Ajaran dan fatwa-fatwa bathil (2)

Ajaran dan fatwa-fatwa bathil (2)

بسم الله الرحمن الرحيم
إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلاَّ الله وحده لا شريك له وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله. فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار .

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah
صلي الله عليه وسلم Wa ba’du :
Allah سبحانه و تعالي berfirman :

إﻨﻤﺎﻴﺨﺸﻰﺍﻠﻠﻪﻤﻥﻋﺒﺎﺩﻩﺍﻠﻌﻠﻤؤ ﺍﻥﺍﻠﻠﻪﻋﺯﻴﺯﻏﻔﻭﺭ

“Sesungguhnya yg takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah orang-orang yg berilmu (Ulama). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (Qs.Faathir : 28)

Peran orang-orang yg berilmu (ulama) dalam Islam

Kata “al-ulama” adalah bentuk jamak dari “al-alim” yg berarti orang yg berilmu. “Ulama” dalam bahasa arab berarti “orang-orang yg berilmu”.  Setelah pengadopsiannya ke dalam bahasa Indonesia, kata ulama biasanya tidak lagi dimaknai jamak, tapi dimaknai tunggal. Sesungguhnya setiap orang Islam yg mengikut ajaran Allah melalui kerasulan Muhammad صلي الله عليه وسلم mestilah dia orang yg ‘berilmu’, sebab dia telah memahami kebenaran dan telah terlepas dari kejahilan (kebodohan).  Namun tidak semua orang di antara ummat Muhammad صلي الله عليه وسلم mempunyai pengetahuan/ilmu tentang dien sama atau setaraf. Di antara mereka selalu ada orang-orang yg mempunyai taraf ke-ilmuan yg lebih tinggi dan menonjol dibanding orang-orang lainnya, dan mereka inilah yg disebut ulama.  Di antara para sahabat Nabi yg banyak mempunyai kelebihan ilmu di antara para sahabat yg lain misalnya adalah Abu Bakr, Umar, Ali bin Abi Tholib, Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Abu Hurairah, Ibnu Umar رضي الله عنهم dan lain-lain dari sekian ribu jumlah para sahabat yg ada di masa itu. Merekalah para ulama dari kalangan sahabat.  Dan di antara para thobi’in ada nama-nama seperti Mujahid, Said bin Musayyab, Thowus bin Kaisan, Atha’ bin Rabah, Qotadah رحمهم الله dan lain-lain.  Dan di antara para thobi’ut-thobi’in ada nama-nama seperti Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsauri, Ibnu Jarir, Al-Hasan Al-Bashri رحمهم الله dan lain-lain, dan seterusnya, dan seterusnya, hingga nama-nama para ulama pada abad sekarang.

Tidak semua orang bisa menjadi ulama, ini sangat terkait dengan kehendak Allah عز‏وجل yg membangkitkan mereka dan men-zhohirkan mereka sebagai orang-orang yg mempunyai kelebihan ilmu yg luar biasa di kalangan ummat Islam dan diikuti oleh kaum muslimin di muka bumi.
Di sini tidak hendak panjang lebar dinukil keterangan-keterangan nash dan penjelasannya tentang ulama, hanyalah hendak memberikan penegasan bahwa peran para ulama adalah haq dan penting dalam menetapkan suatu fatwa kepada ummat, karena mereka layak dan berkapasitas akan hal itu.  Tanpa ulama akan terjadi banyak syubhat dan ketidak-pastian tentang hukum terhadap sesuatu, terlebih pada hal-hal yg sulit difahami oleh kebanyakan orang yg awam.
Sebagai contoh adalah dalam perkara menaruh bacaan sholawat ketika sholat.  Di manakah bacaan sholawat yg telah diajarkan Nabi ditempatkan dengan benarnya?  Apakah ketika berdiri-bersedekap, ketika ruku, sujud atau duduk antara dua sujud?  Tidak ada keterangan yg kuat dari Nabi tentang hal itu kecuali hadits yg dho’if.  Di sinilah para ulama kemudian menyimpulkan bahwa penempatannya adalah ketika duduk ber-tasyahud. Apakah ada di antara kita yg kemudian akan berkata : “Itu hanya tafsiran ulama, saya lebih suka bersholawat ketika ruku, dan sholat saya tetap baik dan shah..”

Fatwa bathil tentang wali nikah dan bantahannya

Pernikahan dalam Islam merupakan sesuatu yg cukup ‘sakral’, dalam arti bahwa tidak bisa disikapi secara sembarangan baik dari sisi tujuan ataupun tata-cara dan hal-hal yg berkaitan dengan aturan-aturan di dalamnya. Allah سبحانه و تعالي menyebut pernikahan dengan sebutan “Miitsaqon-gholiizho”(perjanjian yg kokoh/kuat) di dalam Al-Qur’an :

وَأَخَذْنَ مِنكُم ميثاقاغَلِيظاً… ”…dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yg kokoh/kuat”  (Qs.An-Nisaa : 21)

Tidak boleh seseorang berfatwa tentang segala-sesuatu dalam pernikahan tanpa ilmu yg cukup, yg akhirnya hanya akan membuat kerusakan dalam Dien Islam karena menyimpangkan dari Jalan Allah, Jalan Rasul dan Jalan kaum mukminin.  Fatwa-fatwa bathil akan merebakkan banyak fitnah.

Sekte-sekte Islam berfaham takfir (mengkafirkan orang Islam yg lain dengan tanpa haq) memang ‘gudangnya’ fatwa bathil dan fitnah.  Syi’ah menghalalkan nikah mut’ah (kawin kontrak), LDII, NII KW-9 dan kelompok abu hamzah terperangkap dalam banyak kesalahan dan keharaman karena faham takfir-nya.  Terutama NII KW-9 dan kelompok abu hamzah yg banyak dihuni kaum perempuan yg ‘hijrah’ (baca : minggat) dari rumah keluarga mereka karena tidak sefaham dan dianggap kafir, mempunyai polemik wali nikah yg serius, jika dilihat dengan kacamata syariat.  Salah satu dampak pengkafiran yg salah adalah membuat kesalahan juga dalam hal penetapan wali-nikah bagi seorang perempuan yg menikah.

Seorang perempuan yg bapak atau kerabatnya dianggap kafir, dinikahkan oleh pemimpin mereka atau oleh seorang wali yg ditunjuk sebagai wakil dari pemimpin mereka.  Shah kah pernikahan seperti ini?  Jawabannya tentu saja kembali dulu ke permasalahan takfir : Benarkah bapaknya si perempuan atau kerabatnya itu kafir?  Harus dipastikan bahwa bapak atau kerabat perempuan tsb. betul-betul kafir dengan sekafir-kafirnya, tidak ada padanya keimanan sedikitpun terhadap Allah, RasulNya, KitabNya dan MalaikatNya meskipun sebiji-sawi, betul-betul kafir sehingga mereka menjadi tidak berhak mewalikan perempuan tsb.  Jika tidak demikian, maka pernikahan dengan cara seperti itu adalah tidak shah menurut kesepakatan jumhur ulama salaf.  Keadaan mereka (laki-laki dan perempuan yg menikah tsb.) sepertinya telah menikah, padahal tidaklah shah menikah. Mereka kumpul, berhubungan seperti layaknya suami-isteri, padahal mereka tidak pernah shah sebagai suami-isteri.  Berikut adalah uraian kesalahan-kesalahannya :

Kesalahan dalam mengkafirkan orang yg tidak kafir.
Ini adalah sumber dari banyak kesalahan lanjutan di mana salah satunya adalah kesalahan dalam penetapan wali-nikah. Tentang hal ini (pengkafiran yg salah) tidak dibahas di sini, tapi dibahas panjang lebar dalam tulisan yg lain.

