Silaturrahim

Silaturrahim

بسم الله الرحمن الرحيم
إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلاَّ الله وحده لا شريك له وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله. فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار .

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم Wa Ba’du :

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

بُلُّوْا أَرْحَامَكُمْ وَ لَوْ بِالسَّلاَمِ

“Sambunglah (silaturrahim) terhadap kerabat kalian walaupun hanya dengan (mengucapkan) salam”.  (Ibnu Hibban, Ibnu Asakir, Al-Bazzar dan Ath-Thabrani. Syaikh Al-Albani berkata : “Hasan”, dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir : 2838)

Silaturrahim berasal dari kata  رَحِمَ  (Rohima, dengan huruf Ra difathah dan huruf ‘ha dikasrah) yg secara bahasa bisa berarti mengasihi, atau dalam bentuk ‘isim’  رَحِمٌ  ia bisa berarti rahim/peranakan ibu, hubungan-kekerabatan.

Ibnu Hajar Al-Atsqollani رحمه الله di dalam kitabnya Fathul-Baari mendefinisikan bahwa kata “rahim” digunakan untuk kaum kerabat dan mereka adalah orang-orang yg di antara sesama mereka memiliki hubungan nasab, baik mewariskannya atau tidak, baik memiliki hubungan mahram atau tidak.
Secara khusus, makna silaturrahim adalah menjaga/menjalin hubungan-baik dengan kaum kerabat, baik yg dekat atau yg jauh.
Sedangkan silaturrahim dengan yg bukan kerabat di antara kaum muslimin adalah makna yg lebih luas , karena Allah mengatakan bahwa orang-orang beriman adalah bersaudara (dalam Qs.Al-Hujuraat : 10).
Akan tetapi makna khusus silaturrahim ini lebih kuat dan utama kepada kaum kerabat/keluarga terlebih dahulu.   Dan yg termasuk kerabat, baik yg mahram atau yg bukan adalah yg mempunyai pertalian nasab dan juga karena adanya hubungan sebab terjadinya pernikahan.

Silaturrahim adalah perintah Allah di dalam Al-Qur’an.

Allah سبحانه و تعالي berfirman :

واتقوا الله الذى تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرحام…

“Dan bertaqwalah kepada Allah Yang dengan (nama)Nya kamu saling meminta satu-sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturrahim”  (Qs.An-Nisaa : 1)

وَ الَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَهُمُ اللهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَ يَخَافُونَ سُوءَ اْلحِسَابِ

“Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan (yakni silaturahmi) dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk”  (Qs.Ar-Ra’d : 21)

Silaturrahim dengan keluarga

Perintah Allah pada ayat-ayat di atas berlaku untuk orang-orang beriman, menyambung tali kekeluargaan kepada kerabat/keluarga.  Ini lebih berat kepada penjagaan garis nasab atau yg berhubungan dengan itu.

Hadits Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : اعْرِفُوْا أَنْسَابَكُمْ تَصِلُوْا أَرْحَامَكُمْ فَإِنَّهُ لاَ قُرْبَ بِالرَّحِمِ إِذَا قُطِعَتْ وَ إِنْ كَانَتْ قَرِيْبَةً وَ لاَ بُعْدَ بِهَا إِذَا وُصِلَتْ وَ إِنْ كَانَتْ بَعِيْدَةً

Dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما berkata, telah bersabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم : “Kenalilah nasab kalian yang kalian dapat menyambung silaturrahim. Karena sesungguhnya tiada kedekatan terhadap kerabat apabila silaturrahim itu telah diputus meskipun terhadap kerabat dekat. Dan juga tidak ada jarak yang jauh terhadap kerabat apabila silaturrahim telah disambung kendatipun terhadap kerabat jauh. (Abu Dawud ath-Thoyalisiy di dalam kitab musnadnya dan Al-Hakim : 308, 7365.  Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah : 277 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir : 1051).

Kepada siapakah lebih dulu bersilaturrahim?

