Koreksi pemahaman yang salah kelompok abu hamzah (I)

Koreksi pemahaman yang salah kelompok abu hamzah (I)

بسم الله الرحمن الرحيم
إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلاَّ الله وحده لا شريك له وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله. فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار .

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم Wa Ba’du :
Allah سبحانه و تعالي berfirman di dalam Al-Qur’anul Kariim :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan atas kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian.”  (QS. al-Ma’idah : 3)

Islam telah sempurna, sebagaimana Allah سبحانه و تعالي sebut dalam surat Al-Maidah ayat 3 di atas.  Kesempurnaan Islam sebagai jalan hidup bagi manusia lengkap setelah Allah utus Rasulullah صلي الله عليه وسلم untuk menyampaikan dan mempraktekkannya di tengah-tengah manusia hingga Allah zhohirkan Islam sebagai diin yg benar dan satu-satunya yg terbaik di muka bumi.  Pengutusan Muhammad صلي الله عليه وسلم sebagai pembawa Islam adalah kehendakNya dan mengikut ajaran yg ia bawa (Al-Qur’an) adalah kehendakNya, dan berteladan, mengikut, taat kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم adalah kehendakNya juga (inilah yg disebut mengikut “Sunnah” Rasul) karena beliaulah gambaran bagaimana manusia seharusnya mengerti dan melaksanakan ajaran Al-Qur’an.

Dari segi ajaran, kesempurnaan Islam sebagai jalan hidup berarti mencakup dua hal, yaitu Al-Qur’an sebagai pokok ajaran dan as-Sunnah sebagai penjabarannya. Allah سبحانه و تعالي berfirman :

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

“Apa saja yang disampaikan Rasul kepada kamu terimalah ia.  Dan apa saja yang dilarangnya bagi kamu, tinggalkanlah”  (QS. Al-Hasyr : 7)

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَ هُمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنّتِيْ

“Aku tinggalkan pada kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat setelah berpegang dengan keduanya yaitu Kitab Allah dan Sunnahku.”  (HR.Al-Hakim dari Abu Hurairah, 1/172, Shohih Al-Jami’ no. 2937 dan Ash-Shohihah no. 1761)

Allah سبحانه و تعالي menyuruh kepada orang-orang beriman untuk menerima apa yg dari Rasul, dan meninggalkan apa yg dilarang Rasul, tidaklah mungkin bisa dilaksanakan jika tidak mengikuti  As-Sunnah, yg pada masa sekarang ini di mana Rasulullah telah wafat didapati dalam bentuk “berita” (hadits).   Dan orang-orang yg mengikuti Rasul (yaitu para sahabatnya) adalah yg paling mengerti Sunnah Rasul, dari mereka hadits-hadits disampaikan melalui para perawi yg sangat teliti dan sangat komitmen terhadap kemurnian ajaran Islam hingga berita/hadits dari Rasulullah صلي الله عليه وسلم tetap sampai kepada orang-orang beriman di manapun dan pada masa manapun keberadaannya, mereka inilah yg disebut “Ahlul hadits”.
Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

Muhaditsin

Dari Tsauban, ia berkata : Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda : “Terus menerus ada sekelompok kecil dari ummatku yg senantiasa tampil di atas kebenaran.  Tidak akan memudharatkan mereka orang-orang yg menghinakan mereka, sampai datang keputusan Allah dan mereka tetap dalam keadaan seperti itu” (HR.Bukhori-Muslim)
Al Bukhori, Ahmad bin Sinan dan Ibnul-Mubarok semuanya berkata tentang tafsir hadits ini : Mereka adalah “Ahlul Hadits” (Syaraf Ashabil-Hadits, hal 26 & 37)

Para Ahlul Hadits senantiasa Allah bangkitkan di antara manusia dan telah Allah zhohirkan dalam sejarah sebagai para Imam (yg hafizh/hafal Al-Qur’an dan mengerti tafsir, hafizh hadits-hadits dan mengerti ilmu-ilmu hadits) yg membersihkan ajaran Islam dari penyimpangan-penyimpangan dengan keterangan-keterangan yg mereka bawa.
Perhatikanlah hadits Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

يحمل هذا العلم من كل خلف عدوله ينفون عنه تحريف الغالين وتأويل الجاهلين وانتحال المبطلين قال فسبيل العلم ان يحمل عمن هذه سبيله ووصفه

“Ilmu diin ini akan terus dibawa oleh orang-orang adil (terpercaya) dari tiap-tiap generasi yang selalu berjuang membersihkan diin ini dari pemutarbalikan pemahaman diin yang dilakukan orang-orang yang menyimpang, kedustaan orang-orang sesat yang mengatasnamakan diin, dan dari pentakwilan diin yang salah yang dilakukan orang-orang jahil/tidak mengerti.” (HR. Al-Khathib Al Baghdadi dalam Syaraf Ashabil-Hadits, hal. 11)

Pembaharu 100 th

Dari Abu Hurairah, dari Rasululllah صلي الله عليه وسلم beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah mengutus kepada ummat ini (Islam) setiap seratus tahun seseorang yg akan memperbaharui dien ummat ini (dari penyimpangan)” (HR.Abu Daud, Ash-Shohihah no.4291)

Dengan cara sedemikian Allah menjaga kemurnian Al-Qur’an, sehingga yg terjaga hingga hari kiamat bukan hanya nash-nash ayat, tetapi termasuk pemahamannya yg benar dari jaman ke jaman.

Sebagai kesimpulan dari ulasan-ulasan tersebut, bagi orang-orang beriman yg senantiasa ingin berada pada jalan yg lurus akan selalu berusaha berpegang kepada dien Allah melalui Al-Qur’an dan As-Sunnah dari Rasulullah صلي الله عليه وسلم dan para sahabatnya, dan pengajaran para Imam Islam, yaitu para ulama yg baik, yg telah Allah zhohirkan sebagai penerus ajaran Rasulullah yg benar.

Bid’ah pemahaman Islam

Bid’ah adalah sesuatu yg baru yg diada-adakan.  Bid’ah disebut di dalam hadits, perhatikan hadits Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

وَإِيَّاكُمْ وَمُـحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُـحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ …

“…Dan awaslah kalian dari perkara-perkara yang baru, karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.”  (HR Ahmad 4/126, Darimi 1/57, Tirmidzi 5/44, Ibnu Majah 1/15, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah hal. 26, 34)

Bid’ah khawarij

Bid’ah yg dimaksud di sini adalah bid’ah dalam syariat yg merupakan sumber kesesatan dan dilarang dalam ajaran Islam, yaitu dalam masalah akidah dan peribadatan.
Bid’ah-bid’ah ini terjadi karena tidak mengikuti ajaran Islam secara utuh dan baik,yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Bid’ah yg pertamakali terjadi dan merupakan bid’ah terbesar dalam sejarah Islam adalah bid’ah dalam akidah yg dibuat oleh orang-orang khawarij, yg terjadi pada masa sahabat Ali bin Abi Thalib.  Dipaparkan oleh Ibnu Katsir dalam Al Bidayah wan-Nihayah bahwa fenomena khawarij muncul ketika terjadi banyak fitnah di kalangan kaum muslimin yg berlanjut dengan berselisihnya Ali dan Muawiyah hingga terjadi peperangan antara kedua belah pihak (dikenal sebagai perang Shiffin).   Ali dan Muawiyah kemudian sepakat untuk menghentikan peperangan di bawah kesetiaan terhadap pegangan Al-Qur’an, dan masing-masingnya mengutus seseorang untuk menyelesaikan masalah dengan ditetapkannya kesepakatan.
Hal ini membuat sebagian orang tidak puas.  Ali dianggap sudah tidak konsisten terhadap hukum Al-Qur’an dan menyerahkan penetapan hukum kepada manusia.
Mereka menyatakan “tidak ada hukum selain hukum Allah”, dan menghukumkan Ali beserta semua orang yg terlibat dalam hal ini (tentu saja termasuk Muawiyah) adalah orang-orang yg tidak berhukum dengan hukum Allah, yaitu orang-orang kafir.
Inilah pertamakalinya terjadi dalam sejarah, orang Islam meng-kafirkan orang Islam yg lain secara membabi-buta karena memahami ayat-ayat Al-Qur’an dengan tidak memahami “As-Sunnah” dengan baik, mereka ini disebut orang-orang Khawarij.
Sebetulnya tokoh-tokoh khawarij adalah orang-orang yg taat dalam beribadah, namun sayangnya mereka bukanlah orang-orang yg dekat dengan Nabi sebagaimana para sahabat, sehingga mereka tidak banyak mengerti Sunnah.   Alhasil ketika mereka menafsirkan Al-Qur’an menjadi membuat pemahaman sendiri, hanya terfokus pada “zhohirnya ayat” dan berselisih dengan para sahabat Nabi yg lebih banyak mengerti tentang Sunnah.
Tentang mereka ini Rasulullah صلي الله عليه وسلم telah memprediksi kehadiran mereka dalam hadits :

سيخرج في أخر الزمان قوم أحداث الأسنان سفهاء الأحلام يقولون من خير قول البرية يقرأون القرآن لا يجاوز حناجرهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية . فإذا لقيتموه فاقتلوهم فإن في قتلهم أجرا لمن قتلهم عند الله يوم القيامة .