Kesalahan dalam memaknai “pemimpin” yg berhak menikahkan.
Dalam satu hadits riwayat Bukhori-Muslim ada diceritakan Rasulullah menikahkan seorang perempuan dengan seorang sahabat yg maharnya pembacaan (pengajaran) ayat Al-Qur’an yg diketahuinya.  Rasulullah mewalikan perempuan tsb. (sebagai wali-hakim) bukan karena sekedar sebagai “pemimpin”, tetapi beliau adalah seorang “sulthon” (kholifah atau penguasa wilayah/negeri) di Madinah pada waktu itu.  Ini sejalan dengan keterangan hadits yg lain :

فَإِنِ اشْتَجَرُوْا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهُ…

…maka jika mereka (wali-wali perempuan itu) berselisih, maka “sulthon” (penguasa) adalah wali bagi perempuan yang tidak mempunyai wali.” (HR Abu Dawud /2083, At-Tirmidzi /1102, Ibnu Majah /1879), Ahmad /VI/47, 165, Ad-Darimi /II/137)

Apakah pemimpin NII KW-9 dan pemimpin kelompok abu hamzah adalah benar seorang penguasa negeri (sulthon)?
Ataukah hanya penguasa di negeri khayalan?
Kalau bukan sulthon (penguasa negeri/kholifah/pemerintah), maka tidak bisa ia jadi wali-hakim dan atau menunjuk wakilnya, itu menyimpang dari dalil hadits dan ini merupakan suatu ajaran yg mengada-ada sendiri.

Kesalahan dalam faham : wali-nikah bukan syarat mutlak.
Jumhur ulama, di antaranya Imam Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hambal (tiga madzhab besar dari kalangan Ahlus-Sunnah), An-Nawawi, Ibnu Hajar Al-Atsqollani, Ibnu Taimiyah, dan masih banyak lagi yg lainnya berpendapat bahwa wali dalam pernikahan adalah salah satu syarat shah-nya nikah.  Tanpa wali-nikah sebuah pernikahan dianggap tidak shah, begitupun jika salah dalam masalah perwalian-nikah.
Keterangan-keterangannya sebagai berikut :

Allah سبحانه و تعالي berfirman:

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ ۗ ذَٰلِكَ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۗ ذَٰلِكُمْ أَزْكَىٰ لَكُمْ وَأَطْهَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Dan apabila kamu menthalaq isteri-isterimu, lalu habis masa ‘iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka menikah (lagi) dengan calon suaminya, apabila telah terjalin keridhoan di antara mereka dengan cara yang ma’ruf.  Itulah yang dinasihatkan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman kepada Allah dan Hari-akhir.  Itu lebih suci bagimu dan lebih bersih.  Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”  (Qs.Al-Baqarah : 232)

Asbabun-nuzul ayat ini dalam tafsir Jalalain adalah sebagai berikut :
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Ma’qil bin Yasar mengawinkan saudara perempuannya kepada seorang laki-laki Muslim.  Beberapa lama kemudian dicerainya dengan satu thalaq.  Setelah habis ‘iddahnya, mereka berdua ingin kembali lagi, maka datanglah laki-laki tadi bersama Umar bin Khaththab untuk meminangnya. Ma’qil menjawab : “Hai, orang celaka! Aku memuliakan kau dan aku kawinkan kau dengan saudara perempuanku, tapi kau ceraikan dia.  Demi Allah, ia tidak akan kukembalikan kepadamu”.  Maka turunlah ayat tersebut di atas (Qs.Al-Baqarah : 232) yg melarang wali menghalangi hasrat perkawinan kedua orang itu.
Ketika Ma’qil mendengar ayat itu, ia berkata : “Aku dengar dan kutaati Tuhanku” Ia memanggil orang itu dan berkata : Aku kawinkan kau kepadanya dan aku memuliakan kau” (HR Bukhori, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan lainnya, dari Ma’qil bin Yasar رضي الله عنه)

Keterangan hadits dari Ma’qil bin Yasar رضي الله عنه yg menjadi asbabun-nuzul Qs.Al-Baqarah : 232 adalah hujjah yg kuat bahwa wali adalah syarat shah-nya pernikahan baik ia gadis atau janda.  Dalam hadits ini, Ma’qil bin Yasar sebagai wali telah menghalangi pernikahan antara saudara perempuannya yg akan kembali kepada mantan suaminya, padahal pada keduanya sudah ada saling ridho.  Lalu Allah سبحانه و تعالي menurunkan ayat ini (yaitu Qs.Al-Baqarah : 232) agar para wali jangan menghalangi pernikahan mereka.
Ma’qil pun kemudian menikahkan (mewali-nikahkan) saudara perempuannya kepada mantan suaminya itu.   Dalam keterangan hadits ini terlihat bahwa seorang wali bagi perempuan berhak melarang atau menyetujui sebuah pernikahan bagi perempuan yg diwalikannya, sehingga persetujuan seorang wali nikah yg haq bagi seorang perempuan adalah menjadi persyaratan keabsahan sebuah pernikahan.
Dan keterangan-keterangan hadits yg lain adalah sebagai berikut :

Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda:

لاَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ

“Tidak shah nikah melainkan dengan wali.”  (HR Abu Dawud /2085, At-Tirmidzi /1101, Ibnu Majah /1879), Ahmad /IV/394, 413, Ad-Darimi /II/137, Ibnu Hibban /1243 (Al-Mawaarid), Al-Hakim /II/170, 171 dan Al-Baihaqi /VII/107, shohih dari Abu Musa al-Asy’ari رضي الله عنه)

لاَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَى عَدْلٍ

“Tidak shah nikah kecuali dengan adanya wali dan dua saksi yang adil.”  (HR Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir /XVIII/142, no. 299 dan Al-Baihaqi /VII/125, dari ‘Imran bin Hushain رضي الله عنه, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahiih Al-Jaami’ush-Shaghiir no. 7557)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ لاَ تُزَوِّجُ الْمَرْأَةُ الْمَرْأَةَ وَلاَ تُزَوِّجُ الْمَرْأَةُ نَفْسَهَا وَالزَّانِيَةُ الَّتِى تُنْكِحُ نَفْسَهَا بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Perempuan tidak bisa mewalikan perempuan. Dan tidak bisa pula perempuan menikahkan dirinya sendiri, dan pezina-lah yang menikahkan dirinya sendiri.”  (HR Ad-Daruquthni / 3: 227. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dan Syaikh Ahmad Syakir)

Menikah harus dengan wali, atau ada ke-izinan dari walinya untuk dinikahkan (ada mandat).