Allah سبحانه و تعالي berfirman :

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

“Dan sembahlah Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak, kepada kaum kerabat, kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, kepada tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba-sahaya, sesugguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri”  (Qs.An-Nisaa : 36)

“Berbuat baik” (احسن) dalam ayat ini dimulai dari ibu bapak, kerabat, dan seterusnya…

Hadits Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ الصُّحْبَةِ قَالَ « أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أَبُوكَ ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَ

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ada seseorang yang bertanya, “Ya, rasulullah siapakah orang yang paling berhak aku berbuat baik kepadanya?” Nabi bersabda, “Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian bapakmu, kemudian kerabat yang dekat dan yang dekat”  (HR.Muslim no.6665).

Makna berbuat baik terpenting di sini adalah menyambung silaturrahim.
Dalam memahami hal ini, Syaikh Abdullah Al-Bassam رحمه الله mengatakan : “..bentuk menjalin hubungan kekerabatan (silaturrahim) itu berbeda-beda tergantung kedekatan hubungan dan kemampuan serta kebutuhan” (Taudhih al-Ahkam 7/324-325).

Ibnu Hajar Al-Atsqollani رحمه الله mengatakan tentang menjaga hubungan dengan kerabat/keluarga adalah dengan memberi kepada kerabat, memperhatikan keadaan mereka, dan mudah melupakan kesalahan mereka (Fathul Baari 17/115).

Bagaimana dengan ibu bapak atau kerabat yg kafir?

Allah سبحانه و تعالي berfirman :

لاَ يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”  (Qs.Al-Mumtahanah : 8)

Berbuat baik dalam ayat ini adalah menyambung tali kekeluargaan dan memberi kepada orang tua atau kerabat meskipun ia kafir.

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan riwayat sebagai berikut :

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَتْ قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَفْتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ وَهِيَ رَاغِبَةٌ أَفَأَصِلُ أُمِّي ؟ قَالَ: نَعَمْ صِلِي أُمَّكِ

Dari Asma` binti Abu Bakar رضي الله عنها berkata : “Ibuku yang musyrik, pada masa Rasulullah, datang mengunjungiku. Maka aku meminta fatwa kepada Rasulullah. “Ibuku mengunjungiku dengan mengharap hubungan baik. Apakah aku boleh menyambung (hubungan) dengannya?” Rasul menjawab, “Sambunglah (hubungan dengan) ibumu!” (HR Bukhori-Muslim)

Di dalam Asbabun-Nuzul tafsir Jalalain disebutkan : “Ayat ini (Qs.Al-Mumtahanah : 8) turun berkenaan dengan peristiwa itu (yaitu Asma’ dan ibunya) yg menegaskan bahwa Allah tidak melarang berbuat baik kepada orang kafir yg tidak memusuhi (memerangi) agama Allah”.

Ibnu Jarir Ath-Thobari رحمه الله mengatakan : “Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik, menjalin hubungan dan berbuat adil dengan setiap orang dari agama lain yang tidak memerangi kalian dalam agama.  Karena Allah سبحانه و تعالي berfirman (yang artinya), “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu“.
Setiap orang yang mempunyai sifat dalam ayat ini patut bagi kita berlaku ihsan (baik) padanya.  Tidak ada yang dikhususkan dari yang lainnya.”  (Jaami’ul Bayan fii Ta’wilil Qur’an, Ibnu Jarir Ath-Thobari, Muhaqqiq : Ahmad Muhammad Syakir, 23/323, Muassasah Ar-Risalah, cetakan pertama tahun 1420 H.)

Qatadah رحمه الله mengatakan bahwa surat Al-Mumtahanah ayat 8 telah di-mansukh hukumnya dengan surat At-Taubah ayat 5, akan tetapi hal ini dibantah oleh Ibnu Jarir Ath-Thobari رحمه الله , ia mengatakan :

“Pendapat yang benar dalam memaknai ayat “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu…” (al-Mumtahanah : 8) bahwa ayat ini berlaku bagi seluruh jenis aliran dan agama karena Allah سبحانه و تعالي menyebutkan secara umum meliputi siapa pun yang tidak memerangi dan tidak mengusir kaum mukminin, tidak ada pengkhususan.
Ayat ini tidaklah dihapuskan hukumnya (mansukh), karena seorang mukmin tidak diharamkan atau tidak dilarang berbuat baik kepada orang kafir harbi, baik yang ada hubungan nasab kekerabatan maupun tidak, jika hal itu tidak mengakibatkan mereka menyingkap rahasia kaum muslimin atau menguatkan mereka dengan kuda-kuda perang atau senjata” (Tafsir Ath-Thobari).