“Akan keluar pada akhir zaman, suatu kaum, umurnya masih muda, rusak akalnya, mereka berkata-kata dengan sebaik-baik perkataan.  Mereka membaca Al-Qur’an, namun tidak melebihi kerongkongannya.  Mereka (akan) terlepas dari agama bagai terlepasnya anak panah dari busurnya.   Apabila kalian menemuinya, perangilah mereka karena terdapat ganjaran bagi mereka yang memerangi kaum tersebut di sisi Allah pada hari kiamat.” (HR. Bukhori : 3611, Muslim : 1066)

ﻴﹷﺤﻘﺭﺍﺤﺩﻜﻡ ﺼﻼﺘﻪ ﻤﻊ ﺼﻠﺎﺘﻬﻡ ﻭﺼﻴﺎﻤﻪ ﻤﻊ ﺼﻴﺎﻤﻬﻡ ﻴﻗﺭﺀﻭﻥﺍﻗﺭآنﻻﻴﺤﺎﻭﺯﺘﺭﺍﻗﻴﻬﻡ ﻴﻤﺭﻗﻭﻥ ﻤﻥﺍﻟﺩﻴﻥ ﻜﻤﺎ ﻴﻤﺭﻕﺍﻟﺴﻬﻡ ﻤﻥﺍﺭﻤﻴﻪ

“Salah seorang di antara kalian akan menganggap remeh sholatnya dibanding sholat mereka, begitu pula shaumnya dibanding shaum mereka serta bacaan Al-Qur’annya dibanding bacaan mereka.   Mereka membaca Al-Qur’an namun tidak melampaui kerongkongan mereka, mereka meluncur dari Islam sebagaimana meluncurnya anak panah dari busurnya” (dalam riwayat lain : mereka membunuh orang-orang Islam namun membiarkan para penyembah berhala) (HR Muslim)

Tafsir dua hadits di atas adalah tentang orang-orang khawarij (lihat Fathul Baari oleh Imam Ibnu Hajar Al-Atsqollany dan Syarah Muslim lin-Nawawi oleh Imam An-Nawawi).

Bid’ah akidah kaum khawarij terutama adalah dalam hal “takfir” (peng-kafiran terhadap orang Islam yg lain dengan tanpa dalil yg haq).
Al-Qur’an yg mereka baca-bacakan terkesan begitu bagus dan menakjubkan, namun sesungguhnya tidaklah melampaui kerongkongan, maksudnya adalah tidak berbekas pada qulub, ke-ilmuan, kebijaksanaan dan perangai mereka.
Mereka seolah-olah ‘menguasai’ Al-Qur’an, tetapi mempunyai sifat yg sangat kaku, tidak bijak, kasar dan kejam terhadap muslim yg lain, yg jauh dari sifat-sifat yg diajarkan dalam Al-Qur’an.
Dalam Al Bidayah wan-Nihayah diceritakan bahwa mereka membunuh seorang sahabat Nabi (dengan menyembelihnya) dan membunuh isterinya yg sedang hamil (hingga membelah perutnya), akan tetapi bersikap lurus terhadap ahli-kitab yg kafir (penyembah berhala). Perbuatan ini menggambarkan karakter yg terbentuk akibat pemahaman yg salah, di mana mereka lebih ‘tega’ berlaku kejam terhadap orang Islam daripada terhadap penyembah berhala.
Mereka lebih sibuk menujukan kebencian dan hujatan kepada orang-orang Islam itu sendiri daripada kepada orang-orang yg nyata-nyata disebut kafir oleh Allah di dalam Al-Qur’an.

Bid’ah khawarij pada kelanjutannya juga menjadi cikal bakal munculnya kaum syi’ah, tetapi berbeda dalam hal penyikapan terhadap Ali bin Abi Thalib, di mana kaum syi’ah justeru mengagungkan Ali (dan ahlul bait Nabi) secara berlebih-lebihan.  Dalam hal takfir mereka sama, bahwa muslim yg tidak sefaham dengan mereka adalah orang-orang kafir atau pengkhianat.

Bid’ah khawarij dan koreksinya

Orang-orang khawarij membawa ayat-ayat Allah dalam mengkafirkan orang-orang Islam yg lain, di antaranya adalah Qs.Al-Maidah : 44 : “Dan barangsiapa yg tidak berhukum dengan apa yg diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir”

Berdasarkan ayat itu mereka mengusung-usung perkataan : لاَ حُكْمَ إِلاَّ لله (“tidak ada hukum kecuali (hukum) Allah”).

Sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه mengomentari mereka dengan berkata :

كَلِمَةُ حَقٍّ أُرِيْدَ بِهَا بَاطِلٌ

“Ucapan yang hak (benar), namun digunakan untuk membela kebatilan.”  (HR Ibnu Hibban : 6939, Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata : “Sanad hadits ini shohih menurut kriteria Muslim.”)

Sahabat Nabi yg lain, Ibnu Abbas رضي الله عنه membantah pemahaman mereka yg mengkafirkan orang Islam yg lain berdasarkan Qs.Al-Maidah : 44, dalam keterangan-keterangan berikut :

عَنِ بْنِ طَاوُسٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنِ بْنِ عَبَّاسٍ: وَمَن لَّـمْ يَحْكُم بِـمَا أَنزَلَ اللهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ، قَالَ هِيَ بِهِ كُفْرٌ وَلَيْسَ كُفْرًا بِاللهِ وَمَلَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ

Dari Ibnu Thawus dari bapaknya dari Ibnu Abbas (tentang ayat) “… Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. al-Ma’idah: 44), dia (Ibnu Abbas) berkata : “Ini adalah kekufuran dan bukan kufur kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan para rasul-Nya.”  (Tafsir Ath-Thobari 6/256.  Sanad riwayat ini dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shohihah 6/113)

عَنْ طَاوُسٍ قَالَ: قَالَ ا بْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما: إِنَّهُ لَيْسَ بِالْكُفْرِ الَّذِيْ يَذْهَبُوْنَ إِلَيْهِ إِنَّهُ لَيْسَ كُفْرًا يَنْقُلُ عَنِ الْمِلَّةِ وَمَنْ لَـمْ يَحْكُمْ بِـمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُوْلَئِكَ هُـمُ الْكَافِرُنَ كُفْرٌ دُوْنَ كُفْرٍ

Dari Thawus dari Ibnu Abbas dia berkata : “Dia bukanlah kekufuran yang kalian (khawarij) katakan, sesungguhnya dia adalah kekufuran yang tidak mengeluarkan dari Islam. (Ayat yang artinya:) …. Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir (QS. Al-Maidah : 44) Ini adalah kufrun duuna kufrin (kufur kecil/kekufuran selain kufur yg sebenarnya).”  (HR Al-Hakim dalam Al Mustadrok 2/342, ia berkata “ini adalah hadits yg shohih sanadnya” dan disetujui oleh Adz-Dzahabi dalam Talkhis Mustadrok 2/342)

Seorang Thabi’in, Atha bin Abu Rabah رحمه الله juga membantah pemahaman khawarij dengan menyebut Qs.Al-Maidah : 44-46 dan berkata : “Kufrun duuna kufrin (kufur kecil), fisqun duuna fisqin (fasik kecil), dan zhulmun duuna zhulmin (zolim kecil).”  (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam Tafsir-nya 6/256 dan dishohihkan sanadnya oleh Syaikh al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shohihah 6/114)

Juga seorang Thabi’in, Thawus bin Kaisan رحمه الله yg menyebut ayat hukum dan berkata : “Bukan kekufuran yg mengeluarkan pelakunya dari agama”  (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam Tafsir-nya 6/256 dan dishohihkan sanadnya oleh Syaikh al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shohihah 6/114)