Imam asy-Syafi’i رحمه الله berkata : “Siapa pun wanita yang menikah tanpa izin walinya, maka tidak ada nikah baginya (tidak shah).  Karena Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda, ‘Maka nikahnya bathil’ (tidak shah)”  (Al-Umm /VI/35)

Imam Ibnu Hazm رحمه الله berkata : “Tidak halal bagi wanita untuk menikah, baik janda maupun gadis, melainkan dengan izin walinya : ayahnya, saudara laki-lakinya, kakeknya, pamannya, atau anak laki-laki pamannya…”  (Al-Muhalla /IX/451)

Adapun pendapat Imam Abu Hanifah رحمه الله (Hanafi) yg tidak mempersyaratkan wali dalam pernikahan, dipandang oleh para ulama yg lain dan oleh jumhur kaum muslimin adalah hanya sebagai ijtihad beliau karena keterbatasan kondisi beliau yg tidak sampai banyak keterangan-keterangan hadits kepadanya.  Sebagaimana diketahui, Imam Abu Hanifah tinggal dan beraktifitas jauh dari bumi Hijaz (Mekkah-Madinah) di mana banyak sahabat dan para thobi’in yg mengetahui hadits-hadits Nabi berada.
Ia tinggal di Kuffah (wilayah Iraq) yg minim informasi tentang syariat dibanding wilayah lain, terutama Hijaz. Karenanya banyak fatwa-fatwa beliau mengandalkan ijtihad dan qiyas yg berbeda dengan fatwa-fatwa ulama yg lain.
Sebagai contoh adalah fatwa beliau tentang orang yg mati dalam jihad di peperangan tetap dimandikan dan dikafankan (maksudnya dikafankan sebagaimana orang yg tidak mati dalam jihad di peperangan), dan fatwa beliau tentang rukun sholat yg hanya menyebutkan empat saja, yaitu berdiri tegak, membaca bacaan sholat, ruku, dan sujud.  Dan dalam rukun haji beliau berfatwa hanya ada dua, yaitu wuquf di Arafah dan Thawaf ziarah.
Imam Abu Hanifah رحمه الله adalah seorang Imam yg benar dan menyadari sepenuhnya tentang keadaannya, sehingga ia senantiasa berkata kepada murid-muridnya :

“Jika pendapatku berbeda dengan (maksud) ayat Allah, atau berbeda dengan Al-Hadits, maka tinggalkanlah pendapatku itu..”

Ia pun berkata kepada Abu Yusuf (salah seorang murid terbaiknya) :

“Hai Abu Yusuf, janganlah engkau tulis semua yg kukatakan buat hari ini, sebab kemungkinan esok harinya aku tinggalkan lagi” (Al-Mu’ammal, Syaikh Abu Syamah).

Terlepas dari fatwa Imam Abu Hanifah رحمه الله , bagi setiap orang yg telah datang/sampai keterangan kepadanya, namun ia tetap bersikukuh menyelisihi keterangan-keterangan yg datang tersebut, maka ia berada dalam kesalahan yg besar.  Hanyalah ulama yg terdahulu yg difahami udzurnya, sedangkan para “mukollid” (yg taklid-buta) membela hawa nafsunya dengan berdalih mengambil hujjah dari Abu Hanifah, maka Allah Maha Mengetahui tentang kondisi mereka itu.

Syaikh Ahmad Syakir رحمه الله menasehatkan : “Tidak diragukan lagi oleh seorangpun yang menggeluti ilmu hadits bahwa hadits “Tidak sah pernikahan tanpa wali” adalah hadits yang shahih dengan sanad-sanad yang hampir mencapai derajat mutawatir ma’nawi yang pasti maknanya.  Hal itu merupakan pendapat mayoritas ulama dan didukung oleh fiqih Al-Qur’an, tidak ada yang menyelisihi hal ini –sepengatahuan saya- kecuali para ahli fiqih Hanafiyyah dan yang mengekor (taklid-buta) kepada mereka.  Bagi ulama pendahulu, mereka masih memiliki udzur karena ada kemungkinan belum sampai hadits ini kepada mereka, tetapi bagi orang belakangan, mereka telah dibutakan oleh fanatik madzhab sehingga serampangan dalam melemahkan hadits atau memalingkan artinya tanpa alasan yang kuat.
Kenyataan yang dapat kita saksikan pada kebanyakan negara muslim yang berpegang pada madzhab Hanafiyyah dalam masalah ini adalah kerusakan akhlak/moral dan kehormatan, sehingga menjadikan pernikahan kebanyakan para wanita yang menikah tanpa wali adalah bathil dan merusak nasab.
Saya menghimbau kepada para ulama dan tokoh Islam di setiap negeri dan tempat untuk mengkaji ulang tentang masalah krusial ini dan kembali kepada perintah Allah dan RasulNya berupa persyaratan wali dalam nikah sehingga dengan demikian para wanita akan terselamatkan dari mara bahaya yang menghadang mereka”  (Umdah Tafsir 2/123)___________________________

Sebagian pihak yg menyanggah persyaratan adanya wali-nikah atau perlunya keizinan dari wali yg haq, mereka berdalilkan keterangan-keterangan berikut :

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (beridah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat”  (Qs.Al-Baqarah : 234)

Ada yg menafsirkan ayat ini (…membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yg patut…) adalah pembolehan dari Allah kepada perempuan (yg janda) menikah sendiri tanpa wali.
Dan keterangan hadits :

الثَّيِّبُ أَحَقُّ بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيِّهَا، وَالْبِكْرُ تُسْتَأْمَرُ، وَإِذْنُهَا سُكُوتُهَا

“…Janda lebih berhak kepada dirinya sendiri dibandingkan walinya. Adapun seorang gadis dimintai izin, dan izinnya itu adalah dengan diamnya” (HR Muslim /1421 dari Ibnu Abbas رضي الله عنه)

Penjelasan :
Yg dimaksud dalam ayat (…membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yg patut…) adalah tidak ada dosa bagi para wali untuk membiarkan mereka (perempuan-perempuan) berhias dengan cara yang ma’ruf, bukan dengan cara yang munkar, setelah ia melakukan ihdad (tidak berhias karena sedang berkabung) lantaran kematian suaminya.
Dimungkinkan ada yg suka dan hendak melamarnya setelah itu, sebagaimana pada ayat selanjutnya (Qs.Al-Baqarah : 235) hal itu Allah sebutkan tidak mengapa : “Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang perempuan-perempuan itu dengan sindiran…”

Dan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di atas maksudnya adalah bahwa seorang janda lebih berhak untuk menolak atau menerima lamaran dari seorang laki-laki yg melamarnya.  Walinya tidak lebih berhak dalam urusan tersebut.  Tetapi ketika akad nikah, tetaplah walinya yg menikahkannya.
Inilah yg dimaksud dalam hadits tersebut, sejalan dengan makna hadits yg lain :

لاَ تُنْكَحُ اْلأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ وَلاَ تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ

“Tidak boleh seorang janda dinikahkan hingga ia diajak musyawarah/dimintai pendapat, dan tidak boleh seorang gadis dinikahkan sampai dimintai izinnya.” (HR Bukhori /5136, Muslim /3458)