Selain Ath-Thobari, demikian juga Al-Imam Asy-Syafi’i رحمه الله berpendapat bahwa ayat ini muhkamat (tetap berlaku hukumnya).
Al-Qurthubi رحمه الله menukil bahwa jumhur ulama ahli tafsir berpendapat ayat ini muhkamat (tetap berlaku hukumnya, tidak mansukh) (lihat tafsir Al-Qurthubi Qs.60 : 8-9)

Al-Bukhori رحمه الله di dalam kitab shohihnya mencantumkan dalam satu bab berjudul : “Bab al-Hadiyyah lil Musyrikin, wa Qaulillah سبحانه و تعالي : “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (Al-Mumtahanah : 8)”

Ibnu Hajar Al-Atsqollani رحمه الله menjelaskan : “Maksud ayat ini adalah menjelaskan siapa saja yang diperbolehkan untuk berbuat baik kepadanya. Juga menjelaskan bahwa tentang diperbolehkannya memberi hadiah atau tidak kepada orang musyrik, tidak dapat dihukumi secara umum (mutlak). Di antara ayat yang serupa dengan ayat ini adalah:
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik” (Luqman: 15)”

Dalam satu riwayat diceritakan bahwa seorang budak wanita kepunyaan Ummul Mukminin Shofiyah رضي الله عنها, pernah mendatangi Amirul Mukminin Umar bin Khathab رضي الله عنه seraya berkata : “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Shofiyah menyenangi hari sabtu dan bersilaturrahim kepada orang Yahudi”.
Maka Umar bin Khaththab pun segera mengirim utusan kepada Shofiyah untuk menanyakan hal itu, Shofiyah pun menjawab : ”Adapun hari sabtu, aku tidak menyenanginya setelah Allah menggantinya dengan hari Jumat.
Sedangkan orang Yahudi, karena aku mempunyai kerabat dari kalangan mereka dan aku hendak menyambung tali kekeluargaan (silaturrahim) dengan mereka”
Kemudian dia menemui budaknya dan menanyakan keberaniannya menuduh bahwa dia (Shofiyah) menyenangi hari sabtu.  Maka budak itupun menjawab : ”Itu adalah bisikan syetan”, dan akhirnya Shofiyah berkata : ”Pergilah, karena engkau telah merdeka..” (HR Ibnu Abdil-Barr dalam Al-Istii’ab, Ibnu Hajar Al Atsqollani dalam Al-Ishabah)
Dalam keterangan tersebut Umar tidak masalahkan hubungan Shofiah dengan yahudi-yahudi kerabatnya.


Apakah ‘berbuat baik’ dan ‘berlaku adil’ sama dengan berkasih-sayang terhadap orang-orang kafir ?

Berbuat baik dan berlaku adil terhadap ibu bapak dan kaum kerabat yg kafir tidak sama dengan berkasih sayang atau “berwali” (ber-loyal) dengan mereka.
Allah سبحانه و تعالي berfirman (yg artinya) : “Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Mujadilah : 22)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Atsqollani رحمه الله menegaskan bahwa berbakti, silaturahim, dan berbuat baik tidaklah mengharuskan adanya kecintaan dan kasih sayang yang dilarang dalam firman Allah سبحانه و تعالي : “Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka.”  (Fathul-Baari 5/233).

