Kondisi buruk dan respon terhadap dakwah kelompok abu hamzah

Kondisi buruk dan respon terhadap dakwah kelompok abu hamzah

بسم الله الرحمن الرحيم
إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلاَّ الله وحده لا شريك له وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله. فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار .

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم Wa Ba’du :

Allah سبحانه و تعالي berfirman :

فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ.عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Maka demi Rabbmu! Kami sungguh-sungguh akan menanyakan kepada mereka seluruhnya, tentang apa yang dulunya mereka amalkan.” (Qs.Al-Hijr : 92-93)

Sudah lama kondisi ummat Islam di Indonesia berada dalam keterpurukan.  Pesantren dan sekolah-sekolah Islam yang banyak bertebaran seperti tidak mampu menjawab permasalahan pribadi-pribadi ummat Islam dalam kesehariannya.
Banyak pribadi-pribadi Islam yang di rumahnya merasa tetap ‘kering’ tanpa kesejukan padahal melakukan sholat dan membaca Al-Qur’an, lebih parah lagi yang tidak melakukan sholat dan tidak pernah membaca Al-Qur’an.  Banyak orang-orang Islam yang buta tentang agamanya sendiri, jauh dari merasakan manfaat Al-Qur’an dalam kesehariannya, disibukkan dan banyak dipusingkan oleh permasalahan ekonomi, permasalahan rumah tangga, keluarga, dan permasalahan dalam hubungan bermasyarakat.

Sementara di kalangan pejabat dari yang paling rendah (tingkat RT dan lurah) hingga kalangan atas, sangat nyata menunjukkan lazimnya ber-korupsi dan makan harta secara tidak halal.  Ketika mereka tampil di acara-acara keagamaan mereka berbicara sebagai orang-orang yang lurus, berwibawa, dan ditemani oleh para ‘ulama’ yang menyanjung-nyanjungnya.

Dan para calon anggota DPR banyak berkampanye mengutip ayat-ayat Al-Qur’an, menjanjikan kerja untuk kemakmuran rakyat, dukungan memberantas korupsi, yang ketika kemudian menjadi anggota legislatif justeru merekalah yang melanggar ayat-ayat Al-Qur’an, menjadi pelaku korupsi dan pelaku kemaksiatan.

Dan kaum selebritis di televisi mengobral isak-isak tangisan dengan busana muslim yang sopan dalam sinetron-sinetron di bulan ramadhan.  Setelah ramadhan berlalu mereka kemudian tampil di pemberitaan koran dan media massa lain sebagai pelaku perselingkuhan, perzinahan, atau model telanjang hingga adegan film porno.

Semua hal-hal seperti ini tampak di depan mata tanpa bisa seseorang membohongi penglihatannya sendiri.

Sementara itu juga ribuan lulusan pesantren setiap tahunnya hanya sibuk mengurus karir barunya yang akan dia tempuh sebagai pengajar, ulama amplop, dukun, atau eksekutif partai.  Minimal adalah jadi ustadz di musholla kampung yang akan menerima “besek” setiap kali ada tahlilan dan selamatan.
Permasalahan pribadi-pribadi ummat dan permasalahan degradasi akhlak tidak menyentuhnya sama-sekali.  Mungkin karena mereka sendiri tidak memahami apa dan bagaimana yang harus diperbuat, apatah lagi memberikan masukan kepada orang lain untuk berbuat dan mengatasi permasalah-permasalahan yang ada.
Semua kondisi ini menyebabkan banyak orang berpandangan pesimistis terhadap segalanya.  Hingga ada yang mengatakan : “Di sini ada orang ikhlas dan jujur?  Kalau ada, iris kuping saya..”

Setiap orang kemudian berusaha mengatasi problem bathin dan problem kesehariannya masing-masing.  Maka maraklah dunia paranormal, perdukunan, dan praktek asusila.  Koran-koran murahan dipenuhi iklan-iklan paranormal, dukun, dan jasa pemuasan seks terselubung.  Banyak di kalangan ummat Islam telah hancur akidahnya, kosong dadanya dari keyakinan yang haq yang bisa menyejukkannya sebagai pemeluk Islam.

Dalam kondisi yang seperti inilah, muncul orang-orang muda menawarkan belajar pemahaman Al-Qur’an.