Ibnul Jauzi رحمه الله berkata : “Adapun hadits Ibnu Abbas (hadits riwayat Muslim di atas), maka Nabi menetapkan bagi si perempuan sebuah hak dan menjadikannya lebih berhak daripada wali, karena memang tugas wali hanyalah melangsungkan akad pernikahan dan tidak boleh baginya untuk menikahkan kecuali dengan izin si perempuan tersebut” (At-Tahqiq 8/292)________________

Hadits yg lain yg juga dijadikan sanggahan terhadap persyaratan perlu adanya wali-nikah adalah:

وَحَدَّثَنِي، عَنْ مَالِك، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَوَّجَتْ حَفْصَةَ بِنْتَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، الْمُنْذِرَ بْنَ الزُّبَيْرِ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ غَائِبٌ بِالشَّامِ، فَلَمَّا قَدِمَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ، قَالَ: وَمِثْلِي يُصْنَعُ هَذَا بِهِ، وَمِثْلِي يُفْتَاتُ عَلَيْهِ، فَكَلَّمَتْ عَائِشَةُ، الْمُنْذِرَ بْنَ الزُّبَيْرِ، فَقَالَ الْمُنْذِرُ: فَإِنَّ ذَلِكَ بِيَدِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ: ” مَا كُنْتُ لِأَرُدَّ أَمْرًا قَضَيْتِيهِ “، فَقَرَّتْ حَفْصَةُ عِنْدَ الْمُنْذِرِ، وَلَمْ يَكُنْ ذَلِكَ طَلَاقًا

Dan telah menceritakan kepadaku, dari Malik, dari ‘Abdurrahman bin Al-Qasim, dari ayahnya : Bahwasannya ‘Aisyah istri Nabi صلي الله عليه وسلم menikahkan Hafshah bintu ‘Abdirrahman dengan Al-Mundzir bin Az-Zubair yang saat itu ‘Abdurrahman sedang berada di Syam. Ketika ‘Abdurrahman tiba, ia berkata dengan kecewa : “Orang sepertiku memang pantas diperlakukan seperti ini, dan tidak pantas dimintai pertimbangan”.  Lalu ‘Aisyah berbicara kepada Al-Mundzir bin Zubair, lalu Al-Mundzir berkata : “Itu terserah ‘Abdurrahman”. ‘Abdurrahman berkata : “Aku tidak akan menolak sesuatu yang telah engkau putuskan”. Maka Hafshah pun tetap menjadi istri Al-Mundzir, dan perkataannya tidak dianggap sebagai thalaq”  (HR Malik dalam Al-Muwaththa’ /1280)

Penjelasan :
Makna “menikahkan Hafshah bintu ‘Abdurrahman dengan Al-Mundzir bin Az-Zubair” bukanlah dalam arti menikahkan dalam akad-nikah, sebagaimana yg dijelaskan Ibnu ‘Abdil-Barr berikut :

Ibnu ‘Abdil-Barr رحمه الله berkata : “Bahwa ‘Aisyah ‘menikahkan’ Hafshah anak perempuan ‘Abdirrahman, saudaranya, dengan Al-Mundzir bin Az-Zubair; (dipahami) bukan sebagaimana zhahirnya.  Perkataan bahwa ‘Aisyah ‘menikahkan’ Hafshah tidaklah dipalingkan – wallaahu a’lam – kecuali pada makna ‘khithbah’ (melamar) dan kinaayah terhadap shadaaq (mahar), keridhoan, dan yang semisalnya selain dari ‘akad pernikahan dengan dalil hadits ma’tsur yang (juga) diriwayatkan darinya (‘Aisyah) : Bahwasannya apabila ia (‘Aisyah) menetapkan perkara khithbah, mahar, dan keridhoan, berkata : ‘Nikahkanlah dan buatlah akad pernikahan, karena para wanita tidak melakukan ‘akad pernikahan”  (Al-Istidzkaar, 6/32 – Al-Maktabah Asy-Syaamilah)

Penjelasan Ibnu ‘Abdil-Barr ini sejalan/tidak bertentangan dengan hadits lain yg juga bersumber dari ‘Aisyah (dengan sanad yg marfu’) tentang bathilnya pernikahan tanpa wali, yaitu :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ بَاطِلٌ بَاطِلٌ

Dari ‘Aisyah, ia berkata : bersabda Rasulullah : “Seorang wanita yang menikah tanpa izin walinya maka pernikahannya adalah bathil, bathil, bathil…” (HR Abu Dawud /2083, Tirmidzi /1102, Ibnu Majah /1879, Ad-Darimi /2/137, Ahmad /6/47,165, Asy-Syafi’i /1543)_______________________________

Dan hadits lain yg dijadikan hujjah untuk menyanggah perlu adanya wali-nikah yg haq adalah :

وخطب المغيرة بن شعبة امرأة هو أولى الناس بها، فأمر رجلا فزوجه

“Al-Mughirah bin Syu’bah melamar seorang perempuan, dan ia sendiri adalah orang yang paling dekat (kekerabatannya) dengan perempuan tersebut.  Lalu ia memerintahkan seorang laki-laki untuk menikahkannya” (HR Bukhori secara mu’allaq; namun disambungkan oleh Wakii’ dalam Mushannaf-nya dan Al-Baihaqi dengan sanad shahih – lihat : Irwaaul-Ghaliil 6/256-257 no.1855)

Penjelasan :
Ini adalah kasus ketika seorang laki-laki melamar seorang perempuan, sedangkan yang hendak dinikahinya itu adalah perempuan yg termasuk di bawah perwaliannya.  Oleh karena itu, Al-Bukhori dalam kitab haditsnya meletakkan riwayat itu dalam bab إِذَا كَانَ الْوَلِيُّ هُوَ الْخَاطِبَ (“apabila wali adalah orang yg melamar”).

Ibnu Qudamah رحمه الله berkata : “Wali seorang perempuan yang diperbolehkan untuk menikahinya antara lain adalah : anak paman dari pihak ayah, maula, hakim, atau sulthon. Apabila perempuan tersebut mengizinkan laki-laki tersebut untuk menikahinya, maka ia boleh menikahinya” (Al-Mughni)_______________________________________________________________

Dan ada hadits lain dari Ummu Salamah رضي الله عنها yg juga sering dijadikan hujjah untuk mengatakan bahwa wali-nikah itu tidak wajib :

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ أُمَّ سَلَمَةَ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنْ أَوْلِيَائِي تَعْنِي شَاهِدًا، فَقَالَ: ” إِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنْ أَوْلِيَائِكِ شَاهِدٌ وَلَا غَائِبٌ يَكْرَهُ ذَلِكَ

Dari Ummu Salamah : Bahwasannya Rasulullah صلي الله عليه وسلم melamar Ummu Salamah. Maka Ummu Salamah berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya tidak ada seorang pun dari wali-waliku yang menyaksikannya”. Beliau bersabda : “Sesungguhnya tidak ada seorang pun dari wali-walimu yang menyaksikannya dan yg tidak menyaksikannya membenci yg demikian” (HR Ahmad 6/295)

Penjelasan :
Hadits riwayat Ahmad ini adalah hadits dho’if, di-dho’ifkan oleh beberapa ahli hadits sehingga tidak bisa dijadikan hujjah.