Di dalam tafsir Ibnu Katsir surat Al-Mujadilah ayat 22 disebutkan tentang para sahabat Nabi yg berperang hingga membunuh bapak, saudara, atau kerabatnya di perang Badr.
Ini adalah hal khusus/tersendiri, karena dalam peperangan dua pasukan (battle) yg ada hanyalah kriteria “membunuh atau terbunuh” terhadap lawan.  Kaum keluarga mereka adalah orang-orang yg memerangi Islam dan kaum muslimin dengan senjata, pada saat-saat seperti inilah terujilah keimanan para sahabat terhadap Allah dan RasulNya.
Di dalam perang Badr itu pun ada orang-orang yg justeru ‘beriman’ namun karena tidak berhijrah, mereka dipaksa berperang (oleh orang-orang kafir) dan berada di barisan musuh.  Mereka ini pun disikapi sama, yaitu diperangi dalam peperangan itu hingga bisa terbunuh juga (lihat tentang permasalahan ini dalam tafsir Ibnu Katsir & tafsir As-Sa’di Qs.An-Nisaa : 97).

Selain dari keterangan-keterangan di atas, masih banyak ulasan-ulasan dari para ulama (orang-orang yg berilmu) yg menjelaskan bahwa silaturrahim kepada ibu bapak atau kerabat yg kafir tetap menjadi perintah Allah yg harus dilaksanakan oleh orang-orang yg beriman.   Allahu A’lam.

Ahlul-bid’ah berfaham takfir yg memutus silaturrahim (hubungan kekerabatan)

Bid’ah adalah sesuatu yg baru yg diada-adakan. Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

وَإِيَّاكُمْ وَمُـحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُـحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ …

“…Dan awaslah kalian dari perkara-perkara yang baru, karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR.Ahmad 4/126, Ad-Darimi 1/57, At-Tirmidzi 5/44, Ibnu Majah 1/15, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul-Jannah hal.26, 34)

Bid’ah di sini adalah bid’ah dalam syariat, yaitu faham atau ajaran dalam Islam yg dibuat-buat/diada-adakan yg tidak diajarkan oleh Allah dan RasulNya.  Faham takfir (mengkafirkan orang Islam yg lain tanpa dasar ilmu dan tanpa dalil syar’i) adalah bid’ah pertama dalam sejarah Islam, sebagaimana yg diungkapkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله :

“Oleh karena itu, wajib berhati-hati dari memvonis kafir kaum muslimin dengan sebab dosa dan kesalahan, karena itu merupakan bid’ah yang pertama muncul dalam Islam (faham khawarij).  Mereka mengkafirkan kaum muslimin dan menghalalkan darah dan harta mereka”  (Majmu’ Fatawa 13/31)

Bid’ah faham takfir ini terjadi karena menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an tanpa ilmu yg utuh tentang As-Sunnah (ulasan panjang tentang hal ini dibahas dalam tulisan yg lain).

Efek dari faham takfir ini adalah memutuskan tali silaturrahim terhadap orang tua dan keluarga, karena mereka dianggap kafir lantaran banyak salah, menyimpang atau dianggap tidak berhukum dengan Al-Qur’an dan mengkufuri ayat-ayat Allah.
Banyak di antara mereka tidak bertemu dan tidak berhubungan lagi dengan kaum keluarga atau kaum kerabat mereka sudah selama puluhan tahun.  Mereka adalah anak-anak perempuan yg lari dari rumah orang-tuanya ;  isteri-isteri yg meninggalkan suami-suami mereka ; laki-laki yg meninggalkan anak-anaknya dan keluarganya, dan lain-lain.
Mereka telah memutus silaturrahim…
Mereka adalah orang-orang yg dianggap “beriman dengan baik” di sekte NII KW-9 dan sekte abu hamzah.  Semakin baik keimanan seseorang, akan semakin putus silaturrahimnya….Inilah ajaran Islam dalam sekte-sekte itu yg dikatakan : “pemahaman berdasarkan wahyu Allah dalam Al-Qur’an”.

Jika melihat ulasan-ulasan di atas, para ahlul bid’ah berfaham takfir seperti ini telah melakukan kesalahan “murokkab” (bertumpuk).
Pertama : salah dalam faham takfirnya dan kedua : salah dalam memahami silaturrahim.

Bagaimanakah akibat dari kesalahan berfaham takfir dan kesalahan memutus silaturahim?