Dan berikut ini adalah pemahaman para Imam Islam sehubungan dengan hal tersebut :

lmam Ahmad bin Hanbal رحمه الله ditanya tentang maksud kufur dalam ayat hukum, maka beliau berkata: “Kekufuran yang tidak mengeluarkan dari keimanan.” (Majmu’Fatawa 7/254)

lmam Bukhori رحمه الله berkata dalam Shohih-nya (1/83) : “Baabun Kufronil ‘Asyir wa Kufrun Duuna Kufrin”, Al-Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata : “Penulis (Al-lmam Bukhori) mengisyaratkan kepada atsar yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam Kitabul-Iman dari jalan Atha’ bin Abu Rabah dan yang lainnya.” (Fathul Baari 1/83)

lmam Baihaqi رحمه الله berkata : “Yang kami riwayatkan dari lmam Asy-Syafi’i رحمه الله dan para imam yang lainnya tentang para ahli bid’ah ini mereka maksudkan kufrun duuna kufrin (kufur kecil) sebagaimana dalam firman Allah: “…. Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”  (QS. al-Ma’idah : 44), Ibnu Abbas رضي الله عنه berkata : “Dia bukanlah kekufuran yang kalian (para Khawarij) katakan, sesungguhnya dia adalah kekufuran yang tidak mengeluarkan dari Islam.  Ini adalah kufrun duuna kufrin”  (Sunan Kubro 10/207)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله menafsirkan ayat hukum di atas dengan mengatakan : “Yaitu seorang yang menghalalkan berhukum dengan selain hukum Allah.” (Majmu’ Fatawa 3/268).   Beliau juga berkata : “Ketika datang dari perkataan salaf bahwasanya di dalam diri seseorang ada keimanan dan kemunafikan, maka demikian halnya perkataan mereka bahwasanya di dalam diri seseorang ada keimanan dan kekufuran; kekufuran ini bukanlah kekufuran yang mengeluarkan seseorang dari agama, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas رضي الله عنه dan para sahabatnya tentang tafsir firman Allah : “…. Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (QS. al-Ma’idah : 44), mereka berkata : “Dia adalah kekufuran yang tidak mengeluarkan dari Islam”.   Perkataan ini diikuti oleh Imam Ahmad dan yang lainnya dari para imam Sunnah.”  (Majmu’ Fatawa 7/312)

Ibnu ’Abdil-Barr Al-Andalusy رحمه الله, beliau berkata :
”Para ulama telah bersepakat bahwa kecurangan dalam hukum termasuk dosa besar bagi yang sengaja berbuat demikian dalam keadaan mengetahui akan hal itu.  Diriwayatkan atsar-atsar yang banyak dari salaf tentang perkara ini. Allah Ta’ala berfirman (yg artinya) : “Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”,”…orang-orang yang dhalim”, dan “…orang-orang yang fasiq” ; ayat ini turun kepada Ahli Kitab.   Hudzaifah dan Ibnu ’Abbas رضي الله عنه telah berkata : ”Ayat ini juga umum berlaku bagi kita”.   Mereka berkata : ”Bukan kekafiran yang mengeluarkan dari agama apabila seseorang dari umat ini (kaum muslimin) melakukan hal tersebut, hingga ia kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan hari akhir”.
Diriwayatkan makna ini oleh sejumlah ulama ahli tafsir, diantaranya : Ibnu ’Abbas, Thawus, dan ’Atha” (At-Tamhiid 5/74).

Selain dari keterangan-keterangan di atas, masih banyak keterangan-keterangan yg lain yg menegaskan bahwa penafsiran ayat hukum tidaklah seperti penafsiran kaum khawarij yg dengan ayat itu bisa begitu saja memvonis kafir kepada orang-orang Islam yg tersalah dalam berhukum.
Meskipun zhohirnya ayat seperti itu, namun ternyata tidaklah cukup zhohir ayat menjadi kepastian penafsiran yg benar.
Selain ‘penglihatan’ mata kepada ayat, diperlukan ‘penglihatan’ yg lain untuk bisa mengerti makna ayat-ayat dalam Al-Qur’an, yaitu ‘penglihatan ilmu’.
Di sinilah Allah mengajarkan bertanya kepada ‘ahli-dzikr’ atau ahli-ilmu jika tidak mengetahui (dalam Qs.Al-Anbiyaa : 7).   Dan ahli-ilmu dalam masalah-masalah Islam ini adalah Rasulullah صلي الله عليه وسلم , para sahabatnya yg banyak mengerti ajaran Nabi, para thabi’in yg baik yg meneruskan ajaran para sahabat Nabi, dan para ulama terdahulu yg sholeh yg meneruskan ajaran mereka.

Jika ayat-ayat dalam Al-Qur’an ditafsirkan begitu saja seperti khawarij menafsirkan Qs.Al-Maidah : 44, maka bisa jadi semua orang yg tersalah adalah orang murtad-kafir.
Sebagai contoh apabila seorang suami tersalah tidak berlaku adil terhadap isteri atau anak-anaknya maka suami tersebut telah jadi kafir (keluar dari agama Islam) sebab berlaku adil adalah ketentuan Allah dalam Al-Qur’an.
Begitupun apabila dua orang telah berniaga padahal ada ketidakridhoan salah-satunya, maka kedua orang tersebut telah menjadi kafir dan bukan orang Islam lagi, sebab keridhoan kedua-belah pihak adalah hukum Allah dalam Al-Qur’an pada masalah perniagaan.
Dan apabila terjadi transaksi hutang tidak ditulis, maka orang-orang yg bertransaksi tersebut telah murtad dan menjadi kafir, sebab menulis transaksi hutang adalah ketentuan Allah dalam Al-Qur’an…dan lain-lain…dan lain-lain…

Penafsiran ayat tanpa pemahaman As-Sunnah yg baik sudah tentu akan banyak menimbulkan fitnah yg serius, terlebih masalah pengkafiran terhadap orang-orang Islam secara serampangan yg justeru akan membuat ummat Islam semakin terpuruk dan semakin terpecah-belah.

Akidah khawarij pada masa sekarang

Akidah khawarij timbul dan tenggelam, dari waktu ke waktu dan dari jaman ke jaman semenjak pertamakalinya muncul di jaman sahabat.   Cabang-cabang dan pecahan-pecahan khawarij muncul-tenggelam silih berganti dengan berbagai macam variasi pada pemahamannya.
Pada masa sekarang muncul kelompok-kelompok yg berakidah serupa dengan pendahulunya, penyebab dan karakter-karakternyapun serupa.
Ciri khas dari akidah khawarij adalah pengkafiran (takfir) terhadap orang Islam yg lain yg dianggapnya banyak menyalahi ayat-ayat Al-Qur’an.
Sebagaimana pendahulunya, penyebab mereka berakidah seperti itu adalah karena minimnya pemahaman mereka tentang “As-Sunnah”, yg pada masa sekarang berupa hadits-hadits (dari Rasul atau dari sahabat) yg dibawa dan dikaji pemahamannya oleh para ahlul-hadits, para Imam Islam, para ulama terdahulu yg sholeh.
Mereka menyepelekan ilmu yg dibawa oleh para ulama yg menjadi pewaris para Nabi. Mereka merasa bisa mengerti Al-Qur’an dengan baik meskipun tanpa mengerti hadits-hadits secara mendalam, dan tanpa mengikuti bimbingan para ulama Sunnah.
Mereka ‘tidak terlalu’ butuh ulama, sebab pemimpin mereka dinilai cukup setaraf bahkan lebih berpetunjuk pada saat ini daripada para ulama salaf.

Umumnya penganut akidah khawarij pada masa sekarang tidak suka jika dikatakan bahwa akidah mereka adalah akidah khawarij, sebab mereka mengatakan bahwa mereka tidak mengkafirkan sahabat-sahabat Rasul, dan mereka juga masih melihat kepada ulama tafsir, meskipun pada bagian-bagian tertentu mereka tidak melihat kepada tafsir yg manapun kecuali tafsir dari pemimpin mereka.
Mereka juga mengaku tetap melihat hadits-hadits Rasul, meskipun hadits-hadits itu juga mereka pahami sendiri tanpa melihat pemahaman dari para ahli tafsir hadits.
Pada bagian-bagian tertentu mereka menolak hadits, dengan alasan zhohir ayat lebih kuat daripada hadits yg dari manusia.  Begitulah karena mereka tidak mengerti ilmu dengan baik dan menyombongkan diri tidak mau mengikuti ulasan-ulasan dari ulama terdahulu yg lebih pandai dari mereka.

Dan yg terlebih parah adalah ada kelompok dari antara mereka yg merasa bahwa merekalah orang-orang yg paling benar dan paling mengerti Islam meski tidak pernah hafal Al-Qur’an tiga atau empat juz-pun (malah mungkin satu juz-pun tidak pernah hafal), tidak mengerti bahasa Arab, buta ilmu-ilmu hadits dan hanya membaca kitab-kitab tafsir terjemahan yg sudah diringkas.
Kemudian mereka memahami ayat-ayat Allah tentang kriteria iman dan kafir, tentang kriteria orang-orang munafik secara ala-kadarnya dan lalu berani mengatakan semua orang Islam yg tidak sepandangan dengan mereka adalah orang-orang kafir atau orang-orang munafik.
Mereka diikuti oleh orang-orang awam yg tidak pernah tahu tentang tafsir, ilmu-ilmu hadits atau bahkan tidak pernah tahu tentang sejarah Islam dengan baik sehingga tidak pernah menyadari keberadaan faham khawarij.
Orang-orang awam itu terpesona dengan pembacaan/pengajaran pemahaman ayat-ayat Al-Qur’an di halaqoh-halaqoh mereka karena sebelumnya mereka tidak pernah mendapati yg sedemikian.  Dan terjerumuslah mereka ke dalam fitnah, padahal mereka sebelumnya sebenar-nya menginginkan mendapat kebaikan dengan belajar pemahaman Al-Qur’an.

