya merekalah yg seperti itu.

Dengan akidah seperti itu, tidak satupun orang Islam di dunia ini yg masih beriman, seluruh muslimin di dunia ini adalah kafir dalam khayal dan angan-angan mereka, kecuali hanya mereka

Dengan akidah seperti itu, semua penguasa di negara-negara Islam pada hari ini adalah kafir dan harus mereka berontaki dan harus mereka tumbangkan semuanya (hingga tidak tersisa satupun, sebab semua adalah kafir)

Dengan akidah seperti itu, Jihad mereka hanyalah memerangi dan (jika perlu) membunuh semua pemimpin Islam dan orang-orang Islam yg bersamanya di seluruh dunia pada hari ini, karena mereka semuanya dinyatakan telah kafir dan telah halal darah dan hartanya

Dengan akidah seperti itu, dalih yg paling tepat bagi mereka untuk melaksanakan itu semua pada hari ini adalah dengan menudingnya sebagai antek atau kaki-tangan kaum kafirin, tanpa mau tahu dan membutakan diri akan konsekwensi serta fakta kondisi yg ada

Dengan akidah seperti itu, semakin banyak kelompok khawarij, maka semakin besarlah ambisi syetan agar Islam benar-benar habis dari muka bumi

Dengan akidah seperti itu, adalah dusta besar jika mereka mengatakan bahwa musuh mereka adalah yahudi atau nasrani…
Ingatlah juga tentang ini dan jangan sampai lupa…!

Wallahu A’lam bish-showab.
____________________________________________________________________________

Semoga Allah سبحانه و تعالي senantiasa menunjuki kaum Muslimin kepada petunjuk yg benar, petunjuk yg dibawa Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم ,cahaya Al-Qur’an dengan Sunnah RasulNya

Semoga Allah سبحانه و تعالي senantiasa menjauhkan kaum Muslimin dari fitnah dajjal, yg besar maupun yg kecil

Semoga Allah سبحانه و تعالي senantiasa mengampuni orang-orang yg telah tergelincir dan kembali bertaubat

Dan semoga Allah سبحانه و تعالي menurunkan RahmatNya…

للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَْيتَنا ، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمة ، إِنّكَ أنتَ الوَّهابُ
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
َاللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ وَالأَبْصَارِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

Al-Faqir, Hamba Allah

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Pos ini dipublikasikan di belajar islam, belajar tafsir, Islam, kelompok Islam, Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s