Mengkafirkan orang Islam yg lain harus benar-benar melalui penelaahan yg serius tentang nash-nash syar’i ; ayat-ayat Al-Qur’an yg ditafsirkan dengan benar (melihat secara menyeluruh keterangan dari berbagai ulama tafsir yg tsiqoh), hadits-hadits yg ditakhrij dan ditafsirkan oleh para ulama hadits yg ahli dalam masalah itu, kemudian zhohir perbuatan orang yg dikafirkan memang nyata-nyata memenuhi kriteria secara syar’i dan telah ditegakkan kepadanya hujjah dan mahajjah.
Jika mengkafirkan secara serampangan tanpa penguasaan dalil syar’i yg lengkap, maka akan terjadi kesalahan yg besar, yaitu mengkafirkan seorang muslim yg tidak kafir. Akibatnya adalah ‘kekafiran’ bagi orang yg mengkafirkan tersebut.

Perhatikan sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

ومن دعا رجلا بالكفر أو قال عدو الله وليس كذلك إلا حارت عليه…

…Dan barang siapa memanggil seseorang dengan kafir atau dia berkata, ‘Musuh Allah’, dan orang yang dipanggil itu tidak seperti yang dituduhkannya, maka apa yang dituduhkannya akan kembali kepadanya.”  (HR.Bukhori / 61-Kitab Al Manaqib, 5- Bab Haddatsana Abu Ma’mar.  Muslim /1- Kitab Al Iman, hadits 112)

إذا قال للآخر كافر فقد كفر أحدهما إن كان الذي قال له كافرا فقد صدق وإن لم يكن كما قال له فقد باء الذي قال له بالكفر

“Apabila seseorang berkata kepada orang lain, ‘Kafir!,’ maka salah satunya telah kafir.  Jika orang yang dikatakan kafir itu (benar) kafir, maka orang yang mengatakan itu benar.  Jika orang yang dikatakan itu tidak seperti yang dikatakannya, maka ucapan kufur tersebut kembali kepada diri orang yang mengatakannya.”  (HR.Muslim, 1/529)

Menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan benar tidak cukup hanya dengan ‘penglihatan mata’ terhadap zhohir ayat, namun diperlukan penglihatan yg lain, yaitu ‘penglihatan ilmu’.
Para ulama tafsir (Mujahid, Ath-Thobari, As-Sa’di, Al-Qurthubi, Jalalain, Ibnu Katsir dll) adalah orang-orang yg berilmu dan layak menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an.
Sedangkan ahli bid’ah menafsirkan Al-Qur’an hanya bermodalkan ‘penglihatan mata’ dan ro’yu (pikiran), sehingga tidak layak menafsirkan ayat-ayat Allah.
Kalaupun mereka ada ilmu, pastilah sangat sedikit dan sangat tidak lengkap.  Ketika mereka menafsirkan ayat-ayat Allah, terjadilah banyak kesalahan.

Rasulullah صلي الله عليه وسلم mengingatkan :

اتَّقُوا الْحَدِيثَ عَنِّي إِلَّا مَا عَلِمْتُمْ فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ وَمَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Jagalah diri untuk menceritakan dariku kecuali yg kalian ketahui, barangsiapa berdusta atas namaku, maka bersiap-siaplah untuk menempati tempatnya di neraka & barangsiapa mengatakan (menafsirkan) Al-Qur’an dengan ro’yu-nya, maka bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka.”  (HR At-Tirmidzi /2875, ia berkata : “Hadits ini hasan”).

Dalam hal kesalahan memahami silaturrahim hingga memutuskannya, akibat-akibatnya adalah sebagai berikut :

1. DILAKNAT, DITULIKAN, DAN DIBUTAKAN OLEH ALLAH.   Allah سبحانه و تعالي berfirman :

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِى اْلأَرْضِ وَ تُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُمْ وَ أَعْمَى أَبْصَارَهُمْ

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?.  Mereka Itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan telinga mereka dan dibutakan penglihatan mereka.”  (QS. Muhammad : 22-23).