Demikianlah pemahaman yg benar dari para ulama, sehingga hanya dengan pemahaman yg benar tidak ada satu nash berbenturan dengan nash yg lain.

Kesalahan pengambilan wali-nikah.
Wali nikah bagi seorang perempuan haruslah wali yg lebih dekat, baru kemudian ke yg lebih jauh.
Ulama mengurutkan susunannya sebagai berikut :
1. Bapak dan silsilah keluarga di atasnya (kakek, buyut, dan seterusnya jika ada)
2. Anak laki-laki dan silsilah keluarga di bawahnya (cucu, dan seterusnya)
3. Saudara laki-laki (diutamakan yg sekandung terlebih dahulu)
4. Paman dari pihak bapak
5. Wala’ (orang yg telah membebaskan dirinya dari perbudakan atau mantan tuan)
Paman dari pihak ibu tidak dapat mewalikan, juga anak laki-laki paman dari pihak ibu, dan juga kakek, buyut dan seterusnya dari pihak ibu.
Urutan wali nikah ini menjadi ‘ijma kesepakatan di kalangan jumhur ulama Ahlus-Sunnah, dan urutan yg sedemikian adalah sebagaimana terdapat dalam kitab Al-Mughni, dan kitab lain yg memuat tentang itu adalah Syarhul-Mumti dan Kifayatul-Akhyar dengan sedikit perbedaan.  Susunan wali nikah ini difahami oleh para ulama berdasarkan penelaahan ayat-ayat atau hadits-hadits tentang perwalian dan mawaris.  Susunan itu tidak bisa di-acak-acak, untuk kemaslahatan yg baik secara syar’i bagi semua pihak yg terlibat atas adanya sebuah pernikahan.  Jika pengambilan wali tidak benar, pernikahan akan tidak shah.

Ibnu Qudamah رحمه الله berkata : “Jika ada wali yang lebih jauh menikahkan seorang perempuan, sementara wali yang lebih dekat ada di tempat, kemudian perempuan itu bersedia dinikahkan, sementara wali yang lebih dekat tidak mengizinkan maka nikahnya tidak shah.  Inilah pendapat yang diutarakan Asy-Syafi’i…. karena wali yang jauh tidak berhak, selama wali yang dekat masih ada, sebagaimana hukum warisan (keluarga yang lebih jauh tidak berhak, selama masih ada keluarga yang lebih dekat).”  (Al-Mughni /7: 364)

Al-Buhuti رحمه الله mengatakan : “Jika wali yang lebih jauh menikahkannya, atau orang lain menjadi walinya, meskipun dia hakim (pejabat raja/pemerintah), sementara tidak ada izin dari wali yang lebih dekat maka nikahnya tidak shah, karena tidak perwalian ketika proses akad, sementara orang yang lebih berhak (untuk jadi wali) masih ada.”  (Ar-Raudhul Murbi’ / 336)

Dan setelah jelas keterangan-keterangan dari para ulama tersebut, apakah ada yg akan mengatakan : “Itu semua hanyalah tafsiran para ulama..”
Jika ada yg berkata demikian, apakah dia juga seorang ulama sekelas ulama salaf?   Ataukah perkataannya itu hanyalah upaya untuk melegalkan secara sepihak keinginan hawa-nafsunya?
Ataukah ia juga sudah mengatakan tentang membaca sholawat di dalam sholatnya : “Itu hanya tafsiran ulama, saya lebih suka bersholawat ketika ruku, dan sholat saya tetap baik dan shah..”

Wali-nikah yg masih ada hubungan kerabat saja bisa tidak shah jika pengambilannya tidak berdasar urutan, apalagi yg tidak ada hubungan kekerabatan sama sekali, dengan klaim : wali-hakim.
Sesungguhnya wali-hakim itu adalah ‘sulthon’ (penguasa negeri) sebagaimana disebut dalam hadits Nabi pada uraian sebelumnya.
Jika orang-orang di sekte NII KW-9 dan sekte abu hamzah memahami dengan konsekwen bahwa saat ini daulah belum tegak, seharusnya mereka juga memahami bahwa belum bisa menetapkan adanya wali-hakim pernikahan (sebab wali-hakim itu adalah sulthon/kholifah, sedangkan daulah/kekholifahan belum tegak dan sulthon yg mereka maksud, yaitu kholifah atau Imam penegak syari’at juga belum ada).
Ini berarti bahwa bagi semua perempuan yg dianggap tidak mempunyai wali belum bisa diwalikan oleh siapapun dan mereka belum bisa menikah.
Mereka baru bisa menikah jika daulah/kekholifahan sudah tegak di muka bumi….
Mengapakah untuk permasalahan sholat atau sholat jum’at mereka selalu persyaratkan dengan tegaknya daulah terlebih dahulu, namun untuk permasalahan yg berhubungan dengan duit (yaitu hak memungut zakat maal/harta yg juga ada di tangan sulthon/kholifah) dan urusan yg berhubungan kawin-mengawin para perempuan mereka abaikan persyaratan tegaknya daulah dan adanya seorang kholifah terlebih dahulu?
Subhanallah…

Kesimpulan.

Telah nyata bahwa mereka membuat kesalahan-kesalahan dalam hal ini dan menyelisihi Rasulullah, para sahabat, jumhur thobi’in dan jumhur para ulama.  Mereka bukanlah orang-orang berilmu tetapi berani berfatwa, sehingga fatwa-fatwa mereka adalah fatwa-fatwa bathil.
Dengan kesalahan-kesalahan tersebut mereka mendorong para pengikutnya untuk menikah (atau menikah lagi) dan dikatakan : “Ini ajaran Allah dan Rasul”, padahal sesungguhnya para pengikutnya itu sedang didorong untuk menikah secara tidak shah, atau dengan kalimat lain : sedang diarahkan membuka pintu perzinahan yg lebih langgeng. (Subhanallah…walya’udzu billah…)

Fatwa bathil yg lain.

Ada beberapa hal lagi yg jika diteliti dengan kacamata ‘hujjah’, merupakan kesalahan dan itu berlarut-larut.  Seperti misalnya fatwa pemberian mahar yg maksimal bagi laki-laki yg melamar perempuan, fatwa “mendekat ke inti”, fatwa internalisasi dalam belajar ilmu, dan lain-lain.  Sekilas semuanya memang seharusnya tidak bermasalah, tapi justeru bermasalah dalam prakteknya.
Sekte-sekte ahli-bid’ah lokal seperti LDII, NII KW-9 & kelompok abu hamzah memang terkenal sebagai sekte-sekte berfaham penuh syubhat tapi masing-masingnya merasa paling benar.

Hampir setiap sesuatu yg mereka fatwakan dan gulirkan kepada pengikut-pengikutnya adalah bermasalah, baik mereka sadari ataupun tidak.  Hal ini adalah karena setiap fatwa mereka berangkat dari pola berfikir dan pola berkeyakinan yg salah, sehingga selalu cenderung ke arah yg salah.  Jika ada yg berpendapat bahwa perlu adil kepada mereka, yaitu ikut mereka ketika mereka sesuai dengan Rasul dan para sahabatnya, dan tidak mengikuti mereka ketika mereka berlainan dengan Rasul dan sahabat-sahabatnya, ketahuilah bahwa sejak awal mereka sudah menyelisihi Rasul dan para sahabat, yaitu dengan mengambil pola ber-akidah dan ber-manhaj yg salah.