Tanpa harus bayar dan tanpa harus pergi ke mesjid atau musholla, mereka akan datang ke rumah pada waktu yang terserah orang yang mau belajar tentukan.
Mereka mampu meyakinkan orang yang belajar tentang pentingnya Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup, memotivasi setiap orang yang belajar untuk optimis menyongsong tantangan-tantangan hidup. Membuat orang-orang yang belajar terperangah, tergugah, dan tergairahkan.  Mereka benar-benar merasa terbimbing.

Hal-hal seperti ini tidak pernah mereka dapati di pengajian-pengajian di tempat mereka, yang biasanya hanya mengajak baca-baca tanpa mengerti apa yang dibaca-baca.
Kalaupun ada ceramahnya, hanyalah ceramah yang membosankan seputar fiqih dan tidak menggugah semangat untuk hidup, untuk tegar bertahan dalam kesulitan keseharian yang banyak, dan untuk berani menetapi kesabaran demi kemuliaan.
Biasanya jika mereka mengikuti pengajian, hanyalah diajak untuk terpaksa mengakui kewibawaan sang ustadz atau kiyai yang senantiasa menonjolkan kelebihan-kelebihan dan kharisma yang angker.
Namun begitu, adalah sedikit menghibur jika ceramahnya lucu, akan tetapi setelah itupun kembali tenggelam dalam kegalauan di kehidupan.

Dan belum pernah mereka mendapati ustadz yang mau datang ke rumah mereka mengajarkan secara pribadi dengan ikhlas tanpa mengharap imbalan uang atau jasa, kecuali dari Allah.  Belum pernah pula mereka mendapati ustadz atau ustadzah yang tidak memikirkan karir keagamaan untuk memperoleh kedudukan dan status di masyarakat.

Biasanya jika ada orang alim setingkat ustadz datang mengajarkan secara pribadi ke rumah, itu perlu “fulus” yang lumayan.  Dan biasanya jika ada orang alim setingkat ustadz atau ustadzah, dia akan selalu berusaha agar semua orang tahu bahwa dia banyak ilmu dan layak untuk memimpin ini atau itu, dan layak untuk tampil pada moment ini atau itu, dan layak dihormati masyarakat sebagai ini atau itu, dan layak dapat fasilitas dan tunjangan ini atau itu juga.
Sedangkan orang-orang ini tampil beda.  Orang-orang ini memang hadir menakjubkan.

Inilah kesan-kesan baik yang muncul dari kehadiran orang-orang yang menawarkan belajar pemahaman Al-Qur’an.
Namun alangkah disayangkan, kesan yang baik di awalnya sebetulnya adalah justeru permasalahan yang sangat besar di penghujungnya.
Akidah yang lurus yang menjadi modal dasar seorang muslim, harus terkorbankan menjadi bengkok untuk meraih sebuah kepercayaan diri bernuansa religius dalam menjalankan kehidupan-kompleks keseharian yang sarat dengan tantangan.

Akan tetapi
dari sini kita semua harusnya jadi bisa belajar untuk mengerti, untuk lebih bijak menyadari, dan untuk sama-sama introspeksi, bagaimana semua ini terjadi…

Allahu A’lam.

Tentang Al-Faqir

Al-Faqir, hamba Allah
Tulisan ini dipublikasikan di belajar islam, belajar tafsir, Islam, kelompok Islam, Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kondisi buruk dan respon terhadap dakwah kelompok abu hamzah

  1. Manager berkata:

    Semua ini terjadi …
    Salah satunya adalah kita dulu terlalu percaya kepada ORANG.
    Kurang berserah diri kepada Alloh secara langsung.
    Seakan Alloh itu hanya ada diatas Direktur dan Komisaris FAH saja.
    Juga percaya dengan analogi pembelajaran dengan pola “belajar itu cukup ke ORANG saja”
    Seperti belajarnya para Shohabat ke Rasul yang berupa “Manusia”.. bukan Kitab.
    Dan dulu kitapun tanpa sadar, larut dalam KONDISI YANG MAKIN BURUK pasca belajar di FAH…
    karena sibuk menjadi pengamat yang mampu melihat SEMUT diseberang lautan,
    dan lupa ada GAJAH di pelupuk mata…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s