Pelurusan faham takfir (pengkafiran)

Sesungguhnya Allah سبحانه و تعالي selain mengajarkan kepada manusia tentang perilaku orang-orang kafir dan orang-orang munafik, Dia juga telah mengisyaratkan di dalam Al-Qur’an supaya tidak mudah mengatakan seorang yg telah beriman dengan sebutan kafir meski terjadi maksiat.
Padahal maksiat kepada Allah pada dasarnya adalah pelanggaran terhadap ketentuan Allah yg berarti juga tidak berhukum dengan yg diturunkan Allah.
Perhatikanlah firman Allah سبحانه و تعالي :

وَإِن طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا

“Dan jika ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya”  (QS. Al-Hujuraat: : 9)

Allah di dalam ayat itu masih menyebut “mu’miniin” (orang-orang beriman) meskipun mereka melakukan maksiat, yaitu memerangi saudaranya yg seiman.  Dalam tafsir Ibnu Katsir tentang ayat ini dikemukakan bantahan Imam Al Bukhori رحمه الله terhadap faham takfir khawarij, yg mudah mengkafirkan orang Islam yg lain karena banyaknya maksiat/dosa besar yg dilakukannya.

Dan firman Allah سبحانه و تعالي :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاء

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia”  (Al-Mumtahanah : 1)

Sehubungan dengan tafsir ayat itu Syaikh Muhammad Khalil Harras رحمه الله berkata : “Allah memanggil mereka dengan sebutan keimanan (hai orang-orang yg beriman) dalam keadaan adanya kemaksiatan, yaitu loyalitas/berwali terhadap orang-orang kafir”  (Syarah Al Aqidah Al Washithiyyah hal.235-236)

Dalam Asbabun-Nuzul Tafsir Jalalain Qs.An-Nisaa : 48 disebutkan riwayat tentang seorang laki-laki yg menghadap kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم dan berkata :
“Keponakan saya tidak mau meninggalkan perbuatan haram”.
Nabi bersabda : “Apa agamanya?”
Ia menjawab : “Ia suka sholat dan bertauhid kepada Allah”
Bersabdalah Nabi : “Suruhlah ia meninggalkan agamanya atau belilah agamanya”
Orang tersebut melaksanakan perintah Rasul tetapi keponakannya itu menolak tawarannya, dan ia kembali kepada Nabi صلي الله عليه وسلم dan berkata : “Saya dapati ia sangat sayang kepada agamanya”
Maka turunlah ayat tersebut, sebagai penjelasan bahwa Allah akan mengampuni segala dosa orang yg dikehendakiNya (kecuali syirik).

Dalam riwayat tersebut, orang yg masih bertauhid kepada Allah (tidak syirik-akbar) dan masih sholat meskipun selalu berbuat haram dan maksiat, tidaklah dikafirkan oleh Allah. Masih tampak keimanan seseorang terhadap Islam meskipun suka melakukan yg haram, yaitu ketika ditawarkan “pindah agama” ia menolak.  Orang seperti ini bukanlah orang kafir.

Rasulullah صلي الله عليه وسلم juga tidak mudah mengatakan kafir terhadap seseorang yg bersalah, perhatikanlah keterangan-keterangan berikut :

Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri رضي الله عنه bahwasanya Ali رضي الله عنه tatkala di Yaman mengirim emas batangan kepada Nabi صلي الله عليه وسلم , maka beliau membagikannya kepada empat orang.
Berkatalah seorang laki-laki : “Wahai Rasulullah bertaqwalah engkau kepada Allah سبحانه و تعالي!,”
Maka Nabi bersabda : “Celaka kamu, bukankah aku adalah yang paling berhak dari penduduk bumi untuk bertaqwa kepada Allah عزّوجلّ.”
Ketika orang tersebut berlalu berkatalah Khalid bin Walid رضي الله عنه “Wahai Rasulullah tidakkah aku penggal lehernya?,”
Rasulullah bersabda : “Jangan, barangkali dia seorang yang sholat,” Khalid berkata: “Berapa banyak orang yang sholat mengatakan dengan lisannya apa yang tidak ada dalam hatinya,”
Maka Rasulullah bersabda : “Aku tidak diperintahkan agar melubangi hati manusia dan membedah perut-perut mereka (untuk mengetahui isi hati orang)..”

Di dalam hadits tersebut Rasulullah صلي الله عليه وسلم tidak mengkafirkan orang yg memprotes dan tidak ridho dengan keputusannya, padahal ia adalah seorang utusan Allah عزّوجلّ .

Dan perhatikanlah sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

Seorang muslim 1

“Siapa yg sholat sebagaimana sholat kita, berkiblat sebagaimana kiblat kita, dan memakan sembelihan kita, maka dia adalah muslim yg berada dalam perlindungan Allah dan RasulNya” (HR Bukhori dan An-Nasa’i)

Imam An-Nawawi رحمه الله mengatakan : “Ahli Sunnah dari kalangan ahli hadits, para fuqaha, dan ahli kalam, telah sepakat bahwa seseorang dikategorikan muslim apabila orang tersebut tergolong sebagai ahli kiblat (melakukan sholat).  Ia tidak kekal di dalam neraka. Ini tidak akan didapati kecuali setelah orang itu mengimani dienul Islâm di dalamnya hatinya, secara pasti tanpa keraguan sedikitpun, dan ia mengucapkan dua kalimat syahadat” (Syarah Muslim 1 hal 49).

Dan hadits dari Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

Dari Abu Hurairah ia berkata : Rasulullah صلي الله عليه وسلم berkata : “Aku diperintah memerangi orang-orang hingga mereka mengucapkan ‘Laa Ilaaha Illallah’ (tidak ada Ilah selain Allah).  Jika mereka mengucapkannya maka aku menjaga darah dan harta mereka, kecuali dengan haknya.  Perhitungan mereka ada di tangan Allah” (HR Abu Daud, Shohih Sunan Abu Daud 2640)

Imam Abu Isma’il Ash-Shobuni رحمه الله mengatakan : “Ahlus Sunnah berkeyakinan bahwa seorang mukmin, meski ia melakukan berbagai dosa besar maupun kecil, ia tidak bisa dikafirkan dengan semua itu.  Meskipun ia meninggal dunia sebelum bertaubat.  Namun ia meninggal di dalam tauhid dan keikhlasan.
Urusannya diserahkan kepada Allah سبحانه و تعالي.   Apabila Dia menghendaki, maka Dia akan mengampuninya dan memasukkannya ke dalam Jannah pada Hari Kiamat, dalam keadaan selamat, beruntung dan tidak pernah tersentuh sedikitpun oleh api Naar, tidak pernah juga disiksa atas segala (dosa) yang ia kerjakan, atas apa yang biasa dia lakukan dan terus menyelimuti dirinya sampai Hari Kiamat.   Namun apabila Allah سبحانه و تعالي menghendaki, Dia-pun bisa menyiksanya.”   (Aqidah Salaf Ashhabul-Hadits, Syaikhul Islam Abu Isma’il Ash-Shobuni)