2. DIKUTUK, DAN AKAN DITEMPATKAN DI JAHANNAM.   Allah سبحانه و تعالي berfirman :

وَ الَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللهِ مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَ يَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَ يُفْسِدُونَ فِى اْلأَرْضِ أَولَئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَ لَهُمْ سُوءُ الدَّارِ

“Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diteguhkan dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan (silaturrahim) dan mengadakan kerusakan di muka bumi, mereka itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam).”  (QS. Ar-Ra’d : 25)

3. TERPUTUS DARI ALLAH.   Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

الرَّحِمُ شَجْنَةٌ مِنَ اللهِِ مَنْ وَصَلَهَا وَصَلَهُ اللهُ وَمَنْ قَطَعَهَا قَطَعَهُ اللهُ

“Rahim itu sebagian rahmat Allah. Barang siapa menjalin hubungan silaturrahim, maka Allah akan menjalin hubungannya dan barang siapa memutus hubungan silaturrahim maka Allah akan memutuskannya.”  (HR.Muslim).

4. JAUH DARI RAHMAT ALLAH.   Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

لاَ تَنْزِلُ الرَّحْمَةُ عَلَى قَوْمٍ فِيْهِمْ قَاطِعُ رَحِمٍ

“Rahmat tidak akan turun kepada kaum yang padanya terdapat orang yang memutuskan tali silaturahim”  (HR.Muslim)

5. DISEGERAKAN ADZAB.   Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللهُ لِصَاحِبِهِ اْلعُقُوْبَةَ فىِ الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُهُ لَهُ فىِ اْلآخِرَةِ مِنَ اْلبَغْيِ وَ قَطِيْعَةِ الرَّحِمِ

“Tidak ada dosa yang lebih pantas disegerakan hukumannya oleh Allah bagi pelakunya di samping apa yang akan didapatnya pada hari kiamat nanti dari pada perbuatan aniaya dan memutuskan silaturahim.”  (Al-Bukhori di dalam al-Adab al-Mufrad: 67, Abu Daud : 4902, At-Tirmidzi : 2511, Ibnu Majah: 4211, Ahmad: V/ 36, 38, dan Al-Hakim : 3410, 7371, 7372. Berkata Syaikh Al-Albani : “shahih”, lihat Shahih al-Adab al-Mufrad : 48)

6. TIDAK MASUK SORGA.  Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ قَاطِعٌ

“Tidak akan masuk ke dalam surga, orang yang memutuskan (silaturahim).”  (Al-Bukhori : 5984 dan dalam al-Adab al-Mufrad : 64, Muslim : 2556, Abu Daud : 1696, At-Tirmidzi: 1909 dan Ahmad: III/ 14, IV/ 80, 83, 84, 399. Berkata Syaikh Al-Albaniy : “Shahih”, lihat Mukhtashor Shahiih Muslim : 1765).

Demikianlah bagi orang-orang yg telah memutus silaturrahim di sekte-sekte berfaham takfir.  Sangat tragis nasib mereka, mengikuti ajaran Allah (menurut sangkaan mereka) justeru jadi banyak mendapat keburukan di akhirat.
Karena itu Islam bukanlah hal main-main, Al-Qur’an bukanlah perkataan yg main-main, tidak boleh dianggap bisa dikuasai hanya dengan main-main, akibatnya sangatlah fatal….

Mentafsir ayat tanpa ilmu yg lengkap sehingga terjadi kesalahan mengkafirkan orang tua, memutuskan silaturrahim dengannya dan durhaka kepadanya, akibat-akibatnya adalah sebagai berikut :

1. MELAKUKAN DOSA BESAR SETELAH SYIRIK.   Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

ألا أنبئكم بأكبر الكبائر قلنا بلى يا رسول الله قال الإشراك بالله وعقوق الوالدين ..