Mereka menganut akidah dan manhaj ahli-bid’ah, maka apalah artinya hal-hal furu’ jika yg pokoknya sudah bermasalah besar.  Maka apapun yg mereka fatwakan dan gulirkan, adalah bersumber dari hasil pemahaman syubhat akidah ahli-bid’ah dengan manhaj-nya yg menyimpang.

Orang-orang yg masih belajar tentang Islam kepada mereka adalah orang-orang lemah yg memperbodoh diri mereka sendiri dan keadaan mereka ini dikriteriakan buruk oleh Rasulullah صلي الله عليه وسلم dalam haditsnya :

إنّ من أشراط الساعة أن يلتمس العلم عند الأصاغر

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat ialah, dicarinya ilmu itu dari “ashooghir” (HR Ibnul-Mubarak, Ath-Thabrani, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahiihah no. 695)
Ibnul-Mubarak رحمه الله mengatakan : “ ashooghir/orang-orang kerdil adalah ahlul-bid’ah” (Az-Zuhd, hal 21 & 281).

Siapapun yg mengikut ahlul-bid’ah (meskipun hanya sebagian ajaran) sebenarnya adalah orang-orang yg tertipu, siapapun yg membenarkan (meskipun tidak mengikut) adalah orang-orang yg tertipu, bahkan yg bersedia sekedar duduk bareng dalam satu majelis (meskipun tidak terpenga- ruh fahamnya) sebetulnya adalah orang yg tertipu.
Tidak ada keterangan yg dho’if atau maudhu’ sekalipun yg dari Nabi صلي الله عليه وسلم bahwa bersama ahlul-bid’ah mengandung kebaikan, justeru sebaliknya.
Tidak satupun sahabat Nabi dan para ulama Sunnah yg membenarkan kebersamaan dengan para ahlul-bid’ah semisal khawarij atau yg lainnya.
Tidak satupun sahabat Nabi dan para ulama Sunnah yg tidak mengutuk ahlul-bid’ah semisal khawarij atau yg lainnya.

Apakah benar sudah musnah orang-orang berilmu (ulama) sehingga seseorang terpaksa mengais-ngais ‘secuil’ kebenaran di tengah-tengah kerumunan orang-orang yg kerdil, ahlul-bid’ah yg penuh kesesatan?

Sudah separah itukah, atau mungkin ia hanya sedang dalam keadaan tertipu tapi tidak sadar?

Semoga Allah سبحانه و تعالي senantiasa menunjuki kaum Muslimin kepada petunjuk yg benar, petunjuk yg dibawa Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم ,cahaya Al-Qur’an dengan Sunnah RasulNya

Semoga Allah سبحانه و تعالي senantiasa menjauhkan kaum Muslimin dari fitnah dajjal, yg besar maupun yg kecil

Semoga Allah سبحانه و تعالي senantiasa mengampuni orang-orang yg telah tergelincir dan kembali bertaubat

Dan semoga Allah سبحانه و تعالي menurunkan RahmatNya

للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَْيتَنا ، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمة ، إِنّكَ أنتَ الوَّهابُ
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
َاللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ وَالأَبْصَارِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

Al-Faqir, Hamba Allah

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Pos ini dipublikasikan di belajar islam, belajar tafsir, Islam, kelompok Islam, Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

12 Balasan ke Ajaran dan fatwa-fatwa bathil (2)

  1. naira (@naira1106) berkata:

    Adapun pendapat Imam Abu Hanifah رحمه الله (Hanafi) yg tidak mempersyaratkan wali dalam pernikahan, dipandang oleh para ulama yg lain dan oleh jumhur kaum muslimin adalah hanya sebagai ijtihad beliau karena keterbatasan kondisi beliau yg tidak sampai banyak keterangan-keterangan hadits kepadanya. Sebagaimana diketahui, Imam Abu Hanifah tinggal dan beraktifitas jauh dari bumi Hijaz (Mekkah-Madinah) di mana banyak sahabat dan para thobi’in yg mengetahui hadits-hadits Nabi berada.
    Ia tinggal di Kuffah (wilayah Iraq) yg minim informasi tentang syariat dibanding wilayah lain, terutama Hijaz. Karenanya banyak fatwa-fatwa beliau mengandalkan ijtihad dan qiyas yg berbeda dengan fatwa-fatwa ulama yg lain.
    Sebagai contoh adalah fatwa beliau tentang orang yg syahid di peperangan tetap dimandikan dan dikafankan (maksudnya dikafankan sebagaimana orang yg tidak syahid), dan fatwa beliau tentang rukun sholat yg hanya menyebutkan empat saja, yaitu berdiri tegak, membaca bacaan sholat, ruku, dan sujud. Dan dalam rukun haji beliau berfatwa hanya ada dua, yaitu wuquf di Arafah dan Thawaf ziarah.
    ———————————————————-
    ^@: boleh saya minta sumber data diatas?

    • Al-Faqir berkata:

      Imam Abu Hanifah رحمهم الله tidak mempersyaratkan wali dalam pernikahan adalah hal yang sudah masyhur di kalangan para tholibil ‘ilmi, setiap yang pernah belajar tentang fiqh ini mesti tahu. Pendapat ulama yang memaklumi keadaan beliau (Imam Abu Hanifah رحمهم الله ) bisa kita lihat dari ucapan Syaikh Ahmad Syakir رحمهم الله di dalam tulisan tersebut.
      Adapun fatwa-fatwa Abu Hanifah lainnya saya ambil dari buku kecil yang disusun oleh H.Ahmad Abdul Madjid MA berjudul : Fiqh Islam dari Masa ke Masa, Ungkapan Mengenai Fiqh Islam Yang Flexibel dan Menentang Fanatik Madzhab, diterbitkan tahun 1987 oleh Penerbit GBI (anggota IKAPI) Pasuruan Jawa Timur.
      Penyusun buku ini banyak mengambil keterangan dari “MANHAJ FII TASYRIL ISLAMI” Dr.Muh.Bultaji, “AL-MUAMMAL” Syaikh Abu Syamah, TA’SISUL QUR’AN” Dr Fathulah Badran dan kitab-kitab tafsir serta fiqh klasik seperti Fathul-Qodir, Subulus-Salam (Syaroh Bulughul Marom), Al-Um Imam Syafi’i dan lain-lain.
      Demikian, ya akhi..Jazakalloh khoir atas komentarnya, semoga bermanfaat.