Dan sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

حَتَّى إِذَا خَلَصَ الْمُؤْمِنُونَ مِنْ النَّارِ ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ بِأَشَدَّ مُنَاشَدَةً لِلَّهِ فِي اسْتِقْصَاءِ الْحَقِّ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ لِلَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لإِخْوَانِهِمْ الَّذِينَ فِي النَّارِ ، يَقُولُونَ : رَبَّنَا كَانُوا يَصُومُونَ مَعَنَا ، وَيُصَلُّونَ ، وَيَحُجُّونَ . فَيُقَالُ لَهُمْ : أَخْرِجُوا مَنْ عَرَفْتُمْ . فَتُحَرَّمُ صُوَرُهُمْ عَلَى النَّارِ ، فَيُخْرِجُونَ خَلْقًا كَثِيرًا قَدْ أَخَذَتْ النَّارُ إِلَى نِصْفِ سَاقَيْهِ ، وَإِلَى رُكْبَتَيْهِ ، ثُمَّ يَقُولُونَ : رَبَّنَا مَا بَقِيَ فِيهَا أَحَدٌ مِمَّنْ أَمَرْتَنَا بِهِ . فَيَقُولُ : ارْجِعُوا ، فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ دِينَارٍ مِنْ خَيْرٍ فَأَخْرِجُوهُ . فَيُخْرِجُونَ خَلْقًا كَثِيرًا ثُمَّ يَقُولُونَ : رَبَّنَا لَمْ نَذَرْ فِيهَا أَحَدًا مِمَّنْ أَمَرْتَنَا . ثُمَّ يَقُولُ : ارْجِعُوا فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ نِصْفِ دِينَارٍ مِنْ خَيْرٍ فَأَخْرِجُوهُ . فَيُخْرِجُونَ خَلْقًا كَثِيرًا ثُمَّ يَقُولُونَ : رَبَّنَا لَمْ نَذَرْ فِيهَا مِمَّنْ أَمَرْتَنَا أَحَدًا .
ثُمَّ يَقُولُ : ارْجِعُوا فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ فَأَخْرِجُوهُ . فَيُخْرِجُونَ خَلْقًا كَثِيرًا ثُمَّ يَقُولُونَ : رَبَّنَا لَمْ نَذَرْ فِيهَا خَيْرًا . وَكَانَ أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ يَقُولُ : إِنْ لَمْ تُصَدِّقُونِي بِهَذَا الْحَدِيثِ فَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ : ( إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا ) فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : شَفَعَتْ الْمَلَائِكَةُ ، وَشَفَعَ النَّبِيُّونَ ، وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُونَ ، وَلَمْ يَبْقَ إِلا أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ ، فَيَقْبِضُ قَبْضَةً مِنْ النَّارِ فَيُخْرِجُ مِنْهَا قَوْمًا لَمْ يَعْمَلُوا خَيْرًا قَطُّ ، قَدْ عَادُوا حُمَمًا ، فَيُلْقِيهِمْ فِي نَهَرٍ فِي أَفْوَاهِ الْجَنَّةِ يُقَالُ لَهُ نَهَرُ الْحَيَاةِ ، فَيَخْرُجُونَ كَمَا تَخْرُجُ الْحِبَّةُ فِي حَمِيلِ السَّيْلِ ، َيَخْرُجُونَ كَاللُّؤْلُؤِ فِي رِقَابِهِمْ الْخَوَاتِمُ يَعْرِفُهُمْ أَهْلُ الْجَنَّةِ ، هَؤُلَاءِ عُتَقَاءُ اللَّهِ الَّذِينَ أَدْخَلَهُمْ اللَّهُ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ عَمَلٍ عَمِلُوهُ وَلا خَيْرٍ قَدَّمُوهُ (والحديث يرويه أيضا الإمام أحمد في المسند، 18/394 من طريق أخرى)

“Ketika orang-orang mukmin selamat dari neraka, Demi Yang jiwaku ada di Tangan-Nya, ada seorang di antara kalian yang paling semangat menuntut kepada Allah mendatangkan kebenaran dari kalangan orang mukmin yang masih di neraka.
Mereka mengatakan : “Wahai Tuhan kami, mereka dahulu berpuasa, shalat dan haji bersama kami”.
Dikatakan kepada mereka : “Keluarkan orang yang anda kenal”.
Maka diharamkan gambar mereka dari neraka.  Maka banyak sekali makhluk yang dikeluarkan dari neraka yang telah dilalap (api) neraka sampai setengah kali dan sampai ke kedua lututnya.
Kemudian mereka mengatakan : “Wahai Tuhan kami, sudah tidak ada lagi orang yang telah Anda perintahkan kepada kami”.
(Allah) berfirman : “Kembalilah, Siapa saja yang kamu dapatkan di hatinya seberat dinar dari kebaikan, maka keluarkan dia”.  Maka banyak sekali makhluk yang dikeluarkan.
Kemudian mereka berkata : “Wahai Tuhan kami, sudah tidak ada lagi orang yang telah Anda perintahkan”
(Allah) berfirman : “Kembalilah, Siapa saja yang kamu dapatkan di hatinya seberat setengah dinar dari kebaikan, maka keluarkan dia”.  Maka banyak sekali makhluk yang dikeluarkan.
Kemudian mereka berkata : “Wahai Tuhan kami, sudah tidak ada lagi orang yang telah Anda perintahkan”.
(Allah) berfirman: “Kembalilah, Siapa saja yang kamu dapatkan di hatinya seberat Dzarroh (atom) dari kebaikan, maka keluarkan dia”.  Maka banyak sekali makhluk yang dikeluarkan.
Kemudian mereka berkata : “Wahai Tuhan kami, sudah tidak ada lagi orang yang berbuat kebaikan” Dan Abu Said Al-Khudri mengatakan, “Kalau sekiranya kamu semua tidak mempercayaiku dengan hadits ini, maka kalau mau bacalah ayat “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar” (QS. An-Nisaa: 40)’
Maka Allah عزّوجلّ berfirman : “Para malaikat telah memberikan syafaat, para Nabi telah memberikan syafaat, orang-orang mukmin telah memberikan syafaat.  Tidak tersisa kecuali Yang Maha Memberikan Kasih Sayang kepada orang-orang yang dikasihani”.
Maka (Allah) menggenggam satu genggaman dari neraka dan mengeluarkan suatu kaum yang belum pernah sama sekali melakukan kebaikan.  Telah gosong kembali, maka dilemparkan ke sungai surga yang disebut ‘Sungai kehidupan’ (Nahrul Hayah).
Maka mereka keluar bagaikan biji-bijian yang cepat tumbuh di tanah.  Mereka keluar bagaikan mutiara di leher mereka dan tanda yang penduduk ahli surga mengetahuinya.
Mereka adalah yang dimerdekakan oleh Allah.   Allah masukkan mereka ke dalam surga tanpa amalan yang mereka lakukan dan kebaikan yang mereka persembahkan.”  (HR Muslim dalam kitab shohihnya no.183, diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad, 18/394 dari jalan lain).

Imam Ibnu Hajar رحمه الله berkata : “Syafaat lain adalah syafaat bagi orang yang mengatakan ‘Laa Ilaaha illallah’ namun tidak pernah melakukan kebaikan sama sekali” (Fathul Baari, 11/428)

Para ulama telah menjelaskan syafaat ini yaitu bagi orang yang mengatakan ‘Laa Ilaaha illallah’ dan telah mewujudkan ketauhidan (tidak syirik akbar), akan tetapi tidak pernah melakukan amalan kebaikan sama sekali.  Syafaat hanyalah berlaku bagi orang-orang beriman, meskipun keimanan mereka hanyalah sebesar dzarroh (hampir tidak ada), yaitu keyakinan hati tentang hal yg benar yg ada dalam Islam.  Sejelek-jelek mereka dalam perkiraan manusia, itu hanyalah perkiraan. Mereka tetap tidak bisa dikatakan sebagai orang kafir…

Perlu diketahui bahwa pelurusan masalah takfir tidak kemudian menjadikan berfaham “murjiah”, di mana orang selamanya dikatakan beriman setelah bersyahadat, meskipun ia kemudian menyembah patung, menyembah ratu roro-kidul atau melakukan perbuatan-perbuatan maksiat yg nyata-nyata menggugurkan keimanan seperti menghina Allah dan RasulNya, menghinakan Al-Qur’an dengan puncak penghinaan, dan lain-lain.
Dalam hal ini tetap dengan jelas ada kriteria “jatuh-kafir” menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagaimana yg difahami oleh para ulama, namun dengan sangat hati-hati karena masalah ini sangat berbahaya jika terjadi kesalahan.
Pelurusan masalah takfir juga tidak bermaksud meremehkan pelanggaran hukum-hukum Allah, sebab berhukum dengan hukum Allah adalah kewajiban dan konsekwensi peribadatan kepada Allah serta persaksian risalah Muhammad صلي الله عليه وسلم. Akan tetapi tidak lain untuk mendudukkan suatu permasalahan dengan baik dan tidak menyimpang dari yg haq-nya dengan keterangan-keterangan yg jelas.

Bahayanya faham pengkafiran/takfir

Para ulama Ahlus-Sunnah sangat berhati-hati dalam menghukumkan seseorang itu telah kafir :

Imam asy-Syaukani رحمه الله berkata : “Ketahuilah bahwa menghukumi kepada seorang muslim bahwa dia keluar dari Islam, dan masuk ke dalam kekufuran tidak selayaknya seorang muslim yang beriman kepada Alloh سبحانه و تعالي dan hari akhir untuk melakukannya, kecuali dengan bukti yang lebih jelas daripada matahari di siang hari” (Sailul ]arror 4/578)

Imam Al Qurthubi رحمه الله berkata : ”Bab takfir (kafir mengkafirkan) adalah bab yang berbahaya, banyak orang berani mengkafirkan, merekapun jatuh (dalam kesalahan) dan para ulama besar bersikap tawaquf (hati-hati) merekapun selamat, dan kita tidak dapat membandingkan keselamatan dengan apapun juga”  (lihat Fathul Baari 12/314)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata : ”Tidak boleh bagi seorangpun untuk mengkafirkan salah seorang dari kaum muslimin sehingga ditegakkan kepadanya hujjah dan diterangkan padanya mahajjah, barang siapa yang telah eksis keislamannya secara yakin, tidak boleh dihilangkan (nama islam) darinya dengan sebatas dugaan, bahkan tidak hilang keislamannya kecuali setelah ditegakkan hujjah dan dihilangkan syubhatnya” (Majmu’ fatawa 12/468)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab رحمه الله berkata : ”Wajib atas orang yang menasehati dirinya agar tidak berbicara dalam masalah ini kecuali dengan ilmu dan burhan dari Allah, hendaklah ia waspada dari mengeluarkan seseorang dari islam dengan sebatas pemahamannya, dan penganggapan baik akalnya, karena mengeluarkan seseorang dari islam atau memasukkannya termasuk perkara agama yang paling agung, dan setan telah menggelincirkan kebanyakan manusia dalam masalah ini” (Ad-Dauror Assunniyyah 8/217)

Imam Ath-Thohawi رحمه الله berkata : “Kita tidak mengkafirkan seorangpun dari kalangan Ahlul-Kiblat karena dosanya, selama dia tidak menghalalkannya, kita juga tidak mengatakan bahwasanya dosa tidak bermudharat terhadap keimanan bagi orang yang melakukannya” (Syarhul Aqidah Ath-Thahawiyah hal 316)

Syaikh Nashiruddin Al-Albani رحمه الله menjelaskan bahwa tidak boleh bagi seseorang di antara ummat ini untuk mengkafirkan orang yang berhukum dengan selain hukum Allah hanya sekedar karena dia mengerjakannya tanpa mengetahui bahwasannya dia menghalalkannya dalam hati.
Beliaupun berdalil dengan apa-apa yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنه dan dari salaf ummat ini.  (Asy-Syarqul-Ausath no.6156 /tgl 12-5-1416 H)

Sangat berhati-hatinya para ulama dalam menghukumkan kafir kepada seseorang adalah juga karena memahami dan menyadari dengan baik akibat yg bisa ditimbulkan jika terjadi kesalahan dalam masalah tersebut.
Jika semua orang yg berorganisasi atau berkelompok (di mana ada banyak perbedaan di antara mereka) bebas saling kafir-mengkafirkan satu-sama lain, akan terjadi kekacauan yg hebat.
Permusuhan bahkan peperangan yg akan terjadi di dunia ini tidak lagi antara orang-orang Islam dengan orang-orang kafir, tetapi antara orang Islam dengan orang Islam itu sendiri.
Setiap orang Islam yg berkuasa akan sibuk memerangi orang Islam yg lain yg tidak sefaham dengannya, dan tidak ada lagi dakwah “Laa ilaaha illAllaah” kepada orang-orang kafir,yg ada hanyalah seruan kepada faham golongan dan upaya pengukuhan kalimat golongan.

Jika pada masa sahabat satu khawarij sudah menimbulkan kerusakan yg begitu besar di kalangan kaum muslimin, bagaimana pula jika ada banyak khawarij?
Membuat perpecahan ummat adalah perbuatan yg sangat tercela.  Allah سبحانه و تعالي justeru banyak memerintahkan untuk tidak berpecah belah (contoh : QS.Ali Imron : 103, QS.AsySyuro : 13, dll).
Telah terbukti dalam sejarah bahwa perpecahan yg paling hebat di kalangan kaum muslimin tidaklah disebabkan perbedaan mazhab, tetapi karena adanya faham takfir satu sama lain.
Di balik semua ini yg banyak berperan secara terselubung kalaulah bukan yahudi atau nashrani yg pastinya adalah syetan.

Rasulullah صلي الله عليه وسلم mengingatkan tentang pengkafiran terhadap sesama muslim :

ومن دعا رجلا بالكفر أو قال عدو الله وليس كذلك إلا حارت عليه…

…Dan barang siapa memanggil seseorang dengan kafir atau dia berkata, ‘Musuh Allah’, dan orang yang dipanggil itu tidak seperti yang dituduhkannya, maka apa yang dituduhkannya akan kembali kepadanya.”  (HR.Bukhori / 61-Kitab Al Manaqib, 5- Bab Haddatsana Abu Ma’mar. Muslim /1- Kitab Al Iman, hadits 112)

Rasulullah صلي الله عليه وسلم juga bersabda :

إذا قال للآخر كافر فقد كفر أحدهما إن كان الذي قال له كافرا فقد صدق وإن لم يكن كما قال له فقد باء الذي قال له بالكفر

“Apabila seseorang berkata kepada orang lain, ‘Kafir!,’ maka salah satunya telah kafir. Jika orang yang dikatakan kafir itu (benar) kafir, maka orang yang mengatakan itu benar.
Jika orang yang dikatakan itu tidak seperti yang dikatakannya, maka ucapan kufur tersebut kembali kepada diri orang yang mengatakannya.”  (HR.Muslim, 1/529)

Dari hadits-hadits tersebut tampak peringatan yg sangat keras meskipun Nabi صلي الله عليه وسلم tidak menggunakan kata larangan, tetapi justeru langsung menetapkan sanksi-akibat dari perbuatan tersebut.
Ini menggambarkan bahwa itu bukan perkara ringan,tapi perkara yg sangat berat.

Ekses-ekses lain takfir yg salah yg sangat berbahaya

Pada satu kelompok yg menganut faham takfir secara otomatis akan menyikapi orang lain yg tidak sefaham sebagai “orang luar” atau orang kafir, siapapun mereka.  Karena takfir/pengkafiran yg salah maka ekses-eksesnya sebagai berikut :

• Tidak menjalin persaudaraan Islam dan tidak berkasih-sayang terhadap sesama muslim dan membuat perpecahan.
Hal ini karena “orang luar” (yg dianggap kafir, padahal tidaklah kafir) dianggap bukanlah saudara satu diin, justeru dianggap musuh berbahaya.  Efeknya adalah menyulut api permusuhan dan ini berarti telah menempatkan diri di tepi jurang neraka (Qs.Ali Imron : 103).
Yg tidak mencintai saudaranya tidaklah dikatakan sebagai orang beriman (dalam HR Muslim, Riyadhus-Sholihin 1/mencintai Allah).
Dan sebagai pembuat perpecahan, Allah akan bangkitkan pada hari kiamat dengan muka yg hitam-muram (Ibnu Abbas, tafsir Ibnu Katsir Qs.Ali Imron : 106).

• Mencela orang Islam.
Orang-orang yg dianggap orang kafir (padahal mereka bukanlah orang kafir) mudah dicemooh dan dicela.  Sebagai ‘pencela’ akan mendapat kecelakaan dari Allah (Qs.Al-Humazah : 1), dan dari Rasulullah : “Mencela orang Islam adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekafiran” (HR Bukhori-Muslim).

• Memutus hubungan silaturrahim.
Kerabat atau sanak keluarga yg dianggap kafir (padahal sebetulnya tidak kafir) diputuskan hubungan kekeluargaan dengan mereka. Dalam kasus ini terjadi kesalahan “murokkab”.
Pemutus hubungan kekeluargaan dilaknat oleh Allah (lihat Qs.Muhammad : 22-23), Allah akan memutus dari mereka dan “tidak akan masuk surga orang yg memutus (tali silaturrahim)” (HR.Bukhori-Muslim).

• Durhaka kepada orang tua.
Orang tua yg dikafirkan (padahal tidaklah kafir) ditinggalkan dan tidak lagi dipatuhi, apalagi diurus.  Ini adalah kedurhakaan, dan satu dosa besar setelah syirik (dalam hadits Bukhori).
Tidak ada ridho Allah, bahkan yg ada murka Allah, Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda : “Keridhoan Allah tergantung pada keridhoan kedua orang tua, dan kemurkaan Allah tergantung pula pada kemurkaan kedua orang tua” (HR.Tirmidzi).

• Pembagian waris yg salah.
Karena anggapan kafir sepihak terhadap sebagian ahli waris ataupun kepada orang yg wafat yg mewariskan. Urusan waris menjadi kacau, tidak sebagaimana yg Allah atur dalam Al-Qur’an, dan akibatnya bukanlah perkara ringan.  Mendurhakai Allah dan melanggar ketentuanNya (khususnya hukum waris) Allah ancam akan dimasukkanNya ke dalam api neraka dan mendapatkan adzab yg menghinakan (dalam Qs.An-Nisaa : 14).

• Wali nikah yg salah.
Seorang perempuan hanya boleh dinikahkan oleh wali yg haq dari pihak keluarganya (bapak, atau wali-aqrob yg lain).  Selama masih ada pihak keluarga, tidak bisa ada wali hakim dadakan bagi seorang perempuan yg dibuat-buat secara tidak haq.  Keterangan-keterangan hadits serta ulasan-ulasan dari para ulama telah banyak jelas dalam kitab-kitab fiqih tentang permasalahan ini.
Karena bapak atau keluarganya dianggap kafir (karena tidak segolongan), diangkatlah wali-hakim.  Padahal bapak atau keluarganya itu tidaklah kafir.
Dalam hal ini terjadi kesalahan dalam urusan wali-nikah bagi perempuan sehingga pernikahan itu menjadi tidak sah karena tidak memenuhi syarat-syaratnya, sebab Rasulullah صلي الله عليه وسلم mengatakan “orang Islam wajib penuhi syarat-syaratnya” (HR Thabrani).
Akibatnya adalah sepanjang kehidupan dalam pernikahan tersebut laki-laki dan perempuan berada dalam status pernikahan yg tidak sah secara syar’i, atau dengan kata lain hidup dalam perzinahan.   Subhanallahu wa na’udzubillahi min dzalika.

• Dan yg lain-lain yg tidak/belum disebutkan.

Kesalahan-kesalahan yg beruntun terjadi akibat membuat satu kesalahan : Takfir yg salah. Hal-hal lain dalam aktivitas kehidupanpun jadi terpengaruhi, seperti masalah ‘wala’/loyalitas kepemimpinan, sembelihan, perjodohan, kedekatan pertemanan, belajar ilmu, pemberian shodaqoh, penerimaan dan penyaluran zakat, dan lain-lain.
Seperti inikah ajaran yg benar di mana orang Islam hidup di tengah-tengah orang Islam?
Apakah ini semua kebenaran ataukah ini adzab dari Allah dalam bentuk “kehidupan yg sempit” (ma’isyatan donka).
Padahal Rasulullah صلي الله عليه وسلم mengajarkan : “Sesungguhnya agama itu mudah, tidaklah seseorang berlebih-lebihan dalam menjalankan agama kecuali ia akan ‘dikalahkan’(maknanya : keberatan sendiri). Tepatilah kebenaran atau yg mendekatinya, berilah kabar gembira, dan pergunakanlah waktu pagi, waktu sore dan malam hari untuk memudahkan perjalananmu” (HR Bukhori kitab Al-Iman, hdts no.39, Fathul Baari I/93).
Bagi orang-orang yg berfaham takfir, hendaknya jangan buru-buru ‘PEDE’ (percaya diri) berada dalam Islam yg benar, sehingga mengatakan : “Islam asalnya asing, dan sekarang kita kembali terasing…” atau mengatakan : “Bagi orang-orang yg benar, memegang Islam memang seperti memegang bara api…”
Dengan kerendahan hati kami katakan : “Periksalah dahulu ilmunya dengan baik, simpulkanlah sendiri, dan….berkacalah….”

Komentar para ulama tentang penganut faham takfir

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata : “Kebanyakan ahli bid’ah, seperti Khawarij, Rafidhah, al Qadariyah, al Jahmiyah dan al Mumatsilah ; mereka memiliki keyakinan yang sebenarnya sesat, namun mereka lihat sebagai kebenaran, dan menganggap kufur terhadap orang yang menyelisihi mereka dalam i’tikad tersebut” (Majmu’ Fatawa 12/466-467)

Imam Ibnu Hajar رحمه الله berkata : “Sebagian besar ahli ushul dari Ahlus Sunnah berpendapat bahwasanya Khawarij adalah orang-orang fasiq, dan hukum Islam berlaku bagi mereka.
Hal ini dikarenakan mereka mengucapkan dua kalimat syahadat dan selalu melaksanakan rukun-rukun Islam.  Mereka dihukumi fasiq, karena pengkafiran mereka terhadap kaum muslimin berdasarkan takwil (penafsiran) yang salah, yang akhirnya menjerumuskan mereka kepada keyakinan akan halalnya darah, dan harta orang-orang yang bertentangan dengan mereka, serta persaksian atas mereka dengan kekufuran dan kesyirikan”  (Fathul Baari, 12/314)

Syaikh Sulaiman bin Sahman رحمه الله berkata : “Perkara yang paling mengherankan dari orang-orang jahil ini yang berbicara di dalam masalah-masalah takfir, dalam keadaan mereka ini tidaklah sampai kepada sepersepuluh dari orang-orang yang diisyaratkan oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Abu Buthain di dalam jawaban beliau yang baru saja kita sebutkan di mana salah seorang dari mereka jika ditanya tentang suatu permasalahan tentang thoharoh atau jual beli atau yang semacamnya maka mereka tidaklah berfatwa dengan sekedar pemahaman dan akalnya, bahkan dia mencari dan menelaah perkataan para ulama dan berfatwa dengan apa yang dikatakan oleh para ulama, lalu bagaimana di dalam perkara besar ini yang merupakan perkara agama yang paling besar dan paling berbahaya dia bersandar kepada sekedar pemahaman dan akalnya ?” (Minhaju Ahlil Haqqi wal Ittiba’ hlm. 80)

Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan berkata : “yang demikian itu disebabkan kebodohan mereka tentang Islam, bersamaan dengan wara’, ibadah dan kesungguhan mereka. Namun tatkala semua itu (wara’, ibadah, dan kesungguhan) tidak berdasarkan ilmu yang benar, akhirnya menjadi bencana bagi mereka” (Lamhatun ‘Anil Firaqidh Dhallah, hal. 35)

Ahlul-bid’ah dan Ahlus-Sunnah

Sebagaimana pada halaman terdahulu disebutkan tentang bid’ah dalam hadits yg shohih adalah hal-hal baru yg diada-adakan (dalam syariat) yg menjadi kesesatan.  Dan bid’ah yg besar adalah dalam hal akidah.  Sebetulnya bid’ah akidah bukan hanya dilakukan oleh kaum khawarij (dengan faham takfir-nya) tapi juga oleh sekte-sekte lain seperti syi’ah, qodariah, murjiah, demikian ulama Sunnah Ibnul Mubarok dalam menafsirkan hadits perpecahan ummat.
Dari yg empat ini kemudian bercabang-cabang lagi cukup banyak seperti jahmiah, muta’zilah, sufi, rafidhi, ahmadiah, ingkar sunnah, dan lain-lain.  Inilah yg menjadikan perpecahan (iftiroq-perpecahan yg besar) di kalangan kaum muslimin.
Mereka adalah kelompok-kelompok yg “menyempal”, memisahkan diri dari jama’ah kaum muslimin dengan mengambil akidah sendiri yg berbeda dengan yg difahami Rasul, para sahabatnya, dan para ulama Sunnah.  Mereka dikategorikan sebagai “ahlul-bid’ah”.   Hadits Rasulullah صلي الله عليه وسلم :

Dari Ibnu Umar رضي الله عنه, bahwa Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ

“Hendaknya kalian bersama jamaah, dan hati-hatilah terhadap perpecahan.”  (HR. At-Tirmidzi, 8/69/2081. Katanya: hasan shahih gharib. An-Nasa’i, As-Sunan Al-Kubro, 5/389.  Syaikh Al Albani menshohihkan dalam Irwaa’ul Ghalil, 6/215)

Dari Ibnu Umar رضي الله عنه, bahwa Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

لا يجمع الله هذه الأمةعلى الضلالة أبداوقال: يد الله على الجماعة فاتبعواالسواد الأعظم ، فإنه من شذ شذ في النار

“Tidaklah Allah kumpulkan umat ini dalam kesesatan selamanya.” Dan beliau juga bersabda: “Tangan Allah atas jamaah, maka ikutilah As-Sawadul A’zham, maka barangsiapa yang menyempal, maka dia menyempal ke neraka.” (HR. Al Hakim, Al Mustadrak ‘Alash Shahihain, 1/378/358)

Tentang ahlul-bid’ah, berikut adalah ciri-cirinya yg difahami oleh para ulama :

Ahmad bin Sinan Al-Qaththan رحمه الله berkata :
“Di kolong langit ini, tidak seorangpun ahli bid’ah yang tidak membenci ahli hadits, karena ketika orang itu telah berbuat bid’ah maka ia akan kehilangan kemanisan ilmu hadits dalam hatinya”.

Abu Hatim Muhammad bin Idris Al-Hanzali Ar-Razi رحمه الله berkata :
“Ciri-ciri ahli bid’ah yaitu suka mengolok-olok ahlul-atsar (ahli hadits), dan termasuk ciri-ciri orang zindiq (munafiq) yaitu suka menggelari ahlul-atsar sebagai penghafal catatan kaki, yang mereka inginkan adalah membatalkan atsar sebagai sumber hukum”.  (Ashlus-Sunnah wa I’tiqod ad Diin, Imam Abu Hatim Ar-Razi)

Setiap ahlul-bid’ah pastilah tidak menyukai orang-orang yg banyak mengerti hadits.  Perkataan yg sering muncul dari lisan mereka adalah : “hadits itu tidak terjaga” atau “hadits itu dari manusia sedangkan yg dari Allah adalah Al-Qur’an”.
Maksud dari perkataan-perkataan mereka adalah supaya mereka dibenarkan ketika memahami ayat-ayat Al-Qur’an dengan ta’wil-ta’wil-nya sendiri.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata : “Termasuk karekteristik ahlul bid’ah, yaitu mereka mengada-adakan doktrin yang dijadikan sebagai kewajiban agama, bahkan menjadikannya sebagai standar minimal keimanan dan mengkafirkan orang yang menyelisihi mereka dalam masalah tersebut, serta menghalalkan darahnya, seperti perbuatan Khawarij, al Jahmiyah, Rafidhah, al Mu’tazilah dan selainnya”  (Minhajus-Sunnah 5/95)

Dari dulu hingga sekarang, para ahlul-bid’ah adalah sosok-sosok yg ‘kreatif’ dalam men-disain doktrin dan ajaran.  Sebagian dari mereka ada yg menetapkan “standar keimanan” untuk diakuinya kredibilitas seseorang dalam kelompoknya. Ada istilah “merah” (belum baik) dan “hijau” (sudah dianggap baik).
Dan yg juga sudah baku bagi para ahlul-bid’ah (termasuk ciri khas kebanyakan ahlul-bid’ah dari sejak dulu) adalah, bahwa setiap orang yg berada di luar faham mereka adalah orang-orang kafir, siapapun itu.
Belumlah dikatakan ahlul-bid’ah yg haq jika belum mengkafirkan setiap orang Islam yg lain selain kelompoknya, tidak terkecuali sanak keluarga : anak, isteri atau suami, adik, kakak, bahkan orang-tua sendiri.  Dari dulu hingga sekarang, nampaknya mereka mendapatkan “bisikan” dari “pembisik” yg sama.

Syaikh Muhammad Bazmul mengatakan : “Menjatuhkan kedudukan para ulama termasuk perilaku ahlul bid’ah dan pengekor hawa nafsu.   Perhatikanlah berbagai kelompok sesat yang menyelisihi petunjuk Rasulullah صلي الله عليه وسلم dan amalan para sahabat رضي الله عنهم, niscaya anda akan menemukan sikap ini….”
Beliau melanjutkan : “Demikianlah.   Anda tidak akan menemukan satu pun golongan yang menyimpang dari jalan yang lurus dan keluar dari jalan orang-orang beriman melainkan mereka membicarakan (baca : menggunjing), mencela, menjatuhkan, dan tidak memedulikan hak-hak para ulama.  Bahkan, mereka mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin mereka”  (Makanatul ‘Ilmi wal ‘Ulama, hlm. 28)

Ahlul-bid’ah mengatas-namakan Islam tapi justeru berseteru dengan para ulama Islam, yaitu para ulama yg sejaman dengannya.
Khawarij menghujat ulama dari kalangan sahabat, yaitu Ibnu Abbas رضي الله عنه, muta’zilah menghujat Al Hasan Al-Bashri رحمه الله, rafidhah menghujat seluruh ulama Islam, yaitu Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, Imam Malik, Abu Hanifah, Al-Auza’i, Al Bukhori, Imam Ahmad, Ibnu Taimiyah, dan lain lain.
Ahlul-bid’ah pada masa sekarangpun sangat tidak menyukai para ulama abad ini seperti Syaikh Nashiruddin Al-Albani, Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan lain-lain.
Kalaupun mereka terlihat seperti merujuk kepada ilmu-ilmu dari para ulama (baik yg terdahulu ataupun yg sekarang), itu hanyalah untuk beberapa persoalan saja.  Jika sudah menyangkut perkataan para ulama tentang bid’ah dan takfir, akan nyatalah terlihat kebencian mereka.
Segolongan dari ahlul-bid’ah berfaham takfir (yaitu sekte abu hamzah) malahan berpura-pura tidak tahu tentang faham dari para ulama Islam yg menentang faham takfir (pengkafiran), dan bahkan berpura-pura tidak tahu kalau faham takfir yg mereka anut adalah mengadopsi dari sekte khawarij.

Di beberapa kalangan ahlul-bid’ah, seorang imam/pemimpin/guru tidak dipersyaratkan mumpuni dalam ilmu-ilmu Islam.   Asal bisa baca (meskipun plintat-plintut) dan mengetahui doktrin ajaran-ajaran mereka serta pandai bicara, jadilah beliau seorang pemimpin/guru yg dihormati.
Alasan mereka adalah karena kemuliaan berdasarkan ketakwaan, dan ketakwaan berdasarkan amalan, yaitu amalan yg telah khusus mereka definisikan sendiri keutamaannya (antara lain adalah : memutus silaturrahim kepada keluarga yg tidak segolongan, berhenti bekerja sebagai pegawai dan ikut usaha bersama orang-orang di kelompoknya, mendekat (baca : ‘menjilat’) ke pemimpin, dan amalan pamungkas, yaitu kawin lagi).
Wajar jika di kalangan mereka yg menjadi amir/pemimpin adalah orang yg bodoh yg tidak ada ‘bau agama’ sama sekali, tidak pernah hafal Al-Qur’an, buta bahasa Arab dan buta ilmu-ilmu hadits.
Pemimpin yg lebih mirip sebagai ketua partai politik gurem daripada sebagai imam Islam yg lurus dan berilmu .

Berseberangan dengan mereka (ahlul-bid’ah) adalah Ahlus-Sunnah, berikut ciri-cirinya :

lmam Malik رحمه الله berkata : “Ahlus Sunnah tidak memiliki julukan yang mereka dikenali dengannya, bukan Jahmi, bukan juga Qodari, dan bukan pula Rafidhi.” (al-lntiqa’ fi Fadha’ili Tsalatsatil Aimmah Fuqaha’, Ibnu Abdil Barr, hal. 350)

Abu Hatim Muhammad bin Idris Al-Hanzali Ar-Razi رحمه الله berkata :
“Salah satu ciri Ahlus-Sunnah adalah kecintaan mereka terhadap para Imam Sunnah dan ulamanya, para penolong dan para walinya.  Dan mereka membenci tokoh-tokon ahlul-bid’ah yg mereka itu mengajak kepada jalan menuju neraka dan menggiring pengikutnya menuju kehancuran.
Allah telah menghiasi dan menyinari Ahlus-Sunnah dengan kecintaan mereka kepada ulama-ulama Ahlus-Sunnah, sebagai karunia dan keutamaan dari Allah Ta’Alaa” (Ashlus-Sunnah wa I’tiqod ad Diin, Imam Abu Hatim Ar-Razi)

Ibnu ‘Abil-‘Izz رحمه الله berkata : “…mereka menyalahkan (perbuatan yg salah) dan tidak mengkafirkan” (Syarah ‘Aqidah Ath-Thahawiyah, halaman 439)

Demikianlah, maka jika kembali ke ulasan-ulasan pada bagian awal, pemahaman dalam Islam yg benar adalah pemahaman Al-Qur’an berdasarkan Sunnah, yaitu Sunnah Rasulullahصلي الله عليه وسلم dan para sahabatnya, para thobi’in yg terpilih serta difahami para ulama Sunnah yg sholih.

____________________________________________________________________________

Untuk orang-orang yg masih terlibat dalam faham syubhat :

“Kembalilah kepada jalan Allah, jalan Rasul, dan jalan para sahabatnya yg baik, serta jalan yg ditempuh oleh para ulama terdahulu yg telah jelas Allah zhohirkan keberadaannya sebagai pewaris para Nabi”

“Janganlah jadikan diri sendiri terlalu awam dalam banyak hal tentang agama sendiri, berusahalah untuk berilmu.  Dengan ilmu itu mengikut atau dengan ilmu itu tidak mengikut.  Jangan berkata dan mengikut karena orang, dan jangan tidak berkata dan tidak mengikut karena orang juga, sebab itu semua adalah “riya” dan riya adalah bagian dari syirik”

“Lepaskan faham syubhat dan ambil jalan yg terang, sesungguhnya Allah Maha Pengampun bagi setiap hambaNya.  Rahmat Allah dan karunia Allah di bumi dan di akhirat telah menanti, kebahagiaan dengan meniti jalan Allah Yg Benar telah menanti”

“Janganlah dikecohkan oleh fatamorgana yg sebenarnya tidak nyata, tapi hanya membebani mental dan pikiran.  Berpertolonganlah kepada Allah dengan sabar dan sholat ,sujudlah kepadaNya meski terasa berat, mudah-mudahan Allah jadikan kita orang-orang yg khusyu…”

Hanya kepada Allah sajalah kita memohon pertolongan dan petunjuk, semoga dilimpahkan taufiqNya kepada kita dan kepada seluruh ummat Islam untuk memahami dien Allah dengan benar dan tetap teguh padanya.

للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَْيتَنا ، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمة ، إِنّكَ أنتَ الوَّهابُ
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
َاللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ وَالأَبْصَارِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

Al-Faqir, Hamba Allah

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Tulisan ini dipublikasikan di belajar islam, belajar tafsir, Islam, kelompok Islam, Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Koreksi pemahaman yang salah kelompok abu hamzah (I)

  1. alhamdulillah dengan blog ini adik kami kembali ke panghuan kami…..jazakalloh khoiron

  2. abu ahmad berkata:

    Alhamdulillah..
    Allahu Akbar..
    Begitu banyak keluarga dan kerabat yg msh setia menanti dan mengharap kembalinya anggota dan sanak mereka,walaupun tanpa atau dgn sepengetahuan mrk,anggota keluarga tsb sblmnya berbuat tdk adil pd mrk(menuduh kafir,munafik,pengikut thoghut,dll.kpd sesama muslim tanpa kaidah yg haq) yg biasa terjadi pd sekte sempalan takfiri..
    Allohummaghfirly wal mu’miniina wal mu’minaati wal muslimiina wal muslimaati

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s