“…Maukah kalian aku beritahukan dosa yang paling besar ?” para sahabat menjawab, “Tentu.”  Nabi bersabda : “(Yaitu) berbuat syirik dan durhaka kepada kedua orang tua.” (HR.Bukhori)

2. TIDAK DIRIDHOI OLEH ALLAH.   Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

رِضَى الله في رِضَى الوَالِدَيْنِ وَسُخْطُ اللهِ فيِ سُخْطِ الوَالِدَيْنِ

“Keridhaan Allah tergantung pada keridhaan kedua orang tua, dan kemurkaan Allah tergantung pula pada kemurkaan kedua orang tua”  (HR.At-Tirmidzi /1900, ia berkata : “hadits ini shohih”)

3. TIDAK MASUK SORGA.   Hadits Rasulullah صلي الله عليه وسلم

Suatu hari, Rasulullah naik ke atas mimbar, lalu beliau berkata : “Amin, amin, amin.”
Maka, seorang Sahabat bertanya : “Kenapa engkau mengucapkan amin, amin dan amin, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab : “Tadi datang Jibril menemuiku, lalu ia berkata : “Barangsiapa yang menjumpai bulan Ramadhan, lalu ia tidak mendapatkan ampunan Allah, maka ia pasti masuk Neraka.  Jauhilah hamba-Mu ini dari siksa Neraka.”  Akupun berkata : ‘Amin.’
Lalu Jibril berkata lagi : “Barangsiapa yang mendapatkan salah seorang dari kedua orang tuanya, atau keduanya, pada saat mereka sudah berusia lanjut, namun ia tidak berkesempatan berbakti kepada mereka, maka ia pasti masuk Neraka.  Jauhilah hamba-Mu ini dari siksa Neraka.”  Akupun berkata : ‘Amin.’
Lalu Jibril berkata lagi : “Barangsiapa yang mendengar namaku (Nabi Muhammad) disebutkan, lalu ia tidak membaca shalawat untukku, maka bila ia mati, ia pasti masuk Neraka.  Jauhilah hamba-Mu ini dari siksa Neraka.”  Akupun berkata: ‘Amin.  (HR.Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah)

____________________________________________________________________________________

Untuk orang-orang yg mengkafirkan orang tua dan memutus silaturrahim terhadap kerabat mereka :

“Yakinkah kalian dengan seyakin-yakinnya bahwa orang tua dan kerabat kalian yg tidak ikut belajar Qur’an dengan kalian itu benar-benar telah KAFIR..kafir terhadap Allah, RasulNya, malaikatNya, kitabNya…?”

“Persaksikanlah di hadapan Allah dengan lisan kalian bahwa mereka benar-benar telah KAFIR dengan sekafir-kafirnya…tidak ada keimanan mereka meskipun sebesar biji sawi… Persaksikanlah jika memang sangat yakin, dan jika kalian salah, kalian bersedia DILAKNAT DI DUNIA DAN DI AKHIRAT..!”

“Yakinkah kalian dengan seyakin-yakinnya bahwa ibu-ibu kalian yg tidak ikut belajar Qur’an dengan kalian itu adalah para penghuni neraka yg paling bawah… seburuk-buruk makhluk…lebih buruk dari binatang ternak…? Beranikah kalian bersumpah bahwa kalian adalah benar dan jika kalian ternyata salah, kalian bersedia DILAKNAT DI DUNIA DAN DI AKHIRAT..!”

Bersumpahlah….

“Beranikah kalian bersumpahlah di hadapan Allah bahwa pemimpin atau guru kalian adalah benar-benar orang-orang berilmu dan berpetunjuk, paling mengerti tentang wahyu Allah di jagad raya ini, dan tidak perlu belajar lagi selain kepada mereka…”
dan jika kalian salah, kalian bersedia DILAKNAT DI DUNIA DAN DI AKHIRAT..!

Bersumpahlah…..

Silahkan buat orang tua kalian marah dan mengutuk…hingga orang tua kalian akan berdoa hal yg jelek untuk kalian….

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدَيْنِ عَلىَ وَلَدِهِمَا

“Tiga doa yg mustajab, tidak diragukan lagi, yaitu : doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian dan doa kejelekan kedua orang tua kepada anaknya.”  (Al-Bukhori dalam Al Adabul-Mufrod no. 32. Di-hasan-kan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Adabul-Mufrod no. 24).

__________________________________________________________

Al-Faqir, Hamba Allah

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Tulisan ini dipublikasikan di belajar islam, belajar tafsir, Islam, kelompok Islam, Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s