      • naira (@naira1106) berkata:

        wa jazakallahu khoir…
        —————————————-
        “Dan ada hadits lain dari Ummu Salamah رضي الله عنها yg juga sering dijadikan hujjah untuk mengatakan bahwa wali-nikah itu tidak wajib :
        عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ أُمَّ سَلَمَةَ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنْ أَوْلِيَائِي تَعْنِي شَاهِدًا، فَقَالَ: ” إِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنْ أَوْلِيَائِكِ شَاهِدٌ وَلَا غَائِبٌ يَكْرَهُ ذَلِكَ
        Dari Ummu Salamah : Bahwasannya Rasulullah صلي الله عليه وسلم melamar Ummu Salamah. Maka Ummu Salamah berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya tidak ada seorang pun dari wali-waliku yang menyaksikannya”. Beliau bersabda : “Sesungguhnya tidak ada seorang pun dari wali-walimu yang menyaksikannya dan yg tidak menyaksikannya membenci yg demikian” (HR Ahmad 6/295)
        Penjelasan :
        Hadits riwayat Ahmad ini adalah hadits dho’if, di-dho’ifkan oleh beberapa ahli hadits sehingga tidak bisa dijadikan hujjah.”
        ———————————————————————-
        ^@ : boleh tau sumber yg mendho’ifkan hadits ini?
        saya saran untuk penjelasannya tolong dicantumin sumbernya apalagi soal derajat hadits
        ———————————————————————
        “Siapapun yg mengikut ahlul-bid’ah (meskipun hanya sebagian ajaran) sebenarnya adalah orang-orang yg tertipu, siapapun yg membenarkan (meskipun tidak mengikut) adalah orang-orang yg tertipu, bahkan yg bersedia sekedar duduk bareng dalam satu majelis (meskipun tidak terpenga- ruh fahamnya) sebetulnya adalah orang yg tertipu.”
        —————————————————————————————
        ^@: apakah ini fatwa ulama? boleh tau keterangan lebih jelasnya?

        • Al-Faqir berkata:

          Ada baiknya anda mengunjungi Abul-Jauza.blogspot.com dan lihat tulisannya : “Nikah tanpa wali”
          Beliau adalah seorang ustadz yang mempunyai kemampuan mengemukakan takhrij hadits, beberapa hadits dikemukakan ditakhrijnya oleh beliau.
          Hadits itu juga dikemukakan di sana, tapi sayangnya saya terlewat bagian takhrij hadits itu. Jika anda kemudian anda dapat informasinya, saya akan bersenang hati jika dapat yang lebih lengkap. Koreksi selalu perlu untuk lebih baik.

          Mengenai bagian akhir pertanyaan anda, bacalah ulang “Ahlul-bid’ah khawarij lokal (1)”. Di situ (di bagian akhir) ada perkataan2 para ulama yang melarang duduk di majelis ahlul-bid’ah. Jika anda fahami dengan baik, anda akan mengerti maksud yang anda tanyakan. Bacalah perlahan, tidak usah buru-buru.
          Yang anda tanyakan itu bukan bentuk fatwa. Tidak ada fatwa yang kalimatnya seperti itu.

          Hanya saran buat saudaraku naira, ambil saja manfaatnya dari tulisan ini jika ada manfaatnya, itulah yang lebih baik. Menjauhlah dari pernikahan bathil dan fahamilah pernikahan yang lebih baik sebagaimana yang telah difahami oleh jumhur ulama salaf dan ulama muta’akhirin.
          Jika anda merasa tidak ada manfaatnya, tentu tidak mengapa untuk ditinggalkan. Jazakallah atas perhatian naira terhadap tulisan ini…Mudah2an Allah datangkan pahala atas keikhlasan kita…

  2. Askar muslim berkata:

    Assalamu’alaikum,yaa akhi al-faqir.barokallohu fik,membaca tulisan-tulisan antum,smoga menjadi pencerahan bagi umat islam akan bahayanya menyelisihi Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam..wa ba’du,pernahkah antum berhujjah langsung/dialog ilmiyyah dgn pimpinan sekte tsb(abu hamzah,dll)?dan iqomattul hujjah, sehingga mrk sadar akan kekeliruannya?kalau via internet agak sulit diterima/dibaca mrk,apalagi kan kbrnya internet haram menurut mrk(tp kalo urusan bisnis/cari2 info produk,haram ga tuh)?

  3. Askar muslim berkata:

    Bgm dgn istidlal(pendalilan) Qs.60 ayat 12 yg dipakai mrk sbg standar islam/tdknya seseorang?bukankah Rosululloh telah menjelaskan dlm bnyk hadits,apa itu islam,iman,ihsan.jg dlm hadits dr ubadah bin shamit tentang ba’iat aqobah,di akhir hadits,yg artinya(..maka siapa yg menepati janji,ia dpt pahala dr Allah dan siapa yg melanggar maka ia dihukum di dunia,siapa yg ditutupi oleh Allah,maka ia dlm kehendak-Nya..)apakah Rosul menjadikan pelanggaran smua pasal ba’iat tsb sbg syarat keluarnya seseorang dr islam?

    • Al-Faqir berkata:

      Ya, ini adalah salah satu faham syubhat mereka. Sebelumnya mereka memisahkan Islam dan Iman berdasarkan Qs.Al-Hujuraat:14, kemudian orang2 yg keislamannya dinilai baik karena dianggap memenuhi kriteria Qs.Al-Mumtahanah:12 mereka anggap orang yg beriman dengan baik (mendapat cap hijau dari pemimpin). Standar tertinggi keimanan di kalangan mereka adalah jika sudah bisa meninggalkan/memusuhi orang-tua, isteri, anak, atau keluarganya yg dianggap kafir, berdasarkan Qs.Al-Mujaadilah:22.

  4. si merah berkata:

    Asalamu’alaikum akhi al faqir, jazakallah khairon katshiron, setelah membaca dgn teliti tulisan” antum, ana jd lebih kebuka lagi hatinya, ana jg belum lama ni keluar dr firqoh agus, ana mau tanya dikit gimana kalo ama orang yg sudah terlanjur menikah dgn wali yg ga sah tadi karna kebodohanya dulu yg nurut aja pa yg dikatakan gurunya, ana minta saran”nya kebetulan saudara saya ada yg nikah spt itu?

    • Al-Faqir berkata:

      بسم الله الرحمن الرحيم
      Waalaikumussalam warohmatullah.

      Pernikahan yg seperti ini disebut pernikahan syubhat dan hubungan badan yg terjadi juga adalah hubungan syubhat. Kondisi syubhat berbeda dengan kondisi sebelum Islam di mana pernikahan atas landasan adat diakui dan tidak disuruh diulang akad nikah lagi setelah Islam.
      Syaikh Muhammad bin Ibrahim dalam Fatawa war-Rasail memfatwakan tentang pernikahan syubhat agar dihentikan dan menjelaskan syubhat2 (kekaburan/kerancuan2) faham kpd mereka dan hendaknya mereka mengulang akad di hadapan pihak2 yg terkait dengan wali-nikah yg haq.
      Anak2 yg terlahir tetap anak2 yg ternasabkan kepada bapaknya (normal), karena hubungan yg terjadi adalah hubungan syubhat di mana mereka sebelumnya meyakini bahwa hubungan itu sah (padahal tidak sah).
      Demikian ya akhi…semoga Allah mengampuni kita

      التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لا ذَنْبَ لَهُ

      ”Orang yang bertaubat (dengan benar) dari suatu dosa seperti orang yang tidak mempunyai dosa” [HR. Al-Hakim 2/349, Ibnu Majah no. 4250, dan yang lainnya ; hdts hasan].

    • Al-Faqir berkata:

      Saya lengkapi jawaban masalah ini demikian :
      Pernikahan sedemikian rupa diistilahkan dengan “pernikahan syubhat” :

      وَضَابِطُ نِكَاحِ الشُّبْهَةِ أَنْ يَنْكِحَ نِكَاحًا فَاسِدًا مُجْمَعًا عَلَى فَسَادِهِ لَكِنْ يُدْرَأَ الْحَدُّ كَأَنْ يَتَزَوَّجَ بِمُعْتَدَّةٍ أَوْ خَامِسَةٍ أَوْ ذَاتِ مَحْرَمٍ غَيْرِ عَالِمٍ وَيَتَلَذَّذُ بِهَا أَوْ يَطَأُ امْرَأَةً يَظُنُّهَا زَوْجَتَهُ فَيَحْرُمُ عَلَيْهِ أَصْلُ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ وَفَرْعُهَا
      “Batasan Nikah Syubhat adalah ia menikah dengan pernikahan yang fasad/rusak/tidak sah, yang telah disepakati/ijma’ akan fasidnya, akan tetapi hukum had ditolak (tidak ditegakkan, seperti ia menikah dengan seorang wanita yang masih dalam masa ‘iddah, atau dengan istri yang kelima, atau dengan wanita yang masih merupakan mahramnya, dalam kondisi ia tidak mengetahui hal tersebut dan ia telah berledzat-ledzat dengannya, atau ia menjima’ seorang wanita yang ia sangka adalah istrinya. Maka diharamkan baginya asal dan furu’ dari setiap wanita tersebut” (Ats-Tsamr Ad-Daani fi Tqriib al-Ma’aani, syarh Risaalah Ibni Abi Zaid Al-Qoyrowaani, oleh Sholih bin Abids Samii’ Al-Aaabi Al-Azhari, hal.352, cet.Mushthofa Al-Baabiy Al-Halabi, 1338 H)

      Menikah tanpa ada izin dari wali yg haq termasuk pernikahan yg tidak sah dan haram dan menurut jumhur ulama, berdasarkan hadits :

      أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَإِنْ دَخَلَ بِهَا فَلَهَا الْمَهْرُ بِمَا اسْتُحِلَّ مِنْ فَرْجِهَا فَإِنْ اشْتَجَرُوْا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهَا

      “Perempuan mana saja yang menikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batil, nikahnya batil, nikahnya batil, dan apabila ia telah masuk padanya (perempuan), baginya mahar dari dihalalkannya kemaluannya, dan apabila mereka berselisih, maka sulthon/penguasa adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali.” (HR Abu Daud no. 2083, At-Tirmidzy no. 1102, Ibnu Majah no. 1879, dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam At-Tamhid 19/85-87. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. 1840)

      Imam asy-Syafi’i رحمه الله berkata, “Siapa pun wanita yang menikah tanpa izin walinya, maka tidak ada nikah baginya (tidak shah). Karena Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda, ‘Maka nikahnya bathil’ (tidak shah)” (Al-Umm /VI/35)

      Ketika semua itu terjadi lantaran ketidak-tahuan hukum (menyangka bahwa itu halal) pernikahan inipun menjadi pernikahan syubhat.
      Abul-Fadhl Sholih رحمه الله (putra Imam Ahmad) berkata : “Dan aku bertanya kepada Imam Ahmad tentang seorang wanita yang menikah tanpa izin walinya, lalu lelaki yang menikahinya menjatuhkan talak tiga kepadanya, lalu setelah itu wali sang wanita membolehkan pernikahan, maka apakah sang wanita halal (untuk dinikahinya kembali) sebelum dinikahi oleh lelaki yang lain, karena pernikahan yang pertama adalah pernikahan yang fasid (rusak)?”
      Imam Ahmad رحمه الله berkata : “Wanita tersebut tidak boleh kembali kepadanya, karena pernikahan pertama jika membuahkan anak maka anak tersebut akan mengikuti sang lelaki, karena ini adalah nikah syubhat. Maka tidak halal baginya kecuali jika telah dinikahi oleh lelaki yang lain” (Masaail Al-Imaam Ahmad bin Hanbal, riwayat Abul-Fadhl Sholih 2/338 no 975)
      Laki2 & perempuan yg melakukan pernikahan syubhat tanpa mengetahui hukumnya maka keduanya tidak berdosa karena kejahilan, akan tetapi pernikahan tersebut harus segera dibatalkan (dipisahkan keduanya). Mereka harus mengulang akad nikah dgn wali yg haq jika hendak terus bersama.
      Anak2 yg terlahir tidak dikategorikan sebagai anak2 hasil zina, tetapi sebagaimana anak2 hasil pernikahan yg sah (lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah 21/70-71 no 2195 tentang hukum anak-anak hasil pernikahan antara seorang lelaki dengan saudari sepersusuannya).

      Jika ternyata kedua belah pihak (laki2 & perempuan yg menikah syubhat) mengetahui kebatilan pernikahannya dan tetap bersikukuh untuk menikah maka keduanya dianggap telah berzina dan melakukan dosa besar, bahkan harus ditegakan hukum had atas keduanya karena telah melakukan perzinahan. Dan jika ternyata pernikahan tersebut membuahkan anak maka sang anak dinisbahkan kepada ibunya, dan tidak boleh dinisbahkan kepada ayahnya karena merupakan anak zina.
      Jika tatkala terjadi pernikahan, sang wanita mengetahui kebatilan pernikahan tersebut sementara sang lelaki tidak mengetahuinya maka yang dianggap telah berzina adalah sang wanita, dan anak hasil pernikahan tersebut tetap dinisbahkan kepada sang lelaki karena ia tidak mengetahui hukumnya. (lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah 20/387 no 3408)

      Perkenankan saya memberikan ingat kepada teman2 ex-FAH yg telah terlanjur menikah syubhat : Ikutilah apa yg difatwakan para ulama kaum muslimin dunia, jangan membuat fatwa sendiri dan jangan mencari fatwa kpd org2 yg tdk berilmu hanya karena mencari enaknya saja untuk memperturutkan hawa-nafsu. Masalah ini bukan masalah remeh dan mempunyai resiko yg sangat besar. Apa yg anda buat akan dipertanggung-jawabkan di akhirat…

  5. bang duel berkata:

    wah bisa shering neh, mas mo tanya, saya belom lama masuk islam, terus sy belajar ma orang diderah tanah abang, jamaah tablig, tp saya islam bukan mao tujuan kawin, setelah beberapa lama saya sedikit ngarti, sy punya niatan kawin gitu loh…, kebetulan sy naksir ama tetangga, tp orang tuenye galak, yaah namenye naksir and punya niatan baek, sy sih hormat aje, cuman kate dipengajian kan tate carenye kudu peke aturan juga, ikut penghulu nabinye, emang sih ay juga pernah ngeliat temen yang nikah pake care islam, wah sederhane banget. intinye keluarga dah pade stuju, cuman kan namenye anak atu-atunye pengenye dirayain gitu, kan tau sendiri kalo adat betawi biasenye kalo ade keriaan acaranye macam-macem, yang kate guru ay itu musyrik, nah enne problemnye mas, sy jadi gallaow, tadinye sih pengen nurut aje gitu, cuman kan kalo ade unsur yang kaya bgituan ane jedi ngeri mas, ade yang bisa kasih solusi